13 Juli 2021

Mengapa Foto yang dihasilkan Sony dianggap Kejingga-jinggaan dan iPhone dianggap "Seimbang"?

Oleh: Ahmad Zaenudin


Sepanjang 2020 lalu, lebih dari 115 juta unit kamera terjual di seluruh dunia, dengan mencatatkan nama Canon sebagai merek paling populer. Canon, merujuk data Statista, menggenggam 45 persen pangsa pasar kamera, unggul jauh dibandingkan Sony dan Nikon yang hanya memperoleh 20 dan 19 persen ceruk bisnis kamera.

Salah satu alasan keunggulan Canon di dunia kamera terjadi karena, jika Anda menengok Flickr dan melihat-lihat foto-foto yang dihasilkan berbagai pabrikan, Canon menghasilkan foto dengan kualitas warna yang relatif lebih unggul dibandingkan mereka lain. Canon menghasilkan warna dengan keakuratan yang tak berbeda jauh dengan keadaan asli pada objek yang dipotret. Usman Dawood, yang melakukan komparasi hasil foto antara Canon dan Sony untuk PetaPixel, menyebut bahwa foto-foto yang dihasilkan kamera Sony menghasilkan warna kulit (skin tones) yang lebih kejingga-jinggan dibandingkan aslinya, sementara foto yang dihasilkan Canon "lebih alamiah." Lalu, ketika kamera Sony dihadapkan untuk memotret objek berwarna ungu, Sony menampilkan warna tersebut pada foto yang dihasilkannya "lebih condong mendekati warna biru, sementara Canon tidak." Dan tatkala Sony dan Canon dihadapkan untuk memotret pisang cavendis, "foto yang dihasilkan Canon terlihat lebih hidup, sedangkan Sony lebih condong ke warna hijau dan tampaknya tidak dapat mewakili rona kuning secara efektif."

Secara umum, meskipun memotret objek yang sama, ada kesan "berbeda" dari foto yang dihasilkan Canon, Nikon, Sony, Fujifilm, Leica, ataupun dari berbagai kamera ponsel. Fujifilm, misalnya, dianggap menghasilkan foto dengan warna yang lebih "hangat," sementara Leica dianggap menghasilkan "masterpiece" dan Hasselblad diyakini menghasilkan foto yang "sebenar-benarnya." Di sisi lain, Samsung Galaxy S21 Ultra diklaim menghasilkan foto yang "tajam," sementara iPhone 11 Pro Max menghasilkan gambar dengan kualitas "warna yang lebih seimbang dan rentang dinamis yang lebih baik." Tak ketinggalan, berbagai ponsel bikinan perusahaan Cina acap kali dituduh menghasilkan foto yang "berlebihan," membuat wajah yang biasa-biasa saja menjadi lebih ganteng atau cantik.

Tentu, ada alasan di balik penilaian subjektif pada foto yang dihasilkan berbagai merek. Secara mendasar, foto yang "hangat," "tajam," "warna seimbang," "alamiah," dan "masterpice" itu tercipta karena mata manusia, soal warna, juga subjektif menilainya. Dengan penilaian subjektif ini, kamera diciptakan manusia.

Color Science

"Penglihatan, atau persepsi visual, merupakan kemampuan untuk mendeteksi cahaya dan menafsirkannya," tulis Mukul Sarkar dalam bukunya berjudul A Biologically Inspired CMOS Image Sensor (2012). Sementara itu, Kassia St Clair, dalam The Secret Lives of Colour (2016), menyebut bahwa "warna merupakan pondasi utama bagaimana kita, manusia dan makhluk hidup lainnya, merasakan dunia." Cahaya dan warna merupakan satu kesatuan, karena melalui cahaya, warna tercipta. Dan melalui warna, makhluk hidup (terutama manusia) akhirnya dapat menafsirkan apa yang dilihatnya.

Namun, apa itu warna sesungguhnya?

Segala objek yang terlihat oleh mata merupakan buah dari pantulan cahaya dari permukaan objek yang mengenainya. Masalahnya, setiap objek yang ada di dunia memproses cahaya dengan berbeda rupa. Pun demikian dengan cahaya, ia memiliki spektrum yang berbeda-beda. Terungkapnya perbedaan spektrum cahaya ini kali pertama digaungkan oleh Isaac Newton, yang merujuk buku berjudul The Science of Color (edisi kedua, 2003) karangan Steven K. Shevell, menemukan "phaenomena of color." Kala itu, pada abad ke-17, Newton melakukan eskperimen, menembakkan cahaya matahari pada prisma kaca segitiga. Tatkala cahaya matahari mengenai prisma, Newton lantas menembakkan cahaya tersebut ke prisma kedua, dan membuat cahaya matahari tersebut sangat membias. Dari pembiasaan yang luar biasa tersebut, sebagaimana terangkum dalam karyanya berjudul Opticks, Newton menemukan fakta bahwa cahaya memiliki spektrum warna (visible light)--yang timbul dari satu panjang tertentu gelombang elektomagnetik. Bukan hanya satu--putih seperti yang diyakini kalangan ilmuwan sebelum dirinya, tetapi cahaya menghasilkan tujuh spektrum warna, yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, indigo, dan violet (terkadang, violet dianggap sebagai "biru." Ini merujuk pada pantun lawas bangsa Eropa: Roses are red, violet are blue). Dari ketujuh warna tersebut, merah, hijau, dan biru (RGB) merupakan warna utama (primary color) dan warna-warna lainnya merupakan "warna tambahan." Warna utama merupakan warna yang tidak dapat dihasilkan dari mencampur-adukkan spektrum cahaya, sementara itu, semisal jingga, ia tercipta atas bercampurnya spektrum merah dan kuning.

Dalam The Secret Lives of Colour, ketika cahaya (dan berbagai spektrum warna yang dibawanya) menimpa objek, objek memperlakukannya dengan berbeda-beda. Di satu sisi, sebuah objek menyerap salah satu atau sebagian spektrum warna yang mengenainya, dan memantulkan satu atau sebagian spektrum lain. Di sisi lain, sebuah objek hanya menyerap secuil spektrum warna yang mengenainya, dan memantulkan secuil lainnya. Tomat, misalnya, menyerap spektrum berwarna biru, ungu, hijau, kuning, dan jingga (panjang gelombang spektrum warna ini berukuran pendek dan menengah), dan memilih memantulkan spektrum berwarna merah (spektrum yang memiliki ukuran gelombang terpanjang). Maka, dari spektrum yang dipantulkan tomat ini, manusia menafsirkan bahwa tomat berwarna merah--dengan menihilkan intensitas cahaya yang menerpa objek (misalnya, tomat dilihat dalam ruangan terang atau redup).

Tentu, suatu objek ditafsirkan manusia berwarna merah, kuning, atau hijau tidak semata-mata tercipta atas hukum-hukum fisika. Kembali merujuk buku yang ditulis Clair, tatkala cahaya masuk ke dalam bola mata manusia, cahaya diproses sensor peka cahaya bernama "rod" (sel batang), yang berfungsi membedakan terang dan gelap, dan "cone" (reseptor), yang sangat peka warna. Dalam mata manusia, rata-rata terkandung 120 juta sel batang dan enam juta reseptor. Ketika cahaya yang dipantulkan tomat menerpa mata, misalnya, reseptor yang peka terhadap merah terangsang, dan sinyal rangsangan ini diterima otak--hingga otak berpikir bahwa tomat berwarna merah. Masalahnya, tiap-tiap manusia hanya memiliki satu dari tiga bentuk reseptor. Dan perbedaan bentuk reseptor ini berkorespondensi dengan ukuran spektrum/gelombang warna yang dapat diterima, yakni 440 nanometer (nm), 530 nm, dan 560 nm. Jika Anda familiar dengan color picker misalnya, #ed0e0e, #b80d0d, dan #fa4646 semuanya dapat dianggap sebagai warna merah, tetapi sesungguhnya berbeda. Singkat kata, ada subjektifitas merah dianggap merah oleh manusia.

Proses fisika-biologi yang menggiring manusia memahami warna dengan subjektif ini dibawa dalam penciptaan sensor kamera.

Dalam The Science of Color, sensor kamera merupakan teknologi bikinan manusia yang berfungsi menangkap spektrum elektomagnetik/gelombang warna dari cahaya yang direfleksikan objek. Umumnya, sensor kamera mengandung tiga sub-sensor yang fokus pada spektrum berbeda. Dari spektrum yang tertangkap, kamera mentranslasikannya dalam bentuk data, dan akhirnya menggunakan data tersebut untuk mereproduksi gambar dari suatu objek.

Hingga hari ini, terdapat dua sensor kamera yang umum terpasang pada DSLR/mirrorless/ponsel, yakni charge couple device (CCD) dan complementary metal oxile semiconductor (CMOS). Diciptakan pada 1969 oleh George Smith dan Williard Boyle ketika mereka bekerja untuk Bell Labs, CCD awalnya dibuat sebagai media penyimpanan, mirip seperti hardisk atau SSD, bukan sensor kamera. Namun, karena CCD dibuat dengan menggunakan wafer kristal silikon (nama "wafer" tercipta karena benda ini berbentuk lempengan tipis berbentuk lingkaran. Umumnya wafer terbuat dari kristal silikon) tipe p atau n, yang pas untuk menyimpan data, ternyata diketahui pula terkandung metal-oxide-semiconductor, menjadikan CCD memiliki kemampuan bak kapasitor (dalam dunia elektronik, kapasitor berfungsi seperti baterai, yakni menyimpan listrik. Pada metal-oxide-semiconductor, benda ini menyimpan cahaya--menyimpan berbagai spektrum warna). Selain itu, dalam CCD, terbagi array, kotak piksel yang berguna mendeteksi satu per satu cahaya yang mengenainya, dari ujung atas hingga ujung bawah. Persis seperti Anda membaca artikel ini, dari huruf yang tercetak di ujung kiri atas hingga huruf yang termuat di ujung kanan bawah.

Merujuk apa yang ditulis Sarkar, cahaya hasil refleksi suatu objek ditembakkan pada CCD melalui optik, lensa. Cahaya yang diterima CCD tersebut termuat dalam photon (foton)--partikel dasar yang membawa radiasi elektromagnetik seperti cahaya. Tatkala foton diterima, CCD melakukan dua tugas utamanya. Pertama, mengubah foton menjadi electron-hole pair. Dalam dunia fisika, electron-hole sendiri merupakan frasa yang merujuk pada kekurangan/ketiadaan elektron (soal elektron, ingat pelajaran SMP/SMP tentang bagaimana arus listrik dihasilkan). Sementara itu, tambahan makna "pair" secara sederhana merupakan reaksi terciptanya arus listrik gara-gara electron-hole. Ingat, CCD dibuat dengan semikonduktor yang jelas-jelas mengandung valance band dan conduction band, dua benda yang berfungsi seperti PLN alias menciptakan arus listrik atas perpindahan elektron. Saat foton yang memuat spektrum warna itu diterima, arus tercipta (dan tiap-tiap warna memiliki temperatur panas dan ini menyebabkan mengapa listrik dapat timbul). Usai arus listrik tercipta, CCD melakukan tugas keduanya, yakni mengubah electron-hole pair menjadi voltase. Dan dari voltase ini, data dihasilkan. Data diubah dalam bentuk binari untuk dikelolah oleh algoritma, menentukan bahwa di sudut atas foto berukuran kartu pos yang terpotret merupakan objek berwarna hijau, sementara objek berwarna biru terekam di sudut bawah foto.

Soal bagaimana CMOS bekerja, ia hanya melawatkan translasi dari electron-hole pair menjadi voltase. Sederhana, CMOS mem-bypass alectron hole pair langsung menjadi data.

Ya, proses bagaimana kamera menghasilkan foto memang mirip seperti bagaimana manusia melihat. Masalahnya, proses kamera menghasilkan foto tak berakhir di situ. Foto tomat berwarna merah yang dipotret misalnya, baru dianggap benar sebagai foto tomat tatkala mata manusia memang menganggapnya sama atau identik dengan apa yang dilihat. Para teknisi kamera mengkalibrasi kamera dengan matanya sendiri, menuntun pada kamera bahwa objek ini berwarna merah dan objek itu berwirna biru. Kembali ke atas, mata melihat objek dengan subjektif dan akhirnya kamera pun menghasilkan foto yang subjektif. Dengan alasan inilah, Sony dianggap menghasilkan warna kulit yang kejingga-jinggaan. Dengan alasan inilah, foto yang "hangat," "tajam," "warna seimbang," "alamiah," dan "masterpice" itu tercipta.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



13 Juli 2021

Mengapa Foto yang dihasilkan Sony dianggap Kejingga-jinggaan dan iPhone dianggap "Seimbang"?

Oleh: Ahmad Zaenudin


Sepanjang 2020 lalu, lebih dari 115 juta unit kamera terjual di seluruh dunia, dengan mencatatkan nama Canon sebagai merek paling populer. Canon, merujuk data Statista, menggenggam 45 persen pangsa pasar kamera, unggul jauh dibandingkan Sony dan Nikon yang hanya memperoleh 20 dan 19 persen ceruk bisnis kamera.

Salah satu alasan keunggulan Canon di dunia kamera terjadi karena, jika Anda menengok Flickr dan melihat-lihat foto-foto yang dihasilkan berbagai pabrikan, Canon menghasilkan foto dengan kualitas warna yang relatif lebih unggul dibandingkan mereka lain. Canon menghasilkan warna dengan keakuratan yang tak berbeda jauh dengan keadaan asli pada objek yang dipotret. Usman Dawood, yang melakukan komparasi hasil foto antara Canon dan Sony untuk PetaPixel, menyebut bahwa foto-foto yang dihasilkan kamera Sony menghasilkan warna kulit (skin tones) yang lebih kejingga-jinggan dibandingkan aslinya, sementara foto yang dihasilkan Canon "lebih alamiah." Lalu, ketika kamera Sony dihadapkan untuk memotret objek berwarna ungu, Sony menampilkan warna tersebut pada foto yang dihasilkannya "lebih condong mendekati warna biru, sementara Canon tidak." Dan tatkala Sony dan Canon dihadapkan untuk memotret pisang cavendis, "foto yang dihasilkan Canon terlihat lebih hidup, sedangkan Sony lebih condong ke warna hijau dan tampaknya tidak dapat mewakili rona kuning secara efektif."

Secara umum, meskipun memotret objek yang sama, ada kesan "berbeda" dari foto yang dihasilkan Canon, Nikon, Sony, Fujifilm, Leica, ataupun dari berbagai kamera ponsel. Fujifilm, misalnya, dianggap menghasilkan foto dengan warna yang lebih "hangat," sementara Leica dianggap menghasilkan "masterpiece" dan Hasselblad diyakini menghasilkan foto yang "sebenar-benarnya." Di sisi lain, Samsung Galaxy S21 Ultra diklaim menghasilkan foto yang "tajam," sementara iPhone 11 Pro Max menghasilkan gambar dengan kualitas "warna yang lebih seimbang dan rentang dinamis yang lebih baik." Tak ketinggalan, berbagai ponsel bikinan perusahaan Cina acap kali dituduh menghasilkan foto yang "berlebihan," membuat wajah yang biasa-biasa saja menjadi lebih ganteng atau cantik.

Tentu, ada alasan di balik penilaian subjektif pada foto yang dihasilkan berbagai merek. Secara mendasar, foto yang "hangat," "tajam," "warna seimbang," "alamiah," dan "masterpice" itu tercipta karena mata manusia, soal warna, juga subjektif menilainya. Dengan penilaian subjektif ini, kamera diciptakan manusia.

Color Science

"Penglihatan, atau persepsi visual, merupakan kemampuan untuk mendeteksi cahaya dan menafsirkannya," tulis Mukul Sarkar dalam bukunya berjudul A Biologically Inspired CMOS Image Sensor (2012). Sementara itu, Kassia St Clair, dalam The Secret Lives of Colour (2016), menyebut bahwa "warna merupakan pondasi utama bagaimana kita, manusia dan makhluk hidup lainnya, merasakan dunia." Cahaya dan warna merupakan satu kesatuan, karena melalui cahaya, warna tercipta. Dan melalui warna, makhluk hidup (terutama manusia) akhirnya dapat menafsirkan apa yang dilihatnya.

Namun, apa itu warna sesungguhnya?

Segala objek yang terlihat oleh mata merupakan buah dari pantulan cahaya dari permukaan objek yang mengenainya. Masalahnya, setiap objek yang ada di dunia memproses cahaya dengan berbeda rupa. Pun demikian dengan cahaya, ia memiliki spektrum yang berbeda-beda. Terungkapnya perbedaan spektrum cahaya ini kali pertama digaungkan oleh Isaac Newton, yang merujuk buku berjudul The Science of Color (edisi kedua, 2003) karangan Steven K. Shevell, menemukan "phaenomena of color." Kala itu, pada abad ke-17, Newton melakukan eskperimen, menembakkan cahaya matahari pada prisma kaca segitiga. Tatkala cahaya matahari mengenai prisma, Newton lantas menembakkan cahaya tersebut ke prisma kedua, dan membuat cahaya matahari tersebut sangat membias. Dari pembiasaan yang luar biasa tersebut, sebagaimana terangkum dalam karyanya berjudul Opticks, Newton menemukan fakta bahwa cahaya memiliki spektrum warna (visible light)--yang timbul dari satu panjang tertentu gelombang elektomagnetik. Bukan hanya satu--putih seperti yang diyakini kalangan ilmuwan sebelum dirinya, tetapi cahaya menghasilkan tujuh spektrum warna, yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, indigo, dan violet (terkadang, violet dianggap sebagai "biru." Ini merujuk pada pantun lawas bangsa Eropa: Roses are red, violet are blue). Dari ketujuh warna tersebut, merah, hijau, dan biru (RGB) merupakan warna utama (primary color) dan warna-warna lainnya merupakan "warna tambahan." Warna utama merupakan warna yang tidak dapat dihasilkan dari mencampur-adukkan spektrum cahaya, sementara itu, semisal jingga, ia tercipta atas bercampurnya spektrum merah dan kuning.

Dalam The Secret Lives of Colour, ketika cahaya (dan berbagai spektrum warna yang dibawanya) menimpa objek, objek memperlakukannya dengan berbeda-beda. Di satu sisi, sebuah objek menyerap salah satu atau sebagian spektrum warna yang mengenainya, dan memantulkan satu atau sebagian spektrum lain. Di sisi lain, sebuah objek hanya menyerap secuil spektrum warna yang mengenainya, dan memantulkan secuil lainnya. Tomat, misalnya, menyerap spektrum berwarna biru, ungu, hijau, kuning, dan jingga (panjang gelombang spektrum warna ini berukuran pendek dan menengah), dan memilih memantulkan spektrum berwarna merah (spektrum yang memiliki ukuran gelombang terpanjang). Maka, dari spektrum yang dipantulkan tomat ini, manusia menafsirkan bahwa tomat berwarna merah--dengan menihilkan intensitas cahaya yang menerpa objek (misalnya, tomat dilihat dalam ruangan terang atau redup).

Tentu, suatu objek ditafsirkan manusia berwarna merah, kuning, atau hijau tidak semata-mata tercipta atas hukum-hukum fisika. Kembali merujuk buku yang ditulis Clair, tatkala cahaya masuk ke dalam bola mata manusia, cahaya diproses sensor peka cahaya bernama "rod" (sel batang), yang berfungsi membedakan terang dan gelap, dan "cone" (reseptor), yang sangat peka warna. Dalam mata manusia, rata-rata terkandung 120 juta sel batang dan enam juta reseptor. Ketika cahaya yang dipantulkan tomat menerpa mata, misalnya, reseptor yang peka terhadap merah terangsang, dan sinyal rangsangan ini diterima otak--hingga otak berpikir bahwa tomat berwarna merah. Masalahnya, tiap-tiap manusia hanya memiliki satu dari tiga bentuk reseptor. Dan perbedaan bentuk reseptor ini berkorespondensi dengan ukuran spektrum/gelombang warna yang dapat diterima, yakni 440 nanometer (nm), 530 nm, dan 560 nm. Jika Anda familiar dengan color picker misalnya, #ed0e0e, #b80d0d, dan #fa4646 semuanya dapat dianggap sebagai warna merah, tetapi sesungguhnya berbeda. Singkat kata, ada subjektifitas merah dianggap merah oleh manusia.

Proses fisika-biologi yang menggiring manusia memahami warna dengan subjektif ini dibawa dalam penciptaan sensor kamera.

Dalam The Science of Color, sensor kamera merupakan teknologi bikinan manusia yang berfungsi menangkap spektrum elektomagnetik/gelombang warna dari cahaya yang direfleksikan objek. Umumnya, sensor kamera mengandung tiga sub-sensor yang fokus pada spektrum berbeda. Dari spektrum yang tertangkap, kamera mentranslasikannya dalam bentuk data, dan akhirnya menggunakan data tersebut untuk mereproduksi gambar dari suatu objek.

Hingga hari ini, terdapat dua sensor kamera yang umum terpasang pada DSLR/mirrorless/ponsel, yakni charge couple device (CCD) dan complementary metal oxile semiconductor (CMOS). Diciptakan pada 1969 oleh George Smith dan Williard Boyle ketika mereka bekerja untuk Bell Labs, CCD awalnya dibuat sebagai media penyimpanan, mirip seperti hardisk atau SSD, bukan sensor kamera. Namun, karena CCD dibuat dengan menggunakan wafer kristal silikon (nama "wafer" tercipta karena benda ini berbentuk lempengan tipis berbentuk lingkaran. Umumnya wafer terbuat dari kristal silikon) tipe p atau n, yang pas untuk menyimpan data, ternyata diketahui pula terkandung metal-oxide-semiconductor, menjadikan CCD memiliki kemampuan bak kapasitor (dalam dunia elektronik, kapasitor berfungsi seperti baterai, yakni menyimpan listrik. Pada metal-oxide-semiconductor, benda ini menyimpan cahaya--menyimpan berbagai spektrum warna). Selain itu, dalam CCD, terbagi array, kotak piksel yang berguna mendeteksi satu per satu cahaya yang mengenainya, dari ujung atas hingga ujung bawah. Persis seperti Anda membaca artikel ini, dari huruf yang tercetak di ujung kiri atas hingga huruf yang termuat di ujung kanan bawah.

Merujuk apa yang ditulis Sarkar, cahaya hasil refleksi suatu objek ditembakkan pada CCD melalui optik, lensa. Cahaya yang diterima CCD tersebut termuat dalam photon (foton)--partikel dasar yang membawa radiasi elektromagnetik seperti cahaya. Tatkala foton diterima, CCD melakukan dua tugas utamanya. Pertama, mengubah foton menjadi electron-hole pair. Dalam dunia fisika, electron-hole sendiri merupakan frasa yang merujuk pada kekurangan/ketiadaan elektron (soal elektron, ingat pelajaran SMP/SMP tentang bagaimana arus listrik dihasilkan). Sementara itu, tambahan makna "pair" secara sederhana merupakan reaksi terciptanya arus listrik gara-gara electron-hole. Ingat, CCD dibuat dengan semikonduktor yang jelas-jelas mengandung valance band dan conduction band, dua benda yang berfungsi seperti PLN alias menciptakan arus listrik atas perpindahan elektron. Saat foton yang memuat spektrum warna itu diterima, arus tercipta (dan tiap-tiap warna memiliki temperatur panas dan ini menyebabkan mengapa listrik dapat timbul). Usai arus listrik tercipta, CCD melakukan tugas keduanya, yakni mengubah electron-hole pair menjadi voltase. Dan dari voltase ini, data dihasilkan. Data diubah dalam bentuk binari untuk dikelolah oleh algoritma, menentukan bahwa di sudut atas foto berukuran kartu pos yang terpotret merupakan objek berwarna hijau, sementara objek berwarna biru terekam di sudut bawah foto.

Soal bagaimana CMOS bekerja, ia hanya melawatkan translasi dari electron-hole pair menjadi voltase. Sederhana, CMOS mem-bypass alectron hole pair langsung menjadi data.

Ya, proses bagaimana kamera menghasilkan foto memang mirip seperti bagaimana manusia melihat. Masalahnya, proses kamera menghasilkan foto tak berakhir di situ. Foto tomat berwarna merah yang dipotret misalnya, baru dianggap benar sebagai foto tomat tatkala mata manusia memang menganggapnya sama atau identik dengan apa yang dilihat. Para teknisi kamera mengkalibrasi kamera dengan matanya sendiri, menuntun pada kamera bahwa objek ini berwarna merah dan objek itu berwirna biru. Kembali ke atas, mata melihat objek dengan subjektif dan akhirnya kamera pun menghasilkan foto yang subjektif. Dengan alasan inilah, Sony dianggap menghasilkan warna kulit yang kejingga-jinggaan. Dengan alasan inilah, foto yang "hangat," "tajam," "warna seimbang," "alamiah," dan "masterpice" itu tercipta.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play