9 Juli 2021

Virus, Hidup dan Tak Pernah Mati

Oleh: Ahmad Zaenudin


“Selama hampir satu dekade,” tulis Joby Warrick untuk Washington Post, “tim ilmuwan dari Wuhan, Cina, menjelajahi Asia Selatan untuk mencari kelelawar." Para ilmuwan masuk ke gua-gua, menangkapi mamalia bergigi silet itu, mengambil sampel patogen dan kotorannya. Tak ketinggalan, mereka pun menjaring patogen dari bermacam serangga dan tikus yang tinggal berdampingan dengan kelelawar, juga mengumpulkan sampel darah dari penduduk desa sekitar--terutama yang rutin berinteraksi dengan kelelawar.

Gerak para ilmuwan mencari kelelawar dilakukan usai wabah SARS (Severe acute respiratory syndrome) melanda dunia pada awal dekade 2000-an lalu. Kala itu, merujuk studi berjudul “Bats Are Natural Reservoirs of SARS-Like Coronaviruses” (2005), disebutkan bahwa kelelawar merupakan reservoir (organisme yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi parasit yang patogenik) alami untuk berbagai penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Dan kelelawar ladam (Rhinolophidae), yang tinggal di gua-gua di Provinsi Yunnan, Cina, merupakan aktor di balik kemunculan SARS.

Pemburuan patogen kelelawar di berbagai pelosok tersebut dilakukan dalam rangka penelitian bertajuk "gain-of-function," penelitian yang membuat virus lebih berbahaya dan lebih mudah menular. Penelitian ini memang terasa kontroversial nan mengerikan, namun dilakukan untuk mengetahui virus mana yang mengancam manusia--jika kelak bertransformasi/bermutasi--sehingga tindakan pencegahan sejak awal bisa dirancang.

Sial, meskipun penelitian ala ilmuwan Cina tersebut bertujuan untuk mencegah serangan virus, kenyataan berkata sebaliknya. Pada Desember 2019, muncul kasus-kasus "peunomia aneh" di Wuhan, yang pertama kali dikabarkan oleh dokter muda dari Rumah Sakit Pusat Wuhan bernama Li Wenliang. Meskipun mulanya otoritas Wuhan (dan Beijing) menganggap kabar yang disampaikan Dr. Li hanya bualan atau hoaks semata, Qu Li, dalam studi cepatnya berjudul “Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia" (2020), mengkonfirmasi dengan pasti bahwa umat manusia kedatangan musuh baru: SARS-CoV-2 alias Covid-19 bin Corona.

Tepat 1 Januari 2020, terdapat 425 orang yang positif terjangkit virus Corona. Hari ini, atau lebih dari setahun berlalu dan vaksin telah dibuat dan disebarkan di beberapa tempat, 1,36 juta jiwa di seluruh dunia positif terserang virus ini--dengan 36.897 di antaranya meninggal dunia.

Dunia kecolongan, terutama atas fakta bahwa tatkala ilmuwan-ilmuan Cina menjelajah gua-gua untuk mencari kelelawar, mereka menemukan virus bernama RaTG13, sebuah varian virus Corona berkategori risiko rendah yang diprediksi mudah menyebar ke manusia. Dalam penelitian terbaru, SARS-CoV-2 memiliki urutan genom identik dengan RaTG13. Identik hingga 96 persen. Lebih kecolongan, muncul varian baru Covid-19, yakni VUI-202012/01 (B.1.1.7)--yang diyakini para ilmuwan lebih menular.

Dengan belum meratanya masyarakat dunia memperoleh vaksin--dan didukung oleh kebodohan sebagian masyarakat anti-vaksin dan kegagapan negara, meyakinkan 90 persen dari 100 ahli imunologi, peneliti penyakit menular, dan ahli virus bahwa SARS-CoV-2 akan terus menerus hidup berdampingan dengan umat manusia. Corona tak akan pernah musnah, menjadi wabah endemik.

Singkat kata, kemungkinan besar manusia tidak akan menang melawan Corona. Pertanyaannya, mengapa?

Virus: Hidup dan Mati, Baik dan Jahat

Pada 2000, pekerja tambang di Meksiko melakukan penggalian gunung bernama Sierra de Naica. Awalnya, mereka ingin mencari emas, atau nikel, atau litium, atau mineral apapun yang memiliki nilai ekonomi. Tak disangka, ketika galian telah mencapai ribuan kaki dari permukaan, para penambang menemukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menurut Carl Zimmer dalam bukunya berjudul A Planet of Viruses (2011), "tercipta untuk dunia lain, bukan Bumi." Kala itu, penambang menemukan gua, ruang bawah tahan yang dihuni ribuan kristal gipsum tembus cahaya, mirip seperti fiksi temuan jejak-jejak planet Krypton oleh Kal-El (Superman) di Bumi.

Tak lama usai ditemukan, Manuel Garcia-Ruiz, geologis dari University of Granada, melakukan penelitian dan menyebut bahwa kristal yang mendiami Sierra de Naica tercipta atas aktivitas gunung berapi 26 juta tahun silam. Aktivitas vulkanik yang sukses menciptakan ruang tanah di kedalaman, mengisinya dengan air mineral panas, dan menjaga ruangan tersebut tetap berada di suhu 136 derajat melalui magma yang dikandung si gunung. Selama ratusan ribu tahun, aktivitas ini menghasilkan titik ideal bagi mineral mengendapkan air yang dimilikinya, menciptakan kristal dengan kuantitas yang luar biasa.

Pada 2009, peneliti bernama Curtis Suttle dari University of British Columbia pun mencoba menguak misteri lain Sierra de Naica. Namun, yang menarik, Suttle tak mendatangi gua tersebut untuk meneliti kristal, atau mineral, atau bebatuan apapun yang ada di sana. Suttle, kembali merujuk Zimmer, berusaha mencari virus di sana.

Bagi kalangan peneliti kala itu, yang hendak dilakukan Suttle di Sierra de Naica menggelikan. Pikir mereka, Sierra de Naica terputus dari dunia biologi sejak jutaan tahun silam. Bagaimana mungkin virus dapat ditemukan di sebuah tempat yang tak berpenghuni, entah oleh manusia, hewan, dan bahkan ikan--yang menjadi inang virus untuk berkembang. Namun, tatkala sampel dari dalam gua tersebut diteliti, Suttle menemukan bahwa di tiap tetas air Sierra de Naica terkandung 200 juta virus.

Kejutan yang dihadirkan Suttle soal virus bukan yang pertama. Pada 1980-an silam, konsesi ilmuwan menyebut bahwa jumlah virus di lautan sedikit, dan merupakan kepanjangan tangan dari virus yang berasal dari darat. Sialnya, klaim-klaim ilmuwan soal virus di lautan waktu itu hanya sebatas ujaran tanpa penelitian. Lita Proctor, mahasiswa State University of New York, geram dengan konsesi tersebut. Melalui penelitiannya yang dilakukan pada 1986, dengan mengambil sampel di Laut Karibia dan Sargasso, Proctor membuktikan bahwa konsesi ilmuwan tersebut keliru. Dari penelitian yang dilakukannya, Proctor menyebut bahwa terdapat sekitar 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 virus di lautan. Dari jumlah yang massif tersebut, hanya secuail yang dapat menginfeksi manusia, hewan, atau faunan lautan--yang menjadi dasar konsesi para ilmuwan mengatakan virus di lautan jumlahnya sedikit. Fakta yang ditemukan Proctor, sebagian besar virus di lautan menyasar mikroba--makhluk yang tak terlihat mata manusia.

Kejutan lain, dalam penelitian yang dilakukan ahli biologi dari San Diego State University bernama Dana Willmer pada 2009, di tiap paru-paru manusia rata-rata terdapat 175 spesies virus. Ingat, spesies. Bukan jumlah keseluruhan virus.

Atas penelitian-penelitian tersebut, virus merupakan makhluk luar biasa. Berdiam diri di berbagai tempat, termasuk dalam tubuh manusia. Keluarbiasaan ini, mengambil contoh soal virus yang ditemukan di gua kristal, menjadikan virus, secara intitusional (International Commitee on taxonomy of Viruses) tidak dianggap makhluk hidup. Namun, kalangan ilmuwan lain menyebutnya bahwa, mengambil contoh virus yang ditemukan di mikroba dan paru-paru manusia, adalah makhluk hidup. Bagi Zimmer, Keluar-biasaan virus sesungguhnya terangkum dalam makna kata "virus" sendiri. Kata "virus" pertama kali muncul di zaman Kekaisaran Romawi. Yang menarik, awalnya kata ini berarti "racun ular berbisa." Namun, berubah arti menjadi "sperma manusia." Dari dua arti yang saling berlawanan ini, virus seakan membayangi "kehancuran sekaligus kelahiran bagi umat manusia."

Pengetahuan manusia tentang virus sendiri bermula gara-gara ribuan hektar perkebunan tembakau di Belanda musnah akibat wabah misterius pada abad ke-19. Kala itu, wabah aneh menyebabkan tembaku mati berguguran, dengan menyisakan tanaman gersang nan kerdil, dan timbul semacam jaring-jaring. Naasnya, ketika seorang ahli botani bernama Adolph Mayer mencoba memahami wabah ini, ia kebingunan. Dalam sampel tembakau yang ditelitinya, Mayer tidak menemukan fungi ataupun cacing parasit--makhluk hidup yang lazim menghancurkan tanaman kala itu--ataupun sebab lainnya. Namun, karena tak ingin menyerah, Mayer lantas mengekstraksi tembakau yang terkena wabah. Dan cairan hasil ekstraksi tersebut ia suntikan ke tembakau sehat.

Mudah ditebak, tembakau sehat lalu mati gara-gara ekstraksi tembakau sekarang. Dan karena teknologi saat itu tidak memungkinkan, Mayer berkesimpulan bahwa wabah misterius tersebut "terjadi karena infeksi tak terlihat." Terjadi karena, entah mengapa, muncul berlipat-lipat patogen di dalam tubuh tembakau.

Peneliti lain, bernama Martinus Beijerinck, memperbaiki temuan Mayer. Dalam penelitian lanjutan soal ekstraksi yang dilakukan Mayer, Beijerinck mem-filter cairan tersebut, menyiramnya pada selembar kertas, dan mengeringkannya selama tiga bulan. Ketika kertas tersebut benar-benar kering, Beijerinck merendamnya dalam air. Dan air hasil rendaman tersebut ia siram ke tembakau sehat. Tak disangka, seketika tembakau jadi sekarat.

Tidak dapat melihat wujud sebenarnya aktor di balik penyakit ini, Beijerinck lalu berkesimpulan bahwa kematian ribuan hektar tembakau di Belanda terjadi gara-gara "cairan hidup yang menular." Ada "agen mesterius" yang membunuhi tembakau.

Pada dekade 1930-an, ketidaktahuan Mayer dan Beijerinck terjawab. Melalui mikroskop elektron, manusia akhirnya dapat melihat makhluk yang jauh lebih kecil dibandingkan bakteri: virus.

Virus, sebut Zimmer, hanya merupakan makhluk berupa cangkang protein yang membawa secuil gen--umumnya tak lebih dari 10 (di sisi lain, manusia memiliki 30.000 gen dalam tubuhnya). Merujuk definisi International Committee on Taxonomy of Viruses, virus dianggap bukan makhluk hidup. Namun, penetapan ini ditentang banyak kalangan ilmuwan (soal apakah virus makhluk hidup atau bukan, Anda dapat membaca opini Zimmer di The New York Times, yang merupakan adaptasi dari buku terbarunya yang akan segera terbit berjudul Life’s Edge: The Search for What It Means to Be Alive). Soal kapan tepatnya virus muncul di dunia, para ilmuwan masih kebingungan. Namun, virus kemungkinan muncul tak lama usai Bumi terbentuk. Salah satu alasannya, virus sesungguhnya mambantu terciptanya bermacam makhluk hidup yang ada di Bumi.

Dalam keyakinan ilmuwan, salah satu alasan munculnya berbagai macam makhluk hidup di Bumi terjadi karena tanah yang kita pijak ini memiliki suhu yang pas. Keadaan suhu yang pas ini mula-mula tercipta karena algae dan bermacam bakteri fotosintetis memproduksi oksigen bagi Bumi. Selain itu, bakteri-bakteri ini juga menghasilkan dimetil sulfida (dimethyl sulfide), gas yang menjadi benih awan hujan, yang mendatangkan air juga membendung teriknya sinar Matahari. Andai kelakukan bakteri-bakteri ini tak dibendung, Bumi akan kelimpahan oksigen dan dimetil sulfida. Membuat suhu Bumi terus menyusut. Beruntung, virus bernama marine phages atau bacteriophages diketahui hidup berdampingan dengan bakteri-bakteri tersebut. Tugas bacteriophages sederhana, membunuhi bakteri-bakteri itu. Dan melalui mayat korban bacteriophages, karbon dioksida dihasilkan.

Ada keseimbangan yang dihadirkan virus.

Tentu, efek positif kehadiran virus di dunia bukan hanya soal membantu suhu Bumi pas. Tutur Zimmer, para ilmuwan meyakini bahwa Rhinovirus, virus penyebab pilek (dalam bahasa Yunani dan Latin, "rhino" artinya hidung bukan "badak") melatih sistem imun manusia untuk tak berlebihan melawan virus. Anggapan ini tercipta karena Rhinovirus tidak terlalu merusak inangnya. Ya, ada pula virus yang sangat merusak inangnya, misalnya, immunodeficiency virus. Virus yang menyerang sistem imun dan menjadi sebab manusia terpapar HIV.

Suksesnya virus membunuhi sangat banyak bakteri fotosintetis (dan makhluk hidup lain) terjadi karena virus mereproduksi diri dengan meretas makhluk hidup lain. Virus meng-injek gen dan protein yang dikandungnya untuk memerintahkan inang yang dihinggapinya menduplikasi virus. Tatkala bakteri yang dihinggapi virus berinteraksi dengan sesamanya, virus menular. Sementara itu, menularnya virus ke jenis makhluk hidup lain, yang berbeda dengan inang muasalnya, tak mudah terjadi. Ini terjadi karena tiap makhluk hidup memiliki perbedaan, entah suhu tubuh, sistem imun, hingga anatomi. Untuk dapat hinggap di makhluk hidup lain, kembali merujuk karya apik Zimmer, virus membutuhkan "vector." West Nile Virus, misalnya, awalnya muncul dalam tubuh nyamuk. Tatkala virus ini hinggap di kulit nyamuk, ia meng-injek gen-nya, memerintahkan sel nyamuk untuk mereproduksi dirinya. Lama-kelamaan, virus akhirnya masuk ke dalam tubuh nyamuk. Memahami si nyamuk dengan seksama.

Nyamuk, seperti yang kita ketahui, hidup dengan menggigit makhluk hidup lain. Proses interaksi antar makhluk hidup inilah yang menjadi cara virus menular ke jenis makhluk hidup selain inang muasalnya.

Tentu, bukan hanya sebatas memanfaatkan interaksi antar makhluk hidup berbeda. Virus dapat sukses menginfeksi inang barunya karena ia, tulis Zimmer, "serampangan dalam mereproduksi diri dan virus sangat cepat mengubah genome-nya sendiri." Ketika virus meng-copy-paste dirinya, ia asal-asalan menulis DNA. Lazim terjadi mutasi genetik atas keserampangan ini. Dan ketika virus hinggap di makhluk hidup berbeda, keserampangannya ditambah dengan aksi "mencuri" DNA inang barunya. Melalui proses yang berulang-ulang, ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan kali, virus akhirnya dapat melahirkan "varian virus baru."

Keserampangan copy-paste di inang lama akan memunculkan versi mutasi si virus. Keserampangan duplikasi diri di inang baru akan melahirkan virus yang mengerti makhluk hidup lain. Virus merupakan makhluk paling beranekaragam di dunia. Ilmuwan yakin, terdapat triliunan spesies virus yang mendiami Bumi ini.

Ini jadi alasan mengapa SARS-CoV-2 yang mula-mula berasal dari kelelawar hinggap ke manusia. Dan dalam tubuh manusia, Covid-19 bertransformasi menjadi VUI-202012/01 (B.1.1.7). Ini pula jadi alasan mengapa manusia lebih mungkin (atau lebih tepat dibaca: sangat mungkin) gagal melawan virus. Tercatat, manusia hanya pernah sekali menang melawan virus, yakni menang melawan virus variola--virus penyebab cacar. Kemenangan manusia melawan variola terjadi karena virus ini menghasilkan efek yang terlihat jelas oleh mata manusia, dan karenanya manusia langsung bertindak ketika cacar muncul di dunia--menyempitkan waktu bagi virus untuk bermutasi jauh lebih banyak. Terlebih, ketika vaksin variola berhasil diciptakan, belum ada spesies manusia paling menggelikan dan dungu, anti-vaksin.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



9 Juli 2021

Virus, Hidup dan Tak Pernah Mati

Oleh: Ahmad Zaenudin


“Selama hampir satu dekade,” tulis Joby Warrick untuk Washington Post, “tim ilmuwan dari Wuhan, Cina, menjelajahi Asia Selatan untuk mencari kelelawar." Para ilmuwan masuk ke gua-gua, menangkapi mamalia bergigi silet itu, mengambil sampel patogen dan kotorannya. Tak ketinggalan, mereka pun menjaring patogen dari bermacam serangga dan tikus yang tinggal berdampingan dengan kelelawar, juga mengumpulkan sampel darah dari penduduk desa sekitar--terutama yang rutin berinteraksi dengan kelelawar.

Gerak para ilmuwan mencari kelelawar dilakukan usai wabah SARS (Severe acute respiratory syndrome) melanda dunia pada awal dekade 2000-an lalu. Kala itu, merujuk studi berjudul “Bats Are Natural Reservoirs of SARS-Like Coronaviruses” (2005), disebutkan bahwa kelelawar merupakan reservoir (organisme yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi parasit yang patogenik) alami untuk berbagai penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Dan kelelawar ladam (Rhinolophidae), yang tinggal di gua-gua di Provinsi Yunnan, Cina, merupakan aktor di balik kemunculan SARS.

Pemburuan patogen kelelawar di berbagai pelosok tersebut dilakukan dalam rangka penelitian bertajuk "gain-of-function," penelitian yang membuat virus lebih berbahaya dan lebih mudah menular. Penelitian ini memang terasa kontroversial nan mengerikan, namun dilakukan untuk mengetahui virus mana yang mengancam manusia--jika kelak bertransformasi/bermutasi--sehingga tindakan pencegahan sejak awal bisa dirancang.

Sial, meskipun penelitian ala ilmuwan Cina tersebut bertujuan untuk mencegah serangan virus, kenyataan berkata sebaliknya. Pada Desember 2019, muncul kasus-kasus "peunomia aneh" di Wuhan, yang pertama kali dikabarkan oleh dokter muda dari Rumah Sakit Pusat Wuhan bernama Li Wenliang. Meskipun mulanya otoritas Wuhan (dan Beijing) menganggap kabar yang disampaikan Dr. Li hanya bualan atau hoaks semata, Qu Li, dalam studi cepatnya berjudul “Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia" (2020), mengkonfirmasi dengan pasti bahwa umat manusia kedatangan musuh baru: SARS-CoV-2 alias Covid-19 bin Corona.

Tepat 1 Januari 2020, terdapat 425 orang yang positif terjangkit virus Corona. Hari ini, atau lebih dari setahun berlalu dan vaksin telah dibuat dan disebarkan di beberapa tempat, 1,36 juta jiwa di seluruh dunia positif terserang virus ini--dengan 36.897 di antaranya meninggal dunia.

Dunia kecolongan, terutama atas fakta bahwa tatkala ilmuwan-ilmuan Cina menjelajah gua-gua untuk mencari kelelawar, mereka menemukan virus bernama RaTG13, sebuah varian virus Corona berkategori risiko rendah yang diprediksi mudah menyebar ke manusia. Dalam penelitian terbaru, SARS-CoV-2 memiliki urutan genom identik dengan RaTG13. Identik hingga 96 persen. Lebih kecolongan, muncul varian baru Covid-19, yakni VUI-202012/01 (B.1.1.7)--yang diyakini para ilmuwan lebih menular.

Dengan belum meratanya masyarakat dunia memperoleh vaksin--dan didukung oleh kebodohan sebagian masyarakat anti-vaksin dan kegagapan negara, meyakinkan 90 persen dari 100 ahli imunologi, peneliti penyakit menular, dan ahli virus bahwa SARS-CoV-2 akan terus menerus hidup berdampingan dengan umat manusia. Corona tak akan pernah musnah, menjadi wabah endemik.

Singkat kata, kemungkinan besar manusia tidak akan menang melawan Corona. Pertanyaannya, mengapa?

Virus: Hidup dan Mati, Baik dan Jahat

Pada 2000, pekerja tambang di Meksiko melakukan penggalian gunung bernama Sierra de Naica. Awalnya, mereka ingin mencari emas, atau nikel, atau litium, atau mineral apapun yang memiliki nilai ekonomi. Tak disangka, ketika galian telah mencapai ribuan kaki dari permukaan, para penambang menemukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menurut Carl Zimmer dalam bukunya berjudul A Planet of Viruses (2011), "tercipta untuk dunia lain, bukan Bumi." Kala itu, penambang menemukan gua, ruang bawah tahan yang dihuni ribuan kristal gipsum tembus cahaya, mirip seperti fiksi temuan jejak-jejak planet Krypton oleh Kal-El (Superman) di Bumi.

Tak lama usai ditemukan, Manuel Garcia-Ruiz, geologis dari University of Granada, melakukan penelitian dan menyebut bahwa kristal yang mendiami Sierra de Naica tercipta atas aktivitas gunung berapi 26 juta tahun silam. Aktivitas vulkanik yang sukses menciptakan ruang tanah di kedalaman, mengisinya dengan air mineral panas, dan menjaga ruangan tersebut tetap berada di suhu 136 derajat melalui magma yang dikandung si gunung. Selama ratusan ribu tahun, aktivitas ini menghasilkan titik ideal bagi mineral mengendapkan air yang dimilikinya, menciptakan kristal dengan kuantitas yang luar biasa.

Pada 2009, peneliti bernama Curtis Suttle dari University of British Columbia pun mencoba menguak misteri lain Sierra de Naica. Namun, yang menarik, Suttle tak mendatangi gua tersebut untuk meneliti kristal, atau mineral, atau bebatuan apapun yang ada di sana. Suttle, kembali merujuk Zimmer, berusaha mencari virus di sana.

Bagi kalangan peneliti kala itu, yang hendak dilakukan Suttle di Sierra de Naica menggelikan. Pikir mereka, Sierra de Naica terputus dari dunia biologi sejak jutaan tahun silam. Bagaimana mungkin virus dapat ditemukan di sebuah tempat yang tak berpenghuni, entah oleh manusia, hewan, dan bahkan ikan--yang menjadi inang virus untuk berkembang. Namun, tatkala sampel dari dalam gua tersebut diteliti, Suttle menemukan bahwa di tiap tetas air Sierra de Naica terkandung 200 juta virus.

Kejutan yang dihadirkan Suttle soal virus bukan yang pertama. Pada 1980-an silam, konsesi ilmuwan menyebut bahwa jumlah virus di lautan sedikit, dan merupakan kepanjangan tangan dari virus yang berasal dari darat. Sialnya, klaim-klaim ilmuwan soal virus di lautan waktu itu hanya sebatas ujaran tanpa penelitian. Lita Proctor, mahasiswa State University of New York, geram dengan konsesi tersebut. Melalui penelitiannya yang dilakukan pada 1986, dengan mengambil sampel di Laut Karibia dan Sargasso, Proctor membuktikan bahwa konsesi ilmuwan tersebut keliru. Dari penelitian yang dilakukannya, Proctor menyebut bahwa terdapat sekitar 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 virus di lautan. Dari jumlah yang massif tersebut, hanya secuail yang dapat menginfeksi manusia, hewan, atau faunan lautan--yang menjadi dasar konsesi para ilmuwan mengatakan virus di lautan jumlahnya sedikit. Fakta yang ditemukan Proctor, sebagian besar virus di lautan menyasar mikroba--makhluk yang tak terlihat mata manusia.

Kejutan lain, dalam penelitian yang dilakukan ahli biologi dari San Diego State University bernama Dana Willmer pada 2009, di tiap paru-paru manusia rata-rata terdapat 175 spesies virus. Ingat, spesies. Bukan jumlah keseluruhan virus.

Atas penelitian-penelitian tersebut, virus merupakan makhluk luar biasa. Berdiam diri di berbagai tempat, termasuk dalam tubuh manusia. Keluarbiasaan ini, mengambil contoh soal virus yang ditemukan di gua kristal, menjadikan virus, secara intitusional (International Commitee on taxonomy of Viruses) tidak dianggap makhluk hidup. Namun, kalangan ilmuwan lain menyebutnya bahwa, mengambil contoh virus yang ditemukan di mikroba dan paru-paru manusia, adalah makhluk hidup. Bagi Zimmer, Keluar-biasaan virus sesungguhnya terangkum dalam makna kata "virus" sendiri. Kata "virus" pertama kali muncul di zaman Kekaisaran Romawi. Yang menarik, awalnya kata ini berarti "racun ular berbisa." Namun, berubah arti menjadi "sperma manusia." Dari dua arti yang saling berlawanan ini, virus seakan membayangi "kehancuran sekaligus kelahiran bagi umat manusia."

Pengetahuan manusia tentang virus sendiri bermula gara-gara ribuan hektar perkebunan tembakau di Belanda musnah akibat wabah misterius pada abad ke-19. Kala itu, wabah aneh menyebabkan tembaku mati berguguran, dengan menyisakan tanaman gersang nan kerdil, dan timbul semacam jaring-jaring. Naasnya, ketika seorang ahli botani bernama Adolph Mayer mencoba memahami wabah ini, ia kebingunan. Dalam sampel tembakau yang ditelitinya, Mayer tidak menemukan fungi ataupun cacing parasit--makhluk hidup yang lazim menghancurkan tanaman kala itu--ataupun sebab lainnya. Namun, karena tak ingin menyerah, Mayer lantas mengekstraksi tembakau yang terkena wabah. Dan cairan hasil ekstraksi tersebut ia suntikan ke tembakau sehat.

Mudah ditebak, tembakau sehat lalu mati gara-gara ekstraksi tembakau sekarang. Dan karena teknologi saat itu tidak memungkinkan, Mayer berkesimpulan bahwa wabah misterius tersebut "terjadi karena infeksi tak terlihat." Terjadi karena, entah mengapa, muncul berlipat-lipat patogen di dalam tubuh tembakau.

Peneliti lain, bernama Martinus Beijerinck, memperbaiki temuan Mayer. Dalam penelitian lanjutan soal ekstraksi yang dilakukan Mayer, Beijerinck mem-filter cairan tersebut, menyiramnya pada selembar kertas, dan mengeringkannya selama tiga bulan. Ketika kertas tersebut benar-benar kering, Beijerinck merendamnya dalam air. Dan air hasil rendaman tersebut ia siram ke tembakau sehat. Tak disangka, seketika tembakau jadi sekarat.

Tidak dapat melihat wujud sebenarnya aktor di balik penyakit ini, Beijerinck lalu berkesimpulan bahwa kematian ribuan hektar tembakau di Belanda terjadi gara-gara "cairan hidup yang menular." Ada "agen mesterius" yang membunuhi tembakau.

Pada dekade 1930-an, ketidaktahuan Mayer dan Beijerinck terjawab. Melalui mikroskop elektron, manusia akhirnya dapat melihat makhluk yang jauh lebih kecil dibandingkan bakteri: virus.

Virus, sebut Zimmer, hanya merupakan makhluk berupa cangkang protein yang membawa secuil gen--umumnya tak lebih dari 10 (di sisi lain, manusia memiliki 30.000 gen dalam tubuhnya). Merujuk definisi International Committee on Taxonomy of Viruses, virus dianggap bukan makhluk hidup. Namun, penetapan ini ditentang banyak kalangan ilmuwan (soal apakah virus makhluk hidup atau bukan, Anda dapat membaca opini Zimmer di The New York Times, yang merupakan adaptasi dari buku terbarunya yang akan segera terbit berjudul Life’s Edge: The Search for What It Means to Be Alive). Soal kapan tepatnya virus muncul di dunia, para ilmuwan masih kebingungan. Namun, virus kemungkinan muncul tak lama usai Bumi terbentuk. Salah satu alasannya, virus sesungguhnya mambantu terciptanya bermacam makhluk hidup yang ada di Bumi.

Dalam keyakinan ilmuwan, salah satu alasan munculnya berbagai macam makhluk hidup di Bumi terjadi karena tanah yang kita pijak ini memiliki suhu yang pas. Keadaan suhu yang pas ini mula-mula tercipta karena algae dan bermacam bakteri fotosintetis memproduksi oksigen bagi Bumi. Selain itu, bakteri-bakteri ini juga menghasilkan dimetil sulfida (dimethyl sulfide), gas yang menjadi benih awan hujan, yang mendatangkan air juga membendung teriknya sinar Matahari. Andai kelakukan bakteri-bakteri ini tak dibendung, Bumi akan kelimpahan oksigen dan dimetil sulfida. Membuat suhu Bumi terus menyusut. Beruntung, virus bernama marine phages atau bacteriophages diketahui hidup berdampingan dengan bakteri-bakteri tersebut. Tugas bacteriophages sederhana, membunuhi bakteri-bakteri itu. Dan melalui mayat korban bacteriophages, karbon dioksida dihasilkan.

Ada keseimbangan yang dihadirkan virus.

Tentu, efek positif kehadiran virus di dunia bukan hanya soal membantu suhu Bumi pas. Tutur Zimmer, para ilmuwan meyakini bahwa Rhinovirus, virus penyebab pilek (dalam bahasa Yunani dan Latin, "rhino" artinya hidung bukan "badak") melatih sistem imun manusia untuk tak berlebihan melawan virus. Anggapan ini tercipta karena Rhinovirus tidak terlalu merusak inangnya. Ya, ada pula virus yang sangat merusak inangnya, misalnya, immunodeficiency virus. Virus yang menyerang sistem imun dan menjadi sebab manusia terpapar HIV.

Suksesnya virus membunuhi sangat banyak bakteri fotosintetis (dan makhluk hidup lain) terjadi karena virus mereproduksi diri dengan meretas makhluk hidup lain. Virus meng-injek gen dan protein yang dikandungnya untuk memerintahkan inang yang dihinggapinya menduplikasi virus. Tatkala bakteri yang dihinggapi virus berinteraksi dengan sesamanya, virus menular. Sementara itu, menularnya virus ke jenis makhluk hidup lain, yang berbeda dengan inang muasalnya, tak mudah terjadi. Ini terjadi karena tiap makhluk hidup memiliki perbedaan, entah suhu tubuh, sistem imun, hingga anatomi. Untuk dapat hinggap di makhluk hidup lain, kembali merujuk karya apik Zimmer, virus membutuhkan "vector." West Nile Virus, misalnya, awalnya muncul dalam tubuh nyamuk. Tatkala virus ini hinggap di kulit nyamuk, ia meng-injek gen-nya, memerintahkan sel nyamuk untuk mereproduksi dirinya. Lama-kelamaan, virus akhirnya masuk ke dalam tubuh nyamuk. Memahami si nyamuk dengan seksama.

Nyamuk, seperti yang kita ketahui, hidup dengan menggigit makhluk hidup lain. Proses interaksi antar makhluk hidup inilah yang menjadi cara virus menular ke jenis makhluk hidup selain inang muasalnya.

Tentu, bukan hanya sebatas memanfaatkan interaksi antar makhluk hidup berbeda. Virus dapat sukses menginfeksi inang barunya karena ia, tulis Zimmer, "serampangan dalam mereproduksi diri dan virus sangat cepat mengubah genome-nya sendiri." Ketika virus meng-copy-paste dirinya, ia asal-asalan menulis DNA. Lazim terjadi mutasi genetik atas keserampangan ini. Dan ketika virus hinggap di makhluk hidup berbeda, keserampangannya ditambah dengan aksi "mencuri" DNA inang barunya. Melalui proses yang berulang-ulang, ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan kali, virus akhirnya dapat melahirkan "varian virus baru."

Keserampangan copy-paste di inang lama akan memunculkan versi mutasi si virus. Keserampangan duplikasi diri di inang baru akan melahirkan virus yang mengerti makhluk hidup lain. Virus merupakan makhluk paling beranekaragam di dunia. Ilmuwan yakin, terdapat triliunan spesies virus yang mendiami Bumi ini.

Ini jadi alasan mengapa SARS-CoV-2 yang mula-mula berasal dari kelelawar hinggap ke manusia. Dan dalam tubuh manusia, Covid-19 bertransformasi menjadi VUI-202012/01 (B.1.1.7). Ini pula jadi alasan mengapa manusia lebih mungkin (atau lebih tepat dibaca: sangat mungkin) gagal melawan virus. Tercatat, manusia hanya pernah sekali menang melawan virus, yakni menang melawan virus variola--virus penyebab cacar. Kemenangan manusia melawan variola terjadi karena virus ini menghasilkan efek yang terlihat jelas oleh mata manusia, dan karenanya manusia langsung bertindak ketika cacar muncul di dunia--menyempitkan waktu bagi virus untuk bermutasi jauh lebih banyak. Terlebih, ketika vaksin variola berhasil diciptakan, belum ada spesies manusia paling menggelikan dan dungu, anti-vaksin.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play