Bagaimana Sinovac Menciptakan Vaksin Corona?


Pada 29 Februari 2020 lalu, hampir 2 bulan semenjak SARS-CoV-2 alias COVID-19 muncul ke dunia, Chen Wei, jenderal sekaligus pemimpin tim ilmuwan militer Cina, disuntik vaksin Corona. Kala itu, sebagaimana ditulis Jon Cohen dalam artikel berjudul "China's Vaccine Gambit," yang terbit pada Science Magazine Volume 370 (11 Desember 2020), vaksin yang disuntikkan pada tubuh Chen bukanlah vaksin ujicoba, melainkan vaksin betulan alias tindakan media sungguhan.

Masalahnya, karena di akhir Februari itu Corona belum menyebar secara massif ke seluruh dunia, semisal Pemerintah Indonesia saja baru menyatakan secara resmi adanya Corona per tanggal 1 Maret, tidak ada yang spesial dari acara pemberian vaksi Corona pada Chen. Tulis Cohen, "stasiun televisi atau media cetak bahkan tidak memberitakan kejadian bersejarah tersebut." Dan ketidak-spesialan tersebut ditambah oleh pemberitaan yang dikeluarkan People's Daily, media yang dikendalikan Partai Komunis Cina, yang menyatakan bahwa vaksin Corona yang disuntikkan pada Chen, "fake news." Meskipun Hou Li-Hua, ilmuwan militer Cina, menegaskan bahwa vaksin tersebut, "true news."

Perjalanan waktu lebih memihak pada pemberitaan People's Daily alih-alih Chen atau Hou. Vaksin Corona yang diberikan pada Chen memang hoaks. Terlebih, tutur Cohen, Amerika Serikat saja, yang disebut-sebut sebagai pusat teknologi dunia, baru mengaktifkan Operation Warp Speed, operasi berharga $10,8 miliar guna mengakselerasi penelitian untuk menemukan vaksin Corona, di saat bersamaan. Vaksin tersebut hanya dianggap sebagai upaya sebagian kalangan petinggi Cina meredam kekhawatiran sekaligus tuduhan bahwa Cina adalah biang, dalam bahasa Presiden Donald Trump, "virus Cina." Vaksin Corona pada Chen hanya propaganda.

Meskipun upaya Beijing menciptakan vaksin Corona diawali dengan hoaks, keadaan dalam negeri Tirai Bambu di dunia medis sesungguhnya sangat memungkinkan mereka menciptakan vaksin Corona sebenar-benarnya. Akhirnya, pada November kemarin, perusahaan-perusahaan farmasi Cina melakukan fase ke-3 pada lima kandidat vaksin. Dan di bulan ini, empat kandidat vaksin tersebut masuk dalam titik paling ujung pada fase tersebut. Satu di antaranya, yang dibuat oleh perusahaan bernama Sinovac Biotech, telah siap-sedia disuntikkan pada masyarakat Indonesia.

Sinovac: Virus Baru, Vaksin Cara Lama

"Pasar kesehatan Cina tengah bersiap lepas landas," tulis Sarah E. Frew dalam studinya berjudul "Chinese Healt Biotech and The Billion-Patient Market" yang terbit pada jurnal Nature Biotechnology Volume 26 Nomor 1, Januari 2008. Dalam studi tersebut, Frew menyebut bahwa industri kesehatan Cina tumbuh 30 persen saban tahun sejak 2000. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rerata pertumbuhan industri kesehatan global yang cuma 19 persen. Masalahnya, meskipun dunia kesehatan Cina meroket, jika diperhatikan mendalam, pertumbuhan hanya berkutat di segmen umum, sedangkan segmen khusus (atau biotech) semisal vaksin, antibodi, hingga obat genetik, kecil. Biotech hanya menyumbang 7,4 persen industri kesehatan Cina.

Sumbangsih biotech pada industri kesehatan Cina memang kecil. Namun, Frew menegaskan bahwa pengaruhnya cukup besar. Beijing Wantai Biological Pharmacy Enterprise dan Shanghai Huaguan Biochip, misalnya, termasuk dua dari sedikit perusahaan farmasi di dunia yang mengembangkan teknologi tes darah guna mendeteksi HIV, Hepatitis B (HBV), Hepatitis C (HCV) dan rotavirus. Dua perusahaan ini menciptakan teknologi untuk dipasarkan di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, negara-negara di mana masyarakatnya sukar menjangkau teknologi serupa dari AS maupun Eropa karena berharga terlalu mahal. Tak cuma itu, perusahaan Cina yang disokong pemerintah, semisal Shenzhen SiBiono GeneTech dan Sunway Biotech, mengembangkan teknologi terapi baru di bidang gen dan sel punca. Salah satu produknya yakni Gendicine, produk yang menginjeksi adenovirus-p53 pada manusia sebagai bagian dari pengobatan Kanker Kepala dan Leher.

Perusahaan Cina lainnya yang berkutat di segmen biotech, tak lain adalah Sinovac Biotech.

Awal mula Sinovac, tutur Frew, dapat dirujuk hingga awal dekade 1980-an. Kala itu, Cina sedang ditimpa musibah bernama Hepatitis A. Banyak warga Cina bergurguran, bahkan di kota Shanghai saja, lebih dari 300.000 jiwa jadi korban. Atas musibah ini, seorang dokter bernama Weidong Yin, kesal. Ia bukan kesal pada Hepatitis A, melainkan pada kenyataan bahwa sesungguhnya vaksin Hepatitis A telah ada, tetapi sukar dijangkau sebagian besar masyarakat Cina karena vaksin tersebut mahal. Vaksin harus didatangkan dari luar negeri dan tidak ada padanannya di dalam negeri. Atas kekesalan ini, Weidong mendirikan lembaga riset sendiri, dan semenjak 2001, atas dukungan dana dari China Bioway Biotech Group dan Peking University, Sinovac Biotech terbentuk.

Salah satu produk pertama Sinovac merupakan vaksin Hepatitis A, bernama Healive, yang diciptakan atas kerja ilmuwan-ilmuwan Cina di tahun 1999. Sinovac membanderol vaksin tersebut seharga 94 yen, setara dengan $12, atau yang paling murah dibandingkan produk sejenis. Usai merilis vaksin Hepatitis A, Sinovac merilis produk kedua bernama Bilive, vaksin untuk menyembuhkan Hepatitis A dan Hepatitis B. Pada 2006, mereka merilis Anflu, vaksin influenza.

Vaksin-vaksin yang dibuat Sinovac telah menggenggam sertifikat cGMP dari otoritas Cina. Dan sebelum 2020 muncul, mereka tengah mengembangkan vaksin untuk Ensefalitis Jepang (infeksi otak), SARS, dan H5N1.

Mengapa perusahaan farmasi yang belum genap berusia 20 tahun dapat memiliki portofolio produk yang kuat? Sederhana, Sinovac didukung oleh kekuatan riset yang cukup mumpuni. Masih merujuk studi yang dilakukan Frew, dari 260 karyawan yang dimilikinya, 80 di antaranya merupakan periset. Kerja riset yang dilakukan Sinovac didukung dana minimal 10 persen dari pendapatan mereka. Dan untuk dapat melakukan riset lebih mendalam, mereka pun memperoleh pendanaan dari banyak pihak, termasuk Pemerintah Cina yang saban tahun menyalurkan uang senilai $7 juta untuk Sinovac. Tak cuma itu, Sinovac bekerjasama dengan lembaga riset lain, termasuk Laboratory Animal Science, Chinese Academy of Medical Science, National Institute for the Control of Pharmaceutical and Biological Products, National Institute for Viral Disease Control and Prevention, National Institute for Epidemic Disease, dan Chinese Center for Disease Control and Prevention, yang kesemuanya berasal dari Cina. Di luar Cina, Sinovac bekerjasama dengan University of Hong Kong, LG Life Sciences, Glovax CV, bahkan GlaxoSmithKline, salah satu perusahaan farmasi terkemuka dunia.

Atas kerjasama riset ini, Sinovac, klaim Weidong Yin, hanya ingin menghadirkan produk berkualitas. Katanya, "saya ingin memastikan setiap orang memperoleh vaksin berkualitas tinggi, sama seperti yang diperoleh masyarakat AS."

Lalu, muncul COVID-19.

Pada akhir November lalu, dunia yang terpuruk akibat pandemi Corona, dibuat gembira oleh perusahaan bernama Moderna, Pfizer (asal AS) dan BioNTech (asal Jerman). Perusahaan-perusahaan tersebut mengabarkan bahwa vaksin Corona yang dikembangkan mereka memiliki efektivitas mencapai 95 persen, usai melewati uji coba fase ke-3, alias babak yang paling krusial dalam pengembangan vaksin karena langsung diuji-cobakan pada manusia. Cina, tentu, tak mau ketinggalan.

Di waktu yang hampir bersamaan dari angin segar yang dihembuskan perusahaan farmasi Barat itu, muncul empat vaksin "made in China" yang siap disuntikkan untuk menghentikan pandemi Corona, dengan dua vaksin di antaranya dikembangkan oleh BUMN Cina, China National Pharmaceutical Group alias Sinopharm, dari dua markas mereka: Beijing dan Wuhan--episentrum Corona. Vaksin ketiga lahir dari tangan CanSino Biologics, hasil kerjasama dengan tim riset militer Cina. Terakhir, tentu, buatan Sinovac.

Vaksin Corona buatan Sinovac, CoronaVac, mulai dikembangkan semenjak Corona muncul di muka Bumi. CoronaVac lalu masuk uji coba fase ke-1 pada pertengahan April, dengan 144 orang menjadi sukarelawan. Fase ke-2, dilakukan pada pertengahan Mei, melibatkan lebih dari ribuan sukarelawan, termasuk 1.620 dari Indonesia. Hasilnya, sebagaimana tertuang dalam publikasi The Lancet berjudul "Safety, Tolerability, and Immunogenicity of an Inactivated SARS-CoV-2 Vaccine in Healthy Adults Aged 18–59 Years: A Randomised, Double-blind, Placebo-controlled, Phase 1/2 Clinical Trial," CoronaVac "menimbulkan respon humoral terhadap SARS-CoV-2 yang baik dan dapat ditoleransi" serta tidak menimbulkan "reaksi parah" pada sukarelawan, atau dengan kata lain, "menjanjikan." Tak lama berselang, CoronaVac memasuki ujicoba fase ke-3.

Sayangnya, jika Moderna, Pfizer, dan BioNTech telah mempublikasikan hasil ujicoba fase ke-3, Sinovac, beserta kandidat vaksin "made in China" lainnya, belum. Namun, sebagaimana dilaporkan Lili Pike untuk Vox, Sinovac hanya baru sebatas mengklaim bahwa hasil ujicoba tahap awal fase ke-3 mereka, "bagus."

Yang menarik, meskipun sama-sama bertitel "kandidat vaksin Corona," metode yang digunakan untuk menciptakan vaksin antara perusahaan-perusahaan Barat dan Cina--termasuk Sinovac, berbeda.

Suh-Chin Wu, dalam studi berjudul "Progress and Concept for COVID-19 Vaccine Development," yang terbit pada jurnal Biotechnol edisi 2020, menyebut bahwa isolat virus SARS-CoV-2 termasuk ke dalam genus Betacoronavirus, bagian dari keluarga Coronaviradae. Isolat ini merupakan virus RNA untai, yang mengandung genom sebesar 30 kb dengan 14 open reading frames--kerangka dari molekul DNA si virus yang mengandung asam amino yang bertanggung jawab untuk menyediakan protein replikasi dan struktural untuk virus. Dalam open reading frames tersebut, terdapat empat protein utama, yakni spike (S), membrane (M), envelope (E), dan nucleocapsid (N). Secara sederhana, open reading frames ini bertanggung jawab untuk melindungi sekaligus menduplikasi virus.

Protein S adalah protein fusi transmembran yang memainkan peran penting dalam menembus inang dan memulai infeksi (pada manusia atau hewan). Tanpa protein S, SARS-CoV-2 tidak akan pernah dapat berinteraksi dengan sel inang. Maka, tulis Suh-Chin, protein S adalah target utama pengembangan vaksin.

Pada kandidat vaksin yang dikembangkan Barat, peneliti menggunakan RNA duta (messenger RNA alias mRNA)--suatu RNA (molekul polimer yang terlibat dalam berbagai peran biologis dalam mengkode, dekode, regulasi, dan ekspresi gen) yang memberikan petunjuk kepada sel (manusia atau hewan) untuk memasang pertahanan terhadap virus yang tidak ada di sana. Katakanlah, ini seperti Microsoft langsung memasangkan Windows Defender secara default, meskipun si komputer belum terserang virus. Sementara itu, vaksi yang dikembangkan Sinovac, juga perusahaan Cina lainnya, memilih mengembangkan vaksin dengan cara "inactivated Covid." Vaksin Corona dibuat secara kimiawi, menonaktifkan seluruh partikel virus, khususnya protein S. Dengan bahasa sederhana, vaksin Corona buatan Sinovac menyuntikkan versi mati dari virus Corona untuk menghasilkan kekebalan. Secara teori, vaksin semacam ini dapat menghasilkan respon antibodi yang lebih luas karena mengandung set lengkap protein virus, bukan satu protein tertentu.

Tentu, karena kandidat vaksin Corona "made in China" memilih menyuntikkan versi mati dari Corona, kekhawatiran utama adalah vaksin SARSCoV-2 yang tidak aktif dapat memicu penyakit yang lebih parah, yang dikenal sebagai “penyakit pernapasan yang ditingkatkan,” khususnya pada orang yang sebelumnya positif terkena Corona. Ini terjadi karena pada dasarnya, jika vaksin memicu antibodi yang tidak efektif, vaksin dapat membentuk kompleks imun yang menyumbat paru-paru.

Meskipun memiliki efek samping yang kurang sedap, hingga hari ini, tercatat ada empat negara yang siap menyuntikkan warganya dengan vaksin buatan Sinovac, yakni Brazil, Cile, Turki, dan Indonesia. Dan secara umum, vaksin-vaksin buatan Corona memang lebih menyasar negara-negara Asia. Resty Woro Yuniar, dalam laporannya untuk South China Morning Post, menyebut bahwa disebarkannya vaksin "made in China" ke Indonesia, dapat dilihat sebagai unjuk "soft power" Cina. Bagi Cina, tulis Resty, "memenangkan negara terbesar di Asia Tenggara dengan populasinya sebesar 270 juta akan menempatkan Cina di jalan menuju kemenangan di wilayah yang sudah menjadi pusat perjuangan antara Washington dan Beijing, yakni Laut China Selatan dan wilayah Mekong."

Bagi Cina, Indonesia merupakan titik "kunci." Sebagai kekuatan terbesar Asia Tenggara, Cina dapat menjadikannya kekuatan untuk mengajak Filipina, Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, dan Myanmar untuk turut menggunakan vaksin buatan Cina.




 

 

© 2016-2021 Madzae










Bagaimana Sinovac Menciptakan Vaksin Corona?


Pada 29 Februari 2020 lalu, hampir 2 bulan semenjak SARS-CoV-2 alias COVID-19 muncul ke dunia, Chen Wei, jenderal sekaligus pemimpin tim ilmuwan militer Cina, disuntik vaksin Corona. Kala itu, sebagaimana ditulis Jon Cohen dalam artikel berjudul "China's Vaccine Gambit," yang terbit pada Science Magazine Volume 370 (11 Desember 2020), vaksin yang disuntikkan pada tubuh Chen bukanlah vaksin ujicoba, melainkan vaksin betulan alias tindakan media sungguhan.

Masalahnya, karena di akhir Februari itu Corona belum menyebar secara massif ke seluruh dunia, semisal Pemerintah Indonesia saja baru menyatakan secara resmi adanya Corona per tanggal 1 Maret, tidak ada yang spesial dari acara pemberian vaksi Corona pada Chen. Tulis Cohen, "stasiun televisi atau media cetak bahkan tidak memberitakan kejadian bersejarah tersebut." Dan ketidak-spesialan tersebut ditambah oleh pemberitaan yang dikeluarkan People's Daily, media yang dikendalikan Partai Komunis Cina, yang menyatakan bahwa vaksin Corona yang disuntikkan pada Chen, "fake news." Meskipun Hou Li-Hua, ilmuwan militer Cina, menegaskan bahwa vaksin tersebut, "true news."

Perjalanan waktu lebih memihak pada pemberitaan People's Daily alih-alih Chen atau Hou. Vaksin Corona yang diberikan pada Chen memang hoaks. Terlebih, tutur Cohen, Amerika Serikat saja, yang disebut-sebut sebagai pusat teknologi dunia, baru mengaktifkan Operation Warp Speed, operasi berharga $10,8 miliar guna mengakselerasi penelitian untuk menemukan vaksin Corona, di saat bersamaan. Vaksin tersebut hanya dianggap sebagai upaya sebagian kalangan petinggi Cina meredam kekhawatiran sekaligus tuduhan bahwa Cina adalah biang, dalam bahasa Presiden Donald Trump, "virus Cina." Vaksin Corona pada Chen hanya propaganda.

Meskipun upaya Beijing menciptakan vaksin Corona diawali dengan hoaks, keadaan dalam negeri Tirai Bambu di dunia medis sesungguhnya sangat memungkinkan mereka menciptakan vaksin Corona sebenar-benarnya. Akhirnya, pada November kemarin, perusahaan-perusahaan farmasi Cina melakukan fase ke-3 pada lima kandidat vaksin. Dan di bulan ini, empat kandidat vaksin tersebut masuk dalam titik paling ujung pada fase tersebut. Satu di antaranya, yang dibuat oleh perusahaan bernama Sinovac Biotech, telah siap-sedia disuntikkan pada masyarakat Indonesia.

Sinovac: Virus Baru, Vaksin Cara Lama

"Pasar kesehatan Cina tengah bersiap lepas landas," tulis Sarah E. Frew dalam studinya berjudul "Chinese Healt Biotech and The Billion-Patient Market" yang terbit pada jurnal Nature Biotechnology Volume 26 Nomor 1, Januari 2008. Dalam studi tersebut, Frew menyebut bahwa industri kesehatan Cina tumbuh 30 persen saban tahun sejak 2000. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rerata pertumbuhan industri kesehatan global yang cuma 19 persen. Masalahnya, meskipun dunia kesehatan Cina meroket, jika diperhatikan mendalam, pertumbuhan hanya berkutat di segmen umum, sedangkan segmen khusus (atau biotech) semisal vaksin, antibodi, hingga obat genetik, kecil. Biotech hanya menyumbang 7,4 persen industri kesehatan Cina.

Sumbangsih biotech pada industri kesehatan Cina memang kecil. Namun, Frew menegaskan bahwa pengaruhnya cukup besar. Beijing Wantai Biological Pharmacy Enterprise dan Shanghai Huaguan Biochip, misalnya, termasuk dua dari sedikit perusahaan farmasi di dunia yang mengembangkan teknologi tes darah guna mendeteksi HIV, Hepatitis B (HBV), Hepatitis C (HCV) dan rotavirus. Dua perusahaan ini menciptakan teknologi untuk dipasarkan di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, negara-negara di mana masyarakatnya sukar menjangkau teknologi serupa dari AS maupun Eropa karena berharga terlalu mahal. Tak cuma itu, perusahaan Cina yang disokong pemerintah, semisal Shenzhen SiBiono GeneTech dan Sunway Biotech, mengembangkan teknologi terapi baru di bidang gen dan sel punca. Salah satu produknya yakni Gendicine, produk yang menginjeksi adenovirus-p53 pada manusia sebagai bagian dari pengobatan Kanker Kepala dan Leher.

Perusahaan Cina lainnya yang berkutat di segmen biotech, tak lain adalah Sinovac Biotech.

Awal mula Sinovac, tutur Frew, dapat dirujuk hingga awal dekade 1980-an. Kala itu, Cina sedang ditimpa musibah bernama Hepatitis A. Banyak warga Cina bergurguran, bahkan di kota Shanghai saja, lebih dari 300.000 jiwa jadi korban. Atas musibah ini, seorang dokter bernama Weidong Yin, kesal. Ia bukan kesal pada Hepatitis A, melainkan pada kenyataan bahwa sesungguhnya vaksin Hepatitis A telah ada, tetapi sukar dijangkau sebagian besar masyarakat Cina karena vaksin tersebut mahal. Vaksin harus didatangkan dari luar negeri dan tidak ada padanannya di dalam negeri. Atas kekesalan ini, Weidong mendirikan lembaga riset sendiri, dan semenjak 2001, atas dukungan dana dari China Bioway Biotech Group dan Peking University, Sinovac Biotech terbentuk.

Salah satu produk pertama Sinovac merupakan vaksin Hepatitis A, bernama Healive, yang diciptakan atas kerja ilmuwan-ilmuwan Cina di tahun 1999. Sinovac membanderol vaksin tersebut seharga 94 yen, setara dengan $12, atau yang paling murah dibandingkan produk sejenis. Usai merilis vaksin Hepatitis A, Sinovac merilis produk kedua bernama Bilive, vaksin untuk menyembuhkan Hepatitis A dan Hepatitis B. Pada 2006, mereka merilis Anflu, vaksin influenza.

Vaksin-vaksin yang dibuat Sinovac telah menggenggam sertifikat cGMP dari otoritas Cina. Dan sebelum 2020 muncul, mereka tengah mengembangkan vaksin untuk Ensefalitis Jepang (infeksi otak), SARS, dan H5N1.

Mengapa perusahaan farmasi yang belum genap berusia 20 tahun dapat memiliki portofolio produk yang kuat? Sederhana, Sinovac didukung oleh kekuatan riset yang cukup mumpuni. Masih merujuk studi yang dilakukan Frew, dari 260 karyawan yang dimilikinya, 80 di antaranya merupakan periset. Kerja riset yang dilakukan Sinovac didukung dana minimal 10 persen dari pendapatan mereka. Dan untuk dapat melakukan riset lebih mendalam, mereka pun memperoleh pendanaan dari banyak pihak, termasuk Pemerintah Cina yang saban tahun menyalurkan uang senilai $7 juta untuk Sinovac. Tak cuma itu, Sinovac bekerjasama dengan lembaga riset lain, termasuk Laboratory Animal Science, Chinese Academy of Medical Science, National Institute for the Control of Pharmaceutical and Biological Products, National Institute for Viral Disease Control and Prevention, National Institute for Epidemic Disease, dan Chinese Center for Disease Control and Prevention, yang kesemuanya berasal dari Cina. Di luar Cina, Sinovac bekerjasama dengan University of Hong Kong, LG Life Sciences, Glovax CV, bahkan GlaxoSmithKline, salah satu perusahaan farmasi terkemuka dunia.

Atas kerjasama riset ini, Sinovac, klaim Weidong Yin, hanya ingin menghadirkan produk berkualitas. Katanya, "saya ingin memastikan setiap orang memperoleh vaksin berkualitas tinggi, sama seperti yang diperoleh masyarakat AS."

Lalu, muncul COVID-19.

Pada akhir November lalu, dunia yang terpuruk akibat pandemi Corona, dibuat gembira oleh perusahaan bernama Moderna, Pfizer (asal AS) dan BioNTech (asal Jerman). Perusahaan-perusahaan tersebut mengabarkan bahwa vaksin Corona yang dikembangkan mereka memiliki efektivitas mencapai 95 persen, usai melewati uji coba fase ke-3, alias babak yang paling krusial dalam pengembangan vaksin karena langsung diuji-cobakan pada manusia. Cina, tentu, tak mau ketinggalan.

Di waktu yang hampir bersamaan dari angin segar yang dihembuskan perusahaan farmasi Barat itu, muncul empat vaksin "made in China" yang siap disuntikkan untuk menghentikan pandemi Corona, dengan dua vaksin di antaranya dikembangkan oleh BUMN Cina, China National Pharmaceutical Group alias Sinopharm, dari dua markas mereka: Beijing dan Wuhan--episentrum Corona. Vaksin ketiga lahir dari tangan CanSino Biologics, hasil kerjasama dengan tim riset militer Cina. Terakhir, tentu, buatan Sinovac.

Vaksin Corona buatan Sinovac, CoronaVac, mulai dikembangkan semenjak Corona muncul di muka Bumi. CoronaVac lalu masuk uji coba fase ke-1 pada pertengahan April, dengan 144 orang menjadi sukarelawan. Fase ke-2, dilakukan pada pertengahan Mei, melibatkan lebih dari ribuan sukarelawan, termasuk 1.620 dari Indonesia. Hasilnya, sebagaimana tertuang dalam publikasi The Lancet berjudul "Safety, Tolerability, and Immunogenicity of an Inactivated SARS-CoV-2 Vaccine in Healthy Adults Aged 18–59 Years: A Randomised, Double-blind, Placebo-controlled, Phase 1/2 Clinical Trial," CoronaVac "menimbulkan respon humoral terhadap SARS-CoV-2 yang baik dan dapat ditoleransi" serta tidak menimbulkan "reaksi parah" pada sukarelawan, atau dengan kata lain, "menjanjikan." Tak lama berselang, CoronaVac memasuki ujicoba fase ke-3.

Sayangnya, jika Moderna, Pfizer, dan BioNTech telah mempublikasikan hasil ujicoba fase ke-3, Sinovac, beserta kandidat vaksin "made in China" lainnya, belum. Namun, sebagaimana dilaporkan Lili Pike untuk Vox, Sinovac hanya baru sebatas mengklaim bahwa hasil ujicoba tahap awal fase ke-3 mereka, "bagus."

Yang menarik, meskipun sama-sama bertitel "kandidat vaksin Corona," metode yang digunakan untuk menciptakan vaksin antara perusahaan-perusahaan Barat dan Cina--termasuk Sinovac, berbeda.

Suh-Chin Wu, dalam studi berjudul "Progress and Concept for COVID-19 Vaccine Development," yang terbit pada jurnal Biotechnol edisi 2020, menyebut bahwa isolat virus SARS-CoV-2 termasuk ke dalam genus Betacoronavirus, bagian dari keluarga Coronaviradae. Isolat ini merupakan virus RNA untai, yang mengandung genom sebesar 30 kb dengan 14 open reading frames--kerangka dari molekul DNA si virus yang mengandung asam amino yang bertanggung jawab untuk menyediakan protein replikasi dan struktural untuk virus. Dalam open reading frames tersebut, terdapat empat protein utama, yakni spike (S), membrane (M), envelope (E), dan nucleocapsid (N). Secara sederhana, open reading frames ini bertanggung jawab untuk melindungi sekaligus menduplikasi virus.

Protein S adalah protein fusi transmembran yang memainkan peran penting dalam menembus inang dan memulai infeksi (pada manusia atau hewan). Tanpa protein S, SARS-CoV-2 tidak akan pernah dapat berinteraksi dengan sel inang. Maka, tulis Suh-Chin, protein S adalah target utama pengembangan vaksin.

Pada kandidat vaksin yang dikembangkan Barat, peneliti menggunakan RNA duta (messenger RNA alias mRNA)--suatu RNA (molekul polimer yang terlibat dalam berbagai peran biologis dalam mengkode, dekode, regulasi, dan ekspresi gen) yang memberikan petunjuk kepada sel (manusia atau hewan) untuk memasang pertahanan terhadap virus yang tidak ada di sana. Katakanlah, ini seperti Microsoft langsung memasangkan Windows Defender secara default, meskipun si komputer belum terserang virus. Sementara itu, vaksi yang dikembangkan Sinovac, juga perusahaan Cina lainnya, memilih mengembangkan vaksin dengan cara "inactivated Covid." Vaksin Corona dibuat secara kimiawi, menonaktifkan seluruh partikel virus, khususnya protein S. Dengan bahasa sederhana, vaksin Corona buatan Sinovac menyuntikkan versi mati dari virus Corona untuk menghasilkan kekebalan. Secara teori, vaksin semacam ini dapat menghasilkan respon antibodi yang lebih luas karena mengandung set lengkap protein virus, bukan satu protein tertentu.

Tentu, karena kandidat vaksin Corona "made in China" memilih menyuntikkan versi mati dari Corona, kekhawatiran utama adalah vaksin SARSCoV-2 yang tidak aktif dapat memicu penyakit yang lebih parah, yang dikenal sebagai “penyakit pernapasan yang ditingkatkan,” khususnya pada orang yang sebelumnya positif terkena Corona. Ini terjadi karena pada dasarnya, jika vaksin memicu antibodi yang tidak efektif, vaksin dapat membentuk kompleks imun yang menyumbat paru-paru.

Meskipun memiliki efek samping yang kurang sedap, hingga hari ini, tercatat ada empat negara yang siap menyuntikkan warganya dengan vaksin buatan Sinovac, yakni Brazil, Cile, Turki, dan Indonesia. Dan secara umum, vaksin-vaksin buatan Corona memang lebih menyasar negara-negara Asia. Resty Woro Yuniar, dalam laporannya untuk South China Morning Post, menyebut bahwa disebarkannya vaksin "made in China" ke Indonesia, dapat dilihat sebagai unjuk "soft power" Cina. Bagi Cina, tulis Resty, "memenangkan negara terbesar di Asia Tenggara dengan populasinya sebesar 270 juta akan menempatkan Cina di jalan menuju kemenangan di wilayah yang sudah menjadi pusat perjuangan antara Washington dan Beijing, yakni Laut China Selatan dan wilayah Mekong."

Bagi Cina, Indonesia merupakan titik "kunci." Sebagai kekuatan terbesar Asia Tenggara, Cina dapat menjadikannya kekuatan untuk mengajak Filipina, Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, dan Myanmar untuk turut menggunakan vaksin buatan Cina.


 

 

© 2016-2021 Madzae