9 Juli 2021

Sperma dan Masalah Kesuburan yang Selalu Terlupa

Oleh: Ahmad Zaenudin


"Bukanlah sesuatu yang aneh menerima kenyataan bahwa manusia acap kali bersikap meremehkan, tak terkecuali pada masalah kesuburan," buka Shanna H. Swan dalam bukunya berjudul Count Down: How Our Modern World Is Threatening Sperm Counts, Altering Male and Female Reproductive Development, and Imperiling the Future of the Human Race (2021).

Menurut penelitian yang dilakukan (dan dituturkan dalam buku tersebut) Swan, profesor di bidang kesehatan masyarakat pada Mount Sinai Hospital, New York, Amerika Serikat, menyebut bahwa jumlah sperma dan kadar testosteron pada tubuh pria telah menurun drastis dalam empat dekade terakhir. Padahal, dalam tataran hidup, "sperma menjadi salah satu komoditas paling berharga atas fungsinya melahirkan generasi baru" dan Antoni van Leeuwenhoek, pedagang asal Belanda yang pertama kali memeriksa sperma melalui microskop miliknya pada 1677, menyebut bahwa sperma merupakan "animalcules" atau "binatang kecil" yang berenang dalam cairan lendir untuk bersiap menjadi manusia.

Pada tubuh pria sehat dan subur, tubuh menghasilkan sperma dalam siklus 16 hari sekali. Dalam rentang siklus tersebut, testis menghasilkan 200 juta hingga 300 juta sel sperma (sperm cells) tiap hari. Sel sperma terdiri dari kepala mirip torpedol yang mengandung DNA, bagian tengah yang dipenuhi dengan mitokondria penghasil energi, dan ekor yang relatif panjang yang mendorong sperma ke depan. Setiap sell sperma memiliki ukurang sangat kecil--kira-kira panjangnya 0,05 milimeter atau 0,002 inci. Dan hanya 50 persen di antaranya yang menjadi kandidat sperma (viable sperm). Dari sperma yang dihasilkan tersebut, butuh waktu antara 65 hingga 75 hari baginya untuk menjadi matang/dewasa (mature sperm). Sperma dewasa menyerupai kecebong mikroskopis, yang memiliki kepala berlapis enzim, ekor, dan bagian ekor yang lebih tipis, yang disebut potongan ujung (end piece).

Tak lama setelah menjadi dewasa, sperma meninggalkan tubulus (tabung silinder berongga dan berukuran kecil yang membantu dalam pembentukan urin tanpa mempengaruhi keseimbangan elektrolit tubuh) dan memasuki epididimis (organ tubular melingkar yang menempel pada testis). Dalam epididimis, sperma belajar "berenang" dan menyesuaikan gerakan mereka. Dan di tahap inilah sperma siap diejakulasi menuju vagina atau, mengutip Swan, "sak karepmu!."

Rata-rata, setiap kali ejakulasi, pria mengeluarkan dua hingga enam milimeter--sekitar satu sendok teh--semen yang mengandung hingga 100 juta sperma. Dan jika sperma tidak dikeluarkan dari tubuh, sperma tersebut akan mati dan diserap kembali oleh tubuh.

Menurut ketetapan yang diberlakukan World Health Organization (WHO), sperma normal memiliki konsentrasi dari 15 juta hingga lebih dari 200 juta sperma per milimeter semen. Kurang dari 15 juta/milimeter semen, WHO menganggapnya "rendah," tidak subur, atau sangat sulit diandalkan untuk menghasilkan keturunan. Di sisi lain, menurut pendapat yang umum yang diterima para ahli, indikator "rendah" sebetulnya berada di angka 40 juta/milimeter semen. Tentu, dapat atau tidaknya sperma diandalkan untuk menghasilkan keturunan atau tidak subur bukan semata soal jumlah, tetapi juga kualitas. Secara umum, kualitas sperma ditentukan oleh vitalitas (persentasi sperma yang hidup), motilitas (kemampuan seperma untuk berenang dan bergerak), serta morfologi (ukuran dan bentuk sperma). Dan untuk menentukan apakah sperma dapat diandalkan atau tidak, dunia kedokteran menggunakan standar "big three," yakni konsentrasi, motilitas, dan morfologi.

Pada 1973, dari penelitian yang dilakukan Swan, rata-rata pria di negara-negara Eropa memiliki konsentrasi sperma sebesar 99 juta/milimeter semen. Namun, pada 2011, konsentrasinya menurun, menjadi 47,1 juta/milimeter semen, dan kian menurun hingga hari ini. Dan dalam penelitian soal kualitas sperma pada 1.500 pria di Eropa menggunakan indikator konsentrasi, motilitas, dan morfologi, "sedikit lebih dari separuh di antaranya subur dan sedikit kurang dari separuh di antaranya tidak subur." Masalahnya, ketika salah satu indikator berada dalam kisaran tidak subur, pria dua kali lebih mungkin menjadi tidak subur dibandingkan pria dengan tidak satu pun dari indikator ini dalam kisaran tidak subur; ketika salah satu dari indikator berada dalam kisaran tidak subur, pria enam kali lebih mungkin menjadi tidak subur; dan ketika ketiga indikator itu berada dalam kisaran tidak subur, peluangnya untuk menjadi tidak subur menjadi dua belas kali lebih tinggi.

Konsentrasi dan kualitas sperma yang kian menurun, sebut Swan, "terjadi karena pola hidup yang tak sehat seperti merokok, minum minuman keras, dan bedagang serta paparan terus-menerus terdahap zat-zat berbahaya." Sialnya, zat-zat berbahaya yang dimaksud Swan adalah plastik, yang kini ada di mana-mana.

Plastik, entah berbentuk bisphenol A (BPA), polyvinyl chloride (PVC) atau lainnya--yang digunakan dalam berbagai hal, termasuk mainan, material, dan bungkus makanan--mengandung zat yang dapat merusak endoktrin tubuh atau hormon alias endoctrine-disrupting-chemical (EDC). Padahal, hormon merupakan substansi kimia dalam tubuh manusia yang berfungsi bagaikan pengirim pesan untuk mengatur bagaimana sel dan organ tertentu memenuhi fungsinya. Tatkala EDC masuk dalam tubuh, ia membajak hormon, membuat hormon tak bekerja sebagaimana mestinya, termasuk memblokir testis untuk menghasilkan sel sperma. tak ketinggalan, EDC pun dapat menganggu kerja otak, membuat otak, yang sesungguhnya merupakan alat seksual paling utama bagi manusia, tidak menginginkan seks.

Tentu, masalah keturunan bukan hanya perkara pria semata. Robin Baker, dalam bukunya berjudul Sperm Wars: Infidelity, Sexual Conflict, and Other Bedroom Battles (1996), menyebut bahwa wanita juga memerankan peran penting guna menghasilkan keturunan. Tatkala sperma masuk ke tubuh wanita, tubuh wanita menjaga sperma untuk tetap subur tidak lebih dari lima hari setelah disimpan di dalam dirinya. Lalu, sperma membutuhkan sekitar dua hari di dalam tubuh wanita untuk mencapai puncak kesuburan. Masalahnya, wanita hanya menghasilkan satu sel telur per siklus menstruasi, tetapi sel telur ini mati dalam satu hari setelah diproduksi oleh ovariumnya. Artinya, agar seorang pria memiliki kesempatan untuk membuahi seorang wanita, pria harus membuahi wanita setidaknya sekali sebelum lima hingga dua hari wanita mulai berovulasi, proses yang terjadi dalam siklus menstruasi wanita.

Di sisi lain, siklus menstruasi wanita tak dapat ditebak. Siklus menstruasi yang dapat diprediksi, jarang terjadi dan hanya kadang-kadang seorang wanita berovulasi pada hari ke-14. Tak ketinggalan, wanita pun terpapar dengan endoctrine-disrupting-chemical, yang terutama dihasilkan melalui kosmetik yang mereka kenakan.

Dengan keadaan yang ada dalam tubuh manusia ini, pada 2050 mendatang mayoritas pasangan diprediksi harus menggunakan teknologi untuk memperoleh keturunan.

Sayangnya, masalah keturunan bukan semata tentang hal-hal biologis dalam tubuh semata. Adzmel Mahmud, dalam studinya berjudul "Socio-economi Correlates of Fertility in Peninsular Malaysia" (University of Malaya, 2009), menyebut bahwa rasio kesuburan total (total fertility rate, TFR) di Semenjung Malaysia (termasuk negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur) turun dari 6,8 anak per wanita pada 1957 menjadi 3,0 anak per wanita pada 2000. Bryant Robey, dalam "The Fertility Decline in Developing Countries" (Scientific American, Desember 1993), mengungkap fakta serupa, menyebut bahwa TFR memang menurun drastis di negara-negara berkembang sejak dekade 1970-an lalu. Di Thailand, misalnya, TFR menurun hingga 50 persen, dari 4,6 anak per wanita pada 1975 menjadi 2,3 anak per wanita pada 1987. Di Indonesia, TFR menurun di kisaran 46 persen, pada rentang 1971 hingga 1991. Dan menurut John Bongaarts dalam "Fertility Decline in the Developed World: Where Will It End?" (American Economic Review Vol, 89, 1999), TFR yang menurun tak hanya dialami negara berkembang, juga negara maju. Semenjak dekade 1960-an, TFR di Eropa, Amerika Utara, dan Australia berada di angka 1,7 anak per wanita, turun dari 2,8 anak per wanita di dekade sebelumnya.

Adzmel, Robey, dan Bongaarts sepakat bahwa penurunan TFR di hampir semua negara di dunia terjadi karena perubahan sosial budaya masyarakat. Pria dan wanita kini berlomba-lomba mengejar pendidikan tinggi, juga status yang mantap dalam karir pekerjaan. Akibatnya, usia nikah semaking tinggi, membuat pria dan wanita berada dalam masa kesuburannya yang singkat. Tak ketinggalan, di negara-negara Eropa Timur atau wilayah konflik, hijrah ke tempat yang lebih aman nan menjanjikan jauh lebih penting dibandingkan menghasilkan keturunan. Terakhir, karena biaya hidup yang semakin meningkat, pasangan mulai lebih hati-hati soal keturunan.

Dengan segala problematikan ini, usai mencapai titik lebih dari 7 miliar populasi, manusia perlahan undur diri dari bumi.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



9 Juli 2021

Sperma dan Masalah Kesuburan yang Selalu Terlupa

Oleh: Ahmad Zaenudin


"Bukanlah sesuatu yang aneh menerima kenyataan bahwa manusia acap kali bersikap meremehkan, tak terkecuali pada masalah kesuburan," buka Shanna H. Swan dalam bukunya berjudul Count Down: How Our Modern World Is Threatening Sperm Counts, Altering Male and Female Reproductive Development, and Imperiling the Future of the Human Race (2021).

Menurut penelitian yang dilakukan (dan dituturkan dalam buku tersebut) Swan, profesor di bidang kesehatan masyarakat pada Mount Sinai Hospital, New York, Amerika Serikat, menyebut bahwa jumlah sperma dan kadar testosteron pada tubuh pria telah menurun drastis dalam empat dekade terakhir. Padahal, dalam tataran hidup, "sperma menjadi salah satu komoditas paling berharga atas fungsinya melahirkan generasi baru" dan Antoni van Leeuwenhoek, pedagang asal Belanda yang pertama kali memeriksa sperma melalui microskop miliknya pada 1677, menyebut bahwa sperma merupakan "animalcules" atau "binatang kecil" yang berenang dalam cairan lendir untuk bersiap menjadi manusia.

Pada tubuh pria sehat dan subur, tubuh menghasilkan sperma dalam siklus 16 hari sekali. Dalam rentang siklus tersebut, testis menghasilkan 200 juta hingga 300 juta sel sperma (sperm cells) tiap hari. Sel sperma terdiri dari kepala mirip torpedol yang mengandung DNA, bagian tengah yang dipenuhi dengan mitokondria penghasil energi, dan ekor yang relatif panjang yang mendorong sperma ke depan. Setiap sell sperma memiliki ukurang sangat kecil--kira-kira panjangnya 0,05 milimeter atau 0,002 inci. Dan hanya 50 persen di antaranya yang menjadi kandidat sperma (viable sperm). Dari sperma yang dihasilkan tersebut, butuh waktu antara 65 hingga 75 hari baginya untuk menjadi matang/dewasa (mature sperm). Sperma dewasa menyerupai kecebong mikroskopis, yang memiliki kepala berlapis enzim, ekor, dan bagian ekor yang lebih tipis, yang disebut potongan ujung (end piece).

Tak lama setelah menjadi dewasa, sperma meninggalkan tubulus (tabung silinder berongga dan berukuran kecil yang membantu dalam pembentukan urin tanpa mempengaruhi keseimbangan elektrolit tubuh) dan memasuki epididimis (organ tubular melingkar yang menempel pada testis). Dalam epididimis, sperma belajar "berenang" dan menyesuaikan gerakan mereka. Dan di tahap inilah sperma siap diejakulasi menuju vagina atau, mengutip Swan, "sak karepmu!."

Rata-rata, setiap kali ejakulasi, pria mengeluarkan dua hingga enam milimeter--sekitar satu sendok teh--semen yang mengandung hingga 100 juta sperma. Dan jika sperma tidak dikeluarkan dari tubuh, sperma tersebut akan mati dan diserap kembali oleh tubuh.

Menurut ketetapan yang diberlakukan World Health Organization (WHO), sperma normal memiliki konsentrasi dari 15 juta hingga lebih dari 200 juta sperma per milimeter semen. Kurang dari 15 juta/milimeter semen, WHO menganggapnya "rendah," tidak subur, atau sangat sulit diandalkan untuk menghasilkan keturunan. Di sisi lain, menurut pendapat yang umum yang diterima para ahli, indikator "rendah" sebetulnya berada di angka 40 juta/milimeter semen. Tentu, dapat atau tidaknya sperma diandalkan untuk menghasilkan keturunan atau tidak subur bukan semata soal jumlah, tetapi juga kualitas. Secara umum, kualitas sperma ditentukan oleh vitalitas (persentasi sperma yang hidup), motilitas (kemampuan seperma untuk berenang dan bergerak), serta morfologi (ukuran dan bentuk sperma). Dan untuk menentukan apakah sperma dapat diandalkan atau tidak, dunia kedokteran menggunakan standar "big three," yakni konsentrasi, motilitas, dan morfologi.

Pada 1973, dari penelitian yang dilakukan Swan, rata-rata pria di negara-negara Eropa memiliki konsentrasi sperma sebesar 99 juta/milimeter semen. Namun, pada 2011, konsentrasinya menurun, menjadi 47,1 juta/milimeter semen, dan kian menurun hingga hari ini. Dan dalam penelitian soal kualitas sperma pada 1.500 pria di Eropa menggunakan indikator konsentrasi, motilitas, dan morfologi, "sedikit lebih dari separuh di antaranya subur dan sedikit kurang dari separuh di antaranya tidak subur." Masalahnya, ketika salah satu indikator berada dalam kisaran tidak subur, pria dua kali lebih mungkin menjadi tidak subur dibandingkan pria dengan tidak satu pun dari indikator ini dalam kisaran tidak subur; ketika salah satu dari indikator berada dalam kisaran tidak subur, pria enam kali lebih mungkin menjadi tidak subur; dan ketika ketiga indikator itu berada dalam kisaran tidak subur, peluangnya untuk menjadi tidak subur menjadi dua belas kali lebih tinggi.

Konsentrasi dan kualitas sperma yang kian menurun, sebut Swan, "terjadi karena pola hidup yang tak sehat seperti merokok, minum minuman keras, dan bedagang serta paparan terus-menerus terdahap zat-zat berbahaya." Sialnya, zat-zat berbahaya yang dimaksud Swan adalah plastik, yang kini ada di mana-mana.

Plastik, entah berbentuk bisphenol A (BPA), polyvinyl chloride (PVC) atau lainnya--yang digunakan dalam berbagai hal, termasuk mainan, material, dan bungkus makanan--mengandung zat yang dapat merusak endoktrin tubuh atau hormon alias endoctrine-disrupting-chemical (EDC). Padahal, hormon merupakan substansi kimia dalam tubuh manusia yang berfungsi bagaikan pengirim pesan untuk mengatur bagaimana sel dan organ tertentu memenuhi fungsinya. Tatkala EDC masuk dalam tubuh, ia membajak hormon, membuat hormon tak bekerja sebagaimana mestinya, termasuk memblokir testis untuk menghasilkan sel sperma. tak ketinggalan, EDC pun dapat menganggu kerja otak, membuat otak, yang sesungguhnya merupakan alat seksual paling utama bagi manusia, tidak menginginkan seks.

Tentu, masalah keturunan bukan hanya perkara pria semata. Robin Baker, dalam bukunya berjudul Sperm Wars: Infidelity, Sexual Conflict, and Other Bedroom Battles (1996), menyebut bahwa wanita juga memerankan peran penting guna menghasilkan keturunan. Tatkala sperma masuk ke tubuh wanita, tubuh wanita menjaga sperma untuk tetap subur tidak lebih dari lima hari setelah disimpan di dalam dirinya. Lalu, sperma membutuhkan sekitar dua hari di dalam tubuh wanita untuk mencapai puncak kesuburan. Masalahnya, wanita hanya menghasilkan satu sel telur per siklus menstruasi, tetapi sel telur ini mati dalam satu hari setelah diproduksi oleh ovariumnya. Artinya, agar seorang pria memiliki kesempatan untuk membuahi seorang wanita, pria harus membuahi wanita setidaknya sekali sebelum lima hingga dua hari wanita mulai berovulasi, proses yang terjadi dalam siklus menstruasi wanita.

Di sisi lain, siklus menstruasi wanita tak dapat ditebak. Siklus menstruasi yang dapat diprediksi, jarang terjadi dan hanya kadang-kadang seorang wanita berovulasi pada hari ke-14. Tak ketinggalan, wanita pun terpapar dengan endoctrine-disrupting-chemical, yang terutama dihasilkan melalui kosmetik yang mereka kenakan.

Dengan keadaan yang ada dalam tubuh manusia ini, pada 2050 mendatang mayoritas pasangan diprediksi harus menggunakan teknologi untuk memperoleh keturunan.

Sayangnya, masalah keturunan bukan semata tentang hal-hal biologis dalam tubuh semata. Adzmel Mahmud, dalam studinya berjudul "Socio-economi Correlates of Fertility in Peninsular Malaysia" (University of Malaya, 2009), menyebut bahwa rasio kesuburan total (total fertility rate, TFR) di Semenjung Malaysia (termasuk negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur) turun dari 6,8 anak per wanita pada 1957 menjadi 3,0 anak per wanita pada 2000. Bryant Robey, dalam "The Fertility Decline in Developing Countries" (Scientific American, Desember 1993), mengungkap fakta serupa, menyebut bahwa TFR memang menurun drastis di negara-negara berkembang sejak dekade 1970-an lalu. Di Thailand, misalnya, TFR menurun hingga 50 persen, dari 4,6 anak per wanita pada 1975 menjadi 2,3 anak per wanita pada 1987. Di Indonesia, TFR menurun di kisaran 46 persen, pada rentang 1971 hingga 1991. Dan menurut John Bongaarts dalam "Fertility Decline in the Developed World: Where Will It End?" (American Economic Review Vol, 89, 1999), TFR yang menurun tak hanya dialami negara berkembang, juga negara maju. Semenjak dekade 1960-an, TFR di Eropa, Amerika Utara, dan Australia berada di angka 1,7 anak per wanita, turun dari 2,8 anak per wanita di dekade sebelumnya.

Adzmel, Robey, dan Bongaarts sepakat bahwa penurunan TFR di hampir semua negara di dunia terjadi karena perubahan sosial budaya masyarakat. Pria dan wanita kini berlomba-lomba mengejar pendidikan tinggi, juga status yang mantap dalam karir pekerjaan. Akibatnya, usia nikah semaking tinggi, membuat pria dan wanita berada dalam masa kesuburannya yang singkat. Tak ketinggalan, di negara-negara Eropa Timur atau wilayah konflik, hijrah ke tempat yang lebih aman nan menjanjikan jauh lebih penting dibandingkan menghasilkan keturunan. Terakhir, karena biaya hidup yang semakin meningkat, pasangan mulai lebih hati-hati soal keturunan.

Dengan segala problematikan ini, usai mencapai titik lebih dari 7 miliar populasi, manusia perlahan undur diri dari bumi.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play