9 Juli 2021

Samsung: Kisah Tentang Kedekatan Negara dan Teknologi

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 1979, melalui karyanya berjudul "Japan as Number One: Lessons for America," sosiolog Ezra Vogel menyebut bahwa Jepang, bukan Barat, akan menjadi pemimpin dunia di masa depan gara-gara perkembangan teknologinya yang begitu dahsyat. Usai Perang Dunia II, diwakili oleh Sony, Toyota, Toshiba, Honda, Sharp, Panasonic, hingga Mitsubishi, Jepang perlahan menjadi negara yang menguasai pelbagai perangkat berbasis teknologi yang digunakan masyarakat dunia kala itu, mulai dari televisi hingga kendaraan bermotor. Pikir Vogel, hanya waktu saja yang memisahkan Jepang dengan kedigdayaan tak terbantahkan di dunia, mengungguli Amerika Serikat atau negara-negara Barat manapun.

Sayangnya, lebih dari empat dekade usai buku yang ditulis Vogel terbit, waktu yang memisahkan Jepang dengan kejayaan mutlaknya tak kunjung berakhir. Diprediksi menjadi menjadi penguasa dunia gara-gara teknologinya, teknologi Jepang kini kian tertinggal. Di bidang televisi, misalnya, kekuatan Jepang menguasai "kotak ajaib" luntur manakala Panasonic, Mitsubishi, dan Hitachi menyatakan undur diri dalam penciptaan teknologi ini sejak awal 2010-an lalu. Yang lebih menohok, perusahaan asal Taiwan bernama Hon Hai kini menjadi pemegang saham mayoritas Sharp, dan karenanya, Sharp memproduksi televisi (dan panel LCD) hanya untuk Hon Hai.

Di bidang teknologi lain, kekuatan Jepang pudar pula karena Sony, yang sempat menjadi raja segala bidang perangkat elektronik, kian melempem ditelan zaman dengan hanya menyisakan PlayStation sebagai keunggulan. Dan Toyota, si raja empat roda, tergerus Tesla dalam perlombaan menciptakan mobil elektrik. Bahkan, Nikkei Business Publication, yang membongkar (teardown) Tesla Model 3 dan memeriksa modul central control unit alias Hardware 3--semacam System-on-Chip (SoC) pada ponsel--menyebut bahwa teknologi Toyota tertinggal enam tahun dibandingkan Tesla.

Maka, dengan kian pudarnya kekuatan Jepang di dunia teknologi, waktu yang memisahkan Jepang dengan kejayaan mutlaknya, sangat mungkin tak akan pernah berakhir. Yang menarik, ada satu negara yang mencuat yang sangat mungkin menggantikan posisi Jepang menjadi pemimpin dunia di masa depan gara-gara teknologinya. Tak lain, negeri itu adalah Korea Selatan.

Dari Negara ke Swasta

Dalam studi berjudul "Science, Technology, and the Imaginaries of Development in South Korea" (Development and Society Journal Vol. 46 2017), Kim Sang-hyun, peneliti pada Hanyang University, Seoul, Korea Selatan, menyebut bahwa pertama kalinya sains dan teknologi diperbincangan dalam lingkup kekuasaan Korea terjadi pada akhir abad ke-19. Kala itu, di bawah kekuasaan Dinasti Joseon, Korea menganggap sains dan teknologi ala Barat sebagai "pengetahuan barbar," bukan "kunci kemasyarakatan yang unggul." Ini terjadi karena melalui sains dan teknologinya, Barat melakukan tindakan-tindakan tak terpuji, semisal penjajahan dan perdagangan paksa. Bagi Korea, yang saat itu dipimpin Heungseon Daewongun (Pangeran Gung), sains dan teknologi ala Barat tak sesuai dengan prinsip-prinsip Konfusianisme, dan karenanya, Korea enggan mengadopsi sains dan teknologi Barat untuk kepentingannya.

Sayangnya, di tengah zaman "wijongchoksa" atau krisis kepercayaan masyarakat terhadap Dinasti Joseon, keengganan Korea mengadopsi sains dan teknologi ala Barat ditentang banyak pihak, terutama kalangan intelektual. Terlebih usai Barat berhasil memaksa Korea membuka diri untuk perdagangan pada 1876, para penentang berpendapat bahwa sains dan teknologi ala Barat terbukti membuat negara yang menganutnya unggul serta mampu digunakan sebagai alat pertahanan negara. Tak ketinggalan, para penentang pun terkesan dengan kesuksesan Jepang memperkuat dirinya melalui Restorasi Meiji, yang salah satu kuncinya dilakukan dengan pengadopsian sains dan teknologi ala Barat. Maka, bagi para penentang, pengadopsian sains dan teknologi Barat wajib dilakukan guna membuat Korea dipandang dunia.

Akhirnya, sejak awal abad ke-20 Korea mengadopsi sains dan teknologi ala Barat sebagai bagian dari "tongdosogi" alias "pembangunan nasional" yang dipercaya dapat mendorong terwujudnya "pencerahan nyata." Kembali merujuk Sang-hyun, "pencerahan nyata" yang dimaksud merupakan upaya Korea untuk menghindarkan diri dari penjajahan. Ini terjadi karena, merujuk editorial koran Tongailbo yang terbit di suatu hari pada 1921, Korea tengah berada di zaman "hukum persaingan besi" di mana yang kuat mengeplorasi yang lemah. Tanpa cepat-cepat mengadopsi sains dan teknologi ala Barat, Korea akan berada di posisi lemah dan karenanya penerapan sains dan teknologi Barat tak bisa dihindarkan, khususnya untuk memperkuat militer.

Meskipun sains dan teknologi ala Barat telah diterapkan sejak awal abad ke-20, sebagaimana dipaparkan Walter Arnold dalam studinya berjudul "Science and Technology Development in Taiwan and South Korea" (Asian Survey Vol. 28 1988), pembangunan sains dan teknologi ala Barat yang dilakukan Korea Selatan baru benar-benar dilaksanakan pada dekade 1960-an. Ini terjadi karena usai Dinasti Joseon lengser, Jepang mengokupasi Korea dan dilanjutkan dengan konflik tak berkesudahan dengan sudaranya, Korea Utara. Pada dekade 1960-an itu, pembangunan sains dan teknologi sepenuhnya dipelopori oleh negara, yang diterjemahkan melalui pembangunan infrastruktur industri berbasis teknologi. Tentu, pembangunan industri berbasis teknologi oleh Korea Selatan dibantu asing, khususnya AS, Eropa, dan Jepang. Dan karenanya, banyak warga asing bekerja di Korea Selatan. Namun, dari warga asing inilah, rakyat Korea Selatan belajar tentang sains dan teknologi.

Di sisi lain, untuk mempercepat transfer pengetahuan, Korea Selatan menerapkan Technology Promotion Law, yakni suatu produk hukum yang bertujuan mewajibkan terjadinya proses alih-teknologi dari asing ke warga lokal. Dan di akhir dekade tersebut, Korea Selatan pun membentuk Kementerian Sains dan Teknologi dan, dibantu dana dari US Agency for International Development (USAID) serta bimbingan US National Academy of Science, Korea Institute of Science and Technology dan Korea Advanced Institute of Science didirikan.

Usai membangun infrastruktur sains dan teknologi yang sepenuhnya dilakukan oleh negara, Korea Selatan melangkah lebih jauh pada dekade 1970-an. Kembali merujuk karya akademik Arnold, Korea Selatan kemudian mewajibkan perusahaan-perusahaan lokal untuk membangun pusat riset sains dan teknologi dengan iming-iming insentif pajak (keringanan pajak). Setidaknya, bagi perusahaan besar, Korea Selatan menginginkan satu pusat riset dibentuk. Dan bagi perusahaan kelas kecil-medium, Korea Selatan mewajibkan mereka bekerjasama dengan perusahaan setipe untuk membangun pusat risetnya dalam bentuk konsorsium. Maka, atas kewajiban ini, sejak dekade 1970-an hingga awal 1980-an, tercipta 129 institusi riset swasta dan 18 konsorsium riset di Korea Selatan.

Secara umum, dari apa yang dilakukan negara atas pembangunan sains dan teknologi, terjadi pergeseran roda penggerak, yakni dari negara ke swasta. Dan yang menarik, atas perubahan roda penggerak inilah, muncul perusahaan swasta yang amat raksasa di Korea Selatan. Tak lain, perusahaan itu adalah Samsung.

Republik Samsung

Pada 1936, seorang pemuda bernama Lee Byung-chul memperoleh pencerahan. Kala itu, di suatu malam di kala ia berusia 26 tahun, Byung-chul terhanyut dalam sebuah mimpi yang menampakkan anaknya tenggelam dalam lautan. Bagi Byung-chul, di tengah kenyataan bahwa negerinya, Korea Selatan, tengah menghadapi nasib buruk karena dijajah Jepang, mimpi buruk tentang anaknya itu sangat mungkin menjadi kenyataan.

"Aku telah menyia-nyiakan waktuku," pikir Byung-chul tatkala terbangun dari mimpi buruknya. "Sekarang, aku nampaknya harus menetapkan tujuan hidup."

Terlahir dari keluarga yang cukup terpandang, yang menjadikannya berhasil mengenyam pendidikan di Waseda University, Tokyo, Jepang, Byung-chul menetapkan diri untuk berbisnis sebagai tujuan hidupnya. Tak lama usai mimpi buruk itu terjadi, ia lalu mendirikan perusahaan perdagangan beras. Sayangnya, karena berbisnis merupakan hal baru baginya, setahun kemudian atau tepat pada 1937, tujuan hidupnya tersebut mengalami kebangkrutan. Namun, tak ingin hanyut dalam kesedihan atas kegagalan usahanya, Byung-chul memilih berlibur dengan pergi ke Cina untuk menenangkan diri. Tak disangka, di negeri yang sama-sama tengah dihantam Jepang itu, ia tersadar bahwa bisnis sayur mayur dan bahan pangan mentah tengah menggeliat di Cina. Maka, sebagaimana ditulis Geoffrey Cain dalam bukunya berjudul Samsung Rising: The Inside Story of the South Korean Giant That Set Out to Beat Apple and Conquer Tech (2020), Byung-chul memutuskan untuk mendirikan usaha kecil-kecilan yang bergerak di bidang pengeksporan sayuran dan ikan kering dari Korea Selatan ke Cina pada Maret 1938. Usaha itu, yang diterjemahkannya dalam bentuk toko kecil yang berlokasi di Daegu, ia namai Samsung Sanghoe alias "Toko Bintang Tiga."

"'Sam' dalam 'Samsung'," kata Byung-chul, "merupakan simbol dari sesuatu yang besar, banyak, dan kuat." Sementara itu, ia menuturkan lebih lanjut, "'Sung' berarti bintang yang amat terang, yang mengangkasa sangat tinggi di langit." Maka, dalam benak Byung-chul, Samsung merupakan nama yang dapat diterjemahkan sebagai "sesuatu yang besar, kuat, dan bersinar selamanya."

Yang menarik, makna "Samsung" yang dipaparkan Byung-chul tersebut sangat mirip dengan makna perusahaan Jepang bernama Mitsubishi alias " Si Tiga Berlian." Merujuk apa yang ditulis Cain, makna yang identik dari "Samsung" dan "Mitsubishi" terjadi kerena Byung-chul, ditempa oleh institusi pendidikan Jepang, sangat kagum dengan negeri Matahari Terbit tersebut. Secara khusus, Byung-chul sangat mengagumi "zaibatsu" atau "klan kaya raya," yang merupakan konsep bisnis ala Jepang di mana suatu perusahaan dibangun dan dibesarkan hanya oleh keluarga, tanpa bantuan tenaga atau modal dari orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah (dari sisi manajemen tingkat tinggi). Dan dari konsep bisnis ini, lahir perusahaan raksasa seperti Mitsubishi, yang di waktu paling terang dalam sejarah perusahaan (yang terjadi di tengah Perang Dunia II) pernah memiliki lebih dari 1 juta tenaga kerja. Selain berhasil menggenjot ekonomi, Mitsubishi berhasil pula mempengaruhi dunia perpolitikan Jepang.

Byung-chul, singkat cerita, ingin memiliki usaha yang sama kuatnya dengan Mitsubishi.

Beruntunglah Byung-chul, keinginannya memiliki usaha yang sama cemerlangnya dengan Mitsubishi perlahan menampakkan titik terang. Hanya dalam hitungan bulan, usaha ekspor sayur-mayurnya tersebut berbuah hasil yang manis, yang menjadikannya berhasil memiliki dana untuk membeli perusahaan penyulingan bir, Chosun. Dan akhirnya, tak sampai tujuh tahun mengembangkan Samsung Sanghoe, keberuntungan lain (atau petaka Jepang) menghampir Byung-chul. Kala itu, pada 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang terpaksa mengakhiri hasratnya berkuasa di sepanjang Asia Timur hingga Asia Tenggara.

Di bawah kekuasaan AS pada Jepang dan bekas koloninya (termasuk Korea Selatan), Byung-chul menjalin hubungan dengan Paman Sam atas bantuan ayahnya. Ia, selain membeli universitas lokal dan surat kabar atas aksi penjualan Chosun yang dilakukan, mendirikan serikat bisnis bernama "Ulyuhoi" yang mengandung arti patriotik, "kemerdekaan dari Jepang," untuk menyanjung keberhasilan AS mengalahkan Jepang. Dari serikat yang didirikan untuk memperoleh rasa simpatik AS ini, Byung-chul akhirnya memperoleh semacam perlindungan dari AS, termasuk, mengutip apa yang ditulis Cain, "ikut serta dalam diskusi-diskusi serius tentang filosofi bisnis dan masa depan negara" usai Jepang berhasil diusir dari bumi Korea.

Atas perlindungan dari AS ini, usaha Byung-chul kian moncer. Dan pada 1947, ai akhirnya memusatkan segala bisnis yang dimiliki ke Seoul.

Sayangnya, kecemerlangan Byung-chul dalam berbisnis dan memperoleh dukungan penguasa tertahan pada Juni 1950. Kala itu, leluhur Yang Mulia Kim Jong-un berhasil mengambil alih Seoul untuk menjadikan seluruh wilayah Korea berada dalam genggaman komunisme. Byung-chul, yang pro-Amerika, dianggap musuh komunisme dan karenanya segala usaha yang dimilikinya dihancurkan kakek moyang Kim Jong-un. Namun, untunglah, nyawa Byung-chul tak sempat dimusnahkan orang-orang dari bagian Utara wilayah Korea itu karena ia, beserta dengan karyawannya, berhasil menyelamatkan diri menggunakan lima truk yang digunakan untuk keluar dari Seoul. Beruntung pula, hanya dalam waktu tak kurang dari tiga bulan, pasukan militer yang dikomandoi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil memukul mundur orang-orang Utara itu.

Byung-chul, di akhir 1950, memulai kembali bisnis-bisnisnya dari nol. Sialnya, proses membangun bisnis-bisnisnya itu harus terhenti sejenak pada 1953 gara-gara Perang Korea meletus. Beruntungnya, tatkala Perang Korea berakhir, Byung-chul berhasil memiliki hubungan dengan presiden pertama Korea Selatan, Syngman Rhee. Dan dari hubungan ini, Byung-chul diganjar proyek-proyek padat modal dari negara, termasuk sebuah proyek untuk mengimpor bahan baku mentah seperti kain wol dan mengubahnya menjadi pakaian di dalam negeri.

Atas proyek-proyek yang diberikan negara, Byung-chul bertransformasi menjadi salah satu sosok paling kaya (dan simbol korupsi) di Korea Selatan, yang lantas ia terjemahkan dalam bentuk pembangunan pabrik gula, pembelian saham mayoritas pada sebuah bank dan asuransi, perusahaan ritel, hingga universitas. Dan atas kekagumannya pada konsep "zaibatsu," Byung-chul membagi-bagi kekuasaan perusahaan-perusahaan yang dimilikinya pada anak-anaknya (Byung-chul memiliki lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki), dengan si "Toko Bintang Tiga" menjadi pusatnya. Lalu, untuk mempertahankan kesuksesan, anak-anaknya yang telah diberi kekuasaan pada perusahaannya itu ia nikahkah dengan anak-anak dari keluarga terpandang di Korea Selatan, semisal anak pertama yang "dipaksa" menikah dengan anak salah satu gubernur di Korea Selatan atau anak bungsunya, Lee Kun-hee, yang dinikahkan dengan anak salah satu menteri Korea Selatan.

Tak ketinggalan, Byung-chul pun membangun surat kabar bernama JoongAng Ilbo guna membendung politik-politik buruk Korea Selatan yang mungkin menghantamnya.

Melalui kekayaan, serta strategi pernikahan anak-anaknya dengan keluarga terpandang di Korea Selatan dan JongAng Ilbo, Byung-chul selamat tatkala Jenderal Park Chung-hee berkuasa secara diktator di Korea Selatan pada dekade 1960-an. Bahkan, bukan hanya selamat, ia pun memperoleh banyak proyekan dari sang jenderal, termasuk pendaulatan dirinya sebagai ketua Federasi Industri Korea.

Berposisi sebagai ketua Federasi Industri Korea, Byung-chul akhirnya memperoleh kesempatan-kesempatan terkait industri berbasis teknologi yang mulai dikembangkan Korea Selatan pada 1960-an, termasuk keberhasilannya membeli perusahaan Korea Semiconductor atas restu negara yang membuat Samsung Sanghoe memiliki lini bisnis teknologi. Korea Semiconductor, yang sebelumnya hanya membuat perangkat-perangkat elektronik murahan, ia paksa untuk dapat memproduksi memori chip. Ini dilakukan karena, atas kunjungan Steve Jobs pada awal 1980-an, Byung-chul diyakinkan pendiri Apple itu bahwa Samsung dapat memproduksi chip jika sungguh-sungguh ingin melakukannya. Usaha memproduksi chip ini dilakukan Byung-chul dengan mendirikan pusat riset, seperti yang dikehendaki negara.

Transformasi Samsung Sanghoe menjadi Samsung yang kita kenal hari ini akhirnya terjadi mula-mula pada akhir 1980-an tatkala anak bungsunya yang doyang nonton film Hollywood sambil rebahan di usia belia bernama Lee Kun-hee, ditunjuk menggantikannya mengurus Samsung (yang membuat anak tertua Byung-chul, Lee Maing-hee murka). Kun-hee sukses besar mentransformasi Samsung (atau Korea Semicondustor) menjadi raksasa teknologi gara-gara di suatu kesempatan saat berkunjung ke AS merasa terhina karena produk-produk elektronik buatan Samsung ditempatkan di posisi rak terbawah.

"Kalian ini ngapain saja, sih, selama ini," murka Kun-hee pada karyawannya. Dan dalam outing yang dilakukan Samsung di Frankfurt, Jerman, pada 1993, bos Samsung itu memerintahkan, "ubah diri kalian kecuali istri dan anak" demi membangun Samsung.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



9 Juli 2021

Samsung: Kisah Tentang Kedekatan Negara dan Teknologi

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 1979, melalui karyanya berjudul "Japan as Number One: Lessons for America," sosiolog Ezra Vogel menyebut bahwa Jepang, bukan Barat, akan menjadi pemimpin dunia di masa depan gara-gara perkembangan teknologinya yang begitu dahsyat. Usai Perang Dunia II, diwakili oleh Sony, Toyota, Toshiba, Honda, Sharp, Panasonic, hingga Mitsubishi, Jepang perlahan menjadi negara yang menguasai pelbagai perangkat berbasis teknologi yang digunakan masyarakat dunia kala itu, mulai dari televisi hingga kendaraan bermotor. Pikir Vogel, hanya waktu saja yang memisahkan Jepang dengan kedigdayaan tak terbantahkan di dunia, mengungguli Amerika Serikat atau negara-negara Barat manapun.

Sayangnya, lebih dari empat dekade usai buku yang ditulis Vogel terbit, waktu yang memisahkan Jepang dengan kejayaan mutlaknya tak kunjung berakhir. Diprediksi menjadi menjadi penguasa dunia gara-gara teknologinya, teknologi Jepang kini kian tertinggal. Di bidang televisi, misalnya, kekuatan Jepang menguasai "kotak ajaib" luntur manakala Panasonic, Mitsubishi, dan Hitachi menyatakan undur diri dalam penciptaan teknologi ini sejak awal 2010-an lalu. Yang lebih menohok, perusahaan asal Taiwan bernama Hon Hai kini menjadi pemegang saham mayoritas Sharp, dan karenanya, Sharp memproduksi televisi (dan panel LCD) hanya untuk Hon Hai.

Di bidang teknologi lain, kekuatan Jepang pudar pula karena Sony, yang sempat menjadi raja segala bidang perangkat elektronik, kian melempem ditelan zaman dengan hanya menyisakan PlayStation sebagai keunggulan. Dan Toyota, si raja empat roda, tergerus Tesla dalam perlombaan menciptakan mobil elektrik. Bahkan, Nikkei Business Publication, yang membongkar (teardown) Tesla Model 3 dan memeriksa modul central control unit alias Hardware 3--semacam System-on-Chip (SoC) pada ponsel--menyebut bahwa teknologi Toyota tertinggal enam tahun dibandingkan Tesla.

Maka, dengan kian pudarnya kekuatan Jepang di dunia teknologi, waktu yang memisahkan Jepang dengan kejayaan mutlaknya, sangat mungkin tak akan pernah berakhir. Yang menarik, ada satu negara yang mencuat yang sangat mungkin menggantikan posisi Jepang menjadi pemimpin dunia di masa depan gara-gara teknologinya. Tak lain, negeri itu adalah Korea Selatan.

Dari Negara ke Swasta

Dalam studi berjudul "Science, Technology, and the Imaginaries of Development in South Korea" (Development and Society Journal Vol. 46 2017), Kim Sang-hyun, peneliti pada Hanyang University, Seoul, Korea Selatan, menyebut bahwa pertama kalinya sains dan teknologi diperbincangan dalam lingkup kekuasaan Korea terjadi pada akhir abad ke-19. Kala itu, di bawah kekuasaan Dinasti Joseon, Korea menganggap sains dan teknologi ala Barat sebagai "pengetahuan barbar," bukan "kunci kemasyarakatan yang unggul." Ini terjadi karena melalui sains dan teknologinya, Barat melakukan tindakan-tindakan tak terpuji, semisal penjajahan dan perdagangan paksa. Bagi Korea, yang saat itu dipimpin Heungseon Daewongun (Pangeran Gung), sains dan teknologi ala Barat tak sesuai dengan prinsip-prinsip Konfusianisme, dan karenanya, Korea enggan mengadopsi sains dan teknologi Barat untuk kepentingannya.

Sayangnya, di tengah zaman "wijongchoksa" atau krisis kepercayaan masyarakat terhadap Dinasti Joseon, keengganan Korea mengadopsi sains dan teknologi ala Barat ditentang banyak pihak, terutama kalangan intelektual. Terlebih usai Barat berhasil memaksa Korea membuka diri untuk perdagangan pada 1876, para penentang berpendapat bahwa sains dan teknologi ala Barat terbukti membuat negara yang menganutnya unggul serta mampu digunakan sebagai alat pertahanan negara. Tak ketinggalan, para penentang pun terkesan dengan kesuksesan Jepang memperkuat dirinya melalui Restorasi Meiji, yang salah satu kuncinya dilakukan dengan pengadopsian sains dan teknologi ala Barat. Maka, bagi para penentang, pengadopsian sains dan teknologi Barat wajib dilakukan guna membuat Korea dipandang dunia.

Akhirnya, sejak awal abad ke-20 Korea mengadopsi sains dan teknologi ala Barat sebagai bagian dari "tongdosogi" alias "pembangunan nasional" yang dipercaya dapat mendorong terwujudnya "pencerahan nyata." Kembali merujuk Sang-hyun, "pencerahan nyata" yang dimaksud merupakan upaya Korea untuk menghindarkan diri dari penjajahan. Ini terjadi karena, merujuk editorial koran Tongailbo yang terbit di suatu hari pada 1921, Korea tengah berada di zaman "hukum persaingan besi" di mana yang kuat mengeplorasi yang lemah. Tanpa cepat-cepat mengadopsi sains dan teknologi ala Barat, Korea akan berada di posisi lemah dan karenanya penerapan sains dan teknologi Barat tak bisa dihindarkan, khususnya untuk memperkuat militer.

Meskipun sains dan teknologi ala Barat telah diterapkan sejak awal abad ke-20, sebagaimana dipaparkan Walter Arnold dalam studinya berjudul "Science and Technology Development in Taiwan and South Korea" (Asian Survey Vol. 28 1988), pembangunan sains dan teknologi ala Barat yang dilakukan Korea Selatan baru benar-benar dilaksanakan pada dekade 1960-an. Ini terjadi karena usai Dinasti Joseon lengser, Jepang mengokupasi Korea dan dilanjutkan dengan konflik tak berkesudahan dengan sudaranya, Korea Utara. Pada dekade 1960-an itu, pembangunan sains dan teknologi sepenuhnya dipelopori oleh negara, yang diterjemahkan melalui pembangunan infrastruktur industri berbasis teknologi. Tentu, pembangunan industri berbasis teknologi oleh Korea Selatan dibantu asing, khususnya AS, Eropa, dan Jepang. Dan karenanya, banyak warga asing bekerja di Korea Selatan. Namun, dari warga asing inilah, rakyat Korea Selatan belajar tentang sains dan teknologi.

Di sisi lain, untuk mempercepat transfer pengetahuan, Korea Selatan menerapkan Technology Promotion Law, yakni suatu produk hukum yang bertujuan mewajibkan terjadinya proses alih-teknologi dari asing ke warga lokal. Dan di akhir dekade tersebut, Korea Selatan pun membentuk Kementerian Sains dan Teknologi dan, dibantu dana dari US Agency for International Development (USAID) serta bimbingan US National Academy of Science, Korea Institute of Science and Technology dan Korea Advanced Institute of Science didirikan.

Usai membangun infrastruktur sains dan teknologi yang sepenuhnya dilakukan oleh negara, Korea Selatan melangkah lebih jauh pada dekade 1970-an. Kembali merujuk karya akademik Arnold, Korea Selatan kemudian mewajibkan perusahaan-perusahaan lokal untuk membangun pusat riset sains dan teknologi dengan iming-iming insentif pajak (keringanan pajak). Setidaknya, bagi perusahaan besar, Korea Selatan menginginkan satu pusat riset dibentuk. Dan bagi perusahaan kelas kecil-medium, Korea Selatan mewajibkan mereka bekerjasama dengan perusahaan setipe untuk membangun pusat risetnya dalam bentuk konsorsium. Maka, atas kewajiban ini, sejak dekade 1970-an hingga awal 1980-an, tercipta 129 institusi riset swasta dan 18 konsorsium riset di Korea Selatan.

Secara umum, dari apa yang dilakukan negara atas pembangunan sains dan teknologi, terjadi pergeseran roda penggerak, yakni dari negara ke swasta. Dan yang menarik, atas perubahan roda penggerak inilah, muncul perusahaan swasta yang amat raksasa di Korea Selatan. Tak lain, perusahaan itu adalah Samsung.

Republik Samsung

Pada 1936, seorang pemuda bernama Lee Byung-chul memperoleh pencerahan. Kala itu, di suatu malam di kala ia berusia 26 tahun, Byung-chul terhanyut dalam sebuah mimpi yang menampakkan anaknya tenggelam dalam lautan. Bagi Byung-chul, di tengah kenyataan bahwa negerinya, Korea Selatan, tengah menghadapi nasib buruk karena dijajah Jepang, mimpi buruk tentang anaknya itu sangat mungkin menjadi kenyataan.

"Aku telah menyia-nyiakan waktuku," pikir Byung-chul tatkala terbangun dari mimpi buruknya. "Sekarang, aku nampaknya harus menetapkan tujuan hidup."

Terlahir dari keluarga yang cukup terpandang, yang menjadikannya berhasil mengenyam pendidikan di Waseda University, Tokyo, Jepang, Byung-chul menetapkan diri untuk berbisnis sebagai tujuan hidupnya. Tak lama usai mimpi buruk itu terjadi, ia lalu mendirikan perusahaan perdagangan beras. Sayangnya, karena berbisnis merupakan hal baru baginya, setahun kemudian atau tepat pada 1937, tujuan hidupnya tersebut mengalami kebangkrutan. Namun, tak ingin hanyut dalam kesedihan atas kegagalan usahanya, Byung-chul memilih berlibur dengan pergi ke Cina untuk menenangkan diri. Tak disangka, di negeri yang sama-sama tengah dihantam Jepang itu, ia tersadar bahwa bisnis sayur mayur dan bahan pangan mentah tengah menggeliat di Cina. Maka, sebagaimana ditulis Geoffrey Cain dalam bukunya berjudul Samsung Rising: The Inside Story of the South Korean Giant That Set Out to Beat Apple and Conquer Tech (2020), Byung-chul memutuskan untuk mendirikan usaha kecil-kecilan yang bergerak di bidang pengeksporan sayuran dan ikan kering dari Korea Selatan ke Cina pada Maret 1938. Usaha itu, yang diterjemahkannya dalam bentuk toko kecil yang berlokasi di Daegu, ia namai Samsung Sanghoe alias "Toko Bintang Tiga."

"'Sam' dalam 'Samsung'," kata Byung-chul, "merupakan simbol dari sesuatu yang besar, banyak, dan kuat." Sementara itu, ia menuturkan lebih lanjut, "'Sung' berarti bintang yang amat terang, yang mengangkasa sangat tinggi di langit." Maka, dalam benak Byung-chul, Samsung merupakan nama yang dapat diterjemahkan sebagai "sesuatu yang besar, kuat, dan bersinar selamanya."

Yang menarik, makna "Samsung" yang dipaparkan Byung-chul tersebut sangat mirip dengan makna perusahaan Jepang bernama Mitsubishi alias " Si Tiga Berlian." Merujuk apa yang ditulis Cain, makna yang identik dari "Samsung" dan "Mitsubishi" terjadi kerena Byung-chul, ditempa oleh institusi pendidikan Jepang, sangat kagum dengan negeri Matahari Terbit tersebut. Secara khusus, Byung-chul sangat mengagumi "zaibatsu" atau "klan kaya raya," yang merupakan konsep bisnis ala Jepang di mana suatu perusahaan dibangun dan dibesarkan hanya oleh keluarga, tanpa bantuan tenaga atau modal dari orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah (dari sisi manajemen tingkat tinggi). Dan dari konsep bisnis ini, lahir perusahaan raksasa seperti Mitsubishi, yang di waktu paling terang dalam sejarah perusahaan (yang terjadi di tengah Perang Dunia II) pernah memiliki lebih dari 1 juta tenaga kerja. Selain berhasil menggenjot ekonomi, Mitsubishi berhasil pula mempengaruhi dunia perpolitikan Jepang.

Byung-chul, singkat cerita, ingin memiliki usaha yang sama kuatnya dengan Mitsubishi.

Beruntunglah Byung-chul, keinginannya memiliki usaha yang sama cemerlangnya dengan Mitsubishi perlahan menampakkan titik terang. Hanya dalam hitungan bulan, usaha ekspor sayur-mayurnya tersebut berbuah hasil yang manis, yang menjadikannya berhasil memiliki dana untuk membeli perusahaan penyulingan bir, Chosun. Dan akhirnya, tak sampai tujuh tahun mengembangkan Samsung Sanghoe, keberuntungan lain (atau petaka Jepang) menghampir Byung-chul. Kala itu, pada 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang terpaksa mengakhiri hasratnya berkuasa di sepanjang Asia Timur hingga Asia Tenggara.

Di bawah kekuasaan AS pada Jepang dan bekas koloninya (termasuk Korea Selatan), Byung-chul menjalin hubungan dengan Paman Sam atas bantuan ayahnya. Ia, selain membeli universitas lokal dan surat kabar atas aksi penjualan Chosun yang dilakukan, mendirikan serikat bisnis bernama "Ulyuhoi" yang mengandung arti patriotik, "kemerdekaan dari Jepang," untuk menyanjung keberhasilan AS mengalahkan Jepang. Dari serikat yang didirikan untuk memperoleh rasa simpatik AS ini, Byung-chul akhirnya memperoleh semacam perlindungan dari AS, termasuk, mengutip apa yang ditulis Cain, "ikut serta dalam diskusi-diskusi serius tentang filosofi bisnis dan masa depan negara" usai Jepang berhasil diusir dari bumi Korea.

Atas perlindungan dari AS ini, usaha Byung-chul kian moncer. Dan pada 1947, ai akhirnya memusatkan segala bisnis yang dimiliki ke Seoul.

Sayangnya, kecemerlangan Byung-chul dalam berbisnis dan memperoleh dukungan penguasa tertahan pada Juni 1950. Kala itu, leluhur Yang Mulia Kim Jong-un berhasil mengambil alih Seoul untuk menjadikan seluruh wilayah Korea berada dalam genggaman komunisme. Byung-chul, yang pro-Amerika, dianggap musuh komunisme dan karenanya segala usaha yang dimilikinya dihancurkan kakek moyang Kim Jong-un. Namun, untunglah, nyawa Byung-chul tak sempat dimusnahkan orang-orang dari bagian Utara wilayah Korea itu karena ia, beserta dengan karyawannya, berhasil menyelamatkan diri menggunakan lima truk yang digunakan untuk keluar dari Seoul. Beruntung pula, hanya dalam waktu tak kurang dari tiga bulan, pasukan militer yang dikomandoi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil memukul mundur orang-orang Utara itu.

Byung-chul, di akhir 1950, memulai kembali bisnis-bisnisnya dari nol. Sialnya, proses membangun bisnis-bisnisnya itu harus terhenti sejenak pada 1953 gara-gara Perang Korea meletus. Beruntungnya, tatkala Perang Korea berakhir, Byung-chul berhasil memiliki hubungan dengan presiden pertama Korea Selatan, Syngman Rhee. Dan dari hubungan ini, Byung-chul diganjar proyek-proyek padat modal dari negara, termasuk sebuah proyek untuk mengimpor bahan baku mentah seperti kain wol dan mengubahnya menjadi pakaian di dalam negeri.

Atas proyek-proyek yang diberikan negara, Byung-chul bertransformasi menjadi salah satu sosok paling kaya (dan simbol korupsi) di Korea Selatan, yang lantas ia terjemahkan dalam bentuk pembangunan pabrik gula, pembelian saham mayoritas pada sebuah bank dan asuransi, perusahaan ritel, hingga universitas. Dan atas kekagumannya pada konsep "zaibatsu," Byung-chul membagi-bagi kekuasaan perusahaan-perusahaan yang dimilikinya pada anak-anaknya (Byung-chul memiliki lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki), dengan si "Toko Bintang Tiga" menjadi pusatnya. Lalu, untuk mempertahankan kesuksesan, anak-anaknya yang telah diberi kekuasaan pada perusahaannya itu ia nikahkah dengan anak-anak dari keluarga terpandang di Korea Selatan, semisal anak pertama yang "dipaksa" menikah dengan anak salah satu gubernur di Korea Selatan atau anak bungsunya, Lee Kun-hee, yang dinikahkan dengan anak salah satu menteri Korea Selatan.

Tak ketinggalan, Byung-chul pun membangun surat kabar bernama JoongAng Ilbo guna membendung politik-politik buruk Korea Selatan yang mungkin menghantamnya.

Melalui kekayaan, serta strategi pernikahan anak-anaknya dengan keluarga terpandang di Korea Selatan dan JongAng Ilbo, Byung-chul selamat tatkala Jenderal Park Chung-hee berkuasa secara diktator di Korea Selatan pada dekade 1960-an. Bahkan, bukan hanya selamat, ia pun memperoleh banyak proyekan dari sang jenderal, termasuk pendaulatan dirinya sebagai ketua Federasi Industri Korea.

Berposisi sebagai ketua Federasi Industri Korea, Byung-chul akhirnya memperoleh kesempatan-kesempatan terkait industri berbasis teknologi yang mulai dikembangkan Korea Selatan pada 1960-an, termasuk keberhasilannya membeli perusahaan Korea Semiconductor atas restu negara yang membuat Samsung Sanghoe memiliki lini bisnis teknologi. Korea Semiconductor, yang sebelumnya hanya membuat perangkat-perangkat elektronik murahan, ia paksa untuk dapat memproduksi memori chip. Ini dilakukan karena, atas kunjungan Steve Jobs pada awal 1980-an, Byung-chul diyakinkan pendiri Apple itu bahwa Samsung dapat memproduksi chip jika sungguh-sungguh ingin melakukannya. Usaha memproduksi chip ini dilakukan Byung-chul dengan mendirikan pusat riset, seperti yang dikehendaki negara.

Transformasi Samsung Sanghoe menjadi Samsung yang kita kenal hari ini akhirnya terjadi mula-mula pada akhir 1980-an tatkala anak bungsunya yang doyang nonton film Hollywood sambil rebahan di usia belia bernama Lee Kun-hee, ditunjuk menggantikannya mengurus Samsung (yang membuat anak tertua Byung-chul, Lee Maing-hee murka). Kun-hee sukses besar mentransformasi Samsung (atau Korea Semicondustor) menjadi raksasa teknologi gara-gara di suatu kesempatan saat berkunjung ke AS merasa terhina karena produk-produk elektronik buatan Samsung ditempatkan di posisi rak terbawah.

"Kalian ini ngapain saja, sih, selama ini," murka Kun-hee pada karyawannya. Dan dalam outing yang dilakukan Samsung di Frankfurt, Jerman, pada 1993, bos Samsung itu memerintahkan, "ubah diri kalian kecuali istri dan anak" demi membangun Samsung.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play