26 Juli 2021

Roket: Ketika Hidrogen dan Oksigen Bersatu-Padu

Oleh: Ahmad Zaenudin


Peristiwa apa yang dapat menginspirasi bocah berusia 5 tahun?

Bagi kebanyakan anak-anak, tentu saja, pertanyaan tersebut sukar dijawab. Namun, tidak bagi Jeff Bezos. Terlahir pada 12 Januari 1964 dari rahim seorang perempuan berusia 17 tahun bernama Jeffrey Preston Jorgensen, Bezos kecil beruntung dapat menyaksikan salah satu peristiwa terpenting umat manusia. Kala itu, di usianya yang ke-5, Bezos menyaksikan Neil Amstrong dan Buzz Aldrin menginjakkan kaki di bulan. Maka, untuk pertanyaan tersebut, Bezos akan dengan lantang menyatakan bahwa pendaratan di bulan yang digawangi National Aeronautics and Space Administration (NASA) adalah jawabannya.

Bagi Bezos kecil, keberhasilan Amstrong dan Aldrin menginjakkan kaki di bulan tidak diartikan sebagai kemenangan Amerika Serikat melawan Uni Soviet, tetapi ketertarikan yang teramat dalam pada dunia luar angkasa. Karenanya, sebagaimana ditulis Brian Dumaine dalam Bezonomics: How Amazon is Changing Our Lives and What the World's Best Companies are Learning from It (2020), Bezos kecil lalu berangan-angan menciptakan roket dan menjelajah angkasa tatkala dewasa. Suatu angan-angan yang lantas ia terjemahkan dengan menimba ilmu fisika di Princeton University. Naas, usaha menggapai angkasa dengan menjadi seorang fisikawan sirna manakala Bezos bertemu dengan makhluk bernama partial differential equation (persamaan diferensial parsial) yang diberikan dosennya.

Bezos pun menyerah menjadi fisikawan, tetapi tidak untuk mimpinya menggapai angkasa. Ini terjadi karena Amazon, bisnis yang didirikan Bezos saat berusia 30 tahun usai berpaling dari profesinya sebagai hedge fund (pengelola investasi), selamat dari dotcom bubble dan perlahan-lahan meraksasa untuk menjadikannya seorang triliuner. Mimpi yang kemudian berubah menjadi tindakan nyata manakala temannya, seorang penulis fiksi ilmiah bernama Neal Stephenson, mendorong Bezos untuk benar-benar mewujudkannya.

"Ya udah, sih, mulai aja sekarang," cetus Stephenson memercik mimpi Bezos menjelajah luar angkasa di suatu hari pada 1999 sambil berduaan menikmati film berjudul October Sky di bioskop.

Didorong temannya itu, di tanah seluas 121 kilometer persegi di Texas yang baru dibeli, Bezos kemudian mendirikan Blue Origin pada 2000 dengan mengajak Stephenson sebagai karyawan pertama. Namun, belum juga Blue Origin beroperasi serta memiliki teknisi dan ilmuwan untuk membantu meralisasikan angan-angannya, bos Amazon ini bertanya, "kita ke luar angkasanya pake apaan, nih?"

Ignition!

Berbeda dengan SpaceX milik Elon Musk yang langsung tancap gas semenjak didirikan pada 2002 untuk mengembangkan roket Falcon 1, Blue Origin, dalam tiga tahun pertamanya, berkutat memikirkan teknologi apa yang hendak dipakai untuk sampai ke luar angkasa. Sebagaimana dituturkan Christian Davenport dalam bukunya berjudul The Space Barons: Elon Musk, Jeff Bezos, and the Quest to Colonize the Cosmos (2018), lamanya waktu yang diperlukan Blue Origin memikirkan teknologi terjadi karena Bezos menginginkan sesuatu yang baru nan nyeleneh alih-alih menggunakan roket--teknologi yang dianggap Bezos telah usang.

Maka, dengan mengesampingkan roket, "teknologi" pertama yang diyakini Bezos dapat membawanya mengangkasa adalah bullwhip--cambuk yang biasa dipakai untuk memaksa kuda lari--yang dibuat dalam bentuk raksasa guna menghasilkan energi kinetis. Lain waktu, pemilik toko buku online ini menghendaki laser sebagai pondasi wahana Blue Origin. Dan terkahir, selayaknya nalar alamiah orang-orang Amerika, Bezos percaya bahwa pistol (raksasa) adalah jawabannya.

Namun, meskipun ngotot menggunakan teknologi baru, ide-ide nyeleneh itu akhirnya ditinggalkan juga. Roket, sebagaimana dipaparkan John Drury Clark dalam bukunya berjudul Ignition!: An Informal History of Liquid Rocket Propellants (2018), adalah jawaban yang tidak bisa dibantah Bezos dan Blue Origin atau siapapun yang berniat pergi ke luar angkasa.

Tentu, meskipun roket disusun dari berbagai modul yang saling bertautan dan memiliki peranan pentingnya tersendiri, Clark, dalam bukunya tersebut, menyebut bahwa bagian paling utama yang membuat roket dapat terbang ke angkasa adalah propellant (propelan atau bahan pendorong), suatu zat campur-aduk antara bahan bakar dan oxidizer (oksidator atau material yang mentransfer elektron bagi bahan bakar) yang dapat menghasilkan energi atau gas bertekanan guna menciptakan gerakan fluida dan berakhir dengan terbentuknya propulsi (tenaga penggerak). Teknologi ini, seperti yang hendak dihindari Bezos, memang jadul, tetapi kegunaannya tak lekang dimakan usia.

Dalam catatan sejarah, gagasan roket propelan sebagai pondasi manusia untuk dapat terbang ke luar angkasa muncul pertama kali pada 1903 alias di tahun yang sama di mana Wright bersaudara tengah mengembangkan pesawat terbang pertama di dunia. Kala itu, gagasan ini dicetuskan oleh Konstantin Eduardovitch dalam artikelnya berjudul "Exploration of Space with Reactive Device" yang terbit di sebuah jurnal saintifik di St. Petersburg, Rusia. Suatu ide yang dicetuskan Eduardovitch karena paham bahwa luar angkasa merupakan vakum hampa/hampa udara (empty space) yang tidak memungkinkan bagi modul/wahana bersayap yang memanfaatkan tekanan udara (semisal pesawat terbang) dapat bekerja. Awalnya, merujuk artikel Eduardovitch itu, bahan bakar yang dapat dipakai untuk membuat roket propelan adalah hidrogen cair (liquid hydrogen) dan oksigen cair (liquid oxigen) sebagai oksidatornya. Namun, meskipun ilmuwan kala itu sepakat propelan memang jawaban untuk dapat menjelajah luar angkasa, mereka tak pernah sepakat dengan bahan bakar dan oksidator yang digunakan. Sikap yang muncul karena kerja manusia mengkonversi gas menjadi cairan belum berakhir.

Di sisi saintifik, pengkonversian gas menjadi cairan (dengan cara didinginkan, diberi tekanan, dicampur-adukkan dengan gas lain) dilakukan untuk membuat ilmuwan dapat menganalisis sifat dasar molekul gas. Dan dengan pengetahuan ini, ilmuwan dapat menafsirkan apa yang terjadi seandainya oksigen ditubrukan dengan hidrogen, misalnya. Hidrogen dan oksigen sendiri, baru berusia tak lebih dari 10 tahun sebagai gas yang berhasil dikonversi menjadi cairan ketika Eduardovitch mencetuskannya sebagai bahan propelan. Karenanya, banyak ilmuwan mengganggap ide ini masih terlalu muda dan sangat mungkin terdapat gas lain yang lebih baik sebagai bahan bakar + oksidator propelan, tetapi belum berhasil dijadikan cairan.

Di sisi roket secara spesifik, pengkonversian gas menjadi cairan penting karena dengan berbentuk cair (liquid state) molekul gas mudah ditempatkan dalam roket dan mudah pula dimanipulasi penggunaannya. Misalnya, dengan berbentuk cair, hidrogen dan oksigen dapat disemprotkan dalam kuantitas dan pembabakan waktu yang presisi untuk menghasilkan reaksi demi terciptanya propulsi. Suatu tindakan yang harus dilakukan karena tanpa kuantitas dan pembabakan waktu yang presisi, roket tidak akan terbang dan hanya berakhir sebagai petasan raksasa alias meledak.

Maka, usai ketiadaan kata sepakat di antara para ilmuwan tentang penggunaan hidrogen cair, methane (metana), ethylene (etana), benzene (benzana), methyl (gugus metil), ethyl alcohol (etanol), turpentine (terpentin), gasoline (bensin), kerosene (minyak tanah), dan bahkan air, alumunium bubuk, serta mesiu satu per satu diajukan sebagai bahan bakar propelan. Dan nitrogen tetroxide (dinitrogen tetroksida) serta methyl nitrate (metil nitrat) diajukan sebagai oksidator--meskipun akhirnya penggunaan dua molekul ini ditinggalkan karena ilmuwan sadar bahwa tidak ada molekul lain yang memiliki tingkat oksidasi serendah oksigen.

Melalui otak-atik bahan bakar dan oksidator propelan ini, Robert H. Goddard, ilmuwan roket pada awal abad ke-20 yang kini diabadikan sebagai nama salah satu markas dan teleskop milik NASA, berhasil membuat roket yang sanggup mengangkasa secara terbatas dengan memanfaatkan bensin sebagai bahan bakar dan oksigen sebagai oksidator. Dan perlahan, F. A. Tsander dari Rusia, Klaus Riedel dan Friedrich Wilhelm dari Jerman, serta Luigi Crocco dari Italia berhasil menciptakan propelan roket berkekuatan terbatas versi mereka sendiri-sendiri. Hingga, tentu saja, Wernher von Braun menciptakan roket yang kelewatan hebatnya.

Terlahir pada 23 Maret 1912 dari pasangan Menteri Pertanian Republik Weimar (dari sisi ayahnya) dan keturunan Raja Philip III serta Raja Edward III (dari sisi ibunya), von Braun akhirnya menjadi ilmuwan roket paling wahid sejagat usai Walter Dornberger, salah satu petinggi militer Jerman yang mengepalai divisi penelitian penciptaan roket, mengajaknya bergabung ke militer Jerman dan bersama-sama menciptakan roket. Di bawah dukungan militer, von Braun merilis roket A-1 pada 1932--tahun yang sama dengan kenaikan Hitler sebagai penguasa. Sayangnya, roket tersebut gagal mengangkasa dan hanya berakhir sebagai petasan raksasa semata. Namun, dari kegagalan A-1 ini, pada 1944 von Braun berhasil menciptakan roket A-4 alias V2. Suatu roket yang memiliki kemampuan membawa 1 ton hulu ledak sejauh 257 kilometer ke area musuh yang dikehendaki Hitler. Dan usai tersadar bahwa Hitler akan kalah dalam Perang Dunia Kedua serta sepakat dinaturalisasi menjadi warga negara Amerika Serikat, von Braun berhasil menciptakan Saturn V, roket yang dirancang untuk sampai ke Mars yang berhasil mendaratkan Neil Amstrong dan Buzz Aldrin di bulan.

Pada roket V2, von Braun menggunakan etanol cair sebagai bahan bakar dan oksigen cair sebagai oksidator. Pada Saturn V, terinspirasi dari gagasan Eduardovitch, von Braun menggunakan hidrogen cair serta oksigen cair. Yang menarik, kesuksesan V2 dan Saturn V tidak hanya terletak pada bahan bakar dan oksidator yang digunakan, tetapi, sebagaimana dipaparkan Deborah Cadbury dalam bukunya berjudul Space Race: The Epic Battle Between America and the Soviet Union for Dominion of Space (2007), terjadi pula karena digunakannya gyroscope (giroskop) sebagai alat navigasi roket. Suatu alat jadul yang dapat membuat roket terbang sesuai trajektori (lintasan) yang dikehendaki. Tak ketinggalan, von Braun pun menginisiasi motor roket (rocket motor) super canggih yang dapat menginjeksi (menyemprot) bahan bakar dan oksidator dalam kuantitas dan pembabakan waktu super prisisi hingga membuat Saturn V, misalnya, memiliki tiga tahap pembakaran. Dan tentu, dari tangan von Braun, sistem telemetri yang dapat memberikan data tentang keadaan roket secara simultan kepada para teknisi di daratan, diinisiasinya pula.

Dari kejeniusan V2 serta Saturn V inilah, Falcon ala SpaceX dan New Shepard ala Blue Origin lahir ke dunia untuk mengangkasa.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



26 Juli 2021

Roket: Ketika Hidrogen dan Oksigen Bersatu-Padu

Oleh: Ahmad Zaenudin


Peristiwa apa yang dapat menginspirasi bocah berusia 5 tahun?

Bagi kebanyakan anak-anak, tentu saja, pertanyaan tersebut sukar dijawab. Namun, tidak bagi Jeff Bezos. Terlahir pada 12 Januari 1964 dari rahim seorang perempuan berusia 17 tahun bernama Jeffrey Preston Jorgensen, Bezos kecil beruntung dapat menyaksikan salah satu peristiwa terpenting umat manusia. Kala itu, di usianya yang ke-5, Bezos menyaksikan Neil Amstrong dan Buzz Aldrin menginjakkan kaki di bulan. Maka, untuk pertanyaan tersebut, Bezos akan dengan lantang menyatakan bahwa pendaratan di bulan yang digawangi National Aeronautics and Space Administration (NASA) adalah jawabannya.

Bagi Bezos kecil, keberhasilan Amstrong dan Aldrin menginjakkan kaki di bulan tidak diartikan sebagai kemenangan Amerika Serikat melawan Uni Soviet, tetapi ketertarikan yang teramat dalam pada dunia luar angkasa. Karenanya, sebagaimana ditulis Brian Dumaine dalam Bezonomics: How Amazon is Changing Our Lives and What the World's Best Companies are Learning from It (2020), Bezos kecil lalu berangan-angan menciptakan roket dan menjelajah angkasa tatkala dewasa. Suatu angan-angan yang lantas ia terjemahkan dengan menimba ilmu fisika di Princeton University. Naas, usaha menggapai angkasa dengan menjadi seorang fisikawan sirna manakala Bezos bertemu dengan makhluk bernama partial differential equation (persamaan diferensial parsial) yang diberikan dosennya.

Bezos pun menyerah menjadi fisikawan, tetapi tidak untuk mimpinya menggapai angkasa. Ini terjadi karena Amazon, bisnis yang didirikan Bezos saat berusia 30 tahun usai berpaling dari profesinya sebagai hedge fund (pengelola investasi), selamat dari dotcom bubble dan perlahan-lahan meraksasa untuk menjadikannya seorang triliuner. Mimpi yang kemudian berubah menjadi tindakan nyata manakala temannya, seorang penulis fiksi ilmiah bernama Neal Stephenson, mendorong Bezos untuk benar-benar mewujudkannya.

"Ya udah, sih, mulai aja sekarang," cetus Stephenson memercik mimpi Bezos menjelajah luar angkasa di suatu hari pada 1999 sambil berduaan menikmati film berjudul October Sky di bioskop.

Didorong temannya itu, di tanah seluas 121 kilometer persegi di Texas yang baru dibeli, Bezos kemudian mendirikan Blue Origin pada 2000 dengan mengajak Stephenson sebagai karyawan pertama. Namun, belum juga Blue Origin beroperasi serta memiliki teknisi dan ilmuwan untuk membantu meralisasikan angan-angannya, bos Amazon ini bertanya, "kita ke luar angkasanya pake apaan, nih?"

Ignition!

Berbeda dengan SpaceX milik Elon Musk yang langsung tancap gas semenjak didirikan pada 2002 untuk mengembangkan roket Falcon 1, Blue Origin, dalam tiga tahun pertamanya, berkutat memikirkan teknologi apa yang hendak dipakai untuk sampai ke luar angkasa. Sebagaimana dituturkan Christian Davenport dalam bukunya berjudul The Space Barons: Elon Musk, Jeff Bezos, and the Quest to Colonize the Cosmos (2018), lamanya waktu yang diperlukan Blue Origin memikirkan teknologi terjadi karena Bezos menginginkan sesuatu yang baru nan nyeleneh alih-alih menggunakan roket--teknologi yang dianggap Bezos telah usang.

Maka, dengan mengesampingkan roket, "teknologi" pertama yang diyakini Bezos dapat membawanya mengangkasa adalah bullwhip--cambuk yang biasa dipakai untuk memaksa kuda lari--yang dibuat dalam bentuk raksasa guna menghasilkan energi kinetis. Lain waktu, pemilik toko buku online ini menghendaki laser sebagai pondasi wahana Blue Origin. Dan terkahir, selayaknya nalar alamiah orang-orang Amerika, Bezos percaya bahwa pistol (raksasa) adalah jawabannya.

Namun, meskipun ngotot menggunakan teknologi baru, ide-ide nyeleneh itu akhirnya ditinggalkan juga. Roket, sebagaimana dipaparkan John Drury Clark dalam bukunya berjudul Ignition!: An Informal History of Liquid Rocket Propellants (2018), adalah jawaban yang tidak bisa dibantah Bezos dan Blue Origin atau siapapun yang berniat pergi ke luar angkasa.

Tentu, meskipun roket disusun dari berbagai modul yang saling bertautan dan memiliki peranan pentingnya tersendiri, Clark, dalam bukunya tersebut, menyebut bahwa bagian paling utama yang membuat roket dapat terbang ke angkasa adalah propellant (propelan atau bahan pendorong), suatu zat campur-aduk antara bahan bakar dan oxidizer (oksidator atau material yang mentransfer elektron bagi bahan bakar) yang dapat menghasilkan energi atau gas bertekanan guna menciptakan gerakan fluida dan berakhir dengan terbentuknya propulsi (tenaga penggerak). Teknologi ini, seperti yang hendak dihindari Bezos, memang jadul, tetapi kegunaannya tak lekang dimakan usia.

Dalam catatan sejarah, gagasan roket propelan sebagai pondasi manusia untuk dapat terbang ke luar angkasa muncul pertama kali pada 1903 alias di tahun yang sama di mana Wright bersaudara tengah mengembangkan pesawat terbang pertama di dunia. Kala itu, gagasan ini dicetuskan oleh Konstantin Eduardovitch dalam artikelnya berjudul "Exploration of Space with Reactive Device" yang terbit di sebuah jurnal saintifik di St. Petersburg, Rusia. Suatu ide yang dicetuskan Eduardovitch karena paham bahwa luar angkasa merupakan vakum hampa/hampa udara (empty space) yang tidak memungkinkan bagi modul/wahana bersayap yang memanfaatkan tekanan udara (semisal pesawat terbang) dapat bekerja. Awalnya, merujuk artikel Eduardovitch itu, bahan bakar yang dapat dipakai untuk membuat roket propelan adalah hidrogen cair (liquid hydrogen) dan oksigen cair (liquid oxigen) sebagai oksidatornya. Namun, meskipun ilmuwan kala itu sepakat propelan memang jawaban untuk dapat menjelajah luar angkasa, mereka tak pernah sepakat dengan bahan bakar dan oksidator yang digunakan. Sikap yang muncul karena kerja manusia mengkonversi gas menjadi cairan belum berakhir.

Di sisi saintifik, pengkonversian gas menjadi cairan (dengan cara didinginkan, diberi tekanan, dicampur-adukkan dengan gas lain) dilakukan untuk membuat ilmuwan dapat menganalisis sifat dasar molekul gas. Dan dengan pengetahuan ini, ilmuwan dapat menafsirkan apa yang terjadi seandainya oksigen ditubrukan dengan hidrogen, misalnya. Hidrogen dan oksigen sendiri, baru berusia tak lebih dari 10 tahun sebagai gas yang berhasil dikonversi menjadi cairan ketika Eduardovitch mencetuskannya sebagai bahan propelan. Karenanya, banyak ilmuwan mengganggap ide ini masih terlalu muda dan sangat mungkin terdapat gas lain yang lebih baik sebagai bahan bakar + oksidator propelan, tetapi belum berhasil dijadikan cairan.

Di sisi roket secara spesifik, pengkonversian gas menjadi cairan penting karena dengan berbentuk cair (liquid state) molekul gas mudah ditempatkan dalam roket dan mudah pula dimanipulasi penggunaannya. Misalnya, dengan berbentuk cair, hidrogen dan oksigen dapat disemprotkan dalam kuantitas dan pembabakan waktu yang presisi untuk menghasilkan reaksi demi terciptanya propulsi. Suatu tindakan yang harus dilakukan karena tanpa kuantitas dan pembabakan waktu yang presisi, roket tidak akan terbang dan hanya berakhir sebagai petasan raksasa alias meledak.

Maka, usai ketiadaan kata sepakat di antara para ilmuwan tentang penggunaan hidrogen cair, methane (metana), ethylene (etana), benzene (benzana), methyl (gugus metil), ethyl alcohol (etanol), turpentine (terpentin), gasoline (bensin), kerosene (minyak tanah), dan bahkan air, alumunium bubuk, serta mesiu satu per satu diajukan sebagai bahan bakar propelan. Dan nitrogen tetroxide (dinitrogen tetroksida) serta methyl nitrate (metil nitrat) diajukan sebagai oksidator--meskipun akhirnya penggunaan dua molekul ini ditinggalkan karena ilmuwan sadar bahwa tidak ada molekul lain yang memiliki tingkat oksidasi serendah oksigen.

Melalui otak-atik bahan bakar dan oksidator propelan ini, Robert H. Goddard, ilmuwan roket pada awal abad ke-20 yang kini diabadikan sebagai nama salah satu markas dan teleskop milik NASA, berhasil membuat roket yang sanggup mengangkasa secara terbatas dengan memanfaatkan bensin sebagai bahan bakar dan oksigen sebagai oksidator. Dan perlahan, F. A. Tsander dari Rusia, Klaus Riedel dan Friedrich Wilhelm dari Jerman, serta Luigi Crocco dari Italia berhasil menciptakan propelan roket berkekuatan terbatas versi mereka sendiri-sendiri. Hingga, tentu saja, Wernher von Braun menciptakan roket yang kelewatan hebatnya.

Terlahir pada 23 Maret 1912 dari pasangan Menteri Pertanian Republik Weimar (dari sisi ayahnya) dan keturunan Raja Philip III serta Raja Edward III (dari sisi ibunya), von Braun akhirnya menjadi ilmuwan roket paling wahid sejagat usai Walter Dornberger, salah satu petinggi militer Jerman yang mengepalai divisi penelitian penciptaan roket, mengajaknya bergabung ke militer Jerman dan bersama-sama menciptakan roket. Di bawah dukungan militer, von Braun merilis roket A-1 pada 1932--tahun yang sama dengan kenaikan Hitler sebagai penguasa. Sayangnya, roket tersebut gagal mengangkasa dan hanya berakhir sebagai petasan raksasa semata. Namun, dari kegagalan A-1 ini, pada 1944 von Braun berhasil menciptakan roket A-4 alias V2. Suatu roket yang memiliki kemampuan membawa 1 ton hulu ledak sejauh 257 kilometer ke area musuh yang dikehendaki Hitler. Dan usai tersadar bahwa Hitler akan kalah dalam Perang Dunia Kedua serta sepakat dinaturalisasi menjadi warga negara Amerika Serikat, von Braun berhasil menciptakan Saturn V, roket yang dirancang untuk sampai ke Mars yang berhasil mendaratkan Neil Amstrong dan Buzz Aldrin di bulan.

Pada roket V2, von Braun menggunakan etanol cair sebagai bahan bakar dan oksigen cair sebagai oksidator. Pada Saturn V, terinspirasi dari gagasan Eduardovitch, von Braun menggunakan hidrogen cair serta oksigen cair. Yang menarik, kesuksesan V2 dan Saturn V tidak hanya terletak pada bahan bakar dan oksidator yang digunakan, tetapi, sebagaimana dipaparkan Deborah Cadbury dalam bukunya berjudul Space Race: The Epic Battle Between America and the Soviet Union for Dominion of Space (2007), terjadi pula karena digunakannya gyroscope (giroskop) sebagai alat navigasi roket. Suatu alat jadul yang dapat membuat roket terbang sesuai trajektori (lintasan) yang dikehendaki. Tak ketinggalan, von Braun pun menginisiasi motor roket (rocket motor) super canggih yang dapat menginjeksi (menyemprot) bahan bakar dan oksidator dalam kuantitas dan pembabakan waktu super prisisi hingga membuat Saturn V, misalnya, memiliki tiga tahap pembakaran. Dan tentu, dari tangan von Braun, sistem telemetri yang dapat memberikan data tentang keadaan roket secara simultan kepada para teknisi di daratan, diinisiasinya pula.

Dari kejeniusan V2 serta Saturn V inilah, Falcon ala SpaceX dan New Shepard ala Blue Origin lahir ke dunia untuk mengangkasa.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play