Apple M1


Juni 2005 silam, dalam acara Apple Worldwide Developers Conference (WWDC), Steve Jobs mengungkapkan bahwa Apple telah melakukan dua kali transisi besar. Katanya, "transisi pertama, yang dilakukan Apple di luar kendali saya (Jobs), dilakukan pada pertengahan 1990-an," yakni perpindahan penggunaan prosesor dari chip buatan MOS Technology (68K) menuju PowerPC untuk komputer Mac. Transisi kedua, yang dilakukan usai Apple membeli NeXT, ialah mengganti kode inti Macintosh dengan NeXSTEP. Beralih dari Macintosh OS 9 menuju OS X. Peralihan ini, sebut Jobs, "lebih besar" karena "OS X merupakan sistem operasi terhebat di planet Bumi."

Di acara yang sebetulnya ditujukan untuk mempertemukan para pengembang aplikasi Macintosh (dan iOS) itu, Jobs lantas mengumumkan transisi lanjutan, transisi ketiga, yakni peralihan penggunaan chip PowerPC menjadi Intel. Bagi Jobs, mengganti chip di komputer Mac dengan Intel dilakukan karena "Apple ingin membuat komputer terbaik yang dicari-cari masyarakat." Dan dengan tegas, klaim Jobs setahun kemudian, prosesor buatan Intel adalah "yang terkini dan terbaik" di dunia.

Waktu berlalu. 14 tahun kemudian, usai Steve Jobs diperintah Tuhan untuk pulang ke surga dan tampu pimpinan Apple jatuh ke tangan Tim Cook, Cook merevisi klaim mantan bosnya. Dalam acara WWDC di pertengahan 2020 lalu, Cook menyebut bahwa "Mac selalu melakukan perubahan besar untuk tetap berada di posisi terdepan dunia komputer." Menganggap Intel tak lagi menjadi "yang terkini dan terbaik," Apple akhirnya mengganti chip Intel yang tersemat dalam ragam lini Mac menjadi Apple Silicon, prosesor rancangan Apple sendiri dengan arsitektur ARM. Klaim Cook, "Apple Silicon akan membuat Mac jauh lebih bertenaga dan mampu melakukan tugas apapun daripada sebelumnya."

Tepat pada November lalu, Apple benar-benar mengganti chip Intel pada komputer Mac dengan Apple Silicon, yang menjelma menjadi M1, yang tersemat dalam Mac Mini, Macbook Air dan Macbook Pro "Late 2020." Akhirnya, usai dijual secara resmi di Indonesia sejak pertengahan Januari 2021 melalui jalur distribusi milik PT. Teletama Artha Mandiri (sesungguhnya Macbook M1 dapat dibeli sejak Desember 2020 melalui Tokopedia dengan catatan keras: "garansi internasional), saya dapat menyebut bahwa klaim Cook soal Apple Silicon tidak berlebihan. Macbook M1 memang sangat mempesona.

Macbook M1: iPhone dalam Bentuk Komputer

Selama dua pekan menggunakan Macbook Air M1, satu dari tiga lini komputer Mac yang telah menggunakan chip berarsitektur ARM, cuma satu yang saya rasakan: fantastis, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Pertama-tama, sebelum membahas keunggulan dan kelemahan M1, pilihan saya terhadap Macbook Air, bukan Macbook Pro (atau bahkan Mac Mini), terjadi karena Macbook Air M1, secara teknis, tidak berbeda dengan Macbook Pro M1. Ketiga lini Mac ini, sama-sama menggunakan chip M1 dengan jumlah core prosesor yang sama, 8 core. Perbedaan hanya terletak pada core GPU (untuk memproses grafis). Pada seri terendah Air, core GPU hanya berjumlah 7, sementara Pro memiliki 8 core GPU. Di seri Air yang lebih tinggi, jumlah core GPU sama, 8 core. Selebihnya, Air, Pro, dan Mini hanya dibedakan dengan kapasitas penyimpanan, plus beberapa gimmick ala Apple. Gimmic itu, tak lain tingkat kecerahan layar yang lebih unggul, mesin yang akan terlindungi dari panas berlebih senadainya menggunakan aplikasi haus energi seperti Adobe After Effect dengan adanya kipas, jumlah port thunderbolt/ USB type C yang lebih banyak, baterai yang sedikit lebih unggul, dan Touch Bar, yang sangat sukar membenarkan perbedaan harga hingga Rp4 juta rupiah antara Macbook Air dan Macbook Pro yang ditetapkan Apple.

Bagi saya, sebagai seorang jurnalis full time dan programer paruh waktu, Macbook Air adalah pilihan paling tepat untuk bekerja dan merasakan ARM sebagai otak inti komputer.

Selama puluhan tahun, dengan dukungan kongsi Microsoft dan Intel alias "Wintel" (Windows dan Intel) serta keputusan Apple menggunakan chip Intel sejak pertengahan dekade 2000-an, hampir semua aplikasi komputer diciptakan untuk hanya bekerja pada prosesor berarsitektur x86 atau Complex Instruction Set Computer (CISC). Surface RT (generasi pertama Surface dari Microsoft yang menggunakan ARM) dan Surface Pro X, misalnya, gagal di pasaran karena ketiadaan dukungan aplikasi untuk ARM. Bahkan, mendengar keputusan Apple pindah ke Apple Silicon meninggalkan Intel, Lisa Spelman, Vice President Intel, ragu dengan Apple. Sebutnya, "Intel telah membangun ekosistem x86 selama lebih dari 20 tahun karena para pengembang aplikasi merasa nyaman (dengan x86)." Para pengembang aplikasi, klaim Spelman, tidak ingin kerepotan dengan menulis ulang kode mereka. Tak heran, dengan menggunakan chip berarsitektur ARM, Macbook M1 memiliki kendala yang krusial: aplikasi.

Dalam kuantitas minim, kendala ini memang terbukti. Chrome, misalnya. Di akhir 2020 lalu, tak lama usai M1 muncul, Google merilis versi beta Chrome untuk ARM. Sialnya, Chrome ARM mengalami kendala, crash seketika ketika dibuka di Macbook M1, yang membuat Google menarik kembali produk tersebut di pasaran. Jika hendak menggunakan Chrome di Macbook M1, Google hanya memberikan versi x86 (Intel), dan ketika saya mencobanya Chrome sebetulnya lancar jaya digunakan. Namun, dalam banyak kesempatan, khususnya ketika mengunjungi layanan-layanan Google (Gmail, Youtube, Google APi Console), Chrome versi Intel yang dijalankan pada Macbook M1 mengalamai kendala otentikasi akun Google. Ketika sign in, Google mengganggap Chrome yang saya gunakan "tidak aman" dan meminta "menggunakan browser lain." Dan dalam tataran yang jauh lebih minim, kendala otentikasi akun Google pun saya alami ketika menggunakan Edge versi Intel, browser yang diciptakan Microsoft sebagai permintaan maaf atas IE, yang kebetulan memiliki kode inti yang sama dengan Chrome, Chromium. Di sisi lain, kendala otentikasi ini tidak (atau belum) saya temukan ketika menggunakan Safari--yang telah dirancang untuk bekerja pada ARM.

Untuk mengatasi masalah Chrome, satu-satunya solusi terbaik adalah dengan menggunakan Chrome Developer alias Chrome versi pengembang website/web-apps yang telah mendukung arsitektur ARM. Menggunakan Chrome Developer, masalah otentikasi akun Google tidak ditemukan. Untuk Edge, permasalahan otentikasi akun Google dapat diatasi dengan me-restart Macbook. Dan jika Anda adalah seorang pengguna Edge seperti saya, pesan saya satu: sebisa mungkin jangan pernah menekan "Quit Microsoft Edge" pada menu bar atau double-tap ikon Edge pada Dock (bukan tombol close). Karena ketika "Quit Microsoft Edge" ditekan, Edge me-log-out semua website/web-apps yang saya gunakan dengan fitur "Sign in with Google." Ini merepotkan.

Selain Chrome dan Edge, tidak ada masalah yang saya alami ketika menggunakan Macbook M1, bahkan jika aplikasi yang saya gunakan hanya mendukung arsitektur x86. Lightroom (sudah versi ARM) dan Photoshop (masih versi Intel) yang saya sewa tahunan dari Adobe (yes, original), bekerja dengan baik di Macbook M1. Untuk aplikasi Adobe, satu-satunya kendala minor yang saya alami adalah kotak pilihan ukuran dokumen di Illustrator terkadang tidak muncul. Selebihnya, aplikasi Adobe lain lancar jaya. Tak ketinggalan, Atom (code editor dan masih versi Intel), Microsoft Word (versi Intel), Visual Studio Code (versi Intel), Android Studio (versi Intel), VLC (versi Intel), dan berbagai aplikasi buatan Apple (yang tentu saja sudah versi ARM) serta aplikasi buatan saya sendiri bernama Kwaya--aplikasi word processing seperti Microsoft Word atau Google Docs--bekerja dengan baik pada Macbook M1.

Kesuksesan M1 menjalankan aplikasi x86 terjadi berkat Rosetta 2, seperti Wine (untuk Linux), yang sukses "menipu" aplikasi x86 bahwa M1 adalah Intel. Rosetta terinstall secara default pada Macbook M1.

Soal aplikasi, satu-satunya kekecewaan pada Macbook M1 adalah ingkar janji Senior Vice President Apple Craig Federighi. Ketika M1 diluncurkan, Federighi mengklaim bahwa versi terbaru Mac ini "dapat menjalankan 90 persen aplikasi iOS." Nyatanya, Apple lalu memberikan pilihan pengembang apakah mereka mengizinkan aplikasi buatannya dapat dijalankan pada Macbook atau tidak. Plus, Apple mematikan kemampuan sideloading--semacam menginstall aplikasi di Android melalui file apk--pada M1. Akhirnya, hanya aplikasi iOS recehan yang dapat saya gunakan pada Macbook M1. Tidak ada aplikasi Gojek, Grab, atau bermacam game iOS pada Macbook M1. Untuk masalah ini, Macbook M1 kalah telak jika dibandingkan dengan Chromebook yang sanggup menjalankan semua aplikasi Android serta laptop-laptop Windows yang dapat meng-emulasi aplikasi Android dengan baik (dengan catatan: jika menggabungkannya dengan ponsel premium dari Samsung).

Soal hardware, seperti seri Spectre dari HP, Surface dari Microsoft, ataupun ThinkPad seri X sekian Carbon sekian dari Lenovo, tak perlu meragukan kualitas Macbook. Beruntung pula, Apple akhirnya sadar bahwa keyboard rancangan mereka bernama Butterfly memang layak disebut sampah alih-alih teknologi unggul, dan memilih menggunakan keyboard konvensional pada Macbook M1. Yang paling menggembirakan soal hardware, baterai Macbook Air M1 (lithium-polymer 49,9 watt-jam) yang saya gunakan sangat tangguh. Beberapa kali saya gunakan Macbook M1 untuk bekerja dari kumandang adzan Ashar hingga adzan Subuh hanya menggunakan baterai, tidak dicolok ke listrik. Dalam uji iseng-iseng yang saya lakukan, Macbook M1 sanggup hidup selama 13 jam non-stop hanya dengan menggunakan baterai (plus masih tersisa kapasitas baterai sebesar 20 persen) meskipun saya terus-terusan menjelajah internet melalui Edge serta mendengarkan musik dari Youtube Musik dan memeriksa pesan di WhatsApp Desktop, menulis melalui Kwaya, plus sesekali menggunakan Lightroom, Atom, Illustrator, dan menonton serial di Apple TV+.

Bagaimana soal panas yang ditimbulkan ketika Macbook M1 dipakai? Tidak ada! Paling tidak, yang tangan saya rasakan, bukan melalui termometer atau aplikasi.

Hal mengejutkan lainnya, Macbook M1 seperti iPhone, hidup seketika ketika dibuka. Ditambah dengan Touch ID, password tak dibutuhkan (meskipun saya lebih suka dengan Windows Hello).

Berstatus sebagai komputer premium, bukan berarti tak memiliki masalah. Kendala yang dimiliki Macbook M1 (dan berbagai Macbook yang dirilis sejak 2018) ialah port yang terbatas. Hampir semua perangkat elektronik milik saya, entah kamera mirrorless, Kindle, ponsel, buds, Wacom Intous, dan bahkan iPhone dan iPad (versi lawas) hanya mendukung USB 2x atau 3x ketika hendak dicolok ke komputer. Dengan hanya mendukung Type C dan Thunderbolt. Converter atau dongle tak terelakkan ketika memilih menggunakan Macbook. Lalu, ketika mendengarkan musik melalui headphone/earphone wireless, yakni AKG Y500 dan Samsung Galaxy Buds+, saya sering mengalami loss-signal dari Macbook M1. Padahal, Nokia 1 seharga 700 ribuan milik saya baik-baik saja menerima/mengirim signal ke AKG Y500 ataupun Buds+.

Pesan saya, jika Anda hendak memahami Macbook M1 lebih lanjut dan bukan sekedar angka-angka benchmark, silakan kunjungi forum r/Macbook di Reddit.

Secara keseluruhan, saya merasa Macbook M1 berprilaku seperti iPhone (atau iPhone berbentuk komputer). Secara hardware, sangat mempesona, hidup seketika ketika dibutuhkan, dan daya tahan baterai yang sangat tangguh. Secara software, dengan MacOS Big Sur, Macbook M1 bekerja sangat mulus, responsif, dan memliki user interface yang mudah digunakan, persis seperti iOS. Mengelaborasi perkataan Federighi yang menyebut "Mac adalah jiwa kami," Macbook M1 yang saya miliki mungkin merasuk pula menjadi bagian jiwa saya. Paling tidak, dalam beberapa tahun mendatang atau ketika rekening saya cukup untuk membeli Surface Book 3 versi terbaik.




 

 

© 2016-2021 Madzae










Apple M1


Juni 2005 silam, dalam acara Apple Worldwide Developers Conference (WWDC), Steve Jobs mengungkapkan bahwa Apple telah melakukan dua kali transisi besar. Katanya, "transisi pertama, yang dilakukan Apple di luar kendali saya (Jobs), dilakukan pada pertengahan 1990-an," yakni perpindahan penggunaan prosesor dari chip buatan MOS Technology (68K) menuju PowerPC untuk komputer Mac. Transisi kedua, yang dilakukan usai Apple membeli NeXT, ialah mengganti kode inti Macintosh dengan NeXSTEP. Beralih dari Macintosh OS 9 menuju OS X. Peralihan ini, sebut Jobs, "lebih besar" karena "OS X merupakan sistem operasi terhebat di planet Bumi."

Di acara yang sebetulnya ditujukan untuk mempertemukan para pengembang aplikasi Macintosh (dan iOS) itu, Jobs lantas mengumumkan transisi lanjutan, transisi ketiga, yakni peralihan penggunaan chip PowerPC menjadi Intel. Bagi Jobs, mengganti chip di komputer Mac dengan Intel dilakukan karena "Apple ingin membuat komputer terbaik yang dicari-cari masyarakat." Dan dengan tegas, klaim Jobs setahun kemudian, prosesor buatan Intel adalah "yang terkini dan terbaik" di dunia.

Waktu berlalu. 14 tahun kemudian, usai Steve Jobs diperintah Tuhan untuk pulang ke surga dan tampu pimpinan Apple jatuh ke tangan Tim Cook, Cook merevisi klaim mantan bosnya. Dalam acara WWDC di pertengahan 2020 lalu, Cook menyebut bahwa "Mac selalu melakukan perubahan besar untuk tetap berada di posisi terdepan dunia komputer." Menganggap Intel tak lagi menjadi "yang terkini dan terbaik," Apple akhirnya mengganti chip Intel yang tersemat dalam ragam lini Mac menjadi Apple Silicon, prosesor rancangan Apple sendiri dengan arsitektur ARM. Klaim Cook, "Apple Silicon akan membuat Mac jauh lebih bertenaga dan mampu melakukan tugas apapun daripada sebelumnya."

Tepat pada November lalu, Apple benar-benar mengganti chip Intel pada komputer Mac dengan Apple Silicon, yang menjelma menjadi M1, yang tersemat dalam Mac Mini, Macbook Air dan Macbook Pro "Late 2020." Akhirnya, usai dijual secara resmi di Indonesia sejak pertengahan Januari 2021 melalui jalur distribusi milik PT. Teletama Artha Mandiri (sesungguhnya Macbook M1 dapat dibeli sejak Desember 2020 melalui Tokopedia dengan catatan keras: "garansi internasional), saya dapat menyebut bahwa klaim Cook soal Apple Silicon tidak berlebihan. Macbook M1 memang sangat mempesona.

Macbook M1: iPhone dalam Bentuk Komputer

Selama dua pekan menggunakan Macbook Air M1, satu dari tiga lini komputer Mac yang telah menggunakan chip berarsitektur ARM, cuma satu yang saya rasakan: fantastis, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Pertama-tama, sebelum membahas keunggulan dan kelemahan M1, pilihan saya terhadap Macbook Air, bukan Macbook Pro (atau bahkan Mac Mini), terjadi karena Macbook Air M1, secara teknis, tidak berbeda dengan Macbook Pro M1. Ketiga lini Mac ini, sama-sama menggunakan chip M1 dengan jumlah core prosesor yang sama, 8 core. Perbedaan hanya terletak pada core GPU (untuk memproses grafis). Pada seri terendah Air, core GPU hanya berjumlah 7, sementara Pro memiliki 8 core GPU. Di seri Air yang lebih tinggi, jumlah core GPU sama, 8 core. Selebihnya, Air, Pro, dan Mini hanya dibedakan dengan kapasitas penyimpanan, plus beberapa gimmick ala Apple. Gimmic itu, tak lain tingkat kecerahan layar yang lebih unggul, mesin yang akan terlindungi dari panas berlebih senadainya menggunakan aplikasi haus energi seperti Adobe After Effect dengan adanya kipas, jumlah port thunderbolt/ USB type C yang lebih banyak, baterai yang sedikit lebih unggul, dan Touch Bar, yang sangat sukar membenarkan perbedaan harga hingga Rp4 juta rupiah antara Macbook Air dan Macbook Pro yang ditetapkan Apple.

Bagi saya, sebagai seorang jurnalis full time dan programer paruh waktu, Macbook Air adalah pilihan paling tepat untuk bekerja dan merasakan ARM sebagai otak inti komputer.

Selama puluhan tahun, dengan dukungan kongsi Microsoft dan Intel alias "Wintel" (Windows dan Intel) serta keputusan Apple menggunakan chip Intel sejak pertengahan dekade 2000-an, hampir semua aplikasi komputer diciptakan untuk hanya bekerja pada prosesor berarsitektur x86 atau Complex Instruction Set Computer (CISC). Surface RT (generasi pertama Surface dari Microsoft yang menggunakan ARM) dan Surface Pro X, misalnya, gagal di pasaran karena ketiadaan dukungan aplikasi untuk ARM. Bahkan, mendengar keputusan Apple pindah ke Apple Silicon meninggalkan Intel, Lisa Spelman, Vice President Intel, ragu dengan Apple. Sebutnya, "Intel telah membangun ekosistem x86 selama lebih dari 20 tahun karena para pengembang aplikasi merasa nyaman (dengan x86)." Para pengembang aplikasi, klaim Spelman, tidak ingin kerepotan dengan menulis ulang kode mereka. Tak heran, dengan menggunakan chip berarsitektur ARM, Macbook M1 memiliki kendala yang krusial: aplikasi.

Dalam kuantitas minim, kendala ini memang terbukti. Chrome, misalnya. Di akhir 2020 lalu, tak lama usai M1 muncul, Google merilis versi beta Chrome untuk ARM. Sialnya, Chrome ARM mengalami kendala, crash seketika ketika dibuka di Macbook M1, yang membuat Google menarik kembali produk tersebut di pasaran. Jika hendak menggunakan Chrome di Macbook M1, Google hanya memberikan versi x86 (Intel), dan ketika saya mencobanya Chrome sebetulnya lancar jaya digunakan. Namun, dalam banyak kesempatan, khususnya ketika mengunjungi layanan-layanan Google (Gmail, Youtube, Google APi Console), Chrome versi Intel yang dijalankan pada Macbook M1 mengalamai kendala otentikasi akun Google. Ketika sign in, Google mengganggap Chrome yang saya gunakan "tidak aman" dan meminta "menggunakan browser lain." Dan dalam tataran yang jauh lebih minim, kendala otentikasi akun Google pun saya alami ketika menggunakan Edge versi Intel, browser yang diciptakan Microsoft sebagai permintaan maaf atas IE, yang kebetulan memiliki kode inti yang sama dengan Chrome, Chromium. Di sisi lain, kendala otentikasi ini tidak (atau belum) saya temukan ketika menggunakan Safari--yang telah dirancang untuk bekerja pada ARM.

Untuk mengatasi masalah Chrome, satu-satunya solusi terbaik adalah dengan menggunakan Chrome Developer alias Chrome versi pengembang website/web-apps yang telah mendukung arsitektur ARM. Menggunakan Chrome Developer, masalah otentikasi akun Google tidak ditemukan. Untuk Edge, permasalahan otentikasi akun Google dapat diatasi dengan me-restart Macbook. Dan jika Anda adalah seorang pengguna Edge seperti saya, pesan saya satu: sebisa mungkin jangan pernah menekan "Quit Microsoft Edge" pada menu bar atau double-tap ikon Edge pada Dock (bukan tombol close). Karena ketika "Quit Microsoft Edge" ditekan, Edge me-log-out semua website/web-apps yang saya gunakan dengan fitur "Sign in with Google." Ini merepotkan.

Selain Chrome dan Edge, tidak ada masalah yang saya alami ketika menggunakan Macbook M1, bahkan jika aplikasi yang saya gunakan hanya mendukung arsitektur x86. Lightroom (sudah versi ARM) dan Photoshop (masih versi Intel) yang saya sewa tahunan dari Adobe (yes, original), bekerja dengan baik di Macbook M1. Untuk aplikasi Adobe, satu-satunya kendala minor yang saya alami adalah kotak pilihan ukuran dokumen di Illustrator terkadang tidak muncul. Selebihnya, aplikasi Adobe lain lancar jaya. Tak ketinggalan, Atom (code editor dan masih versi Intel), Microsoft Word (versi Intel), Visual Studio Code (versi Intel), Android Studio (versi Intel), VLC (versi Intel), dan berbagai aplikasi buatan Apple (yang tentu saja sudah versi ARM) serta aplikasi buatan saya sendiri bernama Kwaya--aplikasi word processing seperti Microsoft Word atau Google Docs--bekerja dengan baik pada Macbook M1.

Kesuksesan M1 menjalankan aplikasi x86 terjadi berkat Rosetta 2, seperti Wine (untuk Linux), yang sukses "menipu" aplikasi x86 bahwa M1 adalah Intel. Rosetta terinstall secara default pada Macbook M1.

Soal aplikasi, satu-satunya kekecewaan pada Macbook M1 adalah ingkar janji Senior Vice President Apple Craig Federighi. Ketika M1 diluncurkan, Federighi mengklaim bahwa versi terbaru Mac ini "dapat menjalankan 90 persen aplikasi iOS." Nyatanya, Apple lalu memberikan pilihan pengembang apakah mereka mengizinkan aplikasi buatannya dapat dijalankan pada Macbook atau tidak. Plus, Apple mematikan kemampuan sideloading--semacam menginstall aplikasi di Android melalui file apk--pada M1. Akhirnya, hanya aplikasi iOS recehan yang dapat saya gunakan pada Macbook M1. Tidak ada aplikasi Gojek, Grab, atau bermacam game iOS pada Macbook M1. Untuk masalah ini, Macbook M1 kalah telak jika dibandingkan dengan Chromebook yang sanggup menjalankan semua aplikasi Android serta laptop-laptop Windows yang dapat meng-emulasi aplikasi Android dengan baik (dengan catatan: jika menggabungkannya dengan ponsel premium dari Samsung).

Soal hardware, seperti seri Spectre dari HP, Surface dari Microsoft, ataupun ThinkPad seri X sekian Carbon sekian dari Lenovo, tak perlu meragukan kualitas Macbook. Beruntung pula, Apple akhirnya sadar bahwa keyboard rancangan mereka bernama Butterfly memang layak disebut sampah alih-alih teknologi unggul, dan memilih menggunakan keyboard konvensional pada Macbook M1. Yang paling menggembirakan soal hardware, baterai Macbook Air M1 (lithium-polymer 49,9 watt-jam) yang saya gunakan sangat tangguh. Beberapa kali saya gunakan Macbook M1 untuk bekerja dari kumandang adzan Ashar hingga adzan Subuh hanya menggunakan baterai, tidak dicolok ke listrik. Dalam uji iseng-iseng yang saya lakukan, Macbook M1 sanggup hidup selama 13 jam non-stop hanya dengan menggunakan baterai (plus masih tersisa kapasitas baterai sebesar 20 persen) meskipun saya terus-terusan menjelajah internet melalui Edge serta mendengarkan musik dari Youtube Musik dan memeriksa pesan di WhatsApp Desktop, menulis melalui Kwaya, plus sesekali menggunakan Lightroom, Atom, Illustrator, dan menonton serial di Apple TV+.

Bagaimana soal panas yang ditimbulkan ketika Macbook M1 dipakai? Tidak ada! Paling tidak, yang tangan saya rasakan, bukan melalui termometer atau aplikasi.

Hal mengejutkan lainnya, Macbook M1 seperti iPhone, hidup seketika ketika dibuka. Ditambah dengan Touch ID, password tak dibutuhkan (meskipun saya lebih suka dengan Windows Hello).

Berstatus sebagai komputer premium, bukan berarti tak memiliki masalah. Kendala yang dimiliki Macbook M1 (dan berbagai Macbook yang dirilis sejak 2018) ialah port yang terbatas. Hampir semua perangkat elektronik milik saya, entah kamera mirrorless, Kindle, ponsel, buds, Wacom Intous, dan bahkan iPhone dan iPad (versi lawas) hanya mendukung USB 2x atau 3x ketika hendak dicolok ke komputer. Dengan hanya mendukung Type C dan Thunderbolt. Converter atau dongle tak terelakkan ketika memilih menggunakan Macbook. Lalu, ketika mendengarkan musik melalui headphone/earphone wireless, yakni AKG Y500 dan Samsung Galaxy Buds+, saya sering mengalami loss-signal dari Macbook M1. Padahal, Nokia 1 seharga 700 ribuan milik saya baik-baik saja menerima/mengirim signal ke AKG Y500 ataupun Buds+.

Pesan saya, jika Anda hendak memahami Macbook M1 lebih lanjut dan bukan sekedar angka-angka benchmark, silakan kunjungi forum r/Macbook di Reddit.

Secara keseluruhan, saya merasa Macbook M1 berprilaku seperti iPhone (atau iPhone berbentuk komputer). Secara hardware, sangat mempesona, hidup seketika ketika dibutuhkan, dan daya tahan baterai yang sangat tangguh. Secara software, dengan MacOS Big Sur, Macbook M1 bekerja sangat mulus, responsif, dan memliki user interface yang mudah digunakan, persis seperti iOS. Mengelaborasi perkataan Federighi yang menyebut "Mac adalah jiwa kami," Macbook M1 yang saya miliki mungkin merasuk pula menjadi bagian jiwa saya. Paling tidak, dalam beberapa tahun mendatang atau ketika rekening saya cukup untuk membeli Surface Book 3 versi terbaik.


 

 

© 2016-2021 Madzae