31 Juli 2021

Limits to Growth: Ketika Bocah-Bocah Ivy League Memprediksi Dunia Hancur pada 2030

Oleh: Ahmad Zaenudin


Apa yang paling menyenangkan dari menyimpan uang di bank?

Tentu, bunga adalah jawabannya. Seandainya saya menyimpan uang senilai Rp 1 juta dan bank menetapkan bunga sebesar 7 persen per tahun. Di tahun pertama uang tersebut akan bertambah Rp70.000, menjadi Rp1.070.000. Dan dari jumlah tersebut, dengan tingkat bunga yang serupa, Rp74.900 ditambahkan ke rekening saya setahun berikutnya dan Rp 80.143 tiba di tahun ketiga. Hingga, dalam waktu 11 tahun dan bunga yang diberikan bank tetap tak berubah, uang Rp 1 juta itu akhirnya berlipat ganda menjadi Rp 2 juta (atau Rp2.104.851,9523 tepatnya).

Secara sederhana, fenomena menyenangkan dari Rp 1 juta yang berlipat ganda menjadi Rp 2 juta disebut sebagai pertumbuhan eksponensial, yakni pertumbuhan yang melibatkan unsur-unsur yang berubah dari waktu ke waktu. Dari perandaian tersebut, unsur yang berubah adalah nilai tabungan yang bertambah setiap tahunnya gara-gara bunga. Masalahnya, tentu saja, meskipun perandaian ini sangat menyenangkan tidak ada bank yang memberikan bunga sebesar 7 persen per tahun, apalagi bank-bank besar (ehm.. BCA) umumnya enggan memberikan bunga sepeserpun pada tabungan kurang dari Rp 10 juta. Dan seandainya pun ada, nasabah harus berurusan dengan makhluk bernama pajak bunga (tax of interest) serta biaya administrasi bank yang membuat pertumbuhan eksponensial dari Rp 1 juta menjadi Rp 2 juta dalam tempo 11 tahun tak mungkin terjadi. Terlebih, sebagaimana dituturkan beberapa peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT), pertumbuhan eksponensial tak selamanya menyenangkan, bahkan di beberapa kasus cenderung mengkhawatirkan.

Pertumbuhan eksponensial yang tak menyenangkan serta mengkhawatirkan itu adalah pertumbuhan penduduk beserta dinamika sistem yang menyelimutinya.

Limits to Growth

Pada awal 1970-an silam, diinisiasi oleh sekelompok peneliti dan pengusaha multidisiplin dari/lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan beberapa kampus Ivy League, organisasi wadah pemikir (think tank) bernama Club of Rome didirikan di Winterthur, Swiss. Kala itu, diketuai peneliti bernama Dennis L. Meadows, Club of Rome mencoba menerka-nerka seperti apa keadaan dunia di masa depan melalui Project on the Predicament of Mankind. Memanfaatkan model matematis bernama "World3," yang menautkan data berbagai hal tentang manusia dan menganalisisnya melalui komputer, Project on the Predicament of Mankind, sebagaimana dipaparkan Meadows dan kawan-kawannya dalam buku berjudul The Limits to Growth: A Report for the Club of Rome's Project on the Predicament of Mankind (1972), berkesimpulan bahwa peradaban manusia akan menurun, dan cenderung hancur, pada 2030 kelak.

Suatu kesimpulan mengerikan yang berakar pada satu sebab: pertumbuhan manusia.

Bagi Club of Rome, selayaknya Thanos dalam fiksi yang digarap Marvel atau Bertrand Zobrist dalam novel Inferno, pertumbuhan penduduk merupakan biang kehancuran. Menurut mereka, melalui data yang dipaparkan, bumi diisi 0,5 miliar penduduk pada 1650 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,3 persen per tahun. Maka, untuk berlipat ganda dari 0,5 miliar menjadi 1 miliar penduduk, dibutuhkan waktu selama 250 tahun atau akan terjadi pada 1900. Namun, seiring dengan ditemukannya obat-obatan untuk menangani berbagai penyakit dan semakin berkualitasnya gizi yang diserap serta berkurangnya peperangan, kualitas hidup manusia (melalui angka harapan hidup) meningkat pula. Pada 1650, angka harapan hidup manusia di seluruh dunia berada di titik 30 tahun, lalu meningkat menjadi 53 tahun saat Club of Rome menerbitkan prediksi masa depan umat manusia tersebut (dan kini berada di titik 72,5 tahun). Melalui peningkatan kualitas hidup ini, pada 1970 atau 350 tahun sejak 1650, bumi diisi 3,6 miliar penduduk dengan tingkat pertumbuhan yang meningkat pula, yakni sebesar 2,1 persen per tahun alias jumlah penduduk akan berlipat ganda dalam tempo 33 tahun (atau pada 2003).

Artinya, tidak seperti pertumbuhan eksponensial tabungan di bank yang hanya berpatokan pada jumlah rupiah, dalam pertumbuhan penduduk terjadi fenomena "eksponensial super" di mana unsur-unsur yang berubah dari waktu ke waktu bukan hanya jumlah penduduk, tetapi juga persentase tingkat pertumbuhan. Melalui fenomena eksponensial super ini, tempo yang dibutuhkan umat manusia untuk berlipat ganda kian mengecil.

Di satu sisi, semakin pendeknya waktu yang diperlukan manusia untuk berlipat ganda karena kualitas hidup yang semakin meningkat sangat membahagiakan. Masalahnya, menurut Club of Rome, pertumbuhan penduduk yang lebih gila-gilaan dibandingkan uang Rp1 juta yang berlipat ganda menjadi Rp2 juta dalam tempo 11 tahun gara-gara bunga sebesar 7 persen ini menciptakan fenomena bernama "vicious circle" alias "feedback loop." Suatu fenomena yang membuat kenaikan gaji, misalnya, menggiring kenaikan permintaan terhadap barang/jasa, lalu kenaikan permintaan ini menggiring kenaikan harga barang/jasa, lalu kenaikan harga ini menggiring kenaikan gaji (dan seterusnya dan selamanya). Bagi kalangan ahli ekonomi, kenaikan gaji yang menggiring kenaikan permintaan serta harga barang tidak akan memberikan dampak yang buruk seandainya dapat ditekan di bawah 2 persen. Namun, karena pertumbuhan penduduk naik secara eksponensial super, vicious circle yang tercipta pun super tumbuhnya. Dan pokok/subjek yang digiring pertumbuhan super oleh pertumbuhan penduduk ini adalah industri serta lingkungan, yang sialnya memiliki batas.

Kembali merujuk buku yang ditulis anak-anak Club of Rome itu, untuk membuat miliaran manusia di bumi hidup bahagia, dengan mengesampingkan cinta, makanan perlu disiapkan. Sayangnya, karena manusia sudah meninggalkan tata-hidup berburu dan meramu sejak 10.000 tahun yang lalu, kebutuhan terhadap makanan hanya dapat diperoleh melalui ketergantungan terhadap industri. Dan karena jumlah penduduk tumbuh secara eksponensial, industri pun harus tumbuh dengan tingkat serupa, dari 7 persen pada 1963 hingga lebih dari 10 persen per tahun setelah itu. Tentu, karena industri dipacu untuk memproduksi barang mengikuti pertumbuhan manusia, terjadi eksploitasi terhadap bahan baku berupa mineral bumi yang terbatas jumlahnya.

Salah satu bahan baku yang dieksploitasi industri guna menghasilkan makanan adalah tanah.

Merujuk Food and Agriculture Organization (FAO), lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah pangan, hanya terdapat 3,2 miliar hektar tanah di bumi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk bercocok tanam. Dan di tahun di mana buku The Limits to Growth terbit, setengah luas tanah tersebut telah dimanfaatkan umat manusia dan kian mengerucut sisa tanah yang dapat dimanfaatkan setiap tahunnya. Dengan tanah yang kian mengerucut ini, terjadi pula kenaikan biaya pembukaan lahan pertanian baru, dari $215 per hektar sebelum 1970-an menjadi $5.275 per hektar setelahnya--dan terus meningkat. Tak ketinggalan, karena proses memproduksi makanan pun membutuhkan alat-alat berat dan teknologi mutakhir, meningkat pula eksploitasi terhadap bahan baku lain.

Untuk mendongkrak hasil pertanian sebesar 34 persen per tahun, misalnya, diperlukan pertumbuhan traktor sebesar 63 persen, pupuk nitrat sebesar 146 persen, dan pestisida sebesar 300 persen. Dan dengan kebutuhan alat-alat berat serta mineral yang meningkat, meningkat pula produksi gas rumah kaca di atmosfer bumi.

Akhirnya, menurut pemikiran Club of Rome serta dipertegas oleh anggota baru mereka bernama Gaya Herrington melalui studinya berjudul "Update to Limits to Growth: Comparing the World3 Model with Empirical Data" (Journal of Industrial Ecology 2020), seandainya vicious circle ini tak bisa ditekan peradaban manusia akan mulai menunjukkan kemerosotannya pada 2030 kelak. Bahkan, sangat mungkin lebih cepat terjadi gara-gara pandemi Covid-19.

Tentu, banyak pihak yang tak sepakat dengan prediksi masa depan ala Club of Rome ini. Bahkan, Peter Passell, melalui review-nya terhadap The Limits to Growth yang terbit di The New York Times (2 April 1972), menyebut bahwa prediksi Club of Rome "merupakan analisis omong kosong nan menyesatkan yang sewenang-wenang berasumsi dengan memanfaatkan sains komputer sebagai tamengnya." Review yang keras ini diberikan Passell karena menilai komputer, dengan segala permodelan liar Club of Rome melalui World3, tidak akan bisa menganalisis ke-kompleks-an hidup manusia. Terlebih, seperti yang sempat saya tulis di Tirto.id, ide-ide baru manusia modern berhasil meningkatkan kapasitas produksi serta efisiensi di segala bidang, termasuk soal minyak misalnya. Melalui komputer--yang ironisnya digunakan Club of Rome memprediksi kehancuran umat manusia pada 2030 kelak--Google, Microsoft, serta Amazon berhasil membuat Amerika Serikat meningkatkan produksi minyak mentahnya. Padahal, semenjak 1957 silam, Paman Sam percaya bahwa minyak mentah akan punah pada 2007.

Tak ketinggalan, meskipun terdengar seperti fiksi ilmiah, seandainya segala kebutuhan mineral untuk umat manusia benar-benar tak tersisa, sebagaimana ditulis Sam Spector dalam "Space Travel and the Limits to Growth" (Annals of Tourism Research 2019), manusia mungkin harus berterima kasih kepada Elon Musk dan Jeff Bezos yang menginisiasi SpaceX serta Blue Origin. Sebab, bulan misalnya, mengandung satu juta ton helium-3, mineral isotop non-radioaktif yang dapat digunakan sebagai bahan baku memproduksi listrik. Atau, ada pula 7.500 metrik ton platinum, 1.5 juta ton kobalt, dan 30 juta ton nikel di setiap asteroid yang mengangkasa.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



31 Juli 2021

Limits to Growth: Ketika Bocah-Bocah Ivy League Memprediksi Dunia Hancur pada 2030

Oleh: Ahmad Zaenudin


Apa yang paling menyenangkan dari menyimpan uang di bank?

Tentu, bunga adalah jawabannya. Seandainya saya menyimpan uang senilai Rp 1 juta dan bank menetapkan bunga sebesar 7 persen per tahun. Di tahun pertama uang tersebut akan bertambah Rp70.000, menjadi Rp1.070.000. Dan dari jumlah tersebut, dengan tingkat bunga yang serupa, Rp74.900 ditambahkan ke rekening saya setahun berikutnya dan Rp 80.143 tiba di tahun ketiga. Hingga, dalam waktu 11 tahun dan bunga yang diberikan bank tetap tak berubah, uang Rp 1 juta itu akhirnya berlipat ganda menjadi Rp 2 juta (atau Rp2.104.851,9523 tepatnya).

Secara sederhana, fenomena menyenangkan dari Rp 1 juta yang berlipat ganda menjadi Rp 2 juta disebut sebagai pertumbuhan eksponensial, yakni pertumbuhan yang melibatkan unsur-unsur yang berubah dari waktu ke waktu. Dari perandaian tersebut, unsur yang berubah adalah nilai tabungan yang bertambah setiap tahunnya gara-gara bunga. Masalahnya, tentu saja, meskipun perandaian ini sangat menyenangkan tidak ada bank yang memberikan bunga sebesar 7 persen per tahun, apalagi bank-bank besar (ehm.. BCA) umumnya enggan memberikan bunga sepeserpun pada tabungan kurang dari Rp 10 juta. Dan seandainya pun ada, nasabah harus berurusan dengan makhluk bernama pajak bunga (tax of interest) serta biaya administrasi bank yang membuat pertumbuhan eksponensial dari Rp 1 juta menjadi Rp 2 juta dalam tempo 11 tahun tak mungkin terjadi. Terlebih, sebagaimana dituturkan beberapa peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT), pertumbuhan eksponensial tak selamanya menyenangkan, bahkan di beberapa kasus cenderung mengkhawatirkan.

Pertumbuhan eksponensial yang tak menyenangkan serta mengkhawatirkan itu adalah pertumbuhan penduduk beserta dinamika sistem yang menyelimutinya.

Limits to Growth

Pada awal 1970-an silam, diinisiasi oleh sekelompok peneliti dan pengusaha multidisiplin dari/lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan beberapa kampus Ivy League, organisasi wadah pemikir (think tank) bernama Club of Rome didirikan di Winterthur, Swiss. Kala itu, diketuai peneliti bernama Dennis L. Meadows, Club of Rome mencoba menerka-nerka seperti apa keadaan dunia di masa depan melalui Project on the Predicament of Mankind. Memanfaatkan model matematis bernama "World3," yang menautkan data berbagai hal tentang manusia dan menganalisisnya melalui komputer, Project on the Predicament of Mankind, sebagaimana dipaparkan Meadows dan kawan-kawannya dalam buku berjudul The Limits to Growth: A Report for the Club of Rome's Project on the Predicament of Mankind (1972), berkesimpulan bahwa peradaban manusia akan menurun, dan cenderung hancur, pada 2030 kelak.

Suatu kesimpulan mengerikan yang berakar pada satu sebab: pertumbuhan manusia.

Bagi Club of Rome, selayaknya Thanos dalam fiksi yang digarap Marvel atau Bertrand Zobrist dalam novel Inferno, pertumbuhan penduduk merupakan biang kehancuran. Menurut mereka, melalui data yang dipaparkan, bumi diisi 0,5 miliar penduduk pada 1650 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,3 persen per tahun. Maka, untuk berlipat ganda dari 0,5 miliar menjadi 1 miliar penduduk, dibutuhkan waktu selama 250 tahun atau akan terjadi pada 1900. Namun, seiring dengan ditemukannya obat-obatan untuk menangani berbagai penyakit dan semakin berkualitasnya gizi yang diserap serta berkurangnya peperangan, kualitas hidup manusia (melalui angka harapan hidup) meningkat pula. Pada 1650, angka harapan hidup manusia di seluruh dunia berada di titik 30 tahun, lalu meningkat menjadi 53 tahun saat Club of Rome menerbitkan prediksi masa depan umat manusia tersebut (dan kini berada di titik 72,5 tahun). Melalui peningkatan kualitas hidup ini, pada 1970 atau 350 tahun sejak 1650, bumi diisi 3,6 miliar penduduk dengan tingkat pertumbuhan yang meningkat pula, yakni sebesar 2,1 persen per tahun alias jumlah penduduk akan berlipat ganda dalam tempo 33 tahun (atau pada 2003).

Artinya, tidak seperti pertumbuhan eksponensial tabungan di bank yang hanya berpatokan pada jumlah rupiah, dalam pertumbuhan penduduk terjadi fenomena "eksponensial super" di mana unsur-unsur yang berubah dari waktu ke waktu bukan hanya jumlah penduduk, tetapi juga persentase tingkat pertumbuhan. Melalui fenomena eksponensial super ini, tempo yang dibutuhkan umat manusia untuk berlipat ganda kian mengecil.

Di satu sisi, semakin pendeknya waktu yang diperlukan manusia untuk berlipat ganda karena kualitas hidup yang semakin meningkat sangat membahagiakan. Masalahnya, menurut Club of Rome, pertumbuhan penduduk yang lebih gila-gilaan dibandingkan uang Rp1 juta yang berlipat ganda menjadi Rp2 juta dalam tempo 11 tahun gara-gara bunga sebesar 7 persen ini menciptakan fenomena bernama "vicious circle" alias "feedback loop." Suatu fenomena yang membuat kenaikan gaji, misalnya, menggiring kenaikan permintaan terhadap barang/jasa, lalu kenaikan permintaan ini menggiring kenaikan harga barang/jasa, lalu kenaikan harga ini menggiring kenaikan gaji (dan seterusnya dan selamanya). Bagi kalangan ahli ekonomi, kenaikan gaji yang menggiring kenaikan permintaan serta harga barang tidak akan memberikan dampak yang buruk seandainya dapat ditekan di bawah 2 persen. Namun, karena pertumbuhan penduduk naik secara eksponensial super, vicious circle yang tercipta pun super tumbuhnya. Dan pokok/subjek yang digiring pertumbuhan super oleh pertumbuhan penduduk ini adalah industri serta lingkungan, yang sialnya memiliki batas.

Kembali merujuk buku yang ditulis anak-anak Club of Rome itu, untuk membuat miliaran manusia di bumi hidup bahagia, dengan mengesampingkan cinta, makanan perlu disiapkan. Sayangnya, karena manusia sudah meninggalkan tata-hidup berburu dan meramu sejak 10.000 tahun yang lalu, kebutuhan terhadap makanan hanya dapat diperoleh melalui ketergantungan terhadap industri. Dan karena jumlah penduduk tumbuh secara eksponensial, industri pun harus tumbuh dengan tingkat serupa, dari 7 persen pada 1963 hingga lebih dari 10 persen per tahun setelah itu. Tentu, karena industri dipacu untuk memproduksi barang mengikuti pertumbuhan manusia, terjadi eksploitasi terhadap bahan baku berupa mineral bumi yang terbatas jumlahnya.

Salah satu bahan baku yang dieksploitasi industri guna menghasilkan makanan adalah tanah.

Merujuk Food and Agriculture Organization (FAO), lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah pangan, hanya terdapat 3,2 miliar hektar tanah di bumi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk bercocok tanam. Dan di tahun di mana buku The Limits to Growth terbit, setengah luas tanah tersebut telah dimanfaatkan umat manusia dan kian mengerucut sisa tanah yang dapat dimanfaatkan setiap tahunnya. Dengan tanah yang kian mengerucut ini, terjadi pula kenaikan biaya pembukaan lahan pertanian baru, dari $215 per hektar sebelum 1970-an menjadi $5.275 per hektar setelahnya--dan terus meningkat. Tak ketinggalan, karena proses memproduksi makanan pun membutuhkan alat-alat berat dan teknologi mutakhir, meningkat pula eksploitasi terhadap bahan baku lain.

Untuk mendongkrak hasil pertanian sebesar 34 persen per tahun, misalnya, diperlukan pertumbuhan traktor sebesar 63 persen, pupuk nitrat sebesar 146 persen, dan pestisida sebesar 300 persen. Dan dengan kebutuhan alat-alat berat serta mineral yang meningkat, meningkat pula produksi gas rumah kaca di atmosfer bumi.

Akhirnya, menurut pemikiran Club of Rome serta dipertegas oleh anggota baru mereka bernama Gaya Herrington melalui studinya berjudul "Update to Limits to Growth: Comparing the World3 Model with Empirical Data" (Journal of Industrial Ecology 2020), seandainya vicious circle ini tak bisa ditekan peradaban manusia akan mulai menunjukkan kemerosotannya pada 2030 kelak. Bahkan, sangat mungkin lebih cepat terjadi gara-gara pandemi Covid-19.

Tentu, banyak pihak yang tak sepakat dengan prediksi masa depan ala Club of Rome ini. Bahkan, Peter Passell, melalui review-nya terhadap The Limits to Growth yang terbit di The New York Times (2 April 1972), menyebut bahwa prediksi Club of Rome "merupakan analisis omong kosong nan menyesatkan yang sewenang-wenang berasumsi dengan memanfaatkan sains komputer sebagai tamengnya." Review yang keras ini diberikan Passell karena menilai komputer, dengan segala permodelan liar Club of Rome melalui World3, tidak akan bisa menganalisis ke-kompleks-an hidup manusia. Terlebih, seperti yang sempat saya tulis di Tirto.id, ide-ide baru manusia modern berhasil meningkatkan kapasitas produksi serta efisiensi di segala bidang, termasuk soal minyak misalnya. Melalui komputer--yang ironisnya digunakan Club of Rome memprediksi kehancuran umat manusia pada 2030 kelak--Google, Microsoft, serta Amazon berhasil membuat Amerika Serikat meningkatkan produksi minyak mentahnya. Padahal, semenjak 1957 silam, Paman Sam percaya bahwa minyak mentah akan punah pada 2007.

Tak ketinggalan, meskipun terdengar seperti fiksi ilmiah, seandainya segala kebutuhan mineral untuk umat manusia benar-benar tak tersisa, sebagaimana ditulis Sam Spector dalam "Space Travel and the Limits to Growth" (Annals of Tourism Research 2019), manusia mungkin harus berterima kasih kepada Elon Musk dan Jeff Bezos yang menginisiasi SpaceX serta Blue Origin. Sebab, bulan misalnya, mengandung satu juta ton helium-3, mineral isotop non-radioaktif yang dapat digunakan sebagai bahan baku memproduksi listrik. Atau, ada pula 7.500 metrik ton platinum, 1.5 juta ton kobalt, dan 30 juta ton nikel di setiap asteroid yang mengangkasa.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play