Peta Tidak Sempurna


"Peta mengandung kisi-kisi mengapa menusia menjadi 'manusia'," tulis Simon Garfield dalam bukunya berjudul On The Map: Why the World Looks the Way it Does (2012). Peta, representasi dua dimensi untuk dunia tiga dimensi, "menghubungkan dan menyelaraskan kembali sejarah kita, merefleksikan yang buruk serta yang baik dari penjelajahan dan keingintahuan manusia." Suatu waktu, peta pernah menjadi senjata utama Barat mengokupasi Asia dan Afrika. Kini, melalui aplication programming interface (API) Google Maps, peta menjadi senjata utama Gojek, Grab, Uber, hingga AirBnB menjangkau masyarakat dengan buruh mereka--atau "mitra" dalam bahasa startup yang diagung-agungkan. Sialnya, selama ratusan tahun, peta tak pernah (dan tak akan pernah) sempurna.

Coba buka Google Maps, zoom-out ke titik maksimal, lalu arahkan ke Greenland--pulau yang berada di Samudra Arktik dan bersebalahan dengan Islandia dan Kanada. Pada Google Maps (dan penyedia peta lain), Greenland nampak sangat besar, memiliki luas setara dengan seluruh penjuru Afrika, hingga membuatnya lebih cocok disebut sebagai benua alih-alih hanya sebatas pulau. Faktanya, luas Greenland hanya sebesar 2,16 juta kilometer persegi, sementara itu luas Afrika adalah 30,37 juta kilometer persegi.

Kekeliruan yang dimuat peta tidak hanya soal Greenland. Di hampir semua peta dunia yang tersedia saat ini, entah cetak atau digital, Kanada dan Rusia menjadi terlalu luas. Padahal, andai peta Indonesia ditempatkan di koordinat yang ditempati Kanada dan Rusia (Anda dapat berimajinasi dengan mudah memanfaatkan aplikasi bernama The True Size), ujung-ke-ujung wilayah Indonesia sama panjangnya dengan Kanada, dan tak berbeda terlalu jauh dibandingkan Rusia. Serta, andai peta Indonesia ditaruh di wilayah Greenland, Indonesia akan menjadi jembatan penghubung Amerika Utara dan Eropa.

Yes, meskipun Google Maps, Bing Maps, OpenStreetMaps, atau peta apapun tidak tepat merefleksikan luas Greenland, Kanada, serta Rusia, mereka tak dapat disalahkan. Alasannya sederhana, bumi bulat. Dan seorang bernama Gerardus Mercator berdamai dengan fakta yang ditentang flat-earth-society ini ketika ia merefleksikan bumi dalam selembar kertas.

Marcator

"Ratusan tahun sebelum Masehi," tulis Andrew Taylor dalam bukunya berjudul World of Gerard Mercator: The Mapmaker Who Revolutionized Geography (2004), "Utara, Selatan, Barat, dan Timur bukan sebatas petunjuk arah mata angin semata, tetapi juga menunjukkan rasa keingintahuan manusia tentang wilayah yang masih samar." Kala itu, manusia memperoleh informasi tentang suatu wilayah bersumber dari para pelaut atau penjelajah--yang keabsahannya sukar diterima karena mereka acap kali melebih-lebihkan kisah perjalanan. 500 tahun sebelum Masehi, misalnya, sejawaran Yunani bernama Herodotus dikabari seorang nelayan asal Phoetic bahwa ia pernah menginjakkan kaki di "ujung Afrika," tanpa merinci ujung yang mana--dan apakah benar merujuk pada Afrika sebenarnya. Seratus tahun kemudian, penjelajah Yunani bernama Pythaes mengaku pernah berlayar "jauh ke bagian Selatan lautan hingga sampai ke negara Thule, negeri di mana Matahari terlelap. Dan jika terus berlayar ke Utara, kita akan sampai di tempat di mana tanah, laut, air, dan udara menyatu."

Sialnya, di masa-masa itu, penjelajahan dunia tengah gencar-gencarnya dilakukan hingga menyebabkan banyak kisah-kisah heroik nan puitis tentang suatu tempat muncul berlebihan. Tutur Taylor, "para penjelajah kembali dengan kargo yang mengasyikan, tetapi kisah-kisah yang mereka katakan (tentang suatu wilayah baru) sangat membingungkan. Tidak ada ketetapan pasti bagaimana bentuk bumi kala itu karena segalanya memungkinkan." Maka, di tengah rasa penasaran yang tinggi tentang dunia, kisah-kisah yang berlebihan itu menyadarkan betapa butuhnya manusia atas satu pusat informasi akurat tentang bumi.

Peta jawabannya.

Tatkala peta pertama kali muncul ke dunia, ia lebih menyerupai karya seni alih-alih sumber informasi kewilayahan. Tercatat, "Mappa di Mundi" merupakan peta pertama di dunia, yang dibuat empat ribu tahun lalu yang menggambarkan wilayah bernama Lembah Valcamonica di Italia dengan garis tak beraturan, lengkap dengan gambar binatang, belati, dan matahari. Konon, Mappa di Mundi dibuat untuk ritual, bukan menjadi petunjuk lokasi. Baru seabad kemudian, peta akhirnya bertransformasi menjadi bentuk yang lebih menjanjikan, yakni dengan lahirnya peta T-O. Dalam peta T-O, bumi digambarkan hanya diisi tiga benua, yakni Asia yang berada di Utara (ujung huruf T), Eropa di sebelah Barat, dan Afrika di bagian Timur. Di sekeliling tiga benua itu, samudera mengelilingi.

Masalahnya, karena peta-peta yang lahir di masa itu dibuat dengan merujuk kisah perjalanan para penjelajah, tidak ada keakuratan sama sekali dalam peta. Soal masalah ini, usaha pertama untuk membuat peta seakurat mungkin dilakukan oleh Ptolemy--meskipun Ptolemy tak pernah membuat satu pun peta--yang hidup seratus tahun usai kelahiran Yesus. Ptolemy memperbaiki peta dengan caranya sendiri, yakni mengumpulkan koordinat berbagai tempat di dunia, misalnya koordinat -6.371602057438448 dan 106.76891458386011 merupakan tempat di mana sebuah kota bernama Depok berada. Tentu, koordinat ala Ptolemy bukan merujuk pada titik-titik imajiner GPS, melainkan dengan merujuk pada refleksi matahari dan objek langit lainnya dengan bumi. Pengakuannya sendiri, ia menentukan "koordinat suatu tempat dengan mengukur sudut dan ketinggian dari surga." Kembali merujuk buku yang ditulis Taylor, kerja mencatat koordinat berbagai tempat di bumi oleh Ptolemy dilakukan karena ia jenius di bidang matematika, dan terlebih ia sangat yakin bahwa bumi berbentuk bulat. Didukung dengan statusnya sebagai pustakawan perpustakaan Alexandria yang agung itu, Ptolemy memperoleh banyak informasi dari para penjelajah ataupun cendikia.

Ptolemy, melalui bukunya berjudul Geographia, berhasil merangkum delapan ribu nama tempat--termasuk sungai, pegunungan, hingga peninsula--lengkap dengan koordinatnya. Namun, meskipun dianggap sebagai catatan terakurat--di zamannya, terdapat pula kesalahan fakta geografis, semisal dimasukannya "benua besar di sebalah Utara" yang dianggap Ptolemy harus ada untuk membuat bumi seimbang terhadap sumbu (axis)-nya. Dan usai Geographia terbit di sekitar abad ke-2 masehi, para kartografer (para pembuat peta) menjadikannya sebagai patokan menciptakan, termasuk sebagai rujukan utama pada peta yang dibawa Columbus menemukan "India."

Karena bumi bulat, rujukan seakurat Geographia tak mudah ditranslasikan dalam bentuk kertas dua dimensi oleh para kartografer. Mereka terpaksa harus "maklum" membuat peta yang, di satu sisi suatu wilayah melebar, mengkerut di sisi lainnya (kini, konsep peta ini disebut Plate Carree projection). Di Cina, misalnya, pejabat pemerintah bernama Phei Hsui membuat peta untuk Kekaisaran Chin dengan hanya merepresentasikan bumi yang bulat dengan kotak persegi panjang, seperti, tulis Taylor, "menebarkan jaring di atas bumi." Dan pada abad ke-8, cendikiawan Muslim di Arab memanfaatkan Geographia untuk membuat peta diplomatik yang menghubungkan dunia Arab dengan Cina. Sedihnya, peta tersebut dibumbui dengan lokasi-lokasi dalam kisah Sinbad. Namun, dunia Islam kala itu memperbarui peta buatan mereka secara lebih baik, merepresentasikan wilayah di sekitaran Teluk Arab, Laut Merah, dan Mediterania dengan Gunung Sinai sebagai pusatnya. Dan peta terbaik yang pernah dibuat dunia Arab tentang wilayah Arab adalah peta yang dibuat Ibnu Haukal, yang ia rilis dalam bukunya berjudul The Book of Roads and Kingdoms. Sementara itu, peta dunia terbaik dari kalangan Muslim dibuat oleh Muhammed al-Idrisi, cendikiawan asal Cordoba, yang sukses memetakan dengan apik wilayah dari Afrika hingga Eropa. Sebut Taylor, "peta buatan al-Idrisi merupakan peta paling akurat dari peta apapun yang ada di Eropa kala itu."

Dengan rujukan yang sama, kalangan kartografer di bawah kekuatan Sri Paus di Roma menciptakan "mappaemundi," peta dunia dengan Jerusalem sebagai pusatnya.

Baru pada abad pertengahan, peta yang benar-benar akurat akhirnya tiba. Terjadi karena Guttenberg berhasil menciptakan mesin cetak hingga membuat permintaan pasar atas peta meningkat drastis. Tak ketinggalan, kedatangan peta yang akuran pun terjadi karena peta-peta (dengan merujuk Ptolemy) yang digunakan pelaut/penjelajah kala itu tidak berguna untuk navigasi jarak jauh. Untuk berlayar, selain membawa peta, pelaut/penjelajah harus membawa bagan "portolon," bagan yang mendeskripsikan fitur/ciri suatu pantai tujuan. Ini dilakukan karena dengan hanya merujuk peta, kompas menjadi tidak berguna. Garis lurus di peta tak tepat menggambarkan lengkungan bumi. Tanpa portolon, pelaut/penjelajah mudah nyasar.

Ialah Gerardus Mercator yang berhasil menghadirkan peta akurat pada dunia. Pada 1538, Marcator merilis peta dunia, yang selain memanfaatkan sebagian data milik Ptolemy, juga menghadirkan teknik baru merefleksikan bumi bulat dalam kertas datar, yang kemudian dikenal dengan sebuat "Marcator projection." Karen Vezie, dalam studinya berjudul "Mercator’s Projection: A Comparative Analysis of Rhumb Lines and Great Circles" (2016), menyebut bahwa proyeksi Mercator merupakan proyeksi silinder, dengan asumsi bahwa bumi bulat. Dengan asumsi tersebut, Marcator membuat peta dengan tiga kondisi, yakni arah Utara-Selatan adalah arah vertikal (garis lintang), arah Timur-Barat adalah arah horizontal di mana panjang ekuator wajib dipertahankan (garis bujur), dan semua garis lurus pada peta merupakan garis-garis yang memiliki bantalan konstan. Dengan asumsi ini, bumi yang diproyeksikan silindir akhirnya menghasilkan keadaan di mana semakin ke Utara atau ke Selatan, jarak antar garis lintang meningkat.

Mercator sendiri tidak pernah mengungkap resep di balik keakuratan petanya. Namun, sebagaimana ditulis Marc Vis dalam skripsi untuk memperoleh gelar sarjana Matematika pada Ultrecht University berjudul "History of the Mercator Projection" (2018), berhasilnya Mercator membuat peta yang merepsentasikan bumi bulat pada selembar kertas terjadi atas andil Pedro Nunes. Nunes, pada 1537, memperkenalkan rhumb line atau loksodrom, yakni jalur antara dua titik di sebuah permukaan bola yang jika ditelusuri arahnya tidak pernah berubah. Atau, jika seseorang terus mengikuti arah kompas secara konstan, ia akan menemukan bahwa garis-garis ini berputar mengelilingi globe menuju kutub. Umumnya, meskipun sesungguhnya tak sama, loksodrom sering dianggap sebagai great circle. (Untuk memahami apa itu great circle, silakan tonton video Youtube ini. Jika bingung tentang proyeksi Mercator dan ingin lebih bingung, silakan kunjungi link Wolfram Alpha ini).

Dengan menggunakan rumus Spherical trigonometry (trigonometri bola), Nunes merangkum tabel loksodrom berbagai titik di dunia. Dan memanfaatkan tabel ini, serta data dari Ptolemy, Mercator sukses membuat peta yang akurat.

Tentu, maksud akurat di sini lebih merupakan "deal" antara bumi bulat dan kertas persegi panjang datar. Ini yang menjadikan Greenland terasa sangat besar di peta, atau kutub Utara dan Selatan seakan-akan memiliki luas tanpa batas karena Mercator memaklumkan garis lintang meningkat semakin ke arah kutub. Yang perlu diingat, proyeksi Mercator bukan satu-satunya usaha membuat peta seakurat mungkin--meminimalkan distorsi. Pada 1921, misalnya, lahir proyeksi Winkel-Tripel (proyeksi yang digunakan National Geographic). Lalu, ada pula proyeksi Gall-Peters pada 1973. Dan pada 1999, lahir proyeksi AuthaGraph oleh seorang Jepang bernama Hajime Narukawa. Terakhir, pada 2021 ini, J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, menyarankan peta "double-sided circle," alias peta yang dibuat dua bagian, satu merepresentasikan Belahan Bumi Utara dan satunya lagi merepresentasikan Belahan Bumi Selatan.




 

 

© 2016-2021 Madzae










Peta Tidak Sempurna


"Peta mengandung kisi-kisi mengapa menusia menjadi 'manusia'," tulis Simon Garfield dalam bukunya berjudul On The Map: Why the World Looks the Way it Does (2012). Peta, representasi dua dimensi untuk dunia tiga dimensi, "menghubungkan dan menyelaraskan kembali sejarah kita, merefleksikan yang buruk serta yang baik dari penjelajahan dan keingintahuan manusia." Suatu waktu, peta pernah menjadi senjata utama Barat mengokupasi Asia dan Afrika. Kini, melalui aplication programming interface (API) Google Maps, peta menjadi senjata utama Gojek, Grab, Uber, hingga AirBnB menjangkau masyarakat dengan buruh mereka--atau "mitra" dalam bahasa startup yang diagung-agungkan. Sialnya, selama ratusan tahun, peta tak pernah (dan tak akan pernah) sempurna.

Coba buka Google Maps, zoom-out ke titik maksimal, lalu arahkan ke Greenland--pulau yang berada di Samudra Arktik dan bersebalahan dengan Islandia dan Kanada. Pada Google Maps (dan penyedia peta lain), Greenland nampak sangat besar, memiliki luas setara dengan seluruh penjuru Afrika, hingga membuatnya lebih cocok disebut sebagai benua alih-alih hanya sebatas pulau. Faktanya, luas Greenland hanya sebesar 2,16 juta kilometer persegi, sementara itu luas Afrika adalah 30,37 juta kilometer persegi.

Kekeliruan yang dimuat peta tidak hanya soal Greenland. Di hampir semua peta dunia yang tersedia saat ini, entah cetak atau digital, Kanada dan Rusia menjadi terlalu luas. Padahal, andai peta Indonesia ditempatkan di koordinat yang ditempati Kanada dan Rusia (Anda dapat berimajinasi dengan mudah memanfaatkan aplikasi bernama The True Size), ujung-ke-ujung wilayah Indonesia sama panjangnya dengan Kanada, dan tak berbeda terlalu jauh dibandingkan Rusia. Serta, andai peta Indonesia ditaruh di wilayah Greenland, Indonesia akan menjadi jembatan penghubung Amerika Utara dan Eropa.

Yes, meskipun Google Maps, Bing Maps, OpenStreetMaps, atau peta apapun tidak tepat merefleksikan luas Greenland, Kanada, serta Rusia, mereka tak dapat disalahkan. Alasannya sederhana, bumi bulat. Dan seorang bernama Gerardus Mercator berdamai dengan fakta yang ditentang flat-earth-society ini ketika ia merefleksikan bumi dalam selembar kertas.

Marcator

"Ratusan tahun sebelum Masehi," tulis Andrew Taylor dalam bukunya berjudul World of Gerard Mercator: The Mapmaker Who Revolutionized Geography (2004), "Utara, Selatan, Barat, dan Timur bukan sebatas petunjuk arah mata angin semata, tetapi juga menunjukkan rasa keingintahuan manusia tentang wilayah yang masih samar." Kala itu, manusia memperoleh informasi tentang suatu wilayah bersumber dari para pelaut atau penjelajah--yang keabsahannya sukar diterima karena mereka acap kali melebih-lebihkan kisah perjalanan. 500 tahun sebelum Masehi, misalnya, sejawaran Yunani bernama Herodotus dikabari seorang nelayan asal Phoetic bahwa ia pernah menginjakkan kaki di "ujung Afrika," tanpa merinci ujung yang mana--dan apakah benar merujuk pada Afrika sebenarnya. Seratus tahun kemudian, penjelajah Yunani bernama Pythaes mengaku pernah berlayar "jauh ke bagian Selatan lautan hingga sampai ke negara Thule, negeri di mana Matahari terlelap. Dan jika terus berlayar ke Utara, kita akan sampai di tempat di mana tanah, laut, air, dan udara menyatu."

Sialnya, di masa-masa itu, penjelajahan dunia tengah gencar-gencarnya dilakukan hingga menyebabkan banyak kisah-kisah heroik nan puitis tentang suatu tempat muncul berlebihan. Tutur Taylor, "para penjelajah kembali dengan kargo yang mengasyikan, tetapi kisah-kisah yang mereka katakan (tentang suatu wilayah baru) sangat membingungkan. Tidak ada ketetapan pasti bagaimana bentuk bumi kala itu karena segalanya memungkinkan." Maka, di tengah rasa penasaran yang tinggi tentang dunia, kisah-kisah yang berlebihan itu menyadarkan betapa butuhnya manusia atas satu pusat informasi akurat tentang bumi.

Peta jawabannya.

Tatkala peta pertama kali muncul ke dunia, ia lebih menyerupai karya seni alih-alih sumber informasi kewilayahan. Tercatat, "Mappa di Mundi" merupakan peta pertama di dunia, yang dibuat empat ribu tahun lalu yang menggambarkan wilayah bernama Lembah Valcamonica di Italia dengan garis tak beraturan, lengkap dengan gambar binatang, belati, dan matahari. Konon, Mappa di Mundi dibuat untuk ritual, bukan menjadi petunjuk lokasi. Baru seabad kemudian, peta akhirnya bertransformasi menjadi bentuk yang lebih menjanjikan, yakni dengan lahirnya peta T-O. Dalam peta T-O, bumi digambarkan hanya diisi tiga benua, yakni Asia yang berada di Utara (ujung huruf T), Eropa di sebelah Barat, dan Afrika di bagian Timur. Di sekeliling tiga benua itu, samudera mengelilingi.

Masalahnya, karena peta-peta yang lahir di masa itu dibuat dengan merujuk kisah perjalanan para penjelajah, tidak ada keakuratan sama sekali dalam peta. Soal masalah ini, usaha pertama untuk membuat peta seakurat mungkin dilakukan oleh Ptolemy--meskipun Ptolemy tak pernah membuat satu pun peta--yang hidup seratus tahun usai kelahiran Yesus. Ptolemy memperbaiki peta dengan caranya sendiri, yakni mengumpulkan koordinat berbagai tempat di dunia, misalnya koordinat -6.371602057438448 dan 106.76891458386011 merupakan tempat di mana sebuah kota bernama Depok berada. Tentu, koordinat ala Ptolemy bukan merujuk pada titik-titik imajiner GPS, melainkan dengan merujuk pada refleksi matahari dan objek langit lainnya dengan bumi. Pengakuannya sendiri, ia menentukan "koordinat suatu tempat dengan mengukur sudut dan ketinggian dari surga." Kembali merujuk buku yang ditulis Taylor, kerja mencatat koordinat berbagai tempat di bumi oleh Ptolemy dilakukan karena ia jenius di bidang matematika, dan terlebih ia sangat yakin bahwa bumi berbentuk bulat. Didukung dengan statusnya sebagai pustakawan perpustakaan Alexandria yang agung itu, Ptolemy memperoleh banyak informasi dari para penjelajah ataupun cendikia.

Ptolemy, melalui bukunya berjudul Geographia, berhasil merangkum delapan ribu nama tempat--termasuk sungai, pegunungan, hingga peninsula--lengkap dengan koordinatnya. Namun, meskipun dianggap sebagai catatan terakurat--di zamannya, terdapat pula kesalahan fakta geografis, semisal dimasukannya "benua besar di sebalah Utara" yang dianggap Ptolemy harus ada untuk membuat bumi seimbang terhadap sumbu (axis)-nya. Dan usai Geographia terbit di sekitar abad ke-2 masehi, para kartografer (para pembuat peta) menjadikannya sebagai patokan menciptakan, termasuk sebagai rujukan utama pada peta yang dibawa Columbus menemukan "India."

Karena bumi bulat, rujukan seakurat Geographia tak mudah ditranslasikan dalam bentuk kertas dua dimensi oleh para kartografer. Mereka terpaksa harus "maklum" membuat peta yang, di satu sisi suatu wilayah melebar, mengkerut di sisi lainnya (kini, konsep peta ini disebut Plate Carree projection). Di Cina, misalnya, pejabat pemerintah bernama Phei Hsui membuat peta untuk Kekaisaran Chin dengan hanya merepresentasikan bumi yang bulat dengan kotak persegi panjang, seperti, tulis Taylor, "menebarkan jaring di atas bumi." Dan pada abad ke-8, cendikiawan Muslim di Arab memanfaatkan Geographia untuk membuat peta diplomatik yang menghubungkan dunia Arab dengan Cina. Sedihnya, peta tersebut dibumbui dengan lokasi-lokasi dalam kisah Sinbad. Namun, dunia Islam kala itu memperbarui peta buatan mereka secara lebih baik, merepresentasikan wilayah di sekitaran Teluk Arab, Laut Merah, dan Mediterania dengan Gunung Sinai sebagai pusatnya. Dan peta terbaik yang pernah dibuat dunia Arab tentang wilayah Arab adalah peta yang dibuat Ibnu Haukal, yang ia rilis dalam bukunya berjudul The Book of Roads and Kingdoms. Sementara itu, peta dunia terbaik dari kalangan Muslim dibuat oleh Muhammed al-Idrisi, cendikiawan asal Cordoba, yang sukses memetakan dengan apik wilayah dari Afrika hingga Eropa. Sebut Taylor, "peta buatan al-Idrisi merupakan peta paling akurat dari peta apapun yang ada di Eropa kala itu."

Dengan rujukan yang sama, kalangan kartografer di bawah kekuatan Sri Paus di Roma menciptakan "mappaemundi," peta dunia dengan Jerusalem sebagai pusatnya.

Baru pada abad pertengahan, peta yang benar-benar akurat akhirnya tiba. Terjadi karena Guttenberg berhasil menciptakan mesin cetak hingga membuat permintaan pasar atas peta meningkat drastis. Tak ketinggalan, kedatangan peta yang akuran pun terjadi karena peta-peta (dengan merujuk Ptolemy) yang digunakan pelaut/penjelajah kala itu tidak berguna untuk navigasi jarak jauh. Untuk berlayar, selain membawa peta, pelaut/penjelajah harus membawa bagan "portolon," bagan yang mendeskripsikan fitur/ciri suatu pantai tujuan. Ini dilakukan karena dengan hanya merujuk peta, kompas menjadi tidak berguna. Garis lurus di peta tak tepat menggambarkan lengkungan bumi. Tanpa portolon, pelaut/penjelajah mudah nyasar.

Ialah Gerardus Mercator yang berhasil menghadirkan peta akurat pada dunia. Pada 1538, Marcator merilis peta dunia, yang selain memanfaatkan sebagian data milik Ptolemy, juga menghadirkan teknik baru merefleksikan bumi bulat dalam kertas datar, yang kemudian dikenal dengan sebuat "Marcator projection." Karen Vezie, dalam studinya berjudul "Mercator’s Projection: A Comparative Analysis of Rhumb Lines and Great Circles" (2016), menyebut bahwa proyeksi Mercator merupakan proyeksi silinder, dengan asumsi bahwa bumi bulat. Dengan asumsi tersebut, Marcator membuat peta dengan tiga kondisi, yakni arah Utara-Selatan adalah arah vertikal (garis lintang), arah Timur-Barat adalah arah horizontal di mana panjang ekuator wajib dipertahankan (garis bujur), dan semua garis lurus pada peta merupakan garis-garis yang memiliki bantalan konstan. Dengan asumsi ini, bumi yang diproyeksikan silindir akhirnya menghasilkan keadaan di mana semakin ke Utara atau ke Selatan, jarak antar garis lintang meningkat.

Mercator sendiri tidak pernah mengungkap resep di balik keakuratan petanya. Namun, sebagaimana ditulis Marc Vis dalam skripsi untuk memperoleh gelar sarjana Matematika pada Ultrecht University berjudul "History of the Mercator Projection" (2018), berhasilnya Mercator membuat peta yang merepsentasikan bumi bulat pada selembar kertas terjadi atas andil Pedro Nunes. Nunes, pada 1537, memperkenalkan rhumb line atau loksodrom, yakni jalur antara dua titik di sebuah permukaan bola yang jika ditelusuri arahnya tidak pernah berubah. Atau, jika seseorang terus mengikuti arah kompas secara konstan, ia akan menemukan bahwa garis-garis ini berputar mengelilingi globe menuju kutub. Umumnya, meskipun sesungguhnya tak sama, loksodrom sering dianggap sebagai great circle. (Untuk memahami apa itu great circle, silakan tonton video Youtube ini. Jika bingung tentang proyeksi Mercator dan ingin lebih bingung, silakan kunjungi link Wolfram Alpha ini).

Dengan menggunakan rumus Spherical trigonometry (trigonometri bola), Nunes merangkum tabel loksodrom berbagai titik di dunia. Dan memanfaatkan tabel ini, serta data dari Ptolemy, Mercator sukses membuat peta yang akurat.

Tentu, maksud akurat di sini lebih merupakan "deal" antara bumi bulat dan kertas persegi panjang datar. Ini yang menjadikan Greenland terasa sangat besar di peta, atau kutub Utara dan Selatan seakan-akan memiliki luas tanpa batas karena Mercator memaklumkan garis lintang meningkat semakin ke arah kutub. Yang perlu diingat, proyeksi Mercator bukan satu-satunya usaha membuat peta seakurat mungkin--meminimalkan distorsi. Pada 1921, misalnya, lahir proyeksi Winkel-Tripel (proyeksi yang digunakan National Geographic). Lalu, ada pula proyeksi Gall-Peters pada 1973. Dan pada 1999, lahir proyeksi AuthaGraph oleh seorang Jepang bernama Hajime Narukawa. Terakhir, pada 2021 ini, J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, menyarankan peta "double-sided circle," alias peta yang dibuat dua bagian, satu merepresentasikan Belahan Bumi Utara dan satunya lagi merepresentasikan Belahan Bumi Selatan.


 

 

© 2016-2021 Madzae