1 Agustus 2021

Menghitung Modal Menjadi Pengemudi Gojek

Oleh: Ahmad Zaenudin


Stasiun Pasar Minggu. Lonceng pertanda kedatangan kereta berbunyi nyaring. Para tukang ojek bersiap di luar. Berjajar, senyum keramah-tamahan dipertontonkan. Tak lama berselang, segerombolan penumpang berhamburan ke luar. Seketika, senyum menghilang dari para tukang ojek itu. Para penumpang, memilih menyapa tukang ojek melalui aplikasi.

Penggunaan ojek berbasis aplikasi menjadi tren saat ini. Google Play menyatakan aplikasi Go-Jek telah dipasang antara 10 juta hingga 50 juta di smartphone Android. Aplikasi Grab, lebih tinggi. Ia telah dipasang antara 50 juta hingga 100 juta. Dan yang paling tinggi tersemat pada Uber. Aplikasi ride-sharing asal Amerika Serikat itu telah dipasang antara 100 juta hingga 500 juta di smartphone Android.

Meskipun Go-Jek bukanlah pelopor tema aplikasi ride-sharing, tak bisa dipungkiri tren ojek online, khususnya di Indonesia, dipopulerkan oleh startup yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu.

“Kami sangat menghormati Uber sebagai perusahaan teknologi. Tapi kami melakukan inovasi melampaui mereka. Kami bergerak lebih cepat,” terang Nadiem Makarim, sang Chief Executive Officer, pada Financial Review

Kepopuleran ojek online, khususnya Go-Jek, pun didukung oleh kondisi jalanan di Indonesia, khususnya Jakarta. Macet yang semakin parah membuat ride-sharing berbasis motor jauh lebih disukai dibandingkan ride-sharing berbasis mobil.

Populernya Gojek berimbas pada jumlah driver mereka. Klaim Go-Jek, kini mereka memiliki lebih dari 400 ribu driver di 50 kota di Indonesia yang dijajaki. 

Menjadi driver Go-Jek tentu tak sama dibandingkan menjadi pekerja kantoran atau pekerja formal lainnya. Pendapatan yang naik-turun menjadi santapan bulanan mereka. Menjadi driver Go-Jek lebih serupa menjadi pedagang atau pengusaha kecil lainnya. Pendapatan mesti ditebus dulu dengan modal yang disetor di awal. Bagi seorang pengemudi Go-Jek modal itu ialah: pulsa, data, dan bensin sepeda motor.

Wahyu, driver Go-Jek yang menggunakan Honda Vario, misalnya. Untuk pulsa telepon ia mengaku menghabiskan uang senilai Rp25.000 per minggu. Selanjutnya, untuk menghubungkan smartphone yang digunakannya ke jaringan internet, agar aplikasi Go-Jek-nya dapat bekerja, Wahyu mengaku menghabiskan uang senilai Rp60.000 per bulan. Terakhir, sebagai modal, Wahyu wajib mengisi bensin kendaraannya sebesar Rp20.000 hingga Rp25.000 per hari. Tergantung seberapa lama ia mengemudi. Menurut pengakuannya, Wahyu mengemudi Go-Jek sejak jam 9.00 pagi hingga 10.00 malam.

Dengan asumsi Wahyu mengambil libur satu hari tiap pekan, uang sebesar Rp.640.000 hingga Rp760.000 wajib disiapkan Wahyu sebagai modal menjadi driver Go-Jek.

Tak berbeda dengan Wahyu, Zulfikar, driver Go-Jek dengan motor Yamaha Vixion, pun melakukan hal yang sama. Pertama, Zulfikar menyiapkan uang senilai Rp60.000 per bulan. Uang itu dipakainya untuk membeli paket data internet. Selanjutnya, ia kemudian mengeluarkan uang senilai Rp20.000, khusus untuk pulsa telepon.

Selain untuk data dan telepon, Zulfikar mengaku menghabiskan uang senilai Rp35.000 untuk bahan bakar motornya yang digeber dari sekitar jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Artinya, dengan asumsi Zulfikar mengambil satu hari libur tiap pekannya, ia wajib menyiapkan dana senilai Rp1.380.000 per bulan guna menjadi driver Go-Jek.

Terakhir, modal menjadi seorang driver Go-Jek pun wajib disiapkan Rony Indrawan. Driver Go-Jek yang menggunakan motor Yamaha Jupiter. Menurut penuturannya, Rony mengaku mengeluarkan biaya Rp60.000 untuk membeli paket data. Paket itu ialah paket khusus Go-Jek, hasil kerjasama antara Gojek dengan Telkomsel. Rp60.000 ditukar dengan data sebesar 1GB serta 200 menit layanan telpon. 

“Cukup 1 GB (untuk menjalankan aplikasi Go-Jek sebulan), kalau nggak diganggu apa-apa. Kalau mau lebih aman 2GB,” ucap Rony mengomentari data yang wajib disiapkannya.

Namun, menurut pengakuannya, Rony masih harus menyiapkan Rp15.000 untuk 2 hari bagi pulsa telepon. Terakhir, Rony mengeluarkan uang hingga Rp40.000 untuk membeli bahan bakar motornya.

Dengan demikian, diasumsikan Rony hanya bekerja 6 hari tiap pekannya, ia kemudian membutuhkan modal senilai Rp1.200.000 untuk bekerja sebagai driver Go-Jek.

Dengan modal yang berbeda-beda itu, berapa masing-masing driver Go-Jek memperoleh pendapatan?

Dari laman resmi Go-Jek, tarif layanan Go-Ride, nama resmi layanan ride-sharing berbasis motor mereka, dipatok sebesar Rp1.500 per kilometer, untuk 10 kilometer pertama. Selanjutnya, jika melebihi 10 kilometer, tarif berubah menjadi Rp3.000 per kilometer semenjak 10 kilometer + 0,01 kilometer. Tarif berbeda diberlakukan Go-Jek pada wilayah-wilayah tertentu. 

Honda Vario, motor yang digunakan Wahyu untuk menjadi driver Go-Jek, memiliki nilai konsumsi bahan bakar 59 kilometer per liter. Dengan asumsi ia memilih bahan bakar berjenis Premium, dengan motornya itu Wahyu kemudian dapat mencapai jarak 177 kilometer hingga 224,2 kilometer. Kemudian, menurut pengakuannya, memperoleh 15 penumpang per hari. Jika dirata-ratakan, artinya tiap penumpang Wahyu pergi dengan jarak 11,8 kilometer hingga 14,9 kilometer. Dengan demikian, Wahyu memperoleh pendapatan Rp7.560.000 hingga Rp10.800.000 per bulan.

Jika dikurangi dengan modal awal seperti yang disebutkan di atas, Wahyu dapat mengantongi uang Rp6.800.000 hingga Rp10.040.000. 

Sementara itu, Zulfikar, menggunakan motor Yamaha Vixion untuk bekerja sebagai driver Go-Jek. Yamaha Vixion, rata-rata menghabiskan 1 liter bahan bakar untuk menempuh jarak sepanjang 37,5 kilometer. Uang sebesar Rp35.000 per hari untuk membeli bahan bakar, jika diasumsikan memilih Premium, artinya memampukan Zulfikar menempuh jarak sejauh 199.81 kilometer. Dan menurut pengakuannya, Zulfikar memperoleh 15 penumpang per hari. Dirata-ratakan, tiap penumpang kemudian menempuh jarak sejauh 13,3 kilometer. Artinya, pendapatan Zulfikar tiap hari bisa mencapai Rp405.000 per hari alias Rp9.720.000. Dikurangi modal, ia kemudian dapat membawa pulang uang senilai Rp8.340.000.

Sayangnya, driver Go-Jek selanjutnya, Rony, tak mau mengungkap berapa penumpang yang didapatnya per hari. Ia kemudian mengaku bekerja tak menentu sebagai driver Go-Jek.

Perlu diingat, angka pendapatan yang tertera di atas belum memasukkan biaya konsumsi yang diperlukan driver Go-Jek mencari nafkah dari pagi hingga malam hari. Selain itu, jarak tempuh penumpang yang dihitung merupakan jarak rata-rata dengan mengasumsikan uang yang dipakai membeli bahan bakar keseluruhan dipakai hanya untuk mengantarkan penumpang. Tidak untuk kebutuhan transportasi lain.

Biaya jajan, rokok, perawatan sepeda motor, parkir, hingga fluktuatifnya jumlah penumpang, tak juga diperhitungkan pada pembahasan di atas. Terakhir, pembagian keuntungan antara pihak Go-Jek dan driver pun tak turut dimasukkan. Namun, jika melihat sekilas, pendapatan tersebut jauh lebih menggiurkan bila dibandingkan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta. Pada 2018, UMP dipatok sebesar Rp3.648.035.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



1 Agustus 2021

Menghitung Modal Menjadi Pengemudi Gojek

Oleh: Ahmad Zaenudin


Stasiun Pasar Minggu. Lonceng pertanda kedatangan kereta berbunyi nyaring. Para tukang ojek bersiap di luar. Berjajar, senyum keramah-tamahan dipertontonkan. Tak lama berselang, segerombolan penumpang berhamburan ke luar. Seketika, senyum menghilang dari para tukang ojek itu. Para penumpang, memilih menyapa tukang ojek melalui aplikasi.

Penggunaan ojek berbasis aplikasi menjadi tren saat ini. Google Play menyatakan aplikasi Go-Jek telah dipasang antara 10 juta hingga 50 juta di smartphone Android. Aplikasi Grab, lebih tinggi. Ia telah dipasang antara 50 juta hingga 100 juta. Dan yang paling tinggi tersemat pada Uber. Aplikasi ride-sharing asal Amerika Serikat itu telah dipasang antara 100 juta hingga 500 juta di smartphone Android.

Meskipun Go-Jek bukanlah pelopor tema aplikasi ride-sharing, tak bisa dipungkiri tren ojek online, khususnya di Indonesia, dipopulerkan oleh startup yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu.

“Kami sangat menghormati Uber sebagai perusahaan teknologi. Tapi kami melakukan inovasi melampaui mereka. Kami bergerak lebih cepat,” terang Nadiem Makarim, sang Chief Executive Officer, pada Financial Review

Kepopuleran ojek online, khususnya Go-Jek, pun didukung oleh kondisi jalanan di Indonesia, khususnya Jakarta. Macet yang semakin parah membuat ride-sharing berbasis motor jauh lebih disukai dibandingkan ride-sharing berbasis mobil.

Populernya Gojek berimbas pada jumlah driver mereka. Klaim Go-Jek, kini mereka memiliki lebih dari 400 ribu driver di 50 kota di Indonesia yang dijajaki. 

Menjadi driver Go-Jek tentu tak sama dibandingkan menjadi pekerja kantoran atau pekerja formal lainnya. Pendapatan yang naik-turun menjadi santapan bulanan mereka. Menjadi driver Go-Jek lebih serupa menjadi pedagang atau pengusaha kecil lainnya. Pendapatan mesti ditebus dulu dengan modal yang disetor di awal. Bagi seorang pengemudi Go-Jek modal itu ialah: pulsa, data, dan bensin sepeda motor.

Wahyu, driver Go-Jek yang menggunakan Honda Vario, misalnya. Untuk pulsa telepon ia mengaku menghabiskan uang senilai Rp25.000 per minggu. Selanjutnya, untuk menghubungkan smartphone yang digunakannya ke jaringan internet, agar aplikasi Go-Jek-nya dapat bekerja, Wahyu mengaku menghabiskan uang senilai Rp60.000 per bulan. Terakhir, sebagai modal, Wahyu wajib mengisi bensin kendaraannya sebesar Rp20.000 hingga Rp25.000 per hari. Tergantung seberapa lama ia mengemudi. Menurut pengakuannya, Wahyu mengemudi Go-Jek sejak jam 9.00 pagi hingga 10.00 malam.

Dengan asumsi Wahyu mengambil libur satu hari tiap pekan, uang sebesar Rp.640.000 hingga Rp760.000 wajib disiapkan Wahyu sebagai modal menjadi driver Go-Jek.

Tak berbeda dengan Wahyu, Zulfikar, driver Go-Jek dengan motor Yamaha Vixion, pun melakukan hal yang sama. Pertama, Zulfikar menyiapkan uang senilai Rp60.000 per bulan. Uang itu dipakainya untuk membeli paket data internet. Selanjutnya, ia kemudian mengeluarkan uang senilai Rp20.000, khusus untuk pulsa telepon.

Selain untuk data dan telepon, Zulfikar mengaku menghabiskan uang senilai Rp35.000 untuk bahan bakar motornya yang digeber dari sekitar jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Artinya, dengan asumsi Zulfikar mengambil satu hari libur tiap pekannya, ia wajib menyiapkan dana senilai Rp1.380.000 per bulan guna menjadi driver Go-Jek.

Terakhir, modal menjadi seorang driver Go-Jek pun wajib disiapkan Rony Indrawan. Driver Go-Jek yang menggunakan motor Yamaha Jupiter. Menurut penuturannya, Rony mengaku mengeluarkan biaya Rp60.000 untuk membeli paket data. Paket itu ialah paket khusus Go-Jek, hasil kerjasama antara Gojek dengan Telkomsel. Rp60.000 ditukar dengan data sebesar 1GB serta 200 menit layanan telpon. 

“Cukup 1 GB (untuk menjalankan aplikasi Go-Jek sebulan), kalau nggak diganggu apa-apa. Kalau mau lebih aman 2GB,” ucap Rony mengomentari data yang wajib disiapkannya.

Namun, menurut pengakuannya, Rony masih harus menyiapkan Rp15.000 untuk 2 hari bagi pulsa telepon. Terakhir, Rony mengeluarkan uang hingga Rp40.000 untuk membeli bahan bakar motornya.

Dengan demikian, diasumsikan Rony hanya bekerja 6 hari tiap pekannya, ia kemudian membutuhkan modal senilai Rp1.200.000 untuk bekerja sebagai driver Go-Jek.

Dengan modal yang berbeda-beda itu, berapa masing-masing driver Go-Jek memperoleh pendapatan?

Dari laman resmi Go-Jek, tarif layanan Go-Ride, nama resmi layanan ride-sharing berbasis motor mereka, dipatok sebesar Rp1.500 per kilometer, untuk 10 kilometer pertama. Selanjutnya, jika melebihi 10 kilometer, tarif berubah menjadi Rp3.000 per kilometer semenjak 10 kilometer + 0,01 kilometer. Tarif berbeda diberlakukan Go-Jek pada wilayah-wilayah tertentu. 

Honda Vario, motor yang digunakan Wahyu untuk menjadi driver Go-Jek, memiliki nilai konsumsi bahan bakar 59 kilometer per liter. Dengan asumsi ia memilih bahan bakar berjenis Premium, dengan motornya itu Wahyu kemudian dapat mencapai jarak 177 kilometer hingga 224,2 kilometer. Kemudian, menurut pengakuannya, memperoleh 15 penumpang per hari. Jika dirata-ratakan, artinya tiap penumpang Wahyu pergi dengan jarak 11,8 kilometer hingga 14,9 kilometer. Dengan demikian, Wahyu memperoleh pendapatan Rp7.560.000 hingga Rp10.800.000 per bulan.

Jika dikurangi dengan modal awal seperti yang disebutkan di atas, Wahyu dapat mengantongi uang Rp6.800.000 hingga Rp10.040.000. 

Sementara itu, Zulfikar, menggunakan motor Yamaha Vixion untuk bekerja sebagai driver Go-Jek. Yamaha Vixion, rata-rata menghabiskan 1 liter bahan bakar untuk menempuh jarak sepanjang 37,5 kilometer. Uang sebesar Rp35.000 per hari untuk membeli bahan bakar, jika diasumsikan memilih Premium, artinya memampukan Zulfikar menempuh jarak sejauh 199.81 kilometer. Dan menurut pengakuannya, Zulfikar memperoleh 15 penumpang per hari. Dirata-ratakan, tiap penumpang kemudian menempuh jarak sejauh 13,3 kilometer. Artinya, pendapatan Zulfikar tiap hari bisa mencapai Rp405.000 per hari alias Rp9.720.000. Dikurangi modal, ia kemudian dapat membawa pulang uang senilai Rp8.340.000.

Sayangnya, driver Go-Jek selanjutnya, Rony, tak mau mengungkap berapa penumpang yang didapatnya per hari. Ia kemudian mengaku bekerja tak menentu sebagai driver Go-Jek.

Perlu diingat, angka pendapatan yang tertera di atas belum memasukkan biaya konsumsi yang diperlukan driver Go-Jek mencari nafkah dari pagi hingga malam hari. Selain itu, jarak tempuh penumpang yang dihitung merupakan jarak rata-rata dengan mengasumsikan uang yang dipakai membeli bahan bakar keseluruhan dipakai hanya untuk mengantarkan penumpang. Tidak untuk kebutuhan transportasi lain.

Biaya jajan, rokok, perawatan sepeda motor, parkir, hingga fluktuatifnya jumlah penumpang, tak juga diperhitungkan pada pembahasan di atas. Terakhir, pembagian keuntungan antara pihak Go-Jek dan driver pun tak turut dimasukkan. Namun, jika melihat sekilas, pendapatan tersebut jauh lebih menggiurkan bila dibandingkan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta. Pada 2018, UMP dipatok sebesar Rp3.648.035.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play