25 Juli 2021

Ketika Amerika Tidak Pernah Kehabisan Minyak

Oleh: Ahmad Zaenudin


“Ini adalah pertemuan terburuk sepanjang sejarah OPEC yang saya ketahui,” tegas Bijan Zanganeh, Menteri Urusan Perminyakan Iran, mengomentari pertemuan OPEC+ di Vienna, Austria.

OPEC+, gabungan negara anggota OPEC dan yang bukan, mengadakan pertemuan darurat awal Maret 2020 lalu. Agendanya “sederhana,” karena ekonomi dunia tengah sekarat akibat virus corona, tetapi produksi minyak terlalu berlebihan, Saudi --ketua de-facto OPEC-- punya usul: Produksi minyak harus dipotong.

Usulan Saudi merupakan respon lanjutan atas situasi terkini terkait corona. Di awal Februari, dan atas inisiatif Saudi pula, OPEC menetapkan kebijakan pemotongan produksi minyak dunia sebesar 2,1 juta barel per hari. Namun, kebijakan OPEC itu hanya berlaku hingga akhir Maret. Bukannya kian membaik, corona malah makin ganas menghancurkan ekonomi dunia. Saudi kemudian ingin pemotongan produksi minyak dilanjutkan dan angka pemangkasannya ditambah 1,5 juta barel per hari.

Rusia menolak. Penolakan tercipta karena mereka ragu apakah pemotongan kapasitas produksi adalah kebijakan yang tepat.

Sayangnya, sebelum pertemuan OPEC+ resmi berakhir, Saudi mengejutkan semua pihak. Mereka resmi memutuskan memangkas produksi minyak, dan berharap anggota OPEC melakukan langkah serupa, serta, bagi negara non-OPEC, mereka mau memotong kapasitas produksi hingga 500 ribu barel per hari.

Tidak ada kesepakatan lahir dalam OPEC+. Saudi dan Rusia kukuh dengan pendiriannya masing-masing.

Atas situasi OPEC+, harga minyak mentah dunia anjlok. May Brent, yang jadi patokan harga minyak internasional, mematok harga minyak mentah di angka $34,36 per barel, lebih rendah $10,91 sebelum pertemuan Vienna dilakukan. Di Amerika Serikat, melalui April West Texas Intermediate, harga minyak mentah per barel berada di angka $31,13, merosot $10,15 dari harga sebelumnya.

Harga minyak mentah pasca pertemuan Vienna adalah yang terendah sejak 2016, dan besaran persentase penurunan harganya merupakan yang terparah sejak Perang Teluk, Januari 1991 silam.

Jason Bordoff, mantan Direktur Senior U.S. National Security Council dan penasihat khusus Presiden Barack Obama, dalam tulisannya di Foreign Policy, menyatakan: mungkin benar bahwa kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Saudi dilakukan dalam rangka merespon corona, tetapi, jika dilihat lebih dalam, yang sesungguhnya disasar Saudi --juga Rusia sebagai duo negara produsen minyak terbesar-- adalah Amerika Serikat.

Selalu Gagal Kehabisan Minyak

Pada 1957, dalam rangka bermain dengan kapsul waktu, masyarakat di Tulsa, Oklahoma, AS mengubur mobil Plymouth Belvedere, beserta benda-benda lainnya yang populer di zaman itu. Tak lupa, karena yakin bahwa di tahun 2007 (tahun yang direncanakan untuk membongkar kapsul waktu) dunia akan kehabisan bensin, mobil dikubur dengan menyertakan beberapa botol bensin.

Ketika kapsul waktu, dan Plymouth Belvedere, itu dibongkar, bensin masih melimpah di AS.

Matt Novak, dalam tulisannya di Gizmodo, menegaskan bahwa Amerika Serikat sering memprediksi ujung kelangsungan minyak mereka. Uniknya, prediksi-prediksi yang dilakukan selalu berakhir gagal. Pada 1909, termuat dalam Titusville Herald, “minyak bumi telah digunakan tidak kurang dari 50 tahun, dan diperkirakan bahwa cadangan minyak hanya akan cukup 25 atau 30 tahun lagi.

Hingga 1939, tahun sesuai prediksi, minyak bumi AS aman-aman saja.

Sebagaimana diberitakan Brooklyn Daily Eagle, pada 9 Maret 1937, Kapten H. A. Stuart, Direktur Naval Petroleum Reserves, menyatakan bahwa minyak bumi “diperkirakan hanya cukup hingga 15 tahun mendatang.”

Pada 1952, lagi, minyak bumi AS aman-aman saja.

Dalam pemberitaan Corpus Christi Times tertanggal 9 Maret 1957, menyatakan bahwa “berdasarkan M. King Hubbert dari Shell Development Co, batas puncak produksi minyak akan tercipta dalam 10 hingga 15 tahun mendatang dan selepasnya produksi akan kian menurun.”

Pada 1972, lagi-lagi, minyak bumi AS aman-aman saja.

Terakhir, termuat dalam Bulletin of the ATomic Scientist yang terbit pada Mei 1972, tegas menyatakan bahwa “bagaimanapun, kapasitas produksi minyak AS hanya akan bertahan dalam 20 tahun.”

Pada 1992, tahun yang diprediksi menjadi akhir riwayat perminyakan AS, minyak berlimpah.

Prediksi dan hasil akhir yang menyatakan sebaliknya --yang jelas membuat AS senang-- terus terulang. Pertanyaannya, kok bisa?

Semenjak pertama kali melakukan pengeboran minyak pada tahun 1859 di Drake Well, Titusville, Pennsylvania, AS tak berhenti berinovasi untuk menghasilkan minyak. Adam Cole, dalam penjelasannya di Vox, menyebut bahwa teknologi tak pernah lupa digunakan untuk menemukan ladang baru pengeboran minyak. Awalnya, AS hanya menggunakan seismic scans guna mengetahui lebih presisi ada apa di balik kulit Bumi. Perlahan, perusahaan-perusahaan minyak Amerika menggunakan satelit, LIDAR, hingga pendekatan magnetik untuk mendeteksi keberadaan minyak bumi di tanah Paman Sam.

Namun, salah satu teknik yang paling mencengangkan, yang sukses membuat minyak bumi AS berlimpah lagi ialah sebuah teknik bernama hydraulic fracturing. Hydraulic fracturing merupakan suatu proses di mana cairan bertekanan tinggi disuntikkan ke dalam formasi batuan yang mengandung minyak atau gas untuk membuat rekahan. Melalui teknik ini, batuan sedimen berbutir halus kaya organik yang mengandung kerogen, mencuat dan dapat hidrokarbon cair atau minyak serpih lahir.

Tentu, teknik hydraulic fracturing saja tak cukup. Perusahaan-perusahaan minyak AS bekerjasama dengan perusahaan teknologi asal silicon valley, seperti Google, IBM, Amazon, hingga Microsoft untuk menghasilkan minyak. Bahkan, guna menangkap peluang bisnis dengan perusahaan minyak lebih baik, Google mendirikan divisi baru, divisi minyak, gas, dan energi yang dikepalai Darryl Willis, veteran BP (British Petroleum).

Selepas pembentukan divisi baru, Google bekerjasama dengan Anadarko Petroleum, salah satu perusahaan eksplorasi minyak terbesar di AS. Google dan Anadarko, menurut laporan Financial Times, akan “memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis data seismic dan operasional yang sangat besar untuk mencari, memaksimalkan, dan meningkatkan efisiensi produksi minyak.”

Kecerdasan buatan alias artificial intelligence alias AI memang sangat bermanfaat digunakan untuk industri minyak bumi. Mehdi Mohammadpoor, dalam papernya berjudul “Big Data analytics in oil and gas industry: An emerging trend,” menyebut bahwa Big Data, salah satu ranah di AI, merupakan perangkat yang sangat baik untuk digunakan menganalisis data seismik, yang dihasilkan dari 60 sensor, jumlah sensor yang umum digunakan perusahaan minyak masa kini ketika hendak melakukan pemetaan suatu wilayah pengeboran.

Data yang melimpah itu, paling baik dianalisis menggunakan AI. Pada 1989 misalnya, geologis asal Belanda melakukan pemetaan wilayah pengeboran minyak di North Sea berbulan-bulan. IBM, dengan kekuatan AI-nya, sanggup memetakan ulang kerja geologis itu sekaligus menyempurnakannya hanya dalam waktu 10 menit.

Hydraulic fracturing dan bantuan silicon valley membuat “shale revolution” di Amerika lahir.

Sejak 2009, sebagaimana diberitakan Market Watch, kapasitas produksi minyak AS terus meningkat. Disokong terutama oleh minyak serpih, Amerika menghasilkan 7,7 juta barel minyak per hari di tahun 2019.

Revolusi minyak di AS sukses menempatkan Paman Sam memiliki kekuatan ekonomi dan geopolitik yang lebih baik, dapat lepas dari bayang-bayang Arab Saudi dan Rusia terkait minyak.

Namun, Saudi dan Rusia sadar, kesuksesan AS atas produksi minyaknya memiliki kelemahan: harga murah.

Minyak serpih berbeda dengan crude oil atau minyak konvensional, terkait biaya produksi. Karena mengekstraksi minyak dari sedimen padat, dan seperti dijelaskan di atas bahwa perusahaan minyak AS esti bekerjasama dengan Silicon Valley, minyak serpih membutuhkan biaya produksi yang besar. Investopedia memperkirakan, biaya produksi per barel shale oil berada di kisaran $40 hingga $90. Di sisi lain, biaya produksi minyak konvensional hanya berada di angka $30 hingga $40 per barel. Bahkan, Arab Saudi diyakini hanya butuh $10 untuk menghasilkan minyak per barel.

Goldman Sachs memperkirakan, jika Saudi dan Rusia tidak akur soal kapasitas produksi minyak, harga minyak mentah dunia dapat jatuh ke angka $20 per barel.

Selain menghadapi corona, musuh Amerika lain yang coba merongrong mereka ialah Saudi dan Rusia. Revolusi minyak AS dipertaruhkan.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



25 Juli 2021

Ketika Amerika Tidak Pernah Kehabisan Minyak

Oleh: Ahmad Zaenudin


“Ini adalah pertemuan terburuk sepanjang sejarah OPEC yang saya ketahui,” tegas Bijan Zanganeh, Menteri Urusan Perminyakan Iran, mengomentari pertemuan OPEC+ di Vienna, Austria.

OPEC+, gabungan negara anggota OPEC dan yang bukan, mengadakan pertemuan darurat awal Maret 2020 lalu. Agendanya “sederhana,” karena ekonomi dunia tengah sekarat akibat virus corona, tetapi produksi minyak terlalu berlebihan, Saudi --ketua de-facto OPEC-- punya usul: Produksi minyak harus dipotong.

Usulan Saudi merupakan respon lanjutan atas situasi terkini terkait corona. Di awal Februari, dan atas inisiatif Saudi pula, OPEC menetapkan kebijakan pemotongan produksi minyak dunia sebesar 2,1 juta barel per hari. Namun, kebijakan OPEC itu hanya berlaku hingga akhir Maret. Bukannya kian membaik, corona malah makin ganas menghancurkan ekonomi dunia. Saudi kemudian ingin pemotongan produksi minyak dilanjutkan dan angka pemangkasannya ditambah 1,5 juta barel per hari.

Rusia menolak. Penolakan tercipta karena mereka ragu apakah pemotongan kapasitas produksi adalah kebijakan yang tepat.

Sayangnya, sebelum pertemuan OPEC+ resmi berakhir, Saudi mengejutkan semua pihak. Mereka resmi memutuskan memangkas produksi minyak, dan berharap anggota OPEC melakukan langkah serupa, serta, bagi negara non-OPEC, mereka mau memotong kapasitas produksi hingga 500 ribu barel per hari.

Tidak ada kesepakatan lahir dalam OPEC+. Saudi dan Rusia kukuh dengan pendiriannya masing-masing.

Atas situasi OPEC+, harga minyak mentah dunia anjlok. May Brent, yang jadi patokan harga minyak internasional, mematok harga minyak mentah di angka $34,36 per barel, lebih rendah $10,91 sebelum pertemuan Vienna dilakukan. Di Amerika Serikat, melalui April West Texas Intermediate, harga minyak mentah per barel berada di angka $31,13, merosot $10,15 dari harga sebelumnya.

Harga minyak mentah pasca pertemuan Vienna adalah yang terendah sejak 2016, dan besaran persentase penurunan harganya merupakan yang terparah sejak Perang Teluk, Januari 1991 silam.

Jason Bordoff, mantan Direktur Senior U.S. National Security Council dan penasihat khusus Presiden Barack Obama, dalam tulisannya di Foreign Policy, menyatakan: mungkin benar bahwa kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Saudi dilakukan dalam rangka merespon corona, tetapi, jika dilihat lebih dalam, yang sesungguhnya disasar Saudi --juga Rusia sebagai duo negara produsen minyak terbesar-- adalah Amerika Serikat.

Selalu Gagal Kehabisan Minyak

Pada 1957, dalam rangka bermain dengan kapsul waktu, masyarakat di Tulsa, Oklahoma, AS mengubur mobil Plymouth Belvedere, beserta benda-benda lainnya yang populer di zaman itu. Tak lupa, karena yakin bahwa di tahun 2007 (tahun yang direncanakan untuk membongkar kapsul waktu) dunia akan kehabisan bensin, mobil dikubur dengan menyertakan beberapa botol bensin.

Ketika kapsul waktu, dan Plymouth Belvedere, itu dibongkar, bensin masih melimpah di AS.

Matt Novak, dalam tulisannya di Gizmodo, menegaskan bahwa Amerika Serikat sering memprediksi ujung kelangsungan minyak mereka. Uniknya, prediksi-prediksi yang dilakukan selalu berakhir gagal. Pada 1909, termuat dalam Titusville Herald, “minyak bumi telah digunakan tidak kurang dari 50 tahun, dan diperkirakan bahwa cadangan minyak hanya akan cukup 25 atau 30 tahun lagi.

Hingga 1939, tahun sesuai prediksi, minyak bumi AS aman-aman saja.

Sebagaimana diberitakan Brooklyn Daily Eagle, pada 9 Maret 1937, Kapten H. A. Stuart, Direktur Naval Petroleum Reserves, menyatakan bahwa minyak bumi “diperkirakan hanya cukup hingga 15 tahun mendatang.”

Pada 1952, lagi, minyak bumi AS aman-aman saja.

Dalam pemberitaan Corpus Christi Times tertanggal 9 Maret 1957, menyatakan bahwa “berdasarkan M. King Hubbert dari Shell Development Co, batas puncak produksi minyak akan tercipta dalam 10 hingga 15 tahun mendatang dan selepasnya produksi akan kian menurun.”

Pada 1972, lagi-lagi, minyak bumi AS aman-aman saja.

Terakhir, termuat dalam Bulletin of the ATomic Scientist yang terbit pada Mei 1972, tegas menyatakan bahwa “bagaimanapun, kapasitas produksi minyak AS hanya akan bertahan dalam 20 tahun.”

Pada 1992, tahun yang diprediksi menjadi akhir riwayat perminyakan AS, minyak berlimpah.

Prediksi dan hasil akhir yang menyatakan sebaliknya --yang jelas membuat AS senang-- terus terulang. Pertanyaannya, kok bisa?

Semenjak pertama kali melakukan pengeboran minyak pada tahun 1859 di Drake Well, Titusville, Pennsylvania, AS tak berhenti berinovasi untuk menghasilkan minyak. Adam Cole, dalam penjelasannya di Vox, menyebut bahwa teknologi tak pernah lupa digunakan untuk menemukan ladang baru pengeboran minyak. Awalnya, AS hanya menggunakan seismic scans guna mengetahui lebih presisi ada apa di balik kulit Bumi. Perlahan, perusahaan-perusahaan minyak Amerika menggunakan satelit, LIDAR, hingga pendekatan magnetik untuk mendeteksi keberadaan minyak bumi di tanah Paman Sam.

Namun, salah satu teknik yang paling mencengangkan, yang sukses membuat minyak bumi AS berlimpah lagi ialah sebuah teknik bernama hydraulic fracturing. Hydraulic fracturing merupakan suatu proses di mana cairan bertekanan tinggi disuntikkan ke dalam formasi batuan yang mengandung minyak atau gas untuk membuat rekahan. Melalui teknik ini, batuan sedimen berbutir halus kaya organik yang mengandung kerogen, mencuat dan dapat hidrokarbon cair atau minyak serpih lahir.

Tentu, teknik hydraulic fracturing saja tak cukup. Perusahaan-perusahaan minyak AS bekerjasama dengan perusahaan teknologi asal silicon valley, seperti Google, IBM, Amazon, hingga Microsoft untuk menghasilkan minyak. Bahkan, guna menangkap peluang bisnis dengan perusahaan minyak lebih baik, Google mendirikan divisi baru, divisi minyak, gas, dan energi yang dikepalai Darryl Willis, veteran BP (British Petroleum).

Selepas pembentukan divisi baru, Google bekerjasama dengan Anadarko Petroleum, salah satu perusahaan eksplorasi minyak terbesar di AS. Google dan Anadarko, menurut laporan Financial Times, akan “memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis data seismic dan operasional yang sangat besar untuk mencari, memaksimalkan, dan meningkatkan efisiensi produksi minyak.”

Kecerdasan buatan alias artificial intelligence alias AI memang sangat bermanfaat digunakan untuk industri minyak bumi. Mehdi Mohammadpoor, dalam papernya berjudul “Big Data analytics in oil and gas industry: An emerging trend,” menyebut bahwa Big Data, salah satu ranah di AI, merupakan perangkat yang sangat baik untuk digunakan menganalisis data seismik, yang dihasilkan dari 60 sensor, jumlah sensor yang umum digunakan perusahaan minyak masa kini ketika hendak melakukan pemetaan suatu wilayah pengeboran.

Data yang melimpah itu, paling baik dianalisis menggunakan AI. Pada 1989 misalnya, geologis asal Belanda melakukan pemetaan wilayah pengeboran minyak di North Sea berbulan-bulan. IBM, dengan kekuatan AI-nya, sanggup memetakan ulang kerja geologis itu sekaligus menyempurnakannya hanya dalam waktu 10 menit.

Hydraulic fracturing dan bantuan silicon valley membuat “shale revolution” di Amerika lahir.

Sejak 2009, sebagaimana diberitakan Market Watch, kapasitas produksi minyak AS terus meningkat. Disokong terutama oleh minyak serpih, Amerika menghasilkan 7,7 juta barel minyak per hari di tahun 2019.

Revolusi minyak di AS sukses menempatkan Paman Sam memiliki kekuatan ekonomi dan geopolitik yang lebih baik, dapat lepas dari bayang-bayang Arab Saudi dan Rusia terkait minyak.

Namun, Saudi dan Rusia sadar, kesuksesan AS atas produksi minyaknya memiliki kelemahan: harga murah.

Minyak serpih berbeda dengan crude oil atau minyak konvensional, terkait biaya produksi. Karena mengekstraksi minyak dari sedimen padat, dan seperti dijelaskan di atas bahwa perusahaan minyak AS esti bekerjasama dengan Silicon Valley, minyak serpih membutuhkan biaya produksi yang besar. Investopedia memperkirakan, biaya produksi per barel shale oil berada di kisaran $40 hingga $90. Di sisi lain, biaya produksi minyak konvensional hanya berada di angka $30 hingga $40 per barel. Bahkan, Arab Saudi diyakini hanya butuh $10 untuk menghasilkan minyak per barel.

Goldman Sachs memperkirakan, jika Saudi dan Rusia tidak akur soal kapasitas produksi minyak, harga minyak mentah dunia dapat jatuh ke angka $20 per barel.

Selain menghadapi corona, musuh Amerika lain yang coba merongrong mereka ialah Saudi dan Rusia. Revolusi minyak AS dipertaruhkan.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play