31 Agustus 2021

Sejak Perang Dunia II, Amerika Serikat Tidak Pernah Memenangkan Perang

Oleh: Ahmad Zaenudin


"Tatkala militer Amerika Serikat dan sekutunya menginjakkan kaki di Jazirah Arab pada 1991 untuk bertempur melawan Irak dalam Perang Teluk," tulis Keith L. Shimko, profesor ilmu politik Purdue University, dalam bukunya berjudul The Iraq Wars and America's Military Revolution (2010), "keraguan serta ketakutan menggelayuti pasukan."

Bukan, pasukan AS bukan takut melawan tentara Irak, melainkan, didasari kenyataan pahit 15 tahun sebelumnya, pasukan AS takut bahwa kekalahan mereka melawan Vietnam terulang kembali tatkala bertempur melawan Irak. Meskipun digaungkan sebagai kemenangan oleh Hollywood melalui aksi-aksi memukau Rambo, misalnya, bagi militer AS Perang Vietnam adalah kekalahan yang sangat memalukan yang diakibatkan oleh kebodohannya sendiri. Suatu kebodohan yang terjadi karena, bukannya move-on dari strategi militer serta ingatan kemenangan Perang Dunia II, AS melawan Vietnam dengan cara serupa ketika mereka berperang melawan Nazi Jerman, yakni, terutama, dengan membombardir tanah yang berada di Semenanjung Indocina itu dengan bom yang dijatuhkan dari pesawat-pesawat militer.

Masalahnya, bom yang dijatuhkan pesawat-pesawat AS di Vietnam tak ubahnya bola yang disepak pemain-pemain tim nasional Inggris dari titik penalti di Piala Dunia. Kadang, bom yang dijatuhkan memang berhasil menghancurkan lawan. Sialnya, karena bom yang dijatuhkan dari pesawat militer AS disuplai teknologi alamiah bernama gravitasi, mayoritas jatuh dan meledak tak tepat sasaran. Ya, dengan strategi ini, Vietnam Utara, sebagai sarang komunis yang hendak disasar AS, memang hancur berantakan. Namun, karena bom yang dijatuhkan tak tepat sasaran, pasukan Viet Cong lebih banyak yang selamat alih-alih tewas terkena ledakan.

Dari ketidaktepatan bom yang dijatuhkan AS serta didukung oleh kondisi geografis Vietnam yang berbukit-bukit serta hutan hujan tropis yang teramat luas yang gagal dipahami tentara AS, pasukan Viet Cong berhasil melakukan serangan balik. Serangan yang membuat, kembali mengutip Shimko, "Paman Sam pulang dengan tertunduk lesu."

Sialnya, dari kepulangan yang memalukan usai dikalahkan Vietnam ini, AS harus menerima kenyataan bahwa Colin Powell dan Norman Scwartzkopf--sebagai prajurit AS di Perang Vietnam tersebut, misalnya, naik pangkat dan menjadi petinggi militer. Membuat perang yang selanjutnya diikuti AS, yakni Perang Teluk, bertransformasi menjadi--bukan hanya medan pertempuran melawan pasukan lawan--medan pertempuran mentalitas.

Maka, tak ingin kekalahannya dalam Perang Vietnam terulang, AS berbenah. Pada perang yang dimulai gara-gara Irak menginvasi Kuwait itu, AS tak memborbardir Baghdad selayaknya Saigon, tetapi melakukan serangan udara yang terukur nan presisi, yang didukung oleh kecanggihan teknologi berupa F-117 Stealth Fighter, Airborne Warning and Control System (AWACS), serta Joint Surveillance Target Attack Radar System (JSTARS). Atas serangan yang terukur ini, titik-titik utama sekaligus pasukan-pasukan Irak berhasil dihancurkan jauh sebelum infanteri Paman Sam merangsek ke kota-kota utama di Irak. Membuat AS, tak sampai dua bulan, berhasil membunuh 50.000-an tentara Irak, termasuk menghancurkan 3.000-an tank, 19 kapal tempur, serta 110 pesawat militer Irak.

Menang? Tidak jawabannya.

Meskipun George H. W. Bush mengatakan bahwa "agresi (Irak atas Kuwait) telah dihancurkan dan perang telah usai" atas "kehormatan dan keberanian (pasukan AS)" alias mendeklarasikan kemenangan Perang Teluk di hadapan Kongres (setara dengan Dewan Perwakilan Rakyat di Indonesia), Sean McFate, mantan penerjung payung Divisi Lintas Udara ke-82 (US Army 82nd Airborne Division) dalam Perang Dunia II yang sempat menjadi pasukan militer swasta (sangat khas Amerika) dan kini menjadi profesor hubungan internasional pada Georgetown University, dalam bukunya berjudul The New Rules of War: Victory in the Age of Durable Disorder (2019), menyebut bahwa kemenangan dalam suatu perang tak identik dengan jumlah pasukan lawan yang berhasil dibunuh, tetapi sangat terkait dengan di posisi mana suatu negara berada usai perang terjadi.

Ya, dalam Perang Teluk tersebut, AS memang berhasil membunuh sangat banyak pasukan Irak. Namun, AS kemudian menjadikan Irak sebagai negara yang jauh lebih kacau, serta jauh lebih merusak stabilitas Timur Tengah, dibandingkan sebelum Perang Teluk terjadi. Terlebih, Saddam Hussen tetap berkuasa di negeri 1001 malam tersebut--hingga Perang Irak terjadi atas respon terhadap serangan 11 September.

Dari indikator menang/kalah ini, bagi McFate, AS bukan hanya kalah dalam perangnya melawan Irak pada Perang Teluk, tetapi juga kalah pada setiap perang yang diikuti Paman Sam usai kesuksesannya membungkam Nazi Jerman. Termasuk, tentu saja, kalah melawan Taliban di Afganistan.

Suatu serentetan kekalahan yang terjadi karena, meskipun AS melakukan perubahan teknik bertempur sekaligus meningkatkan kecanggihan teknologi persenjataan semenjak kekalahannya dalam Perang Vietnam, AS menganggap bahwa semua perang sama dengan Perang Dunia. Anggapan yang telah lama ditinggalkan musuh-musuh AS.

Afganistan

Pada 5 Juni 1944 alias sehari sebelum pendaratan di Normandy (D-Day) dilakukan, mencoba menggelorakan semangat anak-anak muda pasukan Amerika Serikat yang bersiap melawan Nazi Jerman, Jenderal George S. Patton naik ke atas panggung untuk berpidato di hadapan pasukan AS. Kala itu, berdiri di atas panggung yang dikelilingi pasukannya, Jenderal Patton menyebut bahwa AS, dalam catatan sejarahnya, "selalu memenangkan pertempuran," serta menyebut bahwa kekalahan adalah "gagasan yang paling dibenci bangsa Amerika."

Maka, menghadapi Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, bagi Jenderal Patton, "apapun caranya Amerika wajib menang." Kewajiban yang akhirnya benar-benar dituntaskan dengan baik oleh pasukan AS setahun kemudian.

Tak ingin kemenangan lari meninggalkan Paman Sam, AS kemudian menjadi negara nomor satu di dunia yang menghabiskan dana melimpah untuk militernya, mengalahkan negara manapun di dunia. Mengeluarkan anggaran senilai $500,6 miliar setahun selepas Perang Dunia II berakhir. Serta, rata-rata, menghabiskan uang senilai $298,5 miliar per tahun ketika pertempuran ideologi dengan Uni Soviet dalam Perang Dingin terjadi. Dan, usai Perang Dingin berakhir, AS tak pernah mengeluarkan uang kurang dari $500 miliar per tahun bagi militernya. Menggunakan anggaran melimpah tersebut, salah satunya, untuk mengembangkan teknologi militer paling mutakhir. Mulai dari senjata nuklir, sistem navigasi global positioning system (GPS), internet, F-22A Raptor, beragam kapal induk, serta bermacan drone (pesawat tanpa awak) yang dapat menghajar musuh dari jarak jauh.

"Naas," tulis Sean McFate dalam bukunya berjudul The New Rules of War: Victory in the Age of Durable Disorder (2019), "semenjak Perang Dunia II berakhir, dalam setiap peperangan yang diikuti AS seperti Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Teluk, Perang Irak, Perang melawan jihadis ISIS, serta Perang Afganistan, AS selalu pulang dengan tertunduk lesu alias kalah." Suatu serentetan kekalahan yang terjadi karena, pikir McFate, AS tak tahu arti perang, terutama dalam konteks kekinian.

Semenjak Perang Dunia II hingga hari ini, AS percaya bahwa perang adalah soal kekuatan. Soal negara mana yang paling banyak mengeluarkan peluru, membunuh musuh, merebut wilayah. Masalahnya, perang seperti itu adalah perang yang sangat khas Perang Dunia II (dan Perang Dunia I), di mana peperangan yang terjadi lebih didasari soal napsu satu atau beberapa individu semata. Setelah Perang Dunia II, peperangan yang terjadi lebih didasari oleh sentimen kebangsaan/kesukuan serta, terutama, keagamaan. Suatu keadaan yang terjadi karena, suka atau tidak, dunia memang telah terpecah belah, di mana 194 negara di dunia, selain Perang Dunia, menghadapi perangnya sendiri. Antara suku A dengan B, penganut agama C dan D, penganut mahzab E dan F, dan seterusnya, yang membuat peperangan sangat mungkin terjadi melampau batas-batas politik negara. Kenyataan yang membuat Pasukan Pemelihara Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Peacekeeping) misalnya, sebut McFate, "tak berguna karena memang tidak ada namanya perdamaian di dunia ini."

Tatkala peperangan yang lebih didasari sentimen kebangsaan/suku serta keagaamaan yang semakin sering terjadi ini diikuti AS, seperti perang melawan Taliban di Afganistan, misalnya, Paman Sam akan mudah terlena dengan "kemenangan" awal gara-gara definisi perangnya. Sebab, karena Taliban menganggap aksinya berkuasa di Afganistan sebagai pengabdian terhadap Tuhan dan pengabdian ini kemudian dirusak AS (atas prasangka AS bahwa Taliban berkongsi denga Osama bin Laden dalam serangan 11 September), berbondong-bondong jihadis baru lahir menggempur Amerika--bangsa yang dianggap "setan" oleh mereka.

Dari peperangan yang lebih didasari sentimen kebangsaan/kesukuan serta keagamaan ini, sebagaimana dipaparkan David Kilcullen dalam bukunya berjudul The Dragon and The Snake: How the Rest Learned to Fight the West (2020), peperangan yang terjadi saat ini bukanlah peperangan yang terbuka, yang besar. Melainkan peperangan mikro, hantam dan sembunyi, gerilya, yang jelas-jelas tidak terlalu membutuhkan F-22A Raptor untuk menghancurkan lawan. Terlebih, dengan didasari kesamaan bangsa/suku/agama, dalam Perang Afganistan, misalnya, jihadis Taliban memperoleh bala bantuan dari masyarakat yang setipe dengan mereka dari Pakistan. Mulai dari suplai persenjataan, atau, dalam tataran sederhana, sebagai tempat jihadis-jihadis Taliban bersembunyi.

Gagalnya AS mendefinisikan apa itu perang yang terjadi selepas Perang Dunia II (yang berakibat serentetan kekalahan pada peperangan yang diikutinya) terjadi karena Paman Sam salah memprediksi masa depan.

Bukannya mendelegasikan prediksi masa depan pada presiden, anggota Kongres, petinggi-petinggi militer, ataupun akademisi, AS memilih manut tentang apa yang terjadi di kemudian hari pada Hollywood, dengan tiga mahzab berbeda. Yakni para sutradara nihilis, yang menganggap bahwa masa depan adalah dunia yang hancur gara-gara serangan zombie melalui senjata biologi, patriotik, yang menanggap masa depan tak ubahnya zaman di mana Perang Dunia II terjadi, serta technophile, yang menganggap masa depan sebagai medan pertempuran para robot.

Dengan berpijak pada Hollywood, sebagaimana dilaporkan Chris Hamby untuk The New York Times, misalnya, Paman Sam mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk memproduksi vaksin Antraks karena takut diserang senjata biologis berupa virus Antraks. Masalahnya, hingga hari ini, belum ada musuh-musuh AS yang bertempur menggunakan senjata biologis. Lalu, dengan pijakannya pada Hollywood pula, AS tak ragu mengeluarkan uang senilai $80 juta untuk mengembangkan Tactical Assault Light Operator Suit (TALOS), sebuah jubah ala Iron Man, guna bersiap melawan musuh. Padahal, dengan hanya berbekal AK-47, para jihadis ISIS hingga Taliban sukses mempecundangi F-22A Raptor.

Selain kegagalan AS move-on dari kejayaan Perang Dunia II, serentetan kekalahan yang dialami mereka di setiap pertempuran terjadi karena, kecuali orang Amerika sendiri, "semua orang benci terhadap Amerika." Kebencian yang membuat Taliban, misalnya, tak pernah kehabisan peluru menembaki tentara AS karena memperoleh sokongan dana dan amunisi dari pihak (negara) lain secara diam-diam.







 

 

© 2016-2021 Madzae