9 Juli 2021

Ivermectin: Obat Cacing yang (Mungkin) Dapat Melawan Corona

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 1971, ingin membagi pengetahuan yang dimilikinya, seorang ilmuwan pada Kitasato Institute, Tokyo, Jepang bernama Satoshi Omura memutuskan mengambil cuti panjang untuk menjadi pegajar dan peneliti di Wesleyan University, Connecticut, Amerika Serikat. Di kampus tersebut, Satoshi mengajar bersama Max Tishler, ilmuwan yang, usai sukses berkarir pada perusahaan farmasi Merck, Sharpe, and Dohme (MSD atau Merck & Co), menjadi seorang akademisi.

Satoshi dan Tishler akhirnya menjadi "duet maut," menempa mahasiswa-mahasiswi Wesleyan University memahami bidang yang mereka kuasai, Kimia. Namun, tak disangka, tatkala Satoshi dan Tishler duduk di kampus yang sama, institusi yang menaungi Satoshi, Kitasato Institute, tengah berupaya mencari mitra industri guna melakukan penelitian bersama. Alasannya, sebagai institusi penelitian yang memiliki reputasi dan keahlian dalam mendeteksi senyawa bioaktif yang dihasilkan mikroorganisme di alam liar, Kitasato Institute ingin mencari senyawa kimiawi baru yang bermanfaat, khususnya untuk menemukan obat-obatan bagi hewan, dan tujuan tersebut hanya bisa dicapai melalui kerjasama dengan pihak industri (dan dana yang disediakannya).

Paham bahwa institusinya membutuhkan mitra industri, Satoshi lantas bercerita kepada Tishler, yang, melalui koneksi yang dimiliki, tahu bahwa MSD tengah berada di titik jenuh dalam melakukan kerja-kerja penelitian bahan kimia sintetik dan tengah berupaya melakukan terobosan baru demi menopang bisnis farmasi mereka. Akhirnya, sebagaimana dikisahkan Satoshi dalam artikelnya berjudul "The Life and Times of Ivermectin: A Success Story" (Jurnal Nature Vol. 2 2004), Kitasato Institute menjalin hubungan dengan MSD pada 1973. Hubungan saintifik yang menghasilkan ivermectin, obat yang diyakini peneliti Royal Melbourne Hospital, Australia bernama Leon Caly dalam studinya berjudul "The FDA-approved Drug Ivermectin Inhibits the Replication os SARS-CoV-2 in vitro" (Jurnal Antiviral Research Vol. 178 2020) dapat mengurangi replikasi SARS-CoV-2, virus di balik wabah Covid-19, di dalam tubuh manusia yang terjangkit.

Ivermectin

Satoshi Omura, dalam "Ivermectin: 25 Years and Still Going Strong" (International Journal of Antimicrobial Agent Vol. 31 2008), menyebut bahwa kisah awal ditemukannya ivermectin terjadi pada 1974. Kala itu, melalui kerjasama yang dilakukan Kitasato Institute dan MSD di mana Satoshi menjadi kepalanya, tim peneliti melakukan pengambilan sampel tanah dari lapangan golf yang berada di kawasan Kawaka, Kota Ito, Prefektur Shizuoka, Jepang. Dari sampel tanah tersebut, melalui proses penyaringan yang dilakukan di Amerika Serikat, sebuah organisme bernama Streptomyces avermitilis, keluarga dari spesies actinomycete, ditemukan. Dan dalam penelitian lebih lanjut, dengan memfermentasi organisme tersebut lalu disuntikkan pada tikus yang terinfeksi Nematospiroides debius atau cacing gelang usus, diketahui bahwa S. avermitilis memiliki kandungan antelmintik, bioaktif yang dapat melumpuhkan cacing parasit tanpa menghasilkan toksisitas apapun.

Pada 1975, kandungan antelmintik yang dimiliki S. avermitilis tersebut diisolasi, yang akhirnya menghasilkan produk kimiawi bernama avermectin, ester (senyawa yang terbentuk atas reaksi asam organik) yang memiliki 16 macrocyclic--gabungan molekul dan ion dalam rantai kimiawi. Dan melalui proses dihydro (proses penyuntikan dua atom hidrogen), ivermectin, obat yang memiliki kemampuan membunuh ektoparasit (parasit yang hidup di permukaan inangnya) dan endoparasit (parasit yang hidup di dalam organisme), tercipta.

Semenjak 1981, sebagaimana dituturkan William C. Campbell dalam studinya berjudul "Ivermectin: An Update" (Jurnal Parasitology Today Vol. 1 1985), ivermectin mulai digunakan sebagai antibiotik dan antiparasit pada berbagai jenis hewan. Dengan menyuntikkan ivermectin sebanyak 0,2 miligram per kilogram berat badan, misalnya, 16 cacing parasit yang umum menjangkiti sapi, semisal Haemonchus placei dan Trichostrongylus axei hingga belatung, kutu, dan tungau, dapat dimusnahkan dengan efikasi mencapai 90-100 persen. Pada anjing, 0,2 miligram ivermectin per kilogram berat badan terbukti ampuh membunuh hookworm--cacing yang menggeliat di dalam usus kecil salah satu sahabat manusia ini.

Secara umum, tulis Campbell, "di awal-awal kemunculannya, ivermectin terbukti berkhasiat melawan berbagai jenis cacing, nematoda, dan artropoda, serta sedikit ampuh dalam melawan protozoa ataupun bakteria yang menjangkiti hewan."

Seiring dengan berjalannya waktu, ivermectin tak hanya digunakan untuk mengobati hewan, tetapi juga manusia. Andy Crump, dalam studinya berjudul "Ivermectin, 'Wonder Drug' from Japan: The Human Use Perspective" (Jurnal Japan Academy Vol. 87 2011), menyebut bahwa asal-usul digunakannya ivermectin sebagai obat untuk manusia berhubungan erat dengan wabah Onchocerciasis atau Kebutaan Sungai yang menimpa dunia, khususnya Afrika Barat, pada awal 1970-an. Disebabkan oleh cacing bernama Onchocerna volvulus yang ditularkan melalui gigitan lalat, tubuh manusia yang terinfeksi akan menjadi inang bagi cacing untuk bereproduksi sebanyak 1.000 ekor per hari. Ribuan (bahkan jutaan) O. volvulus tersebut kemudian mengambil alih tubuh manusia yang diinfeksinya, menyebabkan ruam pada kulit, gatal, dan yang paling parah, kebutaan. Kala itu, menurut perkiraan World Health Organization (WHO), 17,7 juta orang di seluruh dunia terinfeksi O. volvulus, dengan 270.000 di antaranya mengalami kebutaan total.

Sejak 1974, WHO dan dibantu oleh Bank Dunia meluncurkan Onchocerciasis Control Programme in West Africa (OCP) guna menghentikan wabah ini. Sayangnya, karena program penghentian wabah onchocerciasis ini dilakukan hanya melalui aksi penyemprotan insektisida untuk membunuh lalat yang membawa cacing O. volvulus, kegagalan jadi hasil akhir yang terpaksa diterima. Untunglah, di saat bersamaan, Kitasato Institute dan MSD tengah melakukan penelitian yang menghasilkan invermectin itu.

Awalnya, dalam penelitian yang dilakukan Kitasato Institute dan MSD (atau Merck) yang akhirnya menghasilkan invermectin, Merck tidak bermaksud menggunakan hasil penelitiannya sebagai obat bagi manusia. Ini terjadi karena sejak awal penelitian, Merck mengkhususkan diri menangani hewan, bukan manusia. Dan terlebih, karena onchocerciasis lebih banyak terjadi di negara-negara Afrika, tidak ada perusahaan farmasi manapun yang ingin terlibat menghentikan penyakit ini, termasuk Merck. Namun, sikap tersebut akhirnya berubah manakala PBB, pada 1975, mendirikan UN-based Special Programme for Research & Training in Tropical Diseases (TDR) untuk mempercepat kerja-kerja saintifik menemukan berbagai obat-obatan untuk menangani penyakit tropis. Melalui lembaga tersebut, usai mengetahui bahwa Merck (atau Kitasato Institute dan MSD) berhasil menciptakan invermectin, PBB meminta invermectin diaplikasikan pada manusia.

Akhirnya, enam tahun sejak ivermectin pertama kali dijadikan obat untuk hewan, obat ini digunakan pula oleh manusia. Dengan hanya memberikan 150 mikrogram invermectin per kilogram berat badan--yang dijual dengan nama Mectizan, para penderita onchocerciasis berhasil disembuhkan. Dan melalui penelitian lebih lanjut, sebagaimana dipaparkan Luis A. Perez-Garcia dalam studinya berjudul "Ivermectin: Repurposing a Multipurpose Drug for venezuela's Humanitarian Crisis" (International Journal of Antimicrobial Agents Vol. 56 2020), ivermectin digunakan pula untuk menyembuhkan malaria, cikungunya, dan zika.

Perlahan, usai sukses menangani berbagai penyakit yang menderita hewan dan mengobati manusia yang terjangkit onchocerciasis (juga penyakit manusia lainnya), ivermectin pun dimanfaatkan sebagai pestisida--dengan nama abamectin--demi menyelamatkan tetumbuhan. Ivermectin, mengutip apa yang ditulis Crump, kemudian menggenggam status "wonder drug" atau "obat ajaib" bersama dengan penisilin, aspirin, dan parasetamol. Termasuk menjadikan penemunya, Satoshi Omura (dan tim Kitasato Institute dan MSD), menggenggam Nobel Prize di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada 2015.

Akibat menggenggam status "wonder drug" ini, dengan didukung keterdesakan manusia mengalahkan SARS-CoV-2 yang saat ini tengah memporak-porandakan dunia, ivermectin tengah diteliti sebagai obat untuk menyembuhkan Covid-19. Sebagaimana dipaparkan Emanuele Rizzo dalam studinya berjudul "Ivermectin, Antiviral Properties and Covid-19: A Possible New Mechanisme of Action" (Naunyn-Schmiedeberg's Archives of Pharmacology Vol. 393 2020), invermectin mencuat menjadi kandidat obat Covid-19 karena zat kimiawi ini memiliki kemampuan menghambat inhibitor atau SINE--senyawa yang terlibat sebagai alat transportasi inti sel ke sitoplasma yang dilakukan oleh heterodimer import/β1 (protein)--milik virus yang, karena SARS-CoV-2 menyimpan informasi genetik dalam bentuk RNA (Ribonucleic acid), invermectin diperkirakan dapat melakukan aksi interferensi pada protein virus ini. Dan tak ketinggalan, ivermectin pun terbukti memiliki kemampuan membentuk atom oksigen yang, menurut Rizzo dalam studinya tersebut, dapat menetralisasi infeksi virus di tahan-tahap awal keberadaannya di tubuh manusia.

Kemampuan-kemampuan yang membuat ivermectin memang terbukti berkhasiat mengurangi infeksi virus Dengue, West Nile, Venezuelan Equine Encephalitis, hingga Influenza.

Bergerak jauh daripada apa yang dilakukan Rizzo, peneliti Royal Melbourne Hospital, Australia bernama Leon Caly, dalam penelitian yang dilakukannya dan dipublikasikan dalam studi berjudul "The FDA-approved Drug Ivermectin Inhibits the Replication os SARS-CoV-2 in vitro" (Jurnal Antiviral Research Vol. 178 2020), menyebut bahwa ivermectin memang terbukti dapat mengurangi replikasi SARS-CoV-2 di dalam tubuh manusia yang terjangkit--persis dengan alasan-alasan mengapa ivermectin diduga dapat melawan Corona seperti yang dipaparkan Rizzo. Masalahnya, jika Anda membaca paper tersebut, temuan Caly tersebut hanya berdasarkan eksperimen di laboratorium, in vitro, yang memanfaatkan satu baris sel ginjal monyet yang direkayasa untuk seolah-olah meniru sel ginjal manusia. Padahal, dalam kerjanya menyerang manusia, SARS-CoV-2 lebih banyak menyasar sel paru. Selain itu, temuan Caly soal khasiat ivermectin ini tercapai dengan dosis yang melebihi ambang batas otoritas kesehatan dunia manapun, khususnya Food and Drug Administration (FDA), yakni 35 kali lipat dibandingkan takaran maksimal penggunaan ivermectin untuk manusia. Akibatnya, belum ada kesepakatan apapun di kalangan ilmuwan tentang khasiat ivermectin melawan Corona.

Secara umum, selain Caly, para ilmuwan dunia tengah melakukan riset penggunaan ivermectin melawan SARS-CoV-2. Riset yang, apabila berhasil, akan sangat membantu manusia keluar dari wabah yang belum juga selesai ini.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



9 Juli 2021

Ivermectin: Obat Cacing yang (Mungkin) Dapat Melawan Corona

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 1971, ingin membagi pengetahuan yang dimilikinya, seorang ilmuwan pada Kitasato Institute, Tokyo, Jepang bernama Satoshi Omura memutuskan mengambil cuti panjang untuk menjadi pegajar dan peneliti di Wesleyan University, Connecticut, Amerika Serikat. Di kampus tersebut, Satoshi mengajar bersama Max Tishler, ilmuwan yang, usai sukses berkarir pada perusahaan farmasi Merck, Sharpe, and Dohme (MSD atau Merck & Co), menjadi seorang akademisi.

Satoshi dan Tishler akhirnya menjadi "duet maut," menempa mahasiswa-mahasiswi Wesleyan University memahami bidang yang mereka kuasai, Kimia. Namun, tak disangka, tatkala Satoshi dan Tishler duduk di kampus yang sama, institusi yang menaungi Satoshi, Kitasato Institute, tengah berupaya mencari mitra industri guna melakukan penelitian bersama. Alasannya, sebagai institusi penelitian yang memiliki reputasi dan keahlian dalam mendeteksi senyawa bioaktif yang dihasilkan mikroorganisme di alam liar, Kitasato Institute ingin mencari senyawa kimiawi baru yang bermanfaat, khususnya untuk menemukan obat-obatan bagi hewan, dan tujuan tersebut hanya bisa dicapai melalui kerjasama dengan pihak industri (dan dana yang disediakannya).

Paham bahwa institusinya membutuhkan mitra industri, Satoshi lantas bercerita kepada Tishler, yang, melalui koneksi yang dimiliki, tahu bahwa MSD tengah berada di titik jenuh dalam melakukan kerja-kerja penelitian bahan kimia sintetik dan tengah berupaya melakukan terobosan baru demi menopang bisnis farmasi mereka. Akhirnya, sebagaimana dikisahkan Satoshi dalam artikelnya berjudul "The Life and Times of Ivermectin: A Success Story" (Jurnal Nature Vol. 2 2004), Kitasato Institute menjalin hubungan dengan MSD pada 1973. Hubungan saintifik yang menghasilkan ivermectin, obat yang diyakini peneliti Royal Melbourne Hospital, Australia bernama Leon Caly dalam studinya berjudul "The FDA-approved Drug Ivermectin Inhibits the Replication os SARS-CoV-2 in vitro" (Jurnal Antiviral Research Vol. 178 2020) dapat mengurangi replikasi SARS-CoV-2, virus di balik wabah Covid-19, di dalam tubuh manusia yang terjangkit.

Ivermectin

Satoshi Omura, dalam "Ivermectin: 25 Years and Still Going Strong" (International Journal of Antimicrobial Agent Vol. 31 2008), menyebut bahwa kisah awal ditemukannya ivermectin terjadi pada 1974. Kala itu, melalui kerjasama yang dilakukan Kitasato Institute dan MSD di mana Satoshi menjadi kepalanya, tim peneliti melakukan pengambilan sampel tanah dari lapangan golf yang berada di kawasan Kawaka, Kota Ito, Prefektur Shizuoka, Jepang. Dari sampel tanah tersebut, melalui proses penyaringan yang dilakukan di Amerika Serikat, sebuah organisme bernama Streptomyces avermitilis, keluarga dari spesies actinomycete, ditemukan. Dan dalam penelitian lebih lanjut, dengan memfermentasi organisme tersebut lalu disuntikkan pada tikus yang terinfeksi Nematospiroides debius atau cacing gelang usus, diketahui bahwa S. avermitilis memiliki kandungan antelmintik, bioaktif yang dapat melumpuhkan cacing parasit tanpa menghasilkan toksisitas apapun.

Pada 1975, kandungan antelmintik yang dimiliki S. avermitilis tersebut diisolasi, yang akhirnya menghasilkan produk kimiawi bernama avermectin, ester (senyawa yang terbentuk atas reaksi asam organik) yang memiliki 16 macrocyclic--gabungan molekul dan ion dalam rantai kimiawi. Dan melalui proses dihydro (proses penyuntikan dua atom hidrogen), ivermectin, obat yang memiliki kemampuan membunuh ektoparasit (parasit yang hidup di permukaan inangnya) dan endoparasit (parasit yang hidup di dalam organisme), tercipta.

Semenjak 1981, sebagaimana dituturkan William C. Campbell dalam studinya berjudul "Ivermectin: An Update" (Jurnal Parasitology Today Vol. 1 1985), ivermectin mulai digunakan sebagai antibiotik dan antiparasit pada berbagai jenis hewan. Dengan menyuntikkan ivermectin sebanyak 0,2 miligram per kilogram berat badan, misalnya, 16 cacing parasit yang umum menjangkiti sapi, semisal Haemonchus placei dan Trichostrongylus axei hingga belatung, kutu, dan tungau, dapat dimusnahkan dengan efikasi mencapai 90-100 persen. Pada anjing, 0,2 miligram ivermectin per kilogram berat badan terbukti ampuh membunuh hookworm--cacing yang menggeliat di dalam usus kecil salah satu sahabat manusia ini.

Secara umum, tulis Campbell, "di awal-awal kemunculannya, ivermectin terbukti berkhasiat melawan berbagai jenis cacing, nematoda, dan artropoda, serta sedikit ampuh dalam melawan protozoa ataupun bakteria yang menjangkiti hewan."

Seiring dengan berjalannya waktu, ivermectin tak hanya digunakan untuk mengobati hewan, tetapi juga manusia. Andy Crump, dalam studinya berjudul "Ivermectin, 'Wonder Drug' from Japan: The Human Use Perspective" (Jurnal Japan Academy Vol. 87 2011), menyebut bahwa asal-usul digunakannya ivermectin sebagai obat untuk manusia berhubungan erat dengan wabah Onchocerciasis atau Kebutaan Sungai yang menimpa dunia, khususnya Afrika Barat, pada awal 1970-an. Disebabkan oleh cacing bernama Onchocerna volvulus yang ditularkan melalui gigitan lalat, tubuh manusia yang terinfeksi akan menjadi inang bagi cacing untuk bereproduksi sebanyak 1.000 ekor per hari. Ribuan (bahkan jutaan) O. volvulus tersebut kemudian mengambil alih tubuh manusia yang diinfeksinya, menyebabkan ruam pada kulit, gatal, dan yang paling parah, kebutaan. Kala itu, menurut perkiraan World Health Organization (WHO), 17,7 juta orang di seluruh dunia terinfeksi O. volvulus, dengan 270.000 di antaranya mengalami kebutaan total.

Sejak 1974, WHO dan dibantu oleh Bank Dunia meluncurkan Onchocerciasis Control Programme in West Africa (OCP) guna menghentikan wabah ini. Sayangnya, karena program penghentian wabah onchocerciasis ini dilakukan hanya melalui aksi penyemprotan insektisida untuk membunuh lalat yang membawa cacing O. volvulus, kegagalan jadi hasil akhir yang terpaksa diterima. Untunglah, di saat bersamaan, Kitasato Institute dan MSD tengah melakukan penelitian yang menghasilkan invermectin itu.

Awalnya, dalam penelitian yang dilakukan Kitasato Institute dan MSD (atau Merck) yang akhirnya menghasilkan invermectin, Merck tidak bermaksud menggunakan hasil penelitiannya sebagai obat bagi manusia. Ini terjadi karena sejak awal penelitian, Merck mengkhususkan diri menangani hewan, bukan manusia. Dan terlebih, karena onchocerciasis lebih banyak terjadi di negara-negara Afrika, tidak ada perusahaan farmasi manapun yang ingin terlibat menghentikan penyakit ini, termasuk Merck. Namun, sikap tersebut akhirnya berubah manakala PBB, pada 1975, mendirikan UN-based Special Programme for Research & Training in Tropical Diseases (TDR) untuk mempercepat kerja-kerja saintifik menemukan berbagai obat-obatan untuk menangani penyakit tropis. Melalui lembaga tersebut, usai mengetahui bahwa Merck (atau Kitasato Institute dan MSD) berhasil menciptakan invermectin, PBB meminta invermectin diaplikasikan pada manusia.

Akhirnya, enam tahun sejak ivermectin pertama kali dijadikan obat untuk hewan, obat ini digunakan pula oleh manusia. Dengan hanya memberikan 150 mikrogram invermectin per kilogram berat badan--yang dijual dengan nama Mectizan, para penderita onchocerciasis berhasil disembuhkan. Dan melalui penelitian lebih lanjut, sebagaimana dipaparkan Luis A. Perez-Garcia dalam studinya berjudul "Ivermectin: Repurposing a Multipurpose Drug for venezuela's Humanitarian Crisis" (International Journal of Antimicrobial Agents Vol. 56 2020), ivermectin digunakan pula untuk menyembuhkan malaria, cikungunya, dan zika.

Perlahan, usai sukses menangani berbagai penyakit yang menderita hewan dan mengobati manusia yang terjangkit onchocerciasis (juga penyakit manusia lainnya), ivermectin pun dimanfaatkan sebagai pestisida--dengan nama abamectin--demi menyelamatkan tetumbuhan. Ivermectin, mengutip apa yang ditulis Crump, kemudian menggenggam status "wonder drug" atau "obat ajaib" bersama dengan penisilin, aspirin, dan parasetamol. Termasuk menjadikan penemunya, Satoshi Omura (dan tim Kitasato Institute dan MSD), menggenggam Nobel Prize di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada 2015.

Akibat menggenggam status "wonder drug" ini, dengan didukung keterdesakan manusia mengalahkan SARS-CoV-2 yang saat ini tengah memporak-porandakan dunia, ivermectin tengah diteliti sebagai obat untuk menyembuhkan Covid-19. Sebagaimana dipaparkan Emanuele Rizzo dalam studinya berjudul "Ivermectin, Antiviral Properties and Covid-19: A Possible New Mechanisme of Action" (Naunyn-Schmiedeberg's Archives of Pharmacology Vol. 393 2020), invermectin mencuat menjadi kandidat obat Covid-19 karena zat kimiawi ini memiliki kemampuan menghambat inhibitor atau SINE--senyawa yang terlibat sebagai alat transportasi inti sel ke sitoplasma yang dilakukan oleh heterodimer import/β1 (protein)--milik virus yang, karena SARS-CoV-2 menyimpan informasi genetik dalam bentuk RNA (Ribonucleic acid), invermectin diperkirakan dapat melakukan aksi interferensi pada protein virus ini. Dan tak ketinggalan, ivermectin pun terbukti memiliki kemampuan membentuk atom oksigen yang, menurut Rizzo dalam studinya tersebut, dapat menetralisasi infeksi virus di tahan-tahap awal keberadaannya di tubuh manusia.

Kemampuan-kemampuan yang membuat ivermectin memang terbukti berkhasiat mengurangi infeksi virus Dengue, West Nile, Venezuelan Equine Encephalitis, hingga Influenza.

Bergerak jauh daripada apa yang dilakukan Rizzo, peneliti Royal Melbourne Hospital, Australia bernama Leon Caly, dalam penelitian yang dilakukannya dan dipublikasikan dalam studi berjudul "The FDA-approved Drug Ivermectin Inhibits the Replication os SARS-CoV-2 in vitro" (Jurnal Antiviral Research Vol. 178 2020), menyebut bahwa ivermectin memang terbukti dapat mengurangi replikasi SARS-CoV-2 di dalam tubuh manusia yang terjangkit--persis dengan alasan-alasan mengapa ivermectin diduga dapat melawan Corona seperti yang dipaparkan Rizzo. Masalahnya, jika Anda membaca paper tersebut, temuan Caly tersebut hanya berdasarkan eksperimen di laboratorium, in vitro, yang memanfaatkan satu baris sel ginjal monyet yang direkayasa untuk seolah-olah meniru sel ginjal manusia. Padahal, dalam kerjanya menyerang manusia, SARS-CoV-2 lebih banyak menyasar sel paru. Selain itu, temuan Caly soal khasiat ivermectin ini tercapai dengan dosis yang melebihi ambang batas otoritas kesehatan dunia manapun, khususnya Food and Drug Administration (FDA), yakni 35 kali lipat dibandingkan takaran maksimal penggunaan ivermectin untuk manusia. Akibatnya, belum ada kesepakatan apapun di kalangan ilmuwan tentang khasiat ivermectin melawan Corona.

Secara umum, selain Caly, para ilmuwan dunia tengah melakukan riset penggunaan ivermectin melawan SARS-CoV-2. Riset yang, apabila berhasil, akan sangat membantu manusia keluar dari wabah yang belum juga selesai ini.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play