12 Juli 2021

iPad M1 dan iPadOS 15: iPad tetaplah iPad

Oleh: Ahmad Zaenudin


Selama hampir tiga bulan, usai bertahun-tahun menggunakan iPad Air generasi pertama, saya akhirnya melakukan upgrade dan beralih menggunakan iPad Air 4 (atau iPad Air 2020). Generasi paling mutakhir seri "Air" yang disebut Tim Cook sebagai "tablet yang memberikan kemampuan profesional dengan harga terjangkau" yang dirilis pada 16 Oktober 2020.

Menggunakan system-on-chip (SoC) terbaru Apple bernama A14 Bionic, yang dibuat dengan teknologi 5 nanometer hingga membuatnya sanggup mengandung 11,8 miliar transistor dan pada akhirnya dapat memproses 11 triliun operasi per detik, iPad Air 4, mengutip apa yang diucapkan Vice President of Hardware Engineering Apple Laura Legos, "merupakan tablet terbaru yang memiliki lompatan sangat tinggi soal kinerja." Bukan sekedar performa grafik yang meningkat 30 persen dibandingkan generasi iPad sebelumnya (seri Pro dan Air sebelumnya), tetapi tablet ini diklaim memiliki kecepatan kinerja dua kali lipat dibandingkan rata-rata laptop (Windows-based) di pasaran.

Bagi saya, dalam tempo yang cukup singkat terkait penggunaan iPad Air 4, klaim Cook dan Legos tak berlebihan. iPad Air 4 memang terasa lebih cepat dibandingkan dengan laptop berbasis Windows yang saya miliki (HP Pavilion x360 dengan prosesor i5, RAM sebesar 4GB, dan SSD berukuran 64GB), entah digunakan untuk bekerja atau sebatas bermain. Tercatat, segala aplikasi-aplikasi untuk menunjang kerja saya, seperti Google Docs, Safari, Readdle, hingga GoodNotes, lancar jaya dijalankan tanpa hambatan apapun. Dan meskipun kemampuan multitasking iPadOS tidak bisa disamakan dengan kemampuan serupa pada MacOS ataupun Windows, keterbatasan multitasking pada diri iPad Air 4 bisa dimaafkan atas kekuatan A14 Bionic tersebut. Saya hanya tinggal melakukan swipe-right atau swipe-left tatkala butuh lebih dari dua aplikasi bekerja sekaligus, dan iPad Air 4 memprosesnya dengan luar biasa.

Pemanfaatan iPad Air 4 untuk bekerja pun dipermudah dengan fakta bahwa tablet ini sangat terintegrasi dengan Macbook. Apa yang saya lakukan di Macbook atau sebaliknya, seketika muncul di iPad Air 4, juga sebaliknya. Dan memanfaatkan fitur bernama Sidecar, iPad Air 4 lancar jaya ketika digunakan sebagai external (extended) layar bagi Macbook.

Tak ketinggalan, menggabungkannya dengan Apple Pencil (dan turut menambahkan lapisan Paperlike buatan SwitchEasy), tablet ini sangat mempesona, khususnya untuk digunakan dalam kerja-kerja desain menggunakan aplikasi Procreate. Pun, karena iPadOS telah mendukung transfer file yang lebih baik dibandingkan iOS (tetapi masih buruk dibandingkan MacOS), dalam kondisi tertentu iPad Air 4 cukup baik apabila digunakan untuk melakukan editing foto melalui Adobe Lightroom.

Soal hiburan, melalui aplikasi Netflix, Youtube, hingga beragam video game yang dikemas Apple dalam program berlangganan berjudul Apple Arcade, iPad Air 4 tak perlu diragukan lagi menyenangkannya.

Maka, meminjam tagline Majalah Bobo, iPad Air merupakan "teman bermain dan belajar" (dalam kasus saya, tentu, bekerja) sebaik-baiknya.

Sayangnya, hanya dalam tempo enam bulan sejak diluncurkan (atau tiga bulan usai saya gunakan), iPad Air 4 kini lebih pas dianggap sebagai produk usang. Musababnya, Apple kemudian merilis iPad Pro terbaru yang menggunakan prosesor Apple M1 tepat pada 20 April kemarin. Ada rasa percuma yang muncul seketika dalam diri saya atas keputusan tiga bulan lalu membeli iPad Air 4 gara-gara kemunculan iPad Pro M1.

Yang menarik, rasa percuma itu hanya bertahan selama Tim Cook mempresentasikan beragam produk baru dari Apple dalam acara Apple Event: Spring Loaded saja. Alasannya, Apple adalah Apple. Meskipun iPad Pro menggunakan M1, tablet tersebut kemungkinan besar tidak akan bertransformasi menjadi Macbook (mengganti iPadOS dengan MacOS). Atau, iPad Pro M1 tak akan pernah serupa dengan Microsoft Surface, si komputer sungguhan dalam wujud tablet.

Meskipun Lahir Atas Gagasan Macbook versi Tablet, iPad adalah iPhone yang Diperbesar

Tepat pada 2005, Apple secara resmi terpatri menjadi perusahaan teknologi raksasa. Bukan karena lini komputer Mac, melainkan iPod--perangkat pemutar audio yang dirilis pertama kali pada 2001--sukses besar di pasaran. Kala itu, iPod terjual lebih dari 20 juta unit. Empat kali lipat dibandingkan hasil yang mereka terima setahun sebelumnya. Sayangnya, meskipun sukses, sebagaimana dikisahkan Walter Isaacson dalam biografi Steve Jobs (2011), Steve Jobs khawatir kesuksesan iPod tersebut tak bertahan lama. Musababnya, ponsel semakin canggih dan menurut Jobs, "orang-orang kini mulai memiliki ponsel, andai saja ponsel-ponsel itu memiliki kemampuan seperti iPod, iPod tak akan dibutuhkan lagi."

Sebagai langkah antisipasi, Jobs lantas bergerilya menciptakan produk penerus iPod. Mulanya, Apple memilih bekerjasama dengan Motorola, yang kala itu sukses besar gara-gara RAZR. Usai kesana-kesini melakukan diplomasi, pada akhir 2005, terciptalah ROKR--varian RAZR dengan iTunes di dalamnya. Sial, bukannya sukses, ROKR jadi olok-olok semata. Bahkan, majalah Wired--media di Amerika Serikat yang dianggap sebagai "patron saint (santo pelindung) Silicon Valley"--memuat review ROKR berjudul "You call this the phone of the future? (Masa ponsel kayak ginian dianggap masa depan?)"

"Sampah, gue ngga mau kerjasama lagi dengan perusahaan bodoh seperti Motorola," kesal Jobs atas nasib buruk yang menimpa ROKR.

Jobs, atas kekuasaannya, akhirnya memilih memikirkan penerus iPod sendiri--tanpa bantuan perusahaan lain. Tentu, usaha pertama yang dilakukan Apple untuk meneruskan kesuksesan iPod adalah dengan mengubah iPod menjadi ponsel. Masalahnya, karena pada akhir 2005 itu Apple memilih tetap mempertahankan user interface (UI) iPod dengan menggunakan trackwheel untuk menciptakan ponsel, proyek ini menghasilkan masalah teknis tak berkesudahan nan rumit. Yang menarik, di samping berusaha menciptakan ponsel, Apple pun punya proyek pengganti iPod lain kala itu, yakni mengubah Macbook menjadi tablet. Proyek, sebagaimana dituturkan Brian Merchant dalam bukunya berjudul The One Device: The Secret History of the iPhone (2017), yang lahir bukan dari ide orisinal Jobs, melainkan lahir dari sekumpulan kecil teknisi Apple yang bekerja secara diam-diam untuk menghasilkan sistem UI baru. Tim yang disebut Merchant, "explore new rich interactions (ENRI) group."

Mulanya, tim ENRI memang tak berniat mengubah Macbook menjadi tablet, tetapi sebatas memikirkan dan menciptakan fitur-fitur interaksi baru bagi Macbook selain menggunakan keyboard dan mouse. Namun, pada 2002, seorang anggota ENRI bernama Tina Huang, karena bertahun-tahun menggunakan mouse, memiliki masalah dengan pergelangan tangannya. Beruntung, seorang kandidat Ph.D dari University of Delaware bernama Wayne Westerman memiliki masalah yang sama dan menghadirkan solusi yang jitu.

Westerman, sebagaimana termuat dalam arsip The New York Times tertanggal 24 Januari 2002, memiliki penyakit bernama sindrom lorong karpal (Carpal Tunnel Syndrome), penyakit yang menyebabkan rasa nyeri di pergelangan tangan akibat saraf terjepit, yang membuatnya "tak bisa mengetik lebih dari satu halaman setiap harinya." Namun, bukannya menerima penyakit tersebut sebagai takdir, didukung dengan disertasinya tentang keyless keyboard (keyboard tanpa tombol) serta bantuan dari pembimbingnya bernama profesor John G. Elias, ia mendirikan startup bernama FingerWorks dan melahirkan alat bernama TouchStream Mini dan iGesture Pad untuk komputer Mac dan Windows. Keyboard tanpa tombol dan tablet peka sentuhan pengganti mouse--lengkap dengan kemampuan multi interaction seperti swipe, pinch, dan double/triple/multi touch.

Huang terkesima, berikut juga seluruh anggota tim ENRI. Usai Huang membeli TouchStream Mini dan iGesture Pad untuk keperluan pribadinya, tim ENRI menerjemahkan kemampuan di dua alat tersebut ke komputer Mac, khususnya pada modul trackpad. Beranjak waktu, ENRI pun menerjemahkan kemampuan multi interaction ini lebih jauh, mengubah Macbook untuk memiliki kemampuan touchscreen, mengubahnya menjadi tablet dengan teknologi milik FingerWorks. Proyek yang akhirnya lebih mudah dilakukan tim ENRI karena, di tahun Apple memikirkan penerus iPod, Apple membeli startup ini. Mengambil paten-paten yang dimiliki, serta memerintahkan FingerWorks untuk tidak mengerjakan kemampuan serupa bagi Windows (ini salah satu sebab utama mengapa laptop berbasis Windows memiliki trackpad yang sangat buruk dibandingkan Macbook).

Awalnya, tablet Macbook ala tim ENRI memang hanya sebatas prakarya anak sekolahan semata alias tak hendak dijadikan produk utuh. Namun, terpujilah Bill Gates. Kembali merujuk biografi Jobs yang ditulis Isaacson, ada satu orang karyawan Microsoft yang memiliki hubungan perkoncoan dengan istri Jobs, Laurene, dan istri Gates, Melinda. Suatu hari pada 2005, satu orang karyawan Microsoft ini mengadakan ulang tahun pernikahannya yang ke-15 dengan turut mengundang Gates serta Jobs. Dan ia, di acara ulang tahun pernikahan itu, membocorkan informasi pada Jobs bahwa Gates (atau Microsoft) sedang mengembangkan tablet PC--dengan stylus sebagai alat interaksinya.

Bagi Jobs, tablet+stylus adalah kombinasi yang buruk (dengan berkaca pada produk Apple bernama Newton). Maka, atas ide yang dibocorkan karyawan Gates itu, Jobs akhirnya berkata: "Anjing, gue tunjukin juga nih gimana caranya bikin tablet yang bener!"

Jobs, usai memerintah tim ENRI untuk memindahkan kemampuan tablet Macbook pada iPod sebagai pengganti trackwheel dan akhirnya menghasilkan iPhone pada 2007, akhirnya merilis iPad pada 2010. Yang menarik, meskipun tablet ala Apple awalnya digagas sebagai penjelmaan tablet untuk Macbook, iPad lahir sebagai bentuk raksasa dari iPhone. Alasannya, pada versi paling awal iPad tersebut, Apple memilih membenamkan iOS (kala itu bernama iPhone OS dan versi yang dibenamkan adalah versi 3.2), bukan Macintosh (kini bernama macOS). Pilihan yang diambil karena iPad, secara hardware, benar-benar menjiplak iPhone--dengan hanya diperbesar. Kala itu, iPad generasi pertama menggunakan SoC Apple A4 (yang dipakai pula pada iPhone 4) dengan RAM sebesar 256 megabit.

Dengan memilih membenamkan iOS, iPad akhirnya hanya mampu menjalankan aplikasi-aplikasi iPhone--lagi-lagi, versi yang diperbesar. Tidak ada aplikasi komputer sungguhan yang dapat dijalankan oleh iPad. Bahkan, tatkala Apple di bawah kendali Tim Cook meluncurkan versi paling canggih iPad, yakni iPad Pro pada 2015, iOS (kala itu namanya telah berganti menjadi iPadOS) tetap menjadi pilihan meskipun Apple gembar-gembor meyakinkan publik bahwa iPad Pro merupakan pengganti komputer melalui iklan “iPad Pro, What’s a Computer?”

Maka, atas keputusan ini, Apple hanya menempatkan iPad sebagai "pelengkap" iPhone dan Macbook semata bagi para fanboy, bukan serupa Microsoft Surface yang benar-benar merupakan komputer sungguhan tetapi dalam wujud tablet.

Tentu, keputusan Apple membenamkan iOS (atau iPadOS) pada iPad tak bisa dibaca hanya karena hardware tablet ini serupa iPhone. Musababnya, semenjak Apple merilis iPad Pro generasi ke-4, SoC Apple A12Z (yang merupakan versi update dari Apple A12X yang tersemat pada iPad Pro generasi ke-3 yang dirilis pada 2018) yang digunakan tablet tersebut juga digunakan dalam pengembangan macOS untuk prosesor berbasis ARM (kini mewujud dalam bentuk Apple M1). Tak ketinggalan, secara arsitektur, iOS (dan iPadOS) merupakan versi lucutan dari macOS, yang memiliki kakek buyut yang sama bernama NeXTSTEP. Artinya, Apple sesungguhnya memiliki pilihan untuk membenamkan macOS sedari dulu pada iPad. Masalahnya, merujuk laporan kuartal-1 2021 (PDF) saja, lini komputer Mac (Apple menggabungkan hasil penjualan Macbook Air, Macbook Pro, Mac Mini, iMac, dan Mac Pro) adalah penghasil uang sebesar $8,675 miliar bagi Apple. Dan merujuk kinerja Apple sepanjang 2020 (PDF) kemarin, Mac adalah mesin pengeruk uang senilai $28,6 miliar milik Apple. Sumbangsih yang lebih besar dibandingkan dengan iPad.

Andai Apple membenamkan macOS pada iPad yang secara teori sangat memungkinkan karena iPad Pro generasi terbaru menggunakan M1, akan ada orang-orang yang memilih hanya membeli iPad (serta mungkin ditambah dengan iPhone) semata dan mencampakkan Macbook. Jika ini terjadi, Mac, yang merupakan mesin uang terbesar kedua setelah iPhone, hancur. Mengikis pendapatan Apple.

Maka, tulisan Monica Chin yang dimuat The Verge yang menyebut Apple sebagai "pengecut" karena tidak mau membenamkan macOS pada iPad Pro generasi terbaru mungkin hanya jadi bahan tertawaan Tim Cook semata.

Duit, bos!



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



12 Juli 2021

iPad M1 dan iPadOS 15: iPad tetaplah iPad

Oleh: Ahmad Zaenudin


Selama hampir tiga bulan, usai bertahun-tahun menggunakan iPad Air generasi pertama, saya akhirnya melakukan upgrade dan beralih menggunakan iPad Air 4 (atau iPad Air 2020). Generasi paling mutakhir seri "Air" yang disebut Tim Cook sebagai "tablet yang memberikan kemampuan profesional dengan harga terjangkau" yang dirilis pada 16 Oktober 2020.

Menggunakan system-on-chip (SoC) terbaru Apple bernama A14 Bionic, yang dibuat dengan teknologi 5 nanometer hingga membuatnya sanggup mengandung 11,8 miliar transistor dan pada akhirnya dapat memproses 11 triliun operasi per detik, iPad Air 4, mengutip apa yang diucapkan Vice President of Hardware Engineering Apple Laura Legos, "merupakan tablet terbaru yang memiliki lompatan sangat tinggi soal kinerja." Bukan sekedar performa grafik yang meningkat 30 persen dibandingkan generasi iPad sebelumnya (seri Pro dan Air sebelumnya), tetapi tablet ini diklaim memiliki kecepatan kinerja dua kali lipat dibandingkan rata-rata laptop (Windows-based) di pasaran.

Bagi saya, dalam tempo yang cukup singkat terkait penggunaan iPad Air 4, klaim Cook dan Legos tak berlebihan. iPad Air 4 memang terasa lebih cepat dibandingkan dengan laptop berbasis Windows yang saya miliki (HP Pavilion x360 dengan prosesor i5, RAM sebesar 4GB, dan SSD berukuran 64GB), entah digunakan untuk bekerja atau sebatas bermain. Tercatat, segala aplikasi-aplikasi untuk menunjang kerja saya, seperti Google Docs, Safari, Readdle, hingga GoodNotes, lancar jaya dijalankan tanpa hambatan apapun. Dan meskipun kemampuan multitasking iPadOS tidak bisa disamakan dengan kemampuan serupa pada MacOS ataupun Windows, keterbatasan multitasking pada diri iPad Air 4 bisa dimaafkan atas kekuatan A14 Bionic tersebut. Saya hanya tinggal melakukan swipe-right atau swipe-left tatkala butuh lebih dari dua aplikasi bekerja sekaligus, dan iPad Air 4 memprosesnya dengan luar biasa.

Pemanfaatan iPad Air 4 untuk bekerja pun dipermudah dengan fakta bahwa tablet ini sangat terintegrasi dengan Macbook. Apa yang saya lakukan di Macbook atau sebaliknya, seketika muncul di iPad Air 4, juga sebaliknya. Dan memanfaatkan fitur bernama Sidecar, iPad Air 4 lancar jaya ketika digunakan sebagai external (extended) layar bagi Macbook.

Tak ketinggalan, menggabungkannya dengan Apple Pencil (dan turut menambahkan lapisan Paperlike buatan SwitchEasy), tablet ini sangat mempesona, khususnya untuk digunakan dalam kerja-kerja desain menggunakan aplikasi Procreate. Pun, karena iPadOS telah mendukung transfer file yang lebih baik dibandingkan iOS (tetapi masih buruk dibandingkan MacOS), dalam kondisi tertentu iPad Air 4 cukup baik apabila digunakan untuk melakukan editing foto melalui Adobe Lightroom.

Soal hiburan, melalui aplikasi Netflix, Youtube, hingga beragam video game yang dikemas Apple dalam program berlangganan berjudul Apple Arcade, iPad Air 4 tak perlu diragukan lagi menyenangkannya.

Maka, meminjam tagline Majalah Bobo, iPad Air merupakan "teman bermain dan belajar" (dalam kasus saya, tentu, bekerja) sebaik-baiknya.

Sayangnya, hanya dalam tempo enam bulan sejak diluncurkan (atau tiga bulan usai saya gunakan), iPad Air 4 kini lebih pas dianggap sebagai produk usang. Musababnya, Apple kemudian merilis iPad Pro terbaru yang menggunakan prosesor Apple M1 tepat pada 20 April kemarin. Ada rasa percuma yang muncul seketika dalam diri saya atas keputusan tiga bulan lalu membeli iPad Air 4 gara-gara kemunculan iPad Pro M1.

Yang menarik, rasa percuma itu hanya bertahan selama Tim Cook mempresentasikan beragam produk baru dari Apple dalam acara Apple Event: Spring Loaded saja. Alasannya, Apple adalah Apple. Meskipun iPad Pro menggunakan M1, tablet tersebut kemungkinan besar tidak akan bertransformasi menjadi Macbook (mengganti iPadOS dengan MacOS). Atau, iPad Pro M1 tak akan pernah serupa dengan Microsoft Surface, si komputer sungguhan dalam wujud tablet.

Meskipun Lahir Atas Gagasan Macbook versi Tablet, iPad adalah iPhone yang Diperbesar

Tepat pada 2005, Apple secara resmi terpatri menjadi perusahaan teknologi raksasa. Bukan karena lini komputer Mac, melainkan iPod--perangkat pemutar audio yang dirilis pertama kali pada 2001--sukses besar di pasaran. Kala itu, iPod terjual lebih dari 20 juta unit. Empat kali lipat dibandingkan hasil yang mereka terima setahun sebelumnya. Sayangnya, meskipun sukses, sebagaimana dikisahkan Walter Isaacson dalam biografi Steve Jobs (2011), Steve Jobs khawatir kesuksesan iPod tersebut tak bertahan lama. Musababnya, ponsel semakin canggih dan menurut Jobs, "orang-orang kini mulai memiliki ponsel, andai saja ponsel-ponsel itu memiliki kemampuan seperti iPod, iPod tak akan dibutuhkan lagi."

Sebagai langkah antisipasi, Jobs lantas bergerilya menciptakan produk penerus iPod. Mulanya, Apple memilih bekerjasama dengan Motorola, yang kala itu sukses besar gara-gara RAZR. Usai kesana-kesini melakukan diplomasi, pada akhir 2005, terciptalah ROKR--varian RAZR dengan iTunes di dalamnya. Sial, bukannya sukses, ROKR jadi olok-olok semata. Bahkan, majalah Wired--media di Amerika Serikat yang dianggap sebagai "patron saint (santo pelindung) Silicon Valley"--memuat review ROKR berjudul "You call this the phone of the future? (Masa ponsel kayak ginian dianggap masa depan?)"

"Sampah, gue ngga mau kerjasama lagi dengan perusahaan bodoh seperti Motorola," kesal Jobs atas nasib buruk yang menimpa ROKR.

Jobs, atas kekuasaannya, akhirnya memilih memikirkan penerus iPod sendiri--tanpa bantuan perusahaan lain. Tentu, usaha pertama yang dilakukan Apple untuk meneruskan kesuksesan iPod adalah dengan mengubah iPod menjadi ponsel. Masalahnya, karena pada akhir 2005 itu Apple memilih tetap mempertahankan user interface (UI) iPod dengan menggunakan trackwheel untuk menciptakan ponsel, proyek ini menghasilkan masalah teknis tak berkesudahan nan rumit. Yang menarik, di samping berusaha menciptakan ponsel, Apple pun punya proyek pengganti iPod lain kala itu, yakni mengubah Macbook menjadi tablet. Proyek, sebagaimana dituturkan Brian Merchant dalam bukunya berjudul The One Device: The Secret History of the iPhone (2017), yang lahir bukan dari ide orisinal Jobs, melainkan lahir dari sekumpulan kecil teknisi Apple yang bekerja secara diam-diam untuk menghasilkan sistem UI baru. Tim yang disebut Merchant, "explore new rich interactions (ENRI) group."

Mulanya, tim ENRI memang tak berniat mengubah Macbook menjadi tablet, tetapi sebatas memikirkan dan menciptakan fitur-fitur interaksi baru bagi Macbook selain menggunakan keyboard dan mouse. Namun, pada 2002, seorang anggota ENRI bernama Tina Huang, karena bertahun-tahun menggunakan mouse, memiliki masalah dengan pergelangan tangannya. Beruntung, seorang kandidat Ph.D dari University of Delaware bernama Wayne Westerman memiliki masalah yang sama dan menghadirkan solusi yang jitu.

Westerman, sebagaimana termuat dalam arsip The New York Times tertanggal 24 Januari 2002, memiliki penyakit bernama sindrom lorong karpal (Carpal Tunnel Syndrome), penyakit yang menyebabkan rasa nyeri di pergelangan tangan akibat saraf terjepit, yang membuatnya "tak bisa mengetik lebih dari satu halaman setiap harinya." Namun, bukannya menerima penyakit tersebut sebagai takdir, didukung dengan disertasinya tentang keyless keyboard (keyboard tanpa tombol) serta bantuan dari pembimbingnya bernama profesor John G. Elias, ia mendirikan startup bernama FingerWorks dan melahirkan alat bernama TouchStream Mini dan iGesture Pad untuk komputer Mac dan Windows. Keyboard tanpa tombol dan tablet peka sentuhan pengganti mouse--lengkap dengan kemampuan multi interaction seperti swipe, pinch, dan double/triple/multi touch.

Huang terkesima, berikut juga seluruh anggota tim ENRI. Usai Huang membeli TouchStream Mini dan iGesture Pad untuk keperluan pribadinya, tim ENRI menerjemahkan kemampuan di dua alat tersebut ke komputer Mac, khususnya pada modul trackpad. Beranjak waktu, ENRI pun menerjemahkan kemampuan multi interaction ini lebih jauh, mengubah Macbook untuk memiliki kemampuan touchscreen, mengubahnya menjadi tablet dengan teknologi milik FingerWorks. Proyek yang akhirnya lebih mudah dilakukan tim ENRI karena, di tahun Apple memikirkan penerus iPod, Apple membeli startup ini. Mengambil paten-paten yang dimiliki, serta memerintahkan FingerWorks untuk tidak mengerjakan kemampuan serupa bagi Windows (ini salah satu sebab utama mengapa laptop berbasis Windows memiliki trackpad yang sangat buruk dibandingkan Macbook).

Awalnya, tablet Macbook ala tim ENRI memang hanya sebatas prakarya anak sekolahan semata alias tak hendak dijadikan produk utuh. Namun, terpujilah Bill Gates. Kembali merujuk biografi Jobs yang ditulis Isaacson, ada satu orang karyawan Microsoft yang memiliki hubungan perkoncoan dengan istri Jobs, Laurene, dan istri Gates, Melinda. Suatu hari pada 2005, satu orang karyawan Microsoft ini mengadakan ulang tahun pernikahannya yang ke-15 dengan turut mengundang Gates serta Jobs. Dan ia, di acara ulang tahun pernikahan itu, membocorkan informasi pada Jobs bahwa Gates (atau Microsoft) sedang mengembangkan tablet PC--dengan stylus sebagai alat interaksinya.

Bagi Jobs, tablet+stylus adalah kombinasi yang buruk (dengan berkaca pada produk Apple bernama Newton). Maka, atas ide yang dibocorkan karyawan Gates itu, Jobs akhirnya berkata: "Anjing, gue tunjukin juga nih gimana caranya bikin tablet yang bener!"

Jobs, usai memerintah tim ENRI untuk memindahkan kemampuan tablet Macbook pada iPod sebagai pengganti trackwheel dan akhirnya menghasilkan iPhone pada 2007, akhirnya merilis iPad pada 2010. Yang menarik, meskipun tablet ala Apple awalnya digagas sebagai penjelmaan tablet untuk Macbook, iPad lahir sebagai bentuk raksasa dari iPhone. Alasannya, pada versi paling awal iPad tersebut, Apple memilih membenamkan iOS (kala itu bernama iPhone OS dan versi yang dibenamkan adalah versi 3.2), bukan Macintosh (kini bernama macOS). Pilihan yang diambil karena iPad, secara hardware, benar-benar menjiplak iPhone--dengan hanya diperbesar. Kala itu, iPad generasi pertama menggunakan SoC Apple A4 (yang dipakai pula pada iPhone 4) dengan RAM sebesar 256 megabit.

Dengan memilih membenamkan iOS, iPad akhirnya hanya mampu menjalankan aplikasi-aplikasi iPhone--lagi-lagi, versi yang diperbesar. Tidak ada aplikasi komputer sungguhan yang dapat dijalankan oleh iPad. Bahkan, tatkala Apple di bawah kendali Tim Cook meluncurkan versi paling canggih iPad, yakni iPad Pro pada 2015, iOS (kala itu namanya telah berganti menjadi iPadOS) tetap menjadi pilihan meskipun Apple gembar-gembor meyakinkan publik bahwa iPad Pro merupakan pengganti komputer melalui iklan “iPad Pro, What’s a Computer?”

Maka, atas keputusan ini, Apple hanya menempatkan iPad sebagai "pelengkap" iPhone dan Macbook semata bagi para fanboy, bukan serupa Microsoft Surface yang benar-benar merupakan komputer sungguhan tetapi dalam wujud tablet.

Tentu, keputusan Apple membenamkan iOS (atau iPadOS) pada iPad tak bisa dibaca hanya karena hardware tablet ini serupa iPhone. Musababnya, semenjak Apple merilis iPad Pro generasi ke-4, SoC Apple A12Z (yang merupakan versi update dari Apple A12X yang tersemat pada iPad Pro generasi ke-3 yang dirilis pada 2018) yang digunakan tablet tersebut juga digunakan dalam pengembangan macOS untuk prosesor berbasis ARM (kini mewujud dalam bentuk Apple M1). Tak ketinggalan, secara arsitektur, iOS (dan iPadOS) merupakan versi lucutan dari macOS, yang memiliki kakek buyut yang sama bernama NeXTSTEP. Artinya, Apple sesungguhnya memiliki pilihan untuk membenamkan macOS sedari dulu pada iPad. Masalahnya, merujuk laporan kuartal-1 2021 (PDF) saja, lini komputer Mac (Apple menggabungkan hasil penjualan Macbook Air, Macbook Pro, Mac Mini, iMac, dan Mac Pro) adalah penghasil uang sebesar $8,675 miliar bagi Apple. Dan merujuk kinerja Apple sepanjang 2020 (PDF) kemarin, Mac adalah mesin pengeruk uang senilai $28,6 miliar milik Apple. Sumbangsih yang lebih besar dibandingkan dengan iPad.

Andai Apple membenamkan macOS pada iPad yang secara teori sangat memungkinkan karena iPad Pro generasi terbaru menggunakan M1, akan ada orang-orang yang memilih hanya membeli iPad (serta mungkin ditambah dengan iPhone) semata dan mencampakkan Macbook. Jika ini terjadi, Mac, yang merupakan mesin uang terbesar kedua setelah iPhone, hancur. Mengikis pendapatan Apple.

Maka, tulisan Monica Chin yang dimuat The Verge yang menyebut Apple sebagai "pengecut" karena tidak mau membenamkan macOS pada iPad Pro generasi terbaru mungkin hanya jadi bahan tertawaan Tim Cook semata.

Duit, bos!


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play