15 Juli 2021

iOS Sesungguhnya Sistem Operasi Komputer, Bukan Ponsel

Oleh: Ahmad Zaenudin


“iOS akan menjadi (lebih) luar biasa,” tutur Craig Federighi, Senior Vice President of Software Engineering Apple, dalam Apple Worldwide Developer Conference (WWDC) 2020, Juni silam, acara tahunan Apple yang salah satunya ditujukan untuk mengungkap kemunculan versi baru iOS. Tahun ini, iOS 14.

iOS, sebut Federighi, “merupakan pondasi bagaimana umat manusia menavigasi kehidupannya dan tetap terhubung (dengan sesama secara digital).” Federighi tentu tak berlebihan. Semenjak Steve Jobs meluncurkan iPhone, yang disebutnya merupakan produk yang “mendeskripsikan ulang ponsel,” iPhone (dan iOS) perlahan menjadi navigasi manusia menjelajahi dunia digital (dan dunia nyata). Tatkala ponsel-ponsel besutan Nokia hanya menyajikan fungsi telepon dan SMS, serta ponsel-ponsel buatan BlackBerry hanya menambah kemampuan Nokia dengan email (push email), iPhone melangkah lebih jauh. iPhone (dan iOS), selain menyajikan fungsi dasar ponsel, juga menghadirkan manusia pada aplikasi. Instagram, WhatsApp, Grab, Slack, AirBnb dan aplikasi lainnya tak bisa dipungkiri lahir karena iPhone.

Karena iOS (dan iPhone), fungsi dasar ponsel sebagai alat telekomunikasi (telepon dan SMS) perlahan digeser, ponsel kini menjadi perangkat “all-in-one.” Data eMarketer menyebut, di 2019 silam, rata-rata warga Amerika Serikat menghabiskan waktu menggunakan ponsel selama 3 jam dan 10 menit setiap harinya. Dari durasi itu, mayoritas dihabiskan untuk bermain-main dengan aplikasi, khususnya aplikasi media sosial dan video. Di Indonesia, merujuk publikasi Statista, mayoritas warga maya +62 menghabiskan waktunya di ponsel untuk bermain game. Tercatat, hanya 8 persen dari durasi harian warga Indonesia menggenggam ponsel digunakan untuk telepon dan SMS.

Pertanyaannya, mengapa iOS dapat, mengutip kata-kata Jobs, mendeskripsikan ulang ponsel? Jawaban sederhana, iOS sejatinya bukan sistem operasi ponsel, melainkan sistem operasi komputer.

Ketika Mafia NeXT Mendikte Apple

Richard Williamson, suatu hari di awal dekade 200-an, duduk manis di ruangan milik Steve Jobs. Brian Merchant, dalam bukunya berjudul “The One Device: The Secret History of the iPhone,” menyebut bahwa kedatangan Williamson ke ruangan Jobs terjadi karena ia hendak mengutarakan niat pengunduran diri dari Apple, perusahaan yang ia masuki tatkala NeXT, startup yang didirikan Jobs dan Williamson menjadi salah satu karyawannya, dibeli Apple.

Baik di NeXT maupun Apple, Williamson termasuk sosok yang paling berjasa. Pria kelahiran Inggris dan belajar komputer sejak usia 11 tahun ini adalah pencipta WebKit, mesin inti Safari. Di dunia komputer masa kini, selain WebKit, mesin inti browser lainnya adalah Gecko (yang digunakan Mozilla Firefox) dan Chromium (yang digunakan Chrome dan Edge). Dan karena Apple mewajibkan browser pihak ketiga menggunakan WebKit jika ingin meluncurkan versi Mac dan iOS, artinya Chrome, Edge, dan Firefox versi perangkat-perangkat Apple tercipta pula melalui tangan Williamson. Karena kebijakan Apple ini, majalah Forbes pernah menjuluki Williamson sebagai “bintang rock @#$ (internet).”

Sayangnya, Williamson telah merasa bosan dengan Apple, dan di saat bersamaan Google menawarinya pekerjaan. Sebagai perusahaan yang benar-benar hidup di atas internet, Google teramat sayang dilewatkan. Apalagi, ialah pencipta WebKit. Pikir Williamson, saatnya pergi dari Apple telah tiba.

“Jangan pergi,” tegas Jobs menghancurkan kehendak Williamson. Tawar Jobs, “Apple memiliki proyek baru dan aku berpikir kamu akan sangat tertarik bergabung.” Tak lain, proyek baru Apple yang diminta dimasuki Williamson adalah proyek penciptaan ponsel. Masalahnya, saat Jobs menawarinya bergabung, versi mentah atau versi prototipe ponsel ala Apple belum ada. Bahkan, “layarnya setahuku belum ada dan teknologi layar sentuh yang pas untuk ponsel belum ditemukan,” terang Williamson. Ya, Jobs adalah Jobs. Dengan untaian katanya, Williamson akhirnya setuju untuk terus bersama Apple.

“Aku sudah bersama Jobs semenjak di NeXT dan aku jatuh hati dengan auranya sejak saat itu.”

Akhirnya, Jobs menugasi Williamson menciptakan sistem yang memungkinkan ponsel ala Apple menjelajah internet. Dengan catatan, bukan sebatas melalui browser. Williamson kemudian berpikir: di ponsel Apple yang mana ia bekerja?

Tercetusnya ide menciptakan ponsel di benak Apple, urai Merchant, terjadi karena Apple tahu bahwa masa keemasan iPod telah usai. Sebelum 2007, telah banyak ponsel yang sanggup memutar file MP3. Dengan kemunculan ponsel-ponsel itu, tak ada alasan kuat bagi masyarakat untuk membeli iPod. Semangat membuat ponsel ala Apple pun semakin menggebu-gebu usai Motorola Rokr alias iTunes Phone--ponsel kerjasama Apple dan Motorola di tahun 2005-- gagal. Jobs, sebut Merchant, sangat malu dengan Rokr. Dan hampir seluruh karyawan Apple sepakat bahwa membenamkan iTunes pada ponsel bikinan Motorola sebagai “guyonan semata.”

Dengan dua alasan di atas, Jobs berhasrat menciptakan ponsel dengan tujuan: menghindarkan Apple dari kehancuran karena penjualan iPod terus menurun karena banyak ponsel MP3 dan memperbaiki kesalahannya dengan meluncurkan Rokr. Masalahnya, Apple adalah perusahaan komputer (dan perusahaan pemutar musik). Apple tidak memiliki ilmu membuat ponsel. Maka, Jobs memutuskan jalan tengah. Menciptakan ponsel dari rahim iPod atau membuat ponsel dari otak komputer Mac. Apple membentuk dua kelompok penciptaan ponsel, P1 dan P2.

Williamson, masih merujuk kerja jurnalistik Merchant, menyebut bahwa kelompok yang awalnya disukai Jobs adalah P1, kelompok yang bekerja mengubah iPod untuk memiliki fungsi ponsel. P1 dikepalai oleh Tony Fadell, bapaknya iPod. Tentu saja adalah alasan mengapa Jobs lebih senang dengan P1. Pertama, tak bisa dipungkiri, iPod adalah produk paling sukses Apple (sebelum iPhone lahir). Melalui iPod, untuk pertama kalinya Apple memiliki unit bisnis yang menguasai pasar. Mac, yang sejatinya ruh Apple, kalah bersaing dengan IBM dan kemudian Windows. Kedua, dari sisi bentuk, iPod telah menyerupai ponsel. Pikir Jobs, P1 hanya tinggal membenamkan modul seluler dan sedikit modifikasi di iPod, maka terciptalah ponsel.

Terakhir, dan paling utama, karena kesuksesan iPod, Fadell memiliki kekuatan politik yang sangat besar di Apple. Tatkala Jobs menginginkan ponsel, proyek ini adalah “proyek Fadell seorang,” ungkap Williamson.

iPod memang punya bentuk mirip ponsel. Masalahnya, jika Anda pernah memiliki iPod (versi-versi awal seperti iPod Classic, bukan iPod Touch), produk ini memiliki user interface (UI) yang sukar ditransformasikan menjadi ponsel. Ya, untuk digunakan, iPod memanfaatkan wheel (roda), persis seperti telepon rumah jadul. Untuk iPod, UI seperti ini bukan soal. iPod hanya butuh Play/Pause/Next/Previous. Untuk ponsel, ini bencana.

Anda bisa mengetik website atau SMS atau catatan via tombol yang hanya bisa melakukan Play/Pause/Next/Previous? Bukan hanya Anda, insinyur-insinyur Apple pun kebingungan.

Meskipun tahu bahwa membuat ponsel dari iPod sukar (atau mustahil) dilakukan, Jobs, tutur Fadell terus menekannya hingga berhasil. “Ayolah, pasti ada jalan,” terang Jobs. Sayangnya, meskipun dicoba berulang-ulang dan sesungguhnya tim yang dikepalai Fadell telah sukses menciptakan prototipe iPod yang bisa bertelepon, P1 gagal.

Berbeda dengan P1, P2 merupakan kelompok yang dibentuk Jobs yang diisi insinyur-insinyur software, bukan hardware. P2 dikepalai Scott Forstall, programmer lulusan Stanford University yang kali pertama memegang komputer ketika duduk di bangku SMA. Kala itu, Forstall memegang Apple II, komputer yang sepenuhnya dirancang Steve Wozniak--pendiri perusahaan yang melambungkan namanya.

Ketika Forstall lulus kuliah, ia bekerja untuk NeXT. Seperti Williamson, ia hijrah ke Apple selepas startup itu dibeli Apple.

NeXT terhitung startup gagal. Alasannya sederhana, komputer buatan NeXT, NeXT Computer System, kemahalan. Komputer yang diluncurkan pada 1988 itu dihargai sekitar $6.500, alias setara dengan $14.000 pada nilai dolar di tahun 2019, alias setara dengan Rp200.000.000. Namun, meskipun gagal, NeXTSTEP, sistem operasi di baliknya, cemerlang. Ketika Apple membeli NeXT, Apple membuang NeXT Computer System, tetapi menjadikan NeXTSTEP sebagai penerus Macintosh. Semanjak Mac OS X hingga macOS 11.0 Big Sur (yang belum dirilis Apple secara resmi), NeXTSTEP-lah induknya.

P2 atau dijuluki Williamson sebagai “NeXT mafia” (karena mayoritas diisi alumni NeXT) akhirnya bekerja untuk memodifikasi Macintosh agar bisa bekerja dalam tubuh ponsel.

Kerja mengubah komputer Macintosh menjadi ponsel terlihat susah, tetapi, merujuk Merchant, ini sesungguhnya mudah. Paling tidak, dari sisi software. Alasannya, lagi-lagi sederhana: NeXT mafia yang mendiami P2 sudah sangat tahu betul luar dalam source code Macintosh. Mereka hanya perlu membuang yang tak dibutuhkan, dan menambal yang dibutuhkan. Mudahnya mengubah Macintosh menjadi ponsel ditambah dengan fakta bahwa jauh sebelum Jobs menginginkan ponsel, sebuah tim di Apple bernama Exploring New Rich Interaction (ENRI), yang diisi Andre Boule, Andy Grignon, Bas Ording, Imran Chaudhri telah diam-diam membuat komputer Macintosh untuk bisa dioperasikan dengan sentuhan.

P2, singkat cerita, terasa bekerja untuk membuat Mac layar sentuh itu mengerucut dari sisi bentuk. Membuang elemen-elemen UI dari Macintosh yang wajarnya dioperasikan dengan kursor mouse dan keyboard, mengganti sepenuhnya dengan layar sentuh.

P2, akhirnya, berhasil. P2 sukses menciptakan versi mini dari Macintosh, iOS. Karena iOS tetaplah Macintosh, aplikasi-aplikasi non telekomunikasi (telepon dan SMS) bisa bekerja. 

Sayangnya, meskipun berhasil mengerdilkan Macintosh, Macintosh versi kerdil itu tetaplah sistem operasi komputer, yang butuh tenaga selayaknya komputer. Beruntung, Apple memiliki teman bernama Samsung. Samsung membuatkan Apple Samsung 32-bit RISC ARM. Prosesor berbasis ARM yang memiliki kemampuan selayaknya prosesor komputer.

Di awal 2007, Apple akhirnya meluncurkan iPhone. Ponsel rasa komputer atau komputer dalam bentuk ponsel lahir. Sejak saat itu, kembali ke awal tulisan ini, definisi ulang ponsel berubah.

Dan merujuk “Losing the Signal: The Untold Story Behind the Extraordinary Rise and Spectacular Fall of BlackBerry,” buku yang ditulis Jacquie McNish dan Sean Silcoff, Android sebetulnya hendak dibuat meniru sistem operasi BlackBerry. Namun, tatkala Jobs meluncurkan iPhone, Andy Rubin mengubah haluan, menciptakan Android untuk serupa iOS. Maka, hampir segala aplikasi ponsel yang ada hari ini, lahir atas andil iOS.

Dan di tahun 2020, pondasi manusia melakukan navigasi kehidupan digitalnya itu melakukan pembaruan, yang termaktub dalam iOS 14. Pembaruan itu, selain menambah fitur-fitur yang sebetulnya telah ada duluan di Android--seperti widget--adalah segalanya tentang privasi. Sesuatu yang tak aneh dilakukan Apple selepas mereka mengkampanyekan “What happens on your iPhone, stays on your iPhone.”

Pada iOS 14, sistem operasi yang bisa digunakan mulai iPhone 6s (2015) ke atas, Apple membenamkan izin privasi yang lebih ketat. Agar aplikasi bisa menggunakan fitur Local Network, pengguna harus memberi izin. Location Services, perlu izin. Photos, perlu izin, semua foto atau hanya satu saja. Tracking, izin. Wi-Fi tracking, izin. Dan ketika aplikasi menggunakan modul kamera atau video, pengguna iOS 14 kini diberi indikator, hijau atau jingga di status bar iPhone.

Gara-gara kebanyakan izin yang mesti berikan penggunanya, Facebook protes. Melansir laporan Peter Kafka untuk Recode, Facebook khawatir banyak penggunanya yang enggan memberikan izin, khususnya pada fitur Tracking. Facebook butuh fitur ini karena bisnis utama mereka adalah berjualan iklan. Iklan personal. Tatkala pengguna iPhone tidak memberikan akses Tracking pada Facebook, Facebook mati. Ia tak bisa memata-matai apa yang dilakukan penggunanya di internet. Ia tak bisa melakukan identifikasi pengguna.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



15 Juli 2021

iOS Sesungguhnya Sistem Operasi Komputer, Bukan Ponsel

Oleh: Ahmad Zaenudin


“iOS akan menjadi (lebih) luar biasa,” tutur Craig Federighi, Senior Vice President of Software Engineering Apple, dalam Apple Worldwide Developer Conference (WWDC) 2020, Juni silam, acara tahunan Apple yang salah satunya ditujukan untuk mengungkap kemunculan versi baru iOS. Tahun ini, iOS 14.

iOS, sebut Federighi, “merupakan pondasi bagaimana umat manusia menavigasi kehidupannya dan tetap terhubung (dengan sesama secara digital).” Federighi tentu tak berlebihan. Semenjak Steve Jobs meluncurkan iPhone, yang disebutnya merupakan produk yang “mendeskripsikan ulang ponsel,” iPhone (dan iOS) perlahan menjadi navigasi manusia menjelajahi dunia digital (dan dunia nyata). Tatkala ponsel-ponsel besutan Nokia hanya menyajikan fungsi telepon dan SMS, serta ponsel-ponsel buatan BlackBerry hanya menambah kemampuan Nokia dengan email (push email), iPhone melangkah lebih jauh. iPhone (dan iOS), selain menyajikan fungsi dasar ponsel, juga menghadirkan manusia pada aplikasi. Instagram, WhatsApp, Grab, Slack, AirBnb dan aplikasi lainnya tak bisa dipungkiri lahir karena iPhone.

Karena iOS (dan iPhone), fungsi dasar ponsel sebagai alat telekomunikasi (telepon dan SMS) perlahan digeser, ponsel kini menjadi perangkat “all-in-one.” Data eMarketer menyebut, di 2019 silam, rata-rata warga Amerika Serikat menghabiskan waktu menggunakan ponsel selama 3 jam dan 10 menit setiap harinya. Dari durasi itu, mayoritas dihabiskan untuk bermain-main dengan aplikasi, khususnya aplikasi media sosial dan video. Di Indonesia, merujuk publikasi Statista, mayoritas warga maya +62 menghabiskan waktunya di ponsel untuk bermain game. Tercatat, hanya 8 persen dari durasi harian warga Indonesia menggenggam ponsel digunakan untuk telepon dan SMS.

Pertanyaannya, mengapa iOS dapat, mengutip kata-kata Jobs, mendeskripsikan ulang ponsel? Jawaban sederhana, iOS sejatinya bukan sistem operasi ponsel, melainkan sistem operasi komputer.

Ketika Mafia NeXT Mendikte Apple

Richard Williamson, suatu hari di awal dekade 200-an, duduk manis di ruangan milik Steve Jobs. Brian Merchant, dalam bukunya berjudul “The One Device: The Secret History of the iPhone,” menyebut bahwa kedatangan Williamson ke ruangan Jobs terjadi karena ia hendak mengutarakan niat pengunduran diri dari Apple, perusahaan yang ia masuki tatkala NeXT, startup yang didirikan Jobs dan Williamson menjadi salah satu karyawannya, dibeli Apple.

Baik di NeXT maupun Apple, Williamson termasuk sosok yang paling berjasa. Pria kelahiran Inggris dan belajar komputer sejak usia 11 tahun ini adalah pencipta WebKit, mesin inti Safari. Di dunia komputer masa kini, selain WebKit, mesin inti browser lainnya adalah Gecko (yang digunakan Mozilla Firefox) dan Chromium (yang digunakan Chrome dan Edge). Dan karena Apple mewajibkan browser pihak ketiga menggunakan WebKit jika ingin meluncurkan versi Mac dan iOS, artinya Chrome, Edge, dan Firefox versi perangkat-perangkat Apple tercipta pula melalui tangan Williamson. Karena kebijakan Apple ini, majalah Forbes pernah menjuluki Williamson sebagai “bintang rock @#$ (internet).”

Sayangnya, Williamson telah merasa bosan dengan Apple, dan di saat bersamaan Google menawarinya pekerjaan. Sebagai perusahaan yang benar-benar hidup di atas internet, Google teramat sayang dilewatkan. Apalagi, ialah pencipta WebKit. Pikir Williamson, saatnya pergi dari Apple telah tiba.

“Jangan pergi,” tegas Jobs menghancurkan kehendak Williamson. Tawar Jobs, “Apple memiliki proyek baru dan aku berpikir kamu akan sangat tertarik bergabung.” Tak lain, proyek baru Apple yang diminta dimasuki Williamson adalah proyek penciptaan ponsel. Masalahnya, saat Jobs menawarinya bergabung, versi mentah atau versi prototipe ponsel ala Apple belum ada. Bahkan, “layarnya setahuku belum ada dan teknologi layar sentuh yang pas untuk ponsel belum ditemukan,” terang Williamson. Ya, Jobs adalah Jobs. Dengan untaian katanya, Williamson akhirnya setuju untuk terus bersama Apple.

“Aku sudah bersama Jobs semenjak di NeXT dan aku jatuh hati dengan auranya sejak saat itu.”

Akhirnya, Jobs menugasi Williamson menciptakan sistem yang memungkinkan ponsel ala Apple menjelajah internet. Dengan catatan, bukan sebatas melalui browser. Williamson kemudian berpikir: di ponsel Apple yang mana ia bekerja?

Tercetusnya ide menciptakan ponsel di benak Apple, urai Merchant, terjadi karena Apple tahu bahwa masa keemasan iPod telah usai. Sebelum 2007, telah banyak ponsel yang sanggup memutar file MP3. Dengan kemunculan ponsel-ponsel itu, tak ada alasan kuat bagi masyarakat untuk membeli iPod. Semangat membuat ponsel ala Apple pun semakin menggebu-gebu usai Motorola Rokr alias iTunes Phone--ponsel kerjasama Apple dan Motorola di tahun 2005-- gagal. Jobs, sebut Merchant, sangat malu dengan Rokr. Dan hampir seluruh karyawan Apple sepakat bahwa membenamkan iTunes pada ponsel bikinan Motorola sebagai “guyonan semata.”

Dengan dua alasan di atas, Jobs berhasrat menciptakan ponsel dengan tujuan: menghindarkan Apple dari kehancuran karena penjualan iPod terus menurun karena banyak ponsel MP3 dan memperbaiki kesalahannya dengan meluncurkan Rokr. Masalahnya, Apple adalah perusahaan komputer (dan perusahaan pemutar musik). Apple tidak memiliki ilmu membuat ponsel. Maka, Jobs memutuskan jalan tengah. Menciptakan ponsel dari rahim iPod atau membuat ponsel dari otak komputer Mac. Apple membentuk dua kelompok penciptaan ponsel, P1 dan P2.

Williamson, masih merujuk kerja jurnalistik Merchant, menyebut bahwa kelompok yang awalnya disukai Jobs adalah P1, kelompok yang bekerja mengubah iPod untuk memiliki fungsi ponsel. P1 dikepalai oleh Tony Fadell, bapaknya iPod. Tentu saja adalah alasan mengapa Jobs lebih senang dengan P1. Pertama, tak bisa dipungkiri, iPod adalah produk paling sukses Apple (sebelum iPhone lahir). Melalui iPod, untuk pertama kalinya Apple memiliki unit bisnis yang menguasai pasar. Mac, yang sejatinya ruh Apple, kalah bersaing dengan IBM dan kemudian Windows. Kedua, dari sisi bentuk, iPod telah menyerupai ponsel. Pikir Jobs, P1 hanya tinggal membenamkan modul seluler dan sedikit modifikasi di iPod, maka terciptalah ponsel.

Terakhir, dan paling utama, karena kesuksesan iPod, Fadell memiliki kekuatan politik yang sangat besar di Apple. Tatkala Jobs menginginkan ponsel, proyek ini adalah “proyek Fadell seorang,” ungkap Williamson.

iPod memang punya bentuk mirip ponsel. Masalahnya, jika Anda pernah memiliki iPod (versi-versi awal seperti iPod Classic, bukan iPod Touch), produk ini memiliki user interface (UI) yang sukar ditransformasikan menjadi ponsel. Ya, untuk digunakan, iPod memanfaatkan wheel (roda), persis seperti telepon rumah jadul. Untuk iPod, UI seperti ini bukan soal. iPod hanya butuh Play/Pause/Next/Previous. Untuk ponsel, ini bencana.

Anda bisa mengetik website atau SMS atau catatan via tombol yang hanya bisa melakukan Play/Pause/Next/Previous? Bukan hanya Anda, insinyur-insinyur Apple pun kebingungan.

Meskipun tahu bahwa membuat ponsel dari iPod sukar (atau mustahil) dilakukan, Jobs, tutur Fadell terus menekannya hingga berhasil. “Ayolah, pasti ada jalan,” terang Jobs. Sayangnya, meskipun dicoba berulang-ulang dan sesungguhnya tim yang dikepalai Fadell telah sukses menciptakan prototipe iPod yang bisa bertelepon, P1 gagal.

Berbeda dengan P1, P2 merupakan kelompok yang dibentuk Jobs yang diisi insinyur-insinyur software, bukan hardware. P2 dikepalai Scott Forstall, programmer lulusan Stanford University yang kali pertama memegang komputer ketika duduk di bangku SMA. Kala itu, Forstall memegang Apple II, komputer yang sepenuhnya dirancang Steve Wozniak--pendiri perusahaan yang melambungkan namanya.

Ketika Forstall lulus kuliah, ia bekerja untuk NeXT. Seperti Williamson, ia hijrah ke Apple selepas startup itu dibeli Apple.

NeXT terhitung startup gagal. Alasannya sederhana, komputer buatan NeXT, NeXT Computer System, kemahalan. Komputer yang diluncurkan pada 1988 itu dihargai sekitar $6.500, alias setara dengan $14.000 pada nilai dolar di tahun 2019, alias setara dengan Rp200.000.000. Namun, meskipun gagal, NeXTSTEP, sistem operasi di baliknya, cemerlang. Ketika Apple membeli NeXT, Apple membuang NeXT Computer System, tetapi menjadikan NeXTSTEP sebagai penerus Macintosh. Semanjak Mac OS X hingga macOS 11.0 Big Sur (yang belum dirilis Apple secara resmi), NeXTSTEP-lah induknya.

P2 atau dijuluki Williamson sebagai “NeXT mafia” (karena mayoritas diisi alumni NeXT) akhirnya bekerja untuk memodifikasi Macintosh agar bisa bekerja dalam tubuh ponsel.

Kerja mengubah komputer Macintosh menjadi ponsel terlihat susah, tetapi, merujuk Merchant, ini sesungguhnya mudah. Paling tidak, dari sisi software. Alasannya, lagi-lagi sederhana: NeXT mafia yang mendiami P2 sudah sangat tahu betul luar dalam source code Macintosh. Mereka hanya perlu membuang yang tak dibutuhkan, dan menambal yang dibutuhkan. Mudahnya mengubah Macintosh menjadi ponsel ditambah dengan fakta bahwa jauh sebelum Jobs menginginkan ponsel, sebuah tim di Apple bernama Exploring New Rich Interaction (ENRI), yang diisi Andre Boule, Andy Grignon, Bas Ording, Imran Chaudhri telah diam-diam membuat komputer Macintosh untuk bisa dioperasikan dengan sentuhan.

P2, singkat cerita, terasa bekerja untuk membuat Mac layar sentuh itu mengerucut dari sisi bentuk. Membuang elemen-elemen UI dari Macintosh yang wajarnya dioperasikan dengan kursor mouse dan keyboard, mengganti sepenuhnya dengan layar sentuh.

P2, akhirnya, berhasil. P2 sukses menciptakan versi mini dari Macintosh, iOS. Karena iOS tetaplah Macintosh, aplikasi-aplikasi non telekomunikasi (telepon dan SMS) bisa bekerja. 

Sayangnya, meskipun berhasil mengerdilkan Macintosh, Macintosh versi kerdil itu tetaplah sistem operasi komputer, yang butuh tenaga selayaknya komputer. Beruntung, Apple memiliki teman bernama Samsung. Samsung membuatkan Apple Samsung 32-bit RISC ARM. Prosesor berbasis ARM yang memiliki kemampuan selayaknya prosesor komputer.

Di awal 2007, Apple akhirnya meluncurkan iPhone. Ponsel rasa komputer atau komputer dalam bentuk ponsel lahir. Sejak saat itu, kembali ke awal tulisan ini, definisi ulang ponsel berubah.

Dan merujuk “Losing the Signal: The Untold Story Behind the Extraordinary Rise and Spectacular Fall of BlackBerry,” buku yang ditulis Jacquie McNish dan Sean Silcoff, Android sebetulnya hendak dibuat meniru sistem operasi BlackBerry. Namun, tatkala Jobs meluncurkan iPhone, Andy Rubin mengubah haluan, menciptakan Android untuk serupa iOS. Maka, hampir segala aplikasi ponsel yang ada hari ini, lahir atas andil iOS.

Dan di tahun 2020, pondasi manusia melakukan navigasi kehidupan digitalnya itu melakukan pembaruan, yang termaktub dalam iOS 14. Pembaruan itu, selain menambah fitur-fitur yang sebetulnya telah ada duluan di Android--seperti widget--adalah segalanya tentang privasi. Sesuatu yang tak aneh dilakukan Apple selepas mereka mengkampanyekan “What happens on your iPhone, stays on your iPhone.”

Pada iOS 14, sistem operasi yang bisa digunakan mulai iPhone 6s (2015) ke atas, Apple membenamkan izin privasi yang lebih ketat. Agar aplikasi bisa menggunakan fitur Local Network, pengguna harus memberi izin. Location Services, perlu izin. Photos, perlu izin, semua foto atau hanya satu saja. Tracking, izin. Wi-Fi tracking, izin. Dan ketika aplikasi menggunakan modul kamera atau video, pengguna iOS 14 kini diberi indikator, hijau atau jingga di status bar iPhone.

Gara-gara kebanyakan izin yang mesti berikan penggunanya, Facebook protes. Melansir laporan Peter Kafka untuk Recode, Facebook khawatir banyak penggunanya yang enggan memberikan izin, khususnya pada fitur Tracking. Facebook butuh fitur ini karena bisnis utama mereka adalah berjualan iklan. Iklan personal. Tatkala pengguna iPhone tidak memberikan akses Tracking pada Facebook, Facebook mati. Ia tak bisa memata-matai apa yang dilakukan penggunanya di internet. Ia tak bisa melakukan identifikasi pengguna.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play