19 Juli 2021

Stories: Kisah Tentang Fitur yang Dicolong Mark Zuckerberg

Oleh: Ahmad Zaenudin


Rabu terakhir di bulan Juli 2020, dalam acara dengar pendapat antara Kongres Amerika Serikat dengan Apple, Google, Amazon, dan Facebook terkait dugaan praktek monopoli, Mark Zuckerberg dicecar pertanyaan oleh Pramila Jayapal, anggota Kongres AS mewakili distrik ke-7 negara bagian Washington.

“Zuckerberg,” sapa Jayapal, “apakah benar bahwa di bulan Maret 2012 silam Anda,  melalui email, menyarankan ke tim manajemen bahwa bergerak lebih cepat dan menjiplak (fitur) aplikasi lain dapat, saya kutip, ‘mencegah pesaing menjadi pondasi baru (dunia teknologi)’?” belum juga Zuckerberg merespon, Jayapal menambahkan bahwa “manajer produk Facebook (merespon email yang Anda kirimkan) mengatakan, saya kutip, ‘saya jauh lebih  senang untuk bertindak lebih agresif dan lebih gesit dalam urusan meniru (fitur) kompetitor.’”

Dengan agak gugup, Zuckerberg menjawab: “Saya melihat pekerjaan kami adalah untuk memahami nilai apa yang dicari orang-orang tatkala mereka menggunakan layanan (milik kompetitor).”

Tidak senang dengan jawaban itu, Jayapal kembali mencecar. “Setelah email itu, berapa banyak fitur-fitur milik kompetitor yang dicontek Facebook? Kurang dari lima, atau mungkin 50?” Lantas, ia menambahkan, “(Benarkah) di saat Facebook menjiplak produk mereka, Anda juga berusaha membeli perusahaan kompetitor?”

Tidak ada jawaban tegas keluar dari mulut Zuckerberg. Apakah ia benar melakukan praktek culas, mengintimidasi pesaing, dalam membesarkan perusahaannya, Facebook, atau tidak. Gilad Edelman, dalam laporannya untuk Wired, menyebut bahwa selama Zuckerberg memimpin, Facebook telah mengakuisisi lebih dari 80 perusahaan, termasuk Instagram dan WhatsApp. Untuk kasus Instagram, Jayapal mengklaim bahwa keberhasilan Facebook mengakuisisinya terjadi selepas Zuckerberg, dalam korespondensi dengan Kevin Systrom--pendiri Instagram, mengirim “ancaman” bahwa ia, didukung dengan programer handal AS, tengah bekerja menciptakan “Facebook Camera,” layanan serupa Instagram.

Sementara itu, dalam kasus penjiplakan, tidak ada yang lebih menarik dibandingkan Stories, fitur ciptaan Snapchat yang sukses besar di tangah Facebook, dkk.

Evan Spiegel: Melahirkan Snapchat, Menolak Tawaran Zuckerberg

“Evan Spiegel hidup dalam kemewahan,” tulis Steven Levy, editor-at-large Wired, dalam bukunya berjudul “Facebook: The Inside Story.” Alasannya sederhana, di Los Angeles, ayah Spiegel merupakan pengacara sukses, mirip seperti Hotman Paris di Indonesia. Dengan kemewahan ini, Spiegel lantas disekolahkan di Crossroads School, salah satu sekolah menengah eksklusif di AS. Ketika masa kuliah telah tiba, Spiegel lantas melanjutkan pendidikannya ke Stanford University, kampus di mana Larry Page dan Sergey Brin melahirkan Google.

Tatkala Spiegel berstatus mahasiswa, Facebook telah menjadi media sosial populer di kampusnya. Namun, sebagaimana dikisahkan Levy, selain Spiegel paham mengapa Facebook populer, “ia pun paham pula mengapa kemudian banyak orang yang membenci Facebook.”

Mundur ke belakang. Awal mula mengapa, selain ada yang mencintai Facebook, juga ada yang membencinya adalah terkait erat dengan kelahiran Growth Circle di tubuh Facebook. Growth Circle--yang kemudian berubah nama menjadi Growth Team--merupakan tim khusus di Facebook yang bertugas mendongkrak jumlah pengguna, juga menganalisa ancaman yang mungkin akan dihadapi Facebook. Dalam tugasnya ini, tim yang dikepalai Chamath Palihapitiya, imigran asal Sri Lanka yang kini menjadi pemilik tim basket Golden State Warriors, Growth menggunakan segala cara, entah baik atau buruk, demi meningkatkan jumlah pengguna. Salah satu strategi kontroversial yang dilahirkan Growth demi mendongkrak jumlah pengguna ialah sebuah fitur bernama Beacon. Beacon semacam API, application programming interface, yang dibagikan Facebook ke pihak ketiga. Ketika Beacon dipasang pada suatu website, website dapat memanfaatkan data pengguna Facebook. Sebagai gantinya, Facebook memperoleh data pengguna website yang menggunakan Beacon.

Via Beacon, Facebook sukses menciptakan “dark profile,” cikal bakal PPI, personally identifiable information. PPI adalah set data tentang pribadi seseorang yang, menurut Sheryl Sandberg, Direktur Pelaksana Facebook, lebih hebat dibandingkan Cookies. Melalui dark profile, siapapun pengguna internet yang belum memiliki akun Facebook, tetapi telah mengunjungi mitra Facebook yang memasang Beacon, Facebook akan membuatkan “akun bayangan.” Bagi yang telah memiliki akun, Beacon mengambil data kegiatan orang itu di situs yang dikunjunginya, bahkan membagi kegiatan itu langsung ke News Feed mereka. Spiegel benci dengan praktek ini.

Masih merujuk Levy, di bulan April 2010 di asrama Stanford, Spiegel mengungkapkan ide penciptaan media sosial baru pada temannya, Reggie Brown. Tak berselang lama, mengajak teman lainnya, Bobby Murphy, mereka bertiga sukses melahirkan aplikasi bernama Picabo, media sosial yang ketika penggunanya membagi konten pada teman-temannya, konten akan menghilang/terhapus dalam tempo 24 jam.

Pada awal 2012 Picabo resmi berganti nama menjadi Snapchat.

Awalnya, Palihapitiya mengira bahwa Snapchat hanya akan menjadi aplikasi “sepele” yang gagal secara bisnis. Namun, lambat laun, Snapchat menggondol kesuksesan. Zuckerberg khawatir dengan kesuksesan Snapchat ini, yang menurutnya, mungkin dapat menghabisi Facebook. Maka, pada 28 November 2012 Zuckerberg mengirim email pada Spiegel, dengan mengklaim bahwa ia “penggemar berat apa yang dilakukan Spiegel untuk Snapchat,” dan meminta Spiegel meluangkan waktu untuk bertemu dengannya. Dibaca: Zuckerberg ingin Snapchat dijual padanya.

Spiegel memang membalas email yang dikirim Zuckerberg itu, tetapi ia menghiraukan ajakan bertemu. Spiegel ingin melakukan apa yang dilakukan Zuckerberg ketika Yahoo berniat membeli Facebook. Menghiraukannya dan membangun perusahaannya sendiri secara independen.

Sakit hati dengan sikap tidak acuh Spiegel, pada 21 Desember di tahun yang sama, Zuckerberg kembali mengirim email yang berbunyi, “Aku harap kamu menikmati Poke.” Poke yang dimaksud Zuckerberg ialah aplikasi sejenis Snapchat, konten kiriman pengguna menghilang dalam 24 jam semanjak dibagikan. Poke kali ini berbeda dengan dengan fitur bernama serupa di zaman Facebook masih bernama thefacebook.com.

Tentu saja, Poke gagal dan Snapchat terus melesat. Waktu berlalu.

Pada 2013, melalui tangan Growth, Facebook mengakuisisi perusahaan asal Israel bernama Onavo. Onavo bukan media sosial, tetapi aplikasi “utilities” yang menjanjikan penggunaannya memperoleh performa maksimal dalam menggunakan ponsel, misalnya mengecilkan penggunaan data internet hingga memaksimalkan penggunaan baterai. Selain itu, Onavo pun memberikan layanan VPN, virtual private network, bagi penggunannya.

Terkesan mulia, bukan? Sayangnya, yang tidak disadari pengguna, Onavo sebetulnya adalah aplikasi mata-mata. Memantau aktivitas penggunanya dan kemudian, karena Onavo menjadi milik Facebook, data mereka jatuh ke tangan Zuckerberg. Yang lebih mengerikan, sebagaimana--lagi-lagi--diutarakan Levy, Onavo pun dapat mengilfiltrasi ke dalam berbagai aplikasi yang digunakan penggunanya.

Dari sumber internal yang berbicara pada Levy, melalui Onavo, Facebook sukses “menyuntikan kode pemrograman khusus pada Snapchat,” yang berguna untuk merekam segala tindak-tanduk pengguna Snapchat di aplikasi itu.

Facebook kemudian paham, ada satu fitur dalam tubuh Snapchat yang keranjingan digunakan penggunanya: Stories.

Stories: Dijiplak Facebook, Menyebar di Dunia Maya

Dalam buku “Facebook: The Inside Story,” Levy mengisahkan bahwa di tahun 2013 Evan Spiegel merasa ada sesuatu yang “kurang” dalam aplikasinya, Snapchat. Pikir Spiegel, Snapchat seharusnya memiliki fitur yang berguna untuk mengirimkan konten, entah foto atau video, ke sekumpulan teman-temannya, yang telah di-set terlebih dahulu. Di awal kemunculannya, Snapchat hanya memungkinkan pengguna mengirim konten ke satu temannya.

Menurut Spiegel, ia harus merealisasikan sesuatu kekurangan di aplikasi dengan “elegan.” Fitur yang berkebalikan dengan News Feed milik Facebook. Maka, selepas mengumpulkan programer-programer Snapchat di Blu House--markas Snapchat--dan menghabiskan waktu selama 24 jam, ia akhirnya menciptakan Stories, fitur yang memungkinkan pengguna mengirimkan konten berupa foto dan video singkat secara piktografik--di swipe atau ditunggu beberapa detik untuk berlanjut ke konten lainnya secara berurutan--lengkap dengan tambahan stiker dan grafik yang “aneh nan bodoh.”

Menurut Spiegel, Stories adalah fitur yang “aneh.” Tegasnya, “bahkan tidak ada orang-orang di Snapchat yang tahu fitur ini untuk apa.” Karena keanehan itu, di awal kemunculan Stories untuk para pengguna Snapchat, fitur ini gagal. Namun, bagi Spiegel, kegagalan Stories hanya soal waktu. “Butuh waktu bagi orang-orang memahami ide baru,” tegasnya.

Tidak disangka, dalam hitungan bulan Stories justru laku digunakan. Stories jadi fitur populer Snapchat, mengalahkan fitur dasar aplikasi ini.

Mark Zuckerberg, berbekal data yang disodorkan Onavo, sadar atas kehadiran Stories. Zuckerberg kian bernapsu membeli Snapchat. Naas, tawaran keduanya, yang konon bernilai $3 miliar, ditolak oleh Spiegel. Maka, Zuckerberg berniat menduplikasi Stories, Masalahnya, Zuckerberg telah bertindak bodoh dengan melahirkan Poke. Akhirnya, ia kemudian mendelegasikan penciptaan fitur serupa Stories pada Kevin Systrom, pendiri Instagram.

Berbekal perintah sang bos, Systrom mentah-mentah meniru fitur baru Snapchat itu, langsung ia pasang pada Instagram. Tak sekedar fitur atau cara kerjanya, Systrom juga menggunakan “Stories” sebagai namanya. Katanya, “tidak ada alasan menyebut fitur ini dengan nama berbeda.”

Alih-alih malu atas tindakannya, Systrom berpendapat bahwa Stories adalah fitur pelengkap Instagram. News Feed Instagram adalah “tempat suci,” tempat foto-foto indah dipajang penggunanya untuk diabadikan. Di sisi lain, dengan hanya berdurasi 24 jam, Stories dijadikan “tempat sampah,” tempat kumpulan foto/video “bodoh” dibagikan pada teman-teman.

Sebagaimana nasib Stories pada Snapchat, Stories pada Instagram juga sukses. Lambat laun, Facebook merilis fitur ini juga pada aplikasi lainnya, Facebook sendiri dan WhatsApp--dengan nama “Status.”

Di sisi lain, Spiegel tak berkomentar soal idenya dicolong Zuckerberg, dkk. Miranda Kerr, pacar yang kemudian jadi istri Spiegel, yang justru marah. Katanya, “jika kamu mentah-mentah menjiplak karya orang lain, bukan inovasi namanya. Bagaimana Zuckerberg tidur memikirkan sikap culas itu, sih?”

Stories akhirnya jadi fitur andalan Facebook, dkk. Sebagaimana dilansir Statista, pada bulan Januari 2019 saja, ada 500 juta pengguna aktif Instagram yang berbagi konten via Stories. Di kuartal 1-2019, jumlah yang sama dihasilkan fitur Stories (dengan nama Status) dalam tubuh aplikasi WhatsApp. Adam Levy, dalam laporannya untuk The Motley Fool, bahkan menyebut bahwa Stories yang terpasang pada Instagram sukses menyumbang 10 persen total pendapatan Facebook.

Uniknya, Stories akhirnya bukan hanya dijiplak Facebook, tetapi banyak perusahaan. Netflix, misalnya, menghadirkan fitur Stories dengan nama “Previews.” Di Indonesia, fitur serupa Stories muncul pada aplikasi Liputan 6 dan tentu saja, Tirto.id--yang tersemat dalam ikon Tirto, berada di pojok kiri atas. Seakan, Stories kini bernasib seperti PDF, portable document format, yang diciptakan Adobe tetapi berakhir menjadi public domain.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



19 Juli 2021

Stories: Kisah Tentang Fitur yang Dicolong Mark Zuckerberg

Oleh: Ahmad Zaenudin


Rabu terakhir di bulan Juli 2020, dalam acara dengar pendapat antara Kongres Amerika Serikat dengan Apple, Google, Amazon, dan Facebook terkait dugaan praktek monopoli, Mark Zuckerberg dicecar pertanyaan oleh Pramila Jayapal, anggota Kongres AS mewakili distrik ke-7 negara bagian Washington.

“Zuckerberg,” sapa Jayapal, “apakah benar bahwa di bulan Maret 2012 silam Anda,  melalui email, menyarankan ke tim manajemen bahwa bergerak lebih cepat dan menjiplak (fitur) aplikasi lain dapat, saya kutip, ‘mencegah pesaing menjadi pondasi baru (dunia teknologi)’?” belum juga Zuckerberg merespon, Jayapal menambahkan bahwa “manajer produk Facebook (merespon email yang Anda kirimkan) mengatakan, saya kutip, ‘saya jauh lebih  senang untuk bertindak lebih agresif dan lebih gesit dalam urusan meniru (fitur) kompetitor.’”

Dengan agak gugup, Zuckerberg menjawab: “Saya melihat pekerjaan kami adalah untuk memahami nilai apa yang dicari orang-orang tatkala mereka menggunakan layanan (milik kompetitor).”

Tidak senang dengan jawaban itu, Jayapal kembali mencecar. “Setelah email itu, berapa banyak fitur-fitur milik kompetitor yang dicontek Facebook? Kurang dari lima, atau mungkin 50?” Lantas, ia menambahkan, “(Benarkah) di saat Facebook menjiplak produk mereka, Anda juga berusaha membeli perusahaan kompetitor?”

Tidak ada jawaban tegas keluar dari mulut Zuckerberg. Apakah ia benar melakukan praktek culas, mengintimidasi pesaing, dalam membesarkan perusahaannya, Facebook, atau tidak. Gilad Edelman, dalam laporannya untuk Wired, menyebut bahwa selama Zuckerberg memimpin, Facebook telah mengakuisisi lebih dari 80 perusahaan, termasuk Instagram dan WhatsApp. Untuk kasus Instagram, Jayapal mengklaim bahwa keberhasilan Facebook mengakuisisinya terjadi selepas Zuckerberg, dalam korespondensi dengan Kevin Systrom--pendiri Instagram, mengirim “ancaman” bahwa ia, didukung dengan programer handal AS, tengah bekerja menciptakan “Facebook Camera,” layanan serupa Instagram.

Sementara itu, dalam kasus penjiplakan, tidak ada yang lebih menarik dibandingkan Stories, fitur ciptaan Snapchat yang sukses besar di tangah Facebook, dkk.

Evan Spiegel: Melahirkan Snapchat, Menolak Tawaran Zuckerberg

“Evan Spiegel hidup dalam kemewahan,” tulis Steven Levy, editor-at-large Wired, dalam bukunya berjudul “Facebook: The Inside Story.” Alasannya sederhana, di Los Angeles, ayah Spiegel merupakan pengacara sukses, mirip seperti Hotman Paris di Indonesia. Dengan kemewahan ini, Spiegel lantas disekolahkan di Crossroads School, salah satu sekolah menengah eksklusif di AS. Ketika masa kuliah telah tiba, Spiegel lantas melanjutkan pendidikannya ke Stanford University, kampus di mana Larry Page dan Sergey Brin melahirkan Google.

Tatkala Spiegel berstatus mahasiswa, Facebook telah menjadi media sosial populer di kampusnya. Namun, sebagaimana dikisahkan Levy, selain Spiegel paham mengapa Facebook populer, “ia pun paham pula mengapa kemudian banyak orang yang membenci Facebook.”

Mundur ke belakang. Awal mula mengapa, selain ada yang mencintai Facebook, juga ada yang membencinya adalah terkait erat dengan kelahiran Growth Circle di tubuh Facebook. Growth Circle--yang kemudian berubah nama menjadi Growth Team--merupakan tim khusus di Facebook yang bertugas mendongkrak jumlah pengguna, juga menganalisa ancaman yang mungkin akan dihadapi Facebook. Dalam tugasnya ini, tim yang dikepalai Chamath Palihapitiya, imigran asal Sri Lanka yang kini menjadi pemilik tim basket Golden State Warriors, Growth menggunakan segala cara, entah baik atau buruk, demi meningkatkan jumlah pengguna. Salah satu strategi kontroversial yang dilahirkan Growth demi mendongkrak jumlah pengguna ialah sebuah fitur bernama Beacon. Beacon semacam API, application programming interface, yang dibagikan Facebook ke pihak ketiga. Ketika Beacon dipasang pada suatu website, website dapat memanfaatkan data pengguna Facebook. Sebagai gantinya, Facebook memperoleh data pengguna website yang menggunakan Beacon.

Via Beacon, Facebook sukses menciptakan “dark profile,” cikal bakal PPI, personally identifiable information. PPI adalah set data tentang pribadi seseorang yang, menurut Sheryl Sandberg, Direktur Pelaksana Facebook, lebih hebat dibandingkan Cookies. Melalui dark profile, siapapun pengguna internet yang belum memiliki akun Facebook, tetapi telah mengunjungi mitra Facebook yang memasang Beacon, Facebook akan membuatkan “akun bayangan.” Bagi yang telah memiliki akun, Beacon mengambil data kegiatan orang itu di situs yang dikunjunginya, bahkan membagi kegiatan itu langsung ke News Feed mereka. Spiegel benci dengan praktek ini.

Masih merujuk Levy, di bulan April 2010 di asrama Stanford, Spiegel mengungkapkan ide penciptaan media sosial baru pada temannya, Reggie Brown. Tak berselang lama, mengajak teman lainnya, Bobby Murphy, mereka bertiga sukses melahirkan aplikasi bernama Picabo, media sosial yang ketika penggunanya membagi konten pada teman-temannya, konten akan menghilang/terhapus dalam tempo 24 jam.

Pada awal 2012 Picabo resmi berganti nama menjadi Snapchat.

Awalnya, Palihapitiya mengira bahwa Snapchat hanya akan menjadi aplikasi “sepele” yang gagal secara bisnis. Namun, lambat laun, Snapchat menggondol kesuksesan. Zuckerberg khawatir dengan kesuksesan Snapchat ini, yang menurutnya, mungkin dapat menghabisi Facebook. Maka, pada 28 November 2012 Zuckerberg mengirim email pada Spiegel, dengan mengklaim bahwa ia “penggemar berat apa yang dilakukan Spiegel untuk Snapchat,” dan meminta Spiegel meluangkan waktu untuk bertemu dengannya. Dibaca: Zuckerberg ingin Snapchat dijual padanya.

Spiegel memang membalas email yang dikirim Zuckerberg itu, tetapi ia menghiraukan ajakan bertemu. Spiegel ingin melakukan apa yang dilakukan Zuckerberg ketika Yahoo berniat membeli Facebook. Menghiraukannya dan membangun perusahaannya sendiri secara independen.

Sakit hati dengan sikap tidak acuh Spiegel, pada 21 Desember di tahun yang sama, Zuckerberg kembali mengirim email yang berbunyi, “Aku harap kamu menikmati Poke.” Poke yang dimaksud Zuckerberg ialah aplikasi sejenis Snapchat, konten kiriman pengguna menghilang dalam 24 jam semanjak dibagikan. Poke kali ini berbeda dengan dengan fitur bernama serupa di zaman Facebook masih bernama thefacebook.com.

Tentu saja, Poke gagal dan Snapchat terus melesat. Waktu berlalu.

Pada 2013, melalui tangan Growth, Facebook mengakuisisi perusahaan asal Israel bernama Onavo. Onavo bukan media sosial, tetapi aplikasi “utilities” yang menjanjikan penggunaannya memperoleh performa maksimal dalam menggunakan ponsel, misalnya mengecilkan penggunaan data internet hingga memaksimalkan penggunaan baterai. Selain itu, Onavo pun memberikan layanan VPN, virtual private network, bagi penggunannya.

Terkesan mulia, bukan? Sayangnya, yang tidak disadari pengguna, Onavo sebetulnya adalah aplikasi mata-mata. Memantau aktivitas penggunanya dan kemudian, karena Onavo menjadi milik Facebook, data mereka jatuh ke tangan Zuckerberg. Yang lebih mengerikan, sebagaimana--lagi-lagi--diutarakan Levy, Onavo pun dapat mengilfiltrasi ke dalam berbagai aplikasi yang digunakan penggunanya.

Dari sumber internal yang berbicara pada Levy, melalui Onavo, Facebook sukses “menyuntikan kode pemrograman khusus pada Snapchat,” yang berguna untuk merekam segala tindak-tanduk pengguna Snapchat di aplikasi itu.

Facebook kemudian paham, ada satu fitur dalam tubuh Snapchat yang keranjingan digunakan penggunanya: Stories.

Stories: Dijiplak Facebook, Menyebar di Dunia Maya

Dalam buku “Facebook: The Inside Story,” Levy mengisahkan bahwa di tahun 2013 Evan Spiegel merasa ada sesuatu yang “kurang” dalam aplikasinya, Snapchat. Pikir Spiegel, Snapchat seharusnya memiliki fitur yang berguna untuk mengirimkan konten, entah foto atau video, ke sekumpulan teman-temannya, yang telah di-set terlebih dahulu. Di awal kemunculannya, Snapchat hanya memungkinkan pengguna mengirim konten ke satu temannya.

Menurut Spiegel, ia harus merealisasikan sesuatu kekurangan di aplikasi dengan “elegan.” Fitur yang berkebalikan dengan News Feed milik Facebook. Maka, selepas mengumpulkan programer-programer Snapchat di Blu House--markas Snapchat--dan menghabiskan waktu selama 24 jam, ia akhirnya menciptakan Stories, fitur yang memungkinkan pengguna mengirimkan konten berupa foto dan video singkat secara piktografik--di swipe atau ditunggu beberapa detik untuk berlanjut ke konten lainnya secara berurutan--lengkap dengan tambahan stiker dan grafik yang “aneh nan bodoh.”

Menurut Spiegel, Stories adalah fitur yang “aneh.” Tegasnya, “bahkan tidak ada orang-orang di Snapchat yang tahu fitur ini untuk apa.” Karena keanehan itu, di awal kemunculan Stories untuk para pengguna Snapchat, fitur ini gagal. Namun, bagi Spiegel, kegagalan Stories hanya soal waktu. “Butuh waktu bagi orang-orang memahami ide baru,” tegasnya.

Tidak disangka, dalam hitungan bulan Stories justru laku digunakan. Stories jadi fitur populer Snapchat, mengalahkan fitur dasar aplikasi ini.

Mark Zuckerberg, berbekal data yang disodorkan Onavo, sadar atas kehadiran Stories. Zuckerberg kian bernapsu membeli Snapchat. Naas, tawaran keduanya, yang konon bernilai $3 miliar, ditolak oleh Spiegel. Maka, Zuckerberg berniat menduplikasi Stories, Masalahnya, Zuckerberg telah bertindak bodoh dengan melahirkan Poke. Akhirnya, ia kemudian mendelegasikan penciptaan fitur serupa Stories pada Kevin Systrom, pendiri Instagram.

Berbekal perintah sang bos, Systrom mentah-mentah meniru fitur baru Snapchat itu, langsung ia pasang pada Instagram. Tak sekedar fitur atau cara kerjanya, Systrom juga menggunakan “Stories” sebagai namanya. Katanya, “tidak ada alasan menyebut fitur ini dengan nama berbeda.”

Alih-alih malu atas tindakannya, Systrom berpendapat bahwa Stories adalah fitur pelengkap Instagram. News Feed Instagram adalah “tempat suci,” tempat foto-foto indah dipajang penggunanya untuk diabadikan. Di sisi lain, dengan hanya berdurasi 24 jam, Stories dijadikan “tempat sampah,” tempat kumpulan foto/video “bodoh” dibagikan pada teman-teman.

Sebagaimana nasib Stories pada Snapchat, Stories pada Instagram juga sukses. Lambat laun, Facebook merilis fitur ini juga pada aplikasi lainnya, Facebook sendiri dan WhatsApp--dengan nama “Status.”

Di sisi lain, Spiegel tak berkomentar soal idenya dicolong Zuckerberg, dkk. Miranda Kerr, pacar yang kemudian jadi istri Spiegel, yang justru marah. Katanya, “jika kamu mentah-mentah menjiplak karya orang lain, bukan inovasi namanya. Bagaimana Zuckerberg tidur memikirkan sikap culas itu, sih?”

Stories akhirnya jadi fitur andalan Facebook, dkk. Sebagaimana dilansir Statista, pada bulan Januari 2019 saja, ada 500 juta pengguna aktif Instagram yang berbagi konten via Stories. Di kuartal 1-2019, jumlah yang sama dihasilkan fitur Stories (dengan nama Status) dalam tubuh aplikasi WhatsApp. Adam Levy, dalam laporannya untuk The Motley Fool, bahkan menyebut bahwa Stories yang terpasang pada Instagram sukses menyumbang 10 persen total pendapatan Facebook.

Uniknya, Stories akhirnya bukan hanya dijiplak Facebook, tetapi banyak perusahaan. Netflix, misalnya, menghadirkan fitur Stories dengan nama “Previews.” Di Indonesia, fitur serupa Stories muncul pada aplikasi Liputan 6 dan tentu saja, Tirto.id--yang tersemat dalam ikon Tirto, berada di pojok kiri atas. Seakan, Stories kini bernasib seperti PDF, portable document format, yang diciptakan Adobe tetapi berakhir menjadi public domain.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play