10 Juli 2021

Hippie: Dianggap Aneh, Pelopor Dunia Komputer

Oleh: Ahmad Zaenudin


Suatu hari pada 1976, di sebuah acara yang digelar Homebrew Computer Club, Steve Jobs dan Steve Wozniak mempresentasikan komputer ciptaan mereka, Apple 1. Dalam presentasi itu, Woz, sapaan akrab Wozniak, menyebut bahwa Apple 1 menggunakan papan sirkuit baru rancangannya sendiri, yang didukung dengan prosesor MOS 6502, memori sebesar delapan kilobit, dan BASIC yang ditulisnya. Tak ketinggalan, Apple 1, sebut Woz, "menggunakan keyboard yang ramah terhadap jemari manusia, bukan keyboard bodoh yang memiliki banyak lampu dan switch (ala gamer masa kini)." Jobs menimpali. Menyebut bahwa "Apple 1 mengandung semua komponen esensial yang langsung terpasang dalam tubuhnya, tidak seperti Altair (pelopor personal computer)."

Dengan jumawa, Jobs lalu bertanya pada para hadirin: "Dengan segala hal yang menakjubkan dalam mesin ini, kalian berani bayar berapa?"

Naas, sebagaimana dikisahkan Walter Isaacson dalam biografi Jobs berjudul Steve Jobs (2011), "para pengunjung Homebrew Computer Club tidak terkesima" dengan komputer buatan Jobs dan Woz itu, yang terjadi karena Apple 1 menggunakan MOS 6502, bukan Intel 8080 sebagai prosesor terbaik dekade tersebut. Tak ketinggalan, Apple 1 berbentuk aneh, tak seperti komputer sejenis, SOL-20, yang memiliki rupa menawan.

Namun, meskipun tak memperoleh apa yang mereka harapkan dari Homebrew Computer Club, Jobs dan Wos tetap memperoleh pesanan atas mesin ciptaan mereka. Kala itu, Paul Terrell, pemilik toko komputer bernama Byte Shop, memesan 50 unit Apple 1 dengan harga per unit yang disepakati yakni $500 (kini, per unit Apple 1 diperjualbelikan dengan harga lebih dari Rp20 miliar). Sialnya, tatkala Jobs dan Woz mengirimkan pesanan Terrell, Terrell kecewa. Meskipun Jobs sesumbar bahwa Apple 1 mengandung "semua kompunen esensial," mesin tersebut sejatinya bukan kumputer lengkap--alias masih perlu banyak modul tambahan untuk dapat digunakan. Ketidaklengkapan Apple 1 sebagai komputer membuatnya lebih diminati pehobi, bukan masyarakat umum.

"Komputer seharusnya benar-benar lengkap. Langsung dapat digunakan!" cerca Terrell pada Jobs dan Woz.

Jobs tersadar dengan cercaan Terrell tersebut dan berjanji untuk membuat komputer yang utuh, "terintegrasi dari ujung ke ujung, dari power supply hingga sistem operasi, full packaged." Dan karena tak lama usai Apple 1 dibuat Woz langsung merancang desain komputer selanjutnya, Apple 2 mencuat sebagai komputer utuh itu. Masalahnya, baik Jobs dan Woz tak punya modal mewujudkan Apple 2. Maka, untuk merealisasikan Apple 2, duo sahabat ini sepakat untuk menjual hak penjualan Apple 2 berikut dengan sepertiga saham Apple kepada siapapun yang mau memodali mereka. Dan Jobs menginginkan Atari sebagai pihak yang memodali Apple 2.

Kembali merujuk Isaacson, Jobs lalu bertemu dengan manajemen Atari, Joe Keenan. Namun, alih-alih memperoleh modal dari Atari, tak lama usai Jobs mempresentasikan niat penjualan hak penjualan Apple 2 plus sepertiga saham Apple, Keenan mengusirnya dan berteriak, "enyahkan kakimu dari mejaku!"

Keenan dongkol dengan pribadi Jobs yang dianggapnya jorok dan tak sopan. Selain bau badan yang menyengat, Jobs menaikkan kakinya di meja Keenan. Kaki, yang selama masa muda Jobs, tak pernah dipasangi alas, entah sandal atau sepatu. Laku "aneh" Jobs ini tercipta karena ia merupakan seorang Hippie.

No Hippie, No PC

Secara umum, ada dua kisah populer tentang penemuan personal computer (PC). Kisah pertama, PC lahir dari duo pehobi yang bertranformasi menjadi pebisnis, Stephen Wozniak dan Steve Jobs, yang menciptakan komputer di garasi dan kemudian membentuk perusahaan bernama Apple Computer pada 1976. Kisah kedua, PC lahir dari kebaikan manajemen Xerox untuk memberikan ruang bagi periset mereka, yang tinggal di Palo Alto Research Center, untuk berkreasi dan akhirnya sukses menciptakan user interface (UI) dan user experience (UX) pada awal dekade 1970-an.

Bagi John Markoff, dalam bukunya berjudul What the Dormouse Said (2005), dua kisah tentang kelahiran PC tersebut dapat dibenarkan, tetapi kurang lengkap. Musababnya, jauh sebelum Jobs dan Woz sepakat untuk membentuk Apple dan para periset Xerox belum tahu apa itu UI/UX, "perkembangan dunia komputer didikte dan dibiayai oleh negara (Amerika Serikat, tentu saja), misalnya dengan pembentukan dua lembaga riset yang berlokasi saling bertolak belakang di kampus Stanford University pada 1960-an." Satu lembaga riset itu, Douglas Engelbart's Augmented Human Intellect Research Center, bekerja untuk menciptakan komputer super yang dapat meningkatkan kemampuan otak manusia. Satunya lagi, John McCarthy's Stanford Artificial Intelligence Laboratory, bekerja untuk menciptakan simulator kecerdasan manusia.

Singkat, tulis Markoff, "satu tim periset bekerja untuk me-rekacipta otak manusia, satunya lagi berkerja untuk menggantikannya." Artinya, komputer, sejak dilahirkan hingga dekade 1960-an, tidak pernah dimaksudkan dibuat sebagai personal (computer), mesin milik individu, melainkan dibuat sebagai mesin yang membantu kepentingan negara. Bukan kepentingan publik, tetapi, misalnya, untuk membantu negara menuju bulan dan menciptakan intercontinental ballistic missile (ICBM) dalam perang antar-negara untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di bumi. Sementara itu, menurut Lewis Mumford dalam The Myth of the Machine: The Pentagon of Power (1964), "komputer, dalam ide paling dasar ketika diciptakan, bertujuan bertolak-belakang dengan kebebasan manusia." Melalui duit negara yang diperoleh dari memajaki rakyatnya, negara membiayai riset penciptaan komputer sebagai alat birokrasi untuk mengontrol, menggantikan, dan menghentikan kebebasan berekspresi masyarakat. Dan perlahan, niat ala negara soal komputer ini diambil pula oleh perusahaan. Dalam "Inventing Information Systems: The Systems Men and the Computer, 1950-1968" (dipublikasikan dalam jurnal The Business History Vol. 75 2001), Thomas Haigh menyebut bahwa pada dekade 1950-an dan 1960-an, perusahaan ramai-ramai mengimplementasikan komputer, melalui konsep management information system (MIS), untuk menggantikan tugas-tugas repetitif pekerja manusia.

Maka, hingga dekade 1960-an, komputer hanya tersedia di gedung-gedung pemerintahan, lembaga riset yang dibiayai negara, atau pencakar langit di pusat bisnis New York.

Beruntung, semenjak akhir dekade 1960-an, tujuan perkembangan komputer memiliki cabang lain, yakni "personal" (computer), yang terlahir karena adanya transformasi sosial dan politik di Amerika Serikat, yang terutama digawangi oleh kaum Hippie (gerakan politik kaum ini bernama Yippie).

Hippie adalah laku hidup yang berkembang sejak akhir 1960-an. Tulis Stuart Hall dalam bukunya berjudul The Hippies: an American 'Moment' (1968), Hippie lahir atas pertautan budaya yang kompleks, yakni antara budaya negro, jazz, homoseksual, pecandu, dan Bohemia, serta keinginan menyingkir dari pendikte-an hidup ala masyarakat umum dan negara, menyingkir dari konsep "mapan" dan mencari makna hidup sesungguhnya yang diterjemahkan melalui slogan-slogan mencolok kaum ini seperti "grooving," "balling," "mind-blowing," "where it's at" dan paling utama "turn on," "turn in," dan "drop out."

"Turn on" merupakan slogan untuk mementik minat kaum Hippie mencoba substansi ilegal--wabilkhusus ganja, LSD, dan jamur ajaib--guna mencari "kesadaran" dalam diri, persis seperti kisah Dee Lestari dalam novelnya Supernova. "Turn in" merupakan cara kaum Hippie untuk mengejar cara hidup lain dari masyarakat umum (straight society) untuk menerima "sinyal" dari "ruang" yang belum terjelajahi manusia. Dan "Drop out" merupakan slogan kaum ini untuk menolak struktur kelas menengah, yakni cara hidup yang berorientasi pada pekerjaan, kekuasaan, status, dan konsumsi. Slogan ini kadang pula diterjemahkan kaum Hippie untuk meninggalkan bangku kuliah, yang menurut mereka tak memberikan pengetahuan menarik nan berguna.

Slogan-slogan laku hidup ala Hippie tersebut lantas dibumbui dengan gaya khas mereka, berpenampilan ala suku Indian, menerapkan teologi Budha tentang karma dan mempraktekkan Zen, hanya mengkonsumsi makanan organik dan diet ketat, serta tampil apa adanya--persis seperti yang dipraktekkan Steve Jobs di masa mudanya. Jobs sendiri, dalam biografinya, mengaku "tercerahkan" untuk menjadi seorang Hippie mula-mula dari buku yang dibacanya, Be Here Now--buku tentang penggunaan LSD untuk bermeditasi karya Baba Ram Dass alias Richard Alpert. Lalu, ia melahap Zen Mind dan Beginner's Mind karya Shunryu Suzuki, Autobiography of Yogi karya Paramahansa Yogananda, dan Cutting Throught Spiritual Meterialism karya Chogan Trungpa.

Usai membaca buku-buku tersebut, dibantu teman sekampusnya bernama Daniel Kottke, selain bersama-sama mengkonsumsi LSD, Jobs mempraktekkan Zen, bermeditasi untuk "menemukan jati dirinya." Dan untuk menyempurnakan meditasinya, Jobs pun sempat "berziarah" berbulan-bulan ke India. Klaim Jobs, "saya mulai sadar bahwa memahami intuisi dan kesadaran ternyata jauh lebih berharga dibandingkan pemikiran abstrak dan analisis logis intelektual."

Tak ketinggalan, melalui buku berjudul Diet for a Small Planet karya Frances Moore Lappe, Jobs mempraktekkan pola makan vegetarian dan diet ketat. Pun, Jobs mempraktekkan gaya hidup seadanya.

Jobs, melalui LSD, meditasi, vegetarian, serta gaya hidup seadanya, tulis Walter Isaacson, "melakukan 'turn on' dan 'tune in.'" Dan "drop out" Jobs terjemahkan melalui keputusannya untuk mundur dari Reed University. Namun, alih-alih menghilang sepenuhnya dari kampus, Jobs memilih tetap di Reed. Masuk ke kelas-kelas yang mengajarkan pengetahuan yang disukainya, tanpa membayar biaya pendidikan (dan tentu, tanpa gelar apapun).

Jobs tak sendirian mempraktekkan laku hidup yang berkebalikan dari apa yang dipahami sebagai "normal" oleh masyarakat kala itu, tetapi juga Stewart Brand. Merujuk kembali buku yang ditulis John Markoff, Brand merupakan seorang Hippie yang menginisiasi bahwa "kesadaran" bukan hanya dapat diperoleh melalui LSD dan meditasi, tetapi juga komputer. Bagi Brand, dengan semakin murah dan bertenaga komputer, yang terjadi karena semakin menciutnya transistor (Moore Law), komputer dapat dijadikan alat "pembebasan," dijadikan sebagai alat untuk melahirkan/membentuk dunia baru, tentu, tanpa perlu campur tangan negara.

"Kebanyakan dari generasi kita menilai bahwa komputer merupakan perwujudan kendali terpusat (negara), tetapi kontingen kecil--kemudian disebut 'hacker'--membebaskan komputer untuk menjadi alat pembebasan," ucap Brand.

Brand mewujudkan ambisinya menjadikan komputer sebagai alat pembebasan melalui Whole Earth Truck Store, toko berupa truk yang menjual berbagai modul elektronik untuk merakit "personal" computer. Dan pada 1968, truk tersebut bertransformasi menjadi Whole Earth Catalog, majalah berbagi ilmu atau tutorial tentang bagaimana membangun komputer serta berisi tulisan-tulisan filosofi tentang "access to tools."

Jobs adalah pelanggan majalah tersebut, berikut dengan teman-temannya yang memiliki hobi di bidang komputer.

Seiring dengan berjalannya waktu, Whole Earth Catalog bertranformasi menjadi Homebrew Computer Club, tempat bagi komunitas pehobi komputer untuk saling bertukar pengetahuan tentang komputer. Yes, di tempat inilah ide tentang Apple 1 lahir. Dan tentu, di tempat ini pula, yang didirikan melalui ide laku hidup ala Hippie, kata "personal" akhirnya tersemat pada "komputer." Komputer akhirnya menjadi PC, mesin yang menurut motto yang digaungkan Brand, "give power to the people."



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



10 Juli 2021

Hippie: Dianggap Aneh, Pelopor Dunia Komputer

Oleh: Ahmad Zaenudin


Suatu hari pada 1976, di sebuah acara yang digelar Homebrew Computer Club, Steve Jobs dan Steve Wozniak mempresentasikan komputer ciptaan mereka, Apple 1. Dalam presentasi itu, Woz, sapaan akrab Wozniak, menyebut bahwa Apple 1 menggunakan papan sirkuit baru rancangannya sendiri, yang didukung dengan prosesor MOS 6502, memori sebesar delapan kilobit, dan BASIC yang ditulisnya. Tak ketinggalan, Apple 1, sebut Woz, "menggunakan keyboard yang ramah terhadap jemari manusia, bukan keyboard bodoh yang memiliki banyak lampu dan switch (ala gamer masa kini)." Jobs menimpali. Menyebut bahwa "Apple 1 mengandung semua komponen esensial yang langsung terpasang dalam tubuhnya, tidak seperti Altair (pelopor personal computer)."

Dengan jumawa, Jobs lalu bertanya pada para hadirin: "Dengan segala hal yang menakjubkan dalam mesin ini, kalian berani bayar berapa?"

Naas, sebagaimana dikisahkan Walter Isaacson dalam biografi Jobs berjudul Steve Jobs (2011), "para pengunjung Homebrew Computer Club tidak terkesima" dengan komputer buatan Jobs dan Woz itu, yang terjadi karena Apple 1 menggunakan MOS 6502, bukan Intel 8080 sebagai prosesor terbaik dekade tersebut. Tak ketinggalan, Apple 1 berbentuk aneh, tak seperti komputer sejenis, SOL-20, yang memiliki rupa menawan.

Namun, meskipun tak memperoleh apa yang mereka harapkan dari Homebrew Computer Club, Jobs dan Wos tetap memperoleh pesanan atas mesin ciptaan mereka. Kala itu, Paul Terrell, pemilik toko komputer bernama Byte Shop, memesan 50 unit Apple 1 dengan harga per unit yang disepakati yakni $500 (kini, per unit Apple 1 diperjualbelikan dengan harga lebih dari Rp20 miliar). Sialnya, tatkala Jobs dan Woz mengirimkan pesanan Terrell, Terrell kecewa. Meskipun Jobs sesumbar bahwa Apple 1 mengandung "semua kompunen esensial," mesin tersebut sejatinya bukan kumputer lengkap--alias masih perlu banyak modul tambahan untuk dapat digunakan. Ketidaklengkapan Apple 1 sebagai komputer membuatnya lebih diminati pehobi, bukan masyarakat umum.

"Komputer seharusnya benar-benar lengkap. Langsung dapat digunakan!" cerca Terrell pada Jobs dan Woz.

Jobs tersadar dengan cercaan Terrell tersebut dan berjanji untuk membuat komputer yang utuh, "terintegrasi dari ujung ke ujung, dari power supply hingga sistem operasi, full packaged." Dan karena tak lama usai Apple 1 dibuat Woz langsung merancang desain komputer selanjutnya, Apple 2 mencuat sebagai komputer utuh itu. Masalahnya, baik Jobs dan Woz tak punya modal mewujudkan Apple 2. Maka, untuk merealisasikan Apple 2, duo sahabat ini sepakat untuk menjual hak penjualan Apple 2 berikut dengan sepertiga saham Apple kepada siapapun yang mau memodali mereka. Dan Jobs menginginkan Atari sebagai pihak yang memodali Apple 2.

Kembali merujuk Isaacson, Jobs lalu bertemu dengan manajemen Atari, Joe Keenan. Namun, alih-alih memperoleh modal dari Atari, tak lama usai Jobs mempresentasikan niat penjualan hak penjualan Apple 2 plus sepertiga saham Apple, Keenan mengusirnya dan berteriak, "enyahkan kakimu dari mejaku!"

Keenan dongkol dengan pribadi Jobs yang dianggapnya jorok dan tak sopan. Selain bau badan yang menyengat, Jobs menaikkan kakinya di meja Keenan. Kaki, yang selama masa muda Jobs, tak pernah dipasangi alas, entah sandal atau sepatu. Laku "aneh" Jobs ini tercipta karena ia merupakan seorang Hippie.

No Hippie, No PC

Secara umum, ada dua kisah populer tentang penemuan personal computer (PC). Kisah pertama, PC lahir dari duo pehobi yang bertranformasi menjadi pebisnis, Stephen Wozniak dan Steve Jobs, yang menciptakan komputer di garasi dan kemudian membentuk perusahaan bernama Apple Computer pada 1976. Kisah kedua, PC lahir dari kebaikan manajemen Xerox untuk memberikan ruang bagi periset mereka, yang tinggal di Palo Alto Research Center, untuk berkreasi dan akhirnya sukses menciptakan user interface (UI) dan user experience (UX) pada awal dekade 1970-an.

Bagi John Markoff, dalam bukunya berjudul What the Dormouse Said (2005), dua kisah tentang kelahiran PC tersebut dapat dibenarkan, tetapi kurang lengkap. Musababnya, jauh sebelum Jobs dan Woz sepakat untuk membentuk Apple dan para periset Xerox belum tahu apa itu UI/UX, "perkembangan dunia komputer didikte dan dibiayai oleh negara (Amerika Serikat, tentu saja), misalnya dengan pembentukan dua lembaga riset yang berlokasi saling bertolak belakang di kampus Stanford University pada 1960-an." Satu lembaga riset itu, Douglas Engelbart's Augmented Human Intellect Research Center, bekerja untuk menciptakan komputer super yang dapat meningkatkan kemampuan otak manusia. Satunya lagi, John McCarthy's Stanford Artificial Intelligence Laboratory, bekerja untuk menciptakan simulator kecerdasan manusia.

Singkat, tulis Markoff, "satu tim periset bekerja untuk me-rekacipta otak manusia, satunya lagi berkerja untuk menggantikannya." Artinya, komputer, sejak dilahirkan hingga dekade 1960-an, tidak pernah dimaksudkan dibuat sebagai personal (computer), mesin milik individu, melainkan dibuat sebagai mesin yang membantu kepentingan negara. Bukan kepentingan publik, tetapi, misalnya, untuk membantu negara menuju bulan dan menciptakan intercontinental ballistic missile (ICBM) dalam perang antar-negara untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di bumi. Sementara itu, menurut Lewis Mumford dalam The Myth of the Machine: The Pentagon of Power (1964), "komputer, dalam ide paling dasar ketika diciptakan, bertujuan bertolak-belakang dengan kebebasan manusia." Melalui duit negara yang diperoleh dari memajaki rakyatnya, negara membiayai riset penciptaan komputer sebagai alat birokrasi untuk mengontrol, menggantikan, dan menghentikan kebebasan berekspresi masyarakat. Dan perlahan, niat ala negara soal komputer ini diambil pula oleh perusahaan. Dalam "Inventing Information Systems: The Systems Men and the Computer, 1950-1968" (dipublikasikan dalam jurnal The Business History Vol. 75 2001), Thomas Haigh menyebut bahwa pada dekade 1950-an dan 1960-an, perusahaan ramai-ramai mengimplementasikan komputer, melalui konsep management information system (MIS), untuk menggantikan tugas-tugas repetitif pekerja manusia.

Maka, hingga dekade 1960-an, komputer hanya tersedia di gedung-gedung pemerintahan, lembaga riset yang dibiayai negara, atau pencakar langit di pusat bisnis New York.

Beruntung, semenjak akhir dekade 1960-an, tujuan perkembangan komputer memiliki cabang lain, yakni "personal" (computer), yang terlahir karena adanya transformasi sosial dan politik di Amerika Serikat, yang terutama digawangi oleh kaum Hippie (gerakan politik kaum ini bernama Yippie).

Hippie adalah laku hidup yang berkembang sejak akhir 1960-an. Tulis Stuart Hall dalam bukunya berjudul The Hippies: an American 'Moment' (1968), Hippie lahir atas pertautan budaya yang kompleks, yakni antara budaya negro, jazz, homoseksual, pecandu, dan Bohemia, serta keinginan menyingkir dari pendikte-an hidup ala masyarakat umum dan negara, menyingkir dari konsep "mapan" dan mencari makna hidup sesungguhnya yang diterjemahkan melalui slogan-slogan mencolok kaum ini seperti "grooving," "balling," "mind-blowing," "where it's at" dan paling utama "turn on," "turn in," dan "drop out."

"Turn on" merupakan slogan untuk mementik minat kaum Hippie mencoba substansi ilegal--wabilkhusus ganja, LSD, dan jamur ajaib--guna mencari "kesadaran" dalam diri, persis seperti kisah Dee Lestari dalam novelnya Supernova. "Turn in" merupakan cara kaum Hippie untuk mengejar cara hidup lain dari masyarakat umum (straight society) untuk menerima "sinyal" dari "ruang" yang belum terjelajahi manusia. Dan "Drop out" merupakan slogan kaum ini untuk menolak struktur kelas menengah, yakni cara hidup yang berorientasi pada pekerjaan, kekuasaan, status, dan konsumsi. Slogan ini kadang pula diterjemahkan kaum Hippie untuk meninggalkan bangku kuliah, yang menurut mereka tak memberikan pengetahuan menarik nan berguna.

Slogan-slogan laku hidup ala Hippie tersebut lantas dibumbui dengan gaya khas mereka, berpenampilan ala suku Indian, menerapkan teologi Budha tentang karma dan mempraktekkan Zen, hanya mengkonsumsi makanan organik dan diet ketat, serta tampil apa adanya--persis seperti yang dipraktekkan Steve Jobs di masa mudanya. Jobs sendiri, dalam biografinya, mengaku "tercerahkan" untuk menjadi seorang Hippie mula-mula dari buku yang dibacanya, Be Here Now--buku tentang penggunaan LSD untuk bermeditasi karya Baba Ram Dass alias Richard Alpert. Lalu, ia melahap Zen Mind dan Beginner's Mind karya Shunryu Suzuki, Autobiography of Yogi karya Paramahansa Yogananda, dan Cutting Throught Spiritual Meterialism karya Chogan Trungpa.

Usai membaca buku-buku tersebut, dibantu teman sekampusnya bernama Daniel Kottke, selain bersama-sama mengkonsumsi LSD, Jobs mempraktekkan Zen, bermeditasi untuk "menemukan jati dirinya." Dan untuk menyempurnakan meditasinya, Jobs pun sempat "berziarah" berbulan-bulan ke India. Klaim Jobs, "saya mulai sadar bahwa memahami intuisi dan kesadaran ternyata jauh lebih berharga dibandingkan pemikiran abstrak dan analisis logis intelektual."

Tak ketinggalan, melalui buku berjudul Diet for a Small Planet karya Frances Moore Lappe, Jobs mempraktekkan pola makan vegetarian dan diet ketat. Pun, Jobs mempraktekkan gaya hidup seadanya.

Jobs, melalui LSD, meditasi, vegetarian, serta gaya hidup seadanya, tulis Walter Isaacson, "melakukan 'turn on' dan 'tune in.'" Dan "drop out" Jobs terjemahkan melalui keputusannya untuk mundur dari Reed University. Namun, alih-alih menghilang sepenuhnya dari kampus, Jobs memilih tetap di Reed. Masuk ke kelas-kelas yang mengajarkan pengetahuan yang disukainya, tanpa membayar biaya pendidikan (dan tentu, tanpa gelar apapun).

Jobs tak sendirian mempraktekkan laku hidup yang berkebalikan dari apa yang dipahami sebagai "normal" oleh masyarakat kala itu, tetapi juga Stewart Brand. Merujuk kembali buku yang ditulis John Markoff, Brand merupakan seorang Hippie yang menginisiasi bahwa "kesadaran" bukan hanya dapat diperoleh melalui LSD dan meditasi, tetapi juga komputer. Bagi Brand, dengan semakin murah dan bertenaga komputer, yang terjadi karena semakin menciutnya transistor (Moore Law), komputer dapat dijadikan alat "pembebasan," dijadikan sebagai alat untuk melahirkan/membentuk dunia baru, tentu, tanpa perlu campur tangan negara.

"Kebanyakan dari generasi kita menilai bahwa komputer merupakan perwujudan kendali terpusat (negara), tetapi kontingen kecil--kemudian disebut 'hacker'--membebaskan komputer untuk menjadi alat pembebasan," ucap Brand.

Brand mewujudkan ambisinya menjadikan komputer sebagai alat pembebasan melalui Whole Earth Truck Store, toko berupa truk yang menjual berbagai modul elektronik untuk merakit "personal" computer. Dan pada 1968, truk tersebut bertransformasi menjadi Whole Earth Catalog, majalah berbagi ilmu atau tutorial tentang bagaimana membangun komputer serta berisi tulisan-tulisan filosofi tentang "access to tools."

Jobs adalah pelanggan majalah tersebut, berikut dengan teman-temannya yang memiliki hobi di bidang komputer.

Seiring dengan berjalannya waktu, Whole Earth Catalog bertranformasi menjadi Homebrew Computer Club, tempat bagi komunitas pehobi komputer untuk saling bertukar pengetahuan tentang komputer. Yes, di tempat inilah ide tentang Apple 1 lahir. Dan tentu, di tempat ini pula, yang didirikan melalui ide laku hidup ala Hippie, kata "personal" akhirnya tersemat pada "komputer." Komputer akhirnya menjadi PC, mesin yang menurut motto yang digaungkan Brand, "give power to the people."


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play