1 Agustus 2021

Mengukur Lawan Gojek di Asia Tenggara

Oleh: Ahmad Zaenudin


Tepat pada 24 Mei 2018, Gojek, startup yang digagas Nadiem Makarim, mengumumkan ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara, yakni Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina. Pertama-tama, layanan yang akan dihadirkan oleh Go-Jek ialah layanan ride-sharing, yang di Indonesia, menurut klaim, memiliki 1 juta driver. Berikutnya, layanan-layanan Go-Jek lainnya akan menyusul.

Pengumuman ekspansi tersebut merupakan realisasi dari kabar yang telah hangat sejak akhir tahun 2017 lalu. Kala itu, Ajay Gore, Chief Technology Officer Go-Jek, sebagaimana diwartakan Reuters, mengatakan bahwa “hampir semua negara-negara di Asia Tenggara berada dalam radar Go-Jek untuk dimasuki dalam tiga, enam, hingga 12 bulan mendatang.” Dengan tegas, Gore mengatakan bahwa “Filipina akan menjadi negara pertama” yang didatangi Go-Jek. 

Rindu Ragilia, Public Relation Manager Go-Jek, melalui rilis yang dikirim, menyatakan bahwa Gojek akan benar-benar hadir di empat negara tersebut “dalam beberapa bulan ke depan.” 

Nadiem Makarim, Chief Executive Officer Go-Jek, melalui rilis, mengatakan bahwa ekspansi tersebut dilakukan karena konsumen “di Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup pilihan atas layanan transportasi ride-hailing.”

Demi merealisasikan rencana ini, Go-Jek akan mengucurkan investasi sebesar $500 juta. Nilai tersebut disebut “sejalan dengan penggalangan investasi Gojek seri terakhir yang membawa investasi dari Astra, Google, Tencent, JD.COM, Meituan, dan lainnya.” Mengutip laman Crunchbase, pada 12 Februari 2018 lalu, Go-Jek mengadakan pendanaan Seri E dan sukses menyedot investasi sebesar $1,5 miliar dari nama-nama yang disebut Go-Jek itu. Artinya, investasi yang dikucurkan untuk ekspansi ke empat negara hanya sepertiga dari nilai pendanaan yang diperoleh.

Selain menyiapkan dana, masih dalam rilis yang dikirim, Go-Jek saat ini disebut “berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah negara setempat dan para pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan kesiapan operasional.” Lalu, jika kelak Go-Jek telah beroperasi di negara-negara tersebut, layanan akan “dijalankan oleh tim lokal yang akan didukung oleh teknologi dan keahlian dari Go-Jek.”

Melihat lawan Gojek

Grab merupakan lawan tangguh Gojek menaklukan pasar Asia Tenggara, terutama karena Grab kini telah menggabungkan kekuatan dengan Uber. Pemberitaan Straits Times menyebut bahwa ada 41.297 pengemudi Grab dan Uber di Singapura. Media Vietnam Vet menyebut bahwa ada 50.000 pengemudi Grab dan Uber di Vietnam. Lalu, merujuk pemberitaan Rappler, ada 118.000 pengemudi Uber maupun Grab di Filipina. Sayangnya, tidak ada data resmi tentang jumlah pengemudi Grab ataupun Uber di Thailand.

Jika melihat negara tujuan Gojek satu per satu, praktis, Singapura telah dikuasai Grab, yang kebetulan juga merupakan markas besar startup tersebut. Namun, Singapura masih memiliki celah untuk disusupi. Salah satu buktinya, pemain baru bernama Filo, pada bulan Mei 2018, baru saja memulai operasional di negara tersebut.

Filo merupakan startup ride-sharing garapan Jason Tan dengan modal $50 ribu. Guna mengusik kedigdayaan Grab, Filo memberlakukan fee pengemudinya hanya sebesar 12 persen, lebih murah dibandingkan Grab yang mematok fee 20 persen. Sebagaimana diwartakan Straits Times, kebijakan ini akan membuat “biaya mitra” Filo lebih murah hingga $400 tiap bulannya. Sayangnya, di masa awal peluncuran hanya ada 300 mitra pengemudi Filo, yang tak sebanding dengan kekuatan Grab di negara tersebut. 

Tan optimis dengan startup bentukannya itu. Menurutnya, mengatakan bahwa “jika di pasar memiliki pemain tak lebih dari lima, konsumen akan mampu mengakomodasinya.”

Di Vietnam, pemain lokal bernama Vivu jadi ancaman Gojek. Vivu merupakan ride-sharing yang digagas oleh Tran Thanh Nam dan meluncur pada Maret 2016, yang awalnya bernama FaceCar. Menurut klaim, khususnya di kota Ho Chi Minh, terdapat 2.000 driver yang mendukung layanan Vivu. 

Mengutip VN Express, pada awal April 2018, mereka baru saja memperoleh pendanaan senilai $100 juta, yang akan digunakan untuk memperkuat posisi mereka melawan gempuran Grab. Phuong Trang, perusahaan yang berinvestasi pada Vivu, mengatakan secara tersirat bahwa investasi tersebut diberikan guna mendukung produk “made in Vietnam,” yang akan sangat mungkin dijadikan kampanye startup tersebut melawan Grab sebagai “orang asing.” 

Negara tujuan Go-Jek selanjutnya ialah Filipina. Mengutip laman Inc, salah satu pemain lokal di sana yang patut diwaspadai Go-jek ialah Micab, startup ride-sharing yang digagas oleh Eddie Ybanez dan meluncur pada tahun 2015 di wilayah Cebu dan Illoilo, yang mula-mula diluncurkan dalam bentuk layanan SMS.

Mengutip laman ABS CBN, MiCab kini memiliki 4.000 mitra di tiga kota operasional mereka, Manila, Baguio, dan Cebu. Menurut rencana, guna membendung kekuatan Grab dan Go-Jek, Micab menargetkan memiliki 15.000 mitra di akhir tahun 2018.

Namun, selain soal jumlah driver, salah satu kekuatan Micab ialah integrasi mereka dengan perusahaan transportasi konvensional. Inc melaporkan, pada Juli tahun lalu, Micab menjalin kerjasama dengan Philippine National Taxi Operators Association (PNTOA) dan Association of Taxi Operations in Metro Manila (ATOMM), dua operator yang memiliki lebih dari 20.000 taksi di Filipina. Integrasi ini, menyulitkan Grab maupun Go-Jek sebagai startup pendatang. 

Salah satu keunggulan Micab lainnya ialah harga yang kompetitif. David Vacher, penasihat senior Micab, mengatakan bahwa mereka menerapkan booking fee yang rendah, hanya senilai $1, dan tidak menerapkan kebijakan jam sibuk. Ini berbeda dibandingkan Grab dan Go-Jek, yang masing-masing, memberlakukan tarif jam sibuk.

Terakhir, negara tempat Go-Jek mengembangkan sayapnya ialah Thailand. Sebagaimana diwartakan Tech in Asia, salah satu startup ride-sharing yang cukup bertaji di negeri gajah putih tersebut ialah GoBike, startup yang digagas Lian Wah Seng dan meluncur pada Desember 2015. 

Yang menarik, dibandingkan nama-nama lain yang telah disebut di awal, GoBike sangat mirip dengan Go-Jek, yakni mengandalkan layanan ride-sharing berbasis motor dibandingkan mobil. Menurut klaim, telah ada 100.000 driver yang terdaftar di platform tersebut. Pengutamaan motor ini, senada dengan kebiasaan masyarakat Thailand, yang sebagaimana di Indonesia, menyenangi motor.

Selain kemiripan tersebut, salah satu keunggulan GoBike yang patut diwaspadai ialah suksesnya startup tersebut mendapatkan pendanaan sebesar $4,8 juta dari investor Cina. Lian Wah Seng, Chief Executive Officer GoBike mengatakan bahwa angka tersebut didapatnya dari “satu investor sangat besar asal Cina.”

Pengumuman ekspansi Gojek ke empat negara di Asia Tenggara bisa dibaca sebagai bentuk jawaban atas keperkasaan Grab di kawasan ini. Menurut klaim, Grab menguasai 71 persen pangsa pasar ride-sharing di Asia Tenggara, dengan kehadirannya di 195 kota di 8 negara. Lalu, pada 26 Maret lalu, keperkasaan Grab ditunjukkan lagi melalui aksi akuisisi Uber.

Padahal, pasar Asia Tenggara merupakan pasar yang besar. Yang terlalu sayang dilewatkan jika hanya dikuasai Grab. Frost & Sullivan, firma penelitian pasar, sebagaimana diwartakan Nikkei, mengatakan bahwa layanan ride-sharing telah digunakan sebanyak 6,1 miliar kali di enam negara utama Asia Tenggara pada tahun 2016 lalu. Diperkirakan, pasar ride-sharing di Asia Tenggara berada di angka $20,4 miliar, dan akan meningkat 6,5 persen pada 2021 mendatang. 

Asia Tenggara merupakan wilayah dengan proporsi nilai pasar paling besar dibanding wilayah Asia lainnya. Data Statista mengungkap, pada tahun 2018 ini, diperkirakan nilai pasar ride-sharing di Asia berada di angka $32 miliar.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



1 Agustus 2021

Mengukur Lawan Gojek di Asia Tenggara

Oleh: Ahmad Zaenudin


Tepat pada 24 Mei 2018, Gojek, startup yang digagas Nadiem Makarim, mengumumkan ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara, yakni Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina. Pertama-tama, layanan yang akan dihadirkan oleh Go-Jek ialah layanan ride-sharing, yang di Indonesia, menurut klaim, memiliki 1 juta driver. Berikutnya, layanan-layanan Go-Jek lainnya akan menyusul.

Pengumuman ekspansi tersebut merupakan realisasi dari kabar yang telah hangat sejak akhir tahun 2017 lalu. Kala itu, Ajay Gore, Chief Technology Officer Go-Jek, sebagaimana diwartakan Reuters, mengatakan bahwa “hampir semua negara-negara di Asia Tenggara berada dalam radar Go-Jek untuk dimasuki dalam tiga, enam, hingga 12 bulan mendatang.” Dengan tegas, Gore mengatakan bahwa “Filipina akan menjadi negara pertama” yang didatangi Go-Jek. 

Rindu Ragilia, Public Relation Manager Go-Jek, melalui rilis yang dikirim, menyatakan bahwa Gojek akan benar-benar hadir di empat negara tersebut “dalam beberapa bulan ke depan.” 

Nadiem Makarim, Chief Executive Officer Go-Jek, melalui rilis, mengatakan bahwa ekspansi tersebut dilakukan karena konsumen “di Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup pilihan atas layanan transportasi ride-hailing.”

Demi merealisasikan rencana ini, Go-Jek akan mengucurkan investasi sebesar $500 juta. Nilai tersebut disebut “sejalan dengan penggalangan investasi Gojek seri terakhir yang membawa investasi dari Astra, Google, Tencent, JD.COM, Meituan, dan lainnya.” Mengutip laman Crunchbase, pada 12 Februari 2018 lalu, Go-Jek mengadakan pendanaan Seri E dan sukses menyedot investasi sebesar $1,5 miliar dari nama-nama yang disebut Go-Jek itu. Artinya, investasi yang dikucurkan untuk ekspansi ke empat negara hanya sepertiga dari nilai pendanaan yang diperoleh.

Selain menyiapkan dana, masih dalam rilis yang dikirim, Go-Jek saat ini disebut “berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah negara setempat dan para pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan kesiapan operasional.” Lalu, jika kelak Go-Jek telah beroperasi di negara-negara tersebut, layanan akan “dijalankan oleh tim lokal yang akan didukung oleh teknologi dan keahlian dari Go-Jek.”

Melihat lawan Gojek

Grab merupakan lawan tangguh Gojek menaklukan pasar Asia Tenggara, terutama karena Grab kini telah menggabungkan kekuatan dengan Uber. Pemberitaan Straits Times menyebut bahwa ada 41.297 pengemudi Grab dan Uber di Singapura. Media Vietnam Vet menyebut bahwa ada 50.000 pengemudi Grab dan Uber di Vietnam. Lalu, merujuk pemberitaan Rappler, ada 118.000 pengemudi Uber maupun Grab di Filipina. Sayangnya, tidak ada data resmi tentang jumlah pengemudi Grab ataupun Uber di Thailand.

Jika melihat negara tujuan Gojek satu per satu, praktis, Singapura telah dikuasai Grab, yang kebetulan juga merupakan markas besar startup tersebut. Namun, Singapura masih memiliki celah untuk disusupi. Salah satu buktinya, pemain baru bernama Filo, pada bulan Mei 2018, baru saja memulai operasional di negara tersebut.

Filo merupakan startup ride-sharing garapan Jason Tan dengan modal $50 ribu. Guna mengusik kedigdayaan Grab, Filo memberlakukan fee pengemudinya hanya sebesar 12 persen, lebih murah dibandingkan Grab yang mematok fee 20 persen. Sebagaimana diwartakan Straits Times, kebijakan ini akan membuat “biaya mitra” Filo lebih murah hingga $400 tiap bulannya. Sayangnya, di masa awal peluncuran hanya ada 300 mitra pengemudi Filo, yang tak sebanding dengan kekuatan Grab di negara tersebut. 

Tan optimis dengan startup bentukannya itu. Menurutnya, mengatakan bahwa “jika di pasar memiliki pemain tak lebih dari lima, konsumen akan mampu mengakomodasinya.”

Di Vietnam, pemain lokal bernama Vivu jadi ancaman Gojek. Vivu merupakan ride-sharing yang digagas oleh Tran Thanh Nam dan meluncur pada Maret 2016, yang awalnya bernama FaceCar. Menurut klaim, khususnya di kota Ho Chi Minh, terdapat 2.000 driver yang mendukung layanan Vivu. 

Mengutip VN Express, pada awal April 2018, mereka baru saja memperoleh pendanaan senilai $100 juta, yang akan digunakan untuk memperkuat posisi mereka melawan gempuran Grab. Phuong Trang, perusahaan yang berinvestasi pada Vivu, mengatakan secara tersirat bahwa investasi tersebut diberikan guna mendukung produk “made in Vietnam,” yang akan sangat mungkin dijadikan kampanye startup tersebut melawan Grab sebagai “orang asing.” 

Negara tujuan Go-Jek selanjutnya ialah Filipina. Mengutip laman Inc, salah satu pemain lokal di sana yang patut diwaspadai Go-jek ialah Micab, startup ride-sharing yang digagas oleh Eddie Ybanez dan meluncur pada tahun 2015 di wilayah Cebu dan Illoilo, yang mula-mula diluncurkan dalam bentuk layanan SMS.

Mengutip laman ABS CBN, MiCab kini memiliki 4.000 mitra di tiga kota operasional mereka, Manila, Baguio, dan Cebu. Menurut rencana, guna membendung kekuatan Grab dan Go-Jek, Micab menargetkan memiliki 15.000 mitra di akhir tahun 2018.

Namun, selain soal jumlah driver, salah satu kekuatan Micab ialah integrasi mereka dengan perusahaan transportasi konvensional. Inc melaporkan, pada Juli tahun lalu, Micab menjalin kerjasama dengan Philippine National Taxi Operators Association (PNTOA) dan Association of Taxi Operations in Metro Manila (ATOMM), dua operator yang memiliki lebih dari 20.000 taksi di Filipina. Integrasi ini, menyulitkan Grab maupun Go-Jek sebagai startup pendatang. 

Salah satu keunggulan Micab lainnya ialah harga yang kompetitif. David Vacher, penasihat senior Micab, mengatakan bahwa mereka menerapkan booking fee yang rendah, hanya senilai $1, dan tidak menerapkan kebijakan jam sibuk. Ini berbeda dibandingkan Grab dan Go-Jek, yang masing-masing, memberlakukan tarif jam sibuk.

Terakhir, negara tempat Go-Jek mengembangkan sayapnya ialah Thailand. Sebagaimana diwartakan Tech in Asia, salah satu startup ride-sharing yang cukup bertaji di negeri gajah putih tersebut ialah GoBike, startup yang digagas Lian Wah Seng dan meluncur pada Desember 2015. 

Yang menarik, dibandingkan nama-nama lain yang telah disebut di awal, GoBike sangat mirip dengan Go-Jek, yakni mengandalkan layanan ride-sharing berbasis motor dibandingkan mobil. Menurut klaim, telah ada 100.000 driver yang terdaftar di platform tersebut. Pengutamaan motor ini, senada dengan kebiasaan masyarakat Thailand, yang sebagaimana di Indonesia, menyenangi motor.

Selain kemiripan tersebut, salah satu keunggulan GoBike yang patut diwaspadai ialah suksesnya startup tersebut mendapatkan pendanaan sebesar $4,8 juta dari investor Cina. Lian Wah Seng, Chief Executive Officer GoBike mengatakan bahwa angka tersebut didapatnya dari “satu investor sangat besar asal Cina.”

Pengumuman ekspansi Gojek ke empat negara di Asia Tenggara bisa dibaca sebagai bentuk jawaban atas keperkasaan Grab di kawasan ini. Menurut klaim, Grab menguasai 71 persen pangsa pasar ride-sharing di Asia Tenggara, dengan kehadirannya di 195 kota di 8 negara. Lalu, pada 26 Maret lalu, keperkasaan Grab ditunjukkan lagi melalui aksi akuisisi Uber.

Padahal, pasar Asia Tenggara merupakan pasar yang besar. Yang terlalu sayang dilewatkan jika hanya dikuasai Grab. Frost & Sullivan, firma penelitian pasar, sebagaimana diwartakan Nikkei, mengatakan bahwa layanan ride-sharing telah digunakan sebanyak 6,1 miliar kali di enam negara utama Asia Tenggara pada tahun 2016 lalu. Diperkirakan, pasar ride-sharing di Asia Tenggara berada di angka $20,4 miliar, dan akan meningkat 6,5 persen pada 2021 mendatang. 

Asia Tenggara merupakan wilayah dengan proporsi nilai pasar paling besar dibanding wilayah Asia lainnya. Data Statista mengungkap, pada tahun 2018 ini, diperkirakan nilai pasar ride-sharing di Asia berada di angka $32 miliar.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play