31 Juli 2021

Bagi Perusahaan Farmasi Vaksin Tidak Menguntungkan

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada awal dekade 1980-an silam, seorang profesor farmasi klinis pada University of California at San Francisco (UCSF), Amerika Serikat bernama Betty Dong melakukan penelitian kecil-kecilan yang mencoba mengungkap perbedaan kimiawi-biologis antar obat, khususnya pada pelbagai obat yang berinteraksi dengan hormon tiroid. Kala itu, Dong melakukan penelitian ini karena, tidak seperti obat-obatan non-tiroid yang dapat melawan penyakit dengan dosis serampangan, obat-obatan yang berhubungan dengan hormon tiroid membutuhkan racikan presisi. Ketika titrate (titrasi atau konsentrasi larutan kimiawi) dari obat yang berinteraksi dengan hormon tiroid terlalu banyak, alih-alih sembuh, pasien akan mengalami hyperthyroidism (hipertiroidisme) atau peningkatan laju metabolisme dan detak jantung gara-gara kelenjar tiroid bereaksi secara berlebihan. Sebaliknya, terlalu sedikit, pasien akan mengalami hypothyroidism (hipotiroidisme) atau turunnya aktivitas kelanjar tiroid yang dapat mengakibatkan keterbelakangan pertumbuhan dan perkembangan mental bagi anak-anak serta orang dewasa.

Dong, usai melakukan penelitian kecil-kecilannya ini dalam tempo singkat, berkesimpulan bahwa terdapat perbedaan kemujaraban antar obat yang berhubungan dengan hormon tiroid gara-gara adanya perbedaan kimiawi-biologis. Suatu kesimpulan yang membuat Carter Eckert, bos perusahaan farmasi bernama Boots, kesemsem dengan Dong dan meminta peneliti UCSF tersebut melakukan penelitian yang lebih besar nan modern. Eckert meminta dan memberikan dana penelitian pada Dong karena, usai perusahaannya merilis obat untuk menyembuhkan tiroid bernama Synthroid pada 1958 dan menguasai pasar sejak saat itu, pada pertengahan 1980-an dan didukung oleh Presiden Ronald Reagen melalui Price Competition and Patent Term Restoration Act of 1984 (suatu undang-undang di AS yang menghendaki adanya pengendalian harga dan kompetisi di dunia obat-obatan) muncul "obat generik" di pasaran. Suatu obat, sebagaimana dipaparkan Jeremy Greene dalam bukunya berjudul Generic: The Unbranding of Modern Medicine (2014), versi "copy-paste" nan murah-meriah dari pelbagai obat-obatan bermerek, termasuk versi copas dari Synthroid.

Bagi Eckert dan para punggawa Boots, kemunculan obat versi generik membuat posisi tawar Synthroid melemah di pasaran. Musababnya, obat generik diizinkan dijual di pasaran oleh Federal Drugs Administration (FDA atau BPOM-nya AS) bukan karena hasil uji klinis, tetapi hanya atas pembuktian bahwa obat generik memiliki kemiripan kimiawi dengan obat bermerek. Padahal, Boots mengklaim, Synthroid dibuat dengan racikan khusus, levothyroxine, yang mustahil di-copy-paste obat bermerek lain apalagi obat generik. Ini, pikir Boots, akan membuat masyarakat dijejali obat-obatan sampah nan murah-meriah yang dapat membuat obat berkualitas seperti Synthroid ditinggalkan. Maka, melalui tangan Dong, Boots ingin menggiring masyarakat berpikir ulang tentang penggunaan obat generik.

Melalui Dong, Boots berupaya mencari sebanyak mungkin perbedaan kimiawi-biologis serta kemujaraban obat bermerek versus obat generik. Naas, usai Dong melakukan penelitian pesanan Boots yang besar, modern, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga 1993, tak ditemukan satupun perbedaan obat bermerek dan obat generik. Sebaliknya, Dong menemukan banyak persamaan yang pada akhirnya berkesimpulan: obat bermerek, termasuk Synthroid, dan obat generik sama mujarabnya.

Ironisnya, seminggu sebelum Dong hendak mengirimkan temuan tersebut pada Journal of the American Medical Association guna dipublikasikan, seperangkat pengacara Boots menghampiri dan mengancamnya. "Andai penelitian ini dipublikasikan," sebut salah seorang pengacara Boots, "Anda telah melanggar kontrak dengan Boots karena segala hasil penelitian ini, yang jelas-jelas kami biayai, milik kami." Dan tak ketinggalan, selayaknya ancaman klasik para pengacara korporasi, pengacara itu menyebut bahwa, "seandainya Anda tetap ngotot mempublikasikan penelitian ini, saya yakin Anda tidak akan menang melawan kami karena gugatan hukum yang akan kami ajukan terlalu mahal untuk Anda biayai sendiri."

Dong menyerah. Tak jadi mempublikasikan temuan itu. Dan Boots, meskipun berhasil menyembunyikan hasil penelitian tersebut, ironisnya tetap tertekan di pasaran karena, kembali merujuk apa yang ditulis Greene, produsen obat generik bernama My-K Laboratories menyuap para petinggi FDA guna mengutamakan obat generik dibandingkan obat bermerek.

Tindakan Boots (dan My-K Laboratories), merujuk apa yang diucapkan seorang antropolog Harvard University bernama Arthur Kleinman, merupakan bukti bahwa industri farmasi, di balik nilai guna yang sangat besar bagi umat manusia, "adalah tempat di mana manusia kehilangan jiwa (kebaikan)" karena dipertukarkan dengan keuntungan. Suatu pertukaran sesat yang membuat vaksin, senjata umat manusia untuk menghadapi banyak penyakit--termasuk Covid-19 yang saat ini tengah melanda dunia--cenderung ditinggalkan gara-gara dianggap tidak menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan farmasi.

Ketika Vaksin Dianggap Tidak Menguntungkan

"Manusia sangat pandai menciptakan virus baru melalui ketidaksengajaan, entah itu virus flu yang muncul atas kesembronoan manusia mengelola peternakan babi ataupun virus HIV yang hadir gara-gara ketidakwaspadaan kita terhadap simpanse," tulis Carl Zimmer, jurnalis The New York Times, dalam bukunya berjudul A Planet of Viruses (edisi pertama 2011). Dan berbalik dari kepandaian yang tak layak dirayakan ini, "sayangnya, manusia bukanlah makhluk yang pintar membasmi virus."

Dalam catatan sejarah peradaban manusia, hanya cacar (atau smallpox, yang disebabkan oleh virus Variola, dan bukan cacar air atau chickenpox yang disebabkan virus Varicella-zoster) yang berhasil dibasmi secara keseluruhan. Tentu, keberhasilan manusia membasmi cacar tak berlangsung dalam tempo singkat, tetapi dalam waktu ribuan tahun. Ini terjadi karena, pertama, cacar telah hadir sejak 3.500 tahun silam yang dibuktikan dengan penemuan tiga mumi Mesir di zaman Firaun yang memiliki bekas pustula (gelembung kulit yang berisi nanah) cacar di kulitnya, dan menyebar ke seantero dunia sejak 430 SM. Kedua, dalam usaha-usaha membasmi cacar, proses "trial and error" jadi satu-satunya pilihan yang tersedia. Dan usaha pertama manusia yang cukup memberikan hasil manis dalam pembasmian cacar terjadi karena ketidaksengajaan. Kala itu, di sekitaran 900 Masehi, para dokter di Cina tanpa sengaja mengetahui bahwa tatkala seseorang terkena cacar, tetapi sebelumnya pernah bersentuhan dengan pustula penderita cacar, ia hanya mengalami gejala biasa, tidak mematikan.

Dari temuan ini, dokter-dokter di negeri yang kini terkenal dengan label "Made in China" lantas memproduksi variolasi (variolation), semacam bubuk atau lotion yang terbuat dari bekas pustula guna menciptakan imunitas terhadap cacar. Dan dari temuan dokter-dokter Cina ini, didukung desas-desus tentang tidak ditemukannya penderita cacar di kalangan pemerah sapi, seorang dokter asal Inggris bernama Edward Jenner berhasil menciptakan obat khusus anti-cacar yang dibuat memanfaatkan pustula cacar sapi (cowpox) pada 1700. Obat khusus ini, mencukil nama latin untuk cowpox (Variola vaccinae), ia namai vaksin.

Berbeda dengan obat-obatan biasa, vaksin umumnya diberikan kepada masyarakat melalui bantuan tangan negara/kerajaan. Merujuk apa yang ditulis Zimmer, Kekaisaran Cina, di bawah Dinasti Tang, menjadi kekuatan pertama yang memberikan vaksinasi (dalam bentuk variolasi) cuma-cuma kepada khalayak umum. Lalu, tatkala Jenner berhasil menciptakan vaksin, Raja Carlos IV dari Spanyol menginisiasi "Ekspedisi Vaksin" pada 1803 guna memberikan vaksinasi kepada masyarakat di seluruh dunia. Dan ketika dunia memasuki zaman modern, sebagaimana dipaparkan Bernice L. Hausman dalam bukunya berjudul Anti/Vax: Reframing the Vaccination Controversy (2019), pemberian vaksin dari negara kepada rakyat dipertegas melalui "vaccine mandate" atau produk undang-undang yang mewajibkan negara/rakyat memberikan/menerima vaksin. Di AS, tutur Hausman, mandat vaksin ini berbentuk kewajiban negara untuk memberikan vaksin difteri, tetanus, rejan, campak, gondongan, rubela, dan polio pada rakyatnya sejak awal 1980-an dan bertambah sembilan vaksin lain sejak akhir 1980-an.

Pemberian vaksin dari negara kepada rakyat, secara kasat mata, terlihat sebagai kebaikan penguasa. Sayangnya, yang terlihat sebagai kebaikan negara ini hadir bukan tanpa alasan. Vaksin disebarkan melalui bantuan negara/penguasa karena obat khusus ini sangat mahal dibuat dan tak menguntungkan bagi para perusahaan farmasi.

Vega Masignani, dalam studinya berjudul "The Value of Vaccines" (Journal of Vaccine Vol. 21 2003), menyebut bahwa tatkala perusahaan farmasi hendak melakukan penelitian dan dilanjutkan dengan aksi memproduksi obat-obatan, cost-effectiveness (efektivitas biaya) jadi indikator utama penggeraknya. Melalui indikator ini, andai biaya penelitian dan produksi lebih murah dibandingkan perkiraan keuntungan yang akan diraih, perusahaan farmasi akan memulai proses penelitian/produksi. Sebaliknya, andai biaya penelitian/produksi lebih mahal daripada keuntungan, obat akan ditinggalkan. Dan vaksin adalah obat yang lebih mahal penelitian/produksi dibandingkan keuntungannya itu.

Sederhana saja alasan di balik mengapa vaksin tidak menguntungkan. Berbeda dengan parasetamol yang terus-terusan dikonsumsi selama sakit kepala muncul, misalnya, vaksin hanya sekali disuntikkan untuk lalu ditinggalkan. Ketika seseorang diberikan vaksin campak di waktu belia, contohnya, tidak ada alasan baginya untuk memperoleh vaksin campak kedua, ketiga, dan seterusnya kelak. Melalui alasan yang sederhana ini, perusahaan farmasi lebih memilih mengembangkan/memproduksi obat-obatan non-vaksin, bahkan lebih memilih mengembangkan/memproduksi obat pada penyakit yang sebetulnya telah ada vaksinnya (direct-medicine drugs) karena, seandainya terdapat seseorang yang ngotot menolak diberi vaksin, perusahaan farmasi dapat memperoleh untung melimpah dari obatan-obatan non-vaksin guna melakukan perawatan kepada seorang anti-vaksin ketika terkena penyakit.

Berbanding terbalik dari kacamata perusahaan farmasi, cost-effectiveness vaksin sangat menguntungkan bagi masyarakat. Kembali merujuk Masignani, vaksin merupakan satu-satunya obat yang dapat mengeliminasi biaya kesehatan di masa depan. Dengan menerima vaksin campak, misalnya, seseorang akan terhindar dari biaya perawatan dari penyakit ini. Seandinya, tentu, seseorang tersebut memilih menjadi anggota kaum anti-vaksin dan terkena campak di masa depannya.

Melalui cost-effectiveness ini, vaksin adalah bisnis senilai $6,5 miliar. Terlihat besar memang. Namun, angka tersebut hanya setara dengan 2 persen total bisnis farmasi di seluruh dunia.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



31 Juli 2021

Bagi Perusahaan Farmasi Vaksin Tidak Menguntungkan

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada awal dekade 1980-an silam, seorang profesor farmasi klinis pada University of California at San Francisco (UCSF), Amerika Serikat bernama Betty Dong melakukan penelitian kecil-kecilan yang mencoba mengungkap perbedaan kimiawi-biologis antar obat, khususnya pada pelbagai obat yang berinteraksi dengan hormon tiroid. Kala itu, Dong melakukan penelitian ini karena, tidak seperti obat-obatan non-tiroid yang dapat melawan penyakit dengan dosis serampangan, obat-obatan yang berhubungan dengan hormon tiroid membutuhkan racikan presisi. Ketika titrate (titrasi atau konsentrasi larutan kimiawi) dari obat yang berinteraksi dengan hormon tiroid terlalu banyak, alih-alih sembuh, pasien akan mengalami hyperthyroidism (hipertiroidisme) atau peningkatan laju metabolisme dan detak jantung gara-gara kelenjar tiroid bereaksi secara berlebihan. Sebaliknya, terlalu sedikit, pasien akan mengalami hypothyroidism (hipotiroidisme) atau turunnya aktivitas kelanjar tiroid yang dapat mengakibatkan keterbelakangan pertumbuhan dan perkembangan mental bagi anak-anak serta orang dewasa.

Dong, usai melakukan penelitian kecil-kecilannya ini dalam tempo singkat, berkesimpulan bahwa terdapat perbedaan kemujaraban antar obat yang berhubungan dengan hormon tiroid gara-gara adanya perbedaan kimiawi-biologis. Suatu kesimpulan yang membuat Carter Eckert, bos perusahaan farmasi bernama Boots, kesemsem dengan Dong dan meminta peneliti UCSF tersebut melakukan penelitian yang lebih besar nan modern. Eckert meminta dan memberikan dana penelitian pada Dong karena, usai perusahaannya merilis obat untuk menyembuhkan tiroid bernama Synthroid pada 1958 dan menguasai pasar sejak saat itu, pada pertengahan 1980-an dan didukung oleh Presiden Ronald Reagen melalui Price Competition and Patent Term Restoration Act of 1984 (suatu undang-undang di AS yang menghendaki adanya pengendalian harga dan kompetisi di dunia obat-obatan) muncul "obat generik" di pasaran. Suatu obat, sebagaimana dipaparkan Jeremy Greene dalam bukunya berjudul Generic: The Unbranding of Modern Medicine (2014), versi "copy-paste" nan murah-meriah dari pelbagai obat-obatan bermerek, termasuk versi copas dari Synthroid.

Bagi Eckert dan para punggawa Boots, kemunculan obat versi generik membuat posisi tawar Synthroid melemah di pasaran. Musababnya, obat generik diizinkan dijual di pasaran oleh Federal Drugs Administration (FDA atau BPOM-nya AS) bukan karena hasil uji klinis, tetapi hanya atas pembuktian bahwa obat generik memiliki kemiripan kimiawi dengan obat bermerek. Padahal, Boots mengklaim, Synthroid dibuat dengan racikan khusus, levothyroxine, yang mustahil di-copy-paste obat bermerek lain apalagi obat generik. Ini, pikir Boots, akan membuat masyarakat dijejali obat-obatan sampah nan murah-meriah yang dapat membuat obat berkualitas seperti Synthroid ditinggalkan. Maka, melalui tangan Dong, Boots ingin menggiring masyarakat berpikir ulang tentang penggunaan obat generik.

Melalui Dong, Boots berupaya mencari sebanyak mungkin perbedaan kimiawi-biologis serta kemujaraban obat bermerek versus obat generik. Naas, usai Dong melakukan penelitian pesanan Boots yang besar, modern, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga 1993, tak ditemukan satupun perbedaan obat bermerek dan obat generik. Sebaliknya, Dong menemukan banyak persamaan yang pada akhirnya berkesimpulan: obat bermerek, termasuk Synthroid, dan obat generik sama mujarabnya.

Ironisnya, seminggu sebelum Dong hendak mengirimkan temuan tersebut pada Journal of the American Medical Association guna dipublikasikan, seperangkat pengacara Boots menghampiri dan mengancamnya. "Andai penelitian ini dipublikasikan," sebut salah seorang pengacara Boots, "Anda telah melanggar kontrak dengan Boots karena segala hasil penelitian ini, yang jelas-jelas kami biayai, milik kami." Dan tak ketinggalan, selayaknya ancaman klasik para pengacara korporasi, pengacara itu menyebut bahwa, "seandainya Anda tetap ngotot mempublikasikan penelitian ini, saya yakin Anda tidak akan menang melawan kami karena gugatan hukum yang akan kami ajukan terlalu mahal untuk Anda biayai sendiri."

Dong menyerah. Tak jadi mempublikasikan temuan itu. Dan Boots, meskipun berhasil menyembunyikan hasil penelitian tersebut, ironisnya tetap tertekan di pasaran karena, kembali merujuk apa yang ditulis Greene, produsen obat generik bernama My-K Laboratories menyuap para petinggi FDA guna mengutamakan obat generik dibandingkan obat bermerek.

Tindakan Boots (dan My-K Laboratories), merujuk apa yang diucapkan seorang antropolog Harvard University bernama Arthur Kleinman, merupakan bukti bahwa industri farmasi, di balik nilai guna yang sangat besar bagi umat manusia, "adalah tempat di mana manusia kehilangan jiwa (kebaikan)" karena dipertukarkan dengan keuntungan. Suatu pertukaran sesat yang membuat vaksin, senjata umat manusia untuk menghadapi banyak penyakit--termasuk Covid-19 yang saat ini tengah melanda dunia--cenderung ditinggalkan gara-gara dianggap tidak menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan farmasi.

Ketika Vaksin Dianggap Tidak Menguntungkan

"Manusia sangat pandai menciptakan virus baru melalui ketidaksengajaan, entah itu virus flu yang muncul atas kesembronoan manusia mengelola peternakan babi ataupun virus HIV yang hadir gara-gara ketidakwaspadaan kita terhadap simpanse," tulis Carl Zimmer, jurnalis The New York Times, dalam bukunya berjudul A Planet of Viruses (edisi pertama 2011). Dan berbalik dari kepandaian yang tak layak dirayakan ini, "sayangnya, manusia bukanlah makhluk yang pintar membasmi virus."

Dalam catatan sejarah peradaban manusia, hanya cacar (atau smallpox, yang disebabkan oleh virus Variola, dan bukan cacar air atau chickenpox yang disebabkan virus Varicella-zoster) yang berhasil dibasmi secara keseluruhan. Tentu, keberhasilan manusia membasmi cacar tak berlangsung dalam tempo singkat, tetapi dalam waktu ribuan tahun. Ini terjadi karena, pertama, cacar telah hadir sejak 3.500 tahun silam yang dibuktikan dengan penemuan tiga mumi Mesir di zaman Firaun yang memiliki bekas pustula (gelembung kulit yang berisi nanah) cacar di kulitnya, dan menyebar ke seantero dunia sejak 430 SM. Kedua, dalam usaha-usaha membasmi cacar, proses "trial and error" jadi satu-satunya pilihan yang tersedia. Dan usaha pertama manusia yang cukup memberikan hasil manis dalam pembasmian cacar terjadi karena ketidaksengajaan. Kala itu, di sekitaran 900 Masehi, para dokter di Cina tanpa sengaja mengetahui bahwa tatkala seseorang terkena cacar, tetapi sebelumnya pernah bersentuhan dengan pustula penderita cacar, ia hanya mengalami gejala biasa, tidak mematikan.

Dari temuan ini, dokter-dokter di negeri yang kini terkenal dengan label "Made in China" lantas memproduksi variolasi (variolation), semacam bubuk atau lotion yang terbuat dari bekas pustula guna menciptakan imunitas terhadap cacar. Dan dari temuan dokter-dokter Cina ini, didukung desas-desus tentang tidak ditemukannya penderita cacar di kalangan pemerah sapi, seorang dokter asal Inggris bernama Edward Jenner berhasil menciptakan obat khusus anti-cacar yang dibuat memanfaatkan pustula cacar sapi (cowpox) pada 1700. Obat khusus ini, mencukil nama latin untuk cowpox (Variola vaccinae), ia namai vaksin.

Berbeda dengan obat-obatan biasa, vaksin umumnya diberikan kepada masyarakat melalui bantuan tangan negara/kerajaan. Merujuk apa yang ditulis Zimmer, Kekaisaran Cina, di bawah Dinasti Tang, menjadi kekuatan pertama yang memberikan vaksinasi (dalam bentuk variolasi) cuma-cuma kepada khalayak umum. Lalu, tatkala Jenner berhasil menciptakan vaksin, Raja Carlos IV dari Spanyol menginisiasi "Ekspedisi Vaksin" pada 1803 guna memberikan vaksinasi kepada masyarakat di seluruh dunia. Dan ketika dunia memasuki zaman modern, sebagaimana dipaparkan Bernice L. Hausman dalam bukunya berjudul Anti/Vax: Reframing the Vaccination Controversy (2019), pemberian vaksin dari negara kepada rakyat dipertegas melalui "vaccine mandate" atau produk undang-undang yang mewajibkan negara/rakyat memberikan/menerima vaksin. Di AS, tutur Hausman, mandat vaksin ini berbentuk kewajiban negara untuk memberikan vaksin difteri, tetanus, rejan, campak, gondongan, rubela, dan polio pada rakyatnya sejak awal 1980-an dan bertambah sembilan vaksin lain sejak akhir 1980-an.

Pemberian vaksin dari negara kepada rakyat, secara kasat mata, terlihat sebagai kebaikan penguasa. Sayangnya, yang terlihat sebagai kebaikan negara ini hadir bukan tanpa alasan. Vaksin disebarkan melalui bantuan negara/penguasa karena obat khusus ini sangat mahal dibuat dan tak menguntungkan bagi para perusahaan farmasi.

Vega Masignani, dalam studinya berjudul "The Value of Vaccines" (Journal of Vaccine Vol. 21 2003), menyebut bahwa tatkala perusahaan farmasi hendak melakukan penelitian dan dilanjutkan dengan aksi memproduksi obat-obatan, cost-effectiveness (efektivitas biaya) jadi indikator utama penggeraknya. Melalui indikator ini, andai biaya penelitian dan produksi lebih murah dibandingkan perkiraan keuntungan yang akan diraih, perusahaan farmasi akan memulai proses penelitian/produksi. Sebaliknya, andai biaya penelitian/produksi lebih mahal daripada keuntungan, obat akan ditinggalkan. Dan vaksin adalah obat yang lebih mahal penelitian/produksi dibandingkan keuntungannya itu.

Sederhana saja alasan di balik mengapa vaksin tidak menguntungkan. Berbeda dengan parasetamol yang terus-terusan dikonsumsi selama sakit kepala muncul, misalnya, vaksin hanya sekali disuntikkan untuk lalu ditinggalkan. Ketika seseorang diberikan vaksin campak di waktu belia, contohnya, tidak ada alasan baginya untuk memperoleh vaksin campak kedua, ketiga, dan seterusnya kelak. Melalui alasan yang sederhana ini, perusahaan farmasi lebih memilih mengembangkan/memproduksi obat-obatan non-vaksin, bahkan lebih memilih mengembangkan/memproduksi obat pada penyakit yang sebetulnya telah ada vaksinnya (direct-medicine drugs) karena, seandainya terdapat seseorang yang ngotot menolak diberi vaksin, perusahaan farmasi dapat memperoleh untung melimpah dari obatan-obatan non-vaksin guna melakukan perawatan kepada seorang anti-vaksin ketika terkena penyakit.

Berbanding terbalik dari kacamata perusahaan farmasi, cost-effectiveness vaksin sangat menguntungkan bagi masyarakat. Kembali merujuk Masignani, vaksin merupakan satu-satunya obat yang dapat mengeliminasi biaya kesehatan di masa depan. Dengan menerima vaksin campak, misalnya, seseorang akan terhindar dari biaya perawatan dari penyakit ini. Seandinya, tentu, seseorang tersebut memilih menjadi anggota kaum anti-vaksin dan terkena campak di masa depannya.

Melalui cost-effectiveness ini, vaksin adalah bisnis senilai $6,5 miliar. Terlihat besar memang. Namun, angka tersebut hanya setara dengan 2 persen total bisnis farmasi di seluruh dunia.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play