9 Juli 2021

Ketika Foto Gerhana Matahari Menjadikan Albert Einstein Selebritis

Oleh: Ahmad Zaenudin


Alkisah, di suatu hari di sekitar dekade 1910-an, Albert Einstein melihat seorang pekerja yang sedang membersihkan jendela apartemen. Fisikawan muda yang telah memiliki cukup reputasi--tetapi belum populer di kalangan umum--di kalangan akademik itu, wabilkhusus selepas mencetuskan teori relativitas khusus (E=mc2), kemudian berpikir: Apa yang terjadi dengan si pekerja seandainya ia jatuh?

Tentu, andai pekerja pembersih jendela itu terjatuh, mati atau cedera parah muncul dalam pikiran orang-orang biasa sebagai buah dari sebab-akibat. Einstein, karena otaknya telah dipengaruhi pemikiran Isaac Newton dan James Clerk Maxwell, memilih berpikiran berbeda. Maka, seandainya seorang pekerja pembersih itu jatuh, pikir Einstein, hanya gravitasi yang membuatnya terjadi. Hanya gravitasi yang membuatnya memiliki akselerasi ke bawah. Sialnya, karena di bawah terdapat permukaan Bumi, akselerasi tubuh yang meluncur ke bawah itu lalu terhenti.

Einstein berpikir kembali. Bagaimana jika si pekerja jatuh dan tidak ada muka Bumi yang membuatnya terhenti? Pikir Einstein, karena tidak ada lagi penghalang, dan terlebih karena menurut hukum Newton menyatakan bahwa kecepatan tidak pernah mutlak, tetapi relatif terhadap pembanding (dalam hal ini Bumi) maka keadaan jatuhnya si pekerja sama dengan keadaan astronaut yang melayang-layang di angkasa, weightless. Ia, atas khayalan imajinasi ini, kemudian berkesimpulan bahwa gravitasi dan akselerasi sesungguhnya merupakan jalan berbeda untuk mendeskripsikan hal yang sama. Dan dari kesimpulan ini, Einstein berimajinasi kejadian lain: Seandainya seorang astronaut berbobot 80 kg berada di wahana yang terbang secara vertikal di angkasa dan wahana itu terbang dengan kecepatan 9,8 meter/second2, berapa bobot si astronaut? Lagi-lagi, dengan merujuk hukum Newton, bobot astronaut yang sedang terbang vertikal ke angkasa itu tidak memiliki perbedaan dengan bobotnya sewaktu di Bumi. Ini terjadi karena kecepatan wahana sebesar 9,8 meter/second2, setara dengan gaya gravitasi Bumi.

Khayalan Einstein tak berhenti. Lantas, bagaimana jika si astronaut yang tengah melaju vertikal di luar angkasa itu menembakkan senter ke dinding wahananya? Ketika Einstein merujuk hukum Newton, cahaya senter yang mengenai dinding akan melengkung. Kesimpulan ini ia ambil atas pemikiran tentang tindak-tanduk cahaya oleh Newton. Newton, dalam studinya berjudul “Opticks” (1704) menyatakan bahwa “atas (akselerasi), tindakan tersebut membelokkan cahaya.” Sayangnya, pemikiran Newton ini sebatas pemikiran kualitatif, tidak menjelaskan secara matematis bagaimana pembelokkan cahanya terjadi. Pikir Einstein, prediksi Newton soal cahaya atas pengaruh gravitasi berbanding terbalik dengan hukum Maxwell. Terang Maxwell, kecepatan gelombang elektromagnetik, seperti cahaya, tetap. Apapun yang terjadi, dihalangi apapun, dipengaruhi apapun, cahaya akan meluncur dengan kecepatan 299.792.458 meter/detik. Artinya, ketika si astronaut itu menembakkan senter ke dinding wahananya, sinar yang ditembakkan seharusnya lurus, tidak bengkok. Bagi Einstein, perbedaan hasil yang diberikan hukum Newton dan hukum Maxwell merusak prinsip persamaan.

Tentu saja, di titik ini, khayalan Einstein belum berakhir. Hukum Newton dan Maxwell mungkin tidak salah. Alasannya, prinsip kerja cahaya adalah ia akan mengambil jalur terpendek dari poin asal (A) ke poin tujuan (B). Maka, pikir Einstein, jalan terpendek bagi cahaya yang ditembakkan dari senter ke dinding wahana bukanlah jalur lurus, melainkan melengkung. Prinsip ini sama dengan keadaan di Bumi. Coba cek Google Maps/Google Earth, jalur terpendek antara dua titik terjauh di Bumi tidak pernah merupakan garis lurus karena Anda harus melintasi permukaan Bumi, yang berbentuk geometri. Ya, Bumi bulat.

Gravitasi mungkin menyebabkan kelengkungan atas ruang. Menyebabkan cahaya, sesuai hukum Newton dan tetap menjunjung hukum Maxwell, melengkung. Atas khayalan ini, dan kerja akademik bertahun-tahun, Einstein mempublikasikan “The Foundation of the General Theory of Relativity” (1916)--Catatan: relativitas umum Einstein telah dibicarakan kalangan akademik sekitar 1907 hingga 1915, 1916 adalah tahun ketika Einstein mempublikasikannya secara formal. Jika Anda tak sempat membaca studi Einstein tersebut, secara singkat, teori relativitas Einstein berkata: “Ruang memberitahu bagaimana materi (benda) bergerak, dan materi (banda) memberitahu ruang bagaimana melengkung.” Tentu saja, atas pemikiran ini gravitasi bukanlah gaya fundamental alam, tarik-menarik benda seperti yang diutarakan Newton, melainkan gravitasi adalah suatu keadaan di mana materi (benda) melengkungkan ruang. Dan karena ruang dilengkungkan materi, materi yang ada di sekitarnya seakan tertarik. Ini, merujuk “Einstein, Eddington and the 1919 Eclipse” yang ditulis Peter Coles dari University of Nottingham, bertentangan dengan hukum Newton. Ya, baik hukum Newton maupun relativitas umum Einstein sesungguhnya memang tidak menjelaskan bagaimana gravitasi bekerja (dan masih menjadi misteri hingga saat ini), tetapi menjelaskan sebab-akibat dari gravitasi.

Di tengah situasi Perang Dunia I, hukum gravitasi yang ditemukan bangsawan Inggris terancam oleh hukum baru yang ditemukan seorang Yahudi Jerman. Pembuktian kerja akademik Einstein adalah satu-satunya cara merealisasikan terjungkalnya rasa bangga Inggris atas intelektual warganya. Uniknya, sekitar 3 tahun kemudian, kerja akademik Einstein soal relativitas umum sukses dibuktikan oleh seorang ilmuwan Inggris. Melalui sebuah foto.

Gerhana Einstein: Foto yang Membuatnya Dicap Jenius

Dalam relativitas umum, singkat kata, cahaya melengkung karena kehadiran gravitasi. Cara terbaik untuk membuktikannya adalah dengan melihat gerhana Matahari, dengan melihat di mana sesungguhnya Matahari berada ketika gerhana berada, karena, atas pemahaman umum, ketika gerhana Matahari terjadi seharusnya Matahari-Bulan-Bumi berada dalam posisi sejajar. Einstein, melalui relativitas umum-nya, menyatakan bahwa tatkala gerhana Matahari terjadi, cahaya Matahari itu melengkung 1,75 detik busur (second of arc) dari posisi asalnya. Sementara itu, mengikuti hukum Newton, cahaya Matahari memang melengkung, tetapi tidak signifikan. Hukum Newton memprediksi bahwa cahaya Matahari hanya melengkung 0.86 detik busur.

Dennis Overbye, dalam paparannya untuk The New York Times, menyebut bahwa pembuktian relativitas umum Einstein soal gravitasi dilakukan pertama kali pada 1914 oleh seorang astronomer Jerman bernama Erwin Finlay-Freundlich. Di tahun tersebut, Finlay-Freundlich terbang ke Crimea untuk mengobservasi gerhana Matahari. Menyingkap dimana sebenarnya Matahari berada ketika gerhana terjadi. Naas, karena Perang Dunia I baru saja dimulai, Finlay-Freundlich dihadang pasukan Rusia, dianggap sebagai mata-mata dan kamera khusus miliknya dirampas.

Pada 1916, gerhana Matahari kembali muncul. Titik terbaik mengobservasinya ada di Venezuela. Finlay-Freundlich kembali ingin membuktikan coret-coretan Einstein. Sayangnya, karena kamera miliknya dirampas dan tidak dikembalikan, peluang ini menguap begitu saja.

Akhirnya, tahun 1919 tiba. Di tahun ini, sesuai prediksi para ilmuwan, gerhana Matahari akan muncul, tepatnya pada tanggal 29 Mei 1919.

Pada gerhana Matahari kali ini, para ilmuwan memprediksi bahwa gerhana yang terjadi akan jauh lebih istimewa. Keistimewaan itu, gerhana Matahari kali akan akan muncul berbarengan dengan bintang-bintang lainnya atau dikenal dengan sebutan Hyades. Ketika terjadi gerhana Matahari, karena kemudian menghasilkan kondisi yang cukup gelap, bintang-bintang yang ada di sekitaran Matahari akan mudah terlihat. Dari ini, tim peneliti yang menguji pemikiran Einstein dapat memetakan lokasi sesungguhnya Matahari.

Sayangnya, Erwin Finlay-Freundlich tak pergi untuk membuktikan relativitas umum Einstein. Kali ini, astronomer asal Inggris bernama Arthur Stanley Eddington melakukannya. Dalam paparan yang dilakukan Peter Coles untuk Nature, untuk melakukan pengukuran, Eddington membentuk tim. Tim pertama, yang beranggotakan ilmuwan bernama Charles Davidson dan Andrew Crommelin pergi ke wilayah bernama Sobral di Brazil, dan tim kedua, selain diikuti Eddington, juga diikuti Edwin Cottingham pergi ke Principe di ujung Afrika Barat.

Kembali merujuk Overbye, awalnya pembuktian yang dilakukan tim ilmuwan yang dikepalai Eddington kemungkinan akan berakhir dengan kegagalan. Bagaimana tidak, di tanggal 29 Mei itu, tatkala Davidson dan Crommelin tiba di Sobral, cuaca buruk menyelimuti wilayah tersebut. Dan di Principe, Eddington dan Cottingham harus ikhlas menerima kenyataan bahwa wilayah yang mereka datangi untuk menguji pemikiran Einstein tengah mengalami musim hujan.

Alam nampaknya berkehendak lain. Di menit-menit jelang gerhana Matahari hendak mencapai titik sempurna, di kedua wilayah yang didatangi tim ilmuwan, tiba-tiba cerah. Memanfaatkan alat bernama astrograph--semacam telescope yang dimodifikasi untuk menghasilkan foto langit melalui plat tembaga yang telah disiapkan--kedua tim itu lalu memotret gerhana Matahari. Gerhana Matahari itu akhirnya diabadikan melalui foto. Tepatnya, tiga buah foto. Dua dari Sobral dan 1 dari Principe.

Setelah dibawa pulang dan diteliti di London, foto yang dihasilkan dari tim yang berlokasi di Sobral menyatakan bahwa cahaya Matahari memang melengkung. Melengkung sekitar 1,98 detik busur dari posisi Matahari, seandainya Matahari-Bulan-Bumi benar-benar lurus. Angka tersebut, lebih dari apa yang diprediksi Einstein melalui relativitas umum. Di sisi lain, foto lain yang dihasilkan tim Sobral menyatakan bahwa sinar Matahari melengkung sebesar 0,86 detik busur, angka yang berada mirip dengan hukum Newton. Terakhir, foto yang dihasilkan oleh Eddington menyatakan bahwa cahaya Matahari melengkung sekitar 1,61 detik busur, sesuai dengan prediksi Einstein.

Singkat kata, tiga foto itu tak memberikan kesimpulan utuh bahwa Einstein benar atau salah.

Uniknya, dalam publikasi resmi Eddington, ilmuwan muda asal Inggris ini menyatakan bahwa relativitas umum Einstein benar, teruji. Eddington menegaskan hal tersebut selepas ia hanya menggunakan data dari foto yang dihasilkan dari Principe. Menurutnya, foto-foto yang dihasilkan di Sobral cacat. Kemungkinan, terdapat kesalahan lensa yang membuat astrograph tidak bekerja dengan baik. Awalnya, hasil kerja Eddington membuktikan kebenaran Einstein diragukan. Eddington dianggap sebagai fans Einstein, dan memilih menggunakan foto yang mendukung Einstein. Namun, masih merujuk Overbye, Daniel Kennefick, astro fisikawan dari University of Arkansas, menyatakan bahwa Eddington bukanlah fans Einstein. Ia, kebalikannya, merupakan ilmuwan yang paling skeptis terhadap Einstein.

Ketika pengukuran ulang dilakukan pada 2009, Edward Fomalont, astronomer pada National Radio Astronomy Observatory di Charlottesville, Amerika Serikat, menegaskan kembali kebenaran Einstein.

Tatkala kerja ilmiah Eddington dipublikasikan, melalui paper berjudul “A Determination of the Deflection of Light by the Sun's Gravitational Field, from Observations Made at the Total Eclipse of May 29, 1919,” nama Albert Einstein seketika melambung. The New York Times, yang kala itu melaporkan publikasi ini, menyebut bahwa relativitas umum Einstein terbukti membuat “semua cahaya melengkung di langit.” Times, yang meminta keterangan Joseph Thomson, President of Royal Society and Royal Astronomical Society, menyebut bahwa “hasil ekspedisi gerhana menunjukkan bahwa cahaya dari bintang dibengkokkan atau dibelokkan dari jalur normalnya oleh ‘benda udara lain’.” “Benda udara lain” yang dimaksud tak lain adalah gravitasi. Hasil pembuktian ini, tutur Thomson, “memberikan kontribusi paling penting pada pemahaman terbaru atas hukum gravitasi, sejak Newton meletakkan prinsipnya.”

Einstein, karena pemikirannya terbukti benar, jadi selebritis. Selain relativitas umum, teori relativitas khusus-nya, E=mc2, naik pamor dari perbincangan ilmuwan menjadi perbincangan publik. Atas undangan Charlie Chaplin, Einstein-pun akhirnya terbang ke Hollywood. Dan di tengah-tengan publik yang mengeluh-eluhkan dua nama hebat itu, Chaplin berbisik sambil bercanda: “Albert, lihatlah orang-orang yang bersorak untuk kita. Mereka bersorak untukku karena mereka paham apa yang aku ucapkan. Namun, mereka bersorak untukku karena mereka tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan.”



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



9 Juli 2021

Ketika Foto Gerhana Matahari Menjadikan Albert Einstein Selebritis

Oleh: Ahmad Zaenudin


Alkisah, di suatu hari di sekitar dekade 1910-an, Albert Einstein melihat seorang pekerja yang sedang membersihkan jendela apartemen. Fisikawan muda yang telah memiliki cukup reputasi--tetapi belum populer di kalangan umum--di kalangan akademik itu, wabilkhusus selepas mencetuskan teori relativitas khusus (E=mc2), kemudian berpikir: Apa yang terjadi dengan si pekerja seandainya ia jatuh?

Tentu, andai pekerja pembersih jendela itu terjatuh, mati atau cedera parah muncul dalam pikiran orang-orang biasa sebagai buah dari sebab-akibat. Einstein, karena otaknya telah dipengaruhi pemikiran Isaac Newton dan James Clerk Maxwell, memilih berpikiran berbeda. Maka, seandainya seorang pekerja pembersih itu jatuh, pikir Einstein, hanya gravitasi yang membuatnya terjadi. Hanya gravitasi yang membuatnya memiliki akselerasi ke bawah. Sialnya, karena di bawah terdapat permukaan Bumi, akselerasi tubuh yang meluncur ke bawah itu lalu terhenti.

Einstein berpikir kembali. Bagaimana jika si pekerja jatuh dan tidak ada muka Bumi yang membuatnya terhenti? Pikir Einstein, karena tidak ada lagi penghalang, dan terlebih karena menurut hukum Newton menyatakan bahwa kecepatan tidak pernah mutlak, tetapi relatif terhadap pembanding (dalam hal ini Bumi) maka keadaan jatuhnya si pekerja sama dengan keadaan astronaut yang melayang-layang di angkasa, weightless. Ia, atas khayalan imajinasi ini, kemudian berkesimpulan bahwa gravitasi dan akselerasi sesungguhnya merupakan jalan berbeda untuk mendeskripsikan hal yang sama. Dan dari kesimpulan ini, Einstein berimajinasi kejadian lain: Seandainya seorang astronaut berbobot 80 kg berada di wahana yang terbang secara vertikal di angkasa dan wahana itu terbang dengan kecepatan 9,8 meter/second2, berapa bobot si astronaut? Lagi-lagi, dengan merujuk hukum Newton, bobot astronaut yang sedang terbang vertikal ke angkasa itu tidak memiliki perbedaan dengan bobotnya sewaktu di Bumi. Ini terjadi karena kecepatan wahana sebesar 9,8 meter/second2, setara dengan gaya gravitasi Bumi.

Khayalan Einstein tak berhenti. Lantas, bagaimana jika si astronaut yang tengah melaju vertikal di luar angkasa itu menembakkan senter ke dinding wahananya? Ketika Einstein merujuk hukum Newton, cahaya senter yang mengenai dinding akan melengkung. Kesimpulan ini ia ambil atas pemikiran tentang tindak-tanduk cahaya oleh Newton. Newton, dalam studinya berjudul “Opticks” (1704) menyatakan bahwa “atas (akselerasi), tindakan tersebut membelokkan cahaya.” Sayangnya, pemikiran Newton ini sebatas pemikiran kualitatif, tidak menjelaskan secara matematis bagaimana pembelokkan cahanya terjadi. Pikir Einstein, prediksi Newton soal cahaya atas pengaruh gravitasi berbanding terbalik dengan hukum Maxwell. Terang Maxwell, kecepatan gelombang elektromagnetik, seperti cahaya, tetap. Apapun yang terjadi, dihalangi apapun, dipengaruhi apapun, cahaya akan meluncur dengan kecepatan 299.792.458 meter/detik. Artinya, ketika si astronaut itu menembakkan senter ke dinding wahananya, sinar yang ditembakkan seharusnya lurus, tidak bengkok. Bagi Einstein, perbedaan hasil yang diberikan hukum Newton dan hukum Maxwell merusak prinsip persamaan.

Tentu saja, di titik ini, khayalan Einstein belum berakhir. Hukum Newton dan Maxwell mungkin tidak salah. Alasannya, prinsip kerja cahaya adalah ia akan mengambil jalur terpendek dari poin asal (A) ke poin tujuan (B). Maka, pikir Einstein, jalan terpendek bagi cahaya yang ditembakkan dari senter ke dinding wahana bukanlah jalur lurus, melainkan melengkung. Prinsip ini sama dengan keadaan di Bumi. Coba cek Google Maps/Google Earth, jalur terpendek antara dua titik terjauh di Bumi tidak pernah merupakan garis lurus karena Anda harus melintasi permukaan Bumi, yang berbentuk geometri. Ya, Bumi bulat.

Gravitasi mungkin menyebabkan kelengkungan atas ruang. Menyebabkan cahaya, sesuai hukum Newton dan tetap menjunjung hukum Maxwell, melengkung. Atas khayalan ini, dan kerja akademik bertahun-tahun, Einstein mempublikasikan “The Foundation of the General Theory of Relativity” (1916)--Catatan: relativitas umum Einstein telah dibicarakan kalangan akademik sekitar 1907 hingga 1915, 1916 adalah tahun ketika Einstein mempublikasikannya secara formal. Jika Anda tak sempat membaca studi Einstein tersebut, secara singkat, teori relativitas Einstein berkata: “Ruang memberitahu bagaimana materi (benda) bergerak, dan materi (banda) memberitahu ruang bagaimana melengkung.” Tentu saja, atas pemikiran ini gravitasi bukanlah gaya fundamental alam, tarik-menarik benda seperti yang diutarakan Newton, melainkan gravitasi adalah suatu keadaan di mana materi (benda) melengkungkan ruang. Dan karena ruang dilengkungkan materi, materi yang ada di sekitarnya seakan tertarik. Ini, merujuk “Einstein, Eddington and the 1919 Eclipse” yang ditulis Peter Coles dari University of Nottingham, bertentangan dengan hukum Newton. Ya, baik hukum Newton maupun relativitas umum Einstein sesungguhnya memang tidak menjelaskan bagaimana gravitasi bekerja (dan masih menjadi misteri hingga saat ini), tetapi menjelaskan sebab-akibat dari gravitasi.

Di tengah situasi Perang Dunia I, hukum gravitasi yang ditemukan bangsawan Inggris terancam oleh hukum baru yang ditemukan seorang Yahudi Jerman. Pembuktian kerja akademik Einstein adalah satu-satunya cara merealisasikan terjungkalnya rasa bangga Inggris atas intelektual warganya. Uniknya, sekitar 3 tahun kemudian, kerja akademik Einstein soal relativitas umum sukses dibuktikan oleh seorang ilmuwan Inggris. Melalui sebuah foto.

Gerhana Einstein: Foto yang Membuatnya Dicap Jenius

Dalam relativitas umum, singkat kata, cahaya melengkung karena kehadiran gravitasi. Cara terbaik untuk membuktikannya adalah dengan melihat gerhana Matahari, dengan melihat di mana sesungguhnya Matahari berada ketika gerhana berada, karena, atas pemahaman umum, ketika gerhana Matahari terjadi seharusnya Matahari-Bulan-Bumi berada dalam posisi sejajar. Einstein, melalui relativitas umum-nya, menyatakan bahwa tatkala gerhana Matahari terjadi, cahaya Matahari itu melengkung 1,75 detik busur (second of arc) dari posisi asalnya. Sementara itu, mengikuti hukum Newton, cahaya Matahari memang melengkung, tetapi tidak signifikan. Hukum Newton memprediksi bahwa cahaya Matahari hanya melengkung 0.86 detik busur.

Dennis Overbye, dalam paparannya untuk The New York Times, menyebut bahwa pembuktian relativitas umum Einstein soal gravitasi dilakukan pertama kali pada 1914 oleh seorang astronomer Jerman bernama Erwin Finlay-Freundlich. Di tahun tersebut, Finlay-Freundlich terbang ke Crimea untuk mengobservasi gerhana Matahari. Menyingkap dimana sebenarnya Matahari berada ketika gerhana terjadi. Naas, karena Perang Dunia I baru saja dimulai, Finlay-Freundlich dihadang pasukan Rusia, dianggap sebagai mata-mata dan kamera khusus miliknya dirampas.

Pada 1916, gerhana Matahari kembali muncul. Titik terbaik mengobservasinya ada di Venezuela. Finlay-Freundlich kembali ingin membuktikan coret-coretan Einstein. Sayangnya, karena kamera miliknya dirampas dan tidak dikembalikan, peluang ini menguap begitu saja.

Akhirnya, tahun 1919 tiba. Di tahun ini, sesuai prediksi para ilmuwan, gerhana Matahari akan muncul, tepatnya pada tanggal 29 Mei 1919.

Pada gerhana Matahari kali ini, para ilmuwan memprediksi bahwa gerhana yang terjadi akan jauh lebih istimewa. Keistimewaan itu, gerhana Matahari kali akan akan muncul berbarengan dengan bintang-bintang lainnya atau dikenal dengan sebutan Hyades. Ketika terjadi gerhana Matahari, karena kemudian menghasilkan kondisi yang cukup gelap, bintang-bintang yang ada di sekitaran Matahari akan mudah terlihat. Dari ini, tim peneliti yang menguji pemikiran Einstein dapat memetakan lokasi sesungguhnya Matahari.

Sayangnya, Erwin Finlay-Freundlich tak pergi untuk membuktikan relativitas umum Einstein. Kali ini, astronomer asal Inggris bernama Arthur Stanley Eddington melakukannya. Dalam paparan yang dilakukan Peter Coles untuk Nature, untuk melakukan pengukuran, Eddington membentuk tim. Tim pertama, yang beranggotakan ilmuwan bernama Charles Davidson dan Andrew Crommelin pergi ke wilayah bernama Sobral di Brazil, dan tim kedua, selain diikuti Eddington, juga diikuti Edwin Cottingham pergi ke Principe di ujung Afrika Barat.

Kembali merujuk Overbye, awalnya pembuktian yang dilakukan tim ilmuwan yang dikepalai Eddington kemungkinan akan berakhir dengan kegagalan. Bagaimana tidak, di tanggal 29 Mei itu, tatkala Davidson dan Crommelin tiba di Sobral, cuaca buruk menyelimuti wilayah tersebut. Dan di Principe, Eddington dan Cottingham harus ikhlas menerima kenyataan bahwa wilayah yang mereka datangi untuk menguji pemikiran Einstein tengah mengalami musim hujan.

Alam nampaknya berkehendak lain. Di menit-menit jelang gerhana Matahari hendak mencapai titik sempurna, di kedua wilayah yang didatangi tim ilmuwan, tiba-tiba cerah. Memanfaatkan alat bernama astrograph--semacam telescope yang dimodifikasi untuk menghasilkan foto langit melalui plat tembaga yang telah disiapkan--kedua tim itu lalu memotret gerhana Matahari. Gerhana Matahari itu akhirnya diabadikan melalui foto. Tepatnya, tiga buah foto. Dua dari Sobral dan 1 dari Principe.

Setelah dibawa pulang dan diteliti di London, foto yang dihasilkan dari tim yang berlokasi di Sobral menyatakan bahwa cahaya Matahari memang melengkung. Melengkung sekitar 1,98 detik busur dari posisi Matahari, seandainya Matahari-Bulan-Bumi benar-benar lurus. Angka tersebut, lebih dari apa yang diprediksi Einstein melalui relativitas umum. Di sisi lain, foto lain yang dihasilkan tim Sobral menyatakan bahwa sinar Matahari melengkung sebesar 0,86 detik busur, angka yang berada mirip dengan hukum Newton. Terakhir, foto yang dihasilkan oleh Eddington menyatakan bahwa cahaya Matahari melengkung sekitar 1,61 detik busur, sesuai dengan prediksi Einstein.

Singkat kata, tiga foto itu tak memberikan kesimpulan utuh bahwa Einstein benar atau salah.

Uniknya, dalam publikasi resmi Eddington, ilmuwan muda asal Inggris ini menyatakan bahwa relativitas umum Einstein benar, teruji. Eddington menegaskan hal tersebut selepas ia hanya menggunakan data dari foto yang dihasilkan dari Principe. Menurutnya, foto-foto yang dihasilkan di Sobral cacat. Kemungkinan, terdapat kesalahan lensa yang membuat astrograph tidak bekerja dengan baik. Awalnya, hasil kerja Eddington membuktikan kebenaran Einstein diragukan. Eddington dianggap sebagai fans Einstein, dan memilih menggunakan foto yang mendukung Einstein. Namun, masih merujuk Overbye, Daniel Kennefick, astro fisikawan dari University of Arkansas, menyatakan bahwa Eddington bukanlah fans Einstein. Ia, kebalikannya, merupakan ilmuwan yang paling skeptis terhadap Einstein.

Ketika pengukuran ulang dilakukan pada 2009, Edward Fomalont, astronomer pada National Radio Astronomy Observatory di Charlottesville, Amerika Serikat, menegaskan kembali kebenaran Einstein.

Tatkala kerja ilmiah Eddington dipublikasikan, melalui paper berjudul “A Determination of the Deflection of Light by the Sun's Gravitational Field, from Observations Made at the Total Eclipse of May 29, 1919,” nama Albert Einstein seketika melambung. The New York Times, yang kala itu melaporkan publikasi ini, menyebut bahwa relativitas umum Einstein terbukti membuat “semua cahaya melengkung di langit.” Times, yang meminta keterangan Joseph Thomson, President of Royal Society and Royal Astronomical Society, menyebut bahwa “hasil ekspedisi gerhana menunjukkan bahwa cahaya dari bintang dibengkokkan atau dibelokkan dari jalur normalnya oleh ‘benda udara lain’.” “Benda udara lain” yang dimaksud tak lain adalah gravitasi. Hasil pembuktian ini, tutur Thomson, “memberikan kontribusi paling penting pada pemahaman terbaru atas hukum gravitasi, sejak Newton meletakkan prinsipnya.”

Einstein, karena pemikirannya terbukti benar, jadi selebritis. Selain relativitas umum, teori relativitas khusus-nya, E=mc2, naik pamor dari perbincangan ilmuwan menjadi perbincangan publik. Atas undangan Charlie Chaplin, Einstein-pun akhirnya terbang ke Hollywood. Dan di tengah-tengan publik yang mengeluh-eluhkan dua nama hebat itu, Chaplin berbisik sambil bercanda: “Albert, lihatlah orang-orang yang bersorak untuk kita. Mereka bersorak untukku karena mereka paham apa yang aku ucapkan. Namun, mereka bersorak untukku karena mereka tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan.”


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play