10 Juli 2021

Earthrise: Pergi ke Bulan, Bumi Ditemukan

Oleh: Ahmad Zaenudin


“Kenapa saya menginginkan berpidato di sini,” tanya Neil deGrasse Tyson, astro fisikawan, di hadapan wisudawan Rice University, Mei 2015 silam. “Saya pikir keinginan saya ini timbul atas sejarah panjang saya menjadi seorang pengikut serta penasehat NASA,” jelas Tyson. Bagi Tyson, Rice University punya sejarah penting dalam program antariksa Amerika Serikat. Tegasnya, “pidato terkenal dari Presiden John F. Kennedy, yang dihadiri 35.000 orang, yang berjudul ‘Kami Memilih Untuk Pergi ke Bulan,’ dilakukan di halaman kampus Rice.”

Ungkap Tyson, kehendak AS meluncur ke antariksa sesungguhnya tidak didasari atas dasar sains, demi ilmu pengetahuan, tetapi bermaksud mengalahkan komunis, Uni Soviet, dalam iklim Perang Dingin. AS tidak ingin dipermalukan Soviet. NASA contohnya, lahir setahun selepas Sputnik terbang. Dan perintah Kennedy agar warganya pergi ke Bulan didasari keberhasilan Soviet mengirimkan Yuri Gagarin ke Orbit. “(Menurut Kennedy), jika suksesnya Gagarin ke orbit berdampak pada pikiran setiap manusia di manapun, kita harus sesegera mungkin menunjukkan jalur lain pada dunia. Jalur demokrasi dibandingkan tirani,” kata Tyson.

Program Apollo akhirnya lahir.

Dalam program Apollo, tak bisa dipungkiri, Apollo 11 adalah yang paling melekat di benak setiap orang. Ini terjadi karena di edisi ke-11 itulah Neil Armstrong sukses menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan. Namun, bagi Tyson, Apollo 8-lah yang lebih “greget.” Tegasnya, “itulah misi pertama umat manusia untuk meninggalkan Bumi dan pergi ke suatu tempat di luar orbit. Ya, Apollo 8 pergi ke Bulan, tetapi mereka tidak mendarat di sana.”

Apollo 8 pergi meninggalkan Bumi pada Desember 1968. Dalam misi ini, Frank Borman, Jim Lovell, dan William Anders jadi astronaut yang ditugaskan untuk melakukan “gladi resik” sebelum Armstrong, dkk mendarat di Bulan tak sampai setahun kemudian. Meskipun astronaut-astronaut Apollo 8 tidak menjejakkan kakinya di Bulan, menurut Tyson, melalui mereka-lah perubahan paling berarti umat manusia sukses diciptakan. Tuturnya, “ketika Apollo 8 sukses mengorbit Bulan, mereka kemudian berkendara di sisi belakang Bulan. Salah satu astronaut siap siaga dengan kamera yang dibawa dari Bumi, dan ketika Bumi nampak, astronaut itu memotretnya. Memotret Bumi yang terbit di atas Bulan.”

Foto yang kemudian diberi nama “Earthrise” lahir.

“Misi yang sebetulnya dilakukan untuk menjelajah Bulan, kenyataannya untuk pertama kali manusia menemukan Bumi,” tegas Tyson.

Earthrise: Ketika Manusia Menemukan Bumi

Malam Natal tahun 1968, Sinterklas tidak muncul di Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Frank Borman, Jim Lovell, dan William Anders, astronaut Apollo 8, menyajikan keajaiban lain. Berlayang-layang di orbit Bulan, dan disiarkan secara langsung oleh CBS, NBC, ABC, dan berbagai stasiun TV di seluruh dunia (juga stasiun radio), astronaut itu membacakan 12 baris pertama Kitab Kejadian. Katanya, “Tuhan menciptakan surga dan dunia. Tuhan senang dengan ciptaannya itu.” Di Bumi, manusia senang dengan pertunjukan tersebut.

Apollo 8, sebagaimana dikisahkan Robert Zimmerman dalam bukunya “Genesis: The Story of Apollo 8: The First Manned Flight to Another World,” merupakan perjalanan pertama manusia keluar orbit Bumi. Sebelum Apollo 8, atau 27 misi antariksa sebelumnya baik oleh AS ataupun Soviet, capaian tertinggi manusia hanya sampai 1.600 kilometer di atas permukaan Bumi. Capaian Apollo 8 melebihi orbit Bumi dibantu oleh roket Saturn V, roket buatan Wernher von Braun--ilmuwan Nazi yang melipir ke AS.

Pada 21 Desember 1968 tepat pukul 6.51 pagi, Apollo 8 meluncur dari Bumi. Meluncur dari Cape Kennedy (yang kini berganti nama menjadi Cape Canaveral), Florida, AS. Roket terbang dengan kecepatan 35.452 kaki per detik. Jika dibandingkan dengan kecepatan pesawat komersial, Airbus atau Boeing misalnya, dengan kecepatan itu pesawat komersial dapat mencapai ketinggian jelajah (cruising altitude) hanya dalam waktu 1 detik. Sebagai misi pertama untuk menjelajah wilayah yang belum tersentuh manusia, ada kekhawatiran muncul. Christopher Kraft, Director of NASA Flight Operations, sebagaimana dikisahkan Zimmerman, “ragu” bahwa tiga anak buah yang dikirimnya itu dapat kembali ke Bumi dengan selamat. Namun, keraguan itu perlahan sirna, khususnya ketika di malam Natal tahun itu, Apollo 8 sampai di orbit Bulan.

Albert J. Derr dalam “Photography Equipment and Techniques: A Survey of NASA Developments” menyebut bahwa ketika National Aeronautics and Space Administration alias NASA lahir, orang-orang yang bertugas di sana langsung berpikir untuk mencatat dan merekam segala hasil kerja mereka. Hasil tersebut nantinya bisa dinikmati bukan hanya untuk generasi kini, tetapi juga generasi mendatang. Foto adalah jawaban terbaik sebagai alat yang merekam kerja NASA.

Kali pertama astronaut NASA menggenggam kamera adalah tatkala John Glenn mengorbit Bumi menggunakan wahana Mercury-Atlas 6 dalam misi Friendship 7 yang terbang pada 20 Oktober 1962. Kala itu, alih-alih menggunakan kamera khusus, Glenn hanya membawa kamera Ansco Autoset miliknya sendiri. Dalam misi Apollo 8, NASA membekali astronautnya dengan kamera Hasselblad 500 EL.

75 jam dan 59 menit berlalu semenjak Apollo 8 meluncur, tatkala wahana yang ditumpangi tiga astronaut itu sampai di sisi belakang orbit Bumi, keajaiban lahir.

“Ya Tuhan! Lihat itu! Lihatlah Bumi terbit,” kata Frank Borman. Sigap, menggunakan kamera yang dibekali NASA, William Anders memotret fenomena itu. Fenomena Bumi yang terbit di atas Bulan. Foto Earthrise lahir.

Televisi, surat kabar, dan majalah di seluruh dunia lantas menyebarkan foto itu.

Dalam paper berjudul “On The Social Impact of The Apollo 8 Earthrise Photo,” Fred Spier menyebut bahwa foto Bumi yang dipotret dari luar angkasa tidak tercipta pertama kali oleh Apollo 8, tetapi sudah dilakukan oleh Lunar Orbiter, yang mengangkasa pada Agustus 1966. Bahkan, sebulan sebelum Anders memotret Earthrise, Soviet sukses menghasilkan foto serupa melalui wahana Zond 6. Yang membedakan, dua foto Bumi dari angkasa sebelum Apollo 8 terpotret dalam bentuk hitam-putih. Menurut Spier, ini mengakibatkan “dampak sosial” yang jauh lebih kecil.

Kembali mengingat perkataan Tyson, melalui foto Earthrise, manusia akhirnya “menemukan” Bumi. Klaim Spier, “foto ini sukses menunjukkan kepada umat manusia betapa berbedanya Bumi dilihat dari lingkungan kosmiknya.” Tiba-tiba, manusia sadar bahwa tanah yang mereka injak, yang dibatas-batasi melalui negara atau kerajaan, sesungguhnya hanya “satu rumah bersama.” Bahwa kerusakan yang diakibatkan ulah manusia, misalnya melalui perang dan pencemaran lingkungan, sangat mungkin menghancurkan “satu rumah bersama” tersebut.

Di AS, pasca foto Earthrise menyebar, kebijakan-kebijakan yang pro Bumi lahir. Environmental Protection Agency dibentuk. Clean Air Act lolos sebagai undang-undang. Pelarangan zat-zat yang dapat merusak lingkungan diterbitkan. Tak ketinggalan, organisasi bernama Doctors Without Borders dibentuk.

“Dari mana frasa ‘tanpa batas’ itu lahir? Tanya Tyson. “Apakah sebelum foto itu muncul orang-orang mengira Bumi ini merupakan tempat tanpa batas? Tidak.”

Foto Earthrise pun menjadi sebab Hari Bumi dicetuskan.

Frank White, dalam The Overview Effect Space Exploration and Human Evolution,” menyebut bahwa selepas Earthrise masyarakat melihat adanya saling ketergantungan antara lingkungan Bumi dan kerugian bagi umat manusia jika melakukan tindakan yang membuat planet ini tidak dapat dihuni. Earthrise, singkat kata, merupakan sebuah momentum, simbol, untuk melakukan perubahan di Bumi. Slogan-slogan “we are one,” “no frame,” hingga “no boundaries” lahir.

Earthrise, foto yang dihasilkan NASA itu, akhirnya bukan hanya lahir sebagai piala kecil kemenangan AS melawan Soviet, tetapi menjadi piala kecil lahirnya kepedulian lingkungan di benak manusia. Neil Armstrong akhirnya setuju bahwa Apollo 8 merupakah “ruh,” bukan hanya bagi keseluruhan program antariksa, tetapi umat manusia.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



10 Juli 2021

Earthrise: Pergi ke Bulan, Bumi Ditemukan

Oleh: Ahmad Zaenudin


“Kenapa saya menginginkan berpidato di sini,” tanya Neil deGrasse Tyson, astro fisikawan, di hadapan wisudawan Rice University, Mei 2015 silam. “Saya pikir keinginan saya ini timbul atas sejarah panjang saya menjadi seorang pengikut serta penasehat NASA,” jelas Tyson. Bagi Tyson, Rice University punya sejarah penting dalam program antariksa Amerika Serikat. Tegasnya, “pidato terkenal dari Presiden John F. Kennedy, yang dihadiri 35.000 orang, yang berjudul ‘Kami Memilih Untuk Pergi ke Bulan,’ dilakukan di halaman kampus Rice.”

Ungkap Tyson, kehendak AS meluncur ke antariksa sesungguhnya tidak didasari atas dasar sains, demi ilmu pengetahuan, tetapi bermaksud mengalahkan komunis, Uni Soviet, dalam iklim Perang Dingin. AS tidak ingin dipermalukan Soviet. NASA contohnya, lahir setahun selepas Sputnik terbang. Dan perintah Kennedy agar warganya pergi ke Bulan didasari keberhasilan Soviet mengirimkan Yuri Gagarin ke Orbit. “(Menurut Kennedy), jika suksesnya Gagarin ke orbit berdampak pada pikiran setiap manusia di manapun, kita harus sesegera mungkin menunjukkan jalur lain pada dunia. Jalur demokrasi dibandingkan tirani,” kata Tyson.

Program Apollo akhirnya lahir.

Dalam program Apollo, tak bisa dipungkiri, Apollo 11 adalah yang paling melekat di benak setiap orang. Ini terjadi karena di edisi ke-11 itulah Neil Armstrong sukses menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan. Namun, bagi Tyson, Apollo 8-lah yang lebih “greget.” Tegasnya, “itulah misi pertama umat manusia untuk meninggalkan Bumi dan pergi ke suatu tempat di luar orbit. Ya, Apollo 8 pergi ke Bulan, tetapi mereka tidak mendarat di sana.”

Apollo 8 pergi meninggalkan Bumi pada Desember 1968. Dalam misi ini, Frank Borman, Jim Lovell, dan William Anders jadi astronaut yang ditugaskan untuk melakukan “gladi resik” sebelum Armstrong, dkk mendarat di Bulan tak sampai setahun kemudian. Meskipun astronaut-astronaut Apollo 8 tidak menjejakkan kakinya di Bulan, menurut Tyson, melalui mereka-lah perubahan paling berarti umat manusia sukses diciptakan. Tuturnya, “ketika Apollo 8 sukses mengorbit Bulan, mereka kemudian berkendara di sisi belakang Bulan. Salah satu astronaut siap siaga dengan kamera yang dibawa dari Bumi, dan ketika Bumi nampak, astronaut itu memotretnya. Memotret Bumi yang terbit di atas Bulan.”

Foto yang kemudian diberi nama “Earthrise” lahir.

“Misi yang sebetulnya dilakukan untuk menjelajah Bulan, kenyataannya untuk pertama kali manusia menemukan Bumi,” tegas Tyson.

Earthrise: Ketika Manusia Menemukan Bumi

Malam Natal tahun 1968, Sinterklas tidak muncul di Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Frank Borman, Jim Lovell, dan William Anders, astronaut Apollo 8, menyajikan keajaiban lain. Berlayang-layang di orbit Bulan, dan disiarkan secara langsung oleh CBS, NBC, ABC, dan berbagai stasiun TV di seluruh dunia (juga stasiun radio), astronaut itu membacakan 12 baris pertama Kitab Kejadian. Katanya, “Tuhan menciptakan surga dan dunia. Tuhan senang dengan ciptaannya itu.” Di Bumi, manusia senang dengan pertunjukan tersebut.

Apollo 8, sebagaimana dikisahkan Robert Zimmerman dalam bukunya “Genesis: The Story of Apollo 8: The First Manned Flight to Another World,” merupakan perjalanan pertama manusia keluar orbit Bumi. Sebelum Apollo 8, atau 27 misi antariksa sebelumnya baik oleh AS ataupun Soviet, capaian tertinggi manusia hanya sampai 1.600 kilometer di atas permukaan Bumi. Capaian Apollo 8 melebihi orbit Bumi dibantu oleh roket Saturn V, roket buatan Wernher von Braun--ilmuwan Nazi yang melipir ke AS.

Pada 21 Desember 1968 tepat pukul 6.51 pagi, Apollo 8 meluncur dari Bumi. Meluncur dari Cape Kennedy (yang kini berganti nama menjadi Cape Canaveral), Florida, AS. Roket terbang dengan kecepatan 35.452 kaki per detik. Jika dibandingkan dengan kecepatan pesawat komersial, Airbus atau Boeing misalnya, dengan kecepatan itu pesawat komersial dapat mencapai ketinggian jelajah (cruising altitude) hanya dalam waktu 1 detik. Sebagai misi pertama untuk menjelajah wilayah yang belum tersentuh manusia, ada kekhawatiran muncul. Christopher Kraft, Director of NASA Flight Operations, sebagaimana dikisahkan Zimmerman, “ragu” bahwa tiga anak buah yang dikirimnya itu dapat kembali ke Bumi dengan selamat. Namun, keraguan itu perlahan sirna, khususnya ketika di malam Natal tahun itu, Apollo 8 sampai di orbit Bulan.

Albert J. Derr dalam “Photography Equipment and Techniques: A Survey of NASA Developments” menyebut bahwa ketika National Aeronautics and Space Administration alias NASA lahir, orang-orang yang bertugas di sana langsung berpikir untuk mencatat dan merekam segala hasil kerja mereka. Hasil tersebut nantinya bisa dinikmati bukan hanya untuk generasi kini, tetapi juga generasi mendatang. Foto adalah jawaban terbaik sebagai alat yang merekam kerja NASA.

Kali pertama astronaut NASA menggenggam kamera adalah tatkala John Glenn mengorbit Bumi menggunakan wahana Mercury-Atlas 6 dalam misi Friendship 7 yang terbang pada 20 Oktober 1962. Kala itu, alih-alih menggunakan kamera khusus, Glenn hanya membawa kamera Ansco Autoset miliknya sendiri. Dalam misi Apollo 8, NASA membekali astronautnya dengan kamera Hasselblad 500 EL.

75 jam dan 59 menit berlalu semenjak Apollo 8 meluncur, tatkala wahana yang ditumpangi tiga astronaut itu sampai di sisi belakang orbit Bumi, keajaiban lahir.

“Ya Tuhan! Lihat itu! Lihatlah Bumi terbit,” kata Frank Borman. Sigap, menggunakan kamera yang dibekali NASA, William Anders memotret fenomena itu. Fenomena Bumi yang terbit di atas Bulan. Foto Earthrise lahir.

Televisi, surat kabar, dan majalah di seluruh dunia lantas menyebarkan foto itu.

Dalam paper berjudul “On The Social Impact of The Apollo 8 Earthrise Photo,” Fred Spier menyebut bahwa foto Bumi yang dipotret dari luar angkasa tidak tercipta pertama kali oleh Apollo 8, tetapi sudah dilakukan oleh Lunar Orbiter, yang mengangkasa pada Agustus 1966. Bahkan, sebulan sebelum Anders memotret Earthrise, Soviet sukses menghasilkan foto serupa melalui wahana Zond 6. Yang membedakan, dua foto Bumi dari angkasa sebelum Apollo 8 terpotret dalam bentuk hitam-putih. Menurut Spier, ini mengakibatkan “dampak sosial” yang jauh lebih kecil.

Kembali mengingat perkataan Tyson, melalui foto Earthrise, manusia akhirnya “menemukan” Bumi. Klaim Spier, “foto ini sukses menunjukkan kepada umat manusia betapa berbedanya Bumi dilihat dari lingkungan kosmiknya.” Tiba-tiba, manusia sadar bahwa tanah yang mereka injak, yang dibatas-batasi melalui negara atau kerajaan, sesungguhnya hanya “satu rumah bersama.” Bahwa kerusakan yang diakibatkan ulah manusia, misalnya melalui perang dan pencemaran lingkungan, sangat mungkin menghancurkan “satu rumah bersama” tersebut.

Di AS, pasca foto Earthrise menyebar, kebijakan-kebijakan yang pro Bumi lahir. Environmental Protection Agency dibentuk. Clean Air Act lolos sebagai undang-undang. Pelarangan zat-zat yang dapat merusak lingkungan diterbitkan. Tak ketinggalan, organisasi bernama Doctors Without Borders dibentuk.

“Dari mana frasa ‘tanpa batas’ itu lahir? Tanya Tyson. “Apakah sebelum foto itu muncul orang-orang mengira Bumi ini merupakan tempat tanpa batas? Tidak.”

Foto Earthrise pun menjadi sebab Hari Bumi dicetuskan.

Frank White, dalam The Overview Effect Space Exploration and Human Evolution,” menyebut bahwa selepas Earthrise masyarakat melihat adanya saling ketergantungan antara lingkungan Bumi dan kerugian bagi umat manusia jika melakukan tindakan yang membuat planet ini tidak dapat dihuni. Earthrise, singkat kata, merupakan sebuah momentum, simbol, untuk melakukan perubahan di Bumi. Slogan-slogan “we are one,” “no frame,” hingga “no boundaries” lahir.

Earthrise, foto yang dihasilkan NASA itu, akhirnya bukan hanya lahir sebagai piala kecil kemenangan AS melawan Soviet, tetapi menjadi piala kecil lahirnya kepedulian lingkungan di benak manusia. Neil Armstrong akhirnya setuju bahwa Apollo 8 merupakah “ruh,” bukan hanya bagi keseluruhan program antariksa, tetapi umat manusia.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play