12 Juli 2021

Didi Chuxing: Gojek ala Cina yang Dibungkam Negara

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada suatu malam di musim dingin 2014, usai dilanda badai salju tak berkesudahan seminggu sebelumnya dan Natal hanya tinggal hitungan hari, jalanan di kota Portland, Oregon, Amerika Serikat carut-marut macet tak karuan dipenuhi kendaraan yang bergegas sampai ke rumah masing-masing. Kala itu, di tengah situasi yang membuat orang-orang berpikir ulang untuk menggunakan jalan, beberapa petugas Portland Bureau of Transportation memesan taksi melalui Uber. Namun, bukannya rumah yang menjadi tujuan petugas-petugas itu pada Uber yang dipesan, tetapi--diperintah oleh Walikota Charlie Hales--mereka memesan taksi di aplikasi tersebut guna menangkapi sopir-sopir yang mengendarainya.

Uber, aplikasi ridesourcing (mobility service provider/ride-hailing/ride-sharing/taksi-ojek online) yang tengah naik daun popularitasnya, didirikan oleh Travis Kalanick pada 2009 karena ia percaya bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud, sebagaimana dipaparkan Mike Isaac dalam bukunya berjudul Super Pumped: The Battle for Uber (2019), adalah meningkatkan kehidupan masyarakat, yakni dengan membuat layanan yang lebih efisien. Bagi Kalanick, Uber adalah sebuah layanan berbasis teknologi yang mampu memberikan moda transportasi yang lebih efisien, yakni menghubungkan taksi pada penggunanya langsung dari titik keberangkatan menuju tujuan dengan tarif yang transparan, informasi pengendara dan rute yang jelas, dan mudah digunakan. Keunggulan-keunggulan yang mempecundangi transportasi publik ala negara, yang korup dan asal jalan itu.

Tentu, mengerti bahwa Uber memberikan layanan transportasi yang lebih baik, pemerintah sesungguhnya tak masalah dengan keberadaan aplikasi ini. Sayangnya, selain menghubungkan masyarakat dengan taksi-taksi yang telah meregistrasi diri ke pemerintah, Uber pun menghadirkan layanan bernama UberX. Suatu layanan yang memungkinkan siapapun, tak harus memiliki lisensi negara sebagai sopir taksi, menjadi pengendara Uber. Uber, singkat cerita, mempelopori sopir-sopir gelap (kendaraan plat hitam) untuk mengangkut penumpang terang-terangan.

Charlie Hales, yang didukung perusahaan taksi raksasa untuk merengkuh kursi walikota, tak terima dengan kenyataan itu. Di sisi lain, Kalanick, yang memperoleh perlakuan serupa di hampir setiap kota yang hendak dihadiri Uber, masa bodoh dengan penolakan sang Walikota. Untuk dapat melawan penolakan ini, di hari di mana Uber merilis layanannya di Portland, Kalanick mempersenjatai diri dengan Grayball. Suatu algoritma spesial yang diracik anak-anak muda Silicon Valley dengan dukungan mantan petugas CIA, NSA, dan FBI yang direkrut Uber guna memata-matai dan menandai secara digital orang-orang seperti Hales dan anak buahnya. Maka, tatkala petugas-petugas Portland Bureau of Transportation memesan Uber untuk menangkapi sopir-sopir Uber, aplikasi Uber yang ter-install di ponsel petugas-petugas itu tak merespon permintaan mereka.

Taksi-taksi Uber, entah dikemudikan pengemudi yang memiliki lisensi ataupun tidak, melenggang mulus di jalanan tanpa tersentuh Portland Bureau of Transportation. Uber, diotaki Kalanic, berhasil mendistrupsi transportasi Portland--juga Amerika Serikat. Keberhasilan yang mungkin menginspirasi Cheng Wei, mantan pegawai Alibaba, mendistrupsi dunia transportasi Cina melalui aplikasi buatannya, Didi Chuxing. Sayangnya, karena Cina berbeda dengan AS, Didi Chuxing justru dipecundangi negara.

Didi Chuxing: Penguasa Transportasi Cina yang Dihantam Negara

Terlahir dari rahim seorang guru matematika pada 1983 di Jiangxi, sebuah kota di Cina bagian timur yang terkenal sebagai tempat lahirnya revolusi komunis ala Mao Zedong, Cheng Wei menyukai hitung-hitungan sejak dini. Sayangnya, meskipun cerdas di bidang matematika sepanjang sekolah menengah, Cheng gagal masuk ke perguruan tinggi bergengsi Cina gara-gara lalai membalik kertas ujian hingga menyebabkan tiga soal terakhir dibiarkan kosong-melompong. Cheng, di tengah keputusasaannya tak dapat masuk universitas terbaik, memilih berlabuh pada University of Chemical Technology, menimba ilmu di bidang teknologi informasi, lalu membelot untuk belajar manajemen bisnis.

Kala itu, untuk memperdalam pengetahuannya soal bisnis sekaligus memperoleh uang, Cheng bekerja sebagai agen asuransi. Sayangnya, sebagaimana dipaparkan Brad Stone dalam "Uber Slayer: How China’s Didi Beat the Ride-Hailing Superpower" (Bloomberg Businessweek Oktober 2016), tak ada satu pun asuransi yang berhasil dijual Cheng. Maka, tatkala ia akhirnya lulus kuliah, Cheng memutuskan menjauhi dunia sales, melamar pada perusahaan kesehatan di Shanghai sebagai asisten manajer. Naas, usai hijrah dari Jiangxi ke Shanghai karena diterima di perusahaan kesehatan tersebut, kenyataan mengejutkannya. Perusahaan kesehatan itu bukanlah perusahaan bonafit, melainkan panti pijat sederhana. Dari keterkejutannya ini, yang ia anggap sebagai jebakan iklan, Cheng terpaksa melamar pada Alibaba, perusahaan yang tengah meraksasa dan sedang butuh-butuhnya tenaga sales.

Pada 2005, di usianya yang ke-22, Cheng adalah salesman Alibaba, bekerja menjual iklan pada merchant-merchant Alibaba yang membutuhkan.

Sempat gagal total menjual asuransi dan tertipu iklan, Cheng ternyata pandai menjual iklan bagi Alibaba. Perlahan, karirnya moncer hingga suatu saat ia menjadi anak buah Wang Gang, salah satu eksekutif Alibaba. Dan tak lama kemudian, karena Wang merasa karirnya telah usai di Alibaba, di suatu hari pada 2011, Wang mengumpulkan seluruh anak buahnya, termasuk Cheng, untuk bertukar pikiran tentang pembentukan startup. Salah satu anak buahnya, berpikir tentang pembentukan aplikasi pendidikan. Anak buah lainnya berpikir tentang ulasan restoran, dekorasi, dan bahkan percaya diri membentuk pesaing Alibaba. Cheng, di sisi lain, karena mengetahui ada sebuah startup di Inggris bernama Hailo (dan Hailo ini terinspirasi Uber) yang menjajakan taksi resmi pada masyarakan melalui aplikasi, memunculkan ide pembentukan aplikasi taksi online.

Tahun berlalu, pada 2012, dibantu dana senilai 800.000 yuan (sekitar Rp2 miliar) dari tabungan Wang sebagai eksekutif Alibaba, Cheng mendirikan Didi Dache, Hailo (atau Uber atau Gojek) ala Cina dan memilih Shenzhen, kota di mana pabrik iPhone berada, sebagai tempat pertama yang hendak ditaklukannya.

Memiliki modal awal yang cukup besar, Didi Dache agresif dalam mendulang penumpang dan pengemudi. Subsidi harga pada penumpang dan bonus pada pengemudi jadi ramuan yang diterapkan. Perlahan, ramuan ini menghasilkan kesuksesan, yakni pertumbuhan eksponensial, hingga membuat Apple, Alibaba, Booking, Softbank, dan Tencent kepincut dan berinvestasi besar-besaran. Didukung dengan dana melimpah, Didi mengokupasi pesaing lokalnya sesama taksi online, Kuaidi, dan melakukan branding ulang menjadi Didi Chuxing. Tak ketinggalan, dengan kekuatan Cina membentuk The Great Firewall of Cina yang membuat perusahaa-perusahaan asing sukar mendulang kesuksesan di negeri Tirai Bambu, operasional Cina milik Uber pun akhirnya dibeli Didi.

Didukung dengan reformasi transportasi publik Cina pada 2016 yang mengizinkan pembentukan bisnis taksi oleh masyarakat umum, Didi Chuxing akhirnya tak hanya menyajikan taksi berlisensi, tetapi juga taksi plat hitam dari masyarakat umum. Dan perlahan, Didi meraksasa, melayani 480 juta ride-hailing per 2017 dalam operasionalnya di 400 kota di Cina. Didi, yang memiliki 21 juta pengemudi dari kalangan masyarakat ini, akhirnya menjadi penguasa 94,6 persen pasar transportasi online di Cina.

Tentu, kesuksesan Didi tak hanya soal subsidi yang diberikan pada penggunanya, Julie Yujie Chen, peneliti pada The Centre for Chinese Media and Comparative Communication Research, Hong Kong dalam studi berjudul "Digital Utility: Datafication, Regulation, Labor, and Didi's Platformization of Urban Transport in China" (Chinese Journal of Communication 2019), menyebut bahwa salah satu kunci utama kesuksesan Didi adalah pemanfaatan data. Memanfaatkan aplikasi yang ter-install pada ponsel milik para pengemudi dan penumpangnya, Didi mendulang 106 terabyte data dari berbagai sensor yang terpasang di ponsel untuk menguatkan layanan. Melalui besarnya data yang dikumpulkan ini Didi berhasil menciptakan Didi Traffic dan Tides, suatu algoritma yang dapat memetakan lalu-lintas segala penjuru kota di Cina untuk menentukan ke mana para sopir Didi harus pergi dan memperoleh penumpang. Juga, melalui algoritma ini, penentuan besar-kecilnya tarif per kilometer ditentukan.

Singkat, Didi Traffic dan Tides menjadi senjata utama Didi Chuxing untuk menyeimbangkan permintaan-penawaran.

Sayangnya, besarnya data yang didulang Didi dari para pengemudi/pengguna tak hanya digunakan necara permintaan-penawaran, tetapi juga, seperti kisah Uber mempecundangi Portland Bureau of Transportation, melakukan aksi mata-mata pada pengguna/pengemudi. Di sisi pengemudi, misalnya, Didi dapat seketika memblokir akses pengemudinya gara-gara sensor yang terpasang pada ponsel mendeteksi adanya kecepatan yang terlalu berlebihan. Tak ketinggalan, melalui data yang mereka kumpulkan pula, pada 2015, Didi ketahuan mem-profiling pegawai-pegawai dari berbagai Kementerian di Cina. Menciptakan database tentang tingkah laku perjalanan pegawai-pegawai negeri itu.

Beruntung bagi Cheng, meskipun ketahuan melakukan aksi profiling pada pegawai negeri (dan masyarakat umum) startup-nya selamat dari hukuman. Sayangnya, keberuntungan tersebut tak berlaku selamanya. Musababnya, dua hari usai melakukan aksi korporasi penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada 30 Juni 2021 kemarin, pemerintahan Xi Jinping mengusir Didi dari pasar aplikasi, entah Google Play ataupun Apple App Store, dan melarang pengguna/pengemudi baru bergabung dengan alasan melanggar hukum proteksi data nasional.

Kecuali pemerintah Cina sendiri, tidak ada yang tahu pasti kelakuan Didi yang mana yang dianggap melanggar hukum proteksi data nasional yang dilanggar penguasa taksi online Cina ini hingga akhirnya diblokir oleh Beijing. Namun, sebagaimana dilaporkan Raymond Zong untuk The New York Times, IPO yang dilakukan Didi menjadi sebabnya. Pasalnya, IPO dan segala transaksi saham setelahnya yang dilakukan, dilakukan di New York, AS, bukan di Cina. Beijing khawatir apabila aksi membuka diri ke publik itu dilakukan di AS, data-data pengguna/pengemudi juga akan ditempatkan di sana, bukan di dalam negeri. Terlebih, dengan rekam jejek Didi yang pernah melakukan aksi mata-mata pada para pegawai negeri, bagi Cina, menempatkan data di luar adalah bencana.

Kemungkinan lain, seperti kisah Cina memblokir IPO Alipay (anak usaha Alibaba yang bergerak di bidang teknologi finansial), Beijing ingin menunjukan bahwa merekalah yang berkuasa, bukan raksasa-raksasa swasta.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



12 Juli 2021

Didi Chuxing: Gojek ala Cina yang Dibungkam Negara

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada suatu malam di musim dingin 2014, usai dilanda badai salju tak berkesudahan seminggu sebelumnya dan Natal hanya tinggal hitungan hari, jalanan di kota Portland, Oregon, Amerika Serikat carut-marut macet tak karuan dipenuhi kendaraan yang bergegas sampai ke rumah masing-masing. Kala itu, di tengah situasi yang membuat orang-orang berpikir ulang untuk menggunakan jalan, beberapa petugas Portland Bureau of Transportation memesan taksi melalui Uber. Namun, bukannya rumah yang menjadi tujuan petugas-petugas itu pada Uber yang dipesan, tetapi--diperintah oleh Walikota Charlie Hales--mereka memesan taksi di aplikasi tersebut guna menangkapi sopir-sopir yang mengendarainya.

Uber, aplikasi ridesourcing (mobility service provider/ride-hailing/ride-sharing/taksi-ojek online) yang tengah naik daun popularitasnya, didirikan oleh Travis Kalanick pada 2009 karena ia percaya bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud, sebagaimana dipaparkan Mike Isaac dalam bukunya berjudul Super Pumped: The Battle for Uber (2019), adalah meningkatkan kehidupan masyarakat, yakni dengan membuat layanan yang lebih efisien. Bagi Kalanick, Uber adalah sebuah layanan berbasis teknologi yang mampu memberikan moda transportasi yang lebih efisien, yakni menghubungkan taksi pada penggunanya langsung dari titik keberangkatan menuju tujuan dengan tarif yang transparan, informasi pengendara dan rute yang jelas, dan mudah digunakan. Keunggulan-keunggulan yang mempecundangi transportasi publik ala negara, yang korup dan asal jalan itu.

Tentu, mengerti bahwa Uber memberikan layanan transportasi yang lebih baik, pemerintah sesungguhnya tak masalah dengan keberadaan aplikasi ini. Sayangnya, selain menghubungkan masyarakat dengan taksi-taksi yang telah meregistrasi diri ke pemerintah, Uber pun menghadirkan layanan bernama UberX. Suatu layanan yang memungkinkan siapapun, tak harus memiliki lisensi negara sebagai sopir taksi, menjadi pengendara Uber. Uber, singkat cerita, mempelopori sopir-sopir gelap (kendaraan plat hitam) untuk mengangkut penumpang terang-terangan.

Charlie Hales, yang didukung perusahaan taksi raksasa untuk merengkuh kursi walikota, tak terima dengan kenyataan itu. Di sisi lain, Kalanick, yang memperoleh perlakuan serupa di hampir setiap kota yang hendak dihadiri Uber, masa bodoh dengan penolakan sang Walikota. Untuk dapat melawan penolakan ini, di hari di mana Uber merilis layanannya di Portland, Kalanick mempersenjatai diri dengan Grayball. Suatu algoritma spesial yang diracik anak-anak muda Silicon Valley dengan dukungan mantan petugas CIA, NSA, dan FBI yang direkrut Uber guna memata-matai dan menandai secara digital orang-orang seperti Hales dan anak buahnya. Maka, tatkala petugas-petugas Portland Bureau of Transportation memesan Uber untuk menangkapi sopir-sopir Uber, aplikasi Uber yang ter-install di ponsel petugas-petugas itu tak merespon permintaan mereka.

Taksi-taksi Uber, entah dikemudikan pengemudi yang memiliki lisensi ataupun tidak, melenggang mulus di jalanan tanpa tersentuh Portland Bureau of Transportation. Uber, diotaki Kalanic, berhasil mendistrupsi transportasi Portland--juga Amerika Serikat. Keberhasilan yang mungkin menginspirasi Cheng Wei, mantan pegawai Alibaba, mendistrupsi dunia transportasi Cina melalui aplikasi buatannya, Didi Chuxing. Sayangnya, karena Cina berbeda dengan AS, Didi Chuxing justru dipecundangi negara.

Didi Chuxing: Penguasa Transportasi Cina yang Dihantam Negara

Terlahir dari rahim seorang guru matematika pada 1983 di Jiangxi, sebuah kota di Cina bagian timur yang terkenal sebagai tempat lahirnya revolusi komunis ala Mao Zedong, Cheng Wei menyukai hitung-hitungan sejak dini. Sayangnya, meskipun cerdas di bidang matematika sepanjang sekolah menengah, Cheng gagal masuk ke perguruan tinggi bergengsi Cina gara-gara lalai membalik kertas ujian hingga menyebabkan tiga soal terakhir dibiarkan kosong-melompong. Cheng, di tengah keputusasaannya tak dapat masuk universitas terbaik, memilih berlabuh pada University of Chemical Technology, menimba ilmu di bidang teknologi informasi, lalu membelot untuk belajar manajemen bisnis.

Kala itu, untuk memperdalam pengetahuannya soal bisnis sekaligus memperoleh uang, Cheng bekerja sebagai agen asuransi. Sayangnya, sebagaimana dipaparkan Brad Stone dalam "Uber Slayer: How China’s Didi Beat the Ride-Hailing Superpower" (Bloomberg Businessweek Oktober 2016), tak ada satu pun asuransi yang berhasil dijual Cheng. Maka, tatkala ia akhirnya lulus kuliah, Cheng memutuskan menjauhi dunia sales, melamar pada perusahaan kesehatan di Shanghai sebagai asisten manajer. Naas, usai hijrah dari Jiangxi ke Shanghai karena diterima di perusahaan kesehatan tersebut, kenyataan mengejutkannya. Perusahaan kesehatan itu bukanlah perusahaan bonafit, melainkan panti pijat sederhana. Dari keterkejutannya ini, yang ia anggap sebagai jebakan iklan, Cheng terpaksa melamar pada Alibaba, perusahaan yang tengah meraksasa dan sedang butuh-butuhnya tenaga sales.

Pada 2005, di usianya yang ke-22, Cheng adalah salesman Alibaba, bekerja menjual iklan pada merchant-merchant Alibaba yang membutuhkan.

Sempat gagal total menjual asuransi dan tertipu iklan, Cheng ternyata pandai menjual iklan bagi Alibaba. Perlahan, karirnya moncer hingga suatu saat ia menjadi anak buah Wang Gang, salah satu eksekutif Alibaba. Dan tak lama kemudian, karena Wang merasa karirnya telah usai di Alibaba, di suatu hari pada 2011, Wang mengumpulkan seluruh anak buahnya, termasuk Cheng, untuk bertukar pikiran tentang pembentukan startup. Salah satu anak buahnya, berpikir tentang pembentukan aplikasi pendidikan. Anak buah lainnya berpikir tentang ulasan restoran, dekorasi, dan bahkan percaya diri membentuk pesaing Alibaba. Cheng, di sisi lain, karena mengetahui ada sebuah startup di Inggris bernama Hailo (dan Hailo ini terinspirasi Uber) yang menjajakan taksi resmi pada masyarakan melalui aplikasi, memunculkan ide pembentukan aplikasi taksi online.

Tahun berlalu, pada 2012, dibantu dana senilai 800.000 yuan (sekitar Rp2 miliar) dari tabungan Wang sebagai eksekutif Alibaba, Cheng mendirikan Didi Dache, Hailo (atau Uber atau Gojek) ala Cina dan memilih Shenzhen, kota di mana pabrik iPhone berada, sebagai tempat pertama yang hendak ditaklukannya.

Memiliki modal awal yang cukup besar, Didi Dache agresif dalam mendulang penumpang dan pengemudi. Subsidi harga pada penumpang dan bonus pada pengemudi jadi ramuan yang diterapkan. Perlahan, ramuan ini menghasilkan kesuksesan, yakni pertumbuhan eksponensial, hingga membuat Apple, Alibaba, Booking, Softbank, dan Tencent kepincut dan berinvestasi besar-besaran. Didukung dengan dana melimpah, Didi mengokupasi pesaing lokalnya sesama taksi online, Kuaidi, dan melakukan branding ulang menjadi Didi Chuxing. Tak ketinggalan, dengan kekuatan Cina membentuk The Great Firewall of Cina yang membuat perusahaa-perusahaan asing sukar mendulang kesuksesan di negeri Tirai Bambu, operasional Cina milik Uber pun akhirnya dibeli Didi.

Didukung dengan reformasi transportasi publik Cina pada 2016 yang mengizinkan pembentukan bisnis taksi oleh masyarakat umum, Didi Chuxing akhirnya tak hanya menyajikan taksi berlisensi, tetapi juga taksi plat hitam dari masyarakat umum. Dan perlahan, Didi meraksasa, melayani 480 juta ride-hailing per 2017 dalam operasionalnya di 400 kota di Cina. Didi, yang memiliki 21 juta pengemudi dari kalangan masyarakat ini, akhirnya menjadi penguasa 94,6 persen pasar transportasi online di Cina.

Tentu, kesuksesan Didi tak hanya soal subsidi yang diberikan pada penggunanya, Julie Yujie Chen, peneliti pada The Centre for Chinese Media and Comparative Communication Research, Hong Kong dalam studi berjudul "Digital Utility: Datafication, Regulation, Labor, and Didi's Platformization of Urban Transport in China" (Chinese Journal of Communication 2019), menyebut bahwa salah satu kunci utama kesuksesan Didi adalah pemanfaatan data. Memanfaatkan aplikasi yang ter-install pada ponsel milik para pengemudi dan penumpangnya, Didi mendulang 106 terabyte data dari berbagai sensor yang terpasang di ponsel untuk menguatkan layanan. Melalui besarnya data yang dikumpulkan ini Didi berhasil menciptakan Didi Traffic dan Tides, suatu algoritma yang dapat memetakan lalu-lintas segala penjuru kota di Cina untuk menentukan ke mana para sopir Didi harus pergi dan memperoleh penumpang. Juga, melalui algoritma ini, penentuan besar-kecilnya tarif per kilometer ditentukan.

Singkat, Didi Traffic dan Tides menjadi senjata utama Didi Chuxing untuk menyeimbangkan permintaan-penawaran.

Sayangnya, besarnya data yang didulang Didi dari para pengemudi/pengguna tak hanya digunakan necara permintaan-penawaran, tetapi juga, seperti kisah Uber mempecundangi Portland Bureau of Transportation, melakukan aksi mata-mata pada pengguna/pengemudi. Di sisi pengemudi, misalnya, Didi dapat seketika memblokir akses pengemudinya gara-gara sensor yang terpasang pada ponsel mendeteksi adanya kecepatan yang terlalu berlebihan. Tak ketinggalan, melalui data yang mereka kumpulkan pula, pada 2015, Didi ketahuan mem-profiling pegawai-pegawai dari berbagai Kementerian di Cina. Menciptakan database tentang tingkah laku perjalanan pegawai-pegawai negeri itu.

Beruntung bagi Cheng, meskipun ketahuan melakukan aksi profiling pada pegawai negeri (dan masyarakat umum) startup-nya selamat dari hukuman. Sayangnya, keberuntungan tersebut tak berlaku selamanya. Musababnya, dua hari usai melakukan aksi korporasi penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada 30 Juni 2021 kemarin, pemerintahan Xi Jinping mengusir Didi dari pasar aplikasi, entah Google Play ataupun Apple App Store, dan melarang pengguna/pengemudi baru bergabung dengan alasan melanggar hukum proteksi data nasional.

Kecuali pemerintah Cina sendiri, tidak ada yang tahu pasti kelakuan Didi yang mana yang dianggap melanggar hukum proteksi data nasional yang dilanggar penguasa taksi online Cina ini hingga akhirnya diblokir oleh Beijing. Namun, sebagaimana dilaporkan Raymond Zong untuk The New York Times, IPO yang dilakukan Didi menjadi sebabnya. Pasalnya, IPO dan segala transaksi saham setelahnya yang dilakukan, dilakukan di New York, AS, bukan di Cina. Beijing khawatir apabila aksi membuka diri ke publik itu dilakukan di AS, data-data pengguna/pengemudi juga akan ditempatkan di sana, bukan di dalam negeri. Terlebih, dengan rekam jejek Didi yang pernah melakukan aksi mata-mata pada para pegawai negeri, bagi Cina, menempatkan data di luar adalah bencana.

Kemungkinan lain, seperti kisah Cina memblokir IPO Alipay (anak usaha Alibaba yang bergerak di bidang teknologi finansial), Beijing ingin menunjukan bahwa merekalah yang berkuasa, bukan raksasa-raksasa swasta.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play