14 Juli 2021

Kindle (Mungkin) Gagal Mengalahkan Buku Fisik

Oleh: Ahmad Zaenudin


Di suatu hari pada 1997, dua orang teknisi sekaligus wiraswastawan bernama Martin Eberhard dan Marc Tarpenning duduk-duduk menikmati senja di sebuah kafe di Palo Alto, California, Amerika Serikat. Selain mencecap latte, dan terutama didukung oleh kebosanan bekerja di dunia harddisk dan PalmPilot baru saja merevolusi dunia mobile computing, duo sahabat ini berpikiran untuk hijrah ke area baru dalam dunia teknologi. Area baru itu, karena mereka berdua hobi membaca, adalah literasi digital.

Brad Stone, dalam bukunya berjudul The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon (2013), menyebut bahwa Eberhard dan Tarpenning kemudian mendirian NuvoMedia, startup yang mengembangkan perangkat khusus untuk membaca buku bernama Rocket e-Book atau Rocketbook. Perangkat ini, tulis Stone, "dimaksudkan untuk mendefinisikan ulang bagaimana komputer digunakan untuk membaca buku, proses yang sesungguhnya dicanangkan sejak Project Gutenberg mengemuka pada dekade 1970-an yang melalukan digitalisasi buku, tetapi tak kunjung sukses atas ketiadaan perangkat pendukung." Sayangnya, berpengalaman bertahun-tahun di dunia startup Silicon Valley, impian Eberhard dan Tarpenning membikin Rocketbook sangat mungkin tidak akan terlaksana karena "mendifinisikan ulang bagaimana komputer digunakan untuk membaca buku" perlu banyak biaya. Maka, untuk tidak membuat Rocketbook gagal, Eberhard dan Tarpenning bergerilya mencari pendanaan, terutama, tentu saja, pada Jeff Bezos.

Bezos, didekati Eberhard dan Tarpenning untuk ikut serta membiayai pengembangan Rocketbook, karena ia adalah pemilik Amazon.com, e-commerce yang naik daun namanya kala itu karena menjual buku (dan kemudian menjual segalanya). Sayangnya, meskipun Bezos "sangat terkesima melihat prototipe Rocketbook yang sanggup menampilkan buku berjudul Alice in Wonderland dan A tale of Two Cities dengan ciamik" menurut pengakuan Eberhard, sosok yang di kemudian hari menjadi salah satu orang terkaya di dunia ini enggan memberikan modal pada NuvoMedia karena ia tidak diberikan hak eksklusif untuk perangkat ini dan karenanya Bezos khawatir, dengan hanya memberikan modal selayaknya venture capital (VC), pesaing Amazon suatu saat akan ikut serta mencicipi Rocketbook.

David Richer, Senior Vice President of Amazon, yang ikut serta Bezos melihat prototipe Rocketbook, menyebut bahwa tanpa hak eksklusif, "kami bagai membuat jalan tol bagi pesaing mengakses pelanggan kami."

Kembali merujuk buku yang ditulis Stone, keengganan Bezos mendanai Rocketbook sebetulnya tak hanya soal hak eksklusif, tetapi Bezos meyadari terdapat kelemahan dalam diri Rocketbook. Dengan tidak menggunakan teknologi E-Ink yang dikembangkan oleh Massachusett Institute of Technology (MIT) dan memilih menggunakan LCD, Rocketbook terlalu silau untuk membaca buku. Lalu, dengan hanya mendukung penyalinan data menggunakan USB, Rocketbook terlalu ribet digunakan. Dan terakhir, meskipun Project Gutenberg telah mendigitalisasi buku, buku digital kala itu masih terlalu minim jumlahnya.

Benar saja, tatkala NuvoMedia akhirnya memperoleh pendanaan dari Barners & Noble serta Cisco dan merilis Rocketbook secara resmi pada 1999, Rocketbook gagal. Kegagalan yang akhirnya harus membuat Eberhard dan Tarpenning melego paten-paten yang dimilikinya seharga $187 juta pada Gemstar--perusahaan pembuat TV interaktif di California.

Tentu, meskipun enggan mendanai Rocketbook terkait tak diberikan hak eksklusif dan menganggap Rocketbook tidak sempurna dari sisi teknis, Bezos percaya bahwa masa depan buku, sebagaimana dituturkan Stone dalam bukunya yang lain, Amazon Unbound: Jeff Bezos and the Invention of a Global Empire (2021), "akan bertransformasi dalam bentuk digital dan bukan lagi cetak." Bezos menganggap, beralihnya buku dari cetak ke digital tidak terjadi hari ini, 1990-an, tetapi "lebih dari 10 tahun mendatang." Atau, pada kenyataannya, revolusi buku digital ala Amazon terjadi usai Apple sukses besar mendefinisikan ulang musik digital melalui iPod dan iTunes.

Diluncurkan pada 2001, sebagaimana ditulis Stephen Witt dalam bukunya How Music Got Free: A Story of Obsession and Invention (2015), Steve Jobs merilis iPod sebagai perangkat yang, salah satunya, dipercaya dapat membendung musik digital bajakan berformat MP3 yang kala itu menghancurkan industri musik, usai sembilan bulan sebelumnya merilis iTunes guna memudahkan masyarakat membeli musik. Awalnya, karena iTunes memungkinkan siapapun membeli musik secara ketengan--bukan dalam bentuk album--dan software ini hanya tersedia untuk Mac--atau tidak ada di Windows--iPod gagal di tahun pertamanya. Namun, perlahan, dengan munculnya iTunes di Windows, sumbangsih musik ketengan dari iTunes sanggup memberikan penghasilan berarti bagi industri musik, yang pada akhirnya, industri musik mendukung Jobs merevolusi musik digital melalui iPod. iPod (plus iTunes), akhirnya sukses besar, menggerogoti penjualan musik fisik dalam bentuk CD ataupun kaset.

Sebagai ritel yang juga menjual CD dan kaset musik, Amazon goyah gara-gara iPod. Terlebih, proposal kerjasama yang ditawarkan Bezos pada Apple yang meminta Jobs mengizinkan Amazon menjual musik digital untuk iPod ditolak mentah-mentah. John Doerr, salah satu petinggi Amazon, kembali merujuk buku yang ditulis Stone, mengaku bahwa ia dan seluruh punggawa Amazon, "takut tentang apa yang dilakukan iPod pada bisnis musik Amazon menjalar ke lini bisnis lainnya, terutama unit bisnis inti Amazon, buku."

Karena takut Apple masuk ke ranah buku digital, pada 2004 Amazon mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di Silicon Valley bernama Lab126, di mana 126 merujuk pada "1" alias "a" dan "26" alias "z" atau Lab A-to-Z alias Lab Amazon. Melalui Lab126 ini, Bezos memerintahkan penciptaan perangkat untuk membaca buku digital. Titah yang sebetulnya akan membuat bisnis penjualan buku cetak Amazon hancur lebuh. Namun, karena Bezos adalah pembaca buku berjudul The Innovator's Dilemma (1997) yang ditulis profesor Harvard University bernama Clayton Christensen, Bezos sadar bahwa untuk memenangkan bisnis buku digital, ia memang wajib menghancurkan bisnis buku fisik. Akhirnya, dibantu firma desain asal San Francisco bernama Pentagram, Lab126 merilis "Fiona" alias Kindle pada 2007. Suatu perangkat pembaca buku digital yang menggunakan layar E-Ink, plus terhubung secara simultan melalui WiFi ke katalog buku digital di server Amazon.

Versi awal Kindle, mengutip laporan Gizmodo, habis dalam hitungan jam. Dan selama berbulan-bulan, stok Kindle selalu habis. Lalu, merujuk data dari Statista, pada 2011, Kindle berhasil menguasai pangsa pasar dengan 73,7 persen, dan diprediksi terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Kindle laku keras, terutama karena Bazos berhasil membuat 90 persen buku yang termuat dalam New York Times Bestseller tersedia dalam bentuk digital.

Sayangnya, meskipun berhasil merevolusi bagaimana orang-orang membaca buku, meroketnya Kindle tertahan oleh strategi Jobs merayu para penerbit buku untuk tidak menjual murah buku format digital mereka, terutama karena sejak 2010 Apple memiliki alternatif lain, iPad. Namun, sebagaimana ditulis Anne-Mette Bech Albrechtslund dalam studinya berjudul "Amazon, Kindle, and Goodreads: Implication for Literary Consumption in the Digital Age" (Consumption Markets & Culture 2019), tertahannya laju Kindle terjadi karena melalui perangkat ini, dan kemudian didukung dengan aksi Amazon membeli Goodreads pada 2013, Amazon tidak hanya mendefinisikan ulang apa itu buku digital, tetapi mengubah makna membaca. Secara tradisional, tulis Albrechtslund, "membaca merupakan aktivitas intim dan menyendiri, sebuah cara bagi seseorang untuk sejenak tidak terikat dengan ikatan sosial dan berimajinasi." Kindle, bagi Albrechtslund, menghancurkan makna tradisional membaca buku ini karena melalui perangkat ini, Amazon merasuk ke aktivitas intim seseorang. Dan dengan kekuatan data+server yang dimiliki, aktivitas intim ini menjadi bisnis untuk Amazon. Serta, melalui Goodreads, Amazon memaksa pembaca buku digital untuk menyebarkan aktivitasnya ke dunia maya.

Terakhir, tertahannya laju Kindle terjadi karena melalui perangkat ini, aspek "kebendaan" yang bisa disentuk, dipinjamkan, diperjual-belikan, hingga diwariskan dalam diri buku hilang. Hilang karena, merujuk studi berjudul "The Abuse of Literacy: Amazon Kindle and Right to Read" (Communication and Critical/Culture Studies 2010) yang ditulis Ted Striphas, Kindle merupakan "tethered appliances," yakni perangkat yang mewajibkan pengguna/pemiliknya untuk selalu menjalin hubungan yang langgeng dengan perusahaan, yang terjadi karena Kindle merupakan perangkat milik Amazon dan Amazon yang dapat menjualnya (secara resmi) serta buku-buku yang ada di Kindle terhubung dengan server Amazon.

Tatkala suatu saat Amazon bangkrut atau seorang penggunanya tidak mengingat kredensial (password) Amazon, buku-buku yang ada di Kindle hilang selamanya.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



14 Juli 2021

Kindle (Mungkin) Gagal Mengalahkan Buku Fisik

Oleh: Ahmad Zaenudin


Di suatu hari pada 1997, dua orang teknisi sekaligus wiraswastawan bernama Martin Eberhard dan Marc Tarpenning duduk-duduk menikmati senja di sebuah kafe di Palo Alto, California, Amerika Serikat. Selain mencecap latte, dan terutama didukung oleh kebosanan bekerja di dunia harddisk dan PalmPilot baru saja merevolusi dunia mobile computing, duo sahabat ini berpikiran untuk hijrah ke area baru dalam dunia teknologi. Area baru itu, karena mereka berdua hobi membaca, adalah literasi digital.

Brad Stone, dalam bukunya berjudul The Everything Store: Jeff Bezos and the Age of Amazon (2013), menyebut bahwa Eberhard dan Tarpenning kemudian mendirian NuvoMedia, startup yang mengembangkan perangkat khusus untuk membaca buku bernama Rocket e-Book atau Rocketbook. Perangkat ini, tulis Stone, "dimaksudkan untuk mendefinisikan ulang bagaimana komputer digunakan untuk membaca buku, proses yang sesungguhnya dicanangkan sejak Project Gutenberg mengemuka pada dekade 1970-an yang melalukan digitalisasi buku, tetapi tak kunjung sukses atas ketiadaan perangkat pendukung." Sayangnya, berpengalaman bertahun-tahun di dunia startup Silicon Valley, impian Eberhard dan Tarpenning membikin Rocketbook sangat mungkin tidak akan terlaksana karena "mendifinisikan ulang bagaimana komputer digunakan untuk membaca buku" perlu banyak biaya. Maka, untuk tidak membuat Rocketbook gagal, Eberhard dan Tarpenning bergerilya mencari pendanaan, terutama, tentu saja, pada Jeff Bezos.

Bezos, didekati Eberhard dan Tarpenning untuk ikut serta membiayai pengembangan Rocketbook, karena ia adalah pemilik Amazon.com, e-commerce yang naik daun namanya kala itu karena menjual buku (dan kemudian menjual segalanya). Sayangnya, meskipun Bezos "sangat terkesima melihat prototipe Rocketbook yang sanggup menampilkan buku berjudul Alice in Wonderland dan A tale of Two Cities dengan ciamik" menurut pengakuan Eberhard, sosok yang di kemudian hari menjadi salah satu orang terkaya di dunia ini enggan memberikan modal pada NuvoMedia karena ia tidak diberikan hak eksklusif untuk perangkat ini dan karenanya Bezos khawatir, dengan hanya memberikan modal selayaknya venture capital (VC), pesaing Amazon suatu saat akan ikut serta mencicipi Rocketbook.

David Richer, Senior Vice President of Amazon, yang ikut serta Bezos melihat prototipe Rocketbook, menyebut bahwa tanpa hak eksklusif, "kami bagai membuat jalan tol bagi pesaing mengakses pelanggan kami."

Kembali merujuk buku yang ditulis Stone, keengganan Bezos mendanai Rocketbook sebetulnya tak hanya soal hak eksklusif, tetapi Bezos meyadari terdapat kelemahan dalam diri Rocketbook. Dengan tidak menggunakan teknologi E-Ink yang dikembangkan oleh Massachusett Institute of Technology (MIT) dan memilih menggunakan LCD, Rocketbook terlalu silau untuk membaca buku. Lalu, dengan hanya mendukung penyalinan data menggunakan USB, Rocketbook terlalu ribet digunakan. Dan terakhir, meskipun Project Gutenberg telah mendigitalisasi buku, buku digital kala itu masih terlalu minim jumlahnya.

Benar saja, tatkala NuvoMedia akhirnya memperoleh pendanaan dari Barners & Noble serta Cisco dan merilis Rocketbook secara resmi pada 1999, Rocketbook gagal. Kegagalan yang akhirnya harus membuat Eberhard dan Tarpenning melego paten-paten yang dimilikinya seharga $187 juta pada Gemstar--perusahaan pembuat TV interaktif di California.

Tentu, meskipun enggan mendanai Rocketbook terkait tak diberikan hak eksklusif dan menganggap Rocketbook tidak sempurna dari sisi teknis, Bezos percaya bahwa masa depan buku, sebagaimana dituturkan Stone dalam bukunya yang lain, Amazon Unbound: Jeff Bezos and the Invention of a Global Empire (2021), "akan bertransformasi dalam bentuk digital dan bukan lagi cetak." Bezos menganggap, beralihnya buku dari cetak ke digital tidak terjadi hari ini, 1990-an, tetapi "lebih dari 10 tahun mendatang." Atau, pada kenyataannya, revolusi buku digital ala Amazon terjadi usai Apple sukses besar mendefinisikan ulang musik digital melalui iPod dan iTunes.

Diluncurkan pada 2001, sebagaimana ditulis Stephen Witt dalam bukunya How Music Got Free: A Story of Obsession and Invention (2015), Steve Jobs merilis iPod sebagai perangkat yang, salah satunya, dipercaya dapat membendung musik digital bajakan berformat MP3 yang kala itu menghancurkan industri musik, usai sembilan bulan sebelumnya merilis iTunes guna memudahkan masyarakat membeli musik. Awalnya, karena iTunes memungkinkan siapapun membeli musik secara ketengan--bukan dalam bentuk album--dan software ini hanya tersedia untuk Mac--atau tidak ada di Windows--iPod gagal di tahun pertamanya. Namun, perlahan, dengan munculnya iTunes di Windows, sumbangsih musik ketengan dari iTunes sanggup memberikan penghasilan berarti bagi industri musik, yang pada akhirnya, industri musik mendukung Jobs merevolusi musik digital melalui iPod. iPod (plus iTunes), akhirnya sukses besar, menggerogoti penjualan musik fisik dalam bentuk CD ataupun kaset.

Sebagai ritel yang juga menjual CD dan kaset musik, Amazon goyah gara-gara iPod. Terlebih, proposal kerjasama yang ditawarkan Bezos pada Apple yang meminta Jobs mengizinkan Amazon menjual musik digital untuk iPod ditolak mentah-mentah. John Doerr, salah satu petinggi Amazon, kembali merujuk buku yang ditulis Stone, mengaku bahwa ia dan seluruh punggawa Amazon, "takut tentang apa yang dilakukan iPod pada bisnis musik Amazon menjalar ke lini bisnis lainnya, terutama unit bisnis inti Amazon, buku."

Karena takut Apple masuk ke ranah buku digital, pada 2004 Amazon mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di Silicon Valley bernama Lab126, di mana 126 merujuk pada "1" alias "a" dan "26" alias "z" atau Lab A-to-Z alias Lab Amazon. Melalui Lab126 ini, Bezos memerintahkan penciptaan perangkat untuk membaca buku digital. Titah yang sebetulnya akan membuat bisnis penjualan buku cetak Amazon hancur lebuh. Namun, karena Bezos adalah pembaca buku berjudul The Innovator's Dilemma (1997) yang ditulis profesor Harvard University bernama Clayton Christensen, Bezos sadar bahwa untuk memenangkan bisnis buku digital, ia memang wajib menghancurkan bisnis buku fisik. Akhirnya, dibantu firma desain asal San Francisco bernama Pentagram, Lab126 merilis "Fiona" alias Kindle pada 2007. Suatu perangkat pembaca buku digital yang menggunakan layar E-Ink, plus terhubung secara simultan melalui WiFi ke katalog buku digital di server Amazon.

Versi awal Kindle, mengutip laporan Gizmodo, habis dalam hitungan jam. Dan selama berbulan-bulan, stok Kindle selalu habis. Lalu, merujuk data dari Statista, pada 2011, Kindle berhasil menguasai pangsa pasar dengan 73,7 persen, dan diprediksi terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Kindle laku keras, terutama karena Bazos berhasil membuat 90 persen buku yang termuat dalam New York Times Bestseller tersedia dalam bentuk digital.

Sayangnya, meskipun berhasil merevolusi bagaimana orang-orang membaca buku, meroketnya Kindle tertahan oleh strategi Jobs merayu para penerbit buku untuk tidak menjual murah buku format digital mereka, terutama karena sejak 2010 Apple memiliki alternatif lain, iPad. Namun, sebagaimana ditulis Anne-Mette Bech Albrechtslund dalam studinya berjudul "Amazon, Kindle, and Goodreads: Implication for Literary Consumption in the Digital Age" (Consumption Markets & Culture 2019), tertahannya laju Kindle terjadi karena melalui perangkat ini, dan kemudian didukung dengan aksi Amazon membeli Goodreads pada 2013, Amazon tidak hanya mendefinisikan ulang apa itu buku digital, tetapi mengubah makna membaca. Secara tradisional, tulis Albrechtslund, "membaca merupakan aktivitas intim dan menyendiri, sebuah cara bagi seseorang untuk sejenak tidak terikat dengan ikatan sosial dan berimajinasi." Kindle, bagi Albrechtslund, menghancurkan makna tradisional membaca buku ini karena melalui perangkat ini, Amazon merasuk ke aktivitas intim seseorang. Dan dengan kekuatan data+server yang dimiliki, aktivitas intim ini menjadi bisnis untuk Amazon. Serta, melalui Goodreads, Amazon memaksa pembaca buku digital untuk menyebarkan aktivitasnya ke dunia maya.

Terakhir, tertahannya laju Kindle terjadi karena melalui perangkat ini, aspek "kebendaan" yang bisa disentuk, dipinjamkan, diperjual-belikan, hingga diwariskan dalam diri buku hilang. Hilang karena, merujuk studi berjudul "The Abuse of Literacy: Amazon Kindle and Right to Read" (Communication and Critical/Culture Studies 2010) yang ditulis Ted Striphas, Kindle merupakan "tethered appliances," yakni perangkat yang mewajibkan pengguna/pemiliknya untuk selalu menjalin hubungan yang langgeng dengan perusahaan, yang terjadi karena Kindle merupakan perangkat milik Amazon dan Amazon yang dapat menjualnya (secara resmi) serta buku-buku yang ada di Kindle terhubung dengan server Amazon.

Tatkala suatu saat Amazon bangkrut atau seorang penggunanya tidak mengingat kredensial (password) Amazon, buku-buku yang ada di Kindle hilang selamanya.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play