24 Juli 2021

Penjelajahan Angkasa: Diawali Mengalahkan Komunis, Diakhiri Napsu Triliuner

Oleh: Ahmad Zaenudin


Terlahir pada 23 Maret 1912 dari pasangan Menteri Pertanian Republik Weimar (dari sisi ayahnya) dan keturunan Raja Philip III serta Raja Edward III (dari sisi ibunya), Wernher von Braun jatuh hati pada dunia roket sejak belia. Kala itu, di saat usianya baru 12 tahun, von Braun melakukan eksperimen dengan membuat roket kecil-kecilan dari serbuk mesiu untuk kemudian ia pasangkan pada gokar. Membuat mobil mainan tersebut melaju selayaknya mobil sungguhan yang pada akhirnya menghancurkan pekarangan rumah-rumah tetangganya karena, mengutip pepatah agung di dunia roket, "it's rocket science"--roket memang sukar dikendalikan.

Berstatus sosial tinggi, ayahnya, Magnus von Braun, tak terima dengan perilaku anaknya yang merusak itu. Maka ia pun menghentikan eksperimen tersebut dan, karena mengetahui anaknya sangat tertarik dengan sains, membelikan teleskop sebagai penggantinya. Namun, sial bagi sang ayah. Karena akhirnya sang anak terus-terusan menatap langit melalui teleskop pemberiannya, muncul hasrat dalam diri von Braun kecil untuk menjelajah luar angkasa menggunakan roket seperti kisah Star Wars ataupun Star Trek (meskipun dua fiksi ini belum ada ketika von Braun belia). Terlebih, melalui buku berjudul "Die Rakete zu den Planetenraumen (The Rocket into Planetary Space)" karangan profesor matematika asal Transilvania bernama Herman Obert yang dibacanya, von Braun sadar bahwa roket memang sangat mungkin digunakan untuk menggapai langit karena, merujuk Hukum Gerak Ketiga (Third Law of Motion) Isaac Newton, roket dapat membebaskan manusia dari gravitasi andai gaya yang dimilikinya lebih tinggi dan diarahkan berlawanan dari gravitasi. Masalahnya, tentu saja, saat itu tidak ada roket yang cukup kuat membawa manusia ke langit.

Von Braun, di kala teman-teman sebayanya sibuk bermain kelereng atau layangan, kemudian bertekad menciptakan roket yang dapat membawa manusia ke langit, ke luar angkasa. Tekad yang ia terjemahkan dengan bergabung menjadi anggota Society for Space Travel--perkumpulan peminat roket di kalangan sipil--sambil belajar tentang seluk beluk roket di University of Berlin di kala usianya belum menginjak 20 tahun. Dan dari dua tempat ini, menginjak usia 20-an, von Braun akhirnya sukses menciptakan Mirak alias Minimum Rocket. Naas, bukannya terbang menuju angkasa, roket buatannya itu meledak tak karuan ketika tombol "go" ia tekan.

Namun, beruntunglah von Braun. Di saat angan-angannya menjelajah luar angkasa melalui Mirak kandas tak berbekas, Walter Dornberger, salah satu petinggi militer Jerman yang mengepalai divisi penelitian penciptaan roket, kesemsem dengan tekad yang ditunjukkannya. Melalui kuasa yang dimiliki, Dornberger mengajak von Braun bergabung untuk membuat roket bersamanya di militer, tetapi bukan untuk menjelajah bulan atau Mars, melainkan untuk digunakan membawa hulu ledak ke wilayah musuh. Bagi von Braun, meskipun bertujuan menciptakan roket sebagai senjata, bergabung dengan divisi roket militer merupakan kesempatan untuk menggapai angan-angan menuju langit. Maka, tepat pada 1932, von Braun menuruti kehendak Dornberger dan setahun kemudian, berbarengan dengan berkuasanya Hitler, ia merilis roket A-1.

Naas, seperti Mirak, A-1 meledak tak karuan usai tombol "go" ditekan. Namun, belajar dari dua kesalahan, tiga tahun berselang von Braun berhasil membuat roket A-2. Roket yang tak meledak dan dapat terbang sejauh 2 kilometer. Dan tak berselang lama, daya jelajah yang sangat minim dari A-2 ia lipat-gandakan melalui A-3. Lalu, ketika roket A-4 alias V2 berhasil dibuatnya pada akhir 1944, Nazi Jerman memiliki kemampuan "melempar" 1 ton hulu ledak sejauh 257 kilometer ke area musuh. Pencapaian yang, selain membuat Jerman ditakuti sekutu, dianggap mendekatkan cita-cita menjelajah angkasa bagi von Braun.

Kesuksesan V2 tersebut membuat Hitler jatuh cinta pada von Braun. Bagi Hitler, sebagaimana dipaparkan Deborah Cadbury dalam bukunya berjudul Space Race: The Epic Battle Between America and the Soviet Union for Dominion of Space (2007), roket tersebut dapat merealisasikan keinginannya menguasai Eropa, menguasai dunia. Dan keinginan itu, pikir Hitler, akan lebih mudah tercapai andai V2 tidak hanya dapat membawa 1 ton hulu ledak, tetapi 10 ton. Suatu angan-angan yang bertransformasi menjadi titah bagi von Braun, yakni memodifikasi V2.

Sayangnya, dalam proses pengembangan V2 untuk dapat membawa hulu ledak seberat 10 ton sejak akhir 1944, Nazi Jerman terdesak oleh pasukan Sekutu di Barat dan Uni Soviet di Timur. Dan keterdesakan itu kian menjadi-jadi manakala, semenjak pertengahan musim dingin 1945, Sekutu dan Soviet berhasil merengsek ke jantung pertahanan Jerman, merengsek ke Peenemunde--lokasi di mana von Braun bekerja membuat roket bagi Jerman. Dari keterdesakan Jerman ini serta kesadaran bahwa Hitler akan kalah, von Braun menyerah. Bukan menyerah dalam mengembangkan V2, tetapi menyerah pada Amerika Serikat. Suatu keputusan yang akhirnya, dibantu oleh Mayor Robert Staver dari militer AS, melabuhkan von Braun beserta anak buahnya dan segala riset tentang roket ke tanah Amerika. Keputusan yang, berselang 24 tahun kemudian, merealisasikan mimpi von Braun menjelajah luar angkasa melalui roket buatannya.

Saat itu, pada 20 Juli 1969, Saturn V, roket yang dibuat von Braun yang sebetulnya dirancang untuk sampai ke Mars, berhasil mendaratkan Neil Amstrong dan Buzz Aldrin di bulan. Suatu pencapaian yang bertujuan, menurut Presiden J. F. Kennedy jauh-jauh hari sebelum AS berhasil mendarat di bulan, "andai kesuksesan Gagarin mengorbit bumi berdampak pada pikiran setiap manusia di manapun berada, (menginjakkan kaki di bulan) adalah cara bagi kita untuk menunjukkan bahwa ada jalur lain di dunia ini, yakni demokrasi alih-alih tirani" alias menampar muka Uni Soviet. Suatu tujuan yang sangat miris karena, pertama, sebelum Mayor Stover berhasil membawa von Braun ke AS, Kremlin memerintahkan pasukannya untuk menangkap dan membawa von Braun ke Uni Soviet. Kedua, karena hanya bermaksud mengalahkan Soviet, penjelajahan angkasa benar-benar terhenti pada 1972 dan sejak itu AS hanya berkutat di sekitaran orbit bumi (terkait misi pengiriman manusia).

Dengan kenyataan ini, meskipun roket buatannya berhasil membawa manusia hingga ke bulan, penjelajahan luar angkasa ala Star Wars atau Star Trek yang diinginkan von Braun tak tercapai. Hingga, tentu saja, Elon Musk, Jeff Bezos, dan Richard Branson berhasil memantik bahwa harapan itu mungkin tercapai.

The Billionaire's Rocket

Berjudi ribuan dolar saban minggu di kasino-kasino yang bertebaran di Las Vegas, Amerika Serikat menjadi kebiasaan buruk yang terpatri dalam diri Andy Beal, pengusaha yang kaya raya berkat usahanya di bidang real estate. Namun, meskipun terlihat buruk, sebagaimana dipaparkan Christian Davenport dalam bukunya berjudul The Space Barons: Elon Musk, Jeff Bezos, and the Quest to Colonize the Cosmos (2018), kebiasaan menghabiskan uang di meja judi tersebut dilakukan Beal demi terhindar dari stres atas perjudian terbesar dalam hidupnya: roket.

Terlahir pada 29 November 1952 di Michigan dari pasangan pegawai negeri sipil (dari sisi ibunya) dan teknisi mesin (dari sisi ayahnya), Beal gemar hitung-hitungan. Secara praktis, kecintaan pada hitung-hitungan diterjemahkan Beal dengan berbisnis sejak kecil, terutama dengan membeli benda-benda elektronik bekas nan rusak untuk diperbaiki dan dijual kembali. Perlahan, dari jual-beli barang bekas tersebut, menginjak usia ke-19, Beal berhasil membeli rumah untuk dikontrakan. Menggiringnya untuk berbisnis properti hingga menjadi triliuner real estate. Di sisi lain, kecintaannya pada hitung-hitungan ia terjemahkan dengan menempa diri memahami matematika, bukan dari bangku kuliahan di Michigan University yang ditinggalkannya, tetapi dari teman-temannya di American Mathematical Society. Kecintaan yang akhirnya menggiring Beal menciptakan "Beal Conjecture," suatu tebak-tebakan matematis turunan dari Fermat's Last Theorem (Teorema Terakhir Fermat) yang ia hadiahi $1 juta bagi siapapun yang berhasil memecahkan tebak-tebakan ini. Dan kecintaannya ini, menggiring pula pendirian Beal Aerospace, perusahaan milik Beal yang bergerak di bidang penciptaan roket, pada 1997.

Tentu, sebagai pengusaha yang gemar hitung-hitungan, niat Beal menciptakan roket tak memiliki akar yang serupa dengan Wernher von Braun. Ini terjadi karena, semenjak dekade 1990-an, Beal tersadar bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) sudah kehilangan napsu melakukan penjelajahan antariksa dengan tidak ditemukannya program-program penjelajahan manusia ke bulan atau planet lain. Namun, di sisi lain, NASA menggelontorkan ratusan juta dolar untuk mengembangkan roket. Dan ironisnya, uang tersebut hanya berlabuh ke dua perusahaan, Lockheed Martin dan Boeing. Dan lebih ironis lagi, tidak ada roket serupa Saturn V yang dihasilkan Boeing ataupun Lockheed Martin.

Bagi Beal, hilangnya napsu NASA menjelajah angkasa yang diberengi dengan gelontoran ratusan juta dolar ke Lockheed Martin dan Boeing memiliki satu kesimpulan: NASA bisa "diporoti" untuk menghasilkan uang. Maka, atas kesadarannya ini, Beal memberanikan diri mengembangkan roket. Dan untuk membuat perusahaannya memperoleh cuan dari NASA, ia bertekad membuat roket yang jauh lebih canggih, tetapi lebih murah.

Bertempat di lahan bekas ujicoba altileri militer AS di Texas, semenjak akhir 1990-an dan dibantu mantan teknisi Lockheed Martin dan Boeing yang dibajak, Beal melakukan serangkaian penelitian serta ujicoba roket buatannya. Dan menginjak 2000, roket yang dibuat Beal memperlihatkan titik cerah, sukses mengangkasa. Naas, keberhasilan roket buatannya ini tak diberangi dengan titik cerah pundi-pundi uang dari NASA. Musababnya, NASA memang tidak pernah memiliki niatan memberikan kontrak pembuatan roket ke perusahaan selain Lockheed Martin dan Boeing kala itu. Suatu keputusan yang akhirnya digugat Beal ke Kongres AS dengan menyebut bahwa, "tolong, jangan buang-buang uang ke perusahaan-perusahaan itu. Dengan memberikan kontrak ke Lockheed Martin dan Boeing, NASA mungkin berhasil menciptakan lapangan kerja, tetapi NASA tidak akan pernah memiliki roket bertenaga nan murah."

Dari gugatan tersebut, Paman Sam akhirnya tersadar telah membuat kesalahan. Maka, tak berselang lama dari gugatan yang dilayangkan Beal, NASA merilis "Space Launch Initiative," suatu program untuk memberikan kesempatan bagi perusahaan manapun memperoleh kontrak dari NASA. Sialnya, di saat program dari NASA itu keluar, Beal telah kehilangan duit ratusan juta dolar atas napsunya mengembangkan roket dan memilih menutup rapat perusahaannya pada Oktober 2000.

Yang menarik, dari sekitaran lahan di Texas yang ditinggalkan Beal, Elon Musk, Jeff Bezos, dan Richard Branson mengemuka, melanjutkan kehendak Beal membuat roket yang bertenaga nan murah meriah itu.

Kaya raya usai menjual Zip2 kepada Compaq dan Paypal kepada eBay, entah film apa yang ditonton Musk, Musk ketakutan seandainya bumi dihantam asteroid ataupun terbakar radiasi matahari yang membuat umat manusia punah dimakan bencana seperti yang pernah menimpa dinosaurus. Dari ketakutannya ini, sebagaimana dipaparkan Eric Berger dalam bukunya berjudul Liftoff: Elon Musk and the Desperate Early Days that Launched SpaceX (2021), di suatu hari pada awal 2002, terbersit "The Solution" dalam benak Musk, yakni pergi meninggalkan bumi menggunakan roket dan bertransformasi menjadi makhluk ekstraterestrial (multi planet). Awalnya, Musk menganggap "The Solution" hanya sebatas candaannya semata dan andaipun ia membuat roket yang dapat mengangkasa ke planet lain, Musk membutuhkan biaya yang teramat besar. Tak cukup dibantu kocek pribadinya. Namun, didukung temannya bernama Adeo Ressi yang meyakinkannya bahwa pembuatan roket menuju planet lain tak akan menghabiskan uang terlalu besar, candaan ini berubah menjadi tindakan nyata.

Di sisi lain, tidak hanya Musk yang ketakutan manusia punah dihantam asteroid ataupun radiasi matahari. Jeff Bezos, yang kaya raya karena Amazon, pun memikirkannya. Namun, ketakutan Bezos akan punahnya manusia karena asteroid/radiasi tak semenakutkan kekhawatirannya pada NASA, lembaga yang diklaimnya, "satu-satunya yang mungkin berhasil menginspirasi jutaan orang di dunia." Kembali merujuk apa yang ditulis Christian Davenport, usai berhasil dengan program Apollo, bagi Bezos, NASA seperti kehilangan bahan bakar. Ini, menurut Bezos, sangat mengkhawatirkan. Dengan muramnya NASA, mimpi umat manusia menjelajah luar angkasa ikut muram. Dan karenanya, dibantu duit yang dimiliki serta dorongan temannya bernama Neal Stephenson, selayaknya Musk, Bezos pun bertekad menciptakan roket.

Dari dua orang super kaya raya ini, SpaceX dan Blue Origin, perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan roket, berdiri. Kemudian, dengan alasan yang mirip-mirip, Paul Allen, yang bersama-sama Bill Gates mendirikan Microsoft, mendirikan SpaceShipOne (untuk kemudian dilanjutkan oleh Richard Branson melalui Virgin Galactic). Dan satu dekade kemudian, perusahaan-perusahaan swasta ini berhasil merilis Falcon, New Shepard, dan VSS Unity sebagai roket (atau khusus untuk VSS Unity: pesawat luar angkasa bertenaga roket) yang sukses mengangkasa ke luar angkasa.

Tentu, latar belakang pendirian SpaceX, Blue Origin, ataupun SpaceShipOne (Virgin Galactic) yang terlihat gagah nan bijaksana itu, tak bisa dipercaya begitu saja. Sebagaimana kisah tentang Andy Beal, luar angkasa memang menjanjikan pundi-pundi melimpah. Paling tidak, meskipun Blue Origin dan Virgin Galactic belum merasakannya, SpaceX telah membuktikannya. Semenjak didirikan Musk pada 2002, SpaceX bertransformasi menjadi salah satu perusahaan paling menjanjikan di dunia karena, usai berhasil meluncurkan Falcon 1 pada 24 Maret 2006 ke angkasa dari kawasan Kwajalein di Pasifik, 100 kontrak peluncuran satelit milik berbagai negara dan perusahaan swasta (termasuk satelit Merah Putih atau Telkom-4 milik Telkom Indonesia) berhasil dikantongi Musk.

SpaceX, merujuk laman resminya, menyebut bahwa biaya peluncuran roket-roket miliknya berkisar antara $62 juta hingga $90 juta. Artinya, dengan 100 kontrak yang telah dikantongi, Musk sukses mengamankan duit senilai $6,2 miliar hingga $9 miliar. Pendapatan yang kian menjadi-jadi besarnya manakala kontrak yang diperoleh dari NASA ditautkan. Dan pendapatan tersebut akan kian membesar seandainya wisata luar angkasa berhasil dibuka.

Akhirnya, dari tangan Musk, Bezos, dan Branson, hasrat manusia menjelajah luar angkasa seperti yang dicita-citakan Wernher von Braun sangat mungkin terjadi. Tentu, dengan ongkos super tinggi yang mereka terapkan. Artinya, seandainya bumi benar-benar hancur dihantam asteroid atau terpercik radiasi matahari, sebagaimana dikisahkan Neill Blomkamp dalam film berjudul Elysium (2013), hanya orang-orang kaya yang berhasil selamat.







 

 

© 2016-2021 Madzae