14 Juli 2021

Melalui App Store, Apple Tentukan Hidup-Mati Pengambang Aplikasi

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 9 Januari 2007, mengenakan kaos turtleneck hitam, celana jin, dan sneaker berwarna putih, Steve Jobs, menandai 10 tahun kedatangannya kembali ke Apple selepas sempat “dipecat” perusahaan yang didirikannya bersama Steve Wozniak itu, naik ke atas panggung Macworld--konferensi tahunan Apple.

Dua puluh menit berlalu berbicara tetek-bengek keadaan Apple terkini, Jobs berhenti sejenak. “Sekali setiap zaman,” lanjut Jobs secara tiba-tiba, “produk revolusioner datang mengubah segala sesuatu.” Ungkapnya kemudian, “hari ini kami akan memperkenalkan tiga produk revolusioner. Pertama, iPod dalam ukuran wide-screen, lengkap dengan kontrol layar sentuh. Produk kedua adalah perangkat seluler, dan ketiga yakni sebuah terobosan berupa perangkat pengakses internet.”

Singkat kata, jelas Jobs, Apple akan melahirkan “sebuah iPod, sebuah ponsel, dan sebuah alat pengakses internet.” Belum sempat orang-orang yang datang ke acara Macworld itu memberikan tepuk tangan untuk mengapresiasi kerja Apple, Jobs melanjutkan: “Kalian paham maksudnya? Bukan, kami bukan membuat tiga alat terpisah.” Slide presentasi yang membantu Jobs lalu berganti, Jobs lantas menegaskan: “Ini satu alat, dan kami menyebutnya iPhone.”

“Hari ini,” tegas Jobs, “Apple akan menciptakan ulang apa yang dimaksud ponsel.”

Jobs, benar. Dengan melahirkan iPhone, dunia ponsel memang berubah. Namun, yang luput dari pikirannya kala itu, revolusi yang sesungguhnya sukses mengubah persepsi orang tentang apa itu ponsel bukan “sebuah iPod, sebuah ponsel, dan sebuah alat pengakses internet,” tetapi App Store, toko aplikasi yang menampung aplikasi-aplikasi buatan pihak independen, yang uniknya, ditolak mentah-mentah oleh Jobs sendiri di awal kemunculan iPhone.

Melalui App Store, Apple tak hanya merevolusi ponsel, tetapi juga menentukan hidup-mati perusahaan teknologi.

App Store: Kelahiran Yang Tak Dikehendaki

“Pada 2007, ketika iPhone meluncur, chip berarsitektur ARM yang memuat 1,57 juta transistor (dibuat bersama Samsung dan Apple) memiliki arti tersendiri untuk ponsel ini,” tulis Brian Merchant, editor Motherboard--kompartemen teknologi pada media VICE--dalam bukunya berjudul “The One Device: The Secret History of The iPhone.” Arti itu, dengan kekuatan sang chip, iPhone memiliki sistem operasi khusus dalam tubuhnya: iOS. iOS, sebut Merchant, merupakan versi kerdil dari Macintosh, dan karenanya iPhone sesungguhnya merupakan “komputer mini.”

Meskipun paham bahwa iPhone adalah komputer mini, Steve Jobs terang-terangan tidak mau iPhone berperilaku seperti komputer. Maksudnya, Jobs tidak ingin ada aplikasi lain--selain ciptaan Apple sendiri-- dipasang di iPhone. “Kamu tentu tidak ingin ponsel yang seperti PC,” terang Jobs. Alasannya, sebagaimana ia utarakan pada Steven Levy, editor-at-large Wired di hari peluncuran iPhone, “kamu tentu tidak ingin ada satu aplikasi yang kamu pasang (dari pihak ketiga) menghancurkan ponselmu karena aplikasi itu crash, nge-hang.”

Andy Grignon, senior engineer Apple, sebagaimana diungkapkannya pada Merchant menegaskan bahwa “Steve menginstruksikan langsung bahwa kami tidak akan mengizinkan pengembang aplikasi pihak ketiga masuk ke produk kami. Menurutnya, iPhone adalah segalanya bagi Apple dan mengizinkan pengembang membuat aplikasi bodoh akan merusak iPhone sendiri.”

Versi perdana iPhone, ponsel ini hanya memuat 16 aplikasi. Mayoritas buatan Apple sendiri dan hanya mengizinkan Google menghadirkan aplikasi lain: Maps dan Youtube. Kebijakan yang bisa dipahami karena kala itu, Eric Schmidt, sosok yang diangkat Larry Page dan Sergey Brin sebagai CEO dan “adult advisor” Google juga merupakan anggota Dewan Komisaris Apple--meskipun kemudian Schmidt dipecat Jobs selepas kelahiran Android yang dianggapnya menjiplak iPhone. Untuk menenangkan hati pengembang aplikasi pihak ketiga--selain Google, Jobs memperkenalkan “web app,” website yang berperilaku seperti aplikasi untuk iPhone dan hanya diakses menggunakan Safari.

Tentu saja, pengembang-pengembang aplikasi, yang tahu kekuatan iPhone sebagai komputer mini, kecewa dengan keputusan Jobs. Seorang pengembang aplikasi, John Gruber, menyebut bahwa Apple “tidak bisa memberi sampah pada para pengembang dengan hanya memberikan web app.” Web app, tegas Gruber, “tidak dapat ikon di layar hingga akses data lokal iPhone.” 

Kekecewaan pun sesungguhnya muncul dalam tubuh Apple sendiri. Kembali merujuk Merchant, Brett Bilbrey, Senior Manager Apple, menyatakan bahwa “Steve Jobs, jika diberi rating, hanya sembilan dari 10. Dia brilian, jenius. Namun, terkadang dalam otaknya keluar kentut dan masalahnya siapa yang berani bilang bahwa dia salah?” Ngototnya iPhone dijadikan platform tertutup tak aneh dilakukan Jobs. Di awal kelahiran Apple, Jobs kukuh menghendaki Apple 1, produk paling awal dari Apple, dibuat tertutup. Kebijakan yang selalu ditentang sahabatnya, Wozniak.

Atas lampu merah yang diberikan Jobs, pengembang-pengembang putar otak. Mereka tetap membuat aplikasi untuk iPhone, tetapi memasangnya dengan cara paksa: Jailbreak. Orang pertama yang sukses melakukan jailbreak pada iPhone ialah seorang peretas remaja bernama George Hotz, yang pernah berurusan dengan polisi gara-gara Sony marah PlayStation 3 yang diklaim anti-retas, diretas olehnya. Kelak, Hotz diangkat oleh Google sebagai anggota Project Zero, tim elit peretas yang diciptakan Google.

Berbulan-bulan berlalu semenjak iPhone dirilis, Jobs akhirnya sadar bahwa iPhone seharusnya tidak dibuat tertutup, melainkan dibuka untuk para pengembang. Tentu saja, kesadaran itu lahir bukan karena protes pengembang atau bahkan karyawannya sendiri, tetapi soal uang. Bilbrey menyebut, “iPhone hampir gagal secara penjualan di awal kemunculannya. Saya melihat sendiri angka penjualan iPhone suram.” Untuk lebih meyakinkan Jobs, Scott Forstall, Senior Vice President of iOS sekaligus co-inventor iPhone, mencetuskan ide bahwa ia akan “mengisolasi aplikasi-aplikasi pihak ketiga yang berjalan di iPhone, semacam sandbox.” Dengan isolasi ini, ketika aplikasi crash, sistem iOS tetap bisa bekerja.

Pada Oktober 2007, Jobs kemudian mengumumkan bahwa Apple mengizinkan pengembang pihak ketiga masuk ke iPhone. Dan untuk menstandarisasi aplikasi, Jobs juga meluncurkan iPhone SDK, software developer kit. Setahun berlalu, diiringi peluncuran generasi baru iPhone, iPhone 3G, Apple memperkenalkan App Store pada dunia.

Kala Hidup-Mati Aplikasi Ditentukan Moderator App Store

“Ketika aplikasi-aplikasi mulai bermunculan di App Store dan dapat dipasang di iPhone secara legal, ketika itulah penjualan iPhone meledak,” kenang Brett Bilbrey, sebagaimana ditulis Brian Merchant dalam “The One Device: The Secret History of The iPhone.” 

Frasa “killer app” awalnya dicetuskan oleh Steve Jobs untuk iPhone sebagai “sebuah iPod, sebuah ponsel, dan sebuah alat pengakses internet,” yang platformnya tertutup. “Killer app,” singkat kata, merupakan “perangkat revolusioner yang menjawab semua kebutuhan. Namun, tulis Merchant, yang sesungguhnya menjadi “killer app” bagi Apple jelas-jelas adalah App Store, bukan iPhone. Melalui App Store, segala kebutuhan pengguna iPhone dapat terealisasi dengan jutaan--bahkan miliaran--aplikasi pihak ketiga. Sayangnya, App Store sebagai “killer app” kni punya makna lain: Melalui App Store, Apple menentukan hidup-mati pengembang aplikasi.

Cara kerja distribusi aplikasi untuk iPhone berbeda dengan Android--atau bahkan Windows. Kecuali pengguna rela melakukan jailbreak pada iPhone, App Store adalah satu-satunya distributor aplikasi dari pengembang ke masyarakat. Tidak ada file instalasi aplikasi untuk iPhone di luar sana, semisal .apk untuk Android ataupun .exe untuk Windows (atau bahkan .dmg untuk Macintosh). Apple memang membuka keran agar pengembang pihak ketiga dapat membuat aplikasi iPhone-nya sendiri, tetapi melalui App Store, keran itu diawasi sangat ketat. Ketika pengembang aplikasi hendak mendistribusikan aplikasi ciptaannya, mereka mengirimkan karya itu ke Apple. Apple lantas melakukan review, peninjauan, bahkan hingga ke akar-akar kode pemrograman aplikasi yang dikirimkan. Jika moderator App Store menganggap aplikasi memenuhi standar Apple, si aplikasi muncul di App Store. Masyarakat bisa mengunduh dan menggunakannya. Jika aplikasi yang dikirimkan mengandung jasa/konten berbayar, Apple mengenakan tarif 30 persen dari nilai jasa/konten.

Untuk satu saat, kebijakan Apple terkait App Store aman-aman saja. Via App Store, lahir kemudian aplikasi-aplikasi populer, sebut saja Instagram, WhatsApp, hingga Uber. App Store pun memungkinkan pengembang-pengembang individual “kaya mendadak.” Lihatlah kasus Flappy Bird, game yang diciptakan Dong Nguyen. Konon, di tahun 2014, Dong sanggup mengantongi uang senilai $50.000 per hari via game-nya itu atas iklan yang ditampilkan. App Store menjadi semacam “Wild West.”

Namun, kontroversi akhirnya muncul terkait proses review aplikasi itu sendiri. Via moderasi yang dilakukan, nyawa pengembang berada di tangan Apple. Mike Isaac, reporter teknologi pada The New York Times dalam bukunya berjudul “Super Pumped: The Battle for Uber,” menyebut bahwa Uber pernah diancam diusir dari App Store. Alasannya, hingga tahun 2014, guna menghentikan kecurangan pengemudi-pengemudi palsu Uber, yang mendaftar menjadi pengemudi hanya untuk memperoleh bonus, Uber menggunakan teknologi milik InAuth, perusahaan asal Boston, AS, yang mampu mendeteksi nomor identifikasi perangkat iPhone, tanpa perlu menggunakan IMEI. Akses aplikasi pada IMEI milik pengunduhnya sendiri telah diblokir Apple sejak 2012. Melalui teknologi InAuth, ketika Uber mendeteksi bahwa perangkat yang digunakan si pengemudi masuk dalam blacklist, aplikasi Uber tidak dapat dijalankan.

Apple berpikir lain. Meskipun maksud Uber baik, Uber dianggap menyalahi aturan Apple karena mengidentifikasi perangkat penggunanya. Versi pembaruan aplikasi Uber, ditolak Apple. Bahkan, Tim Cook, yang naik pangkat menjadi CEO Apple, dan Eddy Cue, Direktur App Store, mengancam Uber bahwa jika praktek identifikasi pengguna masih dilakukan, Apple akan menendang Uber.

Tak hanya Uber, tentu saja, yang geram atas kebijakan Apple pada App Store. Netflix pun serupa, khususnya terkait kebijakan fee 30 persen atas jasa/konten yang dijual di aplikasi. Sebagai salah satu aplikasi populer, Netflix memperoleh pendapatan sebesar $853 juta di tahun 2018 menawarkan film dan serial. Sialnya, karena kebijakan 30 persen itu, Apple sukses menggondol $256 juta uang jerih payah Netflix. Netflix geram. Mereka akhirnya keluar dari ekosistem pembayaran ala App Store dan menawarkan penggunanya membayar biaya langganan langsung di website Netflix, bukan di aplikasi. Kasus serupa Netflix terjadi pada diri Spotify.

Steven Levy, editor-at-large pada majalah Wired, dalam bukunya yang berjudul “Facebook: The Inside Story,” menyebut bahwa kekhawatiran Apple kelewat batas menentukan hidup-mati aplikasi milik pihak ketiga sudah digaungkan semenjak App Store berdiri. Facebook termasuk yang khawatir soal ini. Sebagai pemilik platform, sangat mungkin Apple berlaku bias, atau mungkin membuat aplikasi-aplikasi, bersumber dari ide-ide aplikasi-aplikasi pihak ketiga, sendiri. Dan menempatkan aplikasi-aplikasi milik Apple di tempat paling tinggi di App Store.

Maka, untuk membendung dominasi Apple atas App Store--dan Google atas Android--Facebook menciptakan ponselnya sendiri, Facebook Phone atau HTC First. Sial, upaya Mark Zuckerberg ini gagal. Salah satu alasan utamanya: masyarakat tidak ingin privasinya diobok-obok Facebook.

Waktu berlalu. Kekhawatiran Facebook atas kontrol Apple pada App Store terbukti. Aplikasi Facebook Gaming dipersulit Apple untuk didistribusikan ke masyarakat via App Store. Dari 2019 hingga 2020, enam kali Facebook Gaming ditolak Apple. Alasannya, aplikasi media sosial yang memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan teman-teman mereka soal game ini dianggap memiliki fitur serupa App Store, toko aplikasi. Via Facebook Gaming, pengguna dapat mengunduh dan memainkan game yang disodorkan Facebook. Apple menilai bahwa tindakan ini dianggap seakan-akan Facebook berjualan game di aplikasinya. Apple kemudian menganggapnya sebagai pelanggaran aturan App Store.

Facebook ikhlas. Pada versi iOS, Facebook menghapus fungsi bermain game. Facebook Gaming akhirnya diizinkan masuk App Store.

Dalam acara dengar pendapat dengan Kongres AS pada Rabu terakhir di bulan Juli 2020 lalu, Zuckerberg mengungkap kekecewaannya. Katanya, “beberapa pihak di dunia teknologi adalah pemula (yang tidak berkuasa), tetapi ada juga yang menjadi penjaga gerbang dengan kekuatan memutuskan apakah kami para pengembang dapat merilis aplikasi di toko aplikasi mereka.” Zuck, singkat kata, menuduh Apple berperilaku monopolistik dan curang.

Seiring berjalannya waktu, kekhawatiran lain atas kendali Apple pada App Store terbukti. Apple menganak-emaskan aplikasi ciptaannya sendiri.

Jack Nicas dan Keith Collins, dalam laporan investigasinya untuk The New York Times--atas kerjasama dengan Sensor Tower, firma analisis aplikasi--mengungkapkan bahwa Apple bermain "curang" agar aplikasi mereka digunakan pengguna Apple. Dalam analisis terhadap 700 kata kunci yang digunakan untuk mencari aplikasi di App Store, Apple disebut mengutamakan aplikasi buatannya dibanding para pesaing.

The Times mencontohkan, pada 2013, sebelum Apple meluncurkan Apple Music, Spotify menjadi aplikasi teratas tatkala pengguna memasukkan kata “music” di App Store. Namun, tak lama selepas Apple Music lahir di Juni 2016, Spotify tergeser ke urutan ke empat. Tak berhenti di situ, pada akhir 2018, demi memuluskan kesuksesan aplikasi-aplikasi lawasnya, ketika pengguna memasukkan kata “music” di kolom pencarian App Store, hasil yang diperoleh secara berurutan ialah: Apple Music, Garage Band, Music Memos, iTunes Remote, Logic Remote, iTunes Store, iMovie, dan Clips.

Artinya: banyak aplikasi buatan Apple yang sebetulnya tidak relevan dengan kata kunci itu tampil di muka hasil pencarian. Spotify sendiri berada di posisi ke-23.

Kecurangan ini terjadi tatkala kata kunci “TV” atau “Movie” dimasukkan. Sebelum Apple merilis Apple TV, Netflix jadi teratas. Pada Juni 2018, setelah Apple TV meluncur, Netflix terjun ke urutan seratusan.

Philip Schiller, Senior Vice President Apple (yang baru saja turun tahta), membantah kecurangan yang dituduhkan pada perusahaannya. Katanya, “hasil pencarian dirancang dengan algoritma yang memprediksi apa yang diinginkan pengguna,” bukan karena Apple memprioritaskan aplikasi-aplikasi buatannya. Tentu saja, bantahan Apple ini terasa menggelikan. Bisnis utama Apple, berjualan Mac, iPhone, dan iPad, mengalami tren penurunan. Cara terbaik yang bisa dilakukan: menjual layanan serupa Netflix ataupun Spotify. Untuk memaksimalkan pendapatan dari layanan-layanan ciptaan Apple, tentu saja, dilakukan dengan menghardik kompetitor.



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



14 Juli 2021

Melalui App Store, Apple Tentukan Hidup-Mati Pengambang Aplikasi

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 9 Januari 2007, mengenakan kaos turtleneck hitam, celana jin, dan sneaker berwarna putih, Steve Jobs, menandai 10 tahun kedatangannya kembali ke Apple selepas sempat “dipecat” perusahaan yang didirikannya bersama Steve Wozniak itu, naik ke atas panggung Macworld--konferensi tahunan Apple.

Dua puluh menit berlalu berbicara tetek-bengek keadaan Apple terkini, Jobs berhenti sejenak. “Sekali setiap zaman,” lanjut Jobs secara tiba-tiba, “produk revolusioner datang mengubah segala sesuatu.” Ungkapnya kemudian, “hari ini kami akan memperkenalkan tiga produk revolusioner. Pertama, iPod dalam ukuran wide-screen, lengkap dengan kontrol layar sentuh. Produk kedua adalah perangkat seluler, dan ketiga yakni sebuah terobosan berupa perangkat pengakses internet.”

Singkat kata, jelas Jobs, Apple akan melahirkan “sebuah iPod, sebuah ponsel, dan sebuah alat pengakses internet.” Belum sempat orang-orang yang datang ke acara Macworld itu memberikan tepuk tangan untuk mengapresiasi kerja Apple, Jobs melanjutkan: “Kalian paham maksudnya? Bukan, kami bukan membuat tiga alat terpisah.” Slide presentasi yang membantu Jobs lalu berganti, Jobs lantas menegaskan: “Ini satu alat, dan kami menyebutnya iPhone.”

“Hari ini,” tegas Jobs, “Apple akan menciptakan ulang apa yang dimaksud ponsel.”

Jobs, benar. Dengan melahirkan iPhone, dunia ponsel memang berubah. Namun, yang luput dari pikirannya kala itu, revolusi yang sesungguhnya sukses mengubah persepsi orang tentang apa itu ponsel bukan “sebuah iPod, sebuah ponsel, dan sebuah alat pengakses internet,” tetapi App Store, toko aplikasi yang menampung aplikasi-aplikasi buatan pihak independen, yang uniknya, ditolak mentah-mentah oleh Jobs sendiri di awal kemunculan iPhone.

Melalui App Store, Apple tak hanya merevolusi ponsel, tetapi juga menentukan hidup-mati perusahaan teknologi.

App Store: Kelahiran Yang Tak Dikehendaki

“Pada 2007, ketika iPhone meluncur, chip berarsitektur ARM yang memuat 1,57 juta transistor (dibuat bersama Samsung dan Apple) memiliki arti tersendiri untuk ponsel ini,” tulis Brian Merchant, editor Motherboard--kompartemen teknologi pada media VICE--dalam bukunya berjudul “The One Device: The Secret History of The iPhone.” Arti itu, dengan kekuatan sang chip, iPhone memiliki sistem operasi khusus dalam tubuhnya: iOS. iOS, sebut Merchant, merupakan versi kerdil dari Macintosh, dan karenanya iPhone sesungguhnya merupakan “komputer mini.”

Meskipun paham bahwa iPhone adalah komputer mini, Steve Jobs terang-terangan tidak mau iPhone berperilaku seperti komputer. Maksudnya, Jobs tidak ingin ada aplikasi lain--selain ciptaan Apple sendiri-- dipasang di iPhone. “Kamu tentu tidak ingin ponsel yang seperti PC,” terang Jobs. Alasannya, sebagaimana ia utarakan pada Steven Levy, editor-at-large Wired di hari peluncuran iPhone, “kamu tentu tidak ingin ada satu aplikasi yang kamu pasang (dari pihak ketiga) menghancurkan ponselmu karena aplikasi itu crash, nge-hang.”

Andy Grignon, senior engineer Apple, sebagaimana diungkapkannya pada Merchant menegaskan bahwa “Steve menginstruksikan langsung bahwa kami tidak akan mengizinkan pengembang aplikasi pihak ketiga masuk ke produk kami. Menurutnya, iPhone adalah segalanya bagi Apple dan mengizinkan pengembang membuat aplikasi bodoh akan merusak iPhone sendiri.”

Versi perdana iPhone, ponsel ini hanya memuat 16 aplikasi. Mayoritas buatan Apple sendiri dan hanya mengizinkan Google menghadirkan aplikasi lain: Maps dan Youtube. Kebijakan yang bisa dipahami karena kala itu, Eric Schmidt, sosok yang diangkat Larry Page dan Sergey Brin sebagai CEO dan “adult advisor” Google juga merupakan anggota Dewan Komisaris Apple--meskipun kemudian Schmidt dipecat Jobs selepas kelahiran Android yang dianggapnya menjiplak iPhone. Untuk menenangkan hati pengembang aplikasi pihak ketiga--selain Google, Jobs memperkenalkan “web app,” website yang berperilaku seperti aplikasi untuk iPhone dan hanya diakses menggunakan Safari.

Tentu saja, pengembang-pengembang aplikasi, yang tahu kekuatan iPhone sebagai komputer mini, kecewa dengan keputusan Jobs. Seorang pengembang aplikasi, John Gruber, menyebut bahwa Apple “tidak bisa memberi sampah pada para pengembang dengan hanya memberikan web app.” Web app, tegas Gruber, “tidak dapat ikon di layar hingga akses data lokal iPhone.” 

Kekecewaan pun sesungguhnya muncul dalam tubuh Apple sendiri. Kembali merujuk Merchant, Brett Bilbrey, Senior Manager Apple, menyatakan bahwa “Steve Jobs, jika diberi rating, hanya sembilan dari 10. Dia brilian, jenius. Namun, terkadang dalam otaknya keluar kentut dan masalahnya siapa yang berani bilang bahwa dia salah?” Ngototnya iPhone dijadikan platform tertutup tak aneh dilakukan Jobs. Di awal kelahiran Apple, Jobs kukuh menghendaki Apple 1, produk paling awal dari Apple, dibuat tertutup. Kebijakan yang selalu ditentang sahabatnya, Wozniak.

Atas lampu merah yang diberikan Jobs, pengembang-pengembang putar otak. Mereka tetap membuat aplikasi untuk iPhone, tetapi memasangnya dengan cara paksa: Jailbreak. Orang pertama yang sukses melakukan jailbreak pada iPhone ialah seorang peretas remaja bernama George Hotz, yang pernah berurusan dengan polisi gara-gara Sony marah PlayStation 3 yang diklaim anti-retas, diretas olehnya. Kelak, Hotz diangkat oleh Google sebagai anggota Project Zero, tim elit peretas yang diciptakan Google.

Berbulan-bulan berlalu semenjak iPhone dirilis, Jobs akhirnya sadar bahwa iPhone seharusnya tidak dibuat tertutup, melainkan dibuka untuk para pengembang. Tentu saja, kesadaran itu lahir bukan karena protes pengembang atau bahkan karyawannya sendiri, tetapi soal uang. Bilbrey menyebut, “iPhone hampir gagal secara penjualan di awal kemunculannya. Saya melihat sendiri angka penjualan iPhone suram.” Untuk lebih meyakinkan Jobs, Scott Forstall, Senior Vice President of iOS sekaligus co-inventor iPhone, mencetuskan ide bahwa ia akan “mengisolasi aplikasi-aplikasi pihak ketiga yang berjalan di iPhone, semacam sandbox.” Dengan isolasi ini, ketika aplikasi crash, sistem iOS tetap bisa bekerja.

Pada Oktober 2007, Jobs kemudian mengumumkan bahwa Apple mengizinkan pengembang pihak ketiga masuk ke iPhone. Dan untuk menstandarisasi aplikasi, Jobs juga meluncurkan iPhone SDK, software developer kit. Setahun berlalu, diiringi peluncuran generasi baru iPhone, iPhone 3G, Apple memperkenalkan App Store pada dunia.

Kala Hidup-Mati Aplikasi Ditentukan Moderator App Store

“Ketika aplikasi-aplikasi mulai bermunculan di App Store dan dapat dipasang di iPhone secara legal, ketika itulah penjualan iPhone meledak,” kenang Brett Bilbrey, sebagaimana ditulis Brian Merchant dalam “The One Device: The Secret History of The iPhone.” 

Frasa “killer app” awalnya dicetuskan oleh Steve Jobs untuk iPhone sebagai “sebuah iPod, sebuah ponsel, dan sebuah alat pengakses internet,” yang platformnya tertutup. “Killer app,” singkat kata, merupakan “perangkat revolusioner yang menjawab semua kebutuhan. Namun, tulis Merchant, yang sesungguhnya menjadi “killer app” bagi Apple jelas-jelas adalah App Store, bukan iPhone. Melalui App Store, segala kebutuhan pengguna iPhone dapat terealisasi dengan jutaan--bahkan miliaran--aplikasi pihak ketiga. Sayangnya, App Store sebagai “killer app” kni punya makna lain: Melalui App Store, Apple menentukan hidup-mati pengembang aplikasi.

Cara kerja distribusi aplikasi untuk iPhone berbeda dengan Android--atau bahkan Windows. Kecuali pengguna rela melakukan jailbreak pada iPhone, App Store adalah satu-satunya distributor aplikasi dari pengembang ke masyarakat. Tidak ada file instalasi aplikasi untuk iPhone di luar sana, semisal .apk untuk Android ataupun .exe untuk Windows (atau bahkan .dmg untuk Macintosh). Apple memang membuka keran agar pengembang pihak ketiga dapat membuat aplikasi iPhone-nya sendiri, tetapi melalui App Store, keran itu diawasi sangat ketat. Ketika pengembang aplikasi hendak mendistribusikan aplikasi ciptaannya, mereka mengirimkan karya itu ke Apple. Apple lantas melakukan review, peninjauan, bahkan hingga ke akar-akar kode pemrograman aplikasi yang dikirimkan. Jika moderator App Store menganggap aplikasi memenuhi standar Apple, si aplikasi muncul di App Store. Masyarakat bisa mengunduh dan menggunakannya. Jika aplikasi yang dikirimkan mengandung jasa/konten berbayar, Apple mengenakan tarif 30 persen dari nilai jasa/konten.

Untuk satu saat, kebijakan Apple terkait App Store aman-aman saja. Via App Store, lahir kemudian aplikasi-aplikasi populer, sebut saja Instagram, WhatsApp, hingga Uber. App Store pun memungkinkan pengembang-pengembang individual “kaya mendadak.” Lihatlah kasus Flappy Bird, game yang diciptakan Dong Nguyen. Konon, di tahun 2014, Dong sanggup mengantongi uang senilai $50.000 per hari via game-nya itu atas iklan yang ditampilkan. App Store menjadi semacam “Wild West.”

Namun, kontroversi akhirnya muncul terkait proses review aplikasi itu sendiri. Via moderasi yang dilakukan, nyawa pengembang berada di tangan Apple. Mike Isaac, reporter teknologi pada The New York Times dalam bukunya berjudul “Super Pumped: The Battle for Uber,” menyebut bahwa Uber pernah diancam diusir dari App Store. Alasannya, hingga tahun 2014, guna menghentikan kecurangan pengemudi-pengemudi palsu Uber, yang mendaftar menjadi pengemudi hanya untuk memperoleh bonus, Uber menggunakan teknologi milik InAuth, perusahaan asal Boston, AS, yang mampu mendeteksi nomor identifikasi perangkat iPhone, tanpa perlu menggunakan IMEI. Akses aplikasi pada IMEI milik pengunduhnya sendiri telah diblokir Apple sejak 2012. Melalui teknologi InAuth, ketika Uber mendeteksi bahwa perangkat yang digunakan si pengemudi masuk dalam blacklist, aplikasi Uber tidak dapat dijalankan.

Apple berpikir lain. Meskipun maksud Uber baik, Uber dianggap menyalahi aturan Apple karena mengidentifikasi perangkat penggunanya. Versi pembaruan aplikasi Uber, ditolak Apple. Bahkan, Tim Cook, yang naik pangkat menjadi CEO Apple, dan Eddy Cue, Direktur App Store, mengancam Uber bahwa jika praktek identifikasi pengguna masih dilakukan, Apple akan menendang Uber.

Tak hanya Uber, tentu saja, yang geram atas kebijakan Apple pada App Store. Netflix pun serupa, khususnya terkait kebijakan fee 30 persen atas jasa/konten yang dijual di aplikasi. Sebagai salah satu aplikasi populer, Netflix memperoleh pendapatan sebesar $853 juta di tahun 2018 menawarkan film dan serial. Sialnya, karena kebijakan 30 persen itu, Apple sukses menggondol $256 juta uang jerih payah Netflix. Netflix geram. Mereka akhirnya keluar dari ekosistem pembayaran ala App Store dan menawarkan penggunanya membayar biaya langganan langsung di website Netflix, bukan di aplikasi. Kasus serupa Netflix terjadi pada diri Spotify.

Steven Levy, editor-at-large pada majalah Wired, dalam bukunya yang berjudul “Facebook: The Inside Story,” menyebut bahwa kekhawatiran Apple kelewat batas menentukan hidup-mati aplikasi milik pihak ketiga sudah digaungkan semenjak App Store berdiri. Facebook termasuk yang khawatir soal ini. Sebagai pemilik platform, sangat mungkin Apple berlaku bias, atau mungkin membuat aplikasi-aplikasi, bersumber dari ide-ide aplikasi-aplikasi pihak ketiga, sendiri. Dan menempatkan aplikasi-aplikasi milik Apple di tempat paling tinggi di App Store.

Maka, untuk membendung dominasi Apple atas App Store--dan Google atas Android--Facebook menciptakan ponselnya sendiri, Facebook Phone atau HTC First. Sial, upaya Mark Zuckerberg ini gagal. Salah satu alasan utamanya: masyarakat tidak ingin privasinya diobok-obok Facebook.

Waktu berlalu. Kekhawatiran Facebook atas kontrol Apple pada App Store terbukti. Aplikasi Facebook Gaming dipersulit Apple untuk didistribusikan ke masyarakat via App Store. Dari 2019 hingga 2020, enam kali Facebook Gaming ditolak Apple. Alasannya, aplikasi media sosial yang memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan teman-teman mereka soal game ini dianggap memiliki fitur serupa App Store, toko aplikasi. Via Facebook Gaming, pengguna dapat mengunduh dan memainkan game yang disodorkan Facebook. Apple menilai bahwa tindakan ini dianggap seakan-akan Facebook berjualan game di aplikasinya. Apple kemudian menganggapnya sebagai pelanggaran aturan App Store.

Facebook ikhlas. Pada versi iOS, Facebook menghapus fungsi bermain game. Facebook Gaming akhirnya diizinkan masuk App Store.

Dalam acara dengar pendapat dengan Kongres AS pada Rabu terakhir di bulan Juli 2020 lalu, Zuckerberg mengungkap kekecewaannya. Katanya, “beberapa pihak di dunia teknologi adalah pemula (yang tidak berkuasa), tetapi ada juga yang menjadi penjaga gerbang dengan kekuatan memutuskan apakah kami para pengembang dapat merilis aplikasi di toko aplikasi mereka.” Zuck, singkat kata, menuduh Apple berperilaku monopolistik dan curang.

Seiring berjalannya waktu, kekhawatiran lain atas kendali Apple pada App Store terbukti. Apple menganak-emaskan aplikasi ciptaannya sendiri.

Jack Nicas dan Keith Collins, dalam laporan investigasinya untuk The New York Times--atas kerjasama dengan Sensor Tower, firma analisis aplikasi--mengungkapkan bahwa Apple bermain "curang" agar aplikasi mereka digunakan pengguna Apple. Dalam analisis terhadap 700 kata kunci yang digunakan untuk mencari aplikasi di App Store, Apple disebut mengutamakan aplikasi buatannya dibanding para pesaing.

The Times mencontohkan, pada 2013, sebelum Apple meluncurkan Apple Music, Spotify menjadi aplikasi teratas tatkala pengguna memasukkan kata “music” di App Store. Namun, tak lama selepas Apple Music lahir di Juni 2016, Spotify tergeser ke urutan ke empat. Tak berhenti di situ, pada akhir 2018, demi memuluskan kesuksesan aplikasi-aplikasi lawasnya, ketika pengguna memasukkan kata “music” di kolom pencarian App Store, hasil yang diperoleh secara berurutan ialah: Apple Music, Garage Band, Music Memos, iTunes Remote, Logic Remote, iTunes Store, iMovie, dan Clips.

Artinya: banyak aplikasi buatan Apple yang sebetulnya tidak relevan dengan kata kunci itu tampil di muka hasil pencarian. Spotify sendiri berada di posisi ke-23.

Kecurangan ini terjadi tatkala kata kunci “TV” atau “Movie” dimasukkan. Sebelum Apple merilis Apple TV, Netflix jadi teratas. Pada Juni 2018, setelah Apple TV meluncur, Netflix terjun ke urutan seratusan.

Philip Schiller, Senior Vice President Apple (yang baru saja turun tahta), membantah kecurangan yang dituduhkan pada perusahaannya. Katanya, “hasil pencarian dirancang dengan algoritma yang memprediksi apa yang diinginkan pengguna,” bukan karena Apple memprioritaskan aplikasi-aplikasi buatannya. Tentu saja, bantahan Apple ini terasa menggelikan. Bisnis utama Apple, berjualan Mac, iPhone, dan iPad, mengalami tren penurunan. Cara terbaik yang bisa dilakukan: menjual layanan serupa Netflix ataupun Spotify. Untuk memaksimalkan pendapatan dari layanan-layanan ciptaan Apple, tentu saja, dilakukan dengan menghardik kompetitor.


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play