24 Juli 2021

Saat AirPods Menyelamatkan Apple

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 31 Maret lalu, tatkala dunia masih dihantui pandemi COVID-19, Apple memberi kejutan atas kinerja perusahaannya. Alih-alih bisnis merosot, Apple, melalui laporan finansial kuartal 2-2020, menyatakan bahwa total penjualan bersih (net sales) meningkat sekitar 1 persen, meraup uang $58,3 miliar. Tim Cook, CEO Apple, mengatakan bahwa capaian finansial perusahaannya itu “membanggakan, meskipun dunia tengah mengalami dampak ekonomi yang besar akibat pandemi COVID-19". 

Jika laporan finansial Apple ditelisik sedikit lebih dalam, kegemilangan kinerja Apple tidak ditopang jualan utama mereka sejak 2007 silam, iPhone. Dalam laporan kuartal II-2020 itu, total penjualan bersih iPhone berada di angka $28,9 miliar, turun dari $31 miliar di kuartal sama setahun sebelumnya. Selepas mencapai titik tertinggi penjualan iPhone dalam sejarah, sebanyak 78,29 juta unit pada kuartal 1-2017, performa iPhone terus melorot. Sedikit lebih jauh, pada laporan kuartal 2-2019, iPhone menyumbang pendapatan sebesar $31 miliar bagi Apple, turun 18 persen dari perolehan kuartal yang sama setahun sebelumnya, $38 miliar.

Pun, penurunan bukan hanya terjadi pada iPhone, melainkan pada lini-lini utama Apple lainnya. Komputer Mac yang memperoleh penjualan bersih sebesar $5,3 miliar, turun dari $5,5 miliar setahun lalu. Begitu juga iPad yang hanya memperoleh penjualan bersih sebesar $4,3 miliar, turun dari $4,8 miliar di saat yang sama setahun sebelumnya.

Selepas menggantungkan hidup pada Mac di dekade 1990-an, lalu iPod di dekade 2000-an, Apple tampaknya kini sudah tidak bisa lagi menggantungkan hidup dari iPhone, meskipun baru-baru ini iPhone SE--iPhone versi murah--lahir. Yang unik, produk yang kemudian menjadi ATM baru bagi Apple--yang sukses membuat laporan keuangan kuartal 2-2020 gemilang--ialah produk yang saat kelahirannya di 2016 silam, dalam Apple Special Event di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, hanya diperkenalkan selama 5 menit--dalam acara berdurasi total 2 jam--pada khalayak.

ATM terbaru Apple adalah AirPods.

Menghilangkan Colokan, Meraup Untung Setelahnya

“Apakah Tim Cook ingin berjualan TV keren sepanjang hidupnya, atau apakah ia ingin mengubah dunia?” tanya Farhad Manjoo, kolumnis teknologi pada The New York Times.

Manjoo “sebal.” Sebagai salah satu perusahaan paling bergengsi dan bernilai di dunia, saat ini, debat Manjoo, Apple berperilaku biasa-biasa saja. Sebagai perusahaan yang mengusung kekuatan privasi, dan bahkan mengejek Google serta Facebook yang memilih mendulang uang dari hasil menjual data-data penggunanya, klaim Manjoo, “Apple gagal menciptakan Instagram bebas iklan, merilis media sosial berpikiran terbuka dan mengutamakan privasi, serta melahirkan Youtube tanpa menjadi surga bagi neo-Nazi.”

“Bagi perusahaan biasa-biasa saja, tidak masalah,” tegas Manjoo. “Tapi, Apple bukanlah perusahaan biasa-biasa saja.”

Di sisi lain, John Arlidge, dalam tulisannya untuk Wired, menyatakan bahwa selepas Steve Jobs dipanggil Tuhan, Apple seakan kehilangan sesuatu yang “wah,” yang membuat Apple menjadi Apple. Di era pertama Apple, Jobs (dan Steve Wozniak) sukses melahirkan konsep baru komputer. Di dekade 1990-an, selepas dihadapkan pada kebangkrutan, Jobs melahirkan-ulang Apple dengan menciptakan ekosistem musik hits bernama iPod dan iTunes, yang kemudian disusul oleh iPhone dan iPad.

Cook, peras pemikiran Arlidge, nampaknya tidak menapaki jejak Jobs. Kembali ke pemikiran Manjoo, di tangan Cook, “alih-alih menjual produk berkualitas pada banyak orang, rencana Apple saat ini adalah menjual suatu produk (baru) ke orang-orang yang sama.”

Cook, dalam Apple Special Event di pertengahan Maret 2019 silam, tak menyangkal “keanehan” tingkah laku perusahaannya. Katanya, “saat ini adalah saat yang berbeda.” Seorang eksekutif Apple yang diwawancarai Arlidge dalam keadaan anonim menegaskan bahwa bagi Apple “ini adalah periode yang aneh dalam sejarah perusahaan.”

Di tangah Cook, Apple memasuki bisnis-bisnis baru. Merilis Apple Card, kartu kredit hasil kerjasama dengan Goldman Sachs; layanan “news you can trust” bernama Apple News; arena bermain game Apple Arcade; dan saluran drama Apple TV+.

Tegas Cook, “Apple kini beroperasi dalam bisnis yang luas yang belum pernah kami operasikan sebelumnya.”

Tak ketinggalan, produk baru dari Apple versi Tim Cook, dan yang tidak dikira bakal sukses, adalah AirPods dan Watch.

Jeremy White, pada laporannya untuk Wired, menyebut bahwa, bagi Apple, AirPods awalnya hanya sebatas aksesoris. AirPods menjadi semacam “permintaan maaf” Apple, karena pada versi iPhone 7 Apple menghilangkan colokan 3,5 milimeter, colokan yang sudah mendarah-daging sebagai tempat bercokolnya headphone atau headset.

Namun, meskipun AirPods adalah produk baru, asal-usulnya dapat ditarik ke tahun 2009, tatkala Apple bersama dengan Stanford University melakukan penelitian untuk memetakan telinga manusia secara 3D. Awalnya, penelitian itu digunakan untuk menciptakan earphone (berkabel) Apple, tetapi, sejak Apple memutuskan menghilangkan colokan 3,5 milimeter, hasil penelitiannya digunakan untuk menciptakan earphone (atau lebih pas disebut earbuds) tanpa kabel. Bahkan, pada AirPods versi Pro, Apple sukses menciptakan bentuk yang akurat, satu bentuk universal yang bisa diletakkan di mayoritas telinga manusia manapun/

“Kami, bersama dengan Stanford, memindai ratusan telinga dengan bentuk yang berbeda untuk membuat desain yang berfungsi sebagai solusi satu ukuran di seluruh populasi,” kata Greg Joswiak, Vice President of Product Marketing Apple, sebagaimana diutarakannya pada White.

Yang mengejutkan, produk yang awalnya ditujukan sebagai aksesoris, menuai sentimen positif. Meledak pasaran. 

Sean O’Kane, dalam ulasannya soal AirPods untuk The Verge, menyatakan bahwa AirPods merupakan “masa depan dunia nirkabel.” Dan suara yang dihasilkan AirPods “sangat jelas.” Brian Heater, dalam review-nya untuk Techcrunch, menyebut bahwa AirPods, dengan kualitas yang dihadirkan, “adalah kejutan dari Apple. Kyle Wiens, untuk Wired, menegaskan bahwa “Apple membawa suara yang sangat nyaman” pada AirPods.

“Kenyataan ini bagai kebakaran hutan, menyebar begitu cepat,” tegas Joswiak.

Sebagaimana laporan finansial terbaru Apple, laporan kuartal 2-2020, lini bisnis “Wearables, Home and Accessories,” yang menaungi AirPods (dan Watch), menjadi penyelamat Apple tatkala iPhone, iPad, dan Mac anjlok. Saat ini, jualan aksesoris Apple berhasil mendulang pundi-pundi senilai $6,2 miliar, naik dari $5,1 miliar dan $3,9 miliar dibandingkan kinerja di kuartal yang sama tahun 2019 dan 2018.

Yonhap News Agency, dalam salah satu laporannya, menegaskan bahwa Apple saat ini menjadi penguasa bisnis true wireless earbuds alias totally wireless headsets (TWS). Bersumber dari data firma analisis bisnis Strategy Analytics yang diperoleh Yonhap, pada tahun 2019, Apple sukses mengapalkan 58,7 juta AirPods, dan karenanya Apple mendulang pangsa pasar sebesar 54,4 persen. Sementara itu, Samsung, yang merilis Galaxy Buds, harus puas dengan 6,9 persen pangsa pasar atas 7,4 juta unit galaxy Buds yang mereka kapalkan.

“Tak dapat dielakkan lagi, Apple adalah penguasa pasar TWS,” tegas Ville-Petteri Ukonaho, wakil direktur Strategy Analytics.

Bisnis bisnis true wireless earbuds diperkirakan semakin bersinar di tahun-tahun mendatang. Diperkirakan, akan terjual 1,2 miliar unit earbuds pada 2024 mendatang.

Di tangan Cook, Apple memang belum mengeluarkan produk “wah”. Namun, melalui AirPods (dan Watch) Cook sukses mempertahankan Apple untuk tetap menggondol banyak uang dari konsumennya, dan mengutip rilis media yang dibagikan Apple tatkala merilis AirPods, melalui AirPods, Apple sukses “mendefinisikan-ulang bagaimana manusia mendengarkan musik.”



© 2016-2021 Madzae

Proyek pribadi dari Ahmad Zaenudin, jurnalis Tirto.id

Berisi artikel-artikel baru serta versi mentah (tanpa diedit) dari yang dipublikasikan di Tirto.id

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play


Dibaca normal menit



24 Juli 2021

Saat AirPods Menyelamatkan Apple

Oleh: Ahmad Zaenudin


Pada 31 Maret lalu, tatkala dunia masih dihantui pandemi COVID-19, Apple memberi kejutan atas kinerja perusahaannya. Alih-alih bisnis merosot, Apple, melalui laporan finansial kuartal 2-2020, menyatakan bahwa total penjualan bersih (net sales) meningkat sekitar 1 persen, meraup uang $58,3 miliar. Tim Cook, CEO Apple, mengatakan bahwa capaian finansial perusahaannya itu “membanggakan, meskipun dunia tengah mengalami dampak ekonomi yang besar akibat pandemi COVID-19". 

Jika laporan finansial Apple ditelisik sedikit lebih dalam, kegemilangan kinerja Apple tidak ditopang jualan utama mereka sejak 2007 silam, iPhone. Dalam laporan kuartal II-2020 itu, total penjualan bersih iPhone berada di angka $28,9 miliar, turun dari $31 miliar di kuartal sama setahun sebelumnya. Selepas mencapai titik tertinggi penjualan iPhone dalam sejarah, sebanyak 78,29 juta unit pada kuartal 1-2017, performa iPhone terus melorot. Sedikit lebih jauh, pada laporan kuartal 2-2019, iPhone menyumbang pendapatan sebesar $31 miliar bagi Apple, turun 18 persen dari perolehan kuartal yang sama setahun sebelumnya, $38 miliar.

Pun, penurunan bukan hanya terjadi pada iPhone, melainkan pada lini-lini utama Apple lainnya. Komputer Mac yang memperoleh penjualan bersih sebesar $5,3 miliar, turun dari $5,5 miliar setahun lalu. Begitu juga iPad yang hanya memperoleh penjualan bersih sebesar $4,3 miliar, turun dari $4,8 miliar di saat yang sama setahun sebelumnya.

Selepas menggantungkan hidup pada Mac di dekade 1990-an, lalu iPod di dekade 2000-an, Apple tampaknya kini sudah tidak bisa lagi menggantungkan hidup dari iPhone, meskipun baru-baru ini iPhone SE--iPhone versi murah--lahir. Yang unik, produk yang kemudian menjadi ATM baru bagi Apple--yang sukses membuat laporan keuangan kuartal 2-2020 gemilang--ialah produk yang saat kelahirannya di 2016 silam, dalam Apple Special Event di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, hanya diperkenalkan selama 5 menit--dalam acara berdurasi total 2 jam--pada khalayak.

ATM terbaru Apple adalah AirPods.

Menghilangkan Colokan, Meraup Untung Setelahnya

“Apakah Tim Cook ingin berjualan TV keren sepanjang hidupnya, atau apakah ia ingin mengubah dunia?” tanya Farhad Manjoo, kolumnis teknologi pada The New York Times.

Manjoo “sebal.” Sebagai salah satu perusahaan paling bergengsi dan bernilai di dunia, saat ini, debat Manjoo, Apple berperilaku biasa-biasa saja. Sebagai perusahaan yang mengusung kekuatan privasi, dan bahkan mengejek Google serta Facebook yang memilih mendulang uang dari hasil menjual data-data penggunanya, klaim Manjoo, “Apple gagal menciptakan Instagram bebas iklan, merilis media sosial berpikiran terbuka dan mengutamakan privasi, serta melahirkan Youtube tanpa menjadi surga bagi neo-Nazi.”

“Bagi perusahaan biasa-biasa saja, tidak masalah,” tegas Manjoo. “Tapi, Apple bukanlah perusahaan biasa-biasa saja.”

Di sisi lain, John Arlidge, dalam tulisannya untuk Wired, menyatakan bahwa selepas Steve Jobs dipanggil Tuhan, Apple seakan kehilangan sesuatu yang “wah,” yang membuat Apple menjadi Apple. Di era pertama Apple, Jobs (dan Steve Wozniak) sukses melahirkan konsep baru komputer. Di dekade 1990-an, selepas dihadapkan pada kebangkrutan, Jobs melahirkan-ulang Apple dengan menciptakan ekosistem musik hits bernama iPod dan iTunes, yang kemudian disusul oleh iPhone dan iPad.

Cook, peras pemikiran Arlidge, nampaknya tidak menapaki jejak Jobs. Kembali ke pemikiran Manjoo, di tangan Cook, “alih-alih menjual produk berkualitas pada banyak orang, rencana Apple saat ini adalah menjual suatu produk (baru) ke orang-orang yang sama.”

Cook, dalam Apple Special Event di pertengahan Maret 2019 silam, tak menyangkal “keanehan” tingkah laku perusahaannya. Katanya, “saat ini adalah saat yang berbeda.” Seorang eksekutif Apple yang diwawancarai Arlidge dalam keadaan anonim menegaskan bahwa bagi Apple “ini adalah periode yang aneh dalam sejarah perusahaan.”

Di tangah Cook, Apple memasuki bisnis-bisnis baru. Merilis Apple Card, kartu kredit hasil kerjasama dengan Goldman Sachs; layanan “news you can trust” bernama Apple News; arena bermain game Apple Arcade; dan saluran drama Apple TV+.

Tegas Cook, “Apple kini beroperasi dalam bisnis yang luas yang belum pernah kami operasikan sebelumnya.”

Tak ketinggalan, produk baru dari Apple versi Tim Cook, dan yang tidak dikira bakal sukses, adalah AirPods dan Watch.

Jeremy White, pada laporannya untuk Wired, menyebut bahwa, bagi Apple, AirPods awalnya hanya sebatas aksesoris. AirPods menjadi semacam “permintaan maaf” Apple, karena pada versi iPhone 7 Apple menghilangkan colokan 3,5 milimeter, colokan yang sudah mendarah-daging sebagai tempat bercokolnya headphone atau headset.

Namun, meskipun AirPods adalah produk baru, asal-usulnya dapat ditarik ke tahun 2009, tatkala Apple bersama dengan Stanford University melakukan penelitian untuk memetakan telinga manusia secara 3D. Awalnya, penelitian itu digunakan untuk menciptakan earphone (berkabel) Apple, tetapi, sejak Apple memutuskan menghilangkan colokan 3,5 milimeter, hasil penelitiannya digunakan untuk menciptakan earphone (atau lebih pas disebut earbuds) tanpa kabel. Bahkan, pada AirPods versi Pro, Apple sukses menciptakan bentuk yang akurat, satu bentuk universal yang bisa diletakkan di mayoritas telinga manusia manapun/

“Kami, bersama dengan Stanford, memindai ratusan telinga dengan bentuk yang berbeda untuk membuat desain yang berfungsi sebagai solusi satu ukuran di seluruh populasi,” kata Greg Joswiak, Vice President of Product Marketing Apple, sebagaimana diutarakannya pada White.

Yang mengejutkan, produk yang awalnya ditujukan sebagai aksesoris, menuai sentimen positif. Meledak pasaran. 

Sean O’Kane, dalam ulasannya soal AirPods untuk The Verge, menyatakan bahwa AirPods merupakan “masa depan dunia nirkabel.” Dan suara yang dihasilkan AirPods “sangat jelas.” Brian Heater, dalam review-nya untuk Techcrunch, menyebut bahwa AirPods, dengan kualitas yang dihadirkan, “adalah kejutan dari Apple. Kyle Wiens, untuk Wired, menegaskan bahwa “Apple membawa suara yang sangat nyaman” pada AirPods.

“Kenyataan ini bagai kebakaran hutan, menyebar begitu cepat,” tegas Joswiak.

Sebagaimana laporan finansial terbaru Apple, laporan kuartal 2-2020, lini bisnis “Wearables, Home and Accessories,” yang menaungi AirPods (dan Watch), menjadi penyelamat Apple tatkala iPhone, iPad, dan Mac anjlok. Saat ini, jualan aksesoris Apple berhasil mendulang pundi-pundi senilai $6,2 miliar, naik dari $5,1 miliar dan $3,9 miliar dibandingkan kinerja di kuartal yang sama tahun 2019 dan 2018.

Yonhap News Agency, dalam salah satu laporannya, menegaskan bahwa Apple saat ini menjadi penguasa bisnis true wireless earbuds alias totally wireless headsets (TWS). Bersumber dari data firma analisis bisnis Strategy Analytics yang diperoleh Yonhap, pada tahun 2019, Apple sukses mengapalkan 58,7 juta AirPods, dan karenanya Apple mendulang pangsa pasar sebesar 54,4 persen. Sementara itu, Samsung, yang merilis Galaxy Buds, harus puas dengan 6,9 persen pangsa pasar atas 7,4 juta unit galaxy Buds yang mereka kapalkan.

“Tak dapat dielakkan lagi, Apple adalah penguasa pasar TWS,” tegas Ville-Petteri Ukonaho, wakil direktur Strategy Analytics.

Bisnis bisnis true wireless earbuds diperkirakan semakin bersinar di tahun-tahun mendatang. Diperkirakan, akan terjual 1,2 miliar unit earbuds pada 2024 mendatang.

Di tangan Cook, Apple memang belum mengeluarkan produk “wah”. Namun, melalui AirPods (dan Watch) Cook sukses mempertahankan Apple untuk tetap menggondol banyak uang dari konsumennya, dan mengutip rilis media yang dibagikan Apple tatkala merilis AirPods, melalui AirPods, Apple sukses “mendefinisikan-ulang bagaimana manusia mendengarkan musik.”


 

 

© 2016-2021 Madzae

Personal project of Ahmad Zaenudin, Tirto.id's journalist

 

Redaksi | Kontak | Pedoman Media Siber | Privasi

Temukan di Google Play