Kian Mahalnya Acara TV

Dipublikasikan pada : 2017-01-19

Kian Mahalnya Acara TV


Elo udah nonton serial Sherlock terbaru? Atau udah nonton serial Stranger Things di Netflix? Yup, serial-serial TV dewasa ini memang menyuguhkan kualitas yang sebelas-duabelas dengan film layar lebar. Dengan kata lain, serial TV memiliki kualitas jempolan. Tentu gue ngga masukin sinetron ya.

Dengan meningkatnya acara-acara TV, terutama TV di luar negeri, ngga heran mereka harus mengeluarkan biaya yang ngga murah. Nivene Judah, seorang analis finansial dari Loyola University Chicago dalam blog-nya mengatakan bahwa rata-rata, biaya pembuatan serial di TV berkisar di angka $3,5 Juta. Scot Manville, seorang profesional di pertelivisian Amerika Serikat mengatakan bahwa acara-acara “talk show” membutuhkan uang sekitar $100 Ribu hingga $500 Ribu dalam tiap eposidenya. Tergantung pada siapa yang diundang dalam acara tersebut.

Acara-acara televisi di Amerika Serikat sana, dalam beberapa tahun mendatang, dipastikan memerlukan uang yang jauh lebih besar. Uang yang besar, tentu sebanding dengan pendapatan yang bisa mereka peroleh. Dikutip dari The Hollywood Reporter, pendapatan Fox, NBC, dan CBC meningkat cukup menjanjikan dan mengelabui para analis di Wall Street. Padahal, mereka bertiga harus patungan untuk membeli hak tayang NFL cukup tinggi, yakni $3,1 Milyar.

Pendapatan yang meningkat, disebut-sebut menjadi pemicu televisi di Amerika Serikat sana mau membayar lebih untuk membuat suatu program di televisinya. Benjamin Swinburne, dikutip dari The Hollywood Reporter mengatakan bahwa trend meningkatnya biaya acara di televisi, dipicu oleh 21st Century Fox dan CBS yang rela membayar mahal untuk membiayai program-program yang disiarkan di televisi milik mereka.

Todd Juenger, analis pertelivisian sebagaimana dikutip dari The Hollywood Reporter mengatakan bahwa “pengeluaran untuk konten meningkat, tapi sekarang akan dengan cepat mendapatkan keuntungan.”

Ya, acara TV berkualitas akan mendatangkan penonton yang royal pada televisi tersebut. Ditambah tentu saja, persaingan televisi dengan jaringan video streaming menjadi pemicu yang tidak bisa diremehkan. Netflix misalnya, mereka rela membayar mahal untuk membuat serial-serial yang berkualitas semacam Daredevil, Sense8, dan berbagai serial keren lainnya.

Jika TV masih ingin ditonton oleh masyarakat, mereka harus meningkatkan konten yang mereka tayangkan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Seperti biasa, pertelevisian di negeri ini kurang memperhatikan konten yang berkualitas. Alasannya? Mayoritas, penonton di negeri ini adalah penonton gratisan. Dalam artian, kecil sekali masyarakat yang menonton melalui jaringan TV kabel atau berbayar. Masyarakat Indonesia lebih mencintai TV “free to air.” Dan dengan demikian, TV juga tidak memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada TV kabel atau berbayar dalam menghadirkan konten berkualitas.

Jika sudah begini, lebih baik streaming saja bukan?


Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16


Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Dari Hadramaut, menuju wilayah yang kini kita sebut Indonesia.

2016-10-31