Star Wars Adalah Kisah Tentang Politik

Dipublikasikan pada : 2016-12-22

Star Wars Adalah Kisah Tentang Politik


Star Wars adalah kisah politik. Dan mengapa lo sangat benci dengan politik tapi menyukai serial Star Wars?

George Lucas, sang kreator Star Wars disebut-sebut sangat plural dan anti terhadap Nazi. Sikap tersebut ia tuangkan dalam serial Star Wars. Lo bisa lihat banyak bangsa dengan banyak ragam bentuk tubuh di Star Wars. Selain itu, ada banyak bahasa yang dituangkan dalam Star Wars. Meskipun ya, bahasa-bahasa tersebut hanyalah rekaan Lucas semata.

Star Wars, mengajarkan bineka pada para penikmatnya. Bahwa perbedaan, bukanlah sesuatu yang penting untuk dipermasalahkan. Ia, hanyalah sedikit bumbu dalam dunia yang sejatinya bisa dinikmata. Lihat Han Solo yang berkawan baik dengan Chewbacca. Mereka berbeda bentuk tubuh, bahasa, dan sifat, namun mampu hidup dalam keharmonisan dan bersama menjadi yang terbaik mengarungi planet-planet dengan Millenium Falcon.

Dan ya, Luke Skywalker berguru pada Master Yoda, seorang makhluk kecil namun memiliki kemampuan hebat. Star Wars mengajarkan kita, kebenaran dan keberanian, tidak ditentukan oleh warna kulit atau pun ukuran tubuh seseorang.

Siapa Empire? Chris Taylor dalam sebuah tulisan di Mashable mengatakan bahwa Empire adalah kekuatan “kulit putih.” Yang tidak suka dengan perbedaan dan cenderung menyalahkan “orang lain” dari tiap masalah yang mereka hadapi. Sedihnya, masalah-masalah yang menimpa Empire selalu ditujukan pada para pemberontak. Mereka lupa, dalam diri mereka sendiri memiliki permasalahan yang harus diselesaikan lebih dahulu. Ingat Death Star dibuat oleh seorang ilmuan yang justru tidak senang dengan Empire sendiri.

Empire adalah sosok Nazi dalam layar lebar. Stromtroopers adalah simbol swastika. Yang menakut-nakuti setiap orang di seluruh jagat Star Wars. Ketika orang-orang Yahudi melihat simbol swastika, rasa takut seketika menyelimuti mereka. Nah itulah juga yang dirasakan penduduk Republik misalnya. Rasa takut terhadap Empire seketika ada dalam diri mereka.

Stromtroopers hanyalah simbol. Ya hanyalah simbol. Ingat episode 2, saat versi awal Stromtroopers berpihak pada kebenaran. Itulah yang terjadi pada swastika Nazi. Swastika memang sekedar simbol. Dan simbol akan berarti tergantung pemilik simbol tersebut. Saat Hitler berkuasa, simbol tersebut berubah menjadi suatu bentuk kejahatan. Saat Empire berkuasa, simbol berupa Strotroopers berubah menjadi malapetaka.

Star Wars memang kisah tentang politik. Di mana yang memiliki dana, memang memiliki kemampuan untuk berkuasa. Ingat episode 1, Aliansi Dagang digunakan untuk menyerang Naboo yang merdeka. Ini sama dengan kisah kita tentang VOC. Hey, VOC hanya sekedar perusahaan waktu itu. Dan seiring berjalannya waktu, keterlibatan negara semakin besar dan semakin mendalam. Itu yang dilakukan Belanda dahulu.

Para politisi, lebih suka berdiri di atas kendaraan penguasaha daripada berjalan kaki sendiri. Kekuatan sumber daya, kekuatan uang, dan kekuatan yang hanya bisa terbeli oleh mesin-mesin perusahaan adalah suatu kenyataan yang tidak terpisahkan. Bagaimana Empire, dengan mendompleng aliansi dagang, mampu merebut kekuasaan. Yang merdeka dengan cara sebenarnya, takluk oleh kekuatan-kekuatan dana yang begitu besar. Persis seperti kehidupan perpolitikan. Mesin-mesin perusahaan, berubah menjadi sumber dana bagi para politisi untuk berkuasa. Saat kekuasaan diperoleh, ada aliran balik dana pada perusahaan-perusahaan tersebut.

Di negara mana pun di dunia ini, pemberontak adalah wabah yang harus dimusnahkan. Empire dengan segenap kekuatan, akan selalu menghancurkan curut-curut pemberontak.

Tapi, di sinilah kecerdikan Lucas.

Lucas nampaknya paham, kata “pemberontak” bukanlah kata saklek atau bukanlah kata yang kaku. Ia adalah kata yang dinamis, mengikuti tiap situasi. Saat Empire berkuasa, tentu kata “pemberontak” adalah kata yang buruk. Coba bayangkan bahwa pemberontak menang melawan Empire, siapa yang kemudian disebut “pemberontak” tersebut? Saat itu terjadi, “pemberontak” akan berubah menjadi penguasa, dan penguasa yang terjungkal akan berubah menjadi “pemberontak.”

Politik memang dinamis dan Star Wars masuk dalam kedinamisan itu.

Di tiap-tiap episode yang disajikan, Star Wars mampu membawa penontonya pada pemahaman perpolitikan yang lebih baik. Star Wars mengajarkan kita bagaimana berstrategi, menggunakan diplomasi terlebih dahulu, namun gagal dan kemudian menggunakan kekuatan militer.

Bahwa dunia ini dihuni oleh makhluk-makhluk berakal. Cara-cara diplomasi, atau bertukar pikiran tetaplah harus dikedepankan. Ini juga yang ada dalam serial Star Wars. Meskipun menggunakan kata “Wars” pada judulnya, serial ini tidak serta merta mengacungkan senjata dan membunuh tiap lawan-lawannya.

Berunding, berdialog, berdiksusi, bahkan pemungutan suara, adalah hal jamak dari Star Wars. Banyak keputusan-keputusan yang dilakukan oleh para pemberontak, diambil melalui metode demikian. Dan bagaikan dua sisi koin, Lucas pun menampilkan sisi sebaliknya. Empire hadir dengan kediktatoran. Suatu falsafah yang menghilangkan diskusi, dialog, berunding, apalagi pemungutan suara. Nampaknya Lucas hendak mengingatkan kita pilihan perpolitikan mana yang hendak kita ambil. Hidup dalam demokrasi atau hidup dalam kerangka kepemimpinan absolut.

Lagi-lagi, Star Wars memang kisah tentang politik.

Semoga Force bersamamu.


Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16


Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Dari Hadramaut, menuju wilayah yang kini kita sebut Indonesia.

2016-10-31