Ucapkan Selamat Tinggal Pada “Intel Inside”

Dipublikasikan pada : 2016-12-14

Ucapkan Selamat Tinggal Pada “Intel Inside”

Ilustrasi © Madzae


Tahu apa yang gue maksud dengan “intel inside”? Tagline tersebut gue dengar sudah sangat lama sekali. Sebuah iklan di televisi yang memberi tahu pemirsa bahwa komputer yang hebat, haruslah terdapat prosesor Intel di dalamnya, bukan yang lain. Sekarang kita kenal i7, dulu, kala tagline tersebut gue dengar, Intel baru mengembangkan prosesor terbarunya bernama Pentium4.

Tagline “intel inside” memang sangat masif dahulu kala. Kini pun sebenarnya masih sering diperdengarkan. Dan ya, Intel memang berhasil dengan strategi marketingnya tersebut. Komputer tanpa prosesor Intel di dalamnya, bukanlah sebuah komputer. Banyak orang-orang yang tidak mengerti apa itu prosesor, tahu apa itu Intel.

Kini, tunggu dulu. “Intel inside” rasanya kurang relevan lagi. Terutama jika kita berbicara dunia “komputer” secara lebih luas, misalnya mengaitkan juga dengan dunia smartphone, tablet, atau yang kini populer, internet of things. Adalah ARM yang menjadi ganjalan terbesar Intel.

Saat dunia belum mengenal smartphone, rasanya ARM adalah angin semilir saja bagi Intel. Kini, ialah yang diprediksi bisa menjungkir-balikkan dunia Intel. Dari penguasa, menjadi pecundang.

Membandingkan Intel dan ARM rasanya kurang pas. ARM, lebih cocok dibandingkan dengan x86, arsitekur di balik prosesor Intel. Jadi kira-kira begini, x86 vs ARM. Tapi, sebelum melangkah lebih jauh dan membahas mengapa Intel sepertinya akan hancur oleh ARM, mari kita simak apa sih x86 dan ARM tersebut.

x86 awalnya merupakan suatu arsitektur prosesor yang menggunakan “instuction set” 16-bit (kini 32 dan 64 it). “Instruction set” merupakan suatu, katakanlah, aturan-aturan bagaimana suatu prosesor melakukan perhitungan matematika dasar dan mengelola suatu data. Nah, aturan-aturan tersebut, telah “dipetakan” dalam bahasa yang dimengerti antara manusia dan komputer, yakni bahasa Assembly. Prosesor berbasis x86 dikembangkan dari desain CISC atau complex instruction set computing.

ARM sejatinya “sama” dengan x86. Namun, prosesor ARM dibuat mengikuti filosofi kesederhanaan suatu prosesor. Filosofi tersebut hadir dalam bentuk desain RISC yang dikembangkan oleh sebuah tim bernama Berkeley RISC. RISC merupakan siangkatan dari reduce instruction set computing. ARM sendiri merupakan singkatan dari Advance RISC Machine.

Jadi, perbedaan yang paling mencolok antara ARM dan x86 adalah dua hal. Pertama kekuatan prosesor itu sendiri. X86 dibuat untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat dan kompleks. Sedangkan ARM dibuat untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak terlalu rumit. Dengan demikian, perbedaan “pekerjaan” tersebut menghasilkan perbedaan selanjutnya atau perbedaan yang ke dua. Tak lain, konsumsi energi. Karena mengerjakan komputasi yang berat, rumit, dan banyak, prosesor x86 menyedot banyak energi, sedangkan ARM sebaliknya.

Tapi Mike Bell, salah satu petinggi Intel mengatakan bahwa sejatinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara x86 dengan ARM. Tiap orang harus memilih, antara hemat energi, kekuatan besar, atau keduanya.

Yang membedakan lainnya dari x86 dan ARM adalah perlakukan antara keduanya. Intel sangat konservatif dengan arsitektur x86 mereka. Meskipun membuat prosesor baru, mereka “hanya” memberi kode unik tertentu saja pada prosesor baru buatan mereka. Artinya, Intel yang sekarang tetaplah Intel yang dulu. Tak ada perbedaan mendasar dari arsitektur mereka. Namun ARM memiliki pendekatan berbeda. Karena pada dasarnya ARM menggunakan desain sederhana, maka kesederhanaan tersebut dapat “diperkaya” dengan berbagai tambahan. Maka, akan banyak cabang-cabang dari prosesor ARM ini. Misalnya Samsung Exynos, Qualcomm Snapdragon, Nvidia Tegra, dan tentu saja Apple A7.

Macam-macam prosesor ARM tersebut, terkadang saling “tidak mendukung” antara satu dengan yang lainnya. Inilah salah satu PR dalam dunia ARM.

Dan kembali ke awal. Mengapa gue katakan Intel (mungkin) akan hancur di masa depan? Jawabannya tak lain adalah kabar terlaru dari Microsoft. Microsoft, perusahaan ciptaan Bill Gates tersebut, berhasil menguji coba Windows 10 buatan mereka, berjalan mulus di atas prosesor ARM.

Bukannya udah ya? Tunggu dulu, kali ini Microsoft berhasil menjalankan versi asli atau murni dari Windows 10 mereka. Bukan versi “terjemahan” yang dulu, di zaman Windows 8 telah mereka pasarkan pada publik, namun gagal.

Di uji coba yang dilakukan, Microsoft berhasil menjalankan Windows berbasis ARM, tepatnya menggunakan prosesor Snapdragon bikinan Qualcomm, dengan beragam aplikasi khas Windows. Sebut saja Microsot Word, Adobe Photoshop, dan bermacam Game PC.

Yup, bener. Adobe Photoshop bisa jalan di Windows berbasis ARM. Suatu pencapaian yang luar biasa. Lo tahu kenapa Linux kurang populer? Karena ngga ada Photoshop di Linux. Nah sekarang, Photoshop ada di Windows ARM. Ngapain lagi pake Intel yang boros energi dan , yup, harganya terbilang mahal?

Dan meskipun prosesor Intel dapat dikatakan telah lebih ramah terhadap konsumsi energi, namun ARM tetaplah berjaya di sektor ini. Apalagi, dunia komputer kini jauh lebih menaruh perhatian pada perangkat-perangkat mobile yang tentu membutuhkan konsumsi daya yang hemat.

ARM pun nampaknya melangkah lebih jauh dari pada prosesor bikinan Intel. Selain hemat daya, kini mereka mampu menggabungkannya dengan kekuatan yang juga bertenaga. Lihat bagaimana iPad Pro yang menggnakan prosesor bikinan Apple sendiri yang berbasis ARM.

Harus diingat pula, prosesor ARM jauh lebih murah dari pada prosesor x86 buatan Intel. Prosesor buatan Intel, tentu hanya Intel-lah sendiri yang menentukan. Segala desain dan tetekbengek, dipikirkan hanya oleh Intel. ARM berbeda. Ada banyak varian prosesor ARM dengan berbagai perusahaan di belakangnya.

Dan tentu saja, alih-alih terus tergantung pada Intel untuk memenuhi kebutuhan prosesor Macbook, tentunya Apple akan memikirkan prosesor buatannya sendiri untuk lini Macbook mereka. Ingat, Apple pernah “berkhiatan”dan beralih pada Intel melalui Macbook. Suatu hal yang sangat mungkin bila kelak, Apple akan mencampakan Intel.

Artinya, kita memiliki cukup banyak variabel mengapa Intel akan ditinggalkan dan akan hancur kelak. Pertama hemat daya, murah, dan kian bertenaganya ARM. Ke-dua, keberhasilan Microsoft menjalankan versi asli Windows mereka dibuktikan dengan berhasilnya Adobe Photoshop dijalankan, dan ke-tiga ARM memberikan kebebasan bagi tiap perusahaan teknologi untuk berkreasi jauh lebih “liar’ dari pada yang diberikan Intel.

Nah bagaiman dengan Intel? Apakah mereka akan melawan “nasib” tersebut? Jawabannya sangat mungkin. Ingat, Intel saat ini masih dipersepsikan sebagai perusahaan pembuat prosesor bertenaga terbaik. Inovasi, dengan patokan hemat energi, nampaknya harus segera dilakukan. Ingat, dunia kini jauh lebih mobile. Orang-orang lebih suka membawa laptop mereka ke suatu kafe untuk mengerjakan tugas dari pada duduk di rumah menggunakan komputer desktop yang tidak terlalu memusingkan daya listrik.

Tingkah laku manusia modern terhadap teknologi berubah, saatnya Intel untuk ikut juga dengan perubahan ini.


Baca Juga

    Laknatnya Rusia dan Ketakutan Amerika
    Mari Berkenalan Dengan Google DeepMind, AI yang Bisa Bermimpi
    Renyahnya Manfaat Tempe

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16