Terorisme Gaya Baru

Dipublikasikan pada : 2016-12-30

Terorisme Gaya Baru

Ilustrasi © Madzae


Di dekade tahun 1980an hingga memasuki dekade 2000an, terorisme didominasi oleh nama Al Qaeda. Hampir semua serangan terosme yang terjadi di Indonesia, langsung memiliki hubungan dengan organisasi di Timur Tengah tersebut. Anggota-anggota teroris di Indonesia, pernah mengeyam “pendidikan” di sana. Dalam definisi lain, terorisme di Indonesia saat itu, merupakan kepanjangan langsung dari Al Qaeda.

Di Indonesia, organisasi yang berafiliasi langsung dengan Al Qaeda adalah Jamaah Islamiyah pimpinan Abu bakar Ba’asyir. Organisasi tersebut memiliki anggota seperti Dulmatin, Azhari Husin, dan Noordin M Top.

Segala serangan terorisme yang terjadi saat itu, “direstui” dan sepengetahuan Al Qaeda.

Tapi semua telah berubah karena internet.

Ledakan media sosial dan layanan pesan instan terenkripsi mengubah peta terorisme di dunia, termasuk juga di Indonesia. Ditambah, konflik di Timur Tengah di tahun 2011 mengubah jalannya terorisme dunia. Puncaknya, di tahun 2013 ISIS atau NIIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi lahir.

ISIS atau NIIS menggunakan internet sebagai media propaganda mereka. Serangan-serangan terorisme yang dilakukan di dunia kini, tidak memiliki hubungan langsung dengan mereka. Lebih tepatnya, sangat jarang sekali teroris kini, berkontak langsung atau tatap muka dengan ISIS atau NIIS di Timur Tengah. Termasuk juga di Indonesia.

Meskipun juga harus diingat, banyak simpatisasn ISIS di Indonesia yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

Detasemen Khusus 88 di tahun 2016 setidaknya berhasil menangkap 5 pelaku terorisme. 5 orang tersebut adalah pelaku terorisme anak-anak. ABS (17) pelaku pembuat bom serangan Thamrin, FL (14) pelaku menyembunyikan teroris, IAH (17) pelaku bom gereja di Medan, RP (16) pelaku pembuatan bom gereja di Medan, dan GA (16) pelaku membantu membeli bahan bom gereja di Medan.

Anak-anak muda tersebut, tidak berkontak langsung dengan ISIS. Mereka terpapar propaganda ISIS melalui internet, tepatnya melalui media sosial. Ideologi-ideologi terorisme, disebarkan oleh ISIS melalui medium internet dan anak-anak muda tersebut, terpengaruh dengan hal demikian.

Anak muda, dalam berbagai kajian psikologi, merupakan kelompok yang sangat rentan dengan berbagai propaganda. Mereka mencari jati diri untuk meneguhkan posisi mereka di dunia. Dan ISIS, masuk pada anak-anak muda tersebut dan mengambil jati diri mereka.

Segala tetek-bengek pembuatan bom, juga diajarkan melalui internet. Pesan instan terenkripsi, sangat digemari oleh terorisme gaya baru tersebut karena sukar dideteksi oleh aparat penegak hukum setiap negara di dunia. Bahkan, FBI kesulitan mengakses data-data digital pelaku terorsme di Boston karena kecanggihan teknologi, terutama di ranah enkripsi.

Fenomena demikian, akhirnya melahirkan istilah “digital extremism” suatu ideologi ekstrimis yang disalurkan melalui kanal-kanal digital sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak pemuda-pemuda di dunia, yang sehari-hari terlihat sebagai pemuda biasa, bisa berubah menjadi teroris gara-gara paparan digital tersebut.

“Digital extremism” melahirkan gaya baru dalam serangan terorisme di dunia. Gaya tersebut diberi nama “lone wolves” atau teror tunggal.

“Lone wolves” diartikan sebagai teror tunggal dari individual yang memiliki hubungan kurang substansial pada ISIS atau organisasi teroris lainnya dan melakukan serangan tanpa asistensi dari organisasi teroris apa pun.

Bisa dikatakan, gaya baru terorisme ini merupakan suatu “remote intimacy” atau keintiman terpencil bagi para orang-orang yang terpapar terorisme dengan “idola” mereka di Timur Tengah.

Dengan berhubungan melalui medium internet, mereka menggap sebagai kesatuan bagian dari ISIS.

Mohamed Lahouaiej Bouhlel, seorang Tunisia yang melancarkan serangan menggunakan Truk di Nice Perancis saat perayaan hari Bastille yang menewaskan sekitar 80 orang adalah contoh nyata dari gaya “lone wolves.” Serangan-serangan lain seperti di Wurzburg dan Ansbach, Jerman adalah serangan-serangan dengan gaya serupa.

Propaganda ISIS melalui mesia sosial dan kanal-kanal internet lainnya, susah dibendung oleh siapa pun termasuk aparat penegak hukum. Berselancar di dunia maya dengan perangkat yang dimiliki sendiri adalah suatu keintiman bagi setiap orang.

ISIS dengan cerdik, memanfaatkan hal demikian. Alih-alih mengajak para pengikutnya datang dan berjuang di Suriah, ISIS lebih memilih menyebarkan ideologinya melalui dunia maya. Dan mereka mengajak para pengakses propagandanya, melakukan serangan-serangan di wilayah mereka.

Akibatnya, banyak serangan-serangan di kota-kota di dunia yang memiliki pertalian rumit. Institute for Econimics and Piece di tahun 2015 mencatat ada sekitar 28 negara yang terkena serangan terorisme.

Dunia, kesulitan menumpas terorisme model seperti ini.

Meskipun perkembangan kini ISIS kian terdesak di Irak dan Suriah, toh ideologi yang mereka sebarkan di dunia maya tetap eksis dan mampu diakses siapa pun. Internet, tak mengizinkan suatu hal yang telah “diposting” atau diunggah, terhapus begitu saja. Siapa pun, bisa menggandakan atau mengulang-ulang postingan-postingan ideologi sesat ISIS. Inilah kecerdikan ISIS sebenarnya yang susah diantisipasi siapa pun.

Tentu, teroris harus ditanggulangi dan dilenyapkan. Ideologi kontra terorisme harus segera diluncurkan melalui kanal-kanal yang digunakan ISIS. Dan berharap, anak-anak muda yang mengakses, mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk.


Baca Juga

    Ruang, Waktu, dan Penjelasan Sederhana Dimensi 4 Dalam Film Interstellar
    Renyahnya Manfaat Tempe
    Penghapusan UN dan Pendidikan Finlandia

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16