Siri: Harga Diri dan Kehormatan Orang Bugis

Dipublikasikan pada : 2016-11-25

Siri: Harga Diri dan Kehormatan Orang Bugis

Ilustrasi © Madzae


Gue ngga ngomongin artificial intellegent yang dikembangin sama Apple dan ada di iPhone kalian-kalian. Gue ngomongin Siri, yang dalam bahasa Bugis berarti malu, atau era, atau isin, atau rek, atau hiya.

Siri merupakan hal yang sensitif dan rentan bagi orang-orang Bugis. Siri, diibaratkan sebagai “sumange” atau energi kehidupan. Siri, menitikberaktan pada tingkat laku, sistem sosial, dan “way of life” masyarakat Bugis.

Siri, merupakan suatu konsep atau gagasan tentang rasa malu. Malu terhadap apa? Kehormatan. Siri, lebih lekat dihubung-hubungkan terhadap perempuan Bugis. Bagi masyarakat Bugis, perempuan bukan sekeder mahkota, tapi suatu hal sakral yang harus mereka lindungi dan mereka jaga.

Perempuan Bugis, bukan hanya status gender semata, melainkan pula suatu simbol bagi kehormatan. Jika perempuan Bugis dilecehkan, berarti satu keluarga perempuan tersebut juga dilecehkan. Dan siapa pun dalam keluarga tersebut, sudah sepatutnya memberikan perlawanan atas pelecehan yang mereka terima.

Oleh karena itu, di Bugis ada pepatah yang berbunyi “cella’topi na doang” yang berarti “apa artinya hidup, jika tanpa kehormatan.”

Dan orang-orang yang tidak memiliki kehormatan, sama saja seperti “tenara ni’rupa tau” atau bukan merupakan manusia bermartabat.

Konsekuansi dari budaya Siri dalam masyarakat Bugis adalah begitu ketatnya mereka menjaga perempuan-perempuan Bugis. Mereka tidak mau kecolongan dan membiarkan kehormatan mereka diumbar ke mana-mana.

Budaya Siri, sejatinya merupakan sistem nilai yang sangat bagus. Ada rasa saling menjaga dalam satu keluarga antara satu dengan yang lainnya. Namun, dewasa ini, sistem nilai seperti Siri seakan tergerus oleh arus modernitas yang kian menghajar nilai-nilai sosial yang telah lebih daulu hidup di masyarakat.

Hmn, gimana, apakah kalian-kalian telah menjaga rasa malu dengan baik?


Baca Juga

    Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?
    Hey, Kami Menjual Tradisi!
    Benang Kusut Pembajakan Konten

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16