Seberapa Mahal CGI?

Dipublikasikan pada : 2016-12-13

Seberapa Mahal CGI?

Ilustrasi © Madzae


Pernah menonton film-film superhero jauh sebelum Marvel Cinematic Universe atau DC Extended Universe dibuat? Bagaimana rasanya? Menggelikan, aneh, murahan, dan mungkin bikin ketawa.

Superhero kini adalah film dambaan setiap orang. Bukan hanya bagi para penonton, tapi bagi para bintang kelas dunia. Dulu, bintang Hollywood enggan jika diajak untuk bergabung memerankan tokoh superhero. Alasannya, baca dan resapi awal tulisan ini.

Film superhero bukan film biasa. Karena diadaptasi dari komik, yang mengizinkan si pengarang untuk berimajinasi seliar-liarnya, membuat film superhero adalah pekerjaan yang teramat susah. Untungnya, kini manusia mengenal mesin bernama komputer. Dan komputerlah yang menolong dunia superhero jadi semenarik sekarang.

CGI atau Computer Generated Imagery merupakan teknologi di belakang film-film menakjubkan yang hadir di bioskop-bioskop kesayangan kita. Apa itu CGI? Untuk lebih mudah dan sederhana, bayangkan suatu animasi dibuat secara tradisional (ala Ghibli). Nah untuk membuat animasi, perlu berlembar-lembar gambar yang hampir sama namun dibedakan di mana pergerakan akan ditampilkan. Dan setelahnya, suatu ilusi gerakan akan nampak kita lihat saat melihat kumpulan gambar tersebut digerakkan. Nah CGI, kurang lebih merupakan proses demikian. Namun dibantu sebuah alat bernama komputer. Tentu dengan indikator-indikator yang jauh lebih kompleks dan rumit.

Tapi, untuk membuat sebuah film sekelas Iron Man misalnya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terutama untuk membiayai CGI yang memang sangat mahal. Lalu, berapa mahal CGI untuk sebuah film sekelas Batman v Superman dan lainnya? Sebelum menjawab seberapa mahal CGI, baiknya kita lihat dahulu sejarah singkat CGI dari dulu hingga sekarang. Dan tentu saja, CGI bukanlah teknologi yang “ujug-ujug” datang ke dunia. CGI datang melalui proses panjang dan perlahan-lahan dari dahulu, hingga kini, dan bahkan hingga nanti.

Jauh sebelum orang tahu apa itu CGI, baiknya kita berkenalan dulu dengan seorang seniman bernama Filippo Brunelleschi. Di awal abad ke 15, Brunelleschi memperkenalkan dunia dengan gambar perspektif. Ia membuat serangkaian aturan bagaimana membuat gambar perspektif yang baik dan benar. Gambar perspektif adalah inovasi besar di bidang seni. Dengan perspektif, gambar yang dibuat akan jauh lebih hidup karena gambar perspektif, meniru mata manusia saat melihat suatu objek.

Selanjutnya seorang Matematikawan bernama Albert Durer melengkapi pekerjaan Brunelleschi. Ia, membuat hitung-hitungan matematika gambar perspektif yang telah ditemukan sebelumnya. Dari pijakan ini, Matematikan dan Seni, telah bersama-sama menciptakan dunia yang baru.

Matematika adalah pondasi dunia komputer. Dengan menggabungkan gambar perspektif dan matematika, komputer maju ke tahapan selanjutnya. Ialah HP atau Hewlett Packard yang berhasil membuat suatu frekuensi menggunakan komputer yang mereka ciptakan. Oke, jika hanya frekuensi yang dibuat apa hebatnya? Yup, mereka bukan hanya membuat suatu frekuensi saja, melainkan telah mampu menampilkan frekuensi tersebut ke dalam suatu grafis menakjubkan di layar komputer. Kemudian, frekuensi tersebut diberi nama “oscilloscope.” kira-kira, inilah pijakan awal antara seni, matematika, dan komputer berkolaborasi yang kelak akan melahirkan sebuat teknologi bernama CGI.

Setelah pencapaian tersebut, dunia komputer terus berkembang. Di tahun 1950, Ben Laposky membuat suatu pola menggunakan komputer. Ia mengembangkan oscillopscope yang sebelumnya telah diciptakan. Laposky menamai pola yang ia buat sebagai “electronic abstract.”

Selanjutnya, John Whitney pada tahun 1961 membuat film warna berdurasi 7 menit berjudul Catalog. Film pendek tersebut, ialah film experimental pertama yang dibuat seluruhnya menggunakan komputer.

Dan untuk menggairahkan dunia grafis komputer, seorang ilmuan dari MIT menciptakan software bernama Sketchpad. Software yang membantu para seniman, menggambar di sebuah komputer. Kira-kira software tersebut seperti Adobe Illustrator atau CorelDraw yang kita kenal sekarang.

Paul Delorache, seorang seniman, mengatakan bahwa “setiap seniman membutuhkan ini” ia merujuk pada dunia komputer dan fotografi yang telah berkembang sedemikian pesat.

Puncak dari keintiman antara komputer dan dunia seni, adalah saat film animasi Toy Story di tahun 1995 hadir di bioskop. Toy Story, merupakan film animasi panjang berbasis komputer pertama yang dibuat. Selain itu, film-film seperti Jurassic Park karya Steven Spielberg dan Avatar karya James Cameron merupakan film-film yang menjadi pertanda bahwa dunia film telah berubah haluan dari sisi teknik pembuatannya. Film, bukan semata-mata kerja aktor dengan sang sutradara, melainkan juga kerja para ahli-ahli komputer dari berbagai bidang pendalamannya.

Tunggu, apakah film animasi dan CGI sama? Secara fundamental ya, sama. Tapi tentu CGI membutuhkan satu teknik yang jauh lebih mendalam. Pada dasarnya, CGI adalah animasi, baik 2 maupun 3 dimensi. CGI yang dipergunakan dalam film The Lord of the Rings, memerlukan teknik yang jauh lebih realistik dari CGI yang digunakan di film “kartun” Tintin karya Steven Spielberg. Tapi jangan terkecoh dengan animasi yang dibuat menggunakan Adobe Flash atau ToomBoom. Meskipun menggunakan komputer, Adobe Flash dan sejenisnya, sejatinya hanyalah teknik lanjutan dari animasi tradisional.

Dan kembali ke pertanyaan yang sempat disinggung di awal, berapa harga CGI?

Gue ngga bakalan menyebut angka pasti untuk itu. Tapi, marilah mengira-ngira berapa para petinggi studio di Hollywood membayar untuk mempergunakan teknologi CGI di film-film yang mereka buat.

Frozen, film animasi yang diproduks Disney, membutuhkan sekitar 500 orang untuk membuat tokoh-tokoh di film tersebut nampak hidup dan menghibur para penonton di seluruh dunia. Dari informasi yang berkembang (pamali bicara tentang gaji), orang-orang yang berada di balik CGI dibayar sangat mahal oleh studio. Ditambah, mereka mengerjakannya bukan hanya sehari-dua hari, melainkan berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

Studio animasi Pixar bahkan pernah mengatakan bahwa proses pengerjaan satu film animasi, setidaknya menghabiskan 3 hingga 5 tahun. Lo tinggal kalikan gaji bulanan “digital artist” yang lumayan itu, dengan lamanya proses pembuatan satu film. Besar bukan?

Film Iron Man 3, memperkerjakan lebih dari 3.000 orang untuk menggarap film mereka. Salah satu alokasi terbesar para pekerjanya, digunakan untuk mendukung efek-efek khusus di film tersebut. Bahasa sederhanya, mereka banyak bekerja di sektor CGI film tersebut. Selain membayar mahal bintang Hollywood sekelas Robert Downey Jr, tentu membayar gaji pekerja lebih dari 3.000 orang bukanlah hal yang murah. Ditambah, mereka bekerja berbulan-bulan.

Selain itu, CGI mahal juga karena teknologi yang mahal. Memang, komputer sekarang semakin murah, tapi CGI memerlukan komputer super, bukan komputer yang lo pakai saat membaca tulisan ini tentunya.

Weta Digital, perusahaan yang mengerjakan efek-efek CGI di film-film Hollywood yang berbasis si New Zealand ini salah satu contoh mahalnya teknologi pendukung CGI. Perlu diketahui dulu, Weta Digital adalah perusahaan di balik efek-efek brilian di film The Lord of the Rings, X-Men The Last Stand, King Kong, dan masih banyak lagi.

Oke, dalam mengerjakan efek spesial di film-film Hollywood yang dikerjakannya, Weta Digital didukung oleh kumputer yang khusus dibuat untuk mengerjakan hal tersebut. Weta Digital, memmiliki unit komputer “rakitan” dengan 40.000 prosesor atau inti komputer di dalamnya dan didukung oleh 104 TB memori. Sungguh komputer yang istimewa bukan?

Sebagai analogi, jika komputer super tersebut digunakan untuk me-render film Avatar karya James Cameron, komputer tersebut harus melakukan 1,4 juta computer task per hari. Nah, computer task tersebut, menghasilkan 8GB data per detik. Dan si komputer harus mengerjakannya lebih dari sebulan untuk menyelesaikan renderring film Avatar tersebut.

Tunggu, apa itu render? Analogi sederhanyanya begini, saat lo membuat kue ulang tahun, lo perlu banyak bahan dan peralatan tentunya. Nah, untuk membuat kue yang lo bikin dengan teknik tertentu dan adonan tertentu bisa dimakan, lo harus memasukkan kue tersebut ke dalam oven untuk dipanggang. Kira-kira, rendering dalam film berarti “memanggang” film-film yang masih mentah di dalam komputer untuk bisa “dimakan” para penontonnya di bioskop.

Senada dengan apa yang terjadi di Weta Digital, di studio Pixar pun hampir-hampir mirip. Untuk me-render Monsters University, mereka memerlukan 2.000 komputer yang dijalankan bersama-sama. Nah me-render tersebut, menghasilkan sebuah film Monsters University dengan “berat” sebesar 250GB. Lo mau download film di Ganool segede itu file-nya?

Lalu, bagaimana jika komputer lo yang harus mengerjakan tugas ini? Kira-kira dibutuhkan 10.000 tahun lamanya kalau lo mau nge-render film Monsters University menggunakan komputer standar. Itu bukan perkiraan gue, melainkan perkiraan Sanjay Bakshi, salah satu petinggi di studio animasi Pixar.

Nah, dua alasan di ataslah yang membuat film-film yang menggunakan teknologi CGI teramat mahal. Perkara jumlah pegawai dan teknologi yang dipakai, menjadi peranan sentral di sini. Makanya, agak sulit mengharapkan film-film non-Hollywood untuk ikut juga dalam arena film berteknologi CGI, terutama tentu film-film Indonesia. Karena membayar teknologi CGI-nya saja, sama dengan membuat 2 sampai 3 film berikut biaya promo-promonya bagi film Indonesia.

Tapi jangan bersedih dulu. Belajar CGI tentu jauh lebih murah bukan? Belajarlah dan berisap-siaplah bergabung dengan dunia film-film spektakuler Hollywood.


Baca Juga

    Bagaimana Rusia Meretas Amerika Serikat
    Perkasanya Google, Pukulan Telak Microsoft, dan Semakin Brengseknya Apple
    Melihat Kondisi Media Dari Kacamata SpongeBob

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16