Perkasanya Google, Pukulan Telak Microsoft, dan Semakin Brengseknya Apple

Dipublikasikan pada : 2016-10-30

Perkasanya Google, Pukulan Telak Microsoft, dan Semakin Brengseknya Apple

Ilustrasi © Madzae


Baru-baru ini, setidaknya tiga raksasa teknologi dunia memperbarui portofolio produk mereka. Google dengan smartphone Pixel, Microsoft dengan Surface Studio + Surface Dial, serta Apple dengan Macbook Pro yang diperbarui.

Dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, perhatian terhadap Apple selalu menjadi yang paling besar. Padahal, di tahun ini, menurut gue gadget terbaru Apple hanyalah sekedar banyolan di dunia teknologi semata, tidak lebih dan tidak kurang.

Apple harusnya melihat ke belakang, maksud gue, melihat beberapa hari sebelum mereka meluncurkan Macbook Pro terbaru. Melihat ke arah Google dan tentu saja ke arah Microsoft. Coba tengok Google. Google, perusahaan yang dikenal sebagai penyedia jasa berbagai kebutuhan internet, mulai dari mesin pencari, e-mail, penyimpan cloud, dan berbagai layanan-layanan lainnya, sedang mencoba masuk ke ranah yang selama ini hanya dikuasai oleh Apple. Apalagi kalau bukan soal membuat perangkat canggih nan bergengsi dan (tentu saja) mahal.

Perkara membuat perangkat canggih bagi Google bukanlah yang pertama. Kalau lo mau googling, sudah cukup banyak gadget yang ditelurkan oleh Google. Sialnya, cap murahan dan kurang berkelas masih menyelimuti produk-produk bikinan Google.

Gadget bikinan Google vs gadget buatan Apple, tidaklah sebanding.

Tapi itu dulu.

Lahirlah Pixel. Smartphone besutan Google. Desain elegan yang didukung oleh jeroan terbaik di kelasnya, membuat permainan berubah haluan. Apalagi di tahun yang sama, Apple tidak melahirkan iPhone yang benar-benar baru. Bagi gue, ibaratnya lo punya celana jeans bekas dan membawanya ke tukang “vermak levis” untuk memperbaiki celanan tersebut. Nah demikianlah yang dilakukan Apple. Lagi-lagi, apa yang bisa dibanggakan dengan smartphone yang sekedang menghilangkan colokan headset dan harus mengganti dengan earpod seharga $159?

Tanpa perlu diuji di hadapan juri, di bidang smartphone, Google berhasil mencabik-cabik Apple di tahun ini. Orang bahkan banyak yang menyebut, “Google made iPhone atau Google’s iPhone” atau kalimat-kalimat lainnya yang menyatakan bahwa iPhone terbaru bukanlah iPhone 7 plus dari Apple seharga $769, tapi Pixel senilai $869 dari Google. Itu di dunia smartphone atau telepon selular pintar.

Di dunia perkomputeran, per-laptop-an, dan sejenisnya tengoklan Microsoft. Baru-baru ini, mereka melahirkan produk yang dinamai Surface Studio. Bagi gue, selama ini produk-produk Microsoft selalu berkonotasi dengan kerja kantoran, formal, kaku, dan sejenis. Sedangkan produk-produk Apple berkorelasi dengan dunia desain, informal, kreatifitas, dan sebagainya.

Itu dulu. Kehadiran Surface Studio mengubah jalannya peta persaingan. Microsoft benar-benar berhasil mengokupasi wilayah yang selama ini dikuasai Apple. Surface Studio adalah dambaan setiap pekerja kreatif. Sebuah komputer yang handal dengan segala jeroan yang sangat mumpuni dan bisa diandalkan, sekaligus desain yang cantik yang (mungkin) bisa merangsang kreatifitas penggunanya. Yang menjadi cacat mungkin hanyalah soal kocek yang diperlukan untuk menebus Surface Studio, duit $3,000 ditambah $100 untuk Surface Dial, tentulah cukup merepotkan untuk dikeluarkan.

Di sisi lain, tepat sehari setelah Microsoft meluncurkan jajaran Surface. Apple meluncurkan Macbook Pro terbaru mereka. Namun, kekecewaan justru datang setelahnya. Sekedar menambahkan touch bar dan menghilangkan tombol F atau fungsi (petaka bagi programmer), serta hanya menghadirkan port USB-C bukanlah suatu yang patut untuk dibanggakan. Apalagi seseorang yang ingin meminangnya harus mengeluarkan mahar senilai $2,799.

Ada kecurigaan yang beredar setelah seringnya Apple menghilangkan berbagai fitur-fitur yang lazim ditemui dalam sebuah perangkat (misalnya colokan headset/earphone, USB, ethernet, dll) tak lain hanyalah sekedar strategi bisnis semata. Dengan banyak fitur yang harusnya ada tapi tidak ada, Apple bisa membuat aksesoris tambahan dan tentu menjadikannya ladang bisnis yang menggiurkan.

Namun, Apple tetaplah Apple. Google dan Microsoft nampaknya masih harus bersabar. Coba tengok paragraf ke-dua tulisan ini. Apa pun yang terjadi, Apple tetaplah menjadi seorang bintang (yang brengsek).

Media teknologi dunia serta kanal-kanal teknologi di Youtube, jauh lebih riuh mendiskusikan produk-produk anyar Apple (setidaaknya ini menurut penelitian abal-abal gue ya) daripada produk-produk revolusioner dari Google maupun Microsoft.

Sihir Apple masih belum berakhir. Produk-produk Apple dengan harga yang kemahalan, masih menjadi minat para penikmat teknologi.

Mungkin karena Apple selalu konsisten menjual produk berkelas, sementara Microsoft maupun Google, bermain di semua kelas ekonomi. Tapi tetap harus diingat. Di jagat teknologi, produk revolusioner tetap akan mempu membuat kisahnya sendiri. Bagi gue, kisah yang ditulis iPhone maupun Macbook sudah terjadi di tahun-tahun lalu. Sialnya, Apple sepeninggalan Jobs bukanlah Apple yang sesungguhnya.

Mungkin, dalam lima tahun ke depan, persaingan hanya menyisakan Google dan Microsoft semata. Dan itu terjadi jika Apple hanya membuat produk “bergengsi dan kemahalan” semata. Persis seperti yang mereka lakukan saat ini. Dasar brengsek!


Baca Juga

    Ngisep Ganja di Amerika
    Harga Sesungguhnya "Layanan Streaming"
    Perkasanya Google, Pukulan Telak Microsoft, dan Semakin Brengseknya Apple

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16