Penista Agama Itu Bernama Negara

Dipublikasikan pada : 2016-12-05

Penista Agama Itu Bernama Negara

Ilustrasi © Madzae


Perbincangan tentang agama, meningkat belakangan ini. Terutama mengenai “penistaan agama” terhadap agama tertentu. Tapi hey. Bukankah (penganut) agama satu dengan yang lain saling menistakan di tempat ibadahnya dan di forumnya masing-masing?

Di Indonesia, kisah mengenai agama telah terantang panjang bahkan melampaui usia negeri ini sendiri. Silih berganti, berbagai agama menguasai negeri ini. Dan hari ini, kita memang telah menjadi negara dengan jumlah penganut Islam terbesar di dunia, mengalahkan Arab Saudi, tempat di mana agama tersebut lahir.

Dari enam agama yang diakui oleh negara di Indonesia, semuanya merupakan agama-agama yang diimpor ke Indonesia. Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghuchu merupakan agama-agama yang lahir di luar Indonesia. Meskipun harus kita akui bahwa agama, tidak mengenal batas-batas yuridiksi sebuah wilayah atau negara.

Kalau kita berbicara mengenai masalah-masalah impor, tentu juga ada hal-hal yang berkaitan dengan “lokal.” Di Indonesia, ada beragam agama lokal yang hingga kini dianut sebagian warga Indonesia. Mulai dari Sunda Wiwitan oleh Orang Baduy, Kaharingan oleh Orang Dayak, Parmalim oleh Orang Batak, Kejawen oleh Orang Jawa, Arat Sabulungan oleh orang Mentawai, Marapu oleh Orang Sumba, dan berbagai agama-agama lainnya.

Celakanya, agama lokal yang dianut beberapa warga negara Indonesia tersebut tidak diakui keberadaannya oleh negara. Padahal, agama tersebut telah ada jauh sebelum Indonesia sendiri lahir. Dan tentu saja, para penganut agama-agama tersebut, juga membantu negeri yang sekarang kita sebut Indonesia, ikut melawan penjajahan.

Lalu, mengapa negeri ini tidak mengakui mereka dan lantas hanya mengakui agama-agama impor semata? Sebelum menjawab, ada baiknya kita ikuti kisah beberapa agama lokal berikut ini.

Marapu

Marapu adalah kepercayaan asli bagi Orang Sumba di Nusa Tenggara Timur. Marapu berasal dari dua kata, yakni Ma yang berarti “yang” dan Rappu yang berarti “dihormati atau disembah.” Tahu Pasola? Sebuah upacara adat yang sering diberitakan di acara-acara wisata di televisi? Nah sebenarnya, Pasola merupakan salah satu ritual keagamaan Orang Sumba. Pasola merupakan upacara dalam bentuk perang-perangan. Gunanya sebagai bentuk permohonan agar Orang Sumba bisa panen dengan baik. Permohonan kepada siapa? Terutama kepada roh nenek moyang mereka.

Marapu selayaknya Islam yang memiliki Ramadhan. Untuk agama Marapu, mereka mengenal bulan suci yang bernama Wula Padu. Saat bulan suci datang, haram hukumnya mengadakan pesta. Kegiatan yang semestinya ereka lakukan adalah berkumpul bersama keluarga di rumah-rumah tetua adat mereka.

Arat Sabulungan

Arat Sabulungan merupakan suatu kepercayaan yang eksis di wilayah Mentawai, suatu pulau yang bisa ditempuh dari pesisir Padang di Sumatera.

Dalam kepercayaan Arat Sabulungan, mereka lebih mencoba memahami dan mengintrepetasi keadaan lingkungan tempat tinggal mereka. Oleh karenanya, dalam kepercayaan Arat Sabulungan, terdapat norma atau nilai yang berkaitan erat dengan hubungan manusia dengan lingkungan sekitar, seperti pada tumbuhan, hewan, bahkan benda-benda mati sekali pun.

Arat Sabulungan berarti adat (arat) dan daun-daunan (sabulungan). Atau, secara meneluruh disebut adat daun-daunan. Mengapa disebut demikian, karena daun bagi Orang Mentawai merupakan tempat roh berkumpul. Daun, amat sangat sering mereka gunakan dalam berbagai bentuk upacara keagamaan.

Dalam kosmologi kepercayaan Arat Sabulungan, mereka mengenal dunia dalam dua bentuk, nyata dan tidak nyata. Dan untuk menjaga keharmonisan dua bentuk dunia, mereka mengenal Sikerey atau Kerey, atau dukun, sebagai perantara tersebut. Dunia yang harmonis, ialah dunia yang bisa menjaga hubungan antara nyata dan tidak nyata.

Dalam kepercayaan Arat Sabulungan, harmonisasi sangat penting dalam kehidupan mereka. Maka, mereka mengenal apa yang kita sebut sebagai tabu. Tabu merupakan bentuk pengendalian bagi masyarakat yang mempercayainya.

Balian

Balian merupakan agama asli bagi Orang Dayak Meratus. Tunggu dulu? Dayak kan Kaharingan? Kaharingan memang agama asli Dayak, namun jika kita menyebutnya secara umum. Kaharingan merupakan agama dayak yang memengani pertarungan politik, bukan hanya terhadap sesama Dayak yang jumlahnya banyak sekali, melainkan juga dengan pemerintah. Bahkan, untuk mempermudah urusan, Orang Dayak Meratus juga menyelut diri mereka Kaharingan. Meskipun antara Kaharingan dan Balian merupakan kepercayaan yang berbeda satu sama lain.

Balian bisa berarti apa saja. Bukan sekedar rujukan nama bagi suatu bentuk agama. Tokoh kunci dari agama ini adalah shaman atau dukun. Dan shaman atau dukun tersebut juga diberi nama Balian. Sang shaman. Berinteraksi dengan roh nenek moyang mereka dalam melakukan tiap-tiap kehidupan keagamaan.

Dalam aktivitas keagamaan Balian, sering mereka menggunakan sesaji. Untuk itulah, mereka sering dianggap sebagai bagian dari Budha. Namun tentu saja kedua agama tersebut tak sama.

Parmalim

Parmalim adalah bentuk agama yang cukup berbeda dibandingkan yang lain. Agama ini diprakarsai oleh Samaliang Pardede, seorang tokoh yang sangat dekat dengan Sisingamangaraja XII. Parmalim, merupakan bentuk kepercayaan yang digunakan untuk melindungi kebudayaan Batak dari pengaruh Kristen, Islam, dan Pemerintah Kolonial Belanda. Waktu Parmalim dibentuk, memang entitas-entitas di atas giat melakukan penyebaran dan pengaruh.

Karena Parmalim merupakan agama yang dibentuk demi kebudayaan, sering sekali agama ini disebut sebagai agama yang paling sinkretis. Mari kita simak. Dalam kepercayaan parmalim, mereka menggunakan sitilah Jahowa yang diambil dari Jehovah, dan tentu saja Parmalim juga mengenal Yesus dan kedua-duanya merupakan suatu “bentuk” yang diadopsi dari agama Kristen. Sedangkan nama Parmalim sendiri diambil dari kata “Malim” dari bahasa Melayu atau “Muallim” dari bahasa Arab. Orang Islam menerjemahkan “Muallim” sebagai ahli agama.

Dalam beragam kisah, Parmalim sering disebut sebagai agama yang mempertemukan antara yahudi, Katolik, Islam, dan Sipelebegu. Untuk yang terakhir, Sipelebegu, merupapakn kepercayaan Batak lainnya. Sipelebegu merupakan kepercayaan penyembah roh dan ilmu hitam.

Begituah kisah sederhana dari sedikit agama lokal yang ada di Indonesia. Selain agama lokal, juga ada bantuk kepercayaan lain yang eksis di Indonesia. Misalnya sekte-sekte dalam agama populer yang memiliki aliran yang berbeda tersendiri, dengan mengkombinasikan dengan adat yang telah ada sebelumnya. Tapi toh tetap saja, mereka tidak pernah dianggap ada oleh negara.

Kembai ke pertanyaan di awal adalah, mengapa negara ini tidak mengakui?

Alasan pertama ialah kontrol. Pemerintah akan kesulitan jika mengakui semua agama yang eksis di negara ini. Dengan hanya mengakui enam agama, pemerintah akan mudah melakukan kontrol terhadap penganut-penganut suatu agama. Tapi, dengan alasan demikian, bukankah negara justru meanggar pasal 29 ayat 2 UUD’45?

Dengan alasan kontrol, negara memaksa penganut agama-agama di luar enam agama yang diakui, untuk melakukan afiliasi. Biasanya, negara akan melihat kesamaan agama lokal dengan agama negara. Mana yang paling banyak memiliki kesamaan dengan agama negara, maka itulah agama yang mereka harus anut. Misalnya Sunda Wiwitan yang dianggap mirip dengan Islam, Kaharingan yang dianggap sama dengan Kristen, atau Balian yang dianggap sama dengan Budha.

Alasan pamungkas mengapa agama lokal tidak diakui negara adalah stigma. Bukan sekedar stigma negara bagi agama lokal tersebut, tapi juga stigma masyarakat Indonesia terhadap agama lokal.

Bagi mayoritas penduduk negeri ini, kegiatan-kegiatan kepercayaan yang dilakukan penduduk tersebut dianggap hanya tradisi semata. Suatu kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan budaya. Tidak lebih. Oleh karenanya, umum sekali melihat masyarakat yang berbonding-bondong melihat suatu upacara keagamaan selayaknya hiburan wisata. Maukah Orang Islam saat solat Jumat ditonton seperti atraksi hiburan? Maukah umat Katolik saat misa di hari Minggu dijadikan objek fotografi fotografer amatiran?

Nah hal tersebutlah yang dialami sebagian besar agama lokal di Indonesia. Mereka ada namun tidak dianggap ada. Mereka melakukan aktivitas ibadah, tetapi dilihat sebagai aktifitas kebudayaan semata. Akibatnya, terjadi pengkerdilan bagi agama-agama lokal tersebut.

Dan yang paling sedih, setiap penduduk yang tidak berafiliasi dengan enam agama resmi akan dicap sebagi seorang kafir.


Baca Juga

    Mempertanyakan Debat Kandidat
    Ruang, Waktu, dan Penjelasan Sederhana Dimensi 4 Dalam Film Interstellar
    Memahami Cita Rasa Komunis dalam "Made In China"

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16