Penghapusan UN dan Pendidikan Finlandia

Dipublikasikan pada : 2016-11-29

Penghapusan UN dan Pendidikan Finlandia

Ilustrasi © Madzae


Menteri Pendidikan Republik Indonesia memberikan sinyal bahwa tahun ini, Ujian Nasional akan dihentikan. Lebih tepatnya dihentikan sementara atau moratorium.

Gonjang-ganjing soal UN memang bukan barang baru. Saban tahun, Indonesia mengalami gejolak soal UN yang tidak berkesudahan ini. Dilanjutkan atau dihentikan.

Bagi pendukung UN, kegiatan tersebut bisa dijadikan tolak ukur bagaimana suatu pendidikan di suatu daerah di Indonesia. Dengan UN, standar berhasil, gagal, atau jalan di tempat, bisa dibaca melalui angka-angka yang dihasilkan pasca penyelenggaraan UN.

Dengan adanya UN, mudah bagi tiap pemerintahan daerah untuk melalukan evaluasi. Selain itu, nilai UN juga memberikan kemudahan administrasi bagi siswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang berikutnya.

Bagi penolak UN, kegiatan tersebut hanyalah ajang stres berjamaan antar siswa semata. Proses belajar bertahun-tahun yang dilalui para siswa, hanya ditentukan oleh beberapa jam dan oleh beberapa mata pelajaran semata.

UN pun hanya permainan bisnis belaka. Dengan adanya UN, lembaga bimbingan belajar kian menjamur. Siswa yang ketakutan tidak bisa lulus, akan tergiur mengikuti bimbel dan berujung pada membengkaknya biaya pendidikan.

UN juga dianggap membebani anggaran yang terlalu tinggi. Dengan ditiadakannya UN, biaya yang besar bisa dialihkan untuk memperbaiki fasilitas dan infrastruktur pendidikan di Indonesia yang sejatinya dalam kondisi yang kritis.

Selain itu, UN disinyalir hanya menghasilkan siswa-siswa yang hanya tahu mengerjakan soal. Mereka dianggap tidak paham betul dengan sebenar-benarnya pelajaran yang mereka pelajari di sekolah. Para siswa, lebih memilih menghapalkan rumus atau trik menjawab soal dibanding memahami apa yang sebenarnya mereka kerjakan.

Persoalan belum berhenti di situ. Ujian Nasional dianggap belum layak diselenggarakan di Indonesia. Alasannya, ada perbedaan yang signifikan antara pendidikan di kota-kota besar dengan di derah-daerah terpencil di Indonesia. Ujian dengan soal yang terstandarisasi dari Sabang sampai Merauke, dianggap tidak adil. Akibat yang paling parah, banyak pemerintah daerah yang terang-terangan melalukan praktek tidak terpuji agar siswa-siswa di daerah mereka terkesan bisa lulus dengan membanggakan.

Akibatnya, beberapa tahun belakang, ada yang disebut sebagai “index kejujuran” bagi sekolah dan daerah di Indonesia. Index tersebut mengukur seberapa jujur suatu sekolah atau daerah. Sesuatu yang menggelikan, memang terjadi nyata di sistem pendidikan kita.

Apa yang terjadi di Indonesia berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Finlandia. Finlandia dianggap sebagai negara yang sukses menyelenggarakan pendidikan mereka. Banyak negara yang bercermin pada Finlandia dan mengadopsi sistem yang mereka miliki. Indonesia, bukan salah satunya.

Begini kisah pendidikan Finlandia secara singkat.

Di Finlandia, anak umur 6 tahun diberikan kebebasan untuk memilih. Mengikuti pendidikan pra-sekolah selama satu tahun yang diselenggarakan pemerintah atau tidak. Umumnya, anak-anak di sana mengikuti program ini.

Di umur 7 tahun, semua anak wajib mengikuti pendidikan “basic education” yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun swasta. Lamanya 9 tahun. Di jenjang pendidikan ini, pemerintah memberi patokan untuk tiap kelas tidak lebih dari 20 orang. Dan jumlah yang dikehendaki ideal bagi pemerintah adalah 12 orang.

Selesai masa pendidikan dasar 9 tahun, bocah-bocah tersebut melanjutkan ke jenjang berikutnya, yakni sekolah menengah dengan durasi 3 tahun. Sama seperti di Indonesia, ada SMA atau SMK. Tapi perlu diingat, yang diperbolehkan masuk ke SMA adalah bocah-bocah terbaik di jenjang pendidikan dasar.

“Label” terbaik diberikan oleh guru-guru mereka melalui proses pendidikan yang telah mereka lalui.

Perlu digarisbawahi adalah, SMA merupakan sekolah yang pada akhirnya menuntut seseorang menjadi seorang pakar atau pemikir atau akademisi. Sementara SMK merupakan sekolah keahlian. Akan lebih cocok diterapkan pada industri yang memang membutuhkan pekerja yang telah terampil.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, anak-anak Finlandia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Universitas maupun Politeknik. Secara umum, mereka bebas memilih di antara keduanya. Namun, dalam prakteknya anak-anak SMA akan melanjutkan ke Universitas dan anak-anak SMK akan melanjutkan ke Politeknik.

Nah persoalan pemberian label terbaik memang menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Dalam sistem pendidikan Finlandia. Sosok yang paling berpengaruh adalah guru, titik. Bukan menteri pendidikan yang bisa berganti kapan saja.

Di Finlandia, guru merupakan pekerjaan yang sangat membanggakan. Hanya 10 persen pelamar yang pada akhirnya bisa menjadi guru. Syaratnya pun lumayan, paling tidak, untuk menjadi seorang guru di Finlandia harusah seseorang yang telah menyelesaikan jenjang S2. Dan yang lebih utama, guru haruslah benar-benar lulusan yang paham ilmu yang mereka pelajari.

Dalam proses mengajar, guru di Finlandia hanya boleh memberikan PR kepada siswanya jika PR tersebut bisa dikerjakan setengah jam oleh sang siswa. Oleh karena itu, perlu ketelitian dan kecermatan bagi guru yang akan memberikan PR bagi para murid. Mereka harus menguji dahulu tingkat kesulitan PR yang hendak diberikan.

Dan dalam pendidikan Finlandia, tidak ada peringkat atau rangking yang diberikan. Guru adalah kunci, siapa murid terbaik di kelasnya.

Finlandia memberikan keleluasaan bagi guru. Mereka boleh menggunakan metode apa pun dalam proses belajar mengajar. Kreativitas guru sangat diperlukan. Dan tidak ada pula pihak-pihak yang melarang metode yang digunakan si guru tersebut. Kecuali, metode yang digunakan telah keluar ke ranah kriminalitas atau sebagainya.

Selain metode, proses ujian juga merupakan ranah guru yang tidak bisa diganggu gugat. Ujian dilakukan ole si guru bagi murid-muridnya. Tujuan dari ujian yang dilakukan adalah untuk memperoleh informasi dari para muridnya bagaimana perkembangan pendidikan mereka. Yang diukur, progres pendidikan, kemampuan kerja, dan tingkah laku si murid.

Hasil dari ujian digunakan oleh guru untuk mengevaluasi pendidikan yang telah ia berikan. Jika berhasil, guru bisa melanjutkan program pendidikannya. Sedangkan jika ada yang salah, guru dapat memperbaikinya. Intinya, proses ujian merupakan metode independen yang dimiliki guru untuk memperoleh “feedback” bagi dirinya untuk keperluan mengajar.

Dari keleluasaan gurulah ia dapat memberikan penilaian mana siswanya yang memiliki kemampuan akademis yang bagus dan mana yang tidak. Rekomendasi guru, bisa dilanjutkan bagi siswa untuk memilih SMA atau SMK, Universitas atau Politeknik.

Di Indonesia, ujian dilakukan di akhir masa pendidikan. Akibatnya, jika terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, siswa akan membawa kgagalan tersebut ke jenjang berikutnya. Guru di sini, tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki proses yang gagal yang diperoleh siswa.

Di indonesia, ujian bukanlah “feedback” bagi guru. Melainkan cara untuk “mengakhiri” proses pendidikan.

Dan pada akhirnya, pendidikan jenjang berikutnyalah yang ketiban durian runtuh. Banyak siswa-siswa SMA atau SMK yang sebenarnya masih belum menguasai materi SMP. Banyak siswa-siswa SMP yang belum menguasai dengan baik materi-materi yang diajarkan di SD. Lebih celakanya, banyak sarjana yang tidak berkompeten di bidang yang mereka pelajari.

Maka tak heran, di berbagai aspek kehidupan, Indonesia kalah dari negara-negara lain. Karena pendidikan merupakan pilar segala aspek kehidupan dan di Indonesia, pilar tersebut telah lama roboh dan kita tak berdaya untuk membangunnya kembali.

Jadi, setujukah UN dihapuskan?


Baca Juga

    Perkasanya Google, Pukulan Telak Microsoft, dan Semakin Brengseknya Apple
    Siri: Harga Diri dan Kehormatan Orang Bugis
    Perihal Gusur-Menggusur di Pilkada DKI

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16