Pabrik Kebohongan dan Konsultan Politik

Dipublikasikan pada : 2017-01-16

Pabrik Kebohongan dan Konsultan Politik

Ilustrasi © Madzae


Di tahun 1934, Upton Sinclair dengan percaya diri maju untuk menjadi Gubernur California. Ia maju setelah memenangi pemilihan pendahuluan di partainya dengan cukup mengesankan. Banyak yang percaya, Sinclair akan mampu memenangkan kontestasi pemilihan Gubernur California.

“Kesucian pernikahan… Saya pernah memiliki keyakinan seperti itu… (Namun) saya tidak memilikinya lagi.” Itulah kutipan yang pada akhirnya sedikit banyak membantu Sinclair gagal menjadi Gubernur California. Sialnya, kutipan tersebut berasal dari karya fiksi Sinclair sendiri.

Seperti dikutip dari Newyorker, adalah Clem Whitaker, di tahun 1933 mendirikan Campaign, Inc, firma konsultan politik pertama di dunia. Ia awalnya adalah seorang reporter. Dan di kemudian hari, Whitaker membantu perusahaan Pasific Gas $ Oil untuk menggagalkan referendum di Senat Amerika Serikat. Dengan bantuannya, referendum berhasil digagalkan. Kisah pun berlanjut, ia dan firma konsultan politiknya diminta untuk membendung Sinclair menjadi Gubernur California. Untuk berpikir bagaimana menggagalkan Sinclair, Whitaker mengurung diri sendirian di dalam kamar, dan karena tahu Sinclair adalah juga seorang penulis, ia mengumpulkan tulisan-tulisan Sinclair untuk menemaninya di kamar tersebut. Setelah tiga hari, kutipan tentang penikahan tersebut muncul dan dipropagandakan melalui media.

Sinclair meradang, dikutip dari The Atlantic, ia menjuluki Campaign, Inc sebagai “pabrik kebohongan.” Whitaker dan perusahaannya, Campaign, Inc tahu bahwa kutipan tersebut hanyalah fiksi karangan Sinclair, namun apa dikata, Sincalir butuh amunisi untuk menghabisi lawan politik dari politisi yang menggunakan jasa perusahannya.

Konsultan politik lahir di dekade 1930an. Dan berkembang pesat di dekade 1970 karena di dekade tersebut, seperti dikutip dari New York Times, Kongres mengamandemen undang-undang tentang kampanye di Amerika Serikat sana. Intinya, para kandidat dimungkinkan untuk menggunakan uang tanpa batas perihal kampanye, namun mereka harus transaparan untuk apa saja uang yang mereka keluarkan dalam berkampanye. Konsultan politik, memudahkan seorang politikus yang ingin memperoleh kursi namun tidak ingin disibukkan dengan tetek-bengek urusan transparansi. Konsultan politik, mereka tunjuk untuk mempersiapkan dan mengeksekusi segala tindakan-tindakan yang diperlukan dalam kampanye. Mulai dari propaganda, iklan di media, poling, dan lain sebagainya.

Konsultan politik akhirnya menjadi bisnis yang menggiurkan. Terutama karena banyaknya politikus yang menginginkan kemenangan. Dikutip dari New York Times, di tahun 2012, uang senilai lebih dari $3,6 Milyar lari ke rekening para konsultan politik. Sedangkan di tahun 2016, seperti dikutip dari The Atlantic, lebih dari $6 Milyar dihabiskan pada konsultan politik.

Uang-uang diolah oleh para konsultan politik untuk memenangkan klien-klien potitikus mereka. Sebagian besar uang yang disetor, masuk ke rekening-rekening media masa di Amerika Serikat sana, terutama tentu saja televisi. Alasannya senderhana, televisi masih menjadi andalan konsultan politik untuk melakukan propaganda memenangkan klien mereka. Terutama, seperti yang dilakukan Campaign, Inc, kampanye negatif. Menurut para peniliti politik seperti dikutip dari The Atlantic, “kampanye negatif sangat efektif untuk memenangkan pemilih.”

Kini, selain televisi, uang dalam jumlah banyak juga masuk ke dunia internet. Dunia yang kini sama berpengaruhnya dengan televisi. Bahkan, banyak kalangan menganggap bahwa internet jauh lebih penting daripada TV, karena internet memainkan opini masyarakat langsung pada sasarannya.

Dalam dunia konsultan politik, Karl Rove adalah jagonya. Ialah aktor di balik kemenangan George W. Bush menguasai Amerika Serikat. Bahkan, di tahun 2004, ia dianggap dewa dalam bidang ini. Sial, kehebatannya pudar di tahun 2006.

Ya, dunia konsultan politik memang cepat berubah. Terutama dalam hal “bagaimana memenangkan kontestasi politik.” Dikutip dari New York Times, Jeb Bush membayar lebih dari $50 Juta kepada konsultan politik. Hasilnya hanya berupa 5 persen kemenangan dalam pemilihan pendahuluan di Partai Republik. Sementara saingannya, Trump memperoleh 38 persen suara Partai Republik dan pada akhirnya mengantarkannya menjadi calon presiden resmi dari Parta Republik.

Alih-alih menggunakan jasa konsultan politik yang hebat seperti Karl Rove, Trump diketahui mempekerjakan seorang mantan polisi sebagai manajer kampanye yang tentu saja tidak memiliki pengalaman dalam bidang konsultasi politik. Trump, seperti dikutip dari The Atlantic, menghabiskan “hanya” $19 Juta untuk iklan di televisi dan jenis media lainnya. Trump meruntuhkan rancangan-rancangan kampanye negatif para firma konsultan politik dengan “perilaku negatif pada dirinya sendiri.” Trump mengubah jalannya konsultan politik untuk (mungkin) masa-masa yang akan datang.

Trump bahkan berujar pada The Atlantic, “lihat mereka semua. Level profesional tertinggi. Dan saya memenangi jutaan suara dan ribuan delegasi. Saya berpikir, saya mengatakan sesuatu (perubahan).”

Namun, Dan Braker, seorang jaksa mengatakan pada The Atlantic bahwa “mereka mencoba menjual minuman soda baru - sebuah produk yang orang-orang tidak tertarik untuk membelinya.” Trump hadir dan memberi rasa berbeda. Untuk itulah publik menginginkan ia menjadi penerus Obama berkuasa atas Amerika Serikat.

Di Indonesia, konsultan politik telah menjadi hal umum. Cara-cara mereka memenangkan sang klien juga memiliki kemiripan dengan dengan apa yang terjadi di Amerika di dekade 1930an, “manipulasi opini publik.” Hal ini terindikasi seperti apa yang diucapkan oleh Ikrar Nusa Bakti, profesor politik LIPI, “jadi ini survei independen atau dibayar untuk mempengaruhi opini? Sebab kalau ini terus menerus dibiarkan akan menjadi pembicaraan” ucapnya, seperti dikutip dari Tirto.

Dari data Nielsen, belanja iklan organisasi politik pun terbilang tinggi. Di tahun 2015, uang sebesar Rp.7,4 Triliun dihabiskan untuk membayar “fee” televisi. Di tahun 2016, sampai semester pertama, tercatat Rp3,8 Triliun dihabiskan untuk televisi.

Uang yang besar beserta pembentukan opini di media masa terutama televisi, adalah cara-cara yang terjadi dalam masa kampanye seperti sekarang ini. Dan pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan adalah, siapa yang elo pilih untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta?


Baca Juga

    Memahami Kemajuan Jerman
    Memahami Konflik Suriah Secara Sederhana
    Renyahnya Manfaat Tempe

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16