Ngisep Ganja di Amerika

Dipublikasikan pada : 2017-01-24

Ngisep Ganja di Amerika

Ilustrasi © Madzae


Berbarengan dengan pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun lalu, rakyat di beberapa negara bagian, menentukan aspek legalitas ganja. Di negara bagian California, secara resmi ganja memangkan pertarungan tersebut.

Barney Warf dari University of Kansas seperti dikutip dari Live Science mengungkapkan bahwa sejarah panjang ganja berasal dari Asia. Ia mengungkapkan, “pada banyak bagian, ganja digunakan secara luas untuk pengobatan dan penggunaan spiritual.” Warf menambahkan, dalam temuan sejarawan, bangsa Viking (bukan pendukung Persib) memanfaatkan ganja sebagai penenang atau penahan rasa sakit bagi wanita hamil dan orang yang mengalami sakit gigi.

Lebih lanjut, ganja telah ditemukan di wilayah Siberia 3.000 tahun sebelum Masehi dan di Cina, ganja telah digunakan oleh Kekaisaran Shen Nung di tahun 2727 sebelum Masehi. Warf mengungkapkan bahwa ganja dibawa ke dataran Eropa oleh orang-orang Scythiang, sebuah suku nomaden yang melakukan perjalanan ke Rusia dan Ukraina kini. Selanjutnya, ganja masuk ke Amerika Serikat melalui orang-orang Meksiko saat terjadinya Revolusi Meksiko di tahun 1910-1911.

Warf menambahkan bahwa ganja merupakan bagian dari sejarah masa lalu yang cukup memiliki peranan penting. Ganja yang kini menjadi barang “haram,” ia anggap sebagai “anomali sejarah.” Lebih lanjut ia mengungkapkan, “gagasan bahwa ini (ganja) merupakan obat setan adalah kontruksi yang sangat baru (dalam sejarah umat manusia).”

Lebih lanjut, ganja sebenarnya memiliki banyak varian. Ganja yang dikenal memiliki efek psikoaktif merupakan ganja “Cannabis satina,” sedangkan ganja yang tidak memiliki efek psikoaktif adalah “Cannabis satina L.” L merujuk pada seorang bernama Carl Linnaeus, si penemu ganja varian “aman” tersebut.

Karena efek psikoaktif tersebutlah, ganja sering dikait-kaitkan dengan hal-hal berbau negatif. Namun, seperti dikutip dari The Huffington Post, seharusnya ada perbedaan opini antara mengkonsumsi alkohol dan atau rokok sebelum mengkonsumsi ganja, serta betul-betul mengkonsumsi ganja tanpa didahuli mengkonsumsi alkohol dan atau rokok.

Dikutip dari Huffington Post, banyak terjadi insiden yang berhubungan dengan ganja, diketahui karena terlebih dahulu ada hubungan dengan alkohol. Selanjutnya, seperti diberitakan Huffington Post, tidak ada kematian over dosis akibat ganja yang terjadi di Amerika Serikat sepanjang tahun 2015. di tahun 2010, ada 38.329 orang mati akibat obat-obatan di Amerika Serikat. 60 persen di antaranya, mati akibat obat resep yang diberikan dokter. Dan dari jumlah kematian tersebut, banyak yang terindikasi mati akibat berhubungan juga dengan alkohol.

Namun, dalam berbagai kesempatan, ganja memang bagaikan seseorang yang “salah waktu dan tempat.” dalam persepsi publik. Bukan hanya di Amerika Serikat, namun juga di seluruh dunia.

Di Amerika Serikat, seperti yang dikutip dari Time, ganja mulai diberi batasan-batasan hukum sejak tahun 1937. Awalnya, ganja diberlakukan seperti rokok di Indonesia. Ganja diberlakukan pajak. Baru kemudian di tahun 1970, ganja dimasukan ke dalam kategori “schedule 1” dalam hukum Amerika Serikat. Kategori tersebut merupakan kategori terkuat dalam klasifikasi hukum suatu obat-obatan terlarang. Di klasifikasi tersebut, ganja seruangan dengan ektasi dan sabu-sabu.

Lalu, mengapa kini ganja mengarah pada opini legal?

Amerika adalah negeri yang menjunjung kebabasan tiap individunya. Dikutip dari Time, orang Amerika diberikan legalitas pada ganja, sama seperti orang Amerika yang bebas menentukan apakah ia ingin minum Wine atau tidak. Bahkan di jam 5 pagi sekali pun. Dalam jajak pendapat yang dilakukan Gallup, 60 persen orang Amerika mengatakan menyetujui legalitas ganja.

Magdalena Cerda dari University of California, sebagaimana dikutip dari Newsweek mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara saat ganja ilegal dengan saat ganja dilegalkan. Cerda melakukan penelitian pengaruh ganja dalam rentetan kasus-kasus kecelakaan yang sering dikaitkan dengan ganja. Ia dan timnya, meneliti kasus-kasus yang terjadi dalam rentang sebelum dan sesudah ganja dilegalkan penggunaannya. Ia menambahkan, “legalisasi untuk penggunaan kesenangan pada ganja di tahun 2012 mengurangi stigma dan persepsi dari asosiasi kecelakan yang berhubungan dengan ganja.”

Legalitas ganja, bukan hanya berefek pada kesenangan pemakainya semata. Dikutip dari The Week, dengan legalitas ganja, kartel obat-obatan terlarang kehilangan uang hingga US$1 Trilyun. Selanjutnya, di Colorado, telah tercipta hingga 18.000 pekerjaan baru akibat legalitas ganja di negara bagian tersebut, dan menciptakan perputaran uang hingga US$2,4 Milyar.

Perlu diingat. Legalitas ganja yang terjadi di 28 negara bagian sebagaimana diberitakan The Week, masihlah sebatas aturan negara bagian. Dalam lingkup federal, Amerika Serikat tetap menjadikan ganja sebagai barang ilegal. Hingga berakhirnya masa jabatan Barack Obama sebelum tengah hari pada tanggal 20 Januari kemarin, ia belum menjabut ganja dari kedudukannya dalam “schedule 1.”

Untuk kasus Indonesia, ganja masing sangat jauh dari kata legal. Terutama di Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang memang gencar melakukan aksi bersih-bersih terhadap penggunaan obat-obatan terlarang. Belum lagi sosok Budi Waseso yang membuat kalang-kabut bagi siapa pun yang berani bermain api soal ganja ini.

Namun, yang perlu kita cermati adalah bagaimana Amerika Serikat, melakukan perdebatan aturan-aturan mereka melalui langkah-langkah saintifik. Dalam proses legalitas ganja, mereka sering merujuk pada publikasi-publikasi ilmiah dari Universitas-Universitas di Amerika Serikat sana. Hal yang cukup langka dilakukan di Indonesia.

Dan dengan adanya legalitas ganja bagi kesenangan di Amerika Serikat sana, akan memunculkan pertanyaan paradox baru, “gimana kalau elo di Silicon Valley ngisep ganja, terus besoknya balik ke Jakarta dan sialnya lagi ada razia dadakan dan elo ketangkep positif. Nah aspek hukumnya gimana?”

Pusing kan?


Baca Juga

    Apa yang Terjadi di Harbolnas Kemarin?
    Ruang, Waktu, dan Penjelasan Sederhana Dimensi 4 Dalam Film Interstellar
    Apakah Naga Benar-Benar Nyata?

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16