Ngeri! Semua Anggota Suku Ini Dicongkel Bola Matanya

Dipublikasikan pada : 2016-11-03

Ngeri! Semua Anggota Suku Ini Dicongkel Bola Matanya

Ilustrasi © Madzae


Suku Kuruta, merupakan salah satu suku yang unik di dunia. Keunikan suku ini terletak pada bola mata yang mereka miliki. Saat marah atau saat perasaan mereka tersulut, bola mata anggota suku Kuruta berubah menjadi merah.

Persis seperti orang yang sedang kerasukan. Bola mata mereka menyala terang dan menakutkan. Bahkan orang-orang di luar, menganggap bahwa suku Kuruta merupakan jelmaan iblis.

Suku Kuruta hidup di wilayah terpencil di pedalaman hutan. Populasi suku ini hanya berjumlah 129 orang.

Namun, di tengah keterpencilan lokasi tempat tinggal suku ini bukan berarti mereka tak berinteraksi dengan dunia luar. Setiap pekan mereka berbelanja kebutuhan yang tak diperoleh di hutan sekitar.

Tugas berbelanja di luar area suku, hanya diwakilkan beberapa orang saja. Ini bertujuan untuk menjaga agar bola mata merah meraka tetap menjadi rahasia. Mereka mencoba menjaga jarak dengan masyarakat luar, agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak pernah terjadi. Terpancing emosi misalnya. Ingat paragraf pertama tulisan ini.

Tragis, kini suku ini hanya tersisa satu orang saja. Suku Kuruta dibantai oleh Genei Ryodan. Sebuah organisasi hitam yang sangat kejam. Meraka tak segan untuk membantai siapa saja yang menghalangi aksi mereka.

Genei Ryodan bukan sembarangan organisasi hitam. Organisasi-organisasi internasional, enggan berhubungan dengan mereka. Sampai saat ini, sulit atau bahkan mustahil, untuk menangkap anggota Genei Ryodan. Selain kuat, organisasi ini berasal dari zona berbahaya dan tak berafiliasi dengan yuridiksi negara manapun.

Suku Kuruta dibantai Genei Ryodan karena ketertarikan organisasi hitam ini terhadap bola mata merah milik suku ini. Bagi Genei Ryodan, bola mata suku Kuruta bernilai tinggi di pasar gelap dan merupakan barang kolektor berharga.

Sadisnya, Genei Ryodan membantai suku Kuruta dengan menteror mereka dahulu, agar amarah anggota suku bisa mengubah bola mata mereka, dari normal menjadi merah menyala. Saat mata anggota suku Kuruta berubah menjadi merah menyala, Genei Ryodan mencungkil bola mata dan membunuhi mereka satu per satu.

Tapi tenang dulu, suku Kuruta dan Genei Ryodan hanyalah cerita fiksi karangan Yoshihiro Togashi dalam seriah anime (animasi/kartun Jepang) Hunter X Hunter.

Dalam seri Hunter X Hunter: Phantom Rouge dikisahkan bagaimana perjuangan Kurapika, anggota terakhir suku Kuruta mencoba mendapatkan kembali bola mata anggota suku Kuruta yang diambil organisasi hitam tersebut.

Sebagai anggota suku Kuruta terakhir, Kurapika berkewajiban untuk membalaskan dendam saudara-saudaranya kepada Genei Ryodan. Dibantu Gon, Kilua, serta Leorio mereka bersama mencoba membasmi organisasi hitam tersebut.

Kisah fiktif suku Kuruta bagi gue bukan merupakan kisah yang hanya terjadi dalam ranah fiksi anime saja. Genosida atau pembantaian atau apa pun bentuknya, adalah fenomena yang memang melekat dalam jejak langkah peradaban manusia.

Dedy Supriadi Adhuri (peneliti LIPI), mengkaji masyarakat pesisir timur Kei Besar yang saling bentrok akibat perebutan sumber daya alam.

Konflik yang terjadi antara warga Desa Tutrean dan Sather adalah kisah nyata, bagaimana suatu komoditas bisa membuat orang tega untuk melakukan kekerasan.

Bagaikan Genei Ryodan yang tega membantai suku Kuruta demi mendapatkan bola mata merahnya, Tutrean dan Sather memperebutkan dominasi atas kulit lola (throcus). Perlu diketahui, kulit lola adalah suatu komoditas yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Komoditas tersebut, berada di lautan di antara kedua desa tersebut.

Bagi warga Tutrean dan Sather yang saban hari hidup lekat dengan kemiskinan. Kulit lola memiliki nilai yang cukup tinggi di pasaran. Memperoleh kuasa atas lautan yang menjadi tempat kulit lola berada, merupakan suatu keuntungan ekonomi yang sangat besar.

Tak heran, dalam upaya memiliki akses atau kuasa tersebut, kedua desa mempergunakan sejarah budaya mereka sebagai rujukan utama.

Dedy Supriadi Adhuri menjelaskan, bagaimana penggunaan Toom (sejarah lisan) sebagai hukum penentuan yang memberikan penjelasan-penjelasan demografi dan asal-usul kedua desa.

Sayangnya, antara Sather dan Tutrean memiliki Toom sendiri-sendiri dan dengan versinya masing-masing. Akibatnya, tanggal 9 April 1988 terjadi penyerangan yang mengerikan. Desa Sather luluh lantak dibakar warga Desa Tutrean.

Banyak warga Desa Sather yang terusir dan mengalami ketakutan atau trauma terhadap warga Desa Tutrean. Meski berbagai cara telah dilakukan untuk mendaimakan kedua desa, Konflik Sather dan Tutrean membekas berkepanjangan. Sama seperti yang terjadi dalam fiksi Hunter X Hunter. Kurapika, membawa perasaan dendam yang tak berkesudahan.

Genosida atau pembantaian atau kekerasan bukan cuma berada di wilayah eksotis seperti suku Kuruta atau Desa Tutrean dan Sather. Genosida atau pembantaian atau kekerasan juga terjadi dalam lingkup masyarakat modern, terutama menyangkut kekuasaan yang diberi nama “Negara”.

Gue tidak akan membahas bagaimana Jerman di bawah Adolf Hitler membantai Yahudi karena dianggap pembawa sial bagi Jerman tatkala negeri tersebut dilanda kesusahan pasca kekalahan Jerman di Perang Dunia 1. Karena gue tahu, dari tulisan Zen Rachmat Sugito berjudul Kartu Pos Bergambar Fasisme, Zen dengan cerdik memberitahu kita bahwa bayang-bayang Nazi tak pernah menghantui kita, masyarakat Indonesia.

Secara mengejutkan, Hitler justru pernah menginspirasi perjuangan kebangsaan Indonesia. Faktanya pernah lahir Partai Fasis Indonesia di Bandung pada 1933.

Nah di sini gue mencoba membawa lo untuk menengok kekejaman yang pernah melanda negeri kita tercinta ini.

Tahun 1965-1966 bisa disebut sebagai tahun kelam sejarah modern bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak, di tahun tersebut terjadi pembantaian yang ironisnya dilakukan saudara sebangsa sendiri. Bukan perebutan komoditas, tapi ini jauh di atas itu. Perebutan kekuasaan.

Tragedi ini, khalayak mengenalnya dengan sebutan G30S/PKI meskipun dalam catatan sejarah, peristiwa ini terjadi pada dinihari tanggal 1 Oktober.

PKI dijadikan kambing hitam dalam skenario isu dewan jendral yang dianggap mau merebut kekuasaan dari tangan Sukarno.

Penculikan dan tewasnya jendral-jendral di lubang buaya membuat posisi PKI semakin terpojok. Bak kisah-kisah kepahlawanan, Suharto datang sebagai penyelamat bangsa.

Ironis memang, Suharto menggunakan kekuatan militer untuk menyiksa rakyatnya sendiri. Siapa pun, entah benar atau salah atau hanya sebatas tahu tentang PKI, cap tapol atau tahanan politik akan melekat pada orang tersebut. Lebih mengerikan, segela tuduhan yang diberikan, tidak diadili di depan pengadilan.

Tragedi G30S/PKI menjadi luka yang sulit diobati. Suatu kengerian yang masih menyimpan nyalanya api bahkan hingga kini.

Laksmi Pamunjak dalam novelnya “Amba” membawa kita masuk dalam tur kengerian di era tersebut. Hal senada juga dilakukan Laila Chudori dalam karyanya “Pulang.” Novel tersebut menceritakan orang-orang yang terjebak di luar negeri dan tak bisa pulang ke Indonesia akibat tragedi G30S/PKI. Dan sedihnya, mereka di luar negeri tidak tahu menahu soal perkara PKI yang dilakukan di Indonesia. Mereka, di luar negeri hanya sebatss menimba ilmu.

Kajian Wahyu Wirawan yang melihat sisi peran militer dalam tragedi G30S/PKI, menindikasikan adanya kesengajaan dalam aksi pembantaian orang-orang yang diduga terlibat dengan PKI. Kesengajaan tersebut dilakukan untuk menciptakan suatu kondisi yang mengerikan dan pada akhirnya memberikan legetimasi terhadap militer untuk mengambil alih situasi.

Bahkan, dalam tulisan Hermawan Sulistyo yang berjudul Palu Arit di Ladang Tebu memperkirakan bahwa jumlah korban pembantaian yang terjadi berkisar di angka 150.000 sampai 1.000.000 orang. Dan mengutip perkataan Mayjen (Purn.) Samsudin mengatakan “Memang benar, korban orang-orang PKI melebihi dari sepatutnya.”

Tapi tunggu dulu, angka-angka tersebut hanya sebatas jumlah korban jiwa secara langsung. Kita belum menghitung jumlah para tahanan politik yang dipenjara di pulau Buru atau di tempat-tempat lain.

Sialnya, hingga saat ini, kebenaran dalam tragedi G30S/PKI tidak pernah terkuak. Siapa yang sesungguhnya harus bertanggung jawab menjadi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

Terlebih, kepada korban salah sasaran atau kepada para pelajar Indonesia di luar negeri yang tidak bisa pulang, tidak ada kompensasi atau perminta maaf yang mereka terima. Seakan, mereka terlupakan dan kengerian yang mereka alami hanya dianggap sebagai mimpi buruk semata.

Inilah yang gue anggap sebagai petaka masyarakat modern. Rasa ingin berkuasa, memiliki, materi, atau segala kenikmatan lainnya, merupakan penyebab-penyebab utama hadirnya sisi kelam dalam diri manusia.

Dan diakhir tulisan, gue ingin mengajak kembali ke film kartun Hunter X Hunter. Persahabatan yang Gon, Leorio, Kilua, dan terutama Kurapika mampu memberikan kedamaian dalam diri yang terluka.

Maka, bersahabatlah masyarakat Indonesia satu dengan lainnya.


Baca Juga

    Kebenaran Palsu
    Cukup DC, Jangan Ada Lagi Versi “Director’s Cut” di Film-Film Buatan Kamu!
    Mari Berkenalan Dengan Google DeepMind, AI yang Bisa Bermimpi

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16