Meskipun Diblokir Telkom, Netflix Tetaplah Pilihan Terbaik

Dipublikasikan pada : 2016-12-07

Meskipun Diblokir Telkom, Netflix Tetaplah Pilihan Terbaik

Ilustrasi © Madzae


Sebelum memulai artikel ini, gue cuma mau bilang bahwa ini bukanlah konten bayaran. Netflix, tidak ada hubungan apa pun Madzae.com. Tapi, jika toh Netflix mau berterima kasih atas tulisan ini, cukup berikan saja gue setahun akses gratis ke Netflix.

Oke, di tengah revolusi internet yang begitu pesat, cara kita menikmati film atau video telah berubah. Dulu, untuk menikmati film berkualitas jawabannya cuma satu: Bioskop. Dan mungkin juga televisi, kecuali jika lo mau sabar terganggu oleh iklan yang berkeliaran.

Kemudian ada medium-medium lain, sebut saja DVD dan yang terbaru yakni kepingan Bluray yang harganya masih terlalu mahal.

Sekarang ada banyak pilihan. Selain Youtube dan Vimeo yang diblokir pemerintah tentunya. Sebut saja Amazon Prime, Hulu, Crunchyroll bagi si penggila anime, Fandor bagi penikmat film-film independen, Spuul bagi penikmat film Bollywood, Vudu yang namanya begitu seram, Hoox yang kini sering beriklan di televisi tanah air, iFlix yang namanya mirip-mirip sesuatu, dan tentu saja, sang pemilik tahta, Netflix.

Netflix begitu terlihat berbeda dibandingkan lawan-lawannya dalam dunia streaming video online. Alih-alih hanya membeli lesensi dari studio-studio kelas dunia, Netflix membuat konten originalnya sendiri. Tentu, pemain lain pun juga memiliki konten buatannya sendiri, misalnya Amazon Prime atau Hulu. Tapi toh, konten-konten original selain Netflix, tak bisa berkutik terlalu lama.

Netflix, perusahaan yang awalnya menyewakan DVD film dan mengirinkannya melalui pos, telah berubah menjadi raksasa dalam dunia streaming video melalui saluran internet. Setidaknya, mereka telah memiliki 86,7 juta pelanggan di dunia, dan memiliki 47,5 juta pelanggan di markas mereka sendiri, Amerika Serikat. Netflix mencanangkan untuk memperoleh angka 60 juta pelanggan secepatnya di tanah Paman Sam, dan berharap bisa menggaet 90 juta pelanggan kemudian di pasar domestik. Untuk pasar internasional, mereka tentu mengharapkan angka yang jauh lebih besar daripada 90 juta pelanggan.

Dan untuk memperoleh jumlah pelanggan yang besar, Netflix yang kini telah memiliki lebih dari 30 konten original, berniat untuk menambahnya jauh lebih banyak. Setidaknya, di tahun 2017, mereka berharap memiliki 1.000 jam konten original yang siap ditonton para pelanggannya, atau tentu saja, di-download.

Untuk memperoleh angka 1.000 jam konten original, Netflix menyiapkan uang $6 Milyar. Angka yang sangat fantastis tentu saja. Uang tersebut, sebagian besar alokasinya digunakan untuk membuat konten original mereka sendiri, sedikit di antara uang-uang tersebut, digunakan untuk membeli lisensi film-film berkualitas pada studio.

Selain membakar uang untuk memperkaya konten di aplikasi Netflix, Netflix juga mempersiapkan uang senilai $180 juta guna melakukan strategi pemasaran. Dan hal tersebut memang sangat penting. Apa gunanya konten berkualitas tapi sedikit orang yang tahu?

Tapi tentu, mendongkrak jumlah pelanggan memiliki banyak kendala. Kenaikan harga berlangganan Netflix menjadi salah satu problem utama mereka. Pertumbuhan pelanggan melambat akibat hal tersebut. Tapi, Netflix tetaplah Netflix. Serial Daredevil Jessica Jones, atau Sense8 tetaplah serial yang bagus dan sayang untuk dilewati.

Analis pemasaran sering berkata “kualitas selalu menang melawan kuantitas, dan tentu saja penonton tahu itu.” Netflix tahu itu.

Mengapa Netflix senang membuat konten originalnya sendiri alih-alih membeli lisensi dari studio-studio Hollywood?

Begini, konten original yang diproduksi Netflix sendiri, menghemat banyak uang bagi mereka. Dengan membuat katakanlah serial sendiri, Netflix bisa menekan biaya serendah mungkin namun tetap mempertahankan kualitas. Lain hal jika Netflix membeli lisensi suatu film atau serial dari studio Hollywood. Harga yang mereka patok, teramat mahal.

Daripada hanya menghabiskan uang untuk membeli satu lisensi The Dark Night yang disutradari oleh Christopher Nolan yang sangat mahal, mengapa Netflix tidak membeli Memento (film yang disutradarai Nolan), Brokeback Mountain (yang dimainkan Ledger), Thank You Fo Smoking (yang dimainkan Eckhart), Stranger Than Fiction (yang dimainkan si manis Maggie), dan The Machinist (yang diperankan oleh Bale) yang lisensinya terbilang murah untuk ditebus. Nah pikiran-pikiran seperti itu, ada dalam Netflix dan juga diamini oleh Zach Bulygo, seorang analis data yang melihat sepak terjang Netflix.

Kenapa Netflix lebih memilih membeli 5 lisensi film “murah” alih-alih membeli satu lisensi film spektakuler? Jawabannya adalah algoritma yang mereka kembangkan.

Namanya Netflix Prize, sebuah algoritma yang mulai mereka gunakan di tahun 2006. Algoritma tersebut memprediksi seorang pelanggan, apakah film atau serial yang ditonton si pelanggan membuatnya bahagia atau tidak. Hasil dari algoritma tersebut, digunakan oleh petinggi Netflix dalam mengambil langkah selanjutnya. Melalui data dari algoritma, menurut Jovis Evers, salah satu petinggi Netflix, mereka memiliki “33 juta versi berbeda dari Netflix.” Tentu angka 33 juta versi berbeda mengindikasikan beragamnya “permintaan” dari pelanggan mereka, dan tugas Netflix adalah mencari mana yang paling baik dari 33 juta versi berbeda tersebut, untuk dihadirkan kepada para pelanggannya.

Selain itu, Netfix Prize akan mengukur kepuasan maksimum per dolar yang dihabiskan pelanggannya. Mana yang paling maksimal menghasilkan kepuasan per dolar antara satu film The Dark Night atau lima film yang telah gue sebut di atas? Nah itulah yang membentuk Netflix hari ini.

Mereka sangat mengagungkan data.

“Kami selalu menggunakan data in-dept (mendalam)” ujar Jenny McCabe, petinggi Netflix. Ia lalu menambahkan, “Jika kamu terus menonton (salah satu serial/film), kami akan mempertahankan dan menambah (episode/sekuel) apa yang kamu sukai.”

Data mendalam yang disebut McCabe bukanlah main-main. Dunia internet memang memungkinkan hal itu daripada media konvensional lainnya. Netflix tahu kapan lo nonton serial Daredevil, sampai berapa episode lo nonton Sense8, berapa waktu yang dibutuhkan antara episode pertama sampai akhir saat lo nonton serial Stranger Things, kapan lo pause film yang lo tonton, dan lain-lain. Intinya, Netflix tahu data pelanggan mereka bahkan untuk hal-hal kecil dan terlihat sepele.

Bandingkan dengan televisi gratisan atau pun televisi berbayar, mereka tak tahu data-data tersebut. Dan di dunia konvensional, segala keputusan media, dipengaruhi oleh segelintir penyuplai data, yang entah benar atau tidak data yang mereka miliki. Sebutlah Nielsen, perusahaan yang paling banyak dijadikan rujukan media konvensional. Bandingkan dengan data yang diperoleh Netflix dari para pelanggannya, tentu suatu perbandingan yang sangat jauh.

Netflix, dengan konten original yang mereka ciptakan, tentulah berbeda dengan perusahan-perusahaan yang bermain di ranah video streaming. Untuk pasar lokal, sebut saja Hoox atau iFlix. Apa yang dilakukan Hoox atau iFlix bisa dilakukan perusahaan manapun. Siapapun bisa membeli lisensi serial atau film dari studio-studio di Hollywod. Berbeda dengan Netflix, yang sebagian besar merupakan konten yang mereka ciptakan.

Sialnya, Netflix “diharamkan” kehadirannya di Indonesia oleh raksasa telekomunikasi negeri ini. Entah bisikan apa yang terdengar di telinga petinggi Telkom, dengan semena-mena mereka memblokir Netflix. Padahal, ketentuan pemblokiran ada di tangan Kemenkominfo.

Telkom cs mengkalim, infrastruktur mereka digunakan tanpa “permisi” oleh Netflix. Hey, apakah Telkom telah izin juga pada PLN bahwa mereka memakai listrik perusahaan tersebut? Ataukah perusahaan penerbitan harus izin pada perusahaan kertas bahwa mereka memakai kertas untuk buku-buku yang mereka terbitkan, dan ataukah NET harus izin pada Samsung bahwa banyak penontonnya yang memakai pesawat televisi tersebut? Lalu, mengapa pelanggan internet Indonesia harus didikte apa yang boleh akses padahal mereka membayar sekian rupiah pada Telkom?

Dan untuk pelanggan Indonesia, tetaplah ceria. Banyak jalan mengakali pemblokiran Netflix. Dan untuk berbagai alasan, Netflix memang masih yang terbaik, terutama oleh konten-konten original ciptaan mereka. Bukankah film-film Hollywood bisa kita nikmati gratis di Trans TV dan Global TV? Nah, Netflix menghadirkan suatu pembeda bukan?


Baca Juga

    Mengapa Snapchat Spectacles Berhasil Sedangkan Google Glass Gagal?
    Terorisme Gaya Baru
    Perihal Gusur-Menggusur di Pilkada DKI

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16