Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Dipublikasikan pada : 2016-10-31

Menilik Sejarah Orang Arab di Indonesia

Ilustrasi © Madzae


Indonesia memang bukan hanya cerita yang didominasi kisah-kisah orang pribumi. Tapi di Indonesia, banyak kisah juga bisa dihasilkan oleh mereka yang berani berlayar berhari-hari sampai ke sini. Hendrik E. Niemeijer dalam bukunya berjudul Batavia: Masyarakat Koloni Abad XVII menerangkan bagaimana bangsa-bangsa asing juga turut membantu membentuk apa yang kita lihat Indonesia kini. Dalam tulisannya, Neimeijer menerangkan bahwa seorang Jan Peter Coen meminta pemerintah agung di Belanda untuk menyetujui usulannya tentang koloni di Batavia. Coen meminta agar Batavia dapat dibentuk sebagai “rumah” bagi mereka warga Belanda. Tentu ia sadar, warga Belanda hanya akan dijadikan “tuan” dan sebagi tuan, Coen meminta bantuan bangsa-bangsa lain untuk menghidupkan Hindia Belanda artinya “melayani” sang tuan tersebut. Bangsa-bangsa seperti Eropa non Belanda, Asia terutama Cina, dan tentu saja Arab hendak dijadikan Coen sebagai penggerak kehidupan Batavia.

Untuk yang terakhir gue sebutkan, memiliki kisah uniknya tersendiri. Bagaimana Orang Arab mampu dan mau menapaki kakinya di nusantara merupakan bagian menarik dalam sejarah Indonesia. Terlebih, fakta bahwa negeri ini didominasi kaum Muslim, menjadikan Orang Arab, tentu saja memiliki tempat tersendiri. Karena kita semua tentu tahu, Islam dan Arab sudah kandung melekat dan sulit dipisahkan.

Orang Arab yang sering kita identikan dengan janggut dan sorban yang menghiasi kepala, merupakan suatu bangsa yang berasal dari Hadramaut di wilayah pesisir selatan Arab Saudi. Hal ini seperti diutarakan oleh L.W.C van den Berg dalam bukunya berjudul Orang Arab di Nusantara. Dalam penelusurannya, Berg memberikan penjelasan lanjutan bahwa yang dimaksud Hadramaut, bukan seluruh bagian di pesisir selatan itu, melainkan sebuah bagian yang menjorok ke daratan di pesisir selatan Arab Saudi tersebut, letaknya antara desa-desa nelayan di desa Ain Bama Bad dan desa Saihut serta beberapa pegunungan yag menjadi latarnya. Penduduk Hadramaut sendiri, lebih merupakan etnis yang berbeda dengan yang dimaksud sebagai Orang Arab “murni”, dibanding tentu saja mereka Orang Arab yang asli dari wilayah Mekkah atau Madinah. Toh sesungguhnya, penduduk Mekkah sudah kehilangan kemurniannya bertahun-tahun yang lampau.

Salah satu kebanggaan Hadramaut adalah mereka masih merupakan keturunan cucu Muhammad, yakni Husain. Semua keturunannya di Hadramaut merupakan golongan sosial tersendiri yang memiliki kedudukan mulia. Mereka menamakan dirinya sebagai Sayid. Kebanggaan lainnya adalah di Hadramaut terdapat makan nabi Hud yang saban hari ramai dikunjungi peziarah dari berbagai pelosok.

Kondisi kehidupan di Hadramaut sebenarnya baik untuk pertumbuhan manusia. Paling tidak itu menurut Van Berg. Sayang, dalam kehidupan bermasyarakat, Hadramaut bukanlah tempat yang tepat. Peperangan antar suku serta kekacauan bernegara seakan menarik mereka untuk berhijrah mencari tempat yang baru. Terlebih, dalam diri seorang Hadramaut memiliki semangat untuk mengembara. Ini paling tidak merupakan bawaan alamian Orang Arab untuk berpetualangan.

S. Bujra dalam tulisannya berjudul The Politics of Stratification: A Study of Politic Change in a South Arabian Town memeparkan bagaimana keyakinannya terhadap salah satu motif kedatangan Orang Arab dari Hadramaut ke Nusantara. Salah satu motifnya yakni melakukan penyebaran agama Islam atau misionaris. Namun nampaknya, pendapat demikian dibantah oleh van den Berg. Benar bahwa Orag Arab dari Hadramaut tersebut menyebarkan agama Islam, namun mereka pergi ke Nusantara bukan dengan motif demikian. Motof utama mereka adalah untuk mencari nafkah. Berdagang merupakan salah satu pilihan yang mereka ambil. Dan menyebarkan agama Islam merupakan bagian kesekian atau sambil lalu.

Perihal penyebaran agama Islam, tentulah suatu yang cukup sulit dijelaskan. Bagaimana agama yang sudah lebih dahulu mengakar dalam masyarakat Nusantara bisa “dengan mudah” tergantikan oleh Islam. Paling tidak, dalam catatannya Berg memberikan agumentatif yang menarik. Orang Arab, seperti juga diamini oleh Neimejer merupakah salah satu bangsa yang cukup disenangi oleh pemerintahan kolonial. Mereka sering meminta bantuan Orang Arab sebagai penghubung dengan penguasa pribumi. Atas hubungan diantara penguasa Belanda dan penguasa pribumi tersebutlah, Orang Arab memiliki status yang mempuni dalam struktur masyarakat. Paling tidak, dengan demikian Orang Arab memiliki pengaruh yang cukup kuat. Termasuk mempengaruhi urusan agama.

Dalam kasus ini, sebuah contoh yang dipaparkan Berg nampaknya memiliki ceritanya tersendiri. Dikisahkan, Sayid Hasan bin Umar Al-Habsyi pada 1820-1827 diminta bantuan oleh Belanda untuk mendekati Priagung atau Priyayi Agung. Dengan kedudukannya yang dilegetimasi Belanda, ia dengan mudah bisa masuk dalam kalangan atas masyarajat yang didekatinya. Padahal, dalam catatan, motor utama Sayid Hasan bin Umar Al-Habsyi ke Nusantara adalah semata-mata untuk berdagang. Dengan kekuatannya yang cukup, ia bisa mempengaruhi kalangan elit Priyayi. Menikah dengan putri seorang sultan, dengan reputasi yang dimiliki bukan perkara yang terlampau sulit. Dengan demikian, penyebaran Islam bisa dilakukan dengan cukup mudah. Mengingat, Orang Arab dari Hadramaut, mayoritas tidak menginginkan perkawinan dengan seorang perempuan kafir. Jika sang perempuan mau memeluk agama Islam, seorang Arab biasanya akan menikahinya.

Kebanyakan, Orang Arab yang datang ke Nusantara menetap di wilayah-wilayah pesisir. Terutama Jawa dengan Batavia sebagai tujuan favorit, Cirebon, Pekalongan, dan Surabaya. Di Sumatera seperti Palembang dan Aceh, serta di wilayah Nusa Tenggara seperti Sumba. Orang Arab di Nusantara juga dikatakan sebagai pemberani akibat kenekatan mereka masuk ke wilayah pedalaman. Terutama di Jawa, Sumatera, dan sebagian kecil di Borneo atau Kalimantan. Dipilihnya wilayah pesisir bukan tanpa sebab. Akibat kapal layar sebagai moda transportasi utama dan keahlian Orang Arab berlayar merupakan poin utama dalam memilih pesisir sebagai tempat pilihan mereka.

Dari hasil interkasi Orang Arab dengan pribumi dalam hal pernikahan, lahirlah apa yang disebut sebagai Arab Campuran. Yakni keturunan Arab dengan Nusantara. Biasanya, di abad-abad awal kedatangan Orang Arab ke Nusantara, anak hasil pernikahan dengan pribumi sebisa mungkin akan didik ke Hadramaut. Dan biasanya, mereka, Arab Campuran tersebut akan selamanya menetap di Hadramaut dan tidak kembali ke Nusantara. Apalagi jika anak hasil pernikahan campuran tersebut merupakan anak perempuan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kaum perempuan Hadramaut lebih memilih tinggal disana dan tak ingin pergi ke Nusantara. Sebenarnya, ini juga bukan hanya sikap kaum perempuan, melainkan mereka yang sudah memiliki kedudukan baik di Hadramaut juga enggan merantau ke Nusantara. Hal ini biasanya dilakukan oleh para Sayid dan golongan elit Hadramaut. Mengingat kedudukan mereka yang sudah mapan. Tak heran, di Nusantara, golongan Sayid dan elit dikatakan minorotas dari kaum Orang Arab. Kebanyakan di Nusantara adalah mereka kaum bawah hadramaut dan hendak memperbaiki kehidupan mereka.

Sensus yang dilakukan di tahun 2000 gagal menyajikan data jumlah dan persebaran Orang Arab di Indonesia, paling tidak itulah pendapat yang diutarakan Yasmine Zaki Shahab, Antropolog Universitas Indonesia dalam tulisannya berjudul Sistim Kekerabatan sebagai Katalisator Peran Utama Keturunan Arab di Jakarta. Yasmine memberikan argumen yang cukup menarik dalam kenyataan yang didapat tersebut, apakah kemudian Orang Arab tersebut sudah diidentifikasikan sebagai orang yang telah membaur dengan pribumi atau dari segi jumlah, Orang Arab di Indonesia terlampau sedikit dan dimasukkan ke dalam pengkategorian “Lainnya”. Atau mungkin pula, para pekerja Sensus alpa memasukkan Orang Arab sebagi entitas sendiri dan lain dari pribumi.

Namun, dalam melihat Orang Arab yang mungkin berbaur dengan pribumi, agaknya hal ini bisa terbantahkan oleh ulasan van Berg. Sayid Usman bin Adb Allah bin Yahya seorang Hadramaut yang lahir di Batavia, seperti diutarakan van Berg, terkenal di antara kalangannya sebagai tokoh yang menentang atau berseberangan dengan Islam Jawa atau dikenal sebagai Islam Kejawen. Ia, merupakan penerus setia Salim bin Adb Allah bin Somair yang sama-sama menentang Islam ala Orang Jawa tersebut. Bagi mereka dan kebanyakan Orang Arab, Islam Kejawen merupakan ajaran Islam yang menyimpang dari semestinya. Clifford Geertz dalam tulisannya berjudul The Religion of Java membenarkan bagaimana Islam Kejawen yang berbeda dibanding Islam “murni”. Dengan banyaknya aura mistis dan magis yang meneyertai perbibadatan Islam Kejawen. Islam Kejawen, biasanya dilakukan oleh mereka golongan Abangan dalam pembagian masyarakat Jawa. Nampaknya, hal ini juga diamini oleh Dian Kinasih dalam tulisannya berjudul Interaksi Masyarakat Keturunan Arab dengan Masyarakat Setempat di Pekalongan.

Kebanyakan, dalam kajian Kinasih, dijelaskan bahwa banyak Orang Arab yang belum sepenuhnya berbaur dengan masyarakat setempat, khususnya di kota Pekalongan. Paling tidak, Orang Arab mau berbaur jika mereka membutuhkan pribumi dalam keperluan yang mereka hendak laksanakan. Kebanyakan, alasan penolakan pembauran dengan masyarakat setempat, terutama Orang Jawa adalah mereka menganggap Islam Kejawen yang dianut mayoritas Orang Jawa menyimpang dari yang seharusnya.

Akibat dari itu, seperti juga dijelaskan oleh Yasmine, terjadi pemusatan tempat tinggal Orang Arab di Indonesia. Di Jakarta, Yasmine menuturkan bahwa konsentrasi Orang Arab biasanya tinggal di Kampung Melayu, Condet, dan Rawabelong. Dulu, konsentrasi Orang Arab terutama di Batavia berada di wilayah Pekojan yang sebenarnya merupakan wilayah konsentrasi Orang India di Batavia. Van Berg juga merinci, bagaimana oleh pemerintah Kolonial, Orang Arab lebih baik untuk dipusatkan dengan menunjuk satu diantara mereka sebagai kepala kelompok.

Kini, dalam masa yang lebih modern, konsentrasi Orang Arab menyebar dengan sendirinya. Pembangunan kota menjadi semacam alasan untuk melakukan migrasi lanjutan. Tapi tetap saja, Orang Arab memiliki kegiatan-kegiatan pemersatu untuk tetap berhubungan. Salah satunya seperti yang Yasmine bilang adalah Khaul atau peringatan kematian seseorang. Dalam Khaul tersebut, lebih didapat suasana komunitas yang bisa memperkokoh status mereka sebagai Orang Arab.

Nampaknya, meskipun ada hubungan yang kurang baik antara Orang Arab dengan pribumi khususnya Orang Jawa perihal Kejawen, tak menyurutkan stigma status tinggi Orang Arab di Indonesia. Paling tidak, ini dibuktikan oleh Ibnu Hamad dalam tulisannya berjudul Nalar Arab dalam Masyarakat Indonesia: Dulu, Kini dan Esok. Ia menjelaskan bagaimana Orang Arab, terutama status mereka sebagai bangsa Muhammad dan tempat kelahiran Islam menjadikan posisi Orang Arab terbilang unik. Paling tidak, dalam nalar berpikir pribumi, Orang Arab sejatinya hidup dalam pikiran-pikiran masyarakat Indonesia, terutama menyangkut kehidupan beragama Islam. Konsepsi perihal syariat dalam Islam menjadi semacam petunjuk dan melegitimasi kedudukan Orang Arab yang cukup terpandang di Indonesia.

Dan sejatinya, nalar demikian juga telah ada jauh-jauh hari. Van Berg mengisahkan bagaimana seorang Hadrami bernama Sayid Syakih bin Ahmad Bafaqih memiliki peruntungannya sendiri. Sebagai kenalan sekaligus guru Sultan Sumenep, ia memiliki reputasi dan kehidupan yang baik. Namun, tatkala Sultan wafat, ia kehilangan kedudukannya tersebut. Akhirnya ia pergi ke Batavia dan melakukan bisnis. Sayang usahanya gagal dan segala pinjamannya tak bisa ia bayar. Saat itu, ia akhirnya dipenjara oleh Belanda. Namun, seorang putra Sultan Sumenep tersebut yang mengaggapnya sebagai guru membebaskannya dengan mengganti segala kerugian yang telah ia timbulkan. Ia pun akhirnya bebas, dan akhir kata ia meninggal dan dimakamkan di Sumenep. Disinilah titik keberuntungannya, di makamnya, orang kadung menaggapnya sebagai orang sakti dan penerus para nabi. Banyak pribumi yang datang ke makam untuk meminta berkah. Dari kunjungan pejiarah saja, para keturunan Sayid tersebut sejatinya tak perlu bekerja. Toh segala keperluan mereka sudah tertutupi oleh para peziarah.

Dari kisah yang diceritakan Berg tersebut, nalar Arab sejatinya telah melekat begitu kuat dalam benak masyarakat Indonesia. Mengaitkan Islam dan Orang Arab seakan menjadi pembenaran bagi kedudukan yang tinggi bagi masyarakat Arab di Indonesia.

Mungkin, berbaur sebagai Orang Indonesia yang utuh atau menjadi pribumi akan cukup jauh ditapaki Orang Arab di Indonesia. Namun, sentimen-sentimen ke-Arab-an mereka sejatinya telah menjadi pribumi sejak lama. Islam di Indonesia, meskipun memiliki nalar Kejawen khususnya bagi Orang Jawa, sejatinya masih memberikan ruang-ruang stereotip yang menjunjung Orang Arab. Mereka suci, saudara Muhammad, dan tempat kelahiran Islam. Indonesia, sebagi negara mayoritas beragama Islam seakan mengamini hal ini. Tanpa perlu repot-repot menjadi pribumi, toh sejatinya Orang Arab telah menjadi pribumi. Paling tidak dalam benak pikiran kita, Orang Indonesia. Karena seperti Islam ajarkan, bahwa orang seiman adalah saudara kita. Dan mungkin, petugas sensus yang melakukan sensus penduduk mengkategorikan mereka, Orang Arab saudara seiman sang petugas sensus.


Baca Juga

    Memahami Konflik Suriah Secara Sederhana
    Ruang, Waktu, dan Penjelasan Sederhana Dimensi 4 Dalam Film Interstellar
    Renyahnya Manfaat Tempe

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16