Mengapa Snapchat Spectacles Berhasil Sedangkan Google Glass Gagal?

Dipublikasikan pada : 2016-11-15

Mengapa Snapchat Spectacles Berhasil Sedangkan Google Glass Gagal?

Ilustrasi © Madzae


Snapchat baru saja meluncurkan produk wearable device mereka yakni Snapchat Spectacles. Berbeda dengan “pendahulu” produk sejenis yakni Google Glass, Snapchat Spectacles berhasil melaju mulus dalam capaian penjualan.

Bukan hanya itu, publik pun turut gembira dengan produk yang dibuat Snapchat tersebut. Mereka membicarakan, menantikan, dan tentu saja berharap bisa membeli produk tersebut.

Berbeda dengan Google Glass. Yang bahkan dalam masa percobaannya saja, banyak tempat-tempat yang melarang pengunjungnya menggunakan Google Glass.

Tak berhenti di situ, secara umum publik tidak menyukai Google Glass. Alasan utamanya: mereka takut.

Snapchat Spectacles berbeda dengan Google Glass. Spectacles hanya memiliki satu fitur, yakni merekam. Yup, Spectacles hanya merekam dan hanya berdurasi 10 detik. Dan kemudian mengintegrasikan hasil rekaman tersebut dengan aplikasi Snapchat. Glass? Bisa melakukan apa saja.

Inilah ketakutan terbesar dari Glass. Produk tersebut bisa melakukan apa saja. Bayangkan bahwa lo memiliki komputer mumpuni dalam bentuk kacamata. Dan semua yang mungkin terjadi, bisa terjadi.

Pencurian data merupakan poin utama dari ketakutan Glass. Bukan hanya orang lain yang terekam melalui fitur rekaman Google Glass, namun si pengguna Google Glass pun akan terkena imbasnya.

Kemana si pengguna pergi, ia mengunjungi apa dan siapa, siapa saja yang ia lihat, apa saja yang dilakukan, dan berbagai hal lainnya yang sensitif, bisa diketahui oleh Google Glass.

Di dunia maya, Google begitu perkasa mengetahui informasi apa pun. Tentunya orang akan enggan memberikan informasi di kehidupan nyata mereka pada Google bukan? Itulah salah satu penyebab Glass kalah pamor daripada Spectacles.

Kesederhanaan Spectacles membuat ia diterima. Snapchat memberikan tajuk untuk produk bikinan mereka, “less is more and do one thing and do it well.

Saat pengguna Spectacles merekam, ada indikator yang menyala. Berbeda dengan Glass yang bisa diam-diam merekam apa pun yang dilihat si penggunanya.

Dari segi harga, Spectacles jauh lebih unggul dari Glass. Perangkat seharga $130 berbanding dengan peraangkat seharga $1.500. suatu perbandingan yang jauh. Apalagi jika kita konversikan dalam bentuk rupiah.

Yang turut membedakan Spectacles dengan Glass adalah Snapchat menjual produk mereka hanya melalui mesin penjual otomatis atau vending machines. Mereka menyebutnya Snapbot Vending Machines.

Dan terakhir, hal yang membuat Spectacles berhasil melebihi Glass adalah desain yang menawan. Spectacles dibuat dengan gaya “mainan.” Sangat pas dipadupadankan dengan gaya berpakaian keseharian. Terlihat seperti anak muda yang sedang bermain. Glass? Terlihat seperti maniak teknologi yang sedang melakukan pengumpulan data.

Bagaimana, Spectacles atau Glass?

Tunggu di Indonesia belum tersedia.


Baca Juga

    Kemenangan Trump, Status Tersangka Ahok, dan Brengseknya Timeline Facebook
    Adblocker dan Terbakarnya Uang Milyaran
    Terorisme Gaya Baru

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16