Mempertanyakan Debat Kandidat

Dipublikasikan pada : 2017-01-16

Mempertanyakan Debat Kandidat

Ilustrasi © Madzae


“Lebih besar daripada penderatan di Bulan, Piala Dunia, Super Bowl, Olimpiade, dan pernikahan kerajaan” ujar Paul Begala, mantan penasihat Clinton seperti dikutip dari New Yorker mengomentari perihal debat calon presiden di Amerika Serikat.

Pertarungan Richard M. Nixon dengan John F. Kennedy di tahun 1960 merupakan debat kandidat pertama yang disiarkan melalui televisi. Sejak saat ini, debat calon presiden (dan calon walikota/bupati ataupun gubernur) memang memiliki magnet tersendiri.

“Mereka (kandidat presiden) membuat CNN dan Fox sangat banyak uang” ujar Jim Lohler, seorang moderator debat kandidat seperti dikutip dari New Yorker. Ucapan Lohrer tersebut benar adanya. Seperti dikutip dari Forbes, satu dari tiga orang Amerika, menonton debat kandidat presiden di televisi. Dengan jumlah yang sebegitu besar, pundi-pundi keuntungan dari para perusahaan yang memasang slot iklan saat jeda debat, memang sangat menggiurkan bagi para stasiun televisi.

Debat kandidat presiden, seperti yang ditulis Michael Gonchar di New York Times memberikan pemirsanya kesempatan untuk melihat para kandidat secara lebih mendalam dan memahami jawaban para akndidat terhadap isu-isu penting nasional. Sedangkan Jim Lapore, dalam tulisannya di New Yorker menyatakan bahwa kampanye politik bagaikan ring tinju, dan debat kandidat merupakan ruang persidangan. Di ruang persidangan tersebut, apa yang digaungkan selama kampanye, diverifikasi ulang dan diadu argumen dengan lawan politik. Lebih lanjut, Lapore menganggap bahwa debat kandidat mirip seperti pemungutan suara, ialah jalan bagi orang-orang untuk tidak setuju tanpa memukul satu dengan lainnya atau tanpa melalui peperangan. Sementara Harbert Hoover, seorang politisi, menyatakan dalan New Yorker bahwa “ debat politik mendasari aksi politik.”

Lebih lanjut, dalam dunia perpolitikan Amerika Serikat, seperti yang ditulis Lapore, negeri itu memang lahir dari debat. Di tahun 1787, Konvensi Konstitusional menyetujui debat sebagai “berargumen tanpa kekerasan, dan berusaha untuk meyakinkan tanpa menyakiti perasaan satu sama lain.” Setahun setelah konvensi dilakukan, James Madison dan James Monroe berdebat dalam perebutan kursi kongres di Virginia. Dan sejak dekade 1830an, pendidikan di Amerika Serikat memasukan materi debat untuk dipelajari.

Tapi yang menjadi pertanyaan menggelitik seputar debat kandidat presiden (dan juga walikota/bupati dan gubernur) adalah, apakah debat tersebut bermanfaat bagi pemilih? Secara lebih mendalam, apakah debat tersebut berguna bagi para kandidat untuk memperoleh suara?

Thomas M. Holbrook dalam karya ilmiahnya berjudul “Political Learning from Presidential Debate” yang mengkaji debat kandidat presiden antara tahun 1976 hingga 1996 berargumen bahwa debat kandidat memang berpengaruh terhadap masyarakat. Ia menggaris-bawahi ada pertukaran informasi yang berguna perihal kandidat saat debat berlangsung kepada para calon pemilih.

Namun, Robert Erikson dan Christopher Wlezien yang melakukan penelitian tentang poling atau jajak pendapat sebelum dan sesudah debat kandidat berlangsung antara tahun 1960 hingga 2008, seperti dikutip dari The Economist, menghasilkan kesimpulan bahwa debat kandidat presiden menghasilkan variasi koefisin 0.71. Apa artinya? Artinya, 71 persen hasil poling pasca debat, sama dengan poling sebelum debat dilangsungkan. Secara lebih sederhana, penelitian ini membuktikan bahwa debat kandidat, hanya berpengaruh sangat kecil untuk mempengaruhi hasil suara.

Hasil senada juga diungkapkan John Sides, seorang peneliti politik seperti diungkapkannya melalui Vox, bahwa debat kandidat memiliki implikasi yang kecil jika tidak ingin mengatakannya tidak ada sama sekali.

Debat kandidat, lebih ditujukan bagi “swing voter” alih-alih terhadap pendukung di masing-masing calon. Dengan cara bagaimanapun, sulit untuk mengubah pandangan pendukung terhadap kandidat idolanya. Dengan cara yang sederhana, debat tidak akan mengubah pendukung Persib Bandung menjadi suporter Persija Jakarta, meskipun Persija memiliki permain yang lebih menarik untuk disaksikan.

Di Indonesia, debat kandidat belum memiliki sejarah panjang sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat. Debat kandidat di Indonesia, lebih merupakan presentasi seorang siswa sekolah menenang terhadap hasil pekerjaan kelompoknya. Tidak ada intrik, drama, dan pertarungan yang sengit terjadi dalam debat-debat kandidat di Indonesia. Semua bermain aman dalam bentuk sangat formal dan terkesan membosankan.

Dari hasil pengamatan beberapa kali acara debat kandidat, acara tersebut lebih mirip program-program televisi yang ramai dengan sorak-sorai penonton, terutama penonton yang langsung berada di arena debat. Dalam beberapa kali acara, terlihat moderator atau pembawa acara debat, sulit mengatur jalannya acara karena para pendukung yang ramai dan bersorai bagaikan penonton bayaran alay di acara-acara televisi.

Di acara debat kandidat terakhir, debat kandidat Gubernur DKI Jakarta, Ira Koesno sering sekali mengingatkan penonton untuk tertib. Alih-alih menghasilkan debat yang spektakuler dengan beragam argumen dan pemikiran yang tercetus di atas panggung, debat kandidat DKI kemarin menghasilkan meme-meme di internet yang justru menyoroti sosok Ira Koeno, bukan ketiga pasangan yang menjadi tokoh utama dalam debat tersebut.

Nampaknya, publik Indonesia memang belum sepenuhnya memahami esensi dari debat dan mengambil manfaat dari debat tersebut. Pendukung A masih akan tetap memilih A, meskipun si A memiliki pemikiran yang tidak berguna untuk kemajuan wilayah pendukung A. Kalau sudah begini, benar kalimat-kalimat di meme-meme itu, “Ira Koesno beneran sudah 47 tahun?”


Baca Juga

    Perkasanya Google, Pukulan Telak Microsoft, dan Semakin Brengseknya Apple
    Di Bawah Bayang-Bayang Drone
    Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16