Memahami "Made In China" Sepenuhnya

Dipublikasikan pada : 2017-01-04

Memahami "Made In China" Sepenuhnya

Ilustrasi © Madzae


Coba cek barang yang lo miliki, gue cukup yakin lo bakalan nemu tulisan “made in China” di barang yang lo miliki. Berbagai barang yang ada di dunia, hampir pasti berafiliasi dengan Cina. Cina menjadi semacam “rumah bersalin” bagi apa pun yang ada di dunia ini. Bahkan, gue pernah dengar pepatah yang bunyinya kira-kira begini, “Tuhan menciptakan apa pun di dunia, dan ciptaan itu dibuat di Cina.”

Dikutip dari The Economist, di tahun 1990 hanya ada sekitaran 3 persen produk berlabel “made in China.” Kini hampir setengah populasi produk yang ada di dunia, berlabel “made in China.” Secara statistik, 80 persen pendingin ruangan alias AC diproduksi di Cina, 70 persen smartphone yang kita pakai berlabel buatan Cina, dan 60 persen sepatu yang diperjual belikan adalah berasal dari Cina.

Cina menjadi tempat yang paling ideal bagi perusahaan mana pun di dunia untuk memproduksi produk mereka secara masal. The Economic Policy Institute bahkan mengatakan bahwa lebih dari 3 juta pekerjaan pergi meninggalkan Amerika Serikat dan berlabuh di Cina di rentang tahun 2001 hingga 2003.

Apa alasan yang mendasarinya? Biaya. Membuat barang di Cina artinya memangkas biaya produksi dengan sangat efisien. Upah pekerja yang jauh lebih murah dibandingkan misalnya dengan upah pekerja di Amerika Serikat, adalah alasan yang masuk akal mengalihkan basis produksi ke Cina.

Tapi tentu saja, alasan “upah murah” hanyalah salah satu alasan saja. “Upah pekerja adalah pecahan kecil dari biaya (produksi)” ujar Duane Boning, pakar dari MIT (ITB-nya Amerika Serikat). Secara lebih mendalam, Cina diminati banyak perusahaan di dunia adalah karena mereka memiliki bermacam jenis dari produk dan inovasi yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Cina, memiliki infrastruktur yang sangat baik bagi tiap perusahaan mengembangkan produk yang mereka produksi. Para perusahaan yang membuat produknya di Cina akan mampu meningkatkan volume produk mereka dengan biaya yang masuk akal bagi perusahaan-perusahaan.

Data Bank Dunia menunjukkan bahwa persentase komponen impor yang dibutuhkan pabrik-pabrik di Cina mengalami penurunan dari 60 persen menjadi sekitaran 35 persen. Ini artinya, saat sebuah perusahaan hendak membuat produk inovasi mereka, komponen yang diperlukan untuk membuat produk tersebut tidak perlu dicari jauh-jauh dari basis produksi mereka di Cina. Inilah salah satu faktor lain mengapa Cina unggul dalam hal membuat produk apa pun di dunia. Lagi lagi, dengan perkara demikian, ongkos produksi bisa dipangkas.

Selain itu, keberadaan Cina yang selemparan batu dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sebagai basis pekerja murah menjadi nilai tambah tersendiri bagi Cina. Kerja sama antara satu pabrik di Cina dengan pabrik lain di wilayah Asia Tenggara bakalan terjalin dengan sangat baik. Komponen-komponen yang dibuat di Asia Tenggara, akan lebih mudah mengkases Cina daripada ke tempat lain di dunia, begitupun sebaliknya. Hal seperti inilah yang dimiliki Cina, tapi tidak dimiliki negara lain, sebut saja Amerika Serikat. Kekuatan regional, adalah kata kunci yang tidak bisa ditawar.

Selain itu, yang membuat segala hal berbau Cina tampak murah (dan beneran murah) adalah kebijakan Pemerintah Cina yang menanipulasi mata uang mereka, Yuan, menjadi lemah. Bahkan, Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump pun menyatakan bahwa Cina menggunakan politik “manipulasi Yuan” untuk melanggengkan ekonomi mereka.

“Manipulasi Yuan” yang dilakukan Pemerintah Cina, dibuat agar mata uang mereka lemah terhadap, utamanya, Dolar. Dengan lemahnya Yuan terhadap Dolar, para pengusaha dan investor akan melihat Cina sebagai tempat yang murah untuk berbagai alasan ekonomi. Tentu, Pemerintah Cina juga harus menjaga agar Yuan mereka tidak terlalu lemah. Karena jika itu terjadi, bukan predikat murah yang mereka terima dari investor, tapi kondisi ekonomi dalam negeri mereka juga akan porak poranda.

Dengan manipulasi Yuan, ongkos kirim suatu barang hasil produksi di Cina juga akan lebih murah alih-alih membuat barang tersebut di negeri asal suatu produk. Trump marah dengan kondisi seperti ini. Dalam beberapa kesempatan, ia bersumpah akan mengakhiri praktek seperti ini yang dilakukan oleh Cina.

Sejak dibuka untuk berbagai negara di dunia lebih dari dua puluh tahun lalu, Cina kini menjadi raksasa ekonomi yang tinggal sejengkal lagi melampaui Amerika Serikat.

Banyak produk-produk kebanggaan Amerika Serikat, yang memiliki label “dibuat di Cina,” sebut saja iPhone.

Presiden Obama pernah bertanya pada mendiang Steve Jobs tentang mengapa Apple tidak membuat seluruh proses produksi iPhone di Amerika Serikat saja? Pertanyaan tersebut dijawab dengan memaparkan bahwa produksi iPhone di Cina tidak hanya melulu soal upah pekerja perakitan yang murah di sana. Fleksibilitas pabrik dan pemasok, adalah bagian yang tidak dimiliki di Amerika Serikat.

Untuk diketahun, membuat sebuah iPhone, iPad, dan berbagai produk Apple lainnya, Apple membutuhkan hingga 766 pemasok komponen untuk membuatnya. Dan 346 pemasok, berasal dari Cina. Menjadikan pabrik perakitan di Cina, adalah sebuah rasionalitas bagi perusahaan Apple.

Bagaimana jika iPhone, iPad, dan berbagai produk Apple lainnya tetap harus dibuat di Amerika Serikat? Menurut IHS (konsultas teknologi), biaya perakitan akan meningkat hingga $4 per unit iPhone. Tapi, menurut Jason Dedrick, Profesor dari Universitas Syracus, biaya perakitan akan mengalami peningkatan hingga $10 hingga $40 per unit. Dan jika membuat iPhone secara keseluruhan di Amerika trmasuk juga dengan komponen-komponen dari 766 pemasok, biaya pembuatan iPhone menurut Dedrick akan meningkat hingga $100 per unit. Sebuah angka yang sangat memberatkan jika dibebankan pada konsumen. Akibatnya tentu saja, iPhone buatan Apple akan kehilangan banyak konsumen yang berpikir ulang saat akan membeli iPhone.

Jadi, membuat produk atau barang di Cina, adalah kumpulan dari berbagai faktor. Bukan semata-mata upah buruh yang murah dari negara dengan penduduk lebih dari semilyar jiwa tersebut.


Baca Juga

    Meskipun Diblokir Telkom, Netflix Tetaplah Pilihan Terbaik
    Apa yang Terjadi di Harbolnas Kemarin?
    Bumi Berubah

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16