Memahami Kemajuan Jerman

Dipublikasikan pada : 2016-12-29

Memahami Kemajuan Jerman

Ilustrasi © Madzae


Dalam film Captain America The First Avenger, ada seorang karakter bernama Dr. Abraham Erskine, seorang ilmuan Jerman yang membelot kepada Amerika Serikat. Ilmuan tersebut-lah yang pada akhirnya membuat Steve Rogers menjadi Captain America.

Meskipun Captain America adalah kisah fiksi semata, ada semacam peneguhan dalam cerita tersebut, bahwa ilmuan Jerman jauh lebih superior daripada ilmuan Amerika Serikat. Bahkan, jika lo adalah penggemar kisah-kisah tentang Perang Dunia, ada sebuah fakta menarik. Pasca Perang Dunia ke-Dua, banyak ilmuan-ilmuan Jerman yang menjadi pemimpin labolatorium sains dan lembaga-lembaga riset di Amerika Serikat sana.

Bahkan, Gita Savitri Devi pun jauh lebih memilih kuliah di Jerman daripada kuliah di Indonesia, di mana doi sudah diterima di ITB yang konon merupakan sekolah teknik terbaik di Indonesia.

Jerman, dalam berbagai kesempatan sering diidentikan dengan teknologi yang mutakhir dan pengetahuan yang berkembang pesat. Coba tengok mobil-mobil Jerman yang lalu-lalang di jalanan. Banyak orang percaya, mobil buatan Jerman adalah mobil terbaik daripada mobil buatan Jepang yang jauh lebih murah meriah itu.

Dan pertanyaan paling mendasar melihat fenomena Jerman yang unggul dalam sains dan teknologi adalah, mengapa Jerman bisa begitu? Jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini adalah hendaknya kita kembali ke awal abad ke 19.

Jerman kini adalah buah dari penggabungan beberapa konfederasi, seperti Prussia, Bavaria, Husse, Bedein, Silesa, dan lain sebagainya. Penggabungan tersebut, terjadi manakala Otto van Bismarck, Kanselir jerman kala itu, melakukan manuver politik di awal abad ke 19. Manuver politiknya, justru tidak terjadi di wilayah Jerman kini, melainkan terjadi di wilayah Versailless, Perancis. Mengapa? Karena pada waktu itu, pasukan Prussia baru saja berhasil mengalahkan Perancis.

Untuk membuat Jerman bersatu dan iri melihat Inggris yang semakin berjaya, Bismarck mencanangkan program yang kelak, membuat Jerman begitu digdaya dalam sains dan teknologi seperti yang kita lihat di masa ini. Program tersebut bernama “Kulturkampf.”

Kulturkampf atau culture stuggle atau perjuangan budaya pada intinya melarang segregasi apa pun yang ada di Jerman. Sebenarnya, program ini dicanangkan untuk membendung pengaruh yang terlalu kuat dari Vatikan pada masyarakat Jerman terutama penganut Katolik kala itu. Bismarck menginginkan rakyatnya hanya tunduk pada negara dan bersama-sama memajukan Jerman untuk mengejar ketertinggalan dari Inggris.

Kulturkampf, dalam garis besar, merupakan pertarungan pengaruh antara negara melawan Vatikan dalam mendikte “rakyatnya” dalam berbagai hal, terutama mengenai kehidupan religi dalam dunia modern.

Kulturkampf ini mirip dengan Culture War, yang artinya pertentangan antara kelompok tradisional atau konservatif dengan kelompok progresif atau liberal. Kelompok tradisional diwakili oleh vatikan, sementara kelompok progresif diwakili oleh Negara.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi di Jerman? Saat program tersebut dicanangkan, Jerman dikuasi oleh orang-orang liberal yang berpandangan maju. Saat itu, Vatikan dengan Katoliknya, terlihat sangat anti terhadap kemajuan, terutama menyangkut perkembangan ilmu penegatahuan. Vatikan mengaggap bahwa kemajuan pengetahuan, bisa berakibat buruk pada iman seorang Katolik. Bismarck, tidak suka dengan demikian. Karena belenggu Vatikan, membuat Jerman tertinggal terutama menyangkut masalah pendidikan.

Bismarck dengan kulturkampf-nya, melarang segerasi apa pun. Terutama di ranah pendidikan dan militer. Saat itu, baik pendidikan dan militer ada jurang pembeda yang tegas, antara Katolik, Protestan, dan juga yang bukan di antaranya. Dalam dunia pendidikan, ada perbedaan antara pelajar dari kalangan Katolik dengan pelajar dari kalangan Protestan dan dari kalangan selain keduanya. Akibatnya, ada kurikulum yang saling berbeda di antara mereka. Dan kurikulum yang ada, lebih mirip dogma daripada sains. Dan di ranah militer, ada kesenjangan antara satu prajurit dengan prajurit lainnya gara-gara agama apa yang mereka anut.

Terutama menyangkut pendidikan, kulturkampf menyatukan sekolah-sekolah yang tadinya terpisah atau memiliki jurang pembeda. Saat itu, banyak sekolahan atau Universitas di Jerman yang dibiayai oleh gereja. Dengan kulturkampf, sekolah dan Universitas dibiayai sepenuhnya oleh negara.

Model sekolah keagamaan (semacam pesantren di Indonesia) harus mengajarkan materi-materi tentang sains dan teknologi. Kurikulum tentang agama, harus seizin dari Negara. Dan sekolah liberal, diwajibkan juga memberi pengajaran perihal agama dan filsafat untuk mengisi kekosongan yang terjadi manakala sekolah agama “diambil alih” oleh Negara.

Secara umum, kulturkampf membuat sekolah atau Universitas menjadi tiga model. Yakni sekolah teknik atau vokasional (semacam SMK), sekolah akademik, dan sekolah seni. Kala itu, sekolah agama yang disokong oleh gereja, seakan dihapus oleh kebijakan ini. Dan dengan demikian, sedikit-demi sedikit, pengaruh Vatikan kian berkurang di Jerman.

Era kulturkampf-nya Bismarck adalah era di mana pencerahan terjadi di Jerman. Mulai saat itu, semua orang bebas berpendapat. Semua orang bebas belajar apa pun yang mereka kehendaki, selama tidak mengganggu stabilitas Negara. Dan tiap-tiap orang atau organisasi yang menetang kebijakan Negara, saat itu juga mereka akan dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Dengan demikian, terjadi iklim pendidikan yang positif di Jerman. Dan tahun demi tahun berlalu, Jerman pada akhirnya lahir sebagai negara dengan kekuatan sains dan teknologi yang paling hebat.

Lihat bagaimana saat Perang Dunia ke-Dua terjadi. Pasukan sekutu, dibuat frustasi dengan alat-alat canggih milik Jerman. Dan selepas kekalahan Perang Dunia ke-Dua, Jerman adalah negara yang paling cepat bangkit dan kembali menjadi negara yang perkasa.

Dari kisah Jerman tersebut, nampaknya terasa familir dengan keadaan Indonesia kini. Apakah Indonesia akan menjadi seperti Jerman kelak? Waktu yang akan menjawabnya.


Baca Juga

    Kapitalisme Telanjang di Dunia Maya
    Film Terbaik di Tahun 2016
    Benang Kusut Pembajakan Konten

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16