Memahami Cita Rasa Komunis dalam "Made In China"

Dipublikasikan pada : 2017-01-25

Memahami Cita Rasa Komunis dalam "Made In China"

Ilustrasi © Madzae


Di sebuah pertemuan dalam acara G20 Summit di Cannes, Perancis, Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy bertemu dengan Presiden Cina, Hu Jintau. “Model ekonomi seperti apa yang seharusnya Cina tiru? Ala Eropa? Ala Amerika Serikat?” Dengan tenang, Presiden Hu Jintau menjawab, “dengan segala rasa hormat, kami menyukai cara sistem kami bekerja, terima kasih.”

Mao Tse-tung di tahun 1946 mendirikan sebuah negara bernama “Republik Rakyat Cina.” Negeri itu, dibangun dengan inspirasi dari pemikiran-pemikiran Karl Marx dan Lenin. Karenanya tak heran, Cina di awal kelahirannya, adalah negara komunis. Dan melihat ukuran penduduknya, Cina merupakan negara komunis terbesar di dunia.

Dikutip dari Business Insider, Mao menginginkan suatu masyarakat yang memiliki kesejajaran dalam tiap hal. Dan rakyatnya, bisa memperoleh akses yang sama antara satu dengan lainnya. Untuk itulah, Pemerintah Cina kala itu, memegang kendali penuh atas perkebunan, pertanian, pabrik-pabrik, dan segala bisnis yang ada di negara tersebut.

Sial, antara tahun 1959 hingga 1961 Cina mengalami malapetaka. Negara komunis tersebut mengalami kegagalan produksi pangan dan banyak industri yang bangkrut. Akibat yang paling mengerikan, sebagaimana dikutip dari Business Insider, banyak warga Cina yang mati saat periode kelam tersebut.

Tahun 1978, hadirlah sosok bernama Deng Xiaoping, seorang revolusioner. Ia merupakan veteran dalam kubu Partai Komunis Cina. Dengan melihat kehancuran di periode 1959 hingga 1961 dan untuk menghindari terulangnya malapetaka serupa, ia menghendaki perlu adanya revolusi dalam tubuh Cina. Dan sebagaimana dikutip dari Slate, tahun 1979 Cina memulai revolusi kebudayaan. Mereka mengadopsi kapitalisme untuk menggerakkan ekonomi negara tersebut. Cengkraman negara terhadap sektor privat, mulai dilepaskan. Cina di tahun 1979 membuka keran untuk kepemilikan properti dan pasar bebas bagi warga dunia. Dan untuk lebih meningkatkan ekonomi, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Cina membuka 4 kawasan ekonomi khusus. Salah satu yang terkenal adalah Hongkong. Hasilnya? Cina, sebagaimana dikutip dari Business Insider, sekarang merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-dua di dunia. Berada tepat di bawah Amerika Serikat. Dan para analis ekonomi meyakini, hanya tinggal sebentar lagi bagi Cina menggusur Amerika Serikat dari singgasana.

Sebagaimana diberitakan Slate, di tahun 2010, General Motor menjual lebih banyak mobil di Cina daripada di Amerika Serikat. Ya, bukan hanya sistem ekonomi semata yang kapitalis, penduduk Cina kini mengadopsi kapitalisme dalam kehidupan mereka. Menurut penelitian Pew Research, 76 persen warga Cina menyetujui bahwa pasar bebas yang diterapkan negara itu, membuat hidup mereka lebih baik.

Kini, apa apun tersedia di Cina. Cina hari ini, merupakan pabrik dari hampir semua produk yang ada di dunia. Coba lihat iPhone yang elo pakai untuk membaca artikel ini, coba pula cek Laptop yang elo pakai untuk bekerja, dan coba pula cek segala barang elektronik yang elo miliki. Cina adalah tempat yang ideal bagi perusahaan-perusahaan dunia, membuat produk-produk mereka.

Lebih lanjut, Pew Research juga mengungkapkan bawah sejak tahun 1980, ekonomi Cina tumbuh rata-rata 10 persen tiap tahunnya. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi iklim yang sangat baik yang ada di Cina, terutama dalam hal bisnis dan ekonomi. Mana ada negara komunis yang bagus untuk bisnis?

Tapi, apakah semudah itu Cina meninggalkan ideologi komunis?

Tidak sesederhana itu. Sampai hari ini, Cina memang masing memiliki bumbu-bumbu komunis. Tidak lebih. Aroma komunis, sebagaiman dikutip dari Slate, masih terasa dalam kebijakan kepemilikan tanah. Ya, semua tanah yang ada di Cina, adalah milik pemerintah. Dengan catatan, setiap orang atau kelompok atau entitas bisnis, bisa memiliki properti berupa rumah, gedung, atau bangunan. Tanahnya nggak! Selain itu, masih dikutip dari Slate, Cina memiliki kendali sepenuhnya atas Media dan Bank Cina. Dengan demikian, mereka akan mudah mengontrol apa pun yang terjadi di negara tersebut. Dengan kenyataan demikian, Cina bisa dianggap sebagai negara kapitalis bercita-rasa komunis. Dan ya, komunis sesungguhnya telah mati!

Tapi, apakah kapitalisme yang diterapkan Cina benar-benar seperti kapitalisme yang dikenal dunia (Amerika Serikat)?

Kapitalisme Cina, adalah varian lain dari kapitalisme. Dan ya, kapitalisme Cina bukanlah barang baru. Kamar dagang VOC atau yang kita kenal sebagai “Kompeni” adalah salah satu perusahaan yang dalam sejarahnya, menggunakan kapitalisme yang kini digunakan Cina, “State-Capitalism.”

State-Capitalism atau Kapitalisme-Negara merupakan kapitalisme yang dikendalikan negara. Ian Bremmer dalam tulisannya di Reuters mengungkapkan bahwa dalam Kapitalisme-Negara, perlu “arahan pusat” untuk mengendalikan jalannya suatu indutri atau perekonomian. Bremmer menambahkan, Kapitalisme-Negara bukanlah kapitalisme pasar bebas sepenuhnya dan jelas juga bukan merupakan ekonomi yang 100 persen dikenalikan pemerintah sebagaimana telah dilakukan Cina di awal kelahirannya. Dalam Kapitalisme-Negara, lebih dari 10 persen kepemilikan dari tiap-tiap firma harus dimiliki negara. Firma-firma yang dimaksud bisa berupa “financial firm” ataupun “non-financial firm.”

Dalam suatu Kapitalisme-Negara, Bremmer mengungkapkan bahwa negara harus memiliki akses terhadap barang atau layanan murah yang memiliki nilai tinggi di pasaran. Dalam kasus Cina, mereka memiliki sumber daya manusia (pekerja) murah yang sangat menggiurkan untuk perusahaan-perusahaan. Dan ya, inilah salah satu faktor mengapa banyak pabrik-pabrik dari perusahaan-perusahaan di dunia, ada di Cina. Termasuk Apple.

Dikutip dari The Economist, Kapitalisme-Negara sangat menguntungkan bagi Cina. Selain bisa menjaga stabilitas dalam negeri, Kapitalisme-Negara juga bisa menunbuhkan ekonomi. Kata kunci bagi Kapitalisme-Negara sebagaimana yang diungkapkan Bremmer adalah “arahan pemerintah” dan “regulasi pemerintah.” Negara-negara seperti Amerika Serikat yang mengadopsi kapitalisme dalam ekonomi mereka hanya menggunakan “regulasi pemerintah.” Sedangkan Cina, selain menggunakan “regulasi pemerintah” juga menjalankan “arahan pemerintah.”

Kombinasi “arahan pemerintah” dan “regulasi pemerintah” sebenarnya juga diterapkan oleh Amerika Serikat. Namun bukan dalam bidang ekonomi, melainkan militer. Inilah akibatnya, sebagaimana dikutip dari Slate, Amerika Serikat memiliki militer tercanggih dan terkuat di dunia. Amerika Serikat, menggunakan konsep Kapitalisme-Negara dalam tubuh militer mereka, namun tidak dalam ekonomi mereka.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sebenarnya komunisme ala Karl Marx telah mati bertahun-tahun lampau. Cina memang dikuasi oleh satu-satunya partai di negeri itu bernama “Partai Komunis Cina.” namun apalah sebuah nama. Toh orang-orang PKC lebih memilih menggunakan ideologi kapitalis dalam gaya hidup mereka. Dan untuk apa takut pada palu arit di zaman artificial intellegen kini?


Baca Juga

    Apakah Facebook Membantu Kemenangan Trump (dan Mungkin Kemenangan Jokowi)
    Ucapkan Selamat Tinggal Pada “Intel Inside”
    Dari Mana Begundal Memperoleh Senjata Api?

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16