Melihat Kondisi Media Dari Kacamata SpongeBob

Dipublikasikan pada : 2016-10-24

Melihat Kondisi Media Dari Kacamata SpongeBob

Ilustrasi © Madzae


Bagi gue yang berada di Jakarta, meletusnya gunung Sinabung di Sumatera Utara mungkin tak terasa secara kasat mata. Namun, kotornya abu yang dimuntahkan, menggelegarnya suara letusan, dan ketakutan yang ditimbulkannya jelas sekali terasa. Apakah karena kita satu bangsa? Jawabannya tidak juga, toh saat topan Haiyan menerjang Fillipina rasanya sama seperti kejadian sinabung.

Tepat pada tanggal 8 Agustus 2008 The Krabby Kronicle terbit pertama kali. Penerbitnya siapa lagi kalo bukan Mr Krabs sang taipan bisnis makanan cepat saja di Bikini bottom. Untuk alasannya tak perlu jauh-jauh dicari, toh Mr Krabs hanya bicara soal uang bukan yang lain. Ya betul, The Krabby Kronicle lahir akibat Mr Krabs melihat bahwa bisnis media memang mejanjikan. Bagaimana tidak, saat The Krabby Kronicle belum terbit, arus utama media di Bikini bottom hanya berisi berita-berita picisan. Jelas tak mendidik, bersifat guyonan, tak memiliki ideologi. Tentu saja, penggeraknya uang.

Awalnya Mr Krabs tak percaya itu, media adalah medium penyebar informasi yang mencerahkan. Saat edisi perdana terbit, The Krabby Kronicle hancur dalam angka penjualan. Pembaca telah dinina-bobokan berita-berita picisan. Maka, Mr Krabs kembali menjadi diri sendiri. Apalagi dirinya kalau bukan uang, uang dan uang.

Mr Krabs perintahkan satu-satunya wartawan yang ia miliki untuk menggunakan "imajinasi" dalam melihat segala peristiwa. Wartawan itu, yang kita ketahui bernama SpongeBob benar-benar menggunakan "imajinasinya" saat melihat sesuatu. Ditambah insting jurnalis, lengkaplah sudah SpongeBob memiliki berita yang "layak cetak" itu.

Mudah ditebak, saat edisi terbaru terbit, The Krabby Kronicle meledak dipasaran. Media-media picisan yang dulu berkuasa kini disalip oleh The Krabby Kronicle, toh mereka sama-sama berisi berita picisan, jadi apanya yang disalip? Mungkin jawabannya "imajinasi" SpongeBob yang terasa liar.

Masalah kemudian datang, bukan dari hasil penjualan, melainkan "imajinasi" SpongeBob yang terlampau liar. Bukan tanpa sebab, toh Mr Krabs yang meminta hal itu. Sial, saat "imajinasi" semakin apik, saat itulah publik Bikini bottom bangun dari khayalan-khayalan picisannya. Serentak, Mr Krabs diserbu dan menuntut ganti rugi bagi masyarakat yang menjadi "korban" buah dari "imajinasi" SpongeBob.

Kisah The Krabby Kronicle yang disutradai Tom Yasumi dan ditulis Casey Alexander dkk menarik untuk disimak. Apalagi, "imajinasi" yang SpongeBob kerjakan juga dilakukan arus utama media kita.

Coba lo simak beberapa pemberitaan di media masa, terutama yang menyangkut kepentingan-kepentingan orang-orang kuat macam pengusaha atau politikus. Ambil saja kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo. Sebuah bencana tragis yang disebabkan eksploitasi perusahaan pertambangan. Naas, bukannya mineral alam yang meluncur melalui pipa-pipa perusahaan, malah lumpur yang menyembur.

Bagi lo yang menonton Metro TV, SCTV, Indosiar dan beberapa koran yang beredar mereka lebih suka menyebut bencana tersebut dengan judul Lumpur Lapindo. Jelas, subjek pelakunya yakni PT. Lapindo Brantas yang lalai dan serakah dalam mengeksploitasi alam. Tapi, jika Anda menonton berita-berita di TV One dan AnTV niscaya bukan Lumpur Lapido yang dijadikan judul, melainkan Lumpur Sidoarjo. Mereka memahami bencana semburan lumpur ini sebagai bencana alam dan bukan sebagai akibat kelalaian manusia.

Tapi, fenomena ini tentu mudah ditebak, Metro TV dimiliki Surya Paloh yang memang tak berkaitan dengan Lapindo, sementara TV One dimiliki Aburizal Bakrie yang secara fakta merupakan "mbah-nya" PT. Lapindo Berantas.

Brown dalam Discourse Analysis percaya bahwa bahasan dan kekuasaan saling berkaitan. Bahasa di sini bisa kita maknai sebagai kontrol pewacanaan media yang dikendalikan kekuasaan. Maka tak bisa dipungkiri, media dan kekuasaan memang satu paket berbahanya. Dan bagi Foucault wacana bukan saja dipahami sebagai rangkaian kata, tapi ia bisa dipahami sebagai bentuk lain yang sengaja diproduksi. Bukankah pewacanaan di media merupakan bentuk pewacanaan yang disengaja? Dan bagi Foucault, ada relasi yang kuat antara pengetahuan dan kekuasaan.

Media, memiliki legitimasi pengetahuan. Ialah yang dianggap sebagai gudang fakta, pembawa berita, penyampai informasi, dan dihuni orang-orang terdidik. Jelas, pelegitimasian sangat berpengaruh terhadap kredibilitas sebuah media. Lihat saja, bagaimana Kompas, Tempo, dan beberapa media lain menjaga kredibilitasnya. Lantas, saat media tersebut terpengaruh kekuasaan, apakah produk yang dihasilkan masih bisa dipercaya? Saya perlu menjawabnya dengan tegas, Bisa! 

Maran dalam penelitiannya Dominasai dan Kekuasaan Negara dan Bisnis terhadap Petani tahun 2006 melihat bahwa kebenaran bisa ditemukan dalam berbagai bentuk. Terutama tentu saja kitab suci, budaya, serta lembaga. Dan lembaga yang dimaksud tentu bisa saja media yang memang "direncanakan" untuk menjadi rujukan kebenaran masyarakat.

Mr Krabs mengajari kita, bagaimana The Krabby Kronicle dibangun diatas kekuasaan. Ialah Mr Krabs pengusaha kikir yang hidupnya ia baktikan untuk mencari uang. Baginya, apapun yang menghasilkan uang akan dilakukan. Sialnya, ia masuk ranah media, ranah yang telah dianggap sebagai arus "suci" kebenaran dan penyampai fakta. Saat berita-berita yang dimuat dianggap dusta dan langsung tertuju pada para pembacanya saat itulah fakta berbahayanya media terpampang jelas. Andai saja Mr Krabs bekerja sama dengan tokoh-tokoh politik Bikini Bottom, mungkin The Krabby Kronicle akan lebih "sukses."

Aris Badara, dalam Analisis Wacana: Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media tentang surat kabar menyatakan bahwa surat kabar dianggap sebagai representasi simbolis. Media yang bisa dengan mudah membuat stereotip pada pihak tertentu lantas menyudutkannya, dan di sisi lain menjadi medium pengukuhan posisi kelompok tertentu pula dan menguatkannya.

Tentu saja, saat lo melihat "Lumpur Lapindo" vs "Lumpur Sidoarjo" terjadi pengukuhan disana. Hal ini juga dilihat dalam The Krabby Kronicle, saat lo manyaksikannya, saat itu pula lo bisa menyadari bahwa kekuasaan bisa mengarahkan "kebenaran."


Baca Juga

    Ruang, Waktu, dan Penjelasan Sederhana Dimensi 4 Dalam Film Interstellar
    Adblocker dan Terbakarnya Uang Milyaran
    Harga Sesungguhnya "Layanan Streaming"

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16