Marah di Media Sosial

Dipublikasikan pada : 2017-01-26

Marah di Media Sosial

Ilustrasi © Madzae


Di musim pilkada dan gonjang-ganjing penistaan agama, dunia internet berubah layaknya pasar. Riuh, ramai, dan terasa panas. Terutama di media sosial, banyak orang yang seperti hidup di dunia tanpa aturan, seenaknya.

Banyak hujatan, cacian, hinaan, dan berbagai kata-kata kotor lainnya. Terakhir, komika Uus dan Arie Kriting menjadi semacam objek cercaan oleh para orang-orang di media sosial yang mengaku membela kebenaran.

Pertanyaan penting yang harus disoroti melihat fenomena media sosial yang sedemikian tak memiliki etika tersebut adalah, mengapa bisa demikian?

Damien Pearse dalam tulisannya di The Guardian menuturkan bahwa media sosial menghadirkan suatu bentuk pertemanan yang dangkal. Karena kedangkalan tersebut, orang cenderung mengbaikan norma-norma yang telah ada di masyarakat. Elisa Tan dalam tuliannya di Tech In Asia menuturkan, ada kehancuran norma di media sosial. Tan merujuk pada norma-norma berbeda tatkala kita berada di situasi yang beragam. Di kafe dengan di kantor, antara teman atau orang tua. Keragaman situasi tersebut, memiliki normanya masing-masing. Sialnya, media sosial tidak punya itu.

Selain itu, Tan juga menyoroti perihal “hak kepemilikan” yang abu-abu di medis sosial. Apakah akun twitter yang dimiliki milik pribadi, atau milik publik. Tan, lebih memilih menyebut area media sosial bagaikan “rumah dengan tembok transparan.” Akibatnya, sebagaimana diungkapkan Pearse, media sosial bagaikan penjelmaan manusia atas citra dirinya dan egonya karena dalam media sosial, ia memiliki “kebabasan” yang sebenarnya bertabrakan dengan ruang publik.

Rebeca Greenfield dalam tulisannya di The Atlantic menuturkan bahwa sesungguhnya, penyebab mengapa begitu banyak kemarahan, caci-maki, dan hal buruk lainnya justru bersumber dari diri sendiri. Orang di media sosial menjadi marah, karena di dunia nyata ia pun marah. Tidak ada (atau rendah) kontrol diri dalam bermedia sosial.

Lebih lanjut, Greenfield menuturkan bahwa media sosial tidak memiliki kode sosial. Tidak ada siapa pun yang mengajarkan anak kecil berterima kasih saat ia menerika “like” di Facebook misalnya. Dan ya, Greenfield pun menuturkan bahwa hadirnya anonimitas dalam media sosial membuat siapa pun penggunanya merasa tidak ada konsekuensi saat berbuat hal yang aneh.

M. Subhan SD dalam tulisannya di Kompas menuturkan bahwa media sosial (atau teknologi) justru menghadirkan paradox bagi umat manusia. Di satu sisi perkembangan teknologi merupakan buah dari kematangan berpikir, di satu sisi dengan hadirnya keburukan di media sosial justru menandakan degradasi pikiran.

Subhan, merujuk pada Psikolog Graham Jones menyatakan bahwa media sosial tidak memiliki mekanisme unpan balik. Di dunia nyata, seseorang yang mengejek atau menghina lawan bicaranya kemungkinan akan memperoleh bogem mentah. Di dunia maya, hal demikian tidak terjadi. Selanjutnya, Subhan merujuk pada Psikolog John Suller bahwa ada beberapa poin mengapa media sosial menjadi tempa “asosial” bagi para penghuninya. Pertama, “elo ngga tahu gue,” kedua, “elo ngga lihat gue,” ketiga, “urusan nanti aja,” keempat, “semua ada di kepala, tidak ada orang lain,” kelima, “bukan dunia nyata, cuma pengalihan,” dan terakhir “ngga ada otoritas lebih tinggi, semua setara.” Hal-hal demikianlah yang menjadikan media sosial, tempat yang teramat istimewa bagi banyak orang karena membebaskan ia dari belenggu aturan yang ada di dunia nyata.

Jadi, nge-twit apa elo hari ini?


Baca Juga

    Selangkah Lagi: Vaksin HIV AIDS Hadir!
    Kemenangan Trump, Status Tersangka Ahok, dan Brengseknya Timeline Facebook
    Ngisep Ganja di Amerika

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16