Kemenangan Trump, Status Tersangka Ahok, dan Brengseknya Timeline Facebook

Dipublikasikan pada : 2016-11-16

Kemenangan Trump, Status Tersangka Ahok, dan Brengseknya Timeline Facebook

Ilustrasi © Madzae


Pasca kemenangan Trump, Facebook disorot lantaran menampilkan informasi palsu tentang Trump maupun Hillary di newsfeed penggunanya.

Hal tersebut diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Pew Research yang menyimpulkan bahwa ada korelasi antara informasi yang diperoleh di Facebook dengan keputusan pemilih di Amerika Serikat sana.

Kejadian yang hampir mirip juga terjadi di Indonesia. Korban atau tersangkanya adalah Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama. Gubernur DKI Jakarta non-aktif (karena mengikuti pilkada) ini diduga menistakan agama saat ia berkunjung ke wilayah kekuasaannya sebagai Gubernur di Kepulauan Seribu.

Dugaan penistaan agama tersebut, kali pertama populer akibat postingan di Facebook. Postingan video di Facebook tersebut menampilkan Ahok yang sedang berbicara dan dianggap menistakan agama Islam.

Belakangan diketahui bahwa video yang dibagikan di Facebook dan menjadi viral tersebut telah mengalami proses editing. Kata “pakai” hilang dalam omongan Ahok di video tersebut.

Sialnya, fakta tersebut tak cukup meredam kemarahan orang-orang yang menggap bahwa Ahok telah menistakan agama.

Demo besar-besaran terjadi.

Dan hingga akhirnya, meskipun tim penyelidik yang berjumlah 27 orang mengalami perpecahan tentang keputusan yang hendak dibuat. Diputuskan bahwa Ahok ditetapkan sebagai tersangka dan kasus dugaan penistaan agama tersebut dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

Polri berkilah, dengan dinaikkan status Ahok, besar kemungkinan kasus dugaan pelecehan tersebut bisa terang benderang lantaran bisa dilihat berbagai fakta yang dan saat proses persidangan kelak. (Jadi inget kasus Jessica yang berbeda antara hasil putusan dengan fakta persidangan). Kembali lagi soal facebook.

Belakangan diketahui bahwa terjadinya penyebaran informasi palsu di Facebook terkait dengan sistem atau algoritma iklan mereka.

Facebook mengumpulkan informasi pengguna mereka. Apa yang di-klik, apa yang dibagikan, dan siapa yang mereka ikuti. Hasil dari pengumpulan informasi tersebut merupakan pijakan bagi Facebook untuk memberikan pilihan-pilihan postingan “yang mungkin” disukai si pengguna Facebook.

Selain itu, Fcebook juga meng-highlights apa yang ada di newsfeed penggunanya. Nah jika lo memiliki teman yang gemar memposting berita-berita palsu atau propaganda, besar kemungkinan postingan tersebut akan di-highlight oleh Facebook dan kemudian menampilkannya untuk pengguna.

Sialnya, Facebook mengklaim bahwa mereka bukanlah perusahaan media. Mereka adalah perusahaan teknologi. Dan perusahaan teknologi tidak tahu menahu tentang konten atau postingan yang dibagikan penggunanya.

Maka, kasus hilangnya kata “pakai” dalam video yang viral dibagikan di Facebook dan kemudian kita meng-klik video tersebut, kita akan dianggap Facebook sebagai pengguna yang gemar dengan postingan demikian. Selanjutnya, Facebook akan merekomendasikan postingan sejenis untuk kita nikmati.

Dan tentu saja, Facebook tak pernah tahu nilai kebenaran postingan tersebut.

Ditambah, banyak media-media palsu atau propaganda mendompleng sistem yang ada di Facebook. Cara yang lazim mereka gunakan adalah beriklan di Facebook.

Dengan beriklan, media yang tidak bertanggung jawab akan lebih leluasa menyebarkan konten palsu mereka. Dan pengguna-pengguna Facebook yang dianggap “gemar” dengan postingan demikian, akan kebanjiran iklan jenis ini.

Sedihnya, pengguna Facebook telah kadung menduga bahwa apa yang mereka lihat di newsfeed mereka adalah fakta dan bukan berita palsu, seperti yang disimpulkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Pew.

Kalau sudah begini, ingatlah kata-kata pamungkas anggota kader partai sebelah saat anggotanya ditangkap KPK, “Tabayyun.”


Baca Juga

    Siri: Harga Diri dan Kehormatan Orang Bugis
    Banjir dan Ritus Orang Urban
    Memahami Kemajuan Jerman

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16