Kebenaran Palsu

Dipublikasikan pada : 2017-01-05

Kebenaran Palsu

Ilustrasi © Madzae


Internet mengubah kehidupan kita saat ini. Bukan hanya untuk hal-hal positif, namun juga kepada hal-hal negatif. Salah satu hal negatif yang dihadirkan internet ke dalam dunia pribadi kita adalah hoax atau berita palsu.

Hoax dibuat secara sengaja untuk mengaburkan kebenaran. Dalam definisi lain, hoax merupakan “sebuah fakta yang dibangun di atas kebohongan.” Dikutip dari The Guardian, Presiden Obama menyebut hoax sebagai “semuanya adalah kebenaran dan (semua itu) tidak benar.”

Tentu, hoax tidak sama dengan rumor, psudo-sains, atau kabar-kabar bohong saat April Mop. Rumor merupakan suatu kabar yang belum pasti nilai kebenaraanya. Ia masih bernilai 50-50. Psudo-sains lebih layak disebut sebagai “keyakinan dalam sains.” Padahal kita tahu, sains tidak berdiri di atas keyakinan. Sains dibangun di atas keraguan. Sedangkan kabar-kabar bohong yang didengungkan di saat April Mop adalah kabar guyonan semata. Dan masyarakat tahu apa itu candaan April Mop. Ingat saat BBC, media beken asal Inggris, mengabarkan bahwa kawanan Pinguin di Kutub bisa terbang selayaknya buruh-burung lain pada umumnya di hari April Mop? Pemirsanya tidak marah pada BBC, malah mereka menyukai guyonan tersebut. Dan ya, Hoax berbeda dari itu semua.

Hoax berasal dari kata “hocus” yang artinya “to cheat” yang dalam bahasa Indonesia bisa dimaknai sebagai “untuk menipu.” Salah satu pengguna pertama yang menggunakan istilah ini adalah sebuah buku yang diterbitkan tahun 1956 berjudul “A Candle in the Dark, or Treatise on the Nature of Wiches & Witchcraff.”

Sesungguhnya hoax telah lama eksis dalam kehidupan manusia. Penyebaran konvensional, membuat kita tidak terlalu peduli dengan hoax di kala itu. Namun kini, internet menghadirkan evolusi baru dari kabar bohong ini. Internet menyebarkan hoax dengan kecepatan yang tidak pernah ada sebelumnya. Dahulu, Wiston Churchill pernah berujar “sebuah kebohongan menyebar mengelilingi setengah dunia, sebelum kebenaran dapat mengubahnya.” Kini, kalimat tersebut nampaknya memiliki wujud yang lebih nyata.

Melalui Facebook, media sosial paling populer sejagat, hoax dengan cepat menjangkau tiap orang. Pew Research Centre menyebutkan bahwa 62 persen masyarakat Amerika Serikat menggunakan media sosial untuk mendapatkan berita. Itu artinya, telah terjadi pergeseran bagaimana cara kita memperoleh informasi. Dan hoax, memanfaatkan perubahan ini dengan cerdik.

Penggunaan media sosial dalam keseharian kita memang telah berada pada tahap “kebutuhan pokok.” Apa pun kita bagi di media sosial dan dengan senang hati, kita pun membaca apa yang dibagikan teman kita di media sosial. Termasuk, tentu saja berita-berita palsu yang dibagikan di media sosial.

Berita-berita palsu yang hadir di timeline media sosial kita, menjadi asupan sehari-hari guna menghilangkan dahaga informasi. Sialnya, verifikasi bukanlah kebiasaan pembaca informasi, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. “Jika kamu membaca dan kamu menghasilkan reaksi yang kuat, bacalah lebih banyak (tentang tema tersebut) dan jangan hanya setuju lalu membagikan kembali.” ucap Melissa Zimdars, Profesor dari Merrimacd Collage di Massachusetts seperti dikutip dari The Guardian. Keengganan para pembaca untuk memverifikasi adalah keberuntungan tersendiri bagi hoax. Selain itu, kebiasaan lain dari para pengguna media sosial adalah mereka jauh lebih suka membaca judulnya saja, alih-alih membaca secara keseluruhan isi artikel yang dibagikan di media sosial.

Namun, pertanyaan yang jauh lebih mendasar untuk melihat fenomena hoax ini adalah, mengapa hoax ada dan untuk apa?

Sejatinya, hoax hadir karena tiga kepentingan. Uang, politik, dan agama.

Buzzfeed, melakukan investigasi tentang hoax yang begitu masif menyebar kala pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun lalu. Hasilnya, lebih dari 100 media online yang mempublikasikan berita palsu seputar kandidat presiden di pilpres tahun lalu dijalankan oleh anak-anak muda di Macedonia. Mereka membuat berita-berita palsu, terutama karena hal demikian mampu menghasilkan uang dengan jumlah yang luar biasa.

Dikutip dari The Guardian, seorang “jurnalis” asal Cina, diganjar bayaran hingga $70.000 demi membuat berita bohong. Dengan kata lain, berita hoax merupakan tambang uang yang nilainya sangat luar biasa. Dengan menggunakan metode “click-bait,” hoax mendulang uang yang bahkan, melampaui berita-berita asli memperoleh uang.

Dikutip dari BBC, Allen Montgomery (nama samaran) pemilik “The National Report” situs berita bohong, mengatakan bahwa “kami bahkan memiliki sebuah cerita yang menghasilkan $10.000.” Lebih lanjut, Montgomery mengatakan “sejatinya, judul adalah kunci, dan nama domain sendiri merupakan bagian (penting) dari formula (media palsu). Kamu membutuhkan situs berita palsu yang terlihat sah.”

Dengan uang yang dihasilkan, hoax menjadi semacam virus kesenangan bagi para pelakunya. “Saya hanya merasa sebagai sebuah kesenangan semata.” ucap Montgomery menambahkan.

Di Perancis, hoax berkembang biak bukan karena uang, tapi politik. “Fachosphere” sebuah istilah yang berakar pada “fascist” banyak memanfaatkan media-media alternatif (media online) untuk menyebarkan berita-berita provokasi. Berita yang dipublikasikan, menyasar pada sentimen-sentimen politik bahwa Perancis adalah negara kulit putih. Mereka menentang tindakan-tindakan pemerintah yang mengizinkan imigran kulit hitam memasuki wilayah Perancis.

Selain itu, berita palsu juga berkembang di masa-masa pemilihan umum. Pesta demokrasi berubah menjadi pesta kepalsuan berita. Suatu berita palsu, saling menyerang satu salam lain terhadap figus kandidat yang mengikuti pemilihan umum. “Hari ini kita memiliki situs (berita) palsu, bot (robot), troll (pemancing) yang meregenerasi untuk mengubah opini” ujar Aggela Markel, Kanselir Jerman melihat fenomena hoax yang bertebaran. Samuel Laurent dari La Monde, Perancis, bahkan mengatakan bahwa periode pemilu merupakan periode manipulasi. Semua berita palsu, dibuat untuk mendulang suara. Sialnya, berita palsu tersebut, dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh para pendukung calon pemimpin yang akan mengikuti pemilu.

Ingat saat pemilihan presiden di Indonesia beberapa tahun lalu? Baik Joko Widodo (yang memenangkan pertarungan) maupun Probowo Subianto, memiliki berita palsunya sendiri-sendiri. Paling menjengkelkan dari masa kontestasi kala itu adalah hadirnya Obor Rakyat. Media provokasi paling mencemaskan kala itu.

Di Myanmar, hoax digunakan untuk menyebar kebencian. Sentiman minoritas dan mayoritas, adalah penggerak utama hoax di sana, persis seperti yang terjadi di Indonesia saat ini. Banyak situs-situs berita hoax, yang berlindung di balik nama Islam di Indonesia. Mereka menyebarkan propaganda-propaganda anti terhadap agama lain, selain agama Islam.

Dikutip dari CNN, terdapat sekitar 700.000 media online yang terindikasi menyebarkan berita hoax. Nama-nama situs berita yang diblokir pemerintah, merujuk pada entitas agama mayoritas yang menyebarkan kebencian pada minoritas. Selain itu, fenomena dukungan terhadap ISIS juga merupakan masalah tersendiri.

Hoax, bagaikan Usain Bolt yang berlari kencang tanpa perlawanan di Olimpiade. Satu berita palsu, menghasilkan berita palsu lainnya gara-gara “chain reaction” yang terjadi. Ini bisa terjadi lantaran suatu media berita hoax, mengutip berita hoax lainnya dalam membuat sebuah artikel. Akibatnya, kepalsuan akan terkubur dengan sendirinya. Sedihnya, Anthony Adornatu, asisten Profesor dari Ithaca Collage di New York mengatakan bahwa 40 persen stasiun TV di Amerika Serikat, tidak melakukan verifikasi atas berita yang mereka dapat melalui media sosial dan mereka sebarkan dalam siaran televisi.

Kalau sudah begini, lebih baik share dan like artikel ini. Ingat, kebaikan artikel ini jangan berhenti di kamu.


Baca Juga

    Seberapa Mahal CGI?
    Apakah Naga Benar-Benar Nyata?
    Memahami Cita Rasa Komunis dalam "Made In China"

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16