Kapitalisme Telanjang di Dunia Maya

Dipublikasikan pada : 2017-01-06

Kapitalisme Telanjang di Dunia Maya

Ilustrasi © Madzae


Apa yang lo sering akses di internet? Gue cukup yakin, jika lo laki-laki, situs porno adalah bagian yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, lo doyan hal begituan kan?

Di tahun 2001, dikutip dari Forbes, tercatat ada 22,9 juta unique visitor ke situs-situs porno. Perlu diingat, di tahun itu tercatat ada 41,1 juta unique visitor terhadap situs berita. Artinya, pengakses situs pornografi mempunyai lebih dari setengah populasi pengakses situs berita. Sebuah angka yang mengindikasikan bahwa pornografi, menyumbang lalu-lintas internet yang cukup besar.

Bahkan, Porhub di tahun 2014 mengklaim pengakses situsnya menghabiskan sekitar 1,5 Terabits per detik. Suatu angka yang sangat fantastis. Perlu diingat, dengan 1,5 Terabits, lo bisa download film berkualitas “blueray” di Ganool berjumlah sekitaran 1.500 judul film.

Di dekade 2000an, jumlah situs pornografi tercatat berjumlah lebih dari 3.000 situs. Dikutip dari Forbes, di tahun 2001 industri pornografi online mencatat pendapatan antara $10 Milyar hingga $14 Milyar. Tentu, saat ini angka pendapatan dunia pornografi online mengalami peningkatan. Hal tersebut didasari oleh jumlah situs pornografi yang terus meningkat. Dikutip dari The Economist, di tahun 2014 tercatat ada 700 Juta hingga 800 Juta situs pornografi. Artinya, dalam satu dekade terakhir, dunia pornografi online bergeliat tak terbendung.

Tentu, dunia pornografi online mengalami perubahan seiring dengan waktu dan perkembangan teknologi.

Saat pertama kali muncul di dunia maya, pornografi online menggunakan sistem “berlangganan” untuk menghasilkan pendapatan. Mereka, meminta para pengakses untuk melakukan pembayaran melalui kartu kredit senilai beberapa Dolar tiap bulannya.

Adalah “Next-Generation Affiliate Trancking System” yang membantu situs-situs pornografi kala itu memperoleh pendapatan. Saat pengakses menginginkan tayangan pornografi, mereka digiring masuk ke sistem tersebut untuk melakukan pembayaran. Dan setelah melakukan proses pembayaran, mereka diperbolehkan menyaksikan video yang mereka kehendaki.

Sayangnya, sistem ini kemudian mati karena tidak disukai pengkases. Seperti dikutip dari The Economist, Stewart Brand, seorang pakar teknologi, mengaku “menginginkan (akses) gratis” saat mengakses situs porno. Lagi pula, penyedia layanan kartu kredit, kurang suka saat pemiliknya memberikan data-data pribadi mereka pada situs-situs pornografi.

Hal demikian terjadi lantaran menurut penelitian dari Vienna University of Technology, terdapat lebih dari 3 persen situs porno yang terindikasi tertular Malware. Software jahat tersebut, diduga digunakan untuk kepentingan mendulang data-data penting pengakses situs seperti data kartu kredit.

Didorong oleh semangat gratisan dan kenyataan saat ini di dunia maya bahwa “lalu lintas situs” adalah koin emas, dunia pornografi online berubah. Dari berlangganan, kini situs-situs pornografi memanfaatkan iklan untuk menghasilkan keuntungan. Tentu hal tersebut harus didukung oleh “lalu lintas situs” yang mumpuni. Pengakses, dipersilakan menikmati konten apa pun secara gratis. Namun tentu, ada yang tidak suka dengan perubahan ini.

Steven Hirsch, pendiri studio pornografi Vivid Entertainment mengaku bahwa dunia pornografi online kini telah berubah. Bahkan ia mengatakan bahwa tahun-tahun ini adalah yang terburuk bagi industri pornografi. Yang dimaksud Hirch adalah kenyataan bahwa telah terjadi penuruan jumlah studio pornografi dari 200an studio menuyus hingga sekitaran 20an studio. Pertayaannya, mengapa demikian?

Lagi-lagi ini karena perkembangan zaman. Youtube merevelusi industri video online, termasuk juga industri pornografi.

Dulu, industri pornografi didominasi oleh nama-nama besar (studio maksudnya), kini hal tersebut tidak terjadi lagi. Ada perubahan selera oleh para pengakses pornografi online. Mereka meinginkan keontentitakn saat menyaksikan adegan-adegan lendir. Dan oleh karenanya, produksi-produksi pornografi independen adalah hal yang paling digemai pemirsa dunia lendir ini.

Ditambah, tentu saja skema ala Youtube. Siapa pun bisa meng-unggah konten dan menghasilkan uang dari konten yang di-unggah tersebut.

Alec Helmy, pendiri XBiz, studio pornografi mengatakan bahwa telah terjadi penurunan juga terhadap pendapatan “bintang porno.” Dulu, bintang porno mampu meraup hingga $1.500 per jam. Namun kini, menghasilkan $500 per jam adalah prestasi tersendiri.

Yang menarik dari dunia ini ternyata bukan hanya soal uang semata. Beberapa orang percaya, dunia pornografi online ikut menyumbang perkembangan teknologi. Tentu, teknologi yang dimaksud adalah soal bagaimana dunia pornografi online memberikan kemasan yang terbaik bagi pengaksesnya.

Dikutip dari The Next Web, Nielsen (sebuah perusahaan riset) mengatakan bahwa pornografi adalah salah satu faktor pendorong tingginya angka penetrasi internet “broadband” di Eropa. Selain itu, dikutip dari PC World, teknologi seputaran “streaming” video secara online, dibantu oleh industri ini untuk berkembang. Maka tak usah heran saat menyaksikan Pornhub berhasil memperoleh $3,4 Juta untuk memproduksi “Sexploration,” sebuah film pornografi berlatar antariksa ala film Gravity.

Indutri ini memang menjanjikan uang yang tidak sedikit. Tapi perlu diingat, industri pornografi bukanlah solusi dalam mencari materi. Stigma, budaya, persepsi sosial, dan agama masih menempatkan dunia ini sebagai dunia kelam nan gelap. Terlebih, di Indonesia ada peraturan yang melarang pornografi eksis di negeri pertiwi.


Baca Juga

    Apa yang Terjadi di Harbolnas Kemarin?
    Ucapkan Selamat Tinggal Pada “Intel Inside”
    Ketika Zombie Menyerang Dunia Maya

Spotlight


Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Deadpool Index: Mengapa Kita Tidak Perlu Mengkonversi Dolar Ke Rupiah?

Mata uang yang berbeda di tiap negara, merefleksikan keadaan negara tersebut. Konversi mata uang, hanyalah ilusi semata.

2017-01-11


Penista Agama Itu Bernama Negara

Penista Agama Itu Bernama Negara

Agama lokal yang ada di Indonesia, tidak pernah diakui keberadaannya hingga hari ini oleh entitas yang bernama negara. Meskipun kita tahu, agama lokal ada lebih dulu daripada Indonesia.

2016-12-05


Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Google Waymo dan Masa Depan Kendaraan yang Berlalu-Lalang di Jalanan

Perusahaan dunia, ramai-ramai mengembangkan mobil swakemudi. Di ranah ini, Google unggul daripada perusahaan lain.

2016-12-15


Kebenaran Palsu

Kebenaran Palsu

Hoax dibangun atas dasar uang, politik, dan agama.

2017-01-05


Para Penjual Tradisi

Para Penjual Tradisi

Bertahan di tengah arus globalisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

2016-11-16